ETNOHISTORI

Biografi Preman-Preman Yogyakarta (1)

oleh: Ulil Amri*

Untuk edisi khusus preman di etnohistori ini, saya akan mendeskripsikan tiga orang preman di Yogyakarta. Pertama adalah Joko. la berasal dari Kampung Badran yang amat terkenal di seantero Yogyakarta. Berikutnya adalah Kris dari Terban. Orang ini dikenal sebagai preman yang berbasis judi. Terakhir adalah Yono. Preman satu ini dikenal sebagai preman jalanan.

_______________________________________________________________________

Mas Joko: Pemberani Badran yang Terkenal

Mas Joko, 43 tahun, meski bukan nama sebenarnya adalah anak bungsu dari tiga orang bersaudara dari ibu yang menjadi istri ke tiga ayahnya. Ayahnya adalah penduduk asli Yogyakarta. Sedangkan ibunya, seorang pendatang dari Situbondo-Jawa Timur. la lahir dan tumbuh di sebuah wilayah yang pada dekade 80-an dikenal sebagai sarang penjahat.

Secara fisik, Mas Joko memiliki tubuh dengan tinggi badan sekitar 175cm. Kulitnya berwarna coklat kehitam-hitaman layaknya orang Jawa pada umumnya. Suaranya lantang melengking, sorot matanya tajam menandakan bahwa ia selalu awas terhadap apa dan siapa saja yang berada di sekelilingnya. Kelebihan fisik inilah yang di kemudian hari mendukung karirnya. Secara mental, Mas Joko bisa dikatakan emosional, sering meledak-ledak. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu terlihat masih menggunakan emosinya saat mengambil keputusan.

Mas Joko sudah berkeluarga sejak berumur 17 tahun. la menikah pada tahun 1979. Anak pertamanya lahir pada tahun 1980. Suatu ketika sial menimpanya. Ia terlibat adu jotos dengan salah seorang perwira yang juga anak salah seorang perwira tinggi. Karena jiwa kepremanan yang sudah mulai terbentuk dalam dirinya, Mas Joko mengakhiri hidup sang perwira saat itu juga. Selepas itu ia melarikan diri ke Jombang. Ia sempat menghabiskan hari-harinya untuk menimba ilmu agama di sana. Sekembalinya ke Yogyakarta, ia langsung diringkus oleh aparat keamanan dan langsung dijebloskan ke penjara.

“Prestasi” membunuhnya tak hanya itu, salah seorang teman dekatnya mengatakan bahwa Mas Joko juga pernah menghabisi nyawa seorang perantauan dari Sulawesi. Saat itu Mas Joko terlibat cek-cok dengan orang tersebut. Tanpa berpikir panjang, Mas Joko menyabetkan cluritnya ke leher dan perut orang itu. Peristiwa itu terjadi di depan bengkel motor dekat kantor PLN jalan Mangkubumi. Akibat ulahnya ia meringkuk di dalam tahanan selama kurang lebih tiga tahun. Menurut Mas Joko, inilah masa yang paling lama dan paling sulit yang dihadapi semasa karirnya di dunia preman. Selebihnya ia hanya menghabiskan waktu selama sebulan atau dua bulan saja.

Tiga tahun merupakan waktu yang cukup lama. Mas Joko, dengan kecerdasan pergaulan yang ia miliki, banyak menjalin hubungan dengan sesama preman yang meringkuk di tahanan. Lagipula, di dalam penjara ada hukum tidak tertulis, bahwa seseorang yang sudah melakukan pembunuhan akan diperlakukan secara berbeda dengan pelaku pencurian atau pemerkosaan. Di dalam tahanan itu pula, Mas Joko menjalin hubungan yang begitu erat dengan rekan-rekan tahanan.

Pada saat Mas Joko dan teman-temannya keluar dari tahanan, mereka membentuk bisnis yang masih dalam lingkaran dunia hitam; bisnis keamanan. Berkat “prestasinya” membunuh sang perwira. Karena prestasinya itu, ia direkrut menjadi ‘kaki-tangan’ tentara; semacam agen rahasia berbaju sipil. Karena kedekatannya itu, Mas Joko dipersenjatai sebuah pistol revolver. Menurut beberapa sumber, Mas Joko belajar menembak di pinggir kali Winongo.

Semakin lama, karir dan posisi Mas Joko semakin melejit. la menjadi terkenal tidak saja di dunianya, melainkan juga di dunia keseharian kita yang jauh dari preman. Itu karena Mas Joko pandai memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada. Ketika pemerintahan Soeharto di Jakarta mulai bergolak, Mas Joko bergabung dengan salah satu barisan keamanan parpol yang cukup besar, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dengan kiprahnya di organisasi tersebut, namanya makin melambung di kalangan preman maupun politisi D.I.Y. Tidak sedikit para pembesar yang mengenal Mas Joko. Karena kecerdasan dan kemampuan berkomunikasi yang ia miliki, Mas Joko sering terlibat dalam lobi dengan para pembesar tersebut, demi kepentingan rakyat kecil yang ia perjuangkan nasibnya. Meski demikian kiprahnya itu seakan memunculkan kemenduaan dalam pribadi Mas Joko. Di satu sisi ia adalah seorang preman yang hidup dari jalanan. Di sisi lain, Mas Joko juga berteriak lantang atas nama organisasi yang notabene banyak memberangus bisnis-bisnis yang berada di jalanan.

Terlepas dari itu semua, kini Mas Joko sudah memperoleh hidup yang jauh lebih baik dari keadaannya semula. Secara ekonomi, ia kini sudah memiliki tiga mobil dan sebuah motor. Selain itu, di rumahnya terdapat berbagai aksesoris rumah tangga layaknya yang dimiliki oleh orang-orang kaya yang bermukim di real estate. Dengan kekuatan jaringan dan kepercayaan dari pihak aparat keamanan serta kecerdasan yang ia miliki, ia menjadi pemimpin di beberapa bisnis dunia hitam di Yogyakarta. Terhitung ada beberapa bisnis yang sampai saat ini masih tetap berdiri tanpa mengalami masalah yang berarti, baik dari masyarakat maupun aparat keamanan. Lagi-lagi ini karena kemampuan lobi canggih yang dimiliki oleh Mas Joko. Beberapa di antaranya adalah pedagang kaki lima (PKL) di sekitar kawasan Malioboro, perjudian dan prostitusi Pasar Kembang, serta Perjudian di Pasar Terban.

Sarkem, daerah kekuasaan Mas Joko (foto: www.panoramio.com)

Sarkem, daerah kekuasaan Mas Joko (foto: www.panoramio.com)

Preman, Membina Karir dan Relijiusitas

Untuk yang terakhir, Mas Joko seringkali meluangkan waktu terutama di akhir pekan untuk mengunjungi bisnis tersebut sembari memantau keadaan di sana. Tak lupa, ia juga mengambil “bagiannya” dan “bagian lainnya” untuk digunakan memberdayakan rakyat kecil. Salah satu wujud konkritnya adalah pembangunan masjid yang sampai saat ini sudah mencapai 18 buah. Adapun masjid yang baru saja dibangun di sebelah utara Pasar Terban yang diberi nama Al-Kariim. Masjid tersebut diresmikan oleh Mas Joko dan salah seorang ustadz kondang yang bernama Wijayanto. Kebetulan sang ustadz adalah kawan dekat Mas Joko.

Padanyalah Mas Joko memperdalam ilmu agama belakangan ini. Selain ustadz Wijayanto, Mas Joko juga berguru pada Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab di sapa Cak Nun. Selain aktif terlibat sebagai arsitek sekaligus pemborong masjid, setiap bulannya Mas Joko memberikan kajian keislaman pada warga masyarakat Badran dan para pelacur dari Pasar Kembang. Baginya, forum semacam ini dapat memberikan siraman rohani sekaligus membina para pelacur agar tetap memegang teguh kepercayaan agamanya. Dan yang terpenting adalah agar mereka percaya bahwa melacur bukanlah pekerjaan hina, selama hal tersebut bertujuan untu mempertahankan hidup.

Aktivitas Mas Joko boleh dibilang jauh lebih banyak dibanding dengan rekannya yang lain. Sebab ia mesti mondar-mandir ke luar Jawa, semisal ke Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, bahkan tidak jarang ia juga melancong ke luar negeri. Menurut pengakuannya, kunjungan ke luar kota atau ke luar negeri itu ia lakukan untuk mengetahui perkembangan terkini politik nasional maupun internasional. Hal tersebut memang memungkinkan bagi Mas Joko karena ia cukup fasih berbahasa inggris. Di samping itu Mas Joko juga tengah sibuk melanjutkan studinya menempuh gelar sarjana di program ekstensi Fakultas Hukum Universitas Janabadra, sebuah lembaga pendidikan yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Hal itu ia lakukan untuk memenuhi ambisi lamanya yang ingin menjadi pengacara. Maklum pendidikannya terputus beberapa puluh tahun lalu ketika ia tamat dari STM 17 Yogyakarta.

Mas Joko juga sibuk memantapkan keahlian berbahasa inggrisnya di bawah bimbingan salah seorang guru yang benama Pak Slamet. Beliau adalah seorang eks-aktivis PKI yang beberapa waktu lalu mengasingkan diri ke Uni Soviet ketika rezim Orde Baru masih berkuasa. Tujuannya adalah untuk melanjutkan studi ke negeri Belanda. Sembari itu Mas Joko bergegas menyelesaikan kuliahnya di Janabadra. [ ]


* M.A. bidang Antropologi-The Australian National University; Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta.

30 Juni 2011

Selanjutnya:

Biografi Preman-Preman Yogyakarta (2) Mas Kris: Preman Terban Berbasis Judi

Biografi Preman-Preman Yogyakarta (3-habis) Mas Yono: Sosok Sang Preman Jalanan

dalam: Etnohistori Edisional Jago, Preman & Negara, Juni-Juli 2011

Komentar:
  1. ho oh … aq pernah liat tuh pakde joko… orang nya tinggi besar … tapi udaah tobat bro… aq liat di uii jakal baru pentas kesenian sama ainun najib… salam … Healthcare Help

  2. Aji Daryono

    hahahaha Gun Jack to?????? :)))

  3. lemak

    Kiprah Mas JOKO kalau pakai sebenarnya mungkin layak dibukukan…

  4. Akhmad Yunianto

    Oo..gun jack maksudnya…smg bliau tenang di sisi-Nya.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

: :
Penulisan Sejarah Indonesia: Menuju “The New History”         Uang & Hutang dalam Pembentukan Peradaban Manusia         Pertanyaan tentang Metodologi Ilmu Sosial Indonesia         Pala, Otsus dan Kerentanan Identitas di Kaimana         Luruh dalam Kekuasaan. Lenyapnya Ilmuwan Sosial dalam Telaah Ilmu Sosial di Indonesia         Keterputusan Pemikiran Sosiologi di Indonesia         Melacak Perkembangan Antropologi Modern di Asia Tenggara         Yap Thiam Hien; Sang Warganegara         Mencari Jejak Koh I Noor         “Kamu India Asli atau India Palsu?”: Potret Tiga Perempuan dalam Keluarga Etnis India di Yogyakarta         Ah, India         Politik Identitas Mayoritas-Minoritas di India. Wawancara dengan Ram Kakarala         Fatwa Menentang Yoga: Mengurai Konflik Melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 2)         Fatwa menentang Yoga: Mengurai Konflik melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 1)         Perjalanan Panjang Mengenal Hindu di Yogyakarta         Praktek Rentenir masa Kolonial: Kehidupan orang Chetti di Medan akhir Abad ke-19―Awal Abad ke-20         Nasionalisme Jarak Jauh: Praktik Kultural Sebuah Keluarga India         Tanah Air (yang masih versi) Beta: “Membayangkan” Indonesia Timur dalam Film         Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (bagian 2): Kharisma Maulana Syaikh         Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (bagian 1)         Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (bagian 2)         Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (bagian 1)         “Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (2−selesai)         “Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (1)         Geliat Aristokrasi Dalam Politik Lokal Sumbawa         Dari Debat Geertz versus Hooykaas tentang Bali: Untuk Para Etnografer & Historian         Jiwa yang Patah: Ingatan Kekerasan dan Penderitaan di Tanah Papua         Menjadi Modern: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (3-Habis)         Kisah Lontar: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (2)         Kisah Lontar: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (1)         Lawan Abadi Tawuran Pelajar Kota Blitar (STMK vs STMI)         Jago dan Maskulinitas dalam Mitologi Pewayangan Jawa         Jawara dan Beragam Pemberontakan di Banten (2)         Jawara dan Beragam Pemberontakan di Banten (1)         Jagoan Jakarta Dalam Sejarah         Pecalangan dan Jagoan di Bali (3-Habis): “Dari Polisi Adat hingga Penyebar Teror”         Pecalangan dan Jagoan di Bali (2): I Wayan Doblag dan Mimpinya Menjadi Jagoan         Pecalangan dan Jagoan di Bali: Catatan Etnografis (1)         GPK: Dari Hobi Bacok, Menuju Parlemen Lokal         Saksikan Sendiri: Samson Jagoan Betawi Asli!         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (3-habis)         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (2)         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (1)         Si Pitung dalam Sinema         Geng dan Negara Orde Baru (2-habis)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (3)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (2)         Geng dan Negara Orde Baru (1)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (1)         Satu Tungku Tiga Batu: Hubungan Tiga Agama di Teluk Patipi, Fakfak         Papua, Mau Dibawa Kemana?         Freeport: Akar Separatisme Negara         Karena Terabaikan; “Menjadi Seniman Patung Bayangan”         Pemberdayaan Radio Komunitas bagi penguatan Identitas lokal di Tanah Papua         Politik Pemekaran Daerah dan Siasat Elit Lokal di Papua         Generasi Pertama Orang Dani Pemeluk Islam (3-Habis)         Sejarah Masuknya Islam ke Masyarakat Wamena-Papua (2)         Sejarah Masuknya Islam ke Papua (1)         Ukulele Mambesak: Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970-1980-an         Mencari Bentuk Film Indonesia (3-Habis): Lesunya Bioskop & Gagalnya Kebangkitan Film Indonesia         Mencari Bentuk Perfilman Indonesia (2): Genealogi Munculnya Film Seks, Kekerasan & Koboi         Mencari Bentuk Perfilman Indonesia (1): Revolusi & Nasionalisasi Film di Jaman Soekarno         Baku Hantam yang Keblinger dalam Merantau         Membioskopkan Santri & Pesantrennya         From Sex to Syahadat: The Market & Resurgence of Religion in Indonesian Cinema 1997-2011         Thank You, India (Movie)        

2011—2013 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762