Home / Topik / Catatan / Catatan atas Catatan: Kritik atas Catatan Hatib Abdul Kadir “Krisis Kapitalisme dan Solusinya”

Catatan atas Catatan: Kritik atas Catatan Hatib Abdul Kadir “Krisis Kapitalisme dan Solusinya”

Catatan oleh: Farabi Fakih *

 

Artikel yang berjudul ‘Krisis Kapitalisme dan Solusinya: Catatan Antropologi Ekonomi Politik‘ merupakan tulisan yang ambisius apalagi ia diutarakan dalam beberapa ribu kata. Seperti banyak tulisan Hatib Abdul Kadir lainnya, artikel ini sangat menggugah pikiran seputar ide dan permasalahan modern masyarakat. Etnohistori, sebagai tempat berkumpul anak-anak muda, memiliki etos untuk mengedepankan pemikiran-pemikiran yang nyeleneh dan menggugah. Etnohistori juga membuka kesempatan pengutaraan pendapat dari berbagai sudut pandang. Ada beberapa catatan penting yang ingin saya utarakan justru karena saya fikir ide dasar Hatib menarik dan penting, tetapi juga butuh pemikiran lebih lanjut dalam kancah diskusi Etnohistori.

Ide utama dalam catatan Hatib adalah bahwa kapitalisme itu sedang dalam keadaan krisis karena ketidak-mampuannya menyelesaikan berbagai permasalahan yang beragam. Hatib merujuk pada ‘kegagalan’ Nelson Rolihlahla Mandela melakukan revolusi masyarakat pasca-Apartheid dan peningkatan dari “daerah kumuh, pengangguran tinggi… isu ras dan klas yang semakin berkelindan dan banyaknya orang kulit hitam yang miskin”. Walaupun Afrika Selatan merupakan negara menengah (dengan pendapatan per kapita sekitar 10.000 US Dollar) dengan tradisi ketimpangan sosial yang sangat tinggi (dan rasialis), ia menyalahkan kapitalisme neoliberal sebagai akar-akar dari kegagalan tersebut. Tidak peduli bahwa negara Apartheid itu punya kebijakan welfare yang mengikuti nilai-nilai ‘komunitas’ (termasuk untuk orang-orang kulit hitam sekalipun) dan bukan nilai-nilai individual. Tidak peduli pula bahwa sepanjang abad ke-20, telah diusahakan beragam bentuk masyarakat non-pasar yang bersandar pada negara (atau komunitas) yang jauh lebih gagal daripada Afrika Selatan.

Hatib menawarkan ide baru pengganti kapitalisme ‘fictitious’, yang selalu terombang-ambing akibat modal yang tidak pernah menyentuh tanah tapi mengalir dalam sungai permodalan yang cenderung mengakibatkan krisis-krisis ekonomi yang terus menerus, yaitu balik kepada komunitas dan bentuk-bentuk kultural dari kehidupan ekonomi. Cara hal ini dapat diwujudkan agak membingungkan bagi saya. Pertama, Hatib membenarkan hak milik dan menggunakan pandangan Hegelian terhadap hak milik asasi individual. Ia mempermasalahkan bukan hak milik (individual), melainkan akumulasi modal. Tetapi di bagian akhir catatan, ia mengkritik pasar yang terdiri atas individual. Pasar yang baik bukanlah terdiri atas individu, melainkan atas komunitas. Kedua, ia mengutip beberapa penelitian amat menarik dari antropolog di Indonesia dan beragam tempat di dunia pada komunitas-komunitas pra atau non-pasar, contoh di Sumba, Kalimantan dan beragam tempat lainnya. Kita akan balik kedua poin ini dalam perbincangan di bawah.

Menurut saya, ide bahwa kita bisa me-reka ulang sistem perekonomian berdasarkan atas azas-azas komunal dan kemasyarakatan merupakan ide yang romantis dan menarik. Saya setuju sepenuhnya dengan Hatib bahwa kapitalisme dan negara itu adalah dua sisi dari mata uang yang sama (ide Polanyian). Oleh karenanya, saya terkejut bahwa Hatib tidak sama sekali membahas mengenai ide-ide anarkis yang melihat bahwa cara untuk ‘bebas dari kapitalisme’ itu harus berakar pada kebebasan dari bernegara itu sendiri. Saya sendiri tidak sepenuhnya percaya bahwa permasalahan kita dapat selesai jika kita meninggalkan kapitalisme. Tapi poin-poin mengenai individu dan komunitas, negara dan pasar itu harus kita pikirkan erat-erat dalam pembahasan mengenai ini.

Mari kita kembali kepada tesis yang ditawarkan Hatib: permasalahan antara hak milik dan komodifikasi kerja. Kalau balik ke ide-ide Lockean mengenai hak milik[1], akar dasar dari hak milik yang inalienable dari manusia ada pada tubuh manusia. Itu satu-satunya bagian dari alam semesta yang dapat tanpa ragu dinyatakan sebagai milikmu (atau sebenarnya milik Tuhan). Ide hak milik berakar dari ide akan hak Tuhan atas alam semesta: hak Tuhan atas alam semesta dan semua yang ada di dalamnya (termasuk saya, kamu dan semua orang) adalah bahwa Tuhan merupakan penciptanya. Ide ini lalu ditarik ke ranah sekuler untuk menjelaskan mengapa kamu berhak memiliki sesuatu di luar tubuhmu: kamu berhak memiliki sesuatu yang kamu ciptakan. Artinya, kamu berhak memiliki panenmu karena itu adalah hasil kerja kerasmu. Kerja adalah satu-satunya ekstensi dari hak milik tubuhmu. So far so good. Ide ini mendukung pandangan Marxis mengenai pencurian nilai (selanjutnya saya sebut: value) dari para pekerja pabrik dan komodifikasi dari labor sebagai akar-akar dari produktivitas kapitalisme dan modal. Hatib mengkritik ide Adam Smith bahwa value berakar dari pertukaran. Ia setuju dengan Karl Heinrich Marx bahwa value berakar dari kerja.

Permasalahan akan asal-muasal value adalah permasalahan panjang ilmu ekonomi. Kaum fisiokrat mengatakan bahwa value berasal dari tanah, Smith yang hidup di zaman Merkantilis merujuk pada perdagangan sebagai akar muasal dari value. Marx tentunya mengatakan bahwa value itu berasal dari kerja. Alasan mengapa modal dapat terus menerus berlipat-ganda (dan kapitalis terus menerus tambah kaya) adalah karena mereka mencuri value dari pekerja. Ketika modal berekspansi, ia mengubah hubungan-hubungan sosial menjadi hubungan ekonomis tingkat individual. Ia mengubah seorang anggota masyarakat menjadi pekerja. Lebih penting lagi, ia ‘mengalienasikan’ hak milik tubuhnya. Hak milik individu hilang karena kerjanya tidak lagi menjadi menjadi hak miliknya, melainkan menjadi hak milik kapitalis/modal. Kita semua adalah proletar karena kerja kita diupah dan karena kita butuh upah itu. Dan menurut karangan ini, adalah asal-muasal dari semua permasalahan dunia. Di bagian akhir kita akan balik kembali ke permasalahan value ini dan akar-akarnya.

Yang pertama diangkat Hatib adalah akumulasi modal dan hancurnya hak-hak komunal. Ia mencontoh hak komunitas atas sumber air dan bagaimana hak itu tercerabut ketika perusahaan air datang mengambil alih sumber itu. Menurutnya, hilangnya hak komunal disebabkan oleh karena satu hal: sifat akumulatif dari modal. Apakah ini benar? Pertama, mari langsung masuk ke hal yang obvious: komunitas itu bersifat ekslusif. Dalam sejarah umat manusia, komunitas dibentuk oleh ikatan kekerabatan[2] (selanjutnya saya sebut kinship). Perang, pembunuhan, perbudakan yang dilakukan atas satu komunitas terhadap komunitas lainnya itu adalah norma bukan sesuatu yang unik. Hal ini bahkan terlihat pada perang di antara group kinship monyet atau chimpanzee. Yang menakjubkan dari kemunculan negara modern terletak pada kemampuannya menciptakan ikatan identitas yang lebih luas daripada kinship yang terejawantahkan dalam bentuk birokrasi rasional. Tidak ada komunitas yang berdasarkan pada penguasaan birokrasi rasional (a la Weberian)[3]. Meromantisir komunitas sebagai sesuatu yang inherently lebih bagus dibandingkan dengan kebebasan individual adalah disingenuous. Lebih dari itu, ia bukan merupakan jawaban atas permasalahan yang dihadapi oleh peradaban modern kita.

Kedua, hak-hak komunal itu dihancurkan bukan sebagai akibat dari modal, melainkan karena ketiadaan dari hak milik atasnya. Sejarawan menyebut fenomena ini sebagai tragedy of the commons.[4] Ronald Harry Coase, ekonom institusional yang telah mendapatkan penghargaan nobel, telah banyak menelaah akibat-akibat pada sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh siapapun.[5] Salah satu contoh paling jelas adalah polusi. Dalam tragedy of the commons, sumber alam yang bebas itu biasanya digunakan secara sebebas-bebasnya oleh beragam komunitas dan anggota-anggotanya. Karena ia tidak dimiliki oleh siapapun, tidak ada yang bertanggung-jawab atasnya. Pertanggung-jawaban komunal itu memang satu jawaban, tetapi ia bukan sesuatu yang otomatis ampuh. Contoh, kegagalan ekologis yang menyebabkan keruntuhan peradaban merupakan norma bukan keunikan. Sudah ada ratusan peradaban dan masyarakat, dari yang relatif kecil seperti penduduk Pulau Easter di Pasifik sampai kekaisaran Romawi yang runtuh sebagai akibat dari ketidakmampuan menjaga keseimbangan ekologis. Apakah kapitalisme dan modal merupakan satu-satunya penyebab? Agak sulit untuk membenarkan hal itu. Banyak dari komunitas yang ambruk secara ekologis merupakan komunitas pra-kapitalis.

Dalam hampir semua kasus, komunitas (dan negara) beserta ideologi atau agama yang menaungi pemahamannya akan cara-kerja dunia adalah akar penyebab dari kehancurannya sendiri. Raja atau gereja yang punya monopoli atas model cara kerja alam semesta itulah yang seringkali mendorong sebuah komunitas atau masyarakat ke perjalanan menuju kehancuran. Ini penting sekali untuk dicamkan: komunitas itu bersifat hirarkis. Menggunakan hasil karya etnologi komunitas terpencil dengan jumlah anggota terbatas (yang mungkin sudah stabil dengan lingkungan sekitarnya) menyebabkan bias terhadap cara kita memahami komunitas dan masyarakat manusia. Ia meromantisir kemampuan komunitas untuk hidup sejahtera dengan tetangganya, dengan alamnya dan dengan dirinya sendiri. Pertanyaannya: apakah ide-ide akan komunitas dan hubungan sosial ‘pra-kapitalis’ itu bisa digunakan sebagai modal untuk sebuah masyarakat yang jumlah penduduknya bermilyar dengan kekompleksitasan yang menakjubkan?

Berhubungan dengan ini dan kritikan paling pedas terhadap Marxisme (mungkin Marxisme lama? Apakah Marxis pasca-otokritik mungkin berbeda?) adalah rasa kecurigaannya terhadap individu dan hak individu. Seperti kata Hatib, permasalahannya adalah bahwa pasar itu berdasarkan pada individu dan bukan atas komunitas. Sejujurnya, saya tidak tahu pasar macam apa yang berdasarkan atas komunitas. Tetapi lebih penting lagi, saya ingin menekankan betapa pentingnya nilai individu itu sendiri. Marxis pada abad ke-20 mengagungkan negara sebagai bentuk yang bisa paling diandalkan untuk mewujudkan komunisme. Negara, sebagai organisasi rasional yang besar, digunakan untuk melakukan eksperimen sosial dan ekonomi untuk menghilangkan pengaruh pasar dan individu(alisme). Akibat dari eksperimen ini adalah serangkaian tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah umat manusia. Joseph Stalin dan Mao Tse Tung diperkirakan menyebabkan terjadinya kematian terbanyak atas umat manusia di abad ke-20.

Hatib benar ketika menunjuk bahwa negara juga menguat di Barat pula. Kemunculan welfare state dan sosialisme terjadi pula di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Tetapi mengapa ia tidak mengakibatkan kematian besar-besaran penduduknya sendiri (walaupun terjadi kematian banyak orang pada perang proxy Perang Dingin)? Saya pikir alasan utamanya adalah adanya apa yang disebut Karl Raimund Popper sebagai Open Society. Atau kalau mau lebih to the point lagi: alasan mengapa sosialisme di Amerika Serikat dan Eropa Barat itu tidak menyebabkan horor seperti yang terjadi di negara-negara Komunis adalah disebabkan karena kuatnya nilai individualis dan nilai-nilai liberal lainnya. Ini poin penting: hak milik individual dan nilai liberal individualisme mempunyai akar filsafat yang sama. Ia berakar pada nilai etis yang telah diutarakan oleh Hatib di artikelnya: consensual contract. Kontrak consensual itu tidak bisa diatas-namakan oleh komunitas. Karena kamu pada akhirnya berhak atas tubuhmu. Dan hak itu tidak bisa di-supersede oleh hak komunitas ataupun hak negara. Nilai ini adalah akar dari nilai hak milik pula. Karena hak individual pada hakikinya adalah hak milikmu atas tubuhmu. Open Society-pun hanya dapat berfungsi ketika hak individual itu dihargai sepenuhnya. Open Society adalah pengejawantahan daripada pasar ide. Penting sekali untuk memahami mengapa pasar itu esensial dalam pemahaman kita mengenai demokrasi. Ide dasar dari pasar adalah kompetisi. Kompetisi yang paling murni diwujudkan pada tingkat individual.

Mengapa pasar itu penting? Karena kompetisi massal pada tingkat individual merupakan satu-satunya model yang kita ketahui yang dapat memberikan jawaban atas permasalahan-permasalahan yang muncul. Ini adalah pernyataan yang berani sekali, tentunya. Hatib mengutip Slavoj Žižek dan mengatakan bahwa nilai khusus dari Marxisme adalah kemampuannya melakukan otokritik. Saya kurang paham apakah otokritik Marx dapat sepenuhnya membebaskan diri dari ide-ide dasar Marx sendiri? Jika tidak, bukankah pada tingkatan fundamental otokritik itu dibatasi oleh batasan Marxisme orisinil? Apa yang ditawarkan oleh pasar adalah kemampuan ‘otokritik’ pada tingkatan yang lebih fundamental. Ini karena bentuk evolusioner dari algoritme yang value free. Artinya, ia tidak diikat oleh akar-akar ide model kerja dunia, melainkan oleh ide kompetisi pada tingkat paling hakiki: sebagai seorang manusia. Open Society adalah keadaan di mana terdapat sebuah pasar ide kompetitif yang tidak didistorsi oleh monopoli kekuasaan ide tertentu.

Hatib menunjukkan bahwa pasar seringkali tidak berfungsi dan malah menyebabkan ketidak-adilan dan pendzaliman terhadap komunitas tertentu. Seperti yang sudah ditunjuk: terjadi banyak sekali penyelewengan pasar sebagai akibat inheren daripada cara manusia mengorganisasi kekuasaan. Ini penting sekali untuk dicamkan! Pasar mengalami kegagalan karena consensual contract itu dibatalkan sebagai akibat dari monopoli kekuasaan. Seperti yang sudah diutarakan, pelanggaran terhadap kemanusiaan justru sering terjadi ketika organisasi hirarkis macam negara dibiarkan berkuasa penuh atas penduduknya. Dalam berbagai macam bentuk, pasar dapat diselewengkan ketika perhubungan menjadi hirarkis dan tidak lagi didasarkan atas perhubungan antar individu. Ini adalah permasalahan yang jelas dan nyata: karena mekanisme untuk menciptakan kebebasan individu itu rapuh. Manusia sebagai pelaku individu adalah sesuatu yang baru dan modern. Dalam sejarahnya, manusia selalu merupakan bagian dari komunitas atau keluarga. Demokrasi, separation of power, rule of law merupakan beberapa bentuk yang dirancang oleh filusuf-filusuf zaman pencerahan sebagai institusi yang dapat menjaga gawang agar manusia dapat berfungsi sebagai individu, bukan sebagai bagian dari komunitas.

Oleh karenanya, permasalahan dari pasar itu memang penting sekali. Bisa dikatakan bahwa sedikit sekali masyarakat di dunia yang berhasil mengubah dirinya menjadi masyarakat liberal yang modern. Kegagalan institusi yang melindungi individu itu menyebabkan korupsi, kekerasan dan pemaksaan kehendak/pikiran. Sebagai orang Indonesia, kita tahu sekali betapa sulitnya menciptakan masyarakat yang berfungsi: yaitu masyarakat/negara yang dapat menghargai kita pada level individual. Apakah kembali ke komunitas merupakan jawaban yang benar buat kita? Saya sangat ragu akan hal itu.

Terakhir, kita balikkan perhatian kembali ke value. Tentu pada akhirnya, semua orang dan semua masyarakat sangat berkepentingan untuk menciptakan kesejahteraan. Kesejahteraan itu dapat diwujudkan ketika kita punya uang atau nilai lebih. Tapi menciptakan nilai lebih atau surplus value merupakan salah satu permasalahan paling pelik buat berbagai masyarakat modern. Kita hidup dalam dunia yang serba kekurangan. Ide dasar ilmu ekonomi adalah kekurangan. Ia bertujuan membantu kita memilih sesuatu dalam kondisi serba kekurangan. Marx menganggap bahwa akar semua value ada pada pekerjaan. Dengan menggunakan asumsi Marx, negara-negara Komunis pada abad ke-20 fokus pada industrialisasi dan mekanisasi pertanian. Asumsinya adalah dengan menambah faktor tenaga kerja dalam produksi, surplus value akan terus terbentuk sehingga mengentaskan semua orang dari kemiskinan. Tapi apa yang terjadi? Ekspansi produksi mengalami diminishing returns sehingga pada dekade-dekade akhir, Uni Soviet bahkan mengalami penurunan surplus value walaupun mereka terus-menerus menambah pabrik dan pekerja.

Apa yang terjadi? Menurut pandangan ekonom mutakhir, value itu disebabkan oleh apa yang disebut sebagai Total Factor Productivity atau TFP. TFP adalah hal-hal yang menciptakan value di luar daripada faktor ekonomi tradisional, yaitu land, labor and capital. Akar dari peningkatan nilai terdapat pada teknologi, kemampuan manajerial dan hal-hal lain, seperti adanya lembaga-lembaga yang fungsional, seperti lembaga-lembaga liberal yang dibahas di atas. Menurut ekonom dari sekolah institutional economics, hak milik merupakan salah satu institusi paling penting dalam penciptaan surplus value. Menurut mereka, alasan mengapa masyarakat liberal adalah masyarakat paling berhasil adalah karena mereka menganut nilai-nilai liberal![6] Memang ini tampak seolah seperti tautologi yang buruk. Tetapi ini adalah hasil dari ribuan penelitian dalam ilmu ekonomi dan sejarah ekonomi.

Apakah ekses dari ‘fictitious capital’ itu bermasalah? Tampaknya hal itu benar. Haruskah kita mencari bentuk-bentuk yang dapat meredam permasalahan itu? Sepertinya itu harus. Apakah kepemilikan atau ownership langsung terhadap perusahaan merupakan jawaban? Mungkin saja hal itu benar. Walaupun itu harus dibuktikan dulu. Apakah pasar seringkali bermasalah? Iya, tetapi tampaknya itu berhubung dengan kondisi ketidak-sempurnaan demokrasi dan persebaran kekuasaan yang tidak seimbang. Dalam banyak hal, saya setuju sekali dengan Hatib. Tetapi ada satu hal yang saya pikir harus dipikirkan secara hati-hati. Apakah Marxisme merupakan jawaban dan ganti yang masuk akal terhadap kapitalisme? Argumen itu lemah sekali dan belum dapat dibuktikan. Apakah komunitas seharusnya mengganti individu? Sekali lagi, itu merupakan argumen yang lemah dan masih harus lebih dalam serta bagus lagi dibangun untuk membuktikan atau even to make a convincing case.

Terakhir, pembangunan merupakan sesuatu yang amat elusive. Sebagian besar umat manusia itu hidup dalam kemiskinan. Tetapi yang tidak bisa dibantah adalah bahwa terjadi penurunan yang luar biasa terhadap kemiskinan pada abad ke-20 dan 21 ini. Dalam beberapa dekade terakhir ratusan juta manusia telah diangkat dari extreme poverty. Perserikatan Bangsa-Bangsa memprakirakan bahwa extreme poverty dapat dihapus pada pertengahan abad ke 21.[7] Sebagai sebuah sistem dalam krisis, kapitalisme global tampaknya telah berhasil mensejahterakan banyak sekali orang di dunia. Mari kita jadikan eksperimen abad ke-20 sebagai pelajaran, revolusi seringkali memakan anaknya sendiri. Penentuan arah perkembangan masyarakat harus melalui proses diskusi yang panjang dan dalam, bukan bentuk yang revolusioner. [ ]

10 Februari 2014

* Pengajar di Jurusan Ilmu Sejarah−Universitas Gadjah Mada; Editor Etnohistori.

Footnotes

[1] Untuk lebih mendalami ide ini lihat Ian Shapiro, The Moral Foundation of Politics, (Yale University Press: New Haven, 2003), hal. 15−17.
[2] Fukuyama dalam diskusinya mengenai kemunculan struktur politik dunia melihat kemampuan menjawab permasalahan kinship sebagai perkembangan penting 
.....dalam kemunculan negara. Lihat Francis Fukuyama, The Political Order, (Farrar, Strous & Giroux: New York, 2011), hal. 49−63.
[3] Reinhard Bendix, Max Weber. An Intellectual Portrait, (Doubleday Anchor: New York, 1962), hal. 385−416.
[4] Garret Hardin, “The Tragedy of the Commons” dalam Science, Vol. 162, Des. 1968, hal. 1243−1248.
[5] Ronald Coase, “The Problem of Social Costs” dalam Journal of Law and Economics, Vol. 3, Okt. 1960, hal. 1−44, lebih mendalam lagi lihat Coase Theorem yang 
.....membahas bagaimana efisiensi pasar terganggu ketika ketidak-sempurnaan informasi dalam kasus-kasus externalities itu mengganggu definisi hak milik. Dalam 
.....teorema ini, tugas negara adalah untuk mengurangi transaction cost dalam kondisi ketidak-sempurnaan informasi dan pembatasan yang jelas akan hak milik.
[6] Ide bahwa hak milik merupakan fondasi dari kapitalisme dan pertumbuhan ekonomi ini diutarakan oleh orang seperti Edward de Soto ataupun Douglass 
.....North sebagai salah satu lembaga terpenting guna menciptakan pertumbuhan. Walau begitu, yang penting dalam banyak hal adalah bagaimana hak milik itu
.....efisien atau tidak. Dalam kasus-kasus negara korup, hak milik tidak efisien dipertahankan oleh yang berkuasa karena hal itu menguntungkan mereka. Lihat
.....Douglass North, Institutions, Institutional Change and Economic Performance, (Cambridge University Press: Cambridge, 1990), hal. 33−35.
[7] Jeffrey Sachs, “Can extreme poverty be eliminated?” di Scientific American, 2005, hal. 56−65,
.... http://www.theguardian.com/global-development/2013/may/30/un-end-extreme-poverty-2030-goals,
.... http://www.brookings.edu/research/interactives/2013/ending-extreme-poverty.

[ C A T A T A N ]

Baca Juga

Suasana the Irish Hill Homeless Camp

Belajar Kepemimpinan dari “Kepala Suku” Kaum Homeless di Ibukota Balap Dunia

Catatan oleh: Karim * “The best way to find yourself is to lose yourself in ...

2 Tanggapan

  • Hello, guest
  • An impressive share! I’ve just forwarded this onto a coworker who has been conducting a little homework on this. And he actually ordered me breakfast simply because I found it for him… lol. So allow me to reword this…. Thank YOU for the meal!! But yeah, thanks for spending the time to talk about this issue here on your blog.|

  • artikel menarik pak, bisa dibuat pembelajaran dan menambah referensi pustaka hehesaya kurang setuju dengan argumen pak farabi yang terkesan terlalu mengagung – agungkan liberalisme (ideologi kebebasan individu). menurut saya manusia adalah sebuah bagian dari satuan “organisme” yang disebut masyarakat. organisme – organisme ini membentuk sebuah jaringan yang menciptakan masyarakat. kita tidak bisa mereduksi sebuah masyarakat atau komunitas hingga ketaraf individu. tidak akan pernah ada individu tanpa adanya masyarakat, dan begitu pula sebaliknya. kita harus melihat semuanya dalam sebuah bingkai sistem yang utuh. metode analisis reduksi yang berakar dari decrates yang belakangan menurunkan gagasan individualistik ini sudah bisa dikatakan gagal, ( buku titik balik peradaban, fritjof capra – bagian fisika kuantum ). tetapi, pemikiran pak khatib yang terkesan terlalu deterministik terhadap suprastruktur juga saya tidak setuju karena mematikan unsur kebebasan individu, meskipun kebebasan individu yang sejati seperti apa saya juga tidak tahu (buku para pembunuh tuhan, kritik nihilisme). intinya liberarlisme atau sosialisme, individu atau kolektif, tidak bisa dilihat dalam bingkai terpisah, jangan dilihat mana yang utama, kesannya seperti pertanyaan ayam atau telur yang duluan. maaf jika argumen saya terkesan ngawur, maklum masih semester 6 pak hehe