ETNOHISTORI

Mencari Bentuk Perfilman Indonesia (1): Revolusi & Nasionalisasi Film di Zaman Soekarno

 

oleh: Ahmad Nashih Luthfi

 

Sejak kemerdekaan Indonesia sampai dengan berakhirnya pemerintahan Soekarno, tercatat terdapat sekitar 505 judul film yang diproduksi di Indonesia. Saat Indonesia mendapatkan kemerdekaannya tidak serta-merta identitas masyarakatnya berubah; bagai membuka lembaran buku gambar, dari satu halaman tentang Hindia Belanda menuju gambar Indonesia. Rentang 20 tahun yang menghasilkan sejumlah film tersebut sampai dengan tahun 1965 bukan berarti penguasaan industri perfilman Indonesia otomatis berada di tangan orang Indonesia sendiri.

Loetoeng Kasaroeng (sumber: LSF)

Loetoeng Kasaroeng (sumber: LSF)

Perfilman Indonesia dalam rentang itu masih dikuasi oleh beragam etnis bangsa, yakni Belanda dan China. Tan dan Wong Bersaudara, Touw Ting Lem, Henry L. Duarte, adalah nama-nama yang sangat terkenal berada di balik produksi film kala itu. Beberapa perusahaan film semisal Bintang Surabaya, Thung Nam Film, Warnasari Film, Dragon Film, Golden Arrow, N. V. Indonesia Film, semuanya dimiliki oleh orang China. Hanya Persari dan Perfini yang dimiliki oleh orang Indonesia, yaitu Djamaluddin Malik dan Usmar Ismail. Didatangkan ahli dari Hongkong dalam proses produksi film di studio, namun bisa dikatakan bahwa keseluruhan pemain film adalah orang Indonesia. Raden Mochtar−Roekiah (pasangan bintang film romantis pertama sejak tahun 1930-an), Kartolo, Fifi Young, Wolly Sutinah, adalah pemain-pemain tenar masa itu. Pembedaan antara etnis Bangsa Belanda, Cina, dan pribumi saat itu sangat relevan, dan menjadi isu sensitif di saat dilakukannya nasionalisasi paska kemerdekaan.

Wacana tentang bagaimana “film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri” demikian kuat. Organisasi semacam LKN, Lekra, dan beberapa Organisasi Perusahaan Sejenis (OPS), Pidfin, para buruh film (Sarbufis) menentang semakin dominannya film-film impor dan semakin terdesaknya film produksi dalam negeri. Tergabung dalam Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat (PAPFIAS) mereka menuntut pembubaran AMPAI−American Motion Picture Association in Indonesia (di dalamnya tergabung Warner Bross, United Artist, Twentieth Century Fox, Universal International, Columbia, Paramount, MGM, Alied Artist).

Didukung oleh ormas-ormas seperti Gerakan Pemuda Marhaenis, IKN, Pemuda rakyat, GMNI, Lekra, CGMI, IPPI dan lain-lain, mereka mengambil alih gedung AMPAI yang ada di jalan Segara Jakarta, dan menuntut pengusiran Bill Palmer, ketuanya, yang dituduh sebagai agen CIA. Sitor Situmorang sebagai ketua PAPFIAS mengatakan bahwa tahun-tahun ini menjadi periode “vivere pericolloso”, perjuangan yang menyerempet bahaya dengan aksi pengganyangan itu sebagai hadiah tahun baru 1965.

Dalam kondisi semacam ini, pemberitaan tentang film didominasi oleh berita-berita dari negara-negara komunis dan negara Dunia Ketiga. Pada tahun 1965 gencar diberitakan apresiasi film Rusia, difilmkannya novel Dr. Zhivago karya Boris Pasternak, film di Peking (Nguyen van Troy), film dan politik di India, Festival Film Moskow, Pekan Film Bulgaria, Perundingan Film Indonesia−Sovyet, Agora Film (Agora sebuah kota di Yunani Kuno), film Frederico Fellini (seorang Direktor film asal Italia), film karya Sholokov, film tentang Tolstoy, tentang pembuatan film di RRT, dan tentang marsekal Zhukov yang bermain film.

Selain film yang diputar di bioskop-bioskop, masyarakat mendapatkan hiburan melalui media TV. Sampai dengan tanggal 17 April 1965 pesawat yang beredar di seluruh nusantara diperkirakan berjumlah 35.219 buah. Sejumlah 28.000 berada di Jakarta, sisanya tersebar di Bandung, Bogor dan sekitarnya. Pendataan itu mudah dilakukan sebab pemerintah mewajibkan toko-toko yang menjual TV melapor pada bagian Commercial TVRI, guna mendeteksi jumlah pesawat yang telah beredar di masyarakat. Televisi-televisi tersebut merupakan produk luar negeri semisal merk Sharp dan Sanyo. Masyarakat lebih menyukainya karena merk ini bergambar tajam.

Njai Dasima (sumber: LSF)

Njai Dasima (sumber: LSF)

Kondisi studio film di Indonesia sampai berakhirnya pemerintahan Soekarno demikian memprihatinkan. Gambaran pemandangan semacam ini menjadi hal yang jamak; studio di sebuah bangsal tua tanpa langit-langit, dekor buruk yang sudah mulai miring, beberapa lampu opname (spotlight) yang berdebu, lantai yang kotor, dan di sudut teronggok sebuah kamera yang menganga. Selebihnya, ruang tampak kosong melompong. Itulah gambaran studio Panah Emas, satu dari beberapa perusahaan film di Indonesia kala itu. Beberapa perusahaan film lain kondisi studionya tak jauh berbeda; semisal milik Perfini, Gema Masa, Sangga Buana, Infico, Olympiad, Tjendrawasih, dan Bintang Surabaya. Malah ada yang bernasib lebih buruk; perusahaan film seperti Persari, Agora, Sarinande, Virgo, Aries, Stupa, Kalimantan dan masih banyak lagi. Mereka tidak mempunyai studio, dan “ndompleng” ke studio lain bila memproduksi film. Bahkan ada seorang sutradara yang sangat terkenal kala itu, Wim Umboh, yang bekerja tanpa studio. Ia melakukan shooting langsung di dalam rumah, tanpa ada peredam suara, dan posisi kamera yang hanya bisa menyorot dari bawah, sebab tidak ada alat penggantung yang memungkinkan shooting dari atas.

Perusahaan itu umumnya menumpuk di Jakarta, di Medan ada sekitar 2 perusahaan yang sudah tidak aktif lagi, dan di Surabaya ada “Bintang Surabaya” yang juga tersendat-sendat. Di antara perusahaan-perusahaan itu, Persari-lah yang banyak memproduksi film. Sekitar 89 film telah diproduksi. Ada kritikan bahwa Persari hanya membuat film jiplakan a la India lengkap dengan banyaknya nyanyian dan tarian. Adapun Perfini, perusahaan paling tua yang dipimpin oleh Usmar Ismail, telah memproduksi sekitar 50 film. Ada beberapa perusahaan film yang bahkan sama sekali belum pernah berproduksi.

Pemerintahan Soekarno yang didukung penuh oleh kekuatan komunis kemudian tumbang. Pemerintahan berganti, dari satu tampuk kepemimpinan Soekarno ke Soeharto, Menteri Penerangan Achmadi digantikan oleh Burhanuddin Mohammad (B. M.) Diah. Dunia perfilman yang tanggung jawabnya berada di menteri penerangan juga ikut berbenah dan merombak kepengurusannya.

 

20 April 2011

 

Selanjutnya:

 Bentuk Perfilman Indonesia (2): Genealogi Munculnya Film Seks, Kekerasan dan Koboi
 Mencari Bentuk Film Indonesia (3−Habis): Lesunya Bioskop & Gagalnya Kebangkitan Film Indonesia

 

 

 

 


Tanggapan

    • Hello, guest

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org