Home / Topik / Ulasan Buku / Bencana adalah Berkah: Bagaimana Amerika Memaknai Musibahnya

Bencana adalah Berkah: Bagaimana Amerika Memaknai Musibahnya

 

Ulasan Buku oleh: Anton Novenanto *

 

Secara sederhana, ada dua kecenderungan dampak bencana bagi masyarakat. Pertama, bencana akan memicu konflik, laten atau baru, yang dapat memecah-belah masyarakat. Kedua, bencana justru memperkuat solidaritas yang semakin menyatukan masyarakat. Di Amerika Serikat, sekalipun banyak rakyat yang melihatnya sebagai kegagalan pengelolaan pemerintah, bencana lebih sering hadir sebagai aktor yang mempererat solidaritas bangsa, sekaligus penggerak roda akumulasi kapital. Kesimpulan ini diambil Kevin Rozario dalam bukunya The Culture of Calamity: Disaster and the Making of Modern America (2007).

Rozario menawarkan kajian sejarah analitis untuk melacak dan menganalisis evolusi cara orang Amerika mengelola dan membayangkan bencana-bencana penting yang melanda negara itu dalam kurun waktu empat ratus tahun terakhir (2). Tesis yang ingin diperjuangkan Rozario adalah bagaimana bencana, dan wacana tentang bencana, telah lama berperan penting dalam konstruksi identitas, relasi kuasa, sistem ekonomi, dan praktik berlingkungan rakyat Amerika (3). Salah satu titik tekan analisis Rozario adalah pada bagaimana media massa mengubah bencana menjadi hiburan (5), bahkan media menjadi tergantung pada bencana demi menarik perhatian khalayak, konsumen media. “Sekarang,” tulis Rozario, “adalah sebuah jaman dimana bencana selalu terjadi, atau selalu akan terjadi” (9).

Cara berpikir semacam ini, menurut Rozario, berakar dari keberadaan gagasan tentang “modernitas”. Bencana memaksa manusia untuk menggunakan nalarnya dalam rangka kembali ke situasi “normal”. Modernitas tidak kemudian dimaknai sebatas kondisi kebaruan. Lebih dari itu, modernitas perlu dipahami sebagai sebuah kondisi manusia menggunakan nalar atau rasio dalam berinteraksi dengan lingkungan yang destruktif (10-18). Gempa bumi Lisabon, Portugal 1755, misalnya, dianggap sebagai salah satu momentum yang memicu masyarakat Eropa untuk mulai berpikir lebih rasional, kausalitas, bahwa gempa bumi bukanlah act of God melainkan akibat penyelenggara politik yang tidak handal dalam menata urbanisasi di kota yang padat huni itu. Dengan kata lain, tulis Rozario, “bencana dan kehancuran merupakan mekanisme penting bagi modernisasi” (18), yang memunculkan kesadaran bahwa banyaknya korban jiwa berjatuhan bukan karena mereka berdosa, tapi karena mereka tinggal di gedung berkualitas buruk.

Judul buku: The Culture of Calamity: Disaster and the Making of Modern America.
Penulis: Kevin Rozario
Tahun: 2007
Penerbit: The University of Chicago Press, Chicago.
Tebal: x + 311
 

 

Bencana berfungsi agar rakyat Amerika berpikir tentang bagaimana caranya lari dari masa lalu, dan masa kini, menuju masa depan yang lebih baik (20). Sikap optimistis pasca-bencana lalu koheren dengan ajaran Kristen di gereja-gereja awal di Amerika. Peristiwa-peristiwa bencana menjadi contoh nyata bagi penduduk Amerika agar tidak mudah terpuruk, dan segera bangkit dari penderitaan dan melupakannya demi membangun lembaran baru kehidupan. Konsep bencana, menurut Rozario, erat kaitannya dengan konsep “kemajuan” (32). Bahkan, bencana merupakan laboratorium bagi reformasi sosial rakyat Amerika (23). Ajaran teologi “bencana membawa berkah” merupakan pusat perhatian Rozario dalam Bab 1 (The people of calamity. Catastrophic optimism in early America). Rozario melakukan analisis pada tiga bencana –gempa bumi New England, 1638; kebakaran Boston, 1676; gempa bumi New Madrid, 1812. Kondisi sosial dan lingkungan di Amerika pada waktu itu, merupakan sumber kontekstualisasi ajaran teologi semacam ini telah menjadi fondasi dasar bagi budaya “Amerika modern”.

Rozario masuk dalam pembahasan Amerika di era industri pada Bab 2 (What comes down must go up. Disasters and the making of American capitalism). Dia membuka analisis dengan mengangkat kasus gempa bumi dan kebakaran di San Francisco pada 1906. Di sini Rozario membahas tentang hubungan aneh, tapi cenderung intim, antara musibah dan kapitalisme. Bencana menjadi alasan kuat bagi otorita lokal untuk melakukan perombakan besar-besaran atas tata ruang di kota tersebut. Kondisi serupa juga sudah terjadi pasca kebakaran New York, 1835. Jadi, bukannya menghancurkan kapitalisme, bencana justru memicu ekspansi kapital pada wilayah bencana atas nama pembangunan kota, yang melahirkan kapitalis-kapitalis baru. Tulis Rozario, “kehancuran telah mengaktifkan pembangunan kapitalis” sekalipun “keuntungannya tidak tersebar secara merata” (100).

Bab 3 (“That enchanted morning”. Or, how Americans learned to love disasters) membahas tentang, sebagaimana dalam sub-judul bab itu, bagaimana rakyat Amerika semakin “jatuh cinta” pada bencana. Rozario mengangkat tentang kemunculan komoditas baru yaitu imaji-imaji kehancuran. Selain “korban”, pada setiap peristiwa bencana selalu muncul “pahlawan”. Kisah-kisah heroik saat menyelamatkan diri sendiri, ataupun manusia lain bahkan benda/ hewan, dalam suatu peristiwa bencana selalu menarik perhatian publik. Romantisisme bencana menjadi komoditas baru dalam kapitalisme Amerika.

Bencana mulai tidak lagi dilihat sebagai peristiwa yang menakutkan, namun didekonstruksi menjadi peristiwa yang heroik, kepahlawanan, dan juga romantis. Bahkan, tulis Rozario mengikuti teori “sublimasi” dari Walter Lippmann, “bencana bukan semata momentum kekacauan yang harus diatasi; bencana adalah peristiwa yang membebaskan dan mengarahkan hasrat kekacauan sehingga menggerakkan proses pemberadaban” (120). Situasi mikro pada saat dan pasca bencana menjadi sumber-sumber bagi kelahiran kapitalisme baru. Ketakutan, misalnya, adalah komoditas utama bisnis taman bermain modern Luna Park (dibuka 1903) dan Dreamland (1904) (124). Di awal Abad XX semakin banyak taman hiburan baru dibuka, dengan menawarkan ketakutan sebagai barang dagangan.

Pada pertengahan Abad XX, bangsa Amerika memasuki babak baru manajemen bencana dengan lahirnya Undang-Undang (UU) Penanggulangan Bencana (Disaster Relief Act) pada tahun 1950. UU tersebut mengatur kewajiban negara federal dalam mengatasi bencana. UU ini lahir dalam konteks dua bencana penting bom atom di Hirosima dan Nagasaki 1945, dan Banjir Mississippi 1927. UU itu merupakan suatu penanda penting masuk bencana dalam politik bernegara karena bencana dianggap sebagai sesuatu yang mengancam keberlangsungan politik suatu negara, dari sebab itu negara harus berperan dalam mitigasi bencana yang melanda wilayah dan penduduknya.

Rozario juga mencatat bahwa sejak 1950-an mulai bermunculan film-film tentang bencana. Imajinasi bencana menjadi semakin nyata dengan teknologi audio-visual (film) dan kehadiran taman-taman hiburan baru. Rakyat Amerika dapat belajar seandainya mereka mengalami bencana dari imaji yang ditawarkan oleh kapitalis. Analisis tentang bencana di pertengahan Abad XX menjadi titik bahasan Rozario pada Bab 4 (The modern way of disaster. The nucelar age and the origins of federal emergency management). Sejak itulah, menurut Rozario, bangkitnya kesadaran akan keamanan nasional negara akibat bencana dan lahirnya imajinasi bencana secara massif.

Rozario pun memasukkan bencana World Trade Center (WTC) 11 September 2001 di New York City, yang disebutnya sebagai “kita telah masuk pada era bencana posmodern” (179). Tesis ini disampaikan dalam Bab 5 (The ends of disasters. The culture of calamity in the age of terror). Fokus analisis Rozario dalam bencana di Abad XXI adalah media berita komersial, penyebaran ajaran Kristen, dan aktor-aktor politik dan ekonomi. Di Abad XXI, Rozario berpendapat, rakyat Amerika semakin tidak bisa membedakan antara ancaman “yang nyata” dan yang tidak nyata atau “dibuat-buat” (hyperreal). Kehancuran menara kembar WTC seolah-olah adalah wujud nyata dari imaji-imaji bencana yang hadir dalam film-film tentang kiamat dunia. Bahwa apa yang dimunculkan dalam film juga bisa terjadi di dunia nyata. Namun, hal ini tidak mampu menghentikan hasrat kapitalisme untuk terus mereproduksi ketakutan dan teror pada publik luas. Bahkan, media massa semakin mendapatkan tempat istimewa di publik Amerika dan juga dunia. Meskipun begitu “industri hiburan bukanlah kendaraan yang baik untuk merepresentasikan kompleksitas bencana” (196), media massa karena keterbatasannya selalu melakukan penyederhanaan atas bencana.

Rozario menutup bukunya dengan mengangkat kasus Badai Katrina 2005 (Epilogue. A reckoning: hurricane Katrina and the “murder” of New Orleans). Katrina adalah bencana alam terburuk yang pernah dalam sejarah Amerika, bukan hanya karena dampak kerusakannya yang sangat dahsyat, namun lebih pada isu marjinalisasi ras, kelas sosial, dan pembangunan yang tidak adil bagi seluruh rakyat Amerika. Oleh karenanya, Badai Katrina tidak dapat dianalisis dalam kacamata bencana “alamiah”, karena pada hakikatnya bencana itu selalu “kultural”.

Buku ini menambah khazanah literatur tentang studi bencana dan studi budaya, yaitu tentang bagaimana bencana diinterpretasikan melalui fitur-fitur budaya tertentu. Buku ini menawarkan pemahaman bahwa bagaimana selama ini budaya Amerika telah mendayagunakan bencana yang melandanya. Bencana sebagai sesuatu yang mengerikan, namun, dianggap sebagai berkah, blessing for disguise. [ ]

 

3 Oktober 2013

 

* Dosen pada Jurusan Sosiologi, Universitas Brawijaya Malang; kandidat doktor pada Institut für Ethnologie, Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg, Jerman.

 

 

U l a s a n  B u k u

 

 

 

 

Baca Juga

Etnografi Formasi Negara di Kawasan Perbatasan

Haryo Kunto*         Judul Buku: At The Edge of States: Dynamics of ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest