Home / Edisional / Biografi Preman-Preman Yogyakarta (3−habis)

Biografi Preman-Preman Yogyakarta (3−habis)

Mas Yono: Sosok Sang Preman Jalanan

 

oleh: Ulil Amri *

 

Mas Yono, bukan nama sebenarnya, memiliki rupa khas sebagai seorang Jawa. Kulitnya sawo matang yang sudah tampak sedikit berkeriput tidak mengurangi penamakannnya yang keras dan sangar. Tubuhnya yang boleh dibilang tidak memperlihatkan ideal seorang preman ditepis dengan suaranya yang besar dan berserak. Meski berpostur sedang, Mas Yono memiliki otot yang kuat. Itu terlihat dari kesehariannya yang selalu memakai celana pendek berpasangan dengan baju kemeja ketat ketika berjaga di Pasar Terban. Otot-otot badannya seakan hendak merobek baju yang dipakainya itu. Kekhasan lain yang ada pada dirinya adalah adanya tato bergambar lambang perguruan beta din yang pernah dimasukinya, Perisai Sakti Mataram, yang terdapat pada tangan kanannya.

Semasa kecil, Mas Yono sudah menempa diri menghadapi kerasnya kehidupan. Ayah dan ibunya yang hanya bekerja sebagai buruh tidak tetap, tidak mampu memberikan kasih sayang berwujud materi kepada anak-anaknya. Keluarga Mas Yono jumlah saudaranya semuanya 8 orang harus hidup dalam kondisi serba hemat. Meski demikian, semua saudaranya masih sempat mengenyam pendidikan hingga jenjang SMA.

Mas Yono lahir di kampungnya sendiri, Jogoyudan, 58 tahun yang lalu. Keadaan ekonomi keluarga dan lingkungan sekitar banyak mempengaruhi Mas Yono. Sejak duduk di bangku SMP, Mas Yono sudah menunjukkan tabiat seorang manusia yang temperamental. Mentalnya yang nekat semakin terbentuk seiring dengan bertambahnya usia Mas Yono. Ketika menginjak kelas 2 SMA, salah seorang guru olahraga-nya membuat ia tersinggung. Tak sabar menghadapi sikap kasar sang guru, Mas Yono langsung memukulnya. Nasib sial menimpanya, pihak sekolah langsung mengeluarkannya tanpa peringatan terlebih dahulu.

 

Kampung Jogoyudan, tempat Mas Yono lahir & besar (foto: www.krjogja.com)

Kampung Jogoyudan, tempat Mas Yono lahir & besar (foto: krjogja.com)

 

Setelah dikeluarkan, mental nekatnya semakin menjadi-jadi. la sudah terbiasa mencopet, mencuri, serta memalak orang-orang. Suatu ketika ia menceritakan bagaimana kisahnya pertama kali berhadapan dengan orang yang sok jago. Tanpa berpikir panjang, orang tersebut langsung ia pukul hingga mengalami pendarahan serius pada sekujur wajahnya. Pada waktu yang lain, Mas Yono bersama teman-temannya yang gemar meminum-minuman keras terlibat perselisihan dengan pemuda yang notabene merupakan anak dari aparat keamanan yang menempati sebuah kompleks yang jaraknya tidak jauh dari Jogoyudan. Waktu ini, seorang temannya dipukul hingga babak belur. Karena tidak terima dengan perlakuan semena-mena dari anak-anak aparat itu, Mas Yono menggalang teman-temannya menyerbu kompleks aparat tersebut. Dengan demikian terjadilah tawuran antara anak-anak kompleks dengan anak muda dari kampung Mas Yono.

Perlahan-lahan Mas Yono akrab dengan penjara sebagai akibat dari ulahnya itu. Ketika, menjalani masa bebasnya, Mas Yono dipekerjakan sebagai bagian keamanan di Pasar Beringharjo. Sang bos memberi kepercayaan padanya karena sebelumnya sudah melihat aksi-aksi Mas Yono di jalanan. Pekerjaan ini sangat disyukuri oleh Mas Yono karena sebelumnya, ia hanyalah seorang kuli di pasar tersebut.

Suatu ketika, peristiwa penting terjadi. Mas Yono telibat bentrok dengan seorang Madura. Orang tersebut sering berulah di sekitar kampung Mas Yono. Keduanya sama-sama emosi hingga keduanya pun terlibat kontak fisik hebat. Baik Mas Yono maupun Si Madura, sama-sama menggunakan senjata tajam. Nasib baik berpihak pada Mas Yono, Si Madura akhirnya tewas oleh sabetan samurai Mas Yono. Akibat peristiwa itu, ia harus kembali ke penjara untuk kesekian kalinya. Namun kali ini hukumannya agak lama, satu setengah tahun.

Kasus lain yang tak kalah hebatnya adalah konflik Mas Yono dengan seorang aparat CPM (Corps Polisi Militer). Tak tanggung-tanggung, Mas Yono langsung menebas leher orang tersebut. Lagi-lagi karena ulahnya, ia kembali harus meringkuk sebagai tahanan di LP Wirogunan. Dari kumpulan masa lalu yang penuh darah itulah Mas Yono memulai hidupnya sebagai seorang preman pengembara. Karirnya sebagai penjahat kelas kakap dimulainya pada tahun 1970 saat ia merantau ke Semarang. Di sana ia benar- benar merasai dirinya sebagai seorang penjahat yang mengalami masa-masa jaya. la tidak segan-segan harus ke jalan untuk merampok orang baik yang sedang naik becak, kereta api, maupun bis kota.

Satu kali ia berhadapan dengan beberapa orang preman yang menjadi musuhnya, ia dipaksa untuk menyerah karena diserang oleh beberapa orang yang bersenjatakan pisau dan lain sebagainya yang datang dari segala penjuru mata angin. Tapi untungnya, ia berhasil melalui pertarungan itu dengan kemenangan. Meski mengalami sedikit luka, tapi luka itu hanya berupa bekas pukulan saja, sedangkan luka yang berupa tusukan hampir-hampir tak terasa olehnya. Itu karena sebelum memasuki dunia kepremanan, Mas Yono sudah dibekali dengan berbagai jimat kekebalan dan penolak bala dari beberapa orang guru.

“Saya pernah ke Pacitan. Di sana ketemu sama Pak Kyai. Di situ saya dikasih besi yang panjangnya sekitar lima belas sentimeter. Itu disimpan di badan saya kebal dari besi senjata tajam kata Pak Kyai. Ada juga yang ngasih saya batu, biar dipukuli nggak terasa sakitnya” (Wawancara dengan Yono pada tanggal 26 Juni 2005)

 

Ketika peristiwa Malapetaka Limabelas Januari (Malari) bergema pada tahun 1974, Mas Yono termasuk dalam salah satu barisan yang melakukan aksi demontrasi di jalan-jalan kota Jakarta. la ikut ambil bagian dalam penjarahan toko-toko dan pembakaran mobil-mobil dan kendaraan motor lainnya Akibatnya, Mas Yono dijebloskan kembali ke dalam bui untuk kesekian kalinya. Kali ini masa hukumannya cukup singkat; hanya dua bulan. Kurang lebih dua tahun Mas Yono menekuni usaha jual beli narkoba. Pada tahun 1976, ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman Yogyakarta.

Di kota kelahirannya ini, Mas Yono kembali menjadi preman jalanan. Berselang dua tahun setelah ia kembali ke Yogyakarta. Dari hasil perkawinannya, Mas Yono mempunyai tiga orang anak. Anak pertama adalah laki-laki, lahir tahun 1979. Sekarang anak pertamanya ini sudah bekerja di sebuah bar di bilangan jalan Mangkubumi.

Dengan reputasi premannya di masa lalu, Mas Yono turut dimasukkan ke dalam target operasi aparat. Banyak di antara teman-teman Mas Yono tewas ditumpas aparat pada saat kejadian Petrus (Penembakan Misterius). Pada tahun 1984 ia bersumpah pada dirinya sendiri untuk keluar dari dunia hitam. Keinsyafannya ini ditandai dengan dilepasnya berbagai jimat dan susuk yang menempel di tubuhnya selama ini. Sejak saat itu itu, ia kemudian bergabung dengan satgas Golkar wilayah Kecamatan Jetis guna menyukseskan pemilu tahun 1987. Tidak tanggung-tanggung, ia langsung diberi posisi sebagai komandan. Lalu pada tahun 1992, Mas Yono kembali ditawari menjadi satgas, namun kali ini perannya lebih bergengsi, pasalnya ia ditempatkan sebagai pasukan siluman yang kesemuanya direkrut dari kalangan preman. la merasa amat bangga dengan posisinya itu. Dan, pada tahun 1997, Mas Yono kembali menaiki tangga karirnya. la ditunjuk untuk masuk dalam salah satu pasukan elit milik Golkar yang bernama Passus (pasukan khusus) CAKRA yang beranggotakan preman dan mahasiswa pilihan.

Setelah 14 tahun menjadi preman, akhirnya Mas Yono berhenti. Demi anak istrinya, kini ia bekerja sebagai keamanan Pasar Terban. Pekerjaannya di tempat ini bermula dari perkenalannya dengan Mas Kris (lihat Biografi Preman−Preman Yogyakarta bagian 2) yang pertama kali mereka jalin sekitar 30 tahun yang lalu. Mereka berdua sudah lama akrab dengan bisnis dunia hitam. Mas Yono diberi kepercayaan untuk menjaga keamanan di wilayah Terban. Di Pasar Terban ini, Mas Yono adalah anak buah Mas Kris. Setiap harinya Mas Yono diberi jatah sejumlah uang tertentu untuk melaksanakan tugasnya sebagai keamanan pasar. Di samping itu, apabila Mas Yono mengalami kesulitan ekonomi atau mempunyai hajat, Mas Kris selalu menjanjikan kepadanya bahwa ia akan selalu membantu Mas Yono. [ ]

 

* M. A. di bidang Antropologi−The Australian National University; Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta.

 

4 Juli 2011

 

Etnohistori Edisional Jago, Preman & Negara

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

7 Tanggapan

  • Hello, guest
  • hampir semua preman yang anda tulis saya pernah berjumpa, Mas Gun kini telah pulang pada sang Khalik, semasa kuliah beliau gemar bagi-bagi rejeki di Kantin hehehehe, gayanya pun santai.

    dunia perjudian ditengah pasarpun juga sudah tidak ada, pasarnyapun juga tidak seramai dahulu, orang-orang terban kini sudah banyak berubah, karna tuntutan hidup mereka banyak mengelola parkiran dan berdagang.

    BASTER

  • Materi bagus, menarik. Sayangnya ditulis dengan teknik penulisan yg kurang matang. Sepertinya penulis kurang biasa menulis untuk kalangan publik.

    Catatan: penyebutan “Si Madura” terkesan rasis. Bandingkan saja kalo ‘si’ disandingkan dengan etnis.
    -Si Cina itu… Si Jawa itu….. Semestinya penulis yg sekolah di Ostrali setinggi langit, antropolog pula, cukup sensitif dengan soal sosio-linguistik macam ini. (bandingkan dengan: Si Orang jawa itu, si orang madura itu….