ETNOHISTORI

Budaya Kebersihan dalam Sejarah Indonesia

Cleanliness & Culture. Indonesian Histories *

Kees van Dijk & Jean Gelman Taylor (Eds.)


Ulasan Buku oleh: Hatib Abdul Kadir **

Di periode akhir pemerintah kolonial, makna bersih bukan hanya mengenai tubuh yang higienis, namun juga terjauh dari penyakit menular yang dibawa oleh masyarakat miskin. Sedangkan di masa pemerintah Orde Baru, orang-orang yang dianggap “bersih” adalah mereka yang tidak terlibat dalam segala aktivitas Partai Komunis Indonesia (PKI) di masa lalunya. Buku ini sangat penting dalam melihat perkembangan sejarah politik kebersihan dan perubahan maknanya dari waktu ke waktu, dari satu sistem pemerintahan ke pemerintahan yang lain. Munculnya ide kebersihan juga menyebabkan terciptanya ruang-ruang pembatas antara ruang publik dan privat.

 

Batas Higienitas: Dari Sungai Menuju Kamar Mandi

Pada awalnya di Indonesia, mandi dan keramas adalah aktivitas sehari-hari di sungai yang dapat dilihat oleh publik. Bukan hanya rakyat kecil, bahkan para raja pun mandi di kolam-kolam besar, seperti di Taman Sari, Yogyakarta, yang dapat dilihat oleh lebih dari satu pasang mata. Namun demikian, semenjak masuknya pemerintah kolonial yang memperkenalkan klasifikasi ruang-ruang dalam rumah, seperti kamar mandi (bathroom) dan toilet (WC), aktivitas mandi kemudian menjadi bersifat privat. Perkenalan terhadap teknologi toilet ini bukannya tanpa masalah. Kees van Dijk di bab awal mengungkapkan bahwa terjadi ketakutan pada teknologi toilet ketika petama kali dikenalkan. Masyarakat belum begitu bisa menerima logika bagaimana begitu banyak orang dapat buang air besar dalam satu lobang yang kecil dan gelap. Namun semenjak toilet diterima masyarakat luas, di sanalah peradaban kebersihan mulai terbangun. Klas menengah modern mulai menciptakan batas antara ruang publik dan privasi. Kemunculan ruang privasi tampak dengan diciptakannya pemisahan ruang berdasarkan fungsi: kamar mandi, kamar tidur, dapur dan desain interior yang semuanya tidak dapat dilihat oleh publik. Tujuannya bukan hanya untuk mengkreasikan rasa individualitas, tapi juga higienitas dari ancaman dunia luar yang dianggap polutan.

Batas lain yang diperkenalkan adalah dengan memunculkan sabun dan shampoo pada abad 19. Masyarakat mulai mengenal perbedaan antara bau dan wangi. Pada abad sebelumnya, sabun digunakan untuk mencuci pakaian, bukan untuk mencuci tubuh. Namun sejak sabun diciptakan untuk tubuh, mulai muncul rasisme dalam iklan-iklan di tahun 1920-an. Seperti dalam Harian Bintang Soerabaia. Mereka yang menggunakan sabun adalah yang kulit putih, sedangkan yang tidak adalah berkulit gelap dan bau, dan pastinya adalah orang-orang pribumi terjajah (hal. 26). Van Dijk mendapatkan laporan tentang kebersihan dari berbagai sumber seperti karya-karya sastra Abdullah bin Abdulkadir bin Munsyi dan catatan Thomas Stamford Bingley Raffles ketika berada di Hindia Belanda. Dalam laporannya, Dijk menjelaskan bahwa bukan hanya misionari yang membawa ide kebersihan ke masyarakat kolonial, namun juga para perempuan Belanda yang mempraktikkan kebersihan.

Perempuan sebagai garda depan penjaga kebersihan ini dijelaskan oleh Jean Gelman Taylor di bab 2, Kebersihan di mata perempuan berkaitan erat dengan “higienitas” (kosakata yang tidak ada dalam kamus Indonesia, seperti juga kata “privasi”). Ketika Terusan Suez dibuka pada tahun 1870, sebelum berangkat ke Hindia Belanda, di kota Delft dan Den Haag (the Colonial School for Women and Girls), para istri mendapatkan kursus: laundry, mencuci, makan dengan sendok dan garpu, menyetrika dan mengganti pakaian. Konsep higienitas ini mengacu pada klas menengah, karena menjadi higienis dilakukan dengan cara menjauhi masyarakat klas bawah yang kotor dan tidak tahu kebersihan. Metode yang dilakukan oleh Taylor dalam melihat higienitas adalah dengan memeriksa data yang tersedia pada data gambar-gambar di KITLVLeiden. Tampak berbagai keintiman dalam rumah yang membedakan antara majikan dengan pembantu, serta praktik cuci-mencuci dan aktivitas mandi di sungai. Ia juga mendapatkan bukti-bukti pola penjagaan higienitas masyarakat kulit putih dari hasil jepretan Kassian Cephas, seorang kameramen Jawa di abad 19.

 

Politik Definisi “Kebersihan”: Permasalahan Identitas, Klas & Ideologi

Masyarakat yang merasa dirinya lebih bersih sesungguhnya lebih mempunyai kuasa dan eksklusif dalam memaknai mereka yang dianggap “kotor”. Bukti bahwa kotor dan penyakit adalah cerminan dari klas bawah ditampilkan oleh Mary F. Somers Heidhues di bab 3. Penulis mengungkapkan bahwa penyakit Beri-Beri yang menyerang di kawasan pertambangan Bangka-Belitung, pada awal abad 20, dikarenakan tidak higienisnya teknologi mengolah beras yang hendak dimasak. Jenis penyakit Beri-Beri ini lebih banyak menyerang mereka yang tidak mempunyai standar higienitas dalam mengasup makanan, seperti para kuli pekerja tambang, tentara dan narapidana. Penyakit ini menimbulkan kepanikan di kalangan klas menengah karena dianggap menular layaknya penyakit kelas bawah lainnya, seperti kolera, TBC dan AIDS. Karena itu, orang-orang Cina pekerja tambang ditolak untuk dievakuasi kemanapun (baik itu kembali ke Cina atau sekedar ke Singapura), melainkan harus tetap tinggal di barak. Tersebarnya penyakit Beri-Beri semakin memperkuat kambing hitam bernada rasis, bahwa orang Cina secara alami memang jorok dan tidak dapat menjaga kebersihan.

Demikian pula, David Henley, sejarawan ahli Sulawesi Utara, di bab 4 menjelaskan bahwa jenis penyakit masyarakat miskin lebih dikarenakan mereka tidak dapat mengakses air dan makanan serta perumahan yang bersih. Henley membandingkan orang-orang yang tinggal di kawasan perbukitan dan daerah terpencil seperti di Poso dan Sangihe Talaud dengan masyarakat urban kolonial yang tinggal di kawasan Manado dengan air melimpah. Air menjadi alat penting untuk penjaga kebersihan. Ia berkesimpulan bahwa masalah kebersihan berkaitan erat dengan angka kematian dan harapan hidup. Semakin bersih, semakin panjang umur seseorang. Karena itu Henley berasumsi, bagi orang miskin pipa air jauh lebih dibutuhkan, dibanding sebuah rumah sakit (hal. 102). Selain itu, perumahan yang ditempati oleh banyak kerabat lebih beresiko pada cepat tersebarnya penyakit kulit. Dan rumah yang tidak mempunyai jendela dengan asap perapian yang berputar di dalam, berakibat pada resiko kerusakan mata.

Di ranah yang lebih politis dan metaforis, Marieke Bloembergen di bab 5, mengungkapkan bahwa definisi “kebersihan” juga mengacu pada orientasi seksual. Di akhir periode kolonial, para polisi Hindia Belanda menangkapi pasangan-pasangan homoseks yang dituduh melakukan tindak kejahatan. Alasannya untuk menjaga higienitas peradaban. Orientasi seks kalangan homoseks dianggap layaknya penyakit yang dapat menular. Kebersihan bukan hanya menyangkut masalah fisik ketubuhan, tapi juga untuk menjaga moralitas, kesopanan dan keamanan publik. Karena itu, menertibkan masyarakat berorientasi homoseks, sama tugasnya dengan membasmi prostitusi dan juga perdagangan anak. Kebijakan ini tidak lepas dari pengaruh Christian State Party di Batavia yang mengkampanyekan kesucian masyarakat jajahan (hal. 130). Pada saat yang sama pembesihan moral ini bertujuan untuk menunjukkan wajah beradab pemerintah kolonial.

Di bab 6 dan 7, tulisan George Quinn, ahli Jawa dari Australian National University (ANU) dan Bart Barendregt, seorang antropolog dari Universitas Leiden seakan-akan manawarkan wajah lain dari semua bab sebelumnya. Sejarah kebersihan, meliputi kemunculan WC, tisu, garpu, sabun, yang dianggap berawal dari peradaban kebersihan negara-negara koloni, Inggris, Belanda, Spanyol dan Perancis. Di bab terakhir ini tampak masyarakat Asia memunculkan makna “kebersihan” yang tidak hanya bersifat duniawi, namun juga mengarah ke arah “kesucian” spiritual. Quinn menunjukkan bahwa aktivitas kebersihan, seperti padusan (ritual mandi) dan kramasan (mencuci rambut) merupakan upacara membersihkan diri masyarakat Jawa secara simbolis. Bukan hanya semata pembersihan fisik namun juga menyucikan diri dari perilaku dosa. Senada dengan Quinn, antropolog Barendregt melihat bahwa munculnya fenomena spa (lulur dan mandi air hangat) pada masyarakat Asia tidak berhubungan dengan definisi kebersihan masyarakat Eropa. Fenomena masyarakat klas menengah Asia modern datang ke spa terjadi pada tahun 1990-an, lebih untuk merayakan aktivitas kebersihan yang sadar lingkungan dan kembali ke alam. Spa adalah aktivitas kebersihan yang digabungkan dengan tujuan kesehatan, praktik spiritual dan juga penyembuhan.

Klas menengah posmodern bergerak kembali ke alam dengan mendatangi berbagai pemandian tradisional (tirta) yang berada dekat dengan candi-candi di Jawa dan di Bali. Selain itu, terdapat pula berbagai spa yang menawarkan suasana “eksotisme Asia”. Di dalamnya terdapat jasa terapi, yoga, hipnoterapis bahkan para monk yang menawarkan sugesti spiritualitas. Bahkan di sebuah spa Martha Tilaar terkenal, mempunyai paket pengantin seperti “mandi Ken Dedes” yang menggabungkan antara modernitas dan tradisionalitas Asia. Spa adalah bagian dari kemunculan gerakan Asia yang menselebrasikan makna kebersihan dan spiritualitas masa lalu yang sempat terlupakan.

Buku ini tidak mendefinisikan konsep kebersihan secara ketat, sehingga makna kebersihan dianalisis dengan penuh metaforis dan lebih bebas. Di beberapa analisis, bahkan penulis terlalu jauh lari dari kerangka pembahasan tentang kebersihan. Pembaca seakan kemudian merasa tersesat karena topik pembahasan yang lari kemana-mana. Namun demikian, buku ini tetap menyajikan kepada kita bahwa “kebersihan” yang beraneka ragam, bukan hanya permasalahan tubuh, tapi juga pakaian, rumah dan lingkungan sekitar hingga ideologisasi pemerintah. [ ]

 

28 Februari 2012

 

* klik untuk rincian & unduh buku

** Pengajar Antropologi Budaya―Universitas Brawijaya

 

 

ULASAN BUKU

 

 

3 Tanggapan

    • Hello, guest

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org