Home / Topik / Esai / Bagaimana Rasanya Takut?

Bagaimana Rasanya Takut?

Prima Sulistya Wardhani*

21 AGUSTUS 2014. Kami sedang mengobrol di teras asrama mahasiswa Halmahera Tengah (Halteng) ketika dia datang. Motornya parkir di halaman asrama. Dia bicara dalam bahasa Maluku dengan temannya yang duduk bersama kami, mungkin menanyakan siapa kami. Kemudian, dengan masih duduk di atas motornya, ia langsung menghardik kami.

“Dari media mana?”

Saya menyebutkan nama portal media kami, Literasi.co.

“Sini! Tulis nama medianya di sini. Nama kamu juga, sama nomor HP!”

Dia berkata begitu sambil mengeluarkan buku tulis dan pulpen dari tasnya, masih duduk di atas motor. Saya ambil buku itu dengan wajah yang dibeku-kakukan agar tampak tak takut, lalu menuliskan yang ia minta di sana.

Sambil saya menulis, ia terus mengoceh di atas motornya. Bahwa media-media menulis secara kurang ajar, menyebarkan kebohongan, tidak mengonfirmasi ke sumber lain, memutarbalikkan fakta. Ia marah, menggertak-gertak, suaranya lantang. Salah satu kawannya yang duduk di dekat kami bilang dengan suara pelan, “Biar saja, tidak usah diambil hati, dia memang begitu.”

Saya masih duduk di situ, mendengarkan dia sambil berusaha kelihatan tidak terprovokasi. Dalam hati saya gemetar. Obrolan kami dengan yang lainnya berlanjut. Dia lalu turun dari motor, duduk di garasi yang tak jauh dari teras, dan mulai menyulut rokok. Sampai kemudian obrolan sampai ke soal mengadakan diskusi tentang stereotip dan diskriminasi terhadap orang Indonesia timur di Yogya.

Ia langsung pindah duduk ke sebelah teman saya, mulai nimbrung dalam obrolan. Suaranya melunak. Kami lalu berkenalan. Namanya Husin. Katanya, panggil saja Ucen.

Kelak, ketika kami hampir pulang, ia bilang kalau ia mendekat karena mendengar kata “diskusi”.

***

15 AGUSTUS 2014, sekitar pukul 21.30. Zulfikar Majid dan Asrul Rusdi baru turun dari motornya yang diparkir di halaman Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, Yogyakarta. Malam itu, keduanya bersama sejumlah mahasiswa lain dari asrama Halteng berencana menggelar aksi penggalangan dana lewat atraksi budaya. Tapi rencana itu batal karena sudah terlalu malam.

Ketika masih mencari tempat duduk di halaman monumen—yang juga tempat nongkrong paling ramai di Yogya—mereka dihampiri empat orang pengamen. Asrul mengaku saat itu ia sama sekali tidak punya uang sehingga ia hanya menangkupkan tangan, tanda maaf tidak bisa memberi, ketika mereka selesai bernyanyi. Namun, para pengamen itu terus memaksa. Asrul mulai kesal. “Kalian pengamen atau preman?” katanya. Oleh salah seorang preman, kerah bajunya direnggut. Ia marah, tangannya langsung menonjok pengamen itu sampai jatuh. Perkelahian dua versus empat dimulai. Sekitar satu menit kemudian, perkelahian itu menjadi pengeroyokan karena pengamen lainnya bergabung. Asrul melihat senjata-senjata. Ia sempat disabet bayonet dan dipukul kursi. Merasa terdesak, ia dan Zulfikar lalu lari dari sana.

Tiga dari empat pengamen itu mengejar dengan motor. Malang bagi Zulfikar, karena tak kuat berlari, di jembatan Jagalan dekat persimpangan Hotel Gran Meliã ia disergap pengejarnya. Ia dipukuli sampai jatuh. Sekitar pukul 22.30, Zulfikar yang terluka parah dibawa ke rumah sakit. Tiga hari kemudian, pada 18 Agustus sore, ia meninggal dunia di usia 21.

***

MALAM ITU SAYA dan seorang teman datang ke Asrama Halteng untuk meliput kasus penganiayaan tersebut. Fajrin, salah satu penghuni asrama, yang menyambut saya. Di sana, ada sekitar 10-15 orang. Pengajian baru saja selesai. “Kami ada kebiasaan untuk mendoakan orang selama tujuh hari berturut-turut,” kata Fajrin. Masih ada satu orang yang mengaji di ruang tamu. Kami dijamu di teras.

Sama dengan Ucen, mulanya Fajrin menanyai media kami dan maksud kami. Beberapa hari terakhir, rupanya mereka mendapat pemberitaan miring.

“Masak dibilang berkelahi karena uang seribu? Kita orang Maluku kurang apa sih sampai harus mati karena uang seribu?” katanya. Mereka merujuk pada berita Sindonews.com yang menulis, “Gara-Gara Rp1.000, Mahasiswa Tewas Dikeroyok Pengamen”[1] dan Detik.com yang memuat “Gara-gara Uang Rp 1.000, Pengamen di Yogya Keroyok Mahasiswa hingga Tewas”.[2] Menurut Idra Faudu yang berasal dari Sula, Maluku Utara, disebut berkelahi karena uang Rp1.000 itu memalukan. “Di Maluku, seribu itu enggak dapat apa-apa.”

Mereka marah dengan pemberitaan di berbagai media. Kesannya, perkelahian terjadi justru karena korban dan kawannya yang memulai, dengan tidak mau memberi uang Rp1000. Semakin marah karena ini bukan pertama kalinya.

Pada malam tahun baru 2014, sejumlah mahasiswa asal Maluku berkelahi dengan warga, tak jauh dari Taman Sari, Yogyakarta. Awalnya adalah ketika seorang mahasiswa Maluku yang lewat di daerah itu dan ban motornya bocor. Ia lalu menghampiri sekelompok pemuda setempat yang sedang berkumpul untuk menanyakan bengkel. Bukannya mendapat jawaban, ia justru dipukul. Tak terima, ia lalu memanggil teman-temannya. Baku hantam terjadi sampai kemudian dibubarkan polisi. Belasan pemuda Maluku ditangkap.

Ketika kejadian tersebut dimuat di dua media, yakni krjogja.com dan suaramerdeka.com, yang dituding mencari gara-gara justru para mahasiswa Maluku tersebut dan wargalah yang menjadi korban. “Padahal kawan kami yang jadi korban,” kata Fajrin. Pemberitaan dua media tersebut mereka sebut sebagai diskriminasi dan rasisme.[3]

Dalam deklarasi damai yang diselenggarakan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Daerah Indonesia (IKPMDI) di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama, Yogya, dua minggu setelah meninggalnya Zulfikar, Hasrul Buabona, pemuda Maluku yang menetap di Yogyakarta, berkata di depan hadirin:

“Di Jogja, pada saat sekarang, kita orang timur, orang Maluku, Papua, Sulawesi, NTT, kita dibuat pelabelan tertentu. Kalaupun misalnya kita dianiaya, berita yang dimuat, kita yang menganiaya. Kalaupun kita tidak menganiaya, kita menjadi penyebab permasalahan tersebut. Pertanyaannya, ada apa?”[4]

***

ADA SEKITAR 10 orang asal Maluku yang mengatakan hal yang sama. Bahwa sejak kasus Cebongan, orang-orang yang diidentifikasi berasal dari Indonesia timur mendapat diskriminasi parah di Yogya. Contoh yang paling terasa buat para mahasiswa ini adalah, mereka sangat sulit mendapatkan indekos maupun rumah kontrak. Menurut Fajrin, bahkan ada rumah di kawasan Gowok, dekat UIN Sunan Kalijaga, yang sampai memasang plang di depan rumah, isinya menolak menerima orang Indonesia timur. Cerita dari Bang Firman, sesepuh asrama Halteng, ia juga mengalami penolakan ketika mencari kos untuk adiknya di sekitaran Gamping. Kata Ismul, kawan saya yang asal Sula, pernah terjadi ketika jelas-jelas di depan kos ada tulisan “kosong” tetapi pemiliknya mengatakan penuh karena tahu mereka dari Indonesia timur.

Kasus Cebongan adalah kasus penembakan bermotif dendam terhadap empat orang tahanan Lapas Cebongan, Sleman, oleh anggota Kopassus Kandang Menjangan Kartasura pada 23 Maret 2013. Keempatnya adalah tersangka yang mengeroyok sampai meninggal anggota Kopassus bernama Heru Santosa, empat hari sebelumnya. Di malam kejadian, penembak menerobos lapas, melumpuhkan sipir dan penjaga lapas, kemudian mengeksekusi keempat tahanan sampai tewas di selnya. Keempat korban meninggal berasal dari Nusa Tenggara Timur.[5]

Ketika kasus Cebongan meledak, ada dua opini di masyarakat: pertama, mendukung tindakan Kopassus. Penembakan tersebut dianggap sebagai perlawanan terhadap premanisme. Demo mendukung Kopassus sampai digelar di depan Mahkamah Militer Yogyakarta ketika persidangan berlangsung. Di beberapa perempatan di Yogyakarta, bahkan di luar Yogyakarta, muncul spanduk-spanduk mendukung aksi Kopassus.[6] Kedua, menginginkan kasus ini disidangkan di pengadilan sipil, bukan pengadilan militer. Kasus ini dilihat sebagai bentuk kekerasan militeristik yang melanggar hukum dan mengancam warga sipil. Setelah Cebongan, stereotip bahwa orang Indonesia gemar bikin rusuh menguat.

Untitled1

Untitled2

Untitled3

Kontras situasi Yogya sebelum dan sesudah Cebongan dirasakan betul oleh Idra Faudu. Ketika mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini datang di Yogya tahun 2012, ia merasa nyaman di kota ini. Bahkan lebih nyaman ketimbang ketika di Ambon yang menurutnya, ada disparitas kelas kentara antara anak muda kaya Ambon dengan anak muda yang datang dari pedalaman. Baginya, Yogya adalah rumahnya toleransi dan egalitarianisme.

Pasca-Cebongan, teman-temannya di kampus yang tadinya ia kenal, meski tidak akrab, mendadak menjauhinya. Terutama teman perempuan. Pemilik kontrakannya pun mendadak curiga berlebihan setiap kali teman-temannya ramai menginap di rumah. Ia lalu pindah dari rumah kontrak ke kos. Untuk mencari kos, ia bersiasat dengan berpakaian rapi dan bicara selembut mungkin. Katanya, penampilan fisik dan sikap menjadi penting ketika mencari pondokan. Temannya, Wawan, ketiban sial susah dapat kos karena bertubuh besar, berkulit hitam, dan rambutnya keriting.

Ada yang mengatakan, sentimen kepada orang Indonesia timur di Yogya sudah dimulai sejak 2006, ketika ada perkelahian antara warga dan mahasiswa asal Papua. Siapa yang sentimen? Teman-teman asal Maluku mengidentifikasikannya sebagai “orang Jawa”. Akan tetapi, diskriminasi yang sangat kentara seperti dalam kasus kos tadi benar-benar mereka rasakan sejak kasus Cebongan. Sayangnya, sejauh yang bisa saya temukan, belum pernah ada yang membicarakan secara khusus dampak sosiologis kasus Cebongan terhadap diskriminasi yang diterima teman-teman dari Indonesia timur. Saya cuma menemukannya dikutip sedikit dalam artikel Made Supriatma[7] yang dimuat tak lama setelah ramai-ramai kasus Florence Sihombing.

Teman-teman asal Maluku mengeluhkan diskriminasi rasial ini sebagai penyimpulan pukul rata. Kasus Cebongan yang melibatkan orang NTT tidak dianggap masalah personal. Bahkan tidak digeneralisir sebagai masalah dengan orang NTT saja, tetapi dengan semua orang Indonesia timur yang ber-“kulit hitam, rambut keriting”. “Rasisme berkembang biak, seakan-akan timur itu kanibal!” kata Dhede, aktivis Perempuan Mahardhika yang berasal dari Ternate.

Sementara mereka kesulitan mencari pondokan, sejak Cebongan pula justru muncul pelarangan pendirian asrama mahasiswa daerah di Yogya. Alasannya, asrama menyuburkan primordialisme.[8] Padahal, asramalah yang menjadi tempat berdiam ketika mereka kesulitan mendapatkan pondokan. Larangan tersebut tidak kompatibel dengan kenyataan bahwa ada penolakan dari sebagian warga Yogya terhadap orang Indonesia timur.

***

TEMAN-TEMAN MALUKU yang keberatan dengan pemberitaan media yang menyudutkan mereka bisa dibaca dalam dua kemungkinan: (1) nalar rasial juga menjangkiti media, atau (2) media tidak sensitif dengan konteks situasi Yogya pasca-Cebongan.[9]

Yang saya rasakan, setelah ramai-ramai tentang keistimewaan, warga Yogya semakin sensitif pada hal-hal yang bisa menggoyahkan eksklusivitas provinsi ini. Jika media—yang notabene kanal informasi masyarakat, terutama Kedaulatan Rakyat yang beroplah tertinggi—terus gopoh menyebarkan berita yang belum diverifikasi seperti yang dialami teman-teman asal Maluku, itu sama saja dengan memanas-manasi situasi.

Eksklusivitas Yogya setelah wacana keistimewaan menjalar ke persoalan “dalam” dan “luar”. Slogan “Jogja Istimewa” dan “Jogja Berhati Nyaman” menjadi harga mati ketika ada masalah-masalah yang melibatkan pendatang. Ketika Cebongan terjadi, misalnya, ada seruan untuk mengusir semua orang NTT dari Yogya dengan alasan, premanisme merusak Yogya yang istimewa dan berhati nyaman ini.

Kepada apakah “istimewa” dan “berhati nyaman” merujuk? Yakni kepada suasana hidup yang guyub, tenang, dan tenteram. Semua indah, tidak ada masalah, dan baik-baik saja di kota ini. Maka, hal-hal yang merusak ketenangan dan ketenteraman Yogya harus diperangi, sayangnya, lewat cara yang arogan: dengan mengeluarkan (eksklusi) pembuat masalah dari Yogya. Sering kali personnya.

Seruan mengeksklusi pendatang dari Yogya bukan terjadi sekali-dua kali. Desember 2011, hanya karena kritik yang dilontarkan saat seminar (mengatakan keraton sebagai akronim “kera ditonton”), George Junus Aditjondro didatangi sekelompok orang yang kemudian mengusirnya dari rumahnya di Jalan Affandi, Sleman. George diminta untuk minggat dari Yogya. Ia juga dijadikan tersangka di kepolisian karena laporan sekelompok orang gara-gara pelesetannya itu.[10]

Pada Januari 2013, Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) membuat kesepakatan dengan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X bahwa, jika ada pendatang (dari mana pun) yang membuat kerusuhan di Yogya, si perusuh akan siap keluar dari Yogya.[11]

Yang terbaru terjadi Agustus 2014. Karena mengeluh dan mengatakan “Jogja Miskin, Tolol, dan Tidak Berbudaya” di media sosial Path lantaran kesal mengantre BBM, Florence Sihombing menjadi bulan-bulanan di media sosial, bahkan menjadi berita nasional. Kasus ini berputar sangat cepat, hanya dalam sehari. Di Twitter, muncul tagar #UsirFlorenceDariJogja. Di bundaran UGM bahkan sampai digelar demonstrasi. Kasus ini berujung di kepolisian setelah sebuah ormas yang namanya begitu asing mengadukan Florence.[12]

Meme yang dibuat saat ramai kasus Florence.[13]

Mengeluarkan orang dari satu wilayah tertentu tanpa proses hukum jelas merupakan pelanggaran HAM. Bebas bergerak dan bertempat tinggal adalah hak asasi pribadi (personal right)[14], dijamin oleh UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UUD 1945 Pasal 28E dan 28H. Bahkan di zaman kolonial sekalipun, untuk mengusir/memindahkan orang dari tempatnya berdomisili, Gubernur Jenderal butuh regulasi hak khusus Exhorbitante Rechten. Itu pun dengan syarat-syarat, pemerintah harus menanggung biaya dan menjamin hidup si eksil di tanah tempat ia dipindahkan.[15]

Namun, Yogya yang istimewa dan berhati nyamanlah yang menjadi harga mati, bukan penegakan HAM. Di kota di mana multikulturalisme adalah pemandangan sehari-hari; tempat kampus-kampus kenamaan di mana pluralisme adalah kata yang akrab; kota yang begitu sohor karena toleransinya yang tinggi, adalah menyedihkan plang “tidak menerima orang timur” juga bisa ditemukan di muka rumah penduduk, juga di kota ini. Di kota di mana kultur diskusi masih sangat kental, sayang sekali masalah justru diselesaikan dengan mengusir orang alih-alih berdiskusi sambil minum teh di angkringan.

Apa respons orang Indonesia timur jika mereka diusir dari Yogya? Sebagian yang saya tanyai bilang, mereka akan terima, pulang ke kampung halaman, lalu balas mengusir “orang Jawa” dari daerah mereka. Padahal, kata mereka, selama ini pendatang hidup damai dengan penduduk setempat; dibebaskan untuk mencari penghidupan.

Konteks Yogya yang sensitif ini harusnya ditangkap media, terutama media massa arus utama yang punya rekam jejak buruk dalam pemberitaan diskriminatif. Jika media tidak bisa dipercaya, masyarakat pendatang di Yogya harus memiliki media mereka sendiri sebagai lawan tanding. Juga penting dilakukan agenda-agenda duduk bersama yang terbuka bagi semua penduduk Yogya, pendatang maupun yang asli, untuk mendiskusikan diskriminasi ini. Perguruan tinggi yang berserak di Yogya harus diandalkan untuk membuat kajian-kajian mengenai intoleransi yang makin marak.

Kontestasi “luar” dan “dalam”, atau “pendatang” dan “warga asli”, yang berpusar di sekitaran isu rasial adalah pengalihan isu. Yang nyata dan krusial saat ini justru kedatangan aliran modal ke Yogya. Wujudnya bisa dilihat dari wajah Yogya hari ini yang makin penuh oleh bangunan masif, dingin, dan begitu berjarak dengan penduduk sekitarnya.

Di Yogya hari ini, konflik warga dan pengembang berlatar penolakan pembangunan hotel, mal, dan apartemen sedang marak: di Karangwuni, Karangkajen, Ngadiwetan, Palagan, Gondolayu, Miliran, Tambakbayan. Di Karangwuni, rencana pembangunan apartemen dan condotel Uttara The Icon ditolak warga—oleh suara bulat dari warga di lingkaran terdekat calon apartemen. Penolakan tersebut berlangsung sejak akhir 2013 dan masih berjalan sampai sekarang, meski Uttara tetap bebal dengan memulai konstruksi pada November 2014.

Di Gondolayu, satu RW yang terancam tergusur habis dan akan tergantikan bangunan hotel melahirkan gerakan “Gondolayu Ora Didol”.[16] Pada akhir 2013, kasus penangkapan Muhamad Arif oleh Satpol PP karena membuat tulisan “Jogja Ora Didol” di Pojok Beteng membuat wacana “Jogja Ora Didol” ramai dibincangkan. “Jogja Ora Didol”, yang dimotori seniman-seniman Yogya, adalah ungkapan protes pada pembangunan yang belakangan makin menggila—berupa gedung bertingkat tinggi—di kota rawan gempa ini.[17] Slogan “Jogja Berhenti Nyaman” juga mulai dikumandangkan sejak akhir 2013 lalu lewat pameran foto jurnalistik, disusul dengan slogan “Mencari Haryadi” yang menyindir Wali Kota Yogya Haryadi Suyuti.

Selain arogan karena menyertakan penggusuran, bangunan-bangunan tinggi nan komersil itu akan menimbulkan disparitas ekonomi antara pendatang dan warga asli. Yogya sedang menuju penjelmaannya sebagai Jakarta baru. Juga bisa ditafsirkan sebagai ancaman atas budaya guyub masyarakat. Jika asrama daerah dituding menyebabkan primordialisme, maka apartemen-apartemen untuk mahasiswa (dengan harga Rp500 juta ke atas) yang sedang jadi tren di Yogya jelas akan menimbulkan kesenjangan sosial.

Bila kemudian kasus Flo justru lebih tenar, lebih berhasil memancing komentar penduduk Yogya ketimbang masalah-masalah pembangunan di depan mata, ada satu frasa yang populer di media sosial yang cocok untuk menggambarkan situasi tersebut: gagal paham.

***

DI MATA TEMAN-teman Maluku, polisi tidak berpihak pada keadilan, tidak bergigi. Mereka sama saja dengan media.

“Masih percaya polisi?” tanya saya kepada orang-orang di asrama malam itu.

Mereka tertawa. “Tidak!”

Tampaknya yang paling umum terjadi, hanya orang yang pernah mengalami diskriminasilah yang tergerak untuk menentangnya.

Ketika kerusuhan 1998 terjadi, saya masih siswa sekolah dasar di Kabupaten Ketapang. Sebagai seorang yang separuh Tionghoa, kekerasan pada orang Tionghoa di Jakarta dan Solo begitu jauh, begitu tidak terasa, tidak berdampak pada diri saya.

Saat sudah dewasa dan tinggal di Jawa, merasakan diskriminasi-diskriminasi kecil karena soal ras (sebenarnya soal tampilan fisik), Mei 1998 baru terasa getarnya. Getar menakutkan. Diskriminasi itu bahkan sampai di level negara, ketika sensus penduduk 2010 digelar—ini sensus penduduk pertama yang saya alami ketika dewasa. Ada kolom suku/ras di sana. Apa yang harus diisikan oleh seorang berdarah campuran dan hidup berpindah-pindah?

Ketika masih di sekitar pembicaraan, candaan, stereotip tidak tampak bermasalah. Tetapi saat sudah menjadi tindakan, bahkan kekerasan, stereotip tidak lagi selucu lawakan Warkop. Teman saya pernah bertanya, “Kalau peristiwa ’98 terulang, kamu mau lari ke mana?” Saya tidak bisa menjawab dan, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, merasa begitu ketakutan karena penampilan fisik saya.

Pada diri sendiri, stereotip adalah hantu. Warisan kolonial yang berbahaya. Kiranya sejarah sudah mengajarkan bahwa sikap ini berkali-kali menumpahkan darah. Tapi ia terus hidup: anggapan-anggapan bahwa orang Tionghoa pelit, perempuan Sunda materialistis, orang Batak dan orang Indonesia timur berdarah panas, orang Jawa serbalambat, orang Jakarta tinggi hati, orang Aceh kepala batu, orang Jawa Timur kasar, dan banyak lagi. Stereotip ini sudah jelas tidak tepat dan terlalu menggeneralisir.

Ketika menulis ini, saya sendiri berasa bersalah harus memakai kata Indonesia timur, tetapi tidak dapat menemukan padanannya yang paling praktis. Padahal, persoalan penamaan ini juga termasuk persoalan stereotip. Baik soal fisik maupun sifat.

Ketakutan seperti itu tidak bisa dirasakan oleh kelompok yang dominan. Ketakutan itulah yang membuat saya bisa mengerti ketika, saat menjamu kami dengan kopi malam itu, Husin mengeluarkan pisau dari tas yang sedari tadi ia sandang, untuk membuka bungkusan minuman yang akan dihidangkan.

“Saya takut,” begitu katanya.[18] Siapa yang tidak takut dan tidak merasa perlu membela diri ketika anggota kelompoknya baru saja dianiaya hingga mati beberapa hari lalu, sementara polisi dan media justru mengeluarkan pernyataan yang memojokkan kelompok mereka?

Adalah sebuah ironi ketika Indonesia melawan penjajahan Barat, berusaha mendudukkan Timur setara dengan Barat; Tan Malaka memimpikan kesatuan wilayah-wilayah timur bernama Aslia; namun sekarang, orang dari Timur di dalam Timur sendiri merasa didominasi dan direpresi oleh saudaranya, sesama Timur, yang kebetulan berada di sebelah Barat.

Empat jam saya dan teman saya duduk di teras Asrama Halteng. Sebelum pulang, kepada mereka, saya meminta izin untuk menuliskan mereka di esai ini. Rasanya bersalah jika menulis tanpa izin dan dianggap mengeksploitasi penderitaan orang lain. Kami lalu berjanji akan bertemu lagi untuk mengikuti kasus Zulfikar. Ketika berjalan keluar pagar, Fajrin meminta maaf lagi atas sikap Ucen tadi. “Enggak apa-apa,” kata saya. Saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya takut.[]

*Penulis bergiat di Gerakan Literasi Indonesia (GLI)

10-1-2015

Keterangan

[1] http://daerah.sindonews.com/read/892826/22/gara-gara-rp1-000-mahasiswa-tewas-dikeroyok-pengamen
[2] http://news.detik.com/read/2014/08/19/133740/2666315/10/gara-gara-uang-rp-1000-pengamen-di-yogya-keroyok-mahasiswa-hingga-tewas?991104topnews
Berita lainnya yang senada:
http://krjogja.com/read/227073/zulfikar-akhirnya-meninggal-dunia.kr
[3] http://www.portalkbr.com/nusantara/jawabali/2586596_4262.html
http://krjogja.com/read/200337/solidaritas-pemuda-indonesia-timur-gelar-aksi-damai.kr
http://sorotjogja.com/berita-jogja-3132-ini-dia-kronologi-kericuhan-tamansari-versi-solidaritas-pemuda-indonesia-timur.html
[4] https://www.youtube.com/watch?v=0ljd0aiHGVE
[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Penembakan_Cebongan
[6] http://nasional.news.viva.co.id/news/read/405659-warga-semarang-dukung-kopassus-di-dprd-jawa-tengah
[7] http://indoprogress.com/2014/09/amarah-dan-wajah-ganda-jogja/
[8] http://krjogja.com/read/166325/paska-penyerangan-lapas-cebongan-seluruh-asrama-didata.kr
[9] Tentang ini pernah ditulis di http://literasi.co/Cara-Media-Memandang-Timur-di-Yogyakarta.
[10] http://www.tempo.co/read/news/2012/02/06/063382124/George-Aditjondro-Jadi-Tuna-Wisma
[11] http://www.suarapembaruan.com/home/sultan-tagih-janji-mahasiswa-perantau-jangan-bikin-rusuh-di-yogya/32919
[12] https://id.berita.yahoo.com/tak-mau-antre-di-spbu-mahasiswi-ugm-menghina-045924610.html
[13] http://4.bp.blogspot.com/-YLgUBlm-3mE/UYjG5HQlNVI/AAAAAAAABbY/AQtBsNfXaRQ/s1600/jangan-ke-jogja.jpg
[14] http://qolilwicaksono12.wordpress.com/2012/11/08/hak-asasi-manusia-ham/
http://www.komnasham.go.id/informasi/images-portfolio-6/2013-03-18-05-44-20/nasional/254-uu-no-39-tahun-1999-tentang-hak-asasi-manusia
http://www.dpr.go.id/id/uu-dan-ruu/uud45
[15] Ong Hok Ham. 2002. Dari Soal Priyayi Sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
[16] http://www.harianjogja.com/baca/2014/05/10/tolak-penggusuran-warga-gondolayu-pasang-spanduk-506957
https://antitankproject.wordpress.com/2014/09/24/gondolayu-ora-didol/
[17] http://regional.kompasiana.com/2013/10/19/jogja-ora-didol-jogja-not-for-sale-602957.html
[18] Husin mengatakan ini kepada teman saya.


[ E  s  a  i ]

Baca Juga

PATEnom

Dari Tulisan hingga Perlawanan: Tafsir Bumi Manusia atas Lahirnya Nasionalisme Kiri

Esai oleh: Wahyu Widodo *    Kodrat ummat Manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaannya ...

4 Tanggapan

  • Hello, guest
  • mas, saya sangat tertarik dengan tulisan anda. kalau tidak keberatan saya ingin sekali berdiskusi tentang sosial-budaya khususnya ttg teman2 dari Indonesia Timur di Jogya. saya kuliah di Jogja, jurusan Psikologi saya ingin sekali melakukan penelitian tentang streotipe seperti dlm tulisan anda. alasan saya sama kaya sampean, walaupun saya bukan dari Indonesia Timur, teman2 saya banyak sekali yg berasal dari sana. jika berkenan mohon hubungi saya via email Ruhimayuniati@gmail.com. sebelumnya terimakasih, tulisan anda sangat menginspirasi dan open minded

  • Saya menikmati tulisan ini … mungkin karena dulu kuliah di Yogya … mungkin karena saya juga mengkaji ilmu sosial-budaya … mungkin juga karena saya punya karib asal NTT — tentu saja teman Jawa saya banyak … baik penduduk Yogya maupun dari luar Yogya …Tapi, saya khawatir jika orang membaca dengan sentimen kedaerahan tertentu akan menangkap pesan secara ‘keliru’ … Masyarakat Yogya itu ramah terhadap tamu yang sopan, tapi ketus terhadap yang arogan … sedangkan rentang di antara keduanya, hanya dapat dipahami dengan jelas oleh mereka yang ‘bisa merasa’ … Di sini repotnya, karena rentang antara rendah hati dan tinggi hati berbeda-beda antara satu kelompok dengan kelompok masyarakat lainnya … pada saat orang dari berbagai latar-belakang sosial-budaya bertemu, ada potensi untuk saling gagal memahami … baik terhadap ekspresi verbal, mimik, maupun perilaku … ketegangan hingga konflik terbuka adalah konsekuensinya … Membangun saling paham perlu waktu dan ‘kecerdasan’ berolah rasa … kemudian, memahami tidak musti berarti menerima … terutama jika perbedaan itu pada peringkat kepercayaan … yang jelas pemahaman itu dibangun oleh semua pihak, tidak hanya dituntut oleh satu pihak terhadap pihak lainnya … sehingga, dalam konteks komunikasi lintas budaya Jawa dan Indonesia Timur, atau khususnya NTT, perlu ada informasi tentang sosok kepribadian Jawa kepada masyarakat Indonesia Timur/NTT dan sebaliknya tentang kepribadian masyarakat Indonesia Timur/NTT kepada masyarakat Jawa, masyarakat Yogya khususnya … diperlukan ‘duta budaya’ dari kedua-belah pihak …Berikut ini adalah komentar saya untuk penulis:1. Angle yang digunakan berubah-ubah, meskipun saya tetap menikmati keberagaman kisah yang disampaikan, tapi secara tematik sebenarnya tulisan tersebut mengandung beberapa kisah yang berbeda yang masing-masingnya bisa ditulis secara tersendiri.2. Pada saat menyinggung kasus Florence Sihombing yang Sumatera Utara itu, ini jelas di luar konteks Indonesia Timur/NTT … kalau maksudnya untuk melukiskan reaksi masyarakat Yogya terhadap orang luar/pendatang, cerita di atas tentu akan berubah … 3. Akronim ‘keraton’ seperti yang diungkapkan George Junus Aditjondro jelas melampaui kelakar melainkan penghinaan … dan yang diolok-olok adalah raja orang Jawa/Yogya … saya tidak bisa membayangkan jika orang lain melakukan hal serupa di tempat lain … didatangi dan diusir dari yogya itu jangan-jangan reaksi masyarakat yang paling beradab … ketimbang …4. Cerita tentang Tionghoa itu adalah hal lain sama sekali … padanannya kalau di Eropa adalah kisah tentang komunitas Yahudi yang secara eksklusif  menguasai sektor perekonomian sehingga menerbitkan kecemburuan … (meskipun dalam konteks global, fenomena kenegaraan etnis Cina berbeda dengan negara Israel) …5. Sedangkan untuk judul,”Bagaimana Rasanya Takut?,” sepertinya tidak mencerminkan isi tulisan … apakah karena penulisnya [merasa] sebagai anggota kelompok minoritas sehingga apa yang dituturkan memproyeksikan perasaan dirinya yang terintimidasi dan khawatir jika kelompok masyarakat mayoritas tempatnya kini bermukim menipis toleransinya terhadap kelompok masyarakat luar/pendatang, khususnya Tionghoa …