Home / General / Berebut Keuntungan dari “Sumber Daya Alam” di Kalimantan Timur

Berebut Keuntungan dari “Sumber Daya Alam” di Kalimantan Timur

Andika Nur P.*

Menyoal tentang Peraturan Gubernur yang diperbaharui oleh Ganjar Pranowo, tulisan ini membahas Pergub yang juga berhubungan dengan semen tetapi letaknya di Kalimantan Timur. Pergub Kaltim No. 67/2012 merupakan peraturan pemerintah paling kontroversial. Isi dari peraturan tersebut adalah melindungi kawasan Karst Gunung Sekerat dari eksploitasi perusahaan semen. Bukankah hal tersebut bagus? Tetapi bukan pemerintah mengeluarkan peraturan konservasi hanya didasarkan pada pentingnya menjaga sumber daya alam, apalagi dalam konteks Karst yang tidak dapat diperbaiki ataupun dikembalikan lagi jika terjadi kerusakan.

Cerita kontroversial ini bermula Gubernur Kalimantan Timur. Pada tahun 2003 ketika Kutai Timur mekar menjadi Kabupaten baru, Bupati-nya adalah yang sekarang menjabat Gubernur Kaltim. Waktu itu ia membolehkan perusahaan semen untuk beroperasi di sekitar kawasan Gunung Sekerat. Karena restu tersebut, perusahaan semen akhirnya menyiapkan kelengkapan untuk akhirnya dapat berperoduksi. Sepeti ekpslorasi, menyiapkan dokumen AMDAL, dan berbagai persiapan lain. Kemudian ketika tahun 2012 bulan April, dokumen AMDAL sudah disetujui dan akhirnya perusahaan tersebut siap untuk berproduksi.[1] Namun sialnya, pada Desember 2012 keluar Peraturan Gubernur Kalimantan Timur No. 67 tahun 2012 tentang “Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kabupaten Berau dan Kutai Timur”[2] dimana areal konsesi perusahaan semen tersebut sebagian masuk dalam area yang dilindungi. Dari 1077 ha izin areal konsesi perusahaan semen, tersisa 834 ha karena selebihnya masuk kawasan yang haru dilundungi. Selain itu Gubernur Kaltim tidak merestui adanya pembangunan pabrik semen di kawasan Karst Gunung Sekerat tersebut. Hingga hari ini, perusahaan semen di Kutai Timur tersebut hanya menyisakan patok-patok serta barak pekerja tanpa pernah membangun pabrik. Namun namanya korporasi, tetap mengusahakan izin agar pendirian pabrik dapat direstui oleh Bapak Gubernur.

berau-kalimantan-timur
Gambar 1. Berau, Kalimantan Timur

Proyeksi Internasional dalam Prioritas Nasional

Pertanyaannya adalah, apa yang membuat Bapak Gubernur menerbitkan Pergub No. 67/2012 tersebut? Jawabannya adalah prioritas kepentingan. Sejak 2011, MP3EI (Masterplan Percepepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) dicanangkan sebagai salah satu program ambisius negara. Ada zonasi berdasarkan koridor pulau-pulau dengan potensi strategis dalam mendukung proyek MP3EI. Pulau Kalimantan kebagian pada proyeksi sektor produksi dan pengolahan tambang (mining) dan energi (energy reserves).[3] Provinsi Kalimantan Timur, khususnya Kabupaten Kutai Timur, kebagian dalam rencana pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK) di 3 wilayah yaitu Lubuk Tutung, Batuta dan Maloy. Kawasan ekonomi khusus ini nantinya akan terfokus pada kegiatan industri berbasis oleochemical dan downstream batubara.[4]

Khusus kawasan Maloy, rencana proyek KEK disini dengan membangun Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy. Nantinya KIPI Maloy direncanakan menjadi pusat industri kelapa sawit berbasis produk turunan yang akan menyaingi kluster sawit Lahad Datu Malaysia.[5] KIPI Maloy nantinya akan terintegrasi dengan kawasan dalam KEK MBTK dan KEK lain di Kalimantan Timur dengan jaringan transportasi Kereta Api Borneo (KAB) yang juga sedang dalam proses pembangunan. Pemerintah sangat bersungguh-sungguh dalam membangun KIPI Maloy karena jumlah produksi kelapa sawit yang nilainya terus meningkat setiap tahunnya akan memiliki harga jual lebih baik jika diolah terlebih dahulu dan tidak lagi dijual dalam bentuk mentah di pasar global. Selain itu letak KIPI Maloy yang cukup strategis karena berada di jalur perdagangan Internasional akan memudahkan proses distribusi dari rencana hilirisasi industri kelapa sawit ini sehingga pemerintah begitu serius dalam menggarap proyek ini.

masterplan-kawasan-ekonomi-khusus-kek-maloy-batuta-trans-kalimantan-kalimantan-timur
Gambar 2. Masterplan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan, Kalimantan Timur. (sumber: http://kek.ekon.go.id/kek-di-indonesia/maloy-batuta-trans-kalimantan-mbtk/)

Dalam mendukung rencana pembangunan KIPI Maloy, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyiapkan segala infrastruktur pendukungnya. Mulai dari yang sudah disebutkan sebelumnya KAB, kemudian akses jalan, penyediaan sumber listrik, dan berbagai penunjang lainnya. Sampai saat ini progress pembangunan KIPI Maloy masih dalam tahap penyediaan infrastruktur dan penyelesaian pelabuhan. Rencananya, presiden Jokowi akan meresmikan KIPI Maloy pada Oktober 2017 sehingga pengerjaannya semakin serius dilakukan. Proyek pembangunan prioritas nasional ini menjadi benar-benar prioritas sehingga segala macam peraturan di daerah harus mendukung, tujuannya untuk meningkatkan iklim invetasi dan keuntungan para pengusaha.

Ekpresi Tanpa Pilihan

Kebutuhan akan air bersih di KIPI Maloy bersumber dari 2 mata air yang juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya, yaitu mata air di Desa Kaliorang dan Desa Sekerat. Walaupun sumber dari mata air Kaliorang lebih dekat dengan KIPI Maloy, namun sumber terbesar didapatkan dari mata air Sekerat. Untuk itu, pelaksana pembangunan KIPI Maloy berencana mengalirkan air dari mata air Sekerat dengan menggunakan pipa berukuran besar. Namun hingga saat ini pipa tersebut belum terpasang, hanya material saja yang sudah berada di sekitar jalur pemasangan pipa tersebut.

Belum terpasangnya pipa tersebut disebabkan adanya penolakan dari masyarakat Sekerat untuk “membawa air dari wilayahnya” untuk operasional KIPI Maloy. Pelaksana pembangunan KIPI Maloy kemudian mengalami permasalahan ini bernisiatif bersama PemProv Kaltim untuk “membagi” sumber air ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pemprov kemudian pada tahun 2016 menunjuk PDAM secara khusus beroperasi pada tingkat desa untuk Sekerat dan Kaliorang untuk mengelola sumber air ini untuk distribusi air kepada masyarakat. Namun PDAM jelas tidak populer, sebabnya masyarakat tidak pernah membayar untuk mendapatkan air bersih. Sekalipun proses komersialisasi air sudah terjadi pada tahun 2000-an di Sekerat, namun biaya untuk mendapatkan air terjangkau karena dikelola oleh BUMDes dengan bantuan subsidi perusahaan tambang batubara. Biaya pemasangan dan bulanan yang dirasa cukup tinggi membuat BUMD ini hanya memiliki beberapa pengguna pada tahun pertamanya. Kemudian strategi yang diterapkan PDAM dalam mendapatkan konsumen di Desa Sekerat adalah dengan menawarkan kredit 3 kali pembayaran biaya pemasangan dengan pipa terpasang pada pembayaran pertama. Tetapi sampai saat ini tetap kecil minat masyarakat untuk memasang PDAM.

Bagaimanapun juga PDAM memiliki orientasi profit. Oleh sebab itu “kompensasi” Pemprov Kaltim dengan model seperti ini jelas bukan langkah yang populis. Hal ini berdampak pada sikap masyarakat. Ketika KIPI Maloy mulai digencarkan pada tahun ini (walaupun sudah direncanakan sejak 2012), dalam waktu yang sama wacana pabrik semen kembali menguat. Titik pentingnya adalah ketika dilakukannya diskusi ilmiah yang diadakan Pemkab Kutai Timur pada bulan Oktober 2016 mengenai rencana pembangunan pabrik semen di wilayah Sekerat.[6] Inilah kemudian yang memicu berbagai aksi penolakan rencana pembangunan pabrik semen di Kalimantan Timur oleh beberapa kelompok peduli lingkungan[7]. Namun yang lebih penting disini adalah bagaimana ekspresi di tingkat lokal atas rencana pembangunan prioritas nasional di sekitarnya. Jika kemudian diurutkan kebawah, keberatan adanya pabrik semen di kawasan Sekerat hanya berada di lingkup Pemprov, namun jajaran Pemkab hingga Pemdes memberikan sinyal sebaliknya.

sumber-air-desa-sekerat-yang-berasal-dari-pegunungan-karst-sekerat-dengan-instalasi-air-pdam
Gambar 3. Sumber Air Desa Sekerat yang berasal dari Pegunungan Karst Sekerat dengan instalasi air PDAM. (Dokumentas: Pribadi/TFCA Kalimantan)[8]

Pada tingkat masyarakat, dapat dikatakan seluruh penduduk Desa Sekerat menyetujui adanya pabrik semen beroperasi di wilayahnya. Alasan utamanya jelas pada akses pekerjaan yang menurut mereka akan semakin terbuka jika perusahaan semen beroperasi di wilayahnya dan infrastruktur semakin memadai. Hal ini merupakan ekspresi pengalaman masyarakat Sekerat yang saat ini dikelilingi oleh berbagai perusahaan tambang batubara dan juga perkebunan kelapa sawit. Pada akhir bulan Oktober 2016, pihak perusahaan dengan masyarakat setuju untuk mengadakan pertemuan untuk membahas pernyataan sikap mendukung pendirian pabrik semen[9]. Pernyataan dukungan atas pabrik semen di wilayahnya cukup sulit untuk diterima logika jika melihat perjuangan masyarakat Rembang dalam menolak pabrik semen di wilayah mereka. Alasan yang paling masuk akal adalah keinginan untuk turut merasakan pembangunan. Tetapi sayangnya masyarakat di Sekerat tidak punya pilihan.

Sebelumnya pilihan masyarakat Sekerat hanya ada 2. Pertama, membiarkan sumber daya air yang dimiliki wilayah mereka disedot habis oleh KIPI Maloy. Sumber mata air Sekerat merupakan salah satu sumber air yang unik khas bentang alam karst dengan debit sangat besar. Jika masyarakat berpihak pada KIPI Maloy dengan prioritas nasionalnya itu, jelas kemudian yang dipikirkan adalah manfaat tidak seberapa karena letak KIPI Maloy cukup jauh. Kemudian kerugian privatisasi air[10] karena alokasi air untuk KIPI Maloy jumlahnya jauh lebih besar dari alokasi PDAM untuk masyarakat Desa Sekerat, belum lagi ini dibagi dengan asrama-asrama pekerja perusahaan tambang batubara. Jelas ini dirasa sangat tidak sepadan. Bayangkan Anda memiliki sumur turun temurun yang tidak kering walaupun musim kering tetapi Anda sendiri hanya dapat memakai 1 drum dan itupun berbayar, tetapi disaat bersaman ada pompa listrik mengambil 70 drum dari sumur Anda untuk membuka usaha cucian kendaraan bermotor. Apa anda tidak marah?

Pilihan selanjutnya adalah memihak pada pabrik semen. Beroperasinya perusahaan di sekitar wilayah Sekerat jelas diperkirakan masyarakat akan memiliki dampak langsung. Baik itu positif ataupun negatif. Kebanyakan dari masyarakat memilah bahwa positif adalah dari sisi ekonomi dan negatif dari sisi lingkungan. Kemudian dampak negatif tersebut dijawab dengan pemaparan perusahaan semen mengenai dampak lingkungannya juga pada area sekitar mata air.[11] Maka dengan demikian keraguan untuk tidak mendukung adanya pabrik semen tersebut hilang dan sikap masyarakat jatuh pada pilihan mendukung pabrik semen beroperasi di wilayahnya.

Kembali Pada Pergub

Jika kemudian Pergub Kaltim No. 67/2012 memang murni untuk kepentingan konservasi kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, lalu mengapa gubernur mengijinkan pabrik semen beroperasi di Teluk Sulaiman, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau?[12] Hal ini lantas yang menimbulkan kebingungan bagi berbagai pihak, terutama perusahaan semen di Sekerat. Padahal potensi kawasan Biduk-Biduk pada sektor pariwisata sudah tidak diragukan lagi karena menjadi salah satu destinasi wisata populer dalam negeri. Kemudian yang cukup penting adalah kesamaan pernyataan masyarakat cenderung setuju dengan adanya pabrik semen. Mengingat lokasi yang menjadi wilayah konsesi rencana tambang ini tepatnya berada di Teluk Sulaiman dan cukup jauh dengan kawasan wisata seperti Labuan Cermin sehingga pariwisata tidak langsung memberikan dampak positif bagi masyarakat. Sebenarnya potensi wilsata di Teluk Sulaiman cukup menjanjikan jika dikembangkan lebih lanjut.[13] Tetapi kembali hal ini memerlukan dukungan pemerintah.

Inkonsistensi pemimpin daerah dalam membuat peraturan lalu merevisinya sendiri atau bahkan melanggarnya membentuk gagasan mengenai komitmen negara dalam perlindungan sumber daya alam. Sumber daya alam dilindungi untuk memenuhi kebutuhan industri[14]. Jika keadaan tetap seperti ini, sumber daya alam di negara ini pada waktu yang akan datang akan memasuki masa kritis. Perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam yang meletakkan dasar tidak pada kepentingan masyarakat disekitarnya seringkali menemukan masalah[15], namun jika posisinya menyerahkan sepenuhnya pada masyarakat sangat rawan terkontaminasi oleh aktor dari luar kelompok masyarakat tersebut.[16] Terutama pada kawasan karst yang memiliki berbagai potensi untuk dapat dimanfaatkan dengan baik jika dilindungi dari berbagai ancaman.[17] Akhirnya pergub yang kini menjadi kunci dari terbitnya ijin usaha harus berpihak pada kepentingan akan kebutuhan masyarakat dengan tetap menjaga kondisi lingkungan dan sudah bukan saatnya untuk selalu berpihak pada kepentingan industri.

* ) Penulis adalah alumnus Antropologi Universitas Brawijaya.

[1] Kobexindo Cement Janji Tidak Rusak Catchment Area Sekerat (lihat: http://kaltim.tribunnews.com/amp/2016/11/28/kobexindo-cement-janji-tidak-rusak-catchment-area-sekerat). Diakses pada tanggal 8 November 2016.

[2] Diunduh dari http://jdih.kaltimprov.go.id/asset/upload/pp/perda/PERGUB.67.2012.pdf tanggal 10 Desember 2016.

[3] Masterplan for Acceleration and Expansion of Indonesia’s Economic Development (lihat: http://www.indonesia-investments.com/projects/government-development-plans/masterplan-for-acceleration-and-expansion-of-indonesias-economic-development-mp3ei/item306?). Diakses pada tanggal 10 Desember 2016.

[4] KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). (Lihat: http://kek.ekon.go.id/kek-di-indonesia/maloy-batuta-trans-kalimantan-mbtk/). Diakses pada tanggal 10 Desember 2016.

[5] Sudah Siapkah KIPI Maloy? (lihat: https://www.sawitindonesia.com/kinerja/sudah-siapkah-kipi-maloy). Diakses pada tanggal 10 Desember 2016.

[6] Diskusi ilmiah , antisipasi dampak investasi semen di desa Sekerat (lihat: http://kutaitimur.merdeka.com/info-kutim/-diskusi-ilmiah-antisipasi-dampak-investasi-semen-di-desa-sekerat-1610192.html). Diakses 10 Desember 2016.

[7]Mahasiswa Tolak Pendirian Pabrik Semen di Sekerat, Demo Tak Birijin Dibubarkan Polisi (lihat: http://www.suarakutim.com/mahasiswa-tolak-pendirian-pabrik-semen-di-sekerat-demo-tak-berijin-dibubarkan-polisi/). Diakses 9 Desember 2016.

[8] Dokumentasi ini merupakan salah satu data yang ada dalam penelitian bertajuk “Revitalisasi dan Karakterisasi Nilai Penting Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat” yang didanai oleh TFCA Kalimantan. Penulis merupakan salah satu tim peneliti dalam penelitian tersebut.

[9]Mimpi Sejahtera Desa Sekerat dan Selangkau (lihat: https://youtu.be/GiZJCYMCVvM). Diakses 8 Desember 2016.

[10] Shiva, 2002 hlm. 25-27. Lebih lanjut mengenai seperti apa privatisasi air, cara kerja, dan dampaknya dapat dilihat pada buku Vandana Shiva Water Wars: Privatisasi, Profit, dan Polusi (2002. Yogyakarta. Insist Press dan Walhi)

[11] Ini Alasan Warga Sekerat-Selangkau Dukung Pembangunan Pabrik Semen (lihat: http://kaltim.prokal.co/read/news/285163-ini-alasan-warga-sekerat-selangkau-dukung-pembangunan-pabrik-semen.html). Diakses 10 Desember 2016.

[12]Ketika Pabrik Semen dan Sawit Ancam Biduk-biduk (lihat: http://www.mongabay.co.id/2016/10/30/ketika-pabrik-semen-dan-sawit-ancam-biduk-biduk/). Diakses 10 Desember 2016.

[13] Enam Destinasi Pelesir Berau Selain Derawan (lihat: http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/02/6-destinasi-pelesir-berau-selain-derawan). Diakses 10 Desember 2016.

[14]Tsing, 2003 hlm. 5100. (Tsing, Anna Lowenhaupt. 2003. Natural Resource and Capitalist Frontiers. Economic and Political Weekly, Vol. 38, No. 48, 5100-5106.

[15] Douglas, Sheil et al. 2006. Recognizing Local People’s Priorities for Tropical Forest Biodiversity. Ambio, vol. 35, No. 1. 17-24.

[16] Urich, Peter B. et al. 2001. Policy and Practice in Karst Landscape Protection: Bohol, The Philippines. The Geographical Journal, Vol. 167, No. 4, 305-323.

[17] Uhlig, H. 1980. “Man and Tropical Karst in Southeast Asia”. GeoJournal, Vol. 4, No. 1, South East Asia, 31-44. Dalam tulisannnya, Uhlig menyebutkan kawasan karst memiliki potensi sumber daya air yang melimpah namun seringkali terkendala pada teknologi untuk menjangkau ataupun memanfaatkannya. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh kegiatan pertanian dengan model lahan basah seperti sawah dengan irigasi karena dalam penelitiannya Uhlig mendapati pola pertanian masyarakat di sekitar kawasan karst masih bersifat lahan kering (ladang) dengan berbagai potensi ancaman yang dapat menggangu hasil panen setiap tahunnya.

 

Baca Juga

Orang-Orang Di Seram Utara yang Terpinggirkan

oleh: Zulkarnain Sahji Mahasiswa Pasca Sarjana Antropologi UI   Huaulu adalah nama salah satu suku ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest