Home / Topik / Catatan / Belajar Kepemimpinan dari “Kepala Suku” Kaum Homeless di Ibukota Balap Dunia

Belajar Kepemimpinan dari “Kepala Suku” Kaum Homeless di Ibukota Balap Dunia

Catatan oleh: Karim *

The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others (Mahatma Gandhi)

[Lanjutan dari Bagian 1 dan Bagian 2]

Jika kita renungkan sejenak hiruk-pikuk politik nasional yang memasuki fase terpanasnya menjelang hari pencoblosan dua pasangan capres-cawapres pada 9 Juli 2014 lalu, kutipan Mohandas Karamchand Gandhi di atas kok nampaknya tidak hanya dilupakan oleh masing-masing kandidat pemimpin negeriku tercinta Indonesia, tetapi juga para tim suksesnya, pengamat, pendukung dan bahkan rakyat dari golongan paling bawah yang rela saling tonjok demi menunjukkan “kebenaran” pilihannya terhadap salah satu pasangan. Tulisan seri gelandangan atau homelessness di Amerika Serikat kali ini saya refleksikan dengan sebuah pelajaran sederhana namun substansial tentang bagaimana seharusnya, menurut saya, nilai-nilai kepemimpinan dipahami dan diterapkan dalam kehidupan berkelompok dan bermasyarakat. Sedikit pengalaman saya bergaul dengan kaum gelandangan di Amerika Serikat dalam kurun waktu kurang dari dua tahun ini telah membuka mata saya bahwa dalam banyak hal mereka lebih bermartabat, lebih bertanggung-jawab, dan lebih “manusiawi” terhadap sesama, bahkan terhadap pihak-pihak yang jelas-jelas memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi atau golongannya, dibandingkan dengan kita atau siapapun yang mengklaim dirinya sebagai manusia atau kelompok masyarakat yang demokratis, madani, atau sebutan apapun yang serupa dengan itu.

Dari sisi tanggung jawab, menjadi pemimpin di dalam keluarga yang merupakan lingkup masyarakat paling sederhana saja bukan hal yang mudah, apalagi menjadi presiden sebuah negeri dengan ratusan juta penduduknya yang maha beragam. Yang menarik, untuk memikul tanggung-jawab tersebut, orang berlomba-lomba mengerahkan berbagai upaya, dan tidak jarang dengan muslihat, saling telikung, saling menghujat, serta rela menggelontorkan dana yang nominalnya sudah di luar nalar sehat rakyat jelata. Ini adalah suatu kesediaan yang luar biasa berani untuk menanggung aspirasi dan nasib jutaan rakyat. Setuju atau tidak, sistem demokrasi yang kita pilih (atau pilihan segelintir orang yang mengatas-namakan kita) selama ini belum mampu menempatkan orang-orang terbaik bangsa sebagai pemimpin, paling tidak pemimpin dengan karakter dan perangai yang tidak usah jauh-jauh merujuk ke seorang nabi atau orang suci, tetapi yang dicontohkan oleh seorang homeless yang tidak hanya menjadi informan saya, tetapi juga sahabat, guru, sekaligus inspirasi tentang bagaimana memahami nilai-nilai universal kemanusiaan dan kepemimpinan.

Indianapolis, sebagai kota yang menempati peringkat ke-12 dari the top 100 biggest cities di Amerika Serikat, dan terkenal sebagai the racing capital of the world, sebagaimana kota-kota metropolitan di seluruh dunia, tidak lepas dari persoalan kaum homeless yang keberadaannya termarjinalkan dan pilihan hidupnya terbatasi oleh stigma negatif dan berbagai peraturan anti-homeless[1] yang diterapkan atas nama investasi, pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi. Salah satu hal yang membedakan homelessness di Indianapolis dengan misalnya di San Francisco yang dikenal sebagai the homeless Mecca of the United States (Mekah-nya kaum gelandangan di Amerika), New York, atau Los Angeles adalah bahwa mayoritas homeless di Indianapolis adalah warga yang ber-”KTP” Indiana, tidak seberagam di ketiga global cities di atas. Oleh karenanya, sebagaimana teman-teman homeless yakini, sebenarnya penanganan masalah homeless di Indianapolis juga tidak serumit seperti di kota-kota besar Amerika Serikat yang lain. Faktanya, seperti yang telah saya kemukakan pada tulisan sebelumnya, keberagaman masalah homeless di berbagai kota tersebut umumnya ditangani dengan pendekatan yang nyaris seragam. Dan inilah yang memunculkan gerakan-gerakan advokasi, baik yang dilakukan oleh organisasi-organisasi yang peduli dengan nasib mereka atau yang diinisiasi serta dilakukan oleh homeless itu sendiri.

 

Maurice Young; Sang “Kepala Suku” Kaum Homeless di Indianapolis

Pertemuan pertama saya dengan Maurice Young sebenarnya terjadi setelah saya berhasil mewawancarai salah satu temannya (Michael) yang juga seorang homeless di perpustakaan pusat kota Indianapolis. Pada tulisan bagian pertama seri homeless ini, saya mengatakan bahwa Maurice adalah bagian dari anggota organisasi faith-based yang “menyelundup” ke “sarang” homeless di bawah salah satu jembatan di pusat kota Indianapolis untuk misi yang pernah saya sebut bridging people, dari jalanan menuju jalan Tuhan. Informasi tersebut saya dapatkan dari salah seorang manajer di Horizon House, satu-satunya day shelter yang melayani berbagai kebutuhan semua jenis homeless di siang hari, untuk class project saya di semester musim semi 2013 lalu. Saat itu, tidak satupun pihak yang bisa saya akses untuk memberikan informasi tentang keberadaan Maurice karena sejak hari penutupan dan pengusiran komunitas homeless terbesar di Indianapolis dari Irish Hill Homeless Camp di bawah jembatan Davidson Street pada tanggal 26 Agustus 2013, media lokal memberitakan bahwa dia bersama 5 orang lain yang dianggap mengabaikan dan melanggar peraturan kota telah ditangkap polisi dan dijebloskan ke dalam penjara. Ternyata, yang terjadi adalah, dia hanya dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi tanpa ada penahanan sehari pun karena polisi tidak memiliki alasan hukum yang cukup kuat untuk menahannya. Sejak saat itu, tidak satu berita pun saya temukan lagi di media yang meliput keberadaan Maurice, ataupun dari orang-orang yang bekerja untuk shelter dan gereja yang biasa melakukan kunjungan ke kolong jembatan yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat tinggal kaum gelandangan di Indianapolis.

Sedikit berbeda dengan kasus Michael dan Dave[2], status homeless Maurice didapat karena pilihan dan keputusannya sendiri untuk hidup tanpa rumah, tanpa keluarga, tanpa pekerjaan, dan menggelandang di jalanan setelah dia merasakan semua kehidupan “normal”-nya tidak lagi berarti bagi hidup dia yang sebenarnya. Dilahirkan dari keluarga African American yang mapan, dia sebenarnya bercita-cita menjadi dokter, bahkan berhasil masuk ke dalam the magnet program (sekolah khusus di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mereka yang ingin menjadi dokter). Namun karena bakat menyanyi dan dia lebih asyik menggeluti dunia entertainment bersama teman-teman sekolahnya, dia urungkan niatnya menjadi dokter. Bahkan, ketika melanjutkan pendidikan di tingkat universitas, dia memilih kuliah di jurusan Criminal Justice dan Psychology sambil terus menekuni bisnis hiburan, dan mendirikan sebuah band. Setelah lulus sampai kemudian menikah dan memiliki anak, dia berhasil mengembangkan bisnisnya di dunia hiburan, bahkan memiliki sebuah production house dan kantor artist management sendiri yang mampu menelurkan beberapa komedian, model, aktor, dan penyanyi lokal. Di akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an, bisnis musiknya bangkrut karena tidak mampu beradaptasi dengan meluasnya penggunaan internet dan membekukan penjualan album-album musik yang masih diproduksi dalam format kaset atau Compact Disc (CD), sementara orang kemudian dengan mudah mengakses lagu-lagu kesukaan mereka secara online. Maurice kemudian banting setir membuka beberapa bisnis lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia entertainment. Meskipun tidak sesukses seperti bisnis sebelumnya, dia masih mampu mendirikan sebuah organisasi non-profit yang memfokuskan pada aktivitas membantu orang-orang dewasa yang baru mendapatkan pembebasan dari penjara[3], terutama anak-anak keturunan African American yang memerlukan kehidupan transisi untuk kembali ke masyarakat dan kehidupan normal. Aktivitas ini ia tekuni cukup lama, bahkan sampai dia memiliki 2 anak, bercerai dan menikah lagi.

Ketika anak wanita pertama dari mantan istri pertamanya sudah berusia 20 tahun, istri keduanya melahirkan, dan momen inilah yang membuat aktivitas organisasi nirlaba yang dia kelola juga memperluas kepedulian terhadap nasib anak-anak kecil dari keluarga miskin yang berada di pinggiran kota. Sejak saat itu, dia memulai kegiatan tahunan Summer Camp bekerja-sama dengan sekolah-sekolah negeri terdekat yang diperuntukkan kepada anak-anak dari keluarga miskin dan bermasalah untuk kegiatan capacity building dan pembekalan materi-materi life skills. Salah satu agenda yang selalu dilakukan adalah mengajak anak-anak tersebut untuk merasakan hidup serta berbagai aktivitas selama beberapa hari bersama keluarga mapan yang tinggal di kota. Ini mirip dengan aktivitas yang digagas teman saya, Dyah Widiastuti dan rekan-rekannya di Jakarta melalui apa yang mereka sebut komunitas SABANG MERAUKE, sebagaimana yang Maurice sampaikan:

“…one of the themes from the summer camp for very young kids for that [family] background was to expose other things that they wouldn’t exposed to like in a normal household. So, we would take kids to different places, to the opera, symphony, zoo, and museums, because in their home, they would never go to stuffs like that, because they just don’t have enough money and time. Hopefully, as they moved to the school system, they can acknowledge something, they knew about more options…”

Melalui aktivitas sosialnya inilah dia kemudian menemukan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan. Menurutnya, manusia sejati adalah siapa saja yang dengan kesadaran dan segala kemampuan yang dimilikinya, ia curahkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Tidak hanya itu, ia juga kemudian berpendirian bahwa inti dari membantu adalah memberi, dan manusia hanya bisa mencapai kesempurnaan memberi ketika ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan, selain dirinya sendiri. Dan pada umur 43 tahun, dia “menyerah” dari kehidupan materi, termasuk dari istri dan anak-anaknya, memberikan dirinya kepada kaum homeless di kolong jembatan Davidson Street Indianapolis, dan menyebut dirinya sendiri sebagai “the servant” (pelayan) bagi kaum gelandangan, dengan salah satu kalimat yang sangat saya sukai dari dia:

“…life is not me, trying to take care of me, life is extending myself and telling to other people, that’s what life really is, because I realized one time, when you die you can’t take anything with you!

Sebagai orang yang memiliki anak dan istri, salah satu pertanyaan sederhana yang saya ajukan, dan banyak pihak lain juga menanyakan hal yang sama tentang keputusannya tinggal bersama para gelandangan yang hidup di kolong jembatan, adalah di mana tanggung-jawabnya kepada istri dan anak-anaknya? Pada awalnya, keheranan saya dan beberap teman ini wajar karena pendapat umum publik di Indianapolis umumnya setuju dan percaya bahwa orang-orang tanpa rumah ini sudah ada yang mengurusi, terutama dari laporan shelter, media, dan organisasi-organisasi yang mengklaim mengurus mereka. Semua orang dekatnya, termasuk anak-istri, dan orang-tuanya tidak ada yang menyetujui dengan keputusannya. Neneknya yang sudah berumur lebih dari 80 tahun adalah orang pertama di keluarganya yang kemudian menyetujui keputusannya dan sempat mendatanginya di kolong jembatan. Atas pertanyaan tersebut, dengan senyumnya yang khas dan rendah hati dia menjawab:

“…I tell them, I’ve been here a long enough where I have help people restored their families. So, the three years that I have sacrificed with my kids, I know that there are just people who have a life time, relationship with their kids, and then they wouldn’t have that, that’s some body who would came out and then desperate. So, it’s a good threat of for me, I would make that sacrifice!

Bulan Februari 2011 adalah kali pertama Maurice menginjakkan kakinya di Irish Hill Homeless Camp ketika penghuni kolong jembatan Davidson Street hanya berjumlah 9 orang, sebagaimana beberapa homeless camp lain yang tidak pernah lebih dari 15 orang. Keputusan untuk bergabung dengan para gelandangan di bawah jembatan tersebut dilakukannya setelah beberapa minggu sebelumnya merasakan tinggal di Wheeler Mission[4], bergaul dan tidur di Military Park bersama Michael dan Dave[5]. Michael-lah yang memberi gelar kepada Maurice “the speaker” karena kemampuan berbicara, pidato, dan mempengaruhi orang lain dengan kata-katanya yang memang sulit untuk dibantah, sehingga ketika pertama kali saya mewawancarai Michael, dia “mewajibkan” saya untuk bertemu dan berbicara dengan Maurice. Baginya, dan dia sangat memahami bahwa tidak ada satupun orang atau lembaga yang telah bertahun-tahun membantu homeless mau benar-benar “mendengarkan” apa sebenarnya keluhan para kaum gelandangan ini. Dan baru kemudian saya menemukan bahwa antar sesama homeless pun, membangun trust adalah hal yang paling sulit. Mereka terbiasa hidup dengan cara sendiri dan tidak mau mencampuri urusan orang lain, termasuk antar sesama homeless. Umumnya, mereka hanya sekedar saling mengetahui bahwa mereka homeless dan tidak saling mengganggu (karena jumlah orang yang memiliki gangguan kejiwaan dari akibat tinggal di jalanan dalam kurun waktu yang lama sangat banyak), termasuk teman homeless mereka di camp yang hampir setiap malam tidur, buang air besar atau kecil[6], melakukan hubungan seksual bagi yang memiliki pasangan (baik pasangan “normal” atau gay) di bawah kolong jembatan yang sama selama bertahun-tahun.

Di sinilah Maurice mencoba memahami bagaimana membangun komunikasi dengan mereka dari hati ke hati, bahkan berminggu-minggu di awal penyelaman hidupnya di kolong jembatan, tidak satupun kalimat pertanyaan dia ajukan ke rekan-rekan homeless-nya. Yang dia lakukan sederhana, menyediakan satu kardus air mineral dan beberapa makanan ringan setiap malam, dan dari situlah satu-persatu, tanpa ditanya, mereka mulai saling bercerita, berdiskusi dan berbagi informasi tentang kehidupan pribadi dan berbagai hal yang mereka alami dan rasakan. Karena Maurice memiliki background pernah belajar psikologi, cara tersebut dia pahami sesuai dengan konsep hierarki kebutuhan manusia yang diperkenalkan Abraham Maslow[7] (Maslow’s hierarchy of needs) di mana manusia akan beranjak atau memiliki ketertarikan dengan hal-hal di luar dirinya ketika kebutuhan dasarnya sudah terisi.

Hari demi hari “kehangatan” sebuah komunitas di bawah jembatan mulai muncul, satu demi satu homeless baru mulai berdatangan, termasuk dari kelompok-kelompok homeless camp lain di seluruh kota Indianapolis, dan secara tidak langsung mereka mendaulat Maurice sebagai “mayor[8] kelompok manusia tanpa rumah di Indianapolis. Dengan terus bertambahnya penghuni (saat penggusuran tanggal 26 Agustus 2013 mencapai 67 orang), kegiatan feeding (pemberian makan oleh gereja-gereja dan berbagai organisasi keagamaan yang membantu homeless), pengobatan, dan berbagai aktivitas lain termasuk acara kebaktian setiap minggu pagi dan peringatan Natal juga diadakan di bawah jembatan Davidson Street[9]. Mereka kemudian juga memiliki Black Friday, acara gathering (kumpul-kumpul) setiap Jumat malam yang dihadiri seluruh “kepala suku” dari homeless camp lain dan berbagai organisasi yang menyediakan berbagai macam keperluan homeless untuk didistribusikan ke camp-camp lain (makanan-minuman, sepatu, baju, jaket, selimut, obat-obatan, deodorant, sikat gigi, kaus kaki, dan lain-lain). Selain menjadi pusat distribusi, dengan menggandeng beberapa gereja, Maurice juga mengusahakan sebuah “perpustakaan” sederhana, membangun dapur umum, dan membuat jadwal untuk semua pihak yang akan membantu homeless di sana.

Suasana the Irish Hill Homeless Camp

Suasana the Irish Hill Homeless Camp sebelum penggusuran, termasuk dapur umum dan “perpustakaan”-nya. (Sumber: meetmeunderthebridge.org, http://www.meetmeunderthebridge.org/about-us/)

Julukan lain yang diberikan kepada Maurice adalah The Advocate oleh salah seorang teman saya, Kyla Martin, yang sudah jauh terlebih dahulu mengikuti keseharian Maurice saat dia masih berstatus mahasiswa tingkat akhir di jurusan jurnalistik Taylor University, Indiana. Julukan ini pulalah yang Kyla jadikan sebagai judul film dokumenter yang dia buat sebagai tugas akhir kuliahnya. Film tersebut saat ini sudah memenangkan dan masuk nominasi beberapa penghargaan di berbagai film festival baik di tingkat lokal Indiana, Amerika Serikat, bahkan internasional. Dan karena itulah saya belum bisa sharing film ini ke publik sebelum proses penjurian di beberapa festival yang masih berlangsung selesai dilaksanakan. Namun, trailer film ini sudah bisa kita tonton memalui YouTube, dan untuk keperluan kuliah atau konferensi akademik seperti yang saya lakukan di beberapa konferensi yang saya ikuti, serta presentasi Maurice di berbagai tempat, Kayla mengizinkan saya dan Maurice untuk memutar film tersebut[10].

Selain pengelanaan total sebagai homeless yang mengandalkan keperluan hidupnya dari setiap jengkal langkah yang dilewatinya, Maurice juga menyusun apa yang dia sebut sebagai “database of homelessness”. Beberapa data yang dia kumpulkan bahkan dipakai oleh The Coalition of Homeless Intervention and Prevention (CHIP) tanpa menyebutkan bahwa sumber informasi tersebut berasal dari Maurice. Berbekal student card[11] (kartu mahasiswa) yang masih dia simpan sejak dia menjadi mahasiswa di Xavier University, Ohio, dia bisa menggunakan komputer dan mengakses internet di perpustakaan kampus saya IUPUI, untuk segala keperluan aktivitas administrasi dan tulis-menulis. Dan sejak camp-nya digusur, di perpustakaan inilah dia menghabiskan sebagian besar waktunya, mengorganisir aktivisme dan advokasinya di sebuah meja di lantai 3 yang dia sebut sebagai “kantor”-nya. Dia juga selalu membawa tas besar berisi perlengkapan hidupnya (termasuk matras tempat tidur) yang selalu dia bawa ke mana-pun dia pergi, karena tidak ada satupun tempat di Indianapolis yang akan mau menerima titipan barang atau bawaan seorang homeless, selain di camp di bawah kolong jembatan yang sudah digusur.

Maurice dan kantornya di perpustakaan kampus IUPUI

Maurice dan “kantor”-nya di perpustakaan kampus IUPUI (Foto Karim, 2014)

Setelah penggusuran The Irish Hill Homelss Camp yang dia sebut sebagai “pilot project”-nya, dia mengkoordinir beberapa gereja dan organisasi yang memiliki agenda homeless feeding program untuk menyediakan makanan dan minuman kepada homeless yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di perpustakaan kampus. Meskipun kegiatan ini dilakukan secara “underground”, karena jika diketahui pihak kampus atau polisi pasti akan dilarang dan diancam dengan sanksi, bahkan penjara, sampai dengan bulan Juni 2014 (hampir setahun setelah penggusuran camp), Maurice sudah berhasil mengajak 5 gereja atau organisasi yang mau menyediakan makanan dan minuman untuk homeless minimal 3 kali seminggu. Pemandangan yang menurut saya menarik dan menunjukkan bagaimana totalitas Maurice memperjuangkan kaum terpinggirkan ini misalnya, setiap tiba jadwal kiriman makanan yang akan di-drop di salah satu lobi di depan ruang kelas IU Kelly School of Business, tepat di sebelah pintu gerbang perpustakaan yang berada di sisi dalam kampus, dia sudah berkeliling di 4 lantai perpustakaan paling tidak 30 menit sebelumnya, terutama untuk membangunkan mereka yang tidur, dan memastikan semua homeless yang datang (biasanya antara 15–20 orang) mendapatkan jatah makan siangnya (termasuk beberap homeless yang biasa “mangkal” di perpustakaan pusat kota Indianapolis yang hanya datang ke perpustakaan kampus untuk makan siang). Karena dia selalu menempatkan diri pada antrian terakhir, tidak jarang dia sendiri yang tidak mendapatkan jatah makan siang, dan itu akan lebih membuatnya bahagia daripada melihat satu saja homeless yang datang terlambat dan kehabisan makanan. Dia tidak pernah mencari makanan, karena makanan yang selalu mencarinya. Setelah penggusuran camp, dan banyak yang kemudian mengenalnya, setiap hari selalu ada saja yang membawakannya makanan ke perpustakaan di mana dia “bekerja”, termasuk nasi goreng agak pedas yang terkadang saya bawakan yang dia sangat menyukainya, atau makanan khas Arab dari seorang pegawai perpustakaan asal Arab Saudi yang menikah dengan wanita dari China namun sudah tinggal di Indianapolis sejak masa mudanya. Di dalam tasnya yang besar itu selalu akan ada makanan, meskipun hanya roti kering, yang dia persiapkan ketika terjadi cuaca buruk atau beberapa homeless yang senantiasa menghampirinya untuk minta makan dan sumber-sumber makanan yang ada sedang libur menyalurkan makanan. Beberapa organisasi bahkan sering menawarkan posisi manajer, bahkan jabatan direktur kepadanya untuk mengelola lembaga yang mereka dirikan, namun dia selalu menolaknya karena keberadaan shelter dan bagaimana shelter “menolong” homeless tidak sejalan dengan nilai-nilai yang dia yakini[12].

Feeding program dan beberapa fasilitas di kampus

Feeding program dan beberapa fasilitas di kampus dan perpustakaan kampus IUPUI yang biasa digunakan oleh para homeless yang bahkan tidak mereka dapatkan di shelter (Foto: Karim, 2014)

Dari Maurice inilah saya mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang siapa, di mana, mengapa dan lika-liku persoalan apa saja yang dihadapi kaum homeless di Indianapolis. Informasi yang ia berikan bahkan tidak pernah saya dapatkan dari semua buku atau hasil penelitian yang saya kumpulkan dan baca sejak awal saya tertarik mempelajari isu homelessness, bahkan dari para profesor atau para direktur, manajer, pegawai shelter, dan outreach workers (pekerja lapangan) di organisasi-organisasi yang menangani homeless. Hal ini, seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, membangun trust agar para homeless ini bersedia untuk sharing dengan pihak lain, bahkan ke sesama homeless, bukan sesuatu yang mudah. Dari Maurice pulalah saya kemudian mendapatkan clue bahwa banyak informasi yang saya dapatkan baik dari hasil wawancara dengan pihak service providers (yang mengurus homeless) atau homeless itu sendiri tidak sepenuhnya benar, paling tidak sebelum saya bertemu dengan Maurice, karena setelah saya berada di “pihaknya” beberapa homeless yang sebelumnya menceritakan kehidupan mereka, kemudian memanggil saya dan mengatakan kepada saya “let me tell you the truth about me and some of my friends’ stories you have heard earlier!”.

 

The “Tribes” of Homelessness

Berdasarkan cerita dari Maurice, kaum homeless di Indianapolis memiliki “budaya” dan kehidupan sosialnya sendiri, dan teman-teman homeless di Indianapolis menyebut berbagai kelompok yang ada dengan istilah the tribes of homelessness. Berdasarkan pilihan tempat di mana mereka biasa tinggal, ada 5 (lima) kelompok utama, yaitu: (1) The Live Outside, adalah mereka yang memilih atau memang terpaksa tinggal di taman-taman kota, camps, di jalanan, atau di belakang gedung perkantoran di pusat kota Indianapolis. (2) The shelters, yaitu mereka yang lebih suka tinggal dan memenuhi segala kebutuhannya (makan, tidur, laundry) di shelter meskipun keberadaanya sangat terbatas. Di saat shelter tidak bisa menampung mereka, rumah-rumah kosong biasanya menjadi alternatif, dan mereka akan tinggal di bawah jembatan jika sudah tidak ada pilihan lain. (3) The Bandos adalah mereka yang memiliki kebiasaan tinggal di abandoned houses (rumah-rumah kosong atau bangunan yang tidak dipakai dan tidak memiliki tanda No tresspassing sign). (4) The Cars, yaitu mereka yang umumnya pasangan atau keluarga yang tinggal di dalam mobil van atau jenis mobil apa saja yang mereka miliki yang umumnya tidak dalam jangka waktu yang lama seperti kelompok yang lain. Meskipun demikian, jumlah mereka adalah yang terbanyak di Indianapolis, bahkan di seluruh Amerika Serikat[13]. Mereka inilah yang jarang terdeteksi melalui Homeless Count karena jika mereka memiliki anak, menjadi homeless (yang dalam banyak kasus tidak bisa mereka hindari karena lilitan hutang dan sebagainya) adalah “aib” yang sulit diterima terutama oleh anak-anak apabila mereka diejek teman-teman mereka di sekolah. (5) The Panhandlers (pengemis) adalah grup homeless yang lazim terlihat di jalan-jalan memegang “homeless sign”, yang sering juga disebut sebagai “people who shake the cups”. Pada masa the Irish Hill masih ada, semua grup ini ada di sana, terutama di musim panas.

Berdasarkan camp-site (tempat tinggal di luar gedung atau rumah), paling tidak ada 7 (tujuh) “suku” homeless selain the Irish Hill yang sebelumnya merupakan “suku” terbesar, dan saya hanya berani dan bisa mengunjungi beberapa camp karena alasan safety dan terkait perizinan studi saya. Nama camp dan nama “kepala suku” biasanya saling mengganti dan sama-sama digunakan, antara lain: (1) The Jungle yang merupakan kelompok yang cukup besar dan berada di bawah jembatan jalan (jalan layang) Washington Street dan terdiri dari tiga sub-kelompok yang dikenal berdasarkan nama “kepala suku”-nya, yaitu Gerald’s camp, Steve’s camp, dan Scotty’s camp. Salah satu yang menarik dari camp ini adalah dari karakter dan jenis homeless yang ada di dalamnya, sebagaimana Maurice mengatakan “…if you live on the camps, and you have no social skills you need, it does usually send you to the Jungle to go live”. (2) The River Wood yang berlokasi di bawah jembatan yang di bawahnya mengalir sungai terbesar di Indianapolis (Kentucky Avenue dan the White River) yang di kalangan homeless juga dikenal sebagai Gerry’s camp. (3) The Salt Mines. Camp ini berada di bawah jembatan tepat di seberang jalan gedung pusat perusahaan farmasi raksasa The Eli Lilly & Co. yang memiliki kantor perwakilan di 17 negara. Camp ini juga dikenal dengan Genesis’ camp. Meskipun perusahaan ini terus membukukan keuntungan yang fantastis, dan banyak sekali fasilitas di kampus saya (bahkan IU School of Philanthropy dibangun atas namanya), rumah sakit, dan berbagai fasilitas publik di Indianapolis, namun nasib beberapa penghuni camp ini tidak juga beranjak yang sudah bertahun-tahun menyebut tempat ini sebagai “rumah” mereka. (4) The Fern yang terletak di seberang the River Wood dan sering disebut sebagai the Victor’s camp. (5) The Terry and Bedford yang berada tidak jauh dari the River Wood yang juga diberi nama berdasarkan nama pemimpinnya. (6) The GM Bridge adalah camp yang berada di salah satu sudut di luar pabrik dan kantor General Motor yang juga dikenal dengan the Chuck’s camp. (7) The Zoo merupakan camp yang berada di seberang jalan the Indianapolis Zoo (kebun binatang Indianapolis) di semak-belukar yang juga dikenal dengan the Caveman’s camp. Dalam setiap presentasinya, Maurice menyebut pengetahun tentang homeless ini sebagai “cultural competency” yang harus dimiliki oleh semua pihak yang peduli dan ingin membantu para homeless.

 

Indiana Homeless Bill of Rights

Sebagai bentuk advokasi dan protes atas kebijakan penggusuran the Irish Hill tanpa ada solusi yang jelas, Maurice tidak mengorganisir teman-teman dan berbagai organisasi yang berada di pihaknya untuk melakukan demonstrasi di jalan, tetapi dengan cara yang dia sebut “peace movement”. Sebagai intelektual homeless yang memiliki latar-belakang pendidikan di bidang Criminal Justice, dia melihat bahwa muara dari semua peraturan dan tindakan kriminalisai terhadap mereka adalah tidak adanya landasan hukum yang bisa dijadikan pedoman untuk menolong homeless yang tentunya membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Sebagaimana sudah saya singgung sebelumnya bahwa pemerintah the State of Indiana dan kota Indianapolis memiliki undang-undang (Indiana Bill of Rights) yang melarang penyaluran dana publik ke lembaga-lembaga keagamaan, sementara hampir semua lembaga yang mengurusi homeless adalah lembaga yang berstatus faith-based. Dan menurutnya, satu-satunya cara yang paling efektif adalah meng-goal-kan Indiana Homeless Bill of Rights, yaitu dokumen legal yang mengatur semua pihak untuk tidak mengkriminalisasi kaum homeless dan menjamin hak-hak mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sampai saat ini, dari total 50 negara bagian yang ada di Amerika Serikat, baru 4 di antaranya yang badan legislatif tingkat state-nya meloloskan Homeless Bill of Rights, yaitu Connecticut, Rhode Island, California dan Illinois. Alasan utama yang dijadikan ketiga state pertama umumnya adalah karena adanya diskriminasi, kriminalisasi atau tindakan represif dari polisi setempat yang menyebabkan kematian homeless, seperti yang banyak diberitakan di media. Khusus di Illionis karena presiden Amerika Serikat Barack Obama mengawali karir politiknya dari sana, sehingga proses yang dilakukan lebih mudah dan mendapat dukungan penuh dari pusat.

Langkah awal yang Maurice lakukan adalah kolaborasi dengan salah seorang profesor sekaligus aktivis di IU School of Social Work. Perkenalan mereka juga dilakukan di bawah kolong jembatan ketika Maurice masih menjadi “mayor” the Irish Hill, yang kemudian Maurice diundang untuk menjadi partner diskusi sekaligus narasumber bagi mahasiswa yang mengambil kelas Social Welfare and Practice. Selama satu semester penuh di musim semi 2014, yang saya juga diajak untuk terlibat sejak minggu pertama ketika berkonsultasi dengan beberapa profesor yang pernah terlibat dalam meloloskan peraturan perundang-undangan di tingkat state, kelas ini menjadi lokomotif awal bagaimana penyusunan draft awal dokumen, proses sosialisasi, sampai akhirnya Maurice mendapat undangan dari berbagai kampus, stasiun radio, gereja, sekolah dan beberapa komunitas untuk mempresentasikan idenya tentang Homeless Bill of Rights. Media sosialisasi online yang awalnya hanya menggunakan sosial media (terutama Facebook), saat ini mereka juga sudah memiliki website yang dapat di akses di laman ini.

cultural competency Maurice

Dua dari beberapa presentasi “cultural competency” Maurice tentang homelessness dan Indiana Homeless Bill of Rights (Foto: Karim, 2014)

Selain itu, Maurice juga mengusulkan tanggal 26 Agustus yang merupakan tanggal penggusuran the Irish Hill dijadikan sebagai Homeless Awareness Day di Indiana. Maurice memiliki cita-cita bahwa suatu saat kaum homeless harus memiliki yang dia sebut Homeless Resource Center, di mana seluruh organisasi, service providers, dan pemerintah secara bersama-sama menangani masalah homeless dari satu atap yang setelah dia kalkulasi biayanya tidak lebih dari 50% total anggaran yang selama ini disalurkan ke shelter-shelter dan berbagai program yang dikelola oleh CHIP. Namun, ide ini tentunya memiliki konsekuensi yang cukup rumit dan akan banyak pihak yang tidak menyetujuinya karena jika berhasil diterapkan maka homeless sheltering industry yang selama ini berjalan mulus akan bangkrut. Sisi lain dari Maurice yang saya sukai adalah optimismenya, selain sangat rajin membaca alkitab online di layar monitor di perpustakaan kampus, Maurice selalu memasang gambar mimpinya tentang sebuah gedung “pusat pelayanan homeless” yang dipandanginya di monitor yang lain (ada banyak komputer di perpustakaan yang memiliki double monitors).

Prototipe 24Hour Integrated Homeless Resource Center

Prototipe 24-Hour Integrated Homeless Resource Center di Indianapolis yang menjadi impian Maurice’s (Sketsa oleh Maurice 2014).


Penutup

Bercermin dari aktivisme Maurice ini, dan kita refleksikan dengan calon pasangan pemimpin negeri yang masih memiliki ribuan, bahkan jutaan gelandangan di seluruh pelosok kota di Indonesia, kalau saya boleh katakan, barangkali mereka masih harus belajar dari Maurice. Tidak hanya memiliki kemampuan retorika yang baik dan kata-kata yang diucapkannya didasarkan pada pengetahuan serta pertimbangan yang matang, tetapi dia juga jagonya “blusukan” (karena hidupnya sudah di tempat yang paling bawah, di bawah orang-orang “normal” biasa hidup) yang dilakukannya tidak dalam waktu satu-dua jam, tetapi setiap hari. Dia tegas untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya. Dia mendahulukan orang yang diperjuangkannya dan menempatkan dirinya benar-benar sebagai “pelayan”, bukan “bos” apalagi penguasa. Dia juga tidak membutuhkan pengusaha yang menjadi penyandang dana untuk aktivismenya karena orang-orang yang melihat dan mengetahui aktivitasnya, memahami tujuannya, akan dengan sukarela melibatkan diri atau minimal ikut berkontribusi sesuai dengan kemauan dan kapasitas yang mereka miliki. Dan dia juga tidak perlu menjadi “utusan” kelompok tertentu karena yang diperjuangkan adalah sesama manusia yang hanya karena perbedaan status antara tidak memiliki rumah kemudian diperlakukan secara diskriminatif. Jika dua pasang pemimpin yang kita coblos pada 9 Juli 2014 kemarin masih kalah mumpuni dengan seorang homeless bernama Maurice, padahal saya yakin ada banyak “Maurice-Maurice” di seluruh pelosok Indonesia Raya, tidak ada salahnya barangkali kita kontrak saja dia untuk menjadi presiden di sebuah negeri yang entah kenapa memilih nama Republik Indonesia. Salam. [ ]

10 Agustus 2014

* Program Master Antropologi Terapan, Indiana University at IUPUI  Indianapolis, USA.


Footnotes:

[1] Baca tentang hal ini pada seri tulisan saya sebelumnya.
[2] Cerita tentang mereka dapat dilihat pada seri sebelumnya.
[3] Cerita tentang hubungan penjara dan komunitas African American juga sudah saya singgung pada seri sebelumnya.
[4] Lihat juga pada seri sebelumnya.
[5] Lihat juga pada seri sebelumnya.
[6] Karena memang tidak ada public rest-rooms (WC umum) di kota Indianapolis selain di kantor-kantor atau restoran yang umumnya dilarang untuk kaum 
......gelandangan (seri sebelumnya sudah saya singgung) sehingga suasana dan bau homeless camp di kolong jembatan bisa anda bayangkan sendiri.
[7] Begawan psikologi Amerika Serikat ini ternyata juga merupakan kakak ipar dari Oscar Lewis, si antropolog Amerika Serikat yang memperkenalkan
......konsep the culture of poverty.
[8] Istilah mayor lazim digunakan untuk penyebutan walikota (city mayor) di Amerika Serikat.
[9] Beberapa foto aktivitas tersebut dapat dilihat pada bagian 1 seri tulisan ini.
[10] Teman-teman yang berminat dengan film ini dan akan digunakan untuk kepentingan akademis bisa menghubungi saya via e-mail di kakarim@umail.iu.edu.
[11] Di kampus saya, siapapun yang memiliki kartu mahasiswa dari kampus manapun, bisa menggunakan fasilitas komputer dan internet secara gratis,
.......sementara yang tidak memilikinya juga tetap bisa mengaksesnya dengan biaya sangat murah, $1 per hari.
[12] Lihat juga tentang dilema shelter yang saya ceritakan di bagian sebelumnya.
[13] Jika kita searching memalui YouTube, akan ada banyak sekali video tentang mereka yang menjadikan mobil sebagai tempat tinggal mereka.

[ C A T A T A N ]

Baca Juga

Goenoeng-sewoe

Menyoal Kelangkaan Air di Gunungkidul

Catatan oleh: Irsyad Martias * “Benar-benar Gunungsewu ini seperti taman firdaus! Vegetasinya serba hijau lebat; ...

Tanggapan

  • Hello, guest