Home / Topik / Ulasan Buku / Cerita Hidup Orang-Orang Kosmopolitan di Negeri Pasca-Kolonial

Cerita Hidup Orang-Orang Kosmopolitan di Negeri Pasca-Kolonial

 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
Penulis: Andi Achdian.
Penerbit: LOKA Publishing, Jakarta, 2012.
Cetakan 1, xvi, 224 Halaman.
—————————————————

 

    Ulasan Buku oleh Hatib Abdul Kadir *

Buku Andi Achdian The Angle of Vision. Mereka yang Tidak Menyerah Pada Sejarah” ini sebenarnya menceritakan tokoh-tokoh yang bukan baru lagi dalam narasi sejarah Indonesia. Terdapat delapan tokoh yang ada di dalamnya, mulai dari Kartini, Sukarno, Soedjatmoko, Gunawan Wiradi, Ong Hok Ham, Imam Muhaji, Bre Redana, dan Linda Christanty. Dua tokoh seperti Kartini dan Sukarno misalkan telah ratusan kali tercatat dalam laporan-laporan biografi para pahlawan nasional Indonesia. Lantas, hal baru apa yang ditawarkan oleh si penulis?

Buku ini menawarkan dua hal penting yang selama ini absen dalam pembahasan teoretik sejarah Indonesia. Pertama, mengenai cerita kehidupan (life stories). Kedua melihat para tokoh dan pahlawan sebagai warga kosmopolitan pasca–kolonial di Indonesia. Metode cerita kehidupan seseorang atau biografi seperti biasanya menghilangkan si penulis sebagai subjek yang terlibat dalam kepenulisan. Sedangkan model life stories mutakhir menempatkan penulis juga ikut andil, menafsirkan, menelaah serta menganalisis rekam jejak kehidupan subjek yang diceritakan. Penulis mempunyai semacam ikatan emosional secara langsung dengan subjek, hal ini dikarenakan pendekatan observasi, wawancara dan turut berpartisipasinya penulis dengan subjek yang diceritakan.

Life stories menceritakan subjek yang benar-benar sadar akan perubahan sejarah yang tengah terjadi di tingkatan makro. Karena itu, Andi menceritakan tokoh-tokoh yang melewati beberapa transformasi penting sekaligus, seperti Kartini yang hidup di semangat zaman perkembangan teknologi, Sukarno yang tumbuh besar di periode berkembangnya kesadaran nasionalisme di Negara-Negara jajahan. Turunan dari pendekatan cerita kehidupan ini menunjukkan kemandirian agency individual di tengah kekuatan struktural yang menekan. Pendekatan ini membela diri individu yang dianggap menyimpang atau berbeda dari struktur masyarakat pada umumnya, seperti kekuatan anti–Yahudi, anti–Komunis, patriarki, hingga homophobia. Hal ini tampak pada penarasian Andi terhadap Kartini yang hidup di era patriarki (hal. 1–13) dan Gunawan Wiradi tokoh sosialis agraria (hal. 106–127) serta Imam Muhaji tokoh komunis yang hidup di era Orde Baru (hal. 152–167),

Metode yang dilakukan dalam life stories adalah narasi atau penceritaan melalui penuturan. Metode ini untuk menjawab tiga kritik utama sekaligus. Pertama, keberadaan emosi, keinginan individual, tradisi oral yang selama ini dianggap tidak saintifik dan objektif dalam tradisi keilmuan positivistik. Narasi dalam life stories menceritakan perasaan subjek yang diteliti dan sekaligus menceritakan emosi diri sendiri si penulis. Metode ini sekaligus merevisi keberadaan emosi penulis biografi yang selama ini hilang. Kedua, narasi life stories hadir dari latar belakang semakin banyaknya penulisan tentang diri sendiri, baik itu penulisan saudara sendiri, agama, etnis sendiri, hingga ras. Istilah ini dapat disebut juga sebagai “selfhood life stories“ atau ”selfhood ethnography“. Dengan demikian, individu dianggap mampu menggambarkan diri sendiri, tanpa harus menunggu deskripsi dari pihak lain. 

Ketiga, metode narasi dalam life stories sekaligus menggabungkan antara kekuatan otobiografi, biografi dan etnografi. Penggabungan ketiga model penulisan ini berupaya meredup jurang perbedaan di antaranya. Contoh dari narrative life stories bisa dilihat ketika Renato Rosaldo, seorang antropolog kenamaan yang melakukan penelitian tentang upacara kematian di masyarakat Ilongot, Filipina. Rosaldo melibatkan emosinya dengan cara menghadirkan kembali kesedihan akibat istrinya yang telah lama meninggal dengan menghubungkan ekspresi kehilangan pada masyarakat Ilongot. Terjadi dialog antara pengalaman personal peneliti dengan apa yang tengah ia teliti sendiri. Dengan demikian, Rosaldo menggabungkan antara bentuk-bentuk emosional dengan bentuk-bentuk pengetahuan. Atau dengan kata lain, ia menggabungkan antara pendekatan etnografi dan otobiografi tentang dirinya sendiri. Kesan yang hadir dari model seperti ini adalah sebuah karya eksperimen yang menggabungkan antara si penulis atau peneliti yang mempunyai kesadaran sosiologis dan dikombinasikan dengan narasi-narasi yang berjalan seperti fiksi. Sebagai misal, di bab tentang narasi tokoh Gunawan Wiradi (GWR), seorang pakar agraria dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Andi seolah-olah seperti menulis novel. Catatan-catatan tentang bagaimana GWR dengan kerasnya bertahan sebagai orang “sosialis“ di dalam kampus zaman Orde Baru terasa seperti sangat dekat dengan penghadiran obrolan penuh ketegangan beserta ekspresi keras kepalanya GWR (hal. 114–115).

Life stories terpenting yang digambarkan Andi juga adalah kehidupan kosmopolitan hampir semua tokoh. Definisi kosmopolitan adalah kesadaran menjadi warga dunia dan semangat zaman pada periode tersebut, meski subjek tidak harus melakukan perjalanan keliling dunia itu sendiri. Terdapat “jendela” yang mampu menghubungkan tokoh-tokoh ini, yakni relasi pergerakan mereka, surat menyurat dan yang terpenting adalah kegemaran akan bahan bacaan tentang apa yang tengah terjadi di dunia pada saat mereka hidup. Sebagai misal, Kartini, meski ia hidup dipingit, ia merasakan semangat zaman terjadinya pergolakan dunia, seperti munculnya white men’s burden atau kesadaran masyarakat kulit putih untuk melakukan balas jasa terhadap kawasan koloninya; munculnya gerakan komunis internasional yang sama rata dan sama rasa; perkembangan jaringan transportasi kereta api di Hindia–Belanda yang bahkan mampu mengalahkan India dan Jepang. Perubahan-perubahan ini disadari sekali oleh Kartini yang dapat dilacak dalam surat-suratnya. Demikian pula, beberapa tokoh seperti Soedjatmoko dan tentu saja Ong Hok Ham adalah sejarawan yang tulisan-tulisannya terinspirasi dari semangat huru-hara Revolusi Perancis (hal. 128–151). Dari kesemua tokoh, Andi dengan gamblang menjelaskan kosmopolitanisme Linda Christanty. Semenjak masa remajanya, Linda telah mempunyai perpustakaan kecil milik keluarga, yang berisi cerita dongeng hingga karya sastra seperti Hans Christian Andersen, Karl Friedrich May, Gustave Flaubert hingga Ernest Miller Hemingway. Tidak ketinggalan pula ia melahap karya-karya pengarang dalam negeri seperti Idrus hingga Abdoel Moeis (hal. 214–215). Bahan bacaan inilah yang kemudian mengasah kemampuan Linda untuk peka terhadap permasalahan sosial politik mulai dari Aceh, Timor-Timur hingga persoalan fundamentalisme agama di Indonesia.

Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa menarasikan orang-orang kosmopolitan ini penting? Bagi Negara koloni seperti Indonesia, keberadaan mereka sangat penting, karena ide-ide, semangat beserta pengetahuannya mampu menjadikan Indonesia sebagai Negara–Bangsa yang modern serta memberi inspirasi kepada masyarakat secara luas tentang pengetahuan dunia, kesadaran berdemokrasi dan juga keterbukaan pemikiran.  

Namun demikian, di dalam buku ini, Andi tidak dengan tegas hendak menawarkan sebuah penawaran metode alternatif penulisan historiografi. Andi kurang konsisten menerapkan metode life stories. Dalam beberapa bagian bukunya, misalnya di awal bab, ia mendapatkan cerita-cerita tentang tokoh nasional dari sumber sejarah yang sudah layak, seperti Rosa Abendanon tentang Raden Ayu Kartini, dan wawancara Cynthia Adams mengenai Sukarno. Ketidak-konsistennya ini semakin terlihat ketika dalam membaca life stories Bre Redana dan Linda Christanty, ia hanya menceritakan karya-karya babon mereka, tanpa lebih dalam menelisik sisi kehidupan para penulis tersebut. Di sisi lain, buku ini tidak menghadirkan “significant others“ yakni keluarga batih atau saudara kandung, orang terdekat yang mampu bersaksi tentang kehidupan para tokoh, sehingga narasi tentang para tokoh terkesan datar dan melompat-lompat.

Namun demikian, buku ini tetap menarik karena menawarkan sisi-sisi sejarah tokoh penting yang ternyata juga manusia, seperti kematian Kartini yang ternyata bukan ditangani oleh dokter ahli kandungan; ketidakcocokan Sukarno dengan Mohammad Hatta yang sangat administratif; hingga idealisme Gunawan Wiradi yang menyebabkan ia ditinggalkan oleh kekasih hatinya. Sebagai tulisan sejarah, buku ini tetap patut disimak. [ ]

 

2 Mei 2013

 

* Editor ETNOHISTORI; Mahasiswa Ph. D. Cultural Anthropology, UC–Santa Cruz, USA.

 

 

ULASAN BUKU

 

 

 

 

 

 


Baca Juga

Etnografi Formasi Negara di Kawasan Perbatasan

Haryo Kunto*         Judul Buku: At The Edge of States: Dynamics of ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest