Home / Topik / Catatan / Antropolog Marxis di Amerika Serikat (III)

Antropolog Marxis di Amerika Serikat (III)

Bagian 3

Catatan oleh: Hatib Abdul Kadir *

 

[ Lanjutan Bagian 2 ]

 

Dari Eric Wolf, Sherry Ortner hingga David Harvey

Pada tahun 1979, terbit sebuah buku dengan pendekatan Marxian berjudul We Eat the Mines and the Mines Eat Us: Dependency and Exploitation in Bolivian Tin Mines. Buku tulisan June C. Nas ini berbicara tentang tambang timah di kawasan Bolivia. Nas menggunakan pendekatan antropologi ekonomi politik dan mengkritik mode teori “World System” yang dikembangkan oleh Andre Gunder Frank dan Immanuel Maurice Wallerstein. Sebagai gantinya ia menghadirkan perbedaan kapitalisme di ranah lokal sebagai reaksi dari masyarakat dan efek prosesnya terhadap ekonomi dunia. Ia juga menghubungkan mode produksi kapitalisme dengan entitas lainnya seperti indigenisasi masyarakat Bolivia.  Antropolog Marxis lainnya yang juga menjadi kunci dalam perkembangan Marxisme adalah Sidney Wilfred Mintz, dengan bukunya Sweetness and Power: The Place of Sugar in Modern History diterbitkan pada tahun 1985. Buku ini memuat tentang analisa perubahan kultural dalam pola-pola konsumsi di dunia ekonomi produksi gula. Di tengah-tengah periode ini, muncul pula Eric Robert Wolf yang pada tahun 1982 mempublikasikan bukunya berjudul Europe and the People without History. Buku ini menggegerkan para akademisi karena menandakan kristalisasi pemikiran Marxisme pada tahun 1970-an.  

 

Eric Wolf: Europe and the People without History

Eric Robert Wolf sangat tertarik dengan studi petani, khususnya tentang tema protes dan pemberontakan petani. Ia banyak menggunakan terminologi Karl Heinrich Marx, seperti kata sewa, klas, dan mode produksi ketika melihat kasus petani. Meskipun demikian, secara bertahap ia mulai mengembangkan relasi petani dengan sistem−dunia secara keseluruhan yang juga membentuk identitas petani. Di buku Europe and the People without History (1982) inilah ia dianggap melampaui teori ketergantungan, teori sistem dunia dari Wallerstein, karena Wolf, sebagai antropolog melihat pola hubungan global dengan memeriksa proses-proses dalam bentuk mikro di tingkatan lokal.

Lantas seperti apa model pendekatan Antropologi Marxisme itu? Mari saya bahas contohnya di buku Eric Wolf ini. Wolf berpendapat bahwa dalam relasi sosial menghasikan perbedaan kelompok dan klas. Dengan menggunakan pendekatan ekonomi politik ia percaya bahwa sejarah global adalah sejarah tentang friksi, invasi, dan kolonialisme. Untuk melihat keterputusan dan perbedaan di antara masing-masing grup/kelompok, Wolf menekankan pada satu konsep yang ia sebut dengan mode produksi. Ia mendefinisikan produksi sebagai seperangkat relasi antara alam, jenis pekerjaan, pekerja/buruh dan organisasi sosial. Manusia mengorganisasi dan mengatur seperangkat relasi tersebut dengan cara menciptakan dan mengontrol energi dari alam dengan menggunakan perangkat teknologi, keahlian, pengetahuan, dan organisasi (periksa Eric Wolf di halaman 74−5). Dengan demikian, kekuatan sangatlah terkonsentrasi pada orang atau kelompok yang memiliki mode produksi seperti tenaga kerja dan tanah. Dengan mempunyai kekuatan terhadap mode produksi ini, maka kelompok tersebut bukan hanya mampu menciptakan keuntungan (surplus value) tapi juga mampu meng-ekspansi kekuatannya ke kelompok yang lainnya.

Eric Wolf cenderung tertarik dalam mendiskusikan masyarakat dalam perspektif ekonomi politik. Karena itu ia melihat sejarah manusia melalui mode produksi. Ia percaya bahwa ketimpangan terjadi karena mode produksi dalam relasi sosial. Sejarah global tentang invasi di abad lima belas juga lebih dahsyat karena kepentingan mode produksi. Dalam menggunakan pendekatan Marx, Wolf berpendapat bahwa sebuah kebudayaan yang menangkap energi untuk menjinakkan hewan mampu memproduksi makanan dengan berlimpah dan menciptakan tentara kavaleri. Penduduk yang didukung oleh kondisi ekologi dan geografis, serta surplus dalam mode produksi mempunyai kecenderungan untuk menekan kelompok yang lemah. Dengan kata lain, meningkatnya surplus produksi akan meningkatkan kapabilitas militer untuk menginvasi serta menggabungkan kelompok-kelompok kecil lainnya. Tesis ini sudah terjadi jauh sebelum adanya kolonialisme.

Wolf menawarkan sejarah narasi masyarakat tanpa sejarah (the people without history). Masyarakat yang tidak punya sejarah adalah masyarakat yang ditaklukkan mode produksinya. Ia menentang ide evolusi sosial. Menurutnya, evolusionisme hanya menceritakan tentang kemajuan sejarah tentang orang kulit putih dan orang Barat karena mereka mengontrol mode produksi. Sebaliknya, Wolf percaya bahwa sejarah sebuah masyarakat dihasilkan dari bipolaritas antara yang menciptakan perbedaan sosial atau friksi dalam masyarakat.

Jika Immanuel Wallerstein dan Gunder Frank menggunakan definisi kapitalisme sebagai “transfer of surplus” dari Negara periferi ke pusat, Wolf lebih melihat pada “the mode of production” di mana esensi kolonialisme sudah ada jauh sebelum munculnya sistem kolonialisme Eropa. Tidak seperti Wallerstein yang melihat relasi Negara Barat dan Timur sebagai layaknya dua bola biliar yang saling berbenturan, penciptaan kelompok sosial baru dihasilkan dari perbenturan kelas dalam relasi sosial. Dunia Barat dan Timur saling mempengaruhi, namun inter-koneksi antar kelompok dalam relasi justru saling menaklukkan satu sama lain, mengontrol daerah dan populasi serta menciptakan tatanan baru. Layaknya dalam definisi kapitalisme Marx, suksesnya transformasi kapitalisme Barat adalah karena kombinasi antara stok kekayaan, energi manusia, dan kemampuan menciptakan perangkat teknologi. Untuk menciptakan akumulasi modal, semua faktor ini harus saling berhubungan dan digerakkan tanpa henti. Sistem ini telah dilakukan sejak jauh zaman Khalifah Islam, Portugis, Spanyol, kolonial Inggris, Belanda dan Perancis. Mereka mempunyai kemampuan mode produksi seperti surplus di bidang agrikultur dan produksi peternakan yang menghasilkan wool dan caravan, munculnya saudagar kaya dan meningkatnya kebutuhan akan militer. Kapitalisme di Barat adalah sejarah tentang kesuksesan dalam menggerakkan komoditas yang menghasilkan uang kemudian diturunkan menjadi modal membeli mesin, bahan mentah dan tenaga kerja, kemudian diekspansikan lagi ke dalam produksi untuk mengakumulasi modal kembali. Begitu seterusnya.

Eric Wolf melihat bahwa mode produksi ini sangat menentukan dalam ketimpangan relasi sosial dan menjadi determinasi dalam memicu konflik-konflik sektarian keberagamaan. Pengelompokkan etnisitas atau agama, segmentasi, kebencian, konflik ataupun aliansi antar kelompok lebih dikarenakan kepentingan untuk memaksimalkan akses sumber daya dalam berkompetisi dengan kelompok lainnya. Sebagai misal, Wolf percaya konflik antara masyarakat Katholik Irlandia dengan Protestan Inggris, atau Kaum Buddha Sinhala dengan Hindu Tamil Nadu, di mana lebih dikarenakan friksi dalam mode produksi etnis beragama tersebut.

 

Sherry Ortner: Klas dalam Leburan Gender, Agency, Struktur & Kultur 
 

Pasca karya Eric Wolf, terbit sejumlah buku yang mulai membahas relasi global dan lokal dalam perspektif ekonomi politik dengan menggunakan pisau analisa Marxian, misalnya karya Jane Schneider dan Peter Schneider di Culture and Political Economy in Western Sicily (1982) menganalisa kode-kode kultural yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi politik Mafia. Ada pula studi Joan Vincent tentang efek kapitalisme di Uganda dalam bukunya Teso in Transformation: The Political Economy of Peasant and Class in Eastern Africa. William Roseberry yang melihat mode produksi dari non kapitalis ke kapitalis dalam bukunya Coffee and Capitalism in the Venezuelan Andes (1983). Selain itu, terbit pula buku etnografi karya Aihwa Ong yang menjadi bahan perbincangan di kalangan ilmuwan sosial di Amerika Serikat pada tahun 1987, Spirits of Resistance and Capitalist Discipline: Factory Women in Malaysia. Dengan menggunakan pendekatan ekonomi politik buku ini membahas tentang hubungan antar klas dan kekuasaan. Aihwa Ong melihat tentang semangat bekerja di kalangan buruh perempuan di Malaysia seiring dengan tahap awal masuknya industri manufaktur dan globalisasi Ekonomi di Asia Tenggara pada tahun 1980-an. Para perempuan di Zona Perdagangan Bebas (Free Trade Zone) Malaysia ini adalah generasi pertama yang bekerja di industri modern. Dengan menghubungkan studi gender dan klas, Ong melihat dua aspek penting di bidang industri yakni bagaimana disiplin kapitalisme dalam pabrik mempunyai pengaruh signifikan terhadap buruh perempuan dan bagaimana efeknya terhadap perubahan sosial ketika perempuan bekerja di pabrik. Semenjak mengenal sistem monetisasi melalui gaji, perempuan menjadi lebih mandiri terhadap berbagai keputusan yang hendak mereka ambil dalam hal hubungan cinta dan pernikahan serta hubungan-hubungan dengan keluarga mereka.

Selain itu, Sherry Beth Ortner dalam  bukunya berjudul Theory in Anthropology Since the Sixties (1984) mengemukakan konsep terkenalnya “practice theory”. Di buku ini Ortner secara eklektis menggabungkan pendekatan tafsir simbolik, materialisme budaya dan Marxisme. Layaknya teori strukturasi Anthony Giddens, sosiolog dari Inggris, Ortner melihat bahwa aktivitas, interaksi, pengalaman, kinerja manusia terhubungkan dengan determinasi simbolik, materialisme kultural dan struktur-struktur sosial, dengan kata lain aksi individu bereaksi terhadap sistem sosial. Di sisi lain, Ortner melihat Ego, personalitas dan emosional individu dibentuk oleh realitas pengalaman baik mikro maupun makro, dan baik secara anakronik maupun diakronik. Dari sinilah kemudian kita dapat melihat relasi-relasi ketimpangan dan dominasi dalam praktik kehidupan sehari-hari. Tampak sekali dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa Ortner adalah teoritikus eklektik dan hendak meraup semua pendekatan, yang justru membuat pusing pembaca.

Sherry Ortner memang bertujuan untuk menjembatani jarak-jarak teori yang semakin bertentangan seperti teori materialisme, Marxisme, simbolisme dan interpretivisme yang menurutnya belakangan ini semakin saling berjauhan dan berlawanan. Di sini Ortner bisa saya katakan bukan lagi sebagai antropolog Marxis yang “tulen” karena ia sudah mencampurkan berbagai pendekatan baik dari sosiolog Anthony Giddens dan karya Pierre Bourdieu berjudul Outline of a Theory of Practice; yang bukunya baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1977. Uraian teori Ortner yang saya jelaskan di atas persis pula seperti konsep “habitus” Bourdieu tentang disposisi individu yang dijalankan oleh manusia begitu saja dalam kehidupan sehari-hari.

Memang harus diakui, para sosiolog, filosof dan antropolog Eropa, bukan hanya Karl Heinrich Marx, tapi juga Karl Emil Maximilian Weber, David Émile Durkheim, Marcell Mauss, Claude Lévi-Strauss dan Paul-Michel Foucault sangat mempengaruhi perkembangan antropologi di Amerika Serikat. Mereka semua menjadi bahan bacaan wajib buat para mahasiswa dan sarjanawan antropologi. Khususnya Marxis Inggris dan Perancis menjadi titik referensi pula bagi para antropolog kiri Amerika Serikat.

 

David Harvey: Melihat Studi Perkotaan dari Perspektif Marx

David Harvey adalah seorang antropolog yang juga berlatar-belakang pendidikan di geografi, sebuah disiplin yang sebenarnya sangat jarang diketahui. Dengan ilmu geografi, Harvey membawa berbagai rencana tata urban kota, pemetaan, transformasi landscape, yang dihubungkannya dengan diskusi ekonomi politik seperti permasalahan pengawasan (surveillance), finansial, krisis ekonomi dan belakangan dengan radikalisme gerakan sosial.

Harvey lulus dari studi doktoralnya di medio tahun 1960-an dan ia menulis manuskrip pertama ketika huru-hara Mei 1968 terjadi di Perancis. Ketika itu ia masih sangatlah muda dan belum terlibat berbagai diskusi ekonomi politik secara global. Ia baru pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1969. Di sinilah kemudian Harvey sebenarnya mendapati gejolak politik dan berbagai kekisruhan politik dalam wajah yang lain. Seperti yang saya ceritakan di bagian kedua, mengenai latar belakang munculnya buku Reinventing Anthropology, demikian pula Harvey sangatlah kecewa dengan berbagai hal yang ia temukan dengan kondisi sosial politik di Amerika Serikat. Terbunuhnya Martin Luther King Jr., invasi Amerika Serikat terhadap Vietnam dan rasisme terhadap warga kulit putih yang menguat. Inilah latar belakang Harvey kemudian terlibat dalam gerakan sosial, seperti gerakan anti perang Vietnam.

Setelah huru-hara politik di 1969, Harvey mulai belajar Karl Marx. Ia mulai menggabungkan pendekatan antara geografi dan Marxisme. Sebuah pendekatan yang jarang dilakukan banyak orang. Ia menghubungkan isu geografi, lingkungan, penginderaan jauh, studi keruangan dengan teori dan konsep Marx. Di samping itu ia melihat permasalahan kondisi perumahan yang berhubungan dengan masalah krisis finansial. Harvey juga memperhatikan masalah gentrifikasi, di mana perubahan ruang perumahan dan lingkungan sangat terkait erat dengan isu klas dan ras. Bagi Harvey, sangatlah mudah membawa Marxisme ke geografi dibanding sebaliknya. Dengan kata lain, jauh lebih mudah mengusung ide Marx yang abstrak ke ranah geografi yang lebih konkrit dan praktikal.

Studi tentang ruang perkotaan dan masalah sosial menjadi sangat penting karena bagi Harvey, Marx sendiri tidak begitu banyak membahas tentang urbanisasi. Perhatian Marx terlalu banyak terkonsentrasi pada apa yang terjadi di ranah pabrik dan hubungan antara majikan dan buruh. Bagi Harvey, apa yang terjadi di pabrik dan yang terjadi di perkotaan sama pentingnya. Di ranah perkotaan, terdapat permasalahan kapitalisme yang sebenarnya mirip di seluruh dunia, misalnya urbanisasi sebagai fenomena penyerapan tenaga masyarakat desa ke kota yang jarang dilihat dari studi ekonomi politik.

Sebagai geografer dan antropolog, Harvey percaya bahwa studi pada isu di tingkatan lokal mempunyai tingkat general yang berlaku secara global. Misalnya dalam melakukan studi dan kritik terhadap persoalan living wage, upah buruh berdasarkan tingkat kebutuhan dalam satu kota atau sistem buruh outsourcing, sweat shop labor, pasti selalu berangkat dari satu kasus partikuler yang kemudian nilainya pasti berlaku pada berbagai kasus-kasus yang sama terjadi di belahan kawasan lainnya.

Harvey sangat produktif menulis buku, seperti The Limits to Capital (1982), The Urban Experience (1989), The Condition of Postmodernity (1989), The New Imperialism (2003), hingga bukunya yang terbaru adalah Rebel Cities: From The Right to The City to The Urban Revolution terbit pada tahun 2012. David Harvey sering berargumen bahwa ruang diciptakan untuk mengakumulasi modal. Ia melihat bahwa sifat dari sebuah pembangunan adalah selalu timpang. Ia seperti molekul yang selalu bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya, dari satu Negara ke Negara lainnya. Pergerakan molekul layaknya sebuah pergerakan modal yang dipindahkan bahkan dalam satu kota ke kota lainnya dalam satu Negara. Di sinilah Harvey berpendapat bahwa akumulasi modal menciptakan sebuah lanskap geografi. Ketika modal berpindah maka sebuah lanskap ruang akan berubah, baik itu dalam bentuk perpindahan penduduk, jumlah populasi yang meningkat hingga munculnya gedung-gedung bertingkat dan jalan layang. Demikian pula akumulasi modal yang mengubah lanskap keruangan berparalel pada pola dominasi dan relasi.

Harvey percaya bahwa akumulasi modal, yakni perputaran modal menjadi uang dan di sirkulasi lagi menjadi uang, dan kembali ke menjadi modal dan seterusnya secara tidak berhenti akan menghasilkan akumulasi dan keuntungan. Akumulasi inilah yang menjadi dasar dalam perubahan lanskap ruang geografis, logika teritorial, relasi sosial dan dominasi. Ambil contoh yang paling jelas adalah Detroit tentunya. Kota yang baru bangkrut di Amerika Serikat tersebut. Ketika tahun 1950-an, Detroit mempunyai jumlah penduduk hampir dua juta, karena industri mobil General Motors yang sukses. Namun jumlah penduduk Detroit di tahun 2012 tersisa 700 ribu karena kolapsnya General Motors dan dipindahkannya pabrik ini ke tempat lain. Jumlah penduduk di Detroit terus menurun hingga sekarang, yang diikuti dengan harga tanah yang terus menurun dan tingkat kriminalitas yang tinggi. Inilah yang dimaksud oleh David Harvey bahwa akumulasi modal menentukan perubahan lanskap keruangan dan relasi sosial di dalamnya.

Sedangkan yang dimaksud Harvey pada logika teritorial ialah sebuah konsep bagaimana menciptakan akumulasi modal dalam sebuah kota agar tidak terjadi krisis dalam ruang perkotaan tersebut. Inilah yang diupayakan oleh hampir semua kota di dunia. Kota menciptakan semacam distinction atau keunikan dirinya agar akumulasi modal dapat menggeliat, baik itu melalui pengembangan pariwisata, pengerukan sumber daya alam maupun pembangunan gedung pencakar langit.

Konsep lainnya yang terkenal dari Harvey dari inspirasi Karl Marx adalah Primitive Accumulation yang mengacu bahwa sebuah akumulasi modal selalu melakukan dispossession. Kata dispossession ini dalam bahasa Inggris mempunyai makna negatif yang berarti merampas, merusak dan mencerabut. Dengan kata lain, akumulasi modal seringkali melalui proses perampasan aset serta hak-hak individu atau komunitas. Salah satunya adalah dengan caranya privatisasi, misalnya adalah swastanisasi air yang seharusnya menjadi milik bersama tanpa harus dikuasai oleh perseorangan, lantas dijual kembali ke masyarakat. Contoh bagus lainnya tentu adalah tanah yang sudah banyak dibahas di berbagai tulisan di Etnohistori, khususnya oleh Ahmad Nashih Luthfi. Privatisasi merampas hak-hak universal manusia.

Selanjutnya, studi-studi Harvey menunjukkan bahwa akumulasi modal bukanlah gerakan yang ada hanya di satu kawasan lokal, melainkan ia dapat bergerak ke manapun di tingkatan global. Kedua, akumulasi modal tidak lagi dalam bentuk riil ekonomi, melainkan juga dalam ruang-ruang finansial. Akumulasi modal di sektor finansial dapat dipindahkan dengan mudahnya ke sektor-sektor finansial di kota-kota lain seperti Hongkong, Dubai hingga Manila. Di sinilah kemudian Harvey menggiring antropolog untuk juga melakukan studi tentang fenomena finansial atau sektor ekonomi maya dan perputarannya dalam konfigurasi teritori.

 

Penutup

Sebagai penutup, studi Antropologi Marxisme sangat dibutuhkan di Indonesia mengingat studi ini bukan propaganda seperti yang pernah disuarakan oleh pemerintah Orde Baru. Sebaliknya, Marxisme adalah sebuah paradigma ilmu pengetahuan yang sangat mengalami kemajuan pesat dan terus-menerus melakukan diskusi dan kritik. Ada banyak antropolog menggunakan Marxisme yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu di halaman ini.

Kedua, studi Antropologi Marxisme sangat penting dalam melihat relasi partikularisme dalam satu kasus tertentu. Ini adalah ciri khas studi etnografi dalam antropologi, yang kemudian dapat dihubungkan tautannya dengan refleksi-refleksi pada perubahan yang sedang terjadi secara global. Dengan demikian, secara ilmiah, Antropologi Marxisme menyudahi perdebatan-perdebatan dikotomik, di tahun 1990-an, yang membahas tentang idiosinkrasi dan nomotetik, antara partikuler dan universal. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling terelasikan. Ketiga, studi Antropologi Marxisme merupakan wacana kritik terhadap ide liberalisme yang demikian mendominasi di Indonesia. Liberalisme tidak hanya muncul dalam kebijakan ekonomi politik di Indonesia belakangan ini, tapi ia juga hadir dalam bentuk pendekatan paradigmatik dan wacana kebudayaan seperti yang digawangi oleh Salihara dan Jaringan Islam Liberal di Jakarta. Studi Antropologi Marxisme mampu memberikan daya negosiasi dan kritik langsung terhadap apa yang terjadi di lapangan dan apa yang diinginkan sesungguhnya oleh pekerja dan masyarakat. [ ]

 

15 Desember 2013

 

* hakadir@ucsc.edu


[ C A T A T A N ]

 

 

Tulisan Terkait:

Manisnya Gula, Pahitnya di Orang Aru: Alasan-Alasan Antropologis Menolak Perkebunan Tebu!
Meretas Jalan dari "Kolonisasi" ke "Indigenisasi" Antropologi Indonesia
Marshall Sahlins: Antropolog Berpengaruh yang "Tersisa" di Abad ini
Uang dan Hutang dalam Pembentukan Peradaban Manusia

 

 

 

Baca Juga

Suasana the Irish Hill Homeless Camp

Belajar Kepemimpinan dari “Kepala Suku” Kaum Homeless di Ibukota Balap Dunia

Catatan oleh: Karim * “The best way to find yourself is to lose yourself in ...

3 Tanggapan

  • Hello, guest
  • Mas Khatib yang baik,

    Terima kasih atas uraiannya, sekedar saran apakah mungkin serial ini berlanjut dengan list-list buku, jurnal dll? Semacam top list yang dirangkai untuk siapapun yang hendak belajar antropologi marxist dapat mencari dan membaca buku2 tersebut. Di tulisan Mas Khatib sudah ada tapi apakah dapat di share yang lainnya?

    Saya sangat tertarik sekali untuk mengikutinya,

    Cheerss

    • Salut buat tulisan mas Khatib! Saya mahasiswa S3 baru mau belajar antropologi marxist jadi semakin tertarik mempelajarinya. Ditunggu tulisan berikutnya.Tks mas