Home / Edisional / “Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (2−selesai)

“Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (2−selesai)

 

oleh: Gerry van Klinken *

 

[Sambungan bagian 1] Kemudian, saya ingin menyampaikan tiga cara untuk bercerita kembali kejadian-kejadian masa lalu. Semuanya bersifat amat praktis. Proses ini tidak memerlukan S3 di bidang sejarah. Tidak ada guru dalam proses ini, hanya pelajar. Sejarah itu bukanlah sebuah hasil, melainkan sebuah proses. Proses penyusunan sejarah adalah sebuah proses yang membawa pembaruan, pembebasan, pembukaan.

Penyusunan sejarah semacam ini sebaiknya dikerjakan bersama-sama, tidak secara perorangan atau secara kelewat akademis. Ini harus menjadi sebuah idaman bersama. Bisa melalui sebuah komisi kebenaran dan rekonsiliasi, didirikan oleh DPRD tingkat propinsi. Atau bisa melalui sebuah komisi antar-agama, atau komisi Non–Governmental Organization (NGO). Atau oleh LAIM sendiri. Mungkin dibantu beberapa sejarawan profesional.

Pertama, carilah kata-kata yang benar. Sejarah pertama-tama adalah kata. Harus ada cerita nyata. Kita semua ingin tahu apa yang terjadi. Dengarkan kata-kata orang yang mengalaminya langsung, rekam, dan diskusi. Apakah ada yang sempat menulis buku harian? Apakah ada yang menulis surat waktu itu, yang bersedia membuka isi surat tersebut kepada umum? Mulailah dengan mendengarkan.

Pendengar seyogyanya menyeberang batas. Orang kristen harus minta orang muslim untuk bercerita, lalu direkam. Orang muslim harus minta orang kristen bercerita, lalu merekam atau mencatat ceritanya, dan diskusi bersama. Orang Tulehu harus minta orang Waai bercerita apa yang mereka alami. Orang Mardika harus minta orang Batumerah bercerita. Bisa bercerita secara perorangan, atau bisa bercerita secara berkelompok. Tanyalah, bagaimana pengalaman tinggal di kamp pengungsi, sambil melihat rumah sendiri pada jarak hanya satu kilometer tapi tak terjangkau karena ada orang beragama lain tinggal di dalamnya. Tanyalah, bagaimana tetangga tiba-tiba menjadi musuh. Tanyalah, apa yang ia ajari kepada anak sendiri selama kerusuhan. Mintalah seorang pejuang garis depan bercerita perasaannya ketika pertama kali melihat darah melekat pada mayat. Tanyalah, di mana mereka menguburkan anak sulung yang gugur dalam pertempuran, dan pergi lihatlah makamnya.

Buatlah rekaman abadi – di atas kertas, atau di video, atau cukup suaranya saja. Cerita-cerita nyata, kalau perlu lengkap dengan fotonya. Kata-kata ini harus tetap disimpan untuk generasi berikut. Tujuan utama adalah benar-benar merasakan rasa muak yang namanya perang saudara.

Siapa yang harus diminta bercerita? Pendengaran cerita harus demokratis. Bukan cerita orang penting tetapi orang biasa yang dinomor-satukan. Dengarkan terutama cerita orang-orang lemah. Carilah cerita kaum ibu. Cara-cara menghidupi keluarga. Jeroen Adam menulis disertasi tentang itu di Ghent, Belgia, baru-baru ini. Carilah juga cerita tentang kejahatan seksual. Ini sering terjadi pada saat pertempuran. Lalu bagaimana pengalaman anak-anak? Termasuk pejuang anak yang dinamakan agas atau linggis.

Upaya khusus juga harus dikerjakan untuk mendengarkan cerita dari pembawa damai. Tonny Pariela tahun 2008 menulis sebuah disertasi yang bagus mengenai hal ini. Kita memerlukan lebih banyak cerita sejenis. Masih banyak hal baru belum terungkap di sini.

Selain cerita dari orang-orang biasa, harus ada informasi yang lengkap dan teliti mengenai banyak hal, sebab pada saatnya begitu banyak keluar informasi yang tidak benar. Buatlah peta yang menunjukkan semua kampung yang sempat dibakar seluruh atau sebagiannya – jangan lupa kampung kecil seperti Larat dan Ngat di Kei Besar. Buatlah peta lain yang menunjukkan lokasi dan tanggal pertempuran-pertempuran besar; peta lain menunjukkan lokasi perbatasan antara wilayah merah dan putih pada berbagai saat. Peta lain lagi menunjukkan rute-rute dagan baru yang dikembangkan pada saat pertempuran mengamuk – banyak daya-upaya untuk mencari jalan baru.

Kedua, murnikan perasaan. Sejarah tidak hanya berisi kata. Peringatan penuh ritual juga bisa menjadi bagian yang penting. Peringatan adalah kesempatan untuk membiarkan perasaan mengalir – rasa sedih, rasa nostalgia, rasa syukur, rasa malu, bahkan rasa manis. Manusia adalah makhluk adat. Adat-istiadat lama dapat saja dibangkitkan kembali serta diberi makna baru. Orang Ambon pintar beradat. Bisa dengan lagu, dengan musik, atau bahkan tanpa bunyi sama sekali – hanya dengan mengheningkan cipta di depan beberapa foto, dengan bunga.

Tanggal 19 Januari hari ini adalah tanggal penting. Kita memperingati tanggal ini dengan berbicara tentang apa yang telah terjadi 11 tahun yang lalu. Apakah perlu membuat ini peringatan tiap tahun? Apakah mungkin? Tujuannya harus jelas – tanggal 19 Januari bisa menjadi sebuah tanggal untuk berkata: “Inilah yang terjadi. Jangan sampai terulang lagi”. Peringatan dibawa oleh perasaan-perasaan murni seperti ini memiliki potensi yang luar biasa. Ia dapat menciptakan masa depan yang baru untuk agama di Ambon. Tidak lagi defensif, tidak lagi menantang, tidak lagi terikat dengan struktur kekuasaan, melainkan terbuka, manusiawi, dan penuh pembebasan.

Ketiga, camkanlah tempat. Peringatan harus dibumikan, harus memiliki tempat yang nyata, sama seperti kehidupan manusia. Perang 11 tahun yang lalu pada dasarnya adalah pertempuran untuk merebut tempat yang penting – tanah adat, rumah, mesjid, gereja, bahkan toko. Apakah sudah ada sebuah monument sederhana di Jalan AY Patty untuk mengenang kematian pejuang laki maupun perempuan dalam pertempuran yang berlangsung di sana? Apakah sudah tanda kecil di pos penyeberangan antara wilayah merah dan putih, di mana dulu tentara menjaga? Tak perlu besar, keterangan singkat saja – inilah dulu batas yang memisahkan musuh, kini menjadi tempat pertemuan.

Rumah ibadah sering menjadi sasaran khusus. Monumen identitas. Apakah rumah-rumah ibadah itu, yang kini terbangun kembali, kelihatan lain dari dulu? Apakah pengunjung hari ini kepada rumah ibadah tersebut tahu bahwa rumah ini dulu pernah menjadi simbol perang bukan simbol perdamaian? Bagaimana gedung mesjid dan gedung gereja menjadi bagian dari beban sakral untuk menyusun sejarah?

Akhir kata, saya ingin melontarkan sebuah ide, atau lebih tepat sebuah pertanyaan. Apakah Ambon memerlukan sebuah museum perdamaian dan rekonsiliasi? Atau mungkin lebih sederhana – sebuah ruangan saja, berisi pameran tetap?

Gong Perdamaian Dunia baru dibuka di Ambon, tanggal 25 November 2009. Sangat bagus. Ada foto-foto kerusuhan, foto aparat mencoba menghentikannya, foto penandatanganan deklarasi perdamaian. Monumen yang megah, diresmikan oleh presiden, dengan lampu sorot, di lokasi yang amat menonjol di depan kantor gubernuran. Apabila pada Hari Perdamaian Dunia tahun 2010 ini para elit lokal kembali berkumpul di monumen ini, akan menjadi simbol penting itikad baik untuk menjaga keserasian sosial di masa depan.

Namun saya tetap menduga Ambon masih terbuka untuk museum dengan model lain juga. Museum yang menjadi milik rakyat, yang menjadi tempat pertemuan yang akrab, museum yang menitikberatkan pengalaman orang biasa. Museum tersebut dapat memamerkan peta, foto, video, lagu, poster, dan barang-barang lain tentang kerusuhan tahun 1999–2002. Lebih penting lagi, museum perdamaian dan rekonsiliasi dapat menjadi tempat yang hidup. Tempat pertemuan kristen dengan muslim, untuk berefleksi, untuk mengingat, untuk diskusi bersama, untuk menghormati orang mati. Untuk menjadi sumber harapan baru. Untuk memandang ke belakang sekaligus ke depan. Untuk rekonsiliasi melalui kebenaran.

Museum semacam ini, kalau jadi, harus menjadi museum berani. Dengan komitmen paling tinggi kepada kerakyatan, terilhami beban sakral untuk membangun dialog berdasarkan pemahaman terhadap sejarah, beban sakral untuk menciptakan masa depan lebih baik melalui pengetahuan tentang masa lampau. Museum sejenis harus melawan tekanan dari lembaga-lembaga yang belum siap untuk mengucapkan kata “maaf”. Ia tidak boleh takut, tidak boleh kompromi dengan apa yang disebut “kebenaran” yang berat sebelah yang sering terdengar selama kerusuhan berlangsung. Museum sejenis akan menjadi seperti museum Holocaust tadi di Berlin, atau Tugu Perang Vietnam di Washington – yang ingin berkata: “Inilah yang telah terjadi; beginilah itikad kami untuk mencegahnya terulang lagi.” [ ]

 

Edisional: Studi Indonesia Timur yang Terlupakan

 

* Peneliti Senior di KITLV―Leiden & editor di Inside Indonesia

 

[Disajikan di Ambon, 19 Januari 2010; dimuat di Etnohistori, 20 Januari 2012]

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest