Etnohistori.org

Dari Peringatan 500 Tahun Sunan Kalijaga: Sebuah Catatan

oleh: Sarah Monica*

SEBAGAI seorang wali besar yang mengabdikan dirinya untuk mengajarkan nilai-nilai Islam dan berbagai filosofi kehidupan lainnya kepada masyarakat Jawa, Sunan Kalijaga telah banyak menyisipkan ajarannya lewat kesenian dan budaya Orang Jawa. Sebagai akibatnya, Islam kemudian diterima dalam perkawinannya dengan budaya lokal; Islam yang mengalami sinkretisme menjadi Islam Jawa. Di sini, Islam memainkan peranannya sebagai produk nilai-nilai luhur yang lentur, meski berasaskan universalitas, tetap dapat menunjukkan rasa toleransi terhadap kepercayaan dan budaya lain.

Keluhuran nilai-nilai Islam yang berhasil dirangkum oleh Sunan Kalijaga ke dalam aspek-aspek budaya, seni, dan tradisi Orang Jawa, sangat perlu dilestarikan. Tidak hanya bagi Orang Jawa, melainkan mungkin juga bagi Indonesia. Sebab Islam Jawa menunjukkan kemungkinan tercapainya konsensus budaya dari hasil benturan berbagai perbedaan dan keragaman kepercayaan, tradisi, kesenian, cara pandang, dan laku hidup, tanpa menghadirkan konflik perpecahan. Proses yang menjunjung tinggi rasa empati dan toleransi seperti ini sangat dibutuhkan bagi perkembangan kebangsaan Indonesia yang pluralistik.

Gagasan semacam itu ternyata tengah direalisasikan oleh M. Jadul Maula, budayawan yang mengasuh Pesantren Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta. Bersama santri-santrinya beberapa waktu yang lalu, pada tanggal 18-31 Juli 2011, ia menyelenggarakan acara budaya yang bertemakan “Peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga”. Ini merupakan kegiatan yang baru pertama kali diadakan. Kegiatannya terdiri dari serangkaian acara, yakni Kupatan Jolosutro; lampah ratri (jalan malam) dari Piyungan, Wot Galeh, Kota Gede, sampai alun-alun utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat; wayangan sebelas malam di alun-alun utara dengan sebelas lakon oleh sebelas dalang; serta suluk & sema’an Al-Quran. Dari serangkaian acara yang dilaksanakan di beberapa tempat itu, ada sebuah kendi air dari tanah liat yang selalu disertakan keberadaannya di berbagai sesi acara. Diusung di Kupatan Jolosutro dan lampah ratri, serta diletakkan di tengah panggung wayangan dan pembacaan Al-Qur’an di limasan Pesantren Kaliopak.

Air yang berada di dalam kendi tersebut merupakan simbol pengikat dari serangkaian acara budaya “Peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga”. Air ini menjadi materi yang merangkum semua totalitas esensial dari Sunan Kalijaga. Jejak sejarah, tempat-tempat, bangunan, pengetahuan, kesenian, dan produk budaya lain yang sebelumnya pernah bersentuhan dengan keberadaan dan ajaran Sunan Kalijaga, diwujudkan melalui simbol air.

Ritual yang dibangun di dalam kegiatan “Peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga” itu berawal dengan mengambil air dari Sendang Banyu Urip. Itu merupakan sendang buatan Sunan Kalijaga. Konon, melalui tongkat yang ditancapkannya ke tanah, ia menghasilkan lubang mata air yang selalu memancarkan air jernih hingga saat ini. Kemudian pada saat mengikuti Kupatan Jolosutro atau kegiatan bersih desa (perayaan syukuran hasil panen tiap tahun) di Jolosutro, air yang dimasukkan ke dalam kendi tersebut diikutsertakan kegiatan upacara adat di alun-alun Jolosutro sampai dibawa mendaki ke bukit Jolosutro untuk didoakan di makam Sunan Geseng, yaitu salah satu murid Sunan Kalijaga.

Malamnya, kendi air itu diusung sepanjang Piyungan – Wot Galeh – Kota Gede – alun-alun utara Keraton Yogyakarta. Di dalam lampah ratri tersebut, para peserta yang mengikuti ritual itu tidak boleh berbicara, makan, minum, ataupun merokok. Di malam yang khusyuk itu mereka berjalan sunyi, memfokuskan pikirannya untuk merefleksikan berbagai laku hidup yang telah dijalani selama ini, apakah sudah sesuai dengan ajaran-ajaran Sunan Kalijaga. Rute dari Piyungan, Wot Galeh, Kota Gede, sampai ke alun-alun utara Keraton Yogyakarta dipilih karena rute tersebut merupakan rute ketika Sunan Kalijaga bersama pasukan Demak mencari keberadaan keraton Mataram. Piyungan, tempat yang saat ini berdiri Pesantren Kaliopak, berada di tepi Kali Opak yang konon dahulu merupakan kali dimana Sunan Kalijaga bertapa di tepinya untuk menunggu kedatangan Sunan Bonang sampai tubuhnya dlilit oleh rerumputan dan semak belukar. Wot Galeh adalah tempat makam raja-raja Mataram Kuno. Kota Gede, ialah tempat dahulu Keraton Mataram Kuno berdiri. Sedangkan alun-alun utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah wilayah Keraton Mataram baru setelah pindah dari Kota Gede. Sunan Kalijaga menyusuri tempat-tempat ini sembari menyebarkan Islam kepada masyarakat lokal.

Pada keesokan malamnya, dalam pementasan wayang kulit carangan yang memainkan lakon-lakon Sunan Kalijaga selama sebelas malam oleh sebelas dalang, kendi air diletakkan di tengah panggung, berdampingan dengan sesajen dan alat-alat gamelan. Wayang kulit merupakan kesenian khas Jawa yang digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam. Lakon-lakon wayang pakem (klasik) yang memainkan cerita Mahabrata dan Ramayana dari Hindu, oleh Sunan Kalijaga disisipkan cerita-cerita Ketuhanan yang Esa, nabi, dan ajaran-ajaran Islam lainnya. Sehingga dinamakan wayang kulit carangan, yang berarti sisipan. Dari lakon-lakon carangan tersebut, Orang Jawa mengerti makna dan ajaran-ajaran Islam yang dijelaskan secara tidak langsung melalui tokoh Punakawan (Petruk, Semar, Bagong, Gareng) yang hanya ada di wayangan Jawa, bersama Yudistira, Arjuna, maupun tokoh-tokoh wayang pakem lainnya.

Setelah pementasan sebelas malam berlalu, kendi air dibawa kembali ke Pesantren Kaliopak untuk dilibatkan dalam kegiatan suluk & sema’an Al-Qur’an. Malam 31 Juli itu di limasan Pesantren diadakan pembacaan 30 juz Al-Qur’an oleh para santri dan partisipan ritual “Peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga”. Selain itu juga disenandungkan suluk-suluk ciptaan Sunan Kalijaga, seperti “Lil ilir”, “Dhandanggula”, dan “suluk Linglung”. Di tengah malam seusai acara tersebut, semuanya bergegas untuk mengantarkan kendi air ke lereng Gunung Merapi, untuk mengalirkan air ke hulu Kaliopak yang berada di sana. Hulu Kaliopak dipilih karena itu merupakan satu-satunya kali yang mewakili keutuhan Yogyakarta. Alirannya berliku sepanjang hulu lereng Gunung Merapi, sampai bermuara ke pantai laut selatan. Selain itu juga karena Kali Opak sebagai kali yang memiliki ikatan kesejarahan yang kuat dengan Sunan Kalijaga, sehingga ia masuk ke dalam rangkaian ritual budaya ini.

Pada hakikatnya, peringatan ini berhasil merangkum jejak-jejak legenda dan sejarah Sunan Kalijaga yang tercecer di seluruh tanah Jawa menjadi suatu kesatuan tradisi. Meski saat ini hanya meliputi daerah Yogyakarta, tapi M. Jadul Maula dan Pesantren Kaliopak-nya telah berupaya menciptakan tradisi budaya yang bertujuan mengenang, menyadarkan, menggali, merefleksikan, dan mengaplikasian kembali ajaran-ajaran luhur Sunan Kalijaga kepada masyarakat luas.

Sunan Kalijaga, melalui jejak-jejak kesejarahannya, diambil sebagai suatu simbol lokal untuk menciptakan sebuah tradisi baru yang berfungsi sebagai solusi budaya bagi penguatan nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Masyarakat memang tidak akan langsung paham dengan visi besar dari ritual ini – seperti halnya Islam yang tidak langsung dianut pada waktu diperkenalkan pertama kali. Namun seiring dengan berjalannya waktu itikad baik itu akan membentuk kesadaran dalam kerangka berpikir masyarakat Indonesia yang melampaui gagasan awal dari penciptaan tradisi ini; yaitu upaya mengukuhkan jati diri dan persatuan bangsa. [ ]

7 September 2011

* Sekretaris Jurnal Antropologi Indonesia

 

2011—2012 • Etnohistori.org • Some Rights Reserved Kembali ke atas