Home / Edisional / Art Prek: Antara Seni dan Perlawanan

Art Prek: Antara Seni dan Perlawanan

oleh: Khotim Ubaidillah[1]

Prawacana

Di beberapa ruang publik Kota Yogyakarta, seperti pasar, jembatan layang, gedung-gedung, gang-gang kecil, banyak dipertontonkan karya seni menarik kuasan para seniman Kota Gudeg ini. Gambar-gambar besar atau tulisan yang dalam diskursus seni lebih dikenal dengan seni mural ataupun grafiti terpampang jelas sebagai manifestasi dari karya para perupa Yogyakarta yang sarat dengan pesan moral dengan tanpa menghilangkan nilai estetis dari seni itu sendiri. Seperti di fly over jembatan Lempuyangan, Kota Baru, Jl. Perwakilan, Jl. Prof. Dr. Yohanes, Jl. Beskalan, di daerah Wirobrajan, dan sebagainya. Para kreator tidak saja datang dari anak-anak muda atau seniman setempat. Tercatat, beberapa seniman mural luar negeri baik perorangan maupun kelompok pernah menggoreskan sapuan kuasnya di tembok-tembok Yogyakarta. Sebut saja, karya Midori Hirota asal Jepang di Jl. Perwakilan, Malioboro. Sementara yang lainnya adalah enam orang seniman mural asal Amerika yang tergabung dalam Clarion Alley Mural Project (CAMP)[2].

Menurut Obed (2005), seni mural di Yogyakarta mulai berkembang sebagai bentuk kegelisahan perupa pada perkembangan kota yang tidak menyediakan alternatif estetis bagi penghuninya, karena kota sudah dipenuhi oleh polusi, kebisingan, kekerasan, tidak teraturnya papan billboard, poster maupun pamflet di dinding yang sudah mengarah pada vandalisme[3]. Kehadiran mural diharapkan dapat menciptakan komunikasi secara visual dengan lebih estetis pada masyarakatnya guna membentuk peradaban kota yang lebih baik melalui pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Pada awal 2006, para pemerhati, seniman, maupun para anak muda yang tertarik dengan seni mural mendirikan sebuah paguyuban yang diberi nama Jogja Mural Forum (JMF)[4]. Visi dari Jogja Mural Forum adalah menjadikan seni mural sebagai sarana pendidikan seni kepada publik kota. Sarana pendidikan ini tidak hanya terbatas pada teknik seni visual, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana warga kota bisa menggali permasalahan di sekitarnya dan mengemasnya menjadi sebuah pesan-pesan visual yang menarik. Adapun prinsip-prinsip yang menjadi dasar bagi komunitas Jogja Mural Forum adalah memposisikan seni ruang publik sebagai cara warga masyarakat mengekspresikan gagasannya. Oleh karena itu seni di ruang publik bukanlah seni yang diciptakan oleh seniman yang berjarak dengan masyarakat yang membuat warga kota terasing di ruangnya sendiri; seni di ruang publik merupakan ikon-ikon di mana setiap warga dapat menemui dirinya sendiri di belantara kotanya.

Di Yogyakarta-lah keseimbangan antara pelaku seni, masyarakat, dan pemerintah daerahnya terbangun. Salah satunya bisa dilihat pada acara Mural Competition Jogja Wall Nation pada 15 November 2009 yang merupakan kerja sama antara Pemerintah Kota Yogyakarta, Kodim 734 dan DPRD Kota Yogyakarta dan secara khusus melibatkan berbagai elemen masyarakat terutama kalangan pemuda dalam sebuah proses kreatif, khususnya seni mural. Salah satu yang mendasari hal ini adalah munculnya kegiatan-kegiatan corat-coret sebagai sebuah hal yang harus disikapi dengan lebih bijaksana. Melalui acara ini, sesuai dengan yang dijelaskan situs resmi Pemerintah Kota Yogyakarta, diharapkan bakat-bakat dan potensi kreatif anak muda Yogyakarta dapat dinikmati secara luas oleh masyarakat sebagai sebuah karya seni[5].

Tembok atau dinding setidaknya memiliki nilai filosofis dan reflektif sebagai media seni yang ditujukan bagi masyarakatnya. Para perupa Yogyakarta menilai tembok sebagai pembuka kemungkinan terjadinya kontak antara “orang dalam” dan “orang luar”. Tembok adalah “kertas” bagi warga kota untuk menorehkan narasinya sendiri[6]. Melalui “kertas” itu pula mereka menulis surat terbuka kepada semua warga kota tentang kegelisahan hidup, politik, negara, kebudayaan, dan apa saja mengenai problem perseorangan dan kebangsaan yang mereka alami. Untuk itulah, tulisan ini hendak mengulas salah satu komunitas mural di Yogyakarta, yakni Art Prek yang memiliki perbedaan bentuk penyampaian ide-ide dengan komunitas atau muralis lainnya.

Seni Mural dan Perkembangannya

Mural berasal dari kata murus, kata dari Bahasa Latin yang berarti dinding[7]. Dalam pengertian kontemporer, mural adalah lukisan berukuran besar yang dibuat pada dinding (interior ataupun eksterior), langit-langit, atau bidang datar lainnya. Akar muasal mural dimulai jauh sebelum peradaban modern, bahkan diduga sejak 30.000 tahun sebelum Masehi. Sejumlah gambar prasejarah pada dinding gua di Altamira, Spanyol, dan Lascaux, Prancis, yang melukiskan aksi-aksi berburu, meramu, dan aktivitas relijius, kerapkali disebut sebagai bentuk mural generasi pertama.

Mural mulai berkembang menjadi mural modern di tahun 1920-an di Meksiko dipelopori oleh Diego Rivera, Jose Clemente Orozco, dan David Alfaro. Pada tahun 1930, seniman Amerika Serikat (AS) George Bidle menyarankan presiden AS Roosevelt agar membuat program padat karya dengan mempekerjakan seniman untuk menciptakan seni publik dalam skala nasional. Maka dibuatlah mural-mural yang telah ditentukan pemerintah. Pada tahun 1933 proyek mural pertama dengan nama Public Work of Art Project (PWAP) dan didanai pemerintah negara bagian dan berhasil menjadikan 400 mural selama tujuh bulan. Setelah itu pada tahun 1935, Pemerintah AS membuat proyek yang kedua dengan nama Federal Art Project (FAP) dan Treasury Relif Art Project (TRAP) dan berhasil membuat 2.500 mural dengan mempekerjakan para penganggur di masa krisis ekonomi. Setelah proyek FAP dan TRAP sukses, sepanjang tahun 1943 dilaksanakan juga program The Work Progress Administrasion’s (WPA). Namun, proyek-proyek mural itu dihentikan akibat Perang Dunia II[8]. Tahun 1970-1990 Mural mulai memperlihatkan eksistensinya kembali di AS melalui seorang seniman imigran bernama Jean-Michel Basquiat (Desember 1960-12 Agustus 1988). Seniman berdarah Haiti ini secara diam-diam membuat grafiti di setiap sudut-sudut kota dan di stasiun New York dengan tulisan S.A.M.O, dari asal “same old shit”. Hal ini kemudian menginspirasi banyak seniman lain untuk berkarya di ruang publik. Salah satu seniman yang terpengaruh adalah Keith Flaring yang kemudian banyak mengerjakan dan dianggap sebagai seniman mural selama kariernya[9].

Perkembangan Mural di Yogyakarta

Sebelum akhir 1990-an, seni mural hampir tidak pernah diperbincangkan secara serius dalam wacana seni rupa kontemporer. Menurut Ade Tanesia, aktivis dan penulis tentang ruang publik dan mural, meskipun kini kesadaran perupa untuk membuat mural sangat beragam, gejala ini tidak lepas dari konteks paradigma seni rupa yang muncul pada 1998 atau pada masa jatuhnya rezim Orde Baru[10]. Kondisi inilah yang memunculkan praktik seni rupa lebih mendekat terhadap publik secara lebih luas. Seni mural yang kerap dicap sebagai seni jalanan (street art) yang memberontak karena kerap menyajikan lukisan dan tulisan yang berisi protes atau kritikan pada fenomena sosial[11], kemudian merebak di beberapa kota besar di Indonesia, terutama di Yogyakarta dan Bandung yang dapat dikatakan sebagai kiblat seni mural dan grafiti nasional[12].Di dua kota ini seni mural bahkan telah menjadi  cara pemerintah setempat untuk memperindah daya tarik kota.

Di Yogyakarta, embrio ‘pemberontakan’ seniman ini sebenarnya sudah mulai mengemuka pada dekade 1970-an. Saat itu lahirlah Gerakan Seni Rupa Baru dan di antaranya dimotori oleh Hardi dan FX Harsono. Mereka meredefinisi seni rupa yang tidak hanya terkungkung oleh seni patung, seni lukis dan seni grafis serta anti elitisme[13]. Hal ini tampak pada karya-karya mereka yang mengusung wacana seni instalasi yang merupakan akar dari perkembangan seni post-modernisme. “Pemberontakan” perupa muda inilah yang menjadi tonggak sejarah dalam menggeser identifikasi seni rupa konvensional. Perkembangan lain menurut Obed adalah adanya pergeseran media baru yang memperkenalkan konsep gaya hidup. Media baru seperti MTV merangsang para perupa, desainer, animator dan musisi undergrounduntuk membuat karya visual yang bersifat kontemporer di mana bentuk visualnya tidak akan ditemui di stasiun lainnya kecuali di MTV itu sendiri Hal ini termasuk berkaitan dengan ditampungnya gaya desain dari wacana post-modernisme yang dianggap kalangan modern sebagai sampah[14].

Menjelang akhir 1990-an, ada kebutuhan dari sejumlah perupa Yogyakarta untuk membuka akses seni pada publik yang lebih luas. Beberapa pemikiran yang tumbuh pada saat itu adalah pertanyaan mengenai identitas kota Yogyakarta yang dihuni ribuan seniman dan memiliki lembaga pendidikan seni tertua di Indonesia, Institut Seni Indonesia, tetapi ternyata tidak memiliki jejak seni dalam ruang-ruang kotanya. Berangkat dari pemikiran inilah, muncul praktik seni yang. Pada 1997 sekelompok perupa bernama Apotik Komik berpameran di Desa Nitiprayan dengan tajuk “Mural Tembok”[15] yang menggunakan tembok halaman rumah sebagai medianya agar warga sekitar dapat mengakses pameran tersebut. Tidak lama berselang, tepatnya tahun 1998, muncul kelompok Taring Padi yang juga menjadikan seni sebagai alat perjuangan masyarakat. Pada tataran implementasi, kelompok ini mengembangkan berbagai teknik grafis seperti stensil, cukil kayu, dan etsa untuk memproduksi poster, flyer, baliho yang dipasang di ruang-ruang publik. Pendek kata, pada era inilah seni di ruang publik mulai tumbuh subur di Yogyakarta.

Dalam perkembangan selanjutnya, seni mural di Yogyakarta tidak lagi dibuat oleh seniman namun justru oleh masyarakatnya sendiri. Mereka mengerjakan mural itu di pinggir-pinggir jalan lingkup RT hingga jalan masuk gang-gang kecil. Euphoria mural Yogyakarta yang telah menjadi gerakan massal bahkan membuat bingung biro iklan untuk memasang poster iklannya karena ternyata ruang publik sudah kembali ke masyarakat sendiri[16]. Menurut data dari salah seorang seniman Apotik Komik, pada tahun 2003 telah lebih dari 500 karya mural dihasilkan oleh masyarakat Yogyakarta[17].

Art Prek: Mural untuk “Perlawanan”

Dari berbagai belantara karya muralis Yogyakarta, barangkali coretan dari kelompok art prek terkesan paling unik dan sedikit berbeda dari manstream seni mural kebayakan. Cara mudah untuk mendapati dan mengenali ciri mural dari kelompok ini adalah binatang besar – serta tulisan “art prek” di dalam setiap gambar-gambar tersebut. Perkenalan penulis dengan (karya) komunitas inidiawali tiap kali melewati jalan trans-kos-kampus UGM, tepatnya di Jalan A.M Sangaji (Perempatan Jetis), dimana tampak gambar binatang dan “art-prek”-nya berada di sisi luar tembok salah satu Sekolah Mengengah Atas. Sedikit keselatan dari titik itu, tepatnya di Perempatan Tugu Yogyakarta, penulis juga menemui gambar torehan komunitas yang sama. Dalam tiap karyanya mereka membubuhkan pesan sosial bernada sarkastis dan ekstrim tentang keprihatinan dan situasi kebangsaan yang menyeruak pada saat itu.

Prek, yang padanan katanya adalah emboh (mboh),merupakan kata dari bahasa Jawa Tengah-an dan Yogyakarta kurang lebih berarti cuek, acuh tak acuh, tidak peduli. Ditelisik dari nama tersebut, yang menjadi titik tekan dari propaganda komunitas ini adalah sebuah ketidakpedulian akan pakem seni rupa konvensional, atau keinginan meneguhkan komunitas perupa yang lebih tidak ‘teroganisir’ layaknya komunitas-komunitas perupa yang lain yang berada pada aras mainstream. Asumsi ini penulis bangun mengingat karya-karya mural lain lebih menekankan pada “estetika normatif” seperti kampanye lingkungan, atau meminjam istilahnya Wolfgang Fritz Haug sebagai “estetika komoditi”[18]; seperti seni mural yang saat ini sudah di kapitalisasi menjadi iklan-iklan rokok, alat rumah tangga, dan produk-produk industri lainnya. “Perlawanan” ala art prek berisi satire pendek, seperti yang tertera dalam gambar di bawah ini.

ArtPrek1
Foto diambil dari http://artprek.blogspot.com/, tanggal 20 Mei 2012

Gambar mural di atas berada di salah satu tembok Emka, Plengkung Gading, Kota Yogyakarta bertuliskan: “Tetap Hidup dan berproses walau tanpa Anas dan Angelina” dan “Semoga Presiden Jadi Membeli Pesawat Terbang Mewah, Biar Makin Bahagia”. Bisa ditebak bahwa lukisan ini adalah sebagai respon terhadap para pejabat pemerintahan, terutama eskalasi pemberitaan terhadap korupsi yang dilakukan beberapa eksponen Partai Demokrat, yaitu Anas Urbaningrum dan Angelina Sondakh. Tulisan kedua berupa ‘sindiran’ terhadap isu rencana pembelian pesawat kepresidenan yang menuai pro-kontra publik beberapa waktu yang lalu.

Selain eksis di tembok-tembok kota, komunitas ini juga memanfaatkan blog dan Facebook sebagai upaya untuk lebih mengenalkan masterpiece dan kritik –kritik mereka kepada para pengguna media sosial, seperti misalnya ini:

“kemarin anas sms : eh mas prx, gwa mau beli tembok yg u mural di salah satu spot di jogja, berapa u lepas kasih harga ke gwa? trus si mas prx jawab : as* koe dab, kalau koe jd digantung di monas, ntar tak kasih gratis wae.. :p”

Status yang lain mereka menulis yang disertai gambar:

“kapan2, semoga ArtPrek diperbolehkan menggambar di tembok bangunan ini… ^_^

 

ArtprekEho2
Foto diambil dari http://on.fb.me/Iy26QA, tanggal 20 Mei 2012

Sedangkan pada blog resmi-nya, komunitas ini meng-unggah karya-karya mereka melalui elaborasi fotografis dan fenomena empirik yang lain, seperti tampak pada gambar yang memiliki angle menarik berikut ini.

 

 ArtprekEho3
Foto diambil dari http://artprek.blogspot.com/, tanggal 20 Mei 2012. Tulisan “teruslah bekerja – jangan berharap pada negara” pada mural art prek tampak berpadu dengan gambar seorang pengendara mengayuh sepeda onthel dengan keranjang bambunya yang menjadi representasi dari wong cilik. Negara dalam konteks ini dianggap telah melakukan pembiaran terhadap nasib rakyat kecil.

Mengkaji Art Prek dalam Diskursus Media dan Sosial

Ruang publik (public space) tidak dapat dipisahkan dari individu dan masyarakat yang mengisinya. Henry Lefebvre mengatakan bahwa ruang (sosial) adalah produk (sosial) yang berarti ruang itu diproduksi secara sosial oleh masyarakat. Ruang merupakan cermin dari tatanan sosial, ekonomi dan politik suatu masyarakat. Sebagai produk sosial, ruang kerap dijadikan sebagai alat kontrol, dominasi dan kekuasaan[19]. Di pihak lain, ruang juga kerap dijadikan alat penentangan, subversi dan perlawanan politik. Perjuangan ruang adalah perjuangan memperebutkan teritorial (fisik maupun simbolik)[20]. Dalam wacana ruang, Yasraf Piliang membedakan antara ‘keragaman’ (diversity) dan ‘pelipatgandaan’ (multiplicity). Keragaman dalam pandangannya mencerminkan pertumbuhan beranekaragam ekspresi estetik yang berkembang secara demokratis. Sementara, pelipatgandaan adalah berkembangbiaknya ekspresi estetik sebagai akibat dari reproduksi dan perbanyakan idiom kebudayaan yang tanpa batas (seperti Coca Cola atau McDonald). Keragaman ekspresi ruang mencerminkan ekspresi pluralitas yang berkembang dari arus bawah (grassroot plurality), sedangkan pelipatgandaan merupakan pluralitas semu yang diatur atau dipaksakan dari atas[21].

Pandangan di atas dalam konteks art prek ini mengalami kesesuaian, terutama dalam konteks perebutan ruang sebagai alat penentangan, subversi dan perlawanan politik, maupun untuk melakukan perjuangan memperebutkan teritorial fisik-simbolik. Disinilah berlaku makna ‘estetik’ yang tidak hanya melekat pada keindahan, tapi merupakan rasa sebagai persepsi manusia atas pengalaman, termasuk rasa sakit, kemuakan, kegusaran, jijik, gairah, dan lain sebagainya[22]. Segala macam rasa tersebut merupakan tanggapan manusia yang diperoleh lewat indera penglihat, peraba, pencium, pencecap, dan pendengarnya. Estetika, dengan demikian, merupakan tanggapan manusia atas pengalaman ketubuhannya yang bersifat budayawi (kultural)[23].

ArtprekEho4
Foto diambil dari http://artprek.blogspot.com/, tanggal 20 Mei 2012

Bentuk ini lah sebagai karya perlawanan art prek atas kapitalisasi ruang oleh iklan-iklan rokok maupun produk komersial lainnya. Bagaimanapun juga, inilah bentuk perlawanan terkecil yang dilakukan komunitas seni untuk memperebutkan teritorial fisik-simbolik ruang perkotaan. Yasraf Piliang melihat kejadian tersebut sebagai keragaman (diversity) yang muncul dari arus bawah (grassroot) dan berkembang secara demokratis. Lebih jauh dalam konteks ini art prek tidak melakukan resistensi atas resistensi, atau tidak ada ‘perlawanan’ para kuasa modal, atau memang gerakan ini tidak berpengaruh signifikan terhadap upaya ‘pelipatgandaan’ para penguasa ruang yang lain. Kesan yang muncul adalah ‘ketidakseimbangan’ – atau bahkan perlawanan yang ‘sia-sia’.

Terlepas dari itu, ruang publik adalah salah satu jalan bagi anggota masyarakat menemukan kembali ruang kemanusiaannya. Tidak ada yang ‘sia-sia’ dari perjuangan para seniman mural ini. Terutama bagi masyarakat yang sensitif dan luput dari proyek dehumanisasi yang digagas kapitalisme mondial dengan medium iklan-iklannya. Mural juga bisa menjadi media dalam upaya menciptakan keseimbangan lingkungan. Salah satu term yang sering dituduhkan kepada muralist adalah bahwa mereka perusak lingkungan dan keindahan kota. Nyatanya, dalam ke-semrawutan politik kota, mural berbicara untuk melukis dinding kota yang tidak terawat, kotor dan sangat kumuh dengan sentuhan estetika (seni). Hal ini menunjukkan kegelisahan para perupa kontemporer untuk mencari kaitan antara wacana seni rupa dan kehidupan kota sebagai representasi keseharian.Pada saat yang sama kota telah berubah menjadi rimba tanda-tanda yang mengubur sejarah kotanya sendiri dan kota tidak lagi sarat dengan kenangan lama yang menjadi saksi berkembangnya kota dari hari ke hari. Hal inilah yang menjadi dasar alasan yang kuat mengapa mural dilakukan dan mengapa pula mural sebaiknya tidak dipakai sebagai alat promosi sebuah produk[24].

Menafsir makna-makna simbolik dari berbagai karya muralis art prek tidak bisa lepas dari konteks sosial-politik dan budaya yang melatarbelakanginya. Pemahaman hal ini penting kiranya untuk mendapatkan pesan yang menyeluruh dari sebuah karya seni, dengan tidak hanya berpijak pada ‘baik-buruknya’ suatu komposisi dan disposisi warna yang tersaji, tetapi harus dibongkar setting sosial di balik lahirnya karya tersebut. Dalam pandangan Ahimsa-Putra, melalui cara pandang semacam ini maka dapat diketahui proses-proses kreatif dalam simbolisasi ide dan perasaan ke dalam berbagai bentuk kesenian yang tidak terlepas dari konteks sosial dan budaya tempat si seniman atau individu berada dan dibesarkan[25]. Ditelisik dari karya-karyanya, komunitas art prek tampaknya memang lahir baru-baru ini. Asumsi ini penulis bangun atas beberapa karyanya yang sarat dengan kritik up-to date dengan situasi kebangsaan – paralel dengan eskalasi pemberitaan di media televisi, mengenai korupsi, kesejahteraan rakyat, pemerintah, dsb. Kritik terhadap pemerintah dan presiden SBY yang terekam dalam beberapa karyanya, barangkali juga buntut dari ketegangan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan pemerintah pusat, perihal masalah ‘keistimewaan’ yang berlarut-larut. Beberapa karya lain dari seniman art prek adalah sebagai berikut.

ArtprekEho5
Foto diambil dari http://artprek.blogspot.com/, tanggal 20 Mei 2012

Lokasi: Perempatan Jetis, Utara Tugu Yogyakarta

ArtprekEho6
Foto diambil dari http://artprek.blogspot.com/, tanggal 20 Mei 2012

Lokasi: Perempatan Tugu Yogyakarta

ArtprekEho7
Foto diambil dari http://artprek.blogspot.com/, tanggal 20 Mei 2012

Lokasi: Jembatan Kewek, Yogyakarta

 

Simpulan

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dibuat kesimpulan bahwa art prek merupakan sebuah komunitas seniman mural yang menurut pandangan penulis berada di luar jalur seni konvensional maupun profesional. Hal ini bisa dilihat dari pesan yang ingin disampaikan komunitas ini, yaitu sarat dengan kritik terhadap negara dalam hal ini pemerintah pusat, menyangkut persoalan korupsi, kesejahteraan masyarakat, anomalistik dengan ‘kebahagiaan’ yang direngkuh para pejabat tinggi negara. Art prek senantiasa terus menerus melahirkan karya di dinding-dinding kota dan mengkampanyekan kegelisahan mereka melalui sosial media seperti blog maupun Facebook. Di samping itu bahwa ada semacam tuntutan untuk terus berkarya mengingat mereka berada di Yogyakarta yang notabene merupakan arus besar seniman mural tanah air, di samping kota-kota yang lain, seperti Bandung dan Jakarta. [ ]

 

11-5-2014

Daftar Pustaka

—Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2000. Ketika Orang Jawa Nyeni. Yogyakarta: Galang Press.
—Lefebvre, Henri. The Production of Space. Basil Blackwell, London.
—Lono Lastoro Simatupang. Jagad Seni: Refleksi Kemanusiaan. Makalah disampaikan dalam Workshop Tradisi Lisan bertajuk “Seni Tradisi Lisan Sebagai Wahana
..............Komunikasi yang Sangat Efektif di Tengah Masyarakat yang Sedang Berubah”. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 6 September 2006.
—Piliang, Yasraf Amir. “Visual Art dan Public Art: Habitus dan Komodifikasi Ruang dalam Masyarakat Kota” dalam Idi Subandy Ibrahim (Eds). 2004. Life Style Ecstasy:
.............Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.
—Susanto, Mike. 2003. Membongkar Seni Rupa. Yogyakarta: Penerbit Jendela
—Tanesia, Ade. “Proses Sosial dalam Praktek Seni di Ruang Publik” dalam Jurnal Karbon, 9 April 2004
—Tanesia, Ade. “Mural Merambah Kota” dalam www.visualartmagazine.com, diakses tanggal 20 Mei 2012.
—Wicandra, Obed Bima.  “Berkomunikasi Secara Visual Melalui Mural di Jogjakarta” dalam Jurnal Nirmana, Juli 2005/Vol. 7/No. 2
—Wicandra, Obed Bima. “Melahirkan Imperatif Moralitas dalam Karya Visual” dalam Jurnal Nirmana. Januari 2005/Vol. 7/No. 1.
—Wicandra, Obed Bima. “Street Art Menyapa Kota” dalam Jurnal Nirmana. Januari 2004/Vol. 3/No. 1.
http://jogjamuralforum.multiply.com, diakses tanggal 20 Mei 2012
http://www.jogjakota.go.id, diakses tanggal 19 Mei 2012
www.medan.tribunnews.com, diakses tanggal 21 Mei 2012
www.wikepedia.org, di akses tanggal 19 Mei 2012.


Footnotes

[1] Mahasiswa S2 Antropologi Universitas Gadjah Mada 
[2] http://jogjamuralforum.multiply.com
[3] Lihat, Obed Bima Wicandra. “Berkomunikasi Secara Visual Melalui Mural di Jogjakarta” dalam Jurnal Nirmana, Juli 2005/Vol. 7/No. 2
[4] http://jogjamuralforum.multiply.com, diakses tanggal 19 Mei 2012
[5] http://www.jogjakota.go.id, diakses tanggal 19 Mei 2012
[6] Ade Tanesia. “Proses Sosial dalam Praktek Seni di Ruang Publik” dalam Jurnal Karbon, 9 April 2004
[7] Lihat, www.wikepedia.org, diakses tanggal 19 Mei 2012
[8] Mike Susanto. 2003. Membongkar Seni Rupa. Yogyakarta: Penerbit Jendela
[9] ibid.
[10] Lihat, Ade Tanesia. “Mural Merambah Kota” dalam www.visualartmagazine.com, diakses tanggal 20 Mei 2012
[11] Lihat, medan.tribunnews.com, diakses tanggal 21 Mei 2012
[12] ibid.
[13] Lihat, Obed Bima Wicandra. “Melahirkan Imperatif Moralitas dalam Karya Visual” dalam Jurnal Nirmana. Januari 2005/Vol. 7/No. 1.
[14] ibid.
[15] Lihat, Ade Tanesia. “Mural Merambah Kota”. ibid.
[16] Lihat, Obed Bima Wicandra. “Street Art Menyapa Kota” dalam Jurnal Nirmana. Januari 2004/Vol. 3/No. 1.
[17] ibid.
[18] Yasraf Amir Piliang. “Visual Art dan Public Art: Habitus dan Komodifikasi Ruang dalam Masyarakat Kota” dalam Idi Subandy Ibrahim (Eds).
........2004. Life Style Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra. Hal. 328.
[19] Henri Lefebvre. The Production of Space. Basil Blackwell, London. Hal.26.
[20] Yasraf Amir Piliang, 2004. ibid. hal. 326
[21] ibid.
[22] Lono Lastoro Simatupang. Jagad Seni: Refleksi Kemanusiaan. Makalah disampaikan dalam Workshop Tradisi Lisan bertajuk “Seni Tradisi Lisan 
Sebagai Wahana
........Komunikasi yang Sangat Efektif di Tengah Masyarakat yang Sedang Berubah”. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 6 September 2006. Hal.3.
[23] ibid.
[24] Lihat, Obed Bima Wicandra. “Street Art Menyapa Kota” dalam Jurnal Nirmana. Januari 2004/Vol. 3/No. 1.
[25] Lihat, Heddy Shri Ahimsa-Putra. 2000. Ketika Orang Jawa Nyeni. Yogyakarta: Galang Press.


[ Etnohistori Edisi Media Baru ]

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest