ETNOHISTORI

Biografi Preman-Preman Yogyakarta (2)

Mas Kris: Preman Terban Berbasis Judi

 

oleh: Ulil Amri *

 

Menjadi Protestan Sekaligus Putera Veteran Perang

Mas Kris adalah bungsu dari sembilan bersaudara. Ayahnya adalah veteran pejuang kemerdekaan. Pun halnya dengan sang ibu. Keduanya bertemu tatkala aktif dalam kegiatan yang sama semasa era perjuangan dulu. Ayahnya yang menganut kepercayaan Protestan memberi pengaruh pada pribadi Mas Kris di kemudian hari. Sang ibu, yang mula-mula adalah seorang Muslim, telah berpindah keyakinan sejak dipersunting oleh ayahnya. Padahal, kakek Mas Kris atau ayah sang ibu adalah aktivis Muhammadiyah garis depan di Yogyakarta.

Dengan semangat ketentaraan bercampur doktrin-doktrin Protestan, Mas Kris bersaudara hidup dan bertumbuh dalam pengaruh keduanya. Semasa kecil Mas Kris diajarkan untuk hidup disiplin, ulet, dan mandiri layaknya seorang prajurit. Selain itu, ia juga dibentuk menjadi seorang pribadi yang selalu taat pada ajaran agamanya. Perlahan-lahan ia menjadi seorang Protestan yang taat.

Karena kedua orang tua Mas Kris hanya memperoleh penghidupan dari tunjangan sebagai bekas pejuang, sejak kecil, Mas Kris bersaudara sudah menempa dan untuk hidup prihatin. Dengan bermodalkan kos-kosan yang dimiliki orang rang tuanya. Mas Kris bersaudara menempuh pendidikan guna memperbaiki ekonomi keluarga di masa depan. Mas Kris bukanlah orang yang berprestasi di sekolahnya. Kendati demikian, ia sudah memiliki visi mengenai masa depannya. Setelah mengetahui ketidakmampuan keluarganya dan kemustahilan meneruskan studi ke jenjang yang lebih tinggi, Mas Kris memutuskan untuk berwirausaha.

 

Meniti Karir Sebagai Bandar

Pada tahun 1983, Mas Kris bertemu dengan seorang wanita berdarah campuran Sunda dan Manado di perantauan Jakarta. Pada tahun itu juga mereka berdua mengikat janji untuk sehidup−semati. Mas Kris bersama istri sudah memiliki tiga orang anak yang semuanya laki-laki. Ia memulai usahanya dengan membeli omprengan. Sekembali ke Yogyakarta, Mas Kris membeli satu mobil omprengan dengan trayek Yogya−Prambanan. Omprengan miliknya biasa mangkal di terminal Terban. Persis di sebelah selatan Pasar Terban. Praktis, tempat tersebut dekat dengan tempat tinggalnya. Perlahan-lahan usahanya makin meningkat. Dari uang hasil usaha tersebut, pada tahun 1997, Mas Kris mulai membuka bisnis kupon berhadiah atau yang lebih populer dengan sebutan judi totor. Tidak tanggung-tanggung, ia langsung bertindak sebagai bandarnya. Menurut pengakuannya, ia adalah orang yang pertama kali membuka usaha ini di area sekitar Pasar Terban.

Mengapa Mas Kris mengembangkan sayap usahanya ke wilayah ilegal seperti ini adalah pertanyaan yang menarik. Baginya, bisnis ini dilakoni karena ingin membantu orang lain yang secara ekonomi berada di bawahnya. Lagipula, ia sudah cukup lama bercengkerama dengan beberapa orang tokoh dari dunia preman, sejak ia remaja. Selain alasan di atas, Mas Kris juga merasakan bahwa dirinya punya keahlian yang agaknya tidak dimiliki oleh orang lain, yaitu, menekuni usaha perjudian.

Dalam menekuni usaha tersebut, Mas Kris tidak memungkiri banyak aral melintang di sekitarnya. Ia sadar sepenuhnya bahwa usahanya itu merupakan suatu bentuk penyimpangan. Ia tahu kalau usaha itu menjadi sorotan masyarakat karena dianggap haram, bertentangan dengan norma dalam masyarakat dan lain sebagainya. Belakangan, ia kemudian menutup usahanya itu. Keputusan itu ia ambil bukan karena digerebek atau ditutup secara paksa oleh masyarakat, melainkan karena perkembangan ekonomi yakni, semakin banyaknya pengeluaran untuk menutup mulut aparat keamanan. Maklum, setiap harinya, semakin banyak aparat yang meminta uang keamanan pada Mas Kris dengan janji akan menjaga keberlangsungan usaha tersebut. Di samping itu, bandar-bandar judi totor lainnya sudah banyak bermunculan. Akibatnya konsumen Mas Kris berangsur-angsur kurang. Ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran membuat Mas Kris terpaksa menutup usahanya itu, sembari rehat sejenak memikirkan bisnis lainnya yang jauh lebih menguntungkan.

 

Terban, Jalan Cornelis Simanjuntak-Yogyakarta**

Terban, Jalan Cornelis Simanjuntak−Yogyakarta**

 

 

Dunia Hitam, Dunia Putih

Dari hasil bandar judi totor di atas, kini Mas Kris sudah memiliki empat unit omprengan dengan trayek yang sama. Mas Kris juga mempunyai usaha lainnya yaitu, sebuah toko bengkel di Pasar Terban dan agen penjualan tiket bus trayek Yogya−Padang. Tiga unit usaha inilah yang menjadi pokok usaha Mas Kris. Setelah beberapa waktu menjalani masa rehat, Mas Kris kembali membuka usahanya. Dengan tetap berkecimpung di dunia hitam, ia membuka usaha perjudian bersama dengan rekan-rekannya yang lain. Kali ini bisnisnya lebih besar, sebab modal yang dikeluarkan tidak bisa dibilang sedikit. Tepat di tengah-tengah Pasar Terban, berdiri tiga buah meja judi. Tempat ini tenar disebut mesin judi. Di tempat ini, aktivitas orang-orang berjudi hampir-hampir tidak berhenti. Atas dasar ini Mas Kris memberanikan diri untuk terns mengupayakan agar bisnis judinya berjalan mulus.

Sejak pertama kali didirikan, Mas Kris langsung ditunjuk oleh rekan-rekannya sebagai koordinator. Hal ini dikarenakan Mas Kris adalah penduduk asli di arena tersebut. Selain itu, selama ini ia sudah dikenal dengan reputasinya mengelola judi totor dengan cemerlang, tanpa sekalipun disergap aparat. Berkat kepemimpinannya di wilayah tersebut, Mas Kris dan usaha perjudiannya tetap berjalan tanpa masalah yang berarti.

Demikianlah Mas Kris melewati hari-harinya dengan penuh lika−liku dan masalah. Akan tetapi semua itu dijalaninya dengan santai. Semua orang ia perlakukan secara baik dan terhormat, tak memandang tua dan muda. Baginya semua orang itu harus dihormati. Dengan sifat rendah hati dan bersahaja inilah ia disegani, dihormati dan disukai oleh siapa saja yang pernah bertemu dengannya.

Dengan perannya itu, Mas Kris justru semakin sibuk. Berbeda dari yang dulu. Sewaktu ia menjalankan bisnis judi totornya, ia hanya duduk santai menunggu datangnya pelanggan. Sekarang, ia harus mondar-mandir menghadapi setiap tamu yang datang mengunjungi arena judi. Mulai dari kalangan pejabat pemerintahan, keamanan hingga wartawan dan orang-orang partai politik. Semua orang ini datang dengan satu tujuan: meminta uang atau bantuan dari Mas Kris. Dengan kesibukannya itu, Mas Kris hampir-hampir tidak pemah lagi duduk dan bersantai bersama keluarga di rumah. Ketika berada di rumah, ia hanya tidur dan makan pagi. Selebih waktunya ia habiskan di arena judi. [ ]

 


* M. A. di bidang Antropologi−The Australian National University; Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta.


2 Juli 2011

** sumber foto

Selanjutnya:

Biografi Preman-Preman Yogyakarta (3−habis) Mas Yono: Sosok Sang Preman Jalanan

 

Etnohistori Edisional Jago, Preman & Negara

 

 

 

 

0 Tanggapan

    • Hello, guest

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org