Home / Topik / Catatan / Antropolog Marxis di Amerika Serikat

Antropolog Marxis di Amerika Serikat

Bagian 1

Catatan oleh: Hatib Abdul Kadir *

 

Pengaruh Antropologi Amerika Serikat kepada Karl Marx

Perkembangan antropologi di Amerika Serikat demikian pesat. Meski jika dibanding Inggris, Belanda, atau Perancis, usia antropologi di Amerika Serikat masih sangatlah muda. Usai Perang Dunia II, pada tahun 1950, hanya ada sekitar 14 jurusan antropologi di Amerika Serikat. Medio tahun 1970-an terdapat sekitar tujuh puluh jurusan yang memberikan gelar Doctor of Philosophy (Ph. D.) di bidang antropologi. Namun, pada saat ini terdapat sekitar 20 ribu lebih orang Amerika Serikat yang menggeluti dunia antropologi. Jumlah ini terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Kemajuan antropologi ini tidak lepas dari “perselisihan dan pertikaian paradigma“ dan isme-isme yang menurun hingga antar generasi terbaru. Di buku-buku sejarah antropologi yang selalu diulang-ulang pembahasannya, telah banyak menceritakan tentang perselisihan paradigma semisal antara Franz Uri Boas, godfather antropologi Amerika Serikat, melawan Alfred Reginald Radcliffe-Brown, godfather antropologi Inggris.

Meski demikian, masih jarang ulasan yang mengurai seperti apa kondisi para antropolog Marxian Amerika Serikat dan paradigma apa yang mereka pertentangkan. Harus diakui pula bahwa antropologi Amerika Serikat cukup berperan dalam membentuk tradisi perbincangan Marxisme. Studi antropolog klasik, Lewis Henry Morgan, di abad sembilan belas misalnya, tentang masyarakat Seneca di Amerika Utara, memberi kontribusi utama bagi pemikiran Karl Heinrich Marx dan Friedrich Engels dalam membangun teori-teori mereka. Morgan mengembangkan ketertarikannya terhadap kekerabatan masyarakat Seneca dengan melakukan studi komparatif secara luas tentang sistem-sistem kekerabatan. Dalam bukunya Ancient Society, 1877, Morgan menggunakan kekerabatan sebagai jalan masuk ke dalam teori evolusi sosial yang lebih luas. Marx dan Engels kemudian melihat pendekatan evolusi Morgan ini dalam rangka mengembangkan teori mereka mengenai evolusi sejarah dari kapitalisme ke sosialisme dan komunisme.

Namun demikian, sepanjang tahun 1900−1950, antropologi Amerika Serikat lebih dikuasai oleh pendekatan personalitas yang diusung oleh Alfred Louis Kroeber misalnya. Kemudian Edward Sapir mengusung antropologi linguistik di tahun 1930-an. Demikian pula Margaret Mead, Ralph Linton, dan Ruth Fulton Benedict yang mengembangkan antropologi dan pendekatan mental biologis di tahun 1940-an. Di tahun 1950-an antropologi Amerika Serikat didominasi oleh pendekatan Claude Lévi-Strauss yang kembali mengusung ide tentang simbol dan struktur bahasa dalam mendefinisikan kebudayaan.

Para antropolog Marxis adalah minoritas yang berada dalam naungan kuat pendekatan-pendekatan non-Marxisme, seperti pendekatan antropologi psiko-analitis yang begitu mendominasi. Minornya pengaruh Marxisme dalam kajian antropologi ini tentunya berpengaruh pada hal mendasar seperti mendefinisikan apa makna “kebudayaan“.

 

Awal Munculnya Antropologi Marxisme di Amerika Serikat

Pendekatan mental dan karakter sangatlah dominan di tahun 1930-an−1950-an karena secara politik pendekatan ini sangat berguna untuk membangun karakter nasional Amerika Serikat sendiri. Itulah mengapa kemudian karya-karya etnografis seperti milik Ruth Benedict sangat berguna untuk membaca karakter lawan Amerika Serikat saat Perang Dunia II, Jepang.

Pasca Perang Dunia, saya mencatat bahwa Leslie Alvin White adalah antropolog yang mulai memperkenalkan teori-teori Marxisme di bangku-bangku kuliah di Amerika Serikat. Leslie White hampir menghabiskan seluruh karir mengajarnya, dari tahun 1930 hingga tahun 1970, di Universitas Michigan. Keberadaannya menjadikan Michigan sebagai jurusan antropologi terkuat di Amerika Serikat. Layaknya antropolog David Graeber pada saat ini, White di tahun 1950-an selalu mendapatkan masalah di Michigan karena opini-opininya yang blak-blak-an. Ia juga secara terus terang menyatakan kekagumannya terhadap sosialisme Rusia. Sebuah negara yang pernah ia kunjungi tahun 1929.

Leslie White adalah figur yang inspiratif bagi sejumlah antropolog, termasuk arkeolog, yang hidup di periode pasca perang tahun 1950-an, meskipun tidak semuanya secara resmi adalah muridnya. Di antara mereka adalah Elman Rogers Service, Marshall David Sahlins dan Napoleon Chagnon yang nantinya kedua antropolog terakhir ini saling berseteru soal penempatan antropologi budaya versus antropologi biologi di tahun 1990-an.

Di pertengahan tahun 1950 hingga 1990-an, secara garis besar, terdapat dua aliran dalam antropologi Amerika Serikat, pendekatan pada mentalisme dan materialisme. Mentalisme melihat bahwa kebudayaan digerakkan oleh simbol dan kognisi manusia sebagai pendorongnya. Talcott Parsons di Universitas Harvard, demikian juga dengan Clyde Kluckhohn rekan sekantornya lebih memilih pada pendekatan-pendekatan mental kebudayaan. Tokoh lain yang penting adalah Clifford James Geertz dan David Murray Schneider, keduanya adalah lulusan Universitas Harvard. Selain dipengaruhi oleh pendekatan linguistik, aliran mentalisme ini dipengaruhi oleh tradisi teoretikal para sosiolog, seperti Talcott Parsons dan Maximilian Karl Emil Weber. Baik Clifford Geertz dan David Schneider kemudian bergabung dengan antropologi Universitas Chicago dan semakin menguatkan kampus tersebut bergerak ke arah “kanan“ dalam mengkaji mentalisme.

Sedangkan di kubu materialisme, digerakkan oleh Eric Wolf dan Marshall Sahlins. Keduanya bergerak menyerupai antropolog David Graeber pada saat ini, yakni intelektual sekaligus aktivis. Pada tahun 1960-an, ketika Amerika Serikat melakukan invasi ke teritori Vietnam dan Kamboja, para antropolog kiri Amerika Serikat mulai terseret dalam agitasi politik dalam kampusnya dan kehidupan publik. Banyak dosen beserta mahasiswa kiri yang berpartisipasi dalam gerakan hak-hak sipil, namun penentangan terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam dan keterlibatan pemerintah dalam penentangan aksi-aksi politik di kampus menjadi permasalahan di berbagai universitas. Para profesor ini ikut melakukan protes-protes anti perang mengagitasi para mahasiswa dengan meminta melakukan reformasi di wilayah universitas, dari melakukan mimbar bebas pidato bebas di Berkeley hingga pendudukan terhadap bangunan-bangunan administrasi di banyak kampus.

 

Eric Wolf dan Sydney Mintz

Kubu Materialis merupakan para antropolog yang sangat dipengaruhi oleh pendekatan Marxisme. Namun demikian, ada kecenderungan bahwa antropolog Amerika Serikat menghindar dengan istilah antropolog Marxian, sebaliknya mereka lebih nyaman disebut sebagai antropolog Materialisme. Ciri khas dari para antropolog Materialis adalah meneliti lingkungan dengan menggunakan pendekatan material sebagai penanda sebuah perubahan kebudayaan. Selain itu, para antropolog yang lebih mencolok menggunakan pendekatan Karl Heinrich Marx melihat bahwa perubahan kebudayaan disebabkan oleh mode produksi kapital. Sebagai misal adalah awal karir Eric Robert Wolf yang meneliti sebuah komunitas penanam kopi dan tembakau dataran tinggi di Puerto Rico, Amerika Latin, yang secara luas dikuasai oleh pemilik perkebunan tradisional yang luas. Demikian juga antropolog Sidney Wilfred Mintz yang melakukan studi komunitas proletar di sebuah perusahaan pemilik perkebunan gula kawasan Puerto Rico. Kedua antropolog ini berada dalam payung proyek antropolog materialis Julian Haynes Steward yang sangat berpengaruh di pertengahan tahun 1950-an.

Namun demikian, Eric Wolf dan Sydney Mintz mengkritik sang guru, Julian Steward dan juga Robert Redfield, dalam buku yang kemudian mereka terbitkan berjudul The People of Puerto Rico, A Study in Social Anthropology (1956). Buku ini sangat bermuatan ekonomi politik Marxian dengan menggunakan metodologi sejarah budaya. Wolf mengkritik sistem ekonomi masyarakat Puerto Rico yang dibuat tergantung oleh pasar Amerika Serikat. Proyek penelitian Wolf selanjutnya selalu dimulai dengan asumsi dasar material dengan melihat hubungan struktural para petani sebagai produsen melakukan kontrol terhadap tanah, dengan tujuan kehidupan yang subsisten, bukan untuk investasi ulang layaknya kapitalisme modern. Wolf di kemudian hari mulai melihat masyarakat petani yang menekankan pada hubungan-hubungan kekuasaan, dan bukan semata pada kontradiksi proses ekonomi semata.

 

Petani Meksiko membawa cangkul untuk bekerja di ladang. Foto diambil oleh Eric Wolf pada tahun 1955. Eric Wolf melihat pola perilaku masyarakat lokal dan hubungannya dengan kekuatan sosio-ekonomi politik yang lebih luas.

 

Eric Wolf menawarkan sebuah pendekatan berbeda dalam mendefinisikan tipe-tipe para petani di Amerika Latin, yakni didasarkan pada variabilitas dalam hubungan-hubungan ekonomi dan ekologi. Hal ini berbeda dengan pendekatan Julian Steward, sang guru, dalam melihat tipe-tipe ekologi dari sudut pandang evolusi. Dalam karya selanjutnya yang terkenal berjudul Peasants (1966) Wolf menekankan relasi  petani dan peranan negara dalam menggaransi klaim keberadaan petani “sewaan“. Wolf melihat relasi relasi kekuasaan antara petani dan negara bersifat asimetris alias tidak seimbang dan selalu ada satu pihak yang sangat dirugikan. Dalam buku ini, Wolf mulai melihat relasi strategis yang mengkarakterisasi petani pada umumnya dan menarasikan variabilitas di dalamnya. Wolf menggambarkan berbagai serangkaian tipologi petani yang didasarkan pada keragaman tipe ekologi di mana mereka tinggal, jenis-jenis pemasaran dan sistem-sistem pertukaran mereka, modal sosial politik petani dalam berproduksi, tipe-tipe kelompok dan koalisinya, relasi sosial petani, posisi-posisi saudara mereka dalam tatanan sosial dan relasi petani dengan tatanan ideologisnya, serta masih banyak lagi contoh-contoh dengan mengacu pada konteks historis. Buku ini hadir untuk mensistematisasi kajian antropologi petani yang waktu itu mulai dibangun berdasarkan pendekatan Marxian.

Demikian juga dengan Sidney Mintz yang memulai fokus penelitiannya pada masyarakat proletar seperti pekerja, petani kecil dan hubungannya dengan sirkulasi komoditas. Mintz kemudian meneliti masyarakat Haiti dan Jamaika dan melihat relasi hubungan antara perbudakan dan produksi gula pada kedua masyarakat Karibia tersebut. Studi Mintz menunjukkan bahwa dalam relasi produksi komoditas, tidak bisa dilepaskan dari ekonomi politik kolonial yang penuh diwarnai dengan sistem eksploitasi dan perbudakan. Eksploitasi menghasilkan masifnya sebuah produk komoditas. Sebagai misal adalah gula yang pada awalnya masuk dalam kategori rempah-rempah, namun mengingat permintaan yang masif dalam pasar konsumsi dunia Barat, gula pada akhirnya dikeluarkan dari kategori rempah. Mintz, layaknya Wolf percaya bahwa persediaan dan permintaan tidak berjalan netral seperti dalam hukum dagang yang diinginkan oleh kaum ekonom neo-klasik, melainkan dipenuhi dengan hukum monopoli serta eksploitasi melalui kekuatan militer dan kolonialisme.

Lantas seperti apakah pola mode produksi antara Eropa, Amerika Serikat dan negara jajahan dalam perspektif antropologi Marx? Dan seperti apa perkembangan antropologi Marxis di Amerika Serikat setelah tahun 1960-an? [ Selanjutnya ]

 

24 November 2013

 

* hakadir@ucsc.edu

 

[  C  A  T  A  T  A  N  ]

 

Tulisan Terkait:

Meretas Jalan dari “Kolonisasi” ke “Indigenisasi” Antropologi Indonesia
Marshall Sahlins: Antropolog Berpengaruh yang “Tersisa” di Abad ini
Uang dan Hutang dalam Pembentukan Peradaban Manusia

 

 

Baca Juga

Suasana the Irish Hill Homeless Camp

Belajar Kepemimpinan dari “Kepala Suku” Kaum Homeless di Ibukota Balap Dunia

Catatan oleh: Karim * “The best way to find yourself is to lose yourself in ...

2 Tanggapan

  • Hello, guest
  • Artikel yang bernas, memberi pemahamana secara sederhana pada saya yang tidak begitu paham tentang dunia antroplogi, khususnya dalam kacamata Marxis. Literatur antroplogi materialis berbahasa Indonesia masih minim. Yang menarik yang baru saya baca baru karyanya Dede Mulyanto. Semoga dengan hadirnya etnohistori ini mampu memberi sumbangsih gagasan tentang tema-tema ini.