Baku Hantam yang Keblinger dalam Merantau
oleh: Laraswati Ariadne Anwar*

Merantau**
Setelah sekian lama pingsan akhirnya film laga Indonesia muncul kembali. Memang beberapa tahun yang lalu sempat muncul film Bad Wolves yang menceritakan tentang geng cowok-cowok bandel yang selalu terlibat baku hantam. Hanya saja para pemerannya didandani terlalu “cantik” sebagai geng preman, ditambah lagi adegan tawuran di taman kota, dan Indra Bekti sebagai salah satu preman ganas. Haloooo? Ada yang lihat keganjilan di sini?
Tahun lalu saya sempat mudik ke Jakarta setelah menghilang selama hampir dua tahun. Di rumah, Ibunda tercinta bercerita tentang film laga Indonesia yang baru dia tonton. Sebenarnya fokus ceritanya adalah si pemeran utama yang bertampang bening, jago silat, dan patuh kepada orang tua. “Aduh, Mama pengen deh punya menantu kayak gitu,” tandas Si Mama. Awalnya saya tak menggubris, namun setelah bertanya-tanya dengan teman-teman, rata-rata berkata film tersebut layak tonton dan si pemeran utama memang jago silat. Baiklah, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film Merantau.
Tahun 70-an sampai 80-an layar perak Indonesia disemarakkan oleh aktor-aktor laga sebangsa George Rudy, Barry Prima, Advent Bangun, Johan Saemima, dan lain-lain, bahkan petinju Elias Pical pun sempat mengadu untung di dunia perfilman. Tahun 90-an sinetron-sinetron laga macam Deru Debu dan Jalan Membara menghiasi layar kaca dan melejitkan nama Ari Wibowo. Premis ceritanya rata-rata sama, si pemeran utama mengalami ketidakadilan lalu pergi menuntut balas sembari menegakkan kebenaran. Si Pitung versi abad 21.
Kembali ke film Merantau, saya tahu kalau film ini adalah versi lokal dari film Thailand yang berjudul Ong Bak. Hanya saja saya juga mendengar bahwa si sutradara adalah orang asing, sehingga sinematografi film ini patut diacungi jempol. Terlebih lagi film ini mengangkat topik merantau yang merupakan bagian dari budaya Minangkabau, sebagai orang Minang, tentunya ini alasan tambahan untuk menonton Merantau. Setelah menonton, saya hanya tersenyum sambil mengernyitkan dahi. Nilai 2,5 dari total 5. Merantau adalah romantisme dari kebudayaan Minang yang dipandang secara dangkal. Mungkin banyak yang mengenal bahwa Minangkabau memiliki sistem kekerabatan yang matrilineal. Wanita tertua merupakan kepala keluarga yang disebut Bundo Kanduang. Lalu bagaimana dengan kaum laki-lakinya? Kaum laki-laki menjadi dewan penasihat yang disebut Niniak Mamak. Sebagai penasihat tentunya diperlukan pribadi yang bijak, salah satu cara mendapatkan pribadi yang bijak ini adalah dengan merantau. Orang Minang percaya untuk menghargai kampung halaman adalah dengan cara melihatnya dari luar, oleh karena itu kaum lelakinya dianjurkan untuk menghabiskan beberapa tahun hidup di tempat lain, merasakan perbedaan budaya beserta plus minusnya sehingga nantinya bisa kembali dan membangun kampung halamannya. Sebelum pergi merantau, biasanya mereka dibekali ilmu untuk bertahan hidup seperti memasak, menjahit, bertukang, dan ilmu silat agar nantinya di daerah rantau mereka bisa mengurus diri sendiri. Hanya saja sampai akhir film ini saya sama sekali tidak melihat faktor-faktor tersebut diutarakan.
Saya tidak keberatan dengan adegan Iko Uwais berlatih silat di tengah-tengah Ngarai Sianok yang kalau di kehidupan nyata akan mendatangkan komentar “ini orang kurang kerjaan banget sih di tengah-tengah Ngarai Sianok”, karena maksud si sutradara adalah ingin memberikan kesan yang dramatis. Terlebih lagi si pemeran utama memang berwajah bening dan jago silat. Lalu muncullah adegan Yudha, si tokoh utama, dengan ibunya yang diperankan oleh aktris kawakan Christine Hakim. Hanya saja dialog mereka yang sepanjang dua patah kalimat menggunakan bahasa Minang membuat saya sakit kepala, mungkin ini karena dalam film-film Indonesia para aktor dan aktris tidak dilatih secara mendalam untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang bukan dalam Bahasa Indonesia. Tampaknya mereka hanya diberi naskah berbahasa Minang tanpa diajari cara pengucapan yang benar.
Yudha yang ganteng dan jago silat kemudian memutuskan untuk pergi merantau ke Jakarta, sebuah keputusan yang diambil hanya dalam beberapa hari. Berangkatlah dia ke Jakarta hanya berbekal sebuah tas selempang dan tanpa alamat tujuan yang jelas.Luar biasa. Seandainya kisah ini berlatar 200 tahun yang lalu tentu akan masuk akal. Di Jakarta Yudha si pemuda Minang penjunjung tinggi budaya yang notabene adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah memutuskan bukannya tidur di mesjid, malah tidur di lokasi bangunan. Di bagian ini saya mulai membuka laci mencari panadol. Selanjutnya mengalir lancar dan bisa dirangkumkan dalam satu kalimat: ketemu cewek, cewek kena masalah, dibantu oleh Yudha, gedebak-gedebuk, cewek selamat, Yudha mati, si cewek pindah ke Bukittinggi untuk tinggal sama ibunya Yudha. Memang dari segi adegan laga film ini patut diacungi jempol, dari segi akting juga lumayan bagus, terutama di pemeran wanita dan Alex Abbad yang bisa berlakon sebagai gangster kampungan. Iko Uwais mungkin bukan Tony Jaa yang bisa tanpa berpikir meremukkan tulang sendiri untuk menghasilkan adegan laga yang indah dipandang. Namun demikian, kemampuannya bersilat membuat gerakannya di depan kamera begitu luwes dan anggun. Memang disayangkan cerita yang begitu dangkal tanpa mengungkapkan makna filosofis dari budaya merantau dan alasan tradisi merantau sangat penting bagi lelaki Minang.
* Mahasiswi Master di National Chung Hsing University, Taiwan.
12 April 2011








newbie kali sutradaranya?!
jd filmnya ga bergizi atau emang basis pemikirannya bikin film keren bukan pinter!!!