Home / Topik / Esai / Dari Tulisan hingga Perlawanan: Tafsir Bumi Manusia atas Lahirnya Nasionalisme Kiri

Dari Tulisan hingga Perlawanan: Tafsir Bumi Manusia atas Lahirnya Nasionalisme Kiri

Esai oleh: Wahyu Widodo *

 

 Kodrat ummat Manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaannya atas ilmu dan pengetahuan. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan. (Bumi Manusia, halaman 285−286)

 

Pram Muda [Sumber: Hasta Mitra]
Pram Muda [Sumber: Hasta Mitra]

Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya disingkat dengan PAT) melalui Tetralogi Buru-nya, dalam hal ini Bumi Manusia (sesudahnya disebut BM), merupakan sumber inspirasi yang tak akan kering untuk digali kejernihan pandangan dan keluasan wawasannya. BM menjadi novel yang paling populer baik versi Inggris-nya, This Earth of Mankind, maupun versi bahasa Indonesia-nya. Pengkajian unik dan menarik dilakukan oleh Graft (2007) yang menelusuri apresiasi karya PAT di internet yang berjudul ‘Cyberpram’: Perceptions of Pramoedya Ananta Toer on Internet. Penelitian itu menunjukkan bahwa 66 %  karya PAT banyak dinikmati dalam bahasa Inggris, 24,7 % dalam bahasa Indonesia, 3,7% dalam bahasa Belanda, dan 3 % bahasa Jerman. Karya yang paling populer, yaitu BM. Hal itu karena di dalamnya memuat informasi sejarah pergerakan kebangsaan atau awal mula nasion yang bernama Indonesia.

Sarjana dari pelbagai disiplin telah menggali, memaparkan, dan menerangjelaskan dari perspektif yang kaya serta bernas dari Andries Teeuw (1997), Savitri Prastiti Scherer (2002), Eka Kurniawan (1999), Koh Young Hun (2011), Keith Foulcher (1995), Henk Maier (2004), Harry Aveling (2002) yang tidak kalah penting, yaitu ulasan dan kajian Benedict Richard O’Gorman Anderson (1990 [2000]). Tulisan ini akan memaparkan pada satu pertanyaan, bagaimanakah pendidikan dalam masa kolonial membentuk kesadaran kritis atas kondisi zamannya? Dengan kata lain, bagaimanakah pengaruh ‘tulisan’ dalam membentuk ‘ruh perlawanan’ terhadap sistem kolonial? Tentunya sumber-sumber data dalam tulisan ini adalah interpretasi atas BM.

BM mengambil latar sejarah Hindia−Belanda pada kurun waktu 1898−1918 (Hun, 2011: 87). Dengan latar cerita Sidoarjo−Surabaya, dipilihnya Surabaya oleh PAT karena “Surabaya merupakan kota dagang terbesar yang melahirkan ide-ide baru dari seluruh dunia” (Hun, 2011: 91). Selain itu, Surabaya secara kultural merupakan kota yang berbeda dengan dengan Jakarta, Surakarta, dan Yogyakarta yang cukup kuat dominasi budaya Jawa−Feodalnya. Tokoh utama dalam BM, yaitu Minke ia merupakan sosok yang menjadi sumber rawi yang tersentral. Hal itu diperkuat dengan sudut pandang ‘aku-an yang serba-tahu’. Minke mencerminkan sosok Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (Hun, 2011: 92 ; Scherer, 2002: 136).

 

Bersemainya Bibit Kesadaran

Sebagai siswa H.B.S. (Hogere Burger School) atau Sekolah Menengah Belanda di Surabaya, Minke mengenal tulisan (ilmu pengetahuan) yang akhirnya menyadarkannya arti penting pengetahuan. Hal itu terungkap secara terang:

Ilmu dan pengetahuan, yang kudapatkan dari sekolah dan kusaksikan sendiri dari pernyataannya dalam hidup, telah membikin pribadiku menjadi agak berbeda dari bangsaku (BM, hal. 12)

Minke sebagai pribumi menyadari pentingnya baca−tulis yang ia dapat karena ia mengenyam pendidikan dari H.B.S. Tulisan juga menjadi arti penting beralihnya ‘kelisanan’ menuju ‘keberaksaraan’. Budaya cetak melalui industri percetakan yang masuk di Hindia−Belanda pada waktu itu menjadi andil penting dalam membentuk keberlangsungan ilmu pengetahuan. Kekaguman Minke terhadap budaya cetak terangkum secara jelas:

Salah satu hasil ilmu pengetahuan yang tak habis-habis kukagumi adalah percetakan.. (BM, hal. 12)

Kekaguman itu bermuasal karena budaya Jawa memiliki budaya kelisanan yang kental. Kelisanan itu diperkuat dengan seni tradisi yang berbasis oral tradition, misalnya, wayang kulit, kethoprak berkembang melalui budaya lisan yang pekat. PAT dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu mendeskripsikan ‘terakhir kali menonton wayang kulit’. Secara implisit masa itu adalah peralihan dari masa kelisanan menuju keberaksaraan. Kelisanan tidak selamanya buruk, ia bisa membentuk ‘ingatan yang kuat’, sedangkan tulisan (budaya cetak) mematrikan ingatan itu lebih kokoh lagi. Kekaguman Minke cukup beralasan, bagi budaya Jawa yang cukup kuat tradisi kelisanannya.

Henk Maier (2008: 77) mengulas secara cerdik bahwa era itu, 1880, “interaksi wacana dan praktik ini menampakkan diri dalam bahan cetakan”. Bahan cetakan yang berupa surat kabar, majalah, pamflet dan buku “tidak hanya pembawa gagasan, tetapi juga komoditas” (Maier, 2011: 77). Bahwa era percetakan pada waktu itu juga membawa pada fungsi bisnis. Hal ini juga bisa dilihat dari pemaparan PAT bahwa Minke bekerja untuk koran S.N.v/d D.? sebagai kontributor dan penulis lepas. Minke mempunyai nama samaran Max Tollenar. Nama ini mirip dengan Max Havelaar. Minke menulis dengan bahasa Belanda artikel yang ia tulis, yaitu Een Buitengewoon Gewoone Nyai die ik ken ‘Seorang Nyai Biasa yang luar biasa yang Aku Kenal’ (BM, hal. 162). Minke tidak hanya pengagum kekuatan budaya cetak, tetapi ia juga mengambil peranan dalam masa itu sebagai penulis.

Tulisan akhirnya bertransformasi menjadi budaya baru, yaitu budaya modern. Kemodernan pada masa itu bermuasal adalah maraknya budaya cetak. Sebenarnya sosok budaya modern belum sepenuhnya disadari oleh Minke yang ia sadari sepenuhnya adalah ilmu pengetahuan dan budaya cetak. Hal itu diperkuat dengan pernyataan Minke sebagai berikut:

Modern! Dengan cepatnya kata itu menggelembung dan membiak diri seperti bakteria di Eropa sana (setidak-tidaknya menurut kata orang). Maka ijinkanlah aku ikut pula menggunakan kata ini, sekalipun aku belum sepenuhnya dapat menyelami maknanya (BM, hal. 14)

Kemodernan itu akhirnya akan mematahkan ‘logika mistika’ (simak Tan Malaka Madilog) yang dominan dianut oleh masyarakat Jawa. Logika mistika itu dalam wujud konkretnya, yaitu kepercayaan atas astrologi. Kepercayaan astrologi yang akut dianut masyarakat Jawa misalnya bahwa nasib baik-buruk ditentukan oleh tanggal lahirnya. Minke sebagai orang yang mewarisi budaya Jawa yang kental sebelum memasuki pastilah ia turut mengamini berjalannya logika mistika dalam dirinya, tetapi setelah ia masuk di H.B.S. logika mistika itu tumbang.

Guruku, Magda Peters, melarang kami mempercayai astrologi. Omong kosong, katanya (BM, hal. 15).

Mengapa logika mistika ini ditumbangkan? Karena melalui logika mistika itu beroperasinya feodalistik Jawa dalam menanamkan doktrinnya yang irasional. Bisa dikatakan masa itu adalah berkuasanya logika atas tradisi yang akan melahirkan ‘struktur mitos’. Runtuhnya logika mistika dan struktur mitos dalam alam bawah sadar Minke membentuk perlawanan bahwa dirinya telah berani melawan dasar beroperasinya logika mistika. Hal ini akan menyemaikan bibit nilai perlawanan yang lain. Kesusahan utama yang dialami Minke adalah melawan tradisinya sendiri. Beralihnya logika mistika yang sulit untuk diterima akal menuju kepastian yang mutlak itu di-ugemi Minke. Ilmu pengetahuan secara otomatis akan mengikis nalar yang irasional yang sulit untuk diterima akal sehat. Inilah ucapan Minke atas kekukuhan sikapnya itu:

Aku lebih mempercayai ilmu pengetahuan, akal. Setidak-tidaknya padanya ada kepastian-kepastian yang bisa dipegang (BM, hal. 16)

 

Pertemuan: Dialektika Antar–tokoh

Buku hasil budaya cetak yang berisi informasi selamanya hanya berisi informasi tidak akan pernah bertransformasi menjadi ilmu manakala tidak di-dialektika-kan. Dialektika yang dialami oleh Minke itu melalui pertemuan dengan orang-orang yang mempengaruhi sikapnya dan yang paling penting, yaitu mentransformasikan nilai-nilai pengetahuan. Ilmu itu tidak dalam buku, ia selamanya informasi kalau tidak dibagikan melalui ‘proses sesama’. Dialektika dalam hal ini juga mengacu pada apa yang dipaparkan Henri Arvon (1973: 24):

The essential subject matter of Marxist Esthetics is the complex dialectics governing interrelations of the work of art and human life. We know that from the Marxist point of view the basic structures of this life, which is regarded as the totality of human relation, depends upon economics, a term that embrace all man’s effort to master and exploit nature.

Arvon mementingkan dua peranan utama, yaitu keterhubungan karya sastra dan kehidupan manusia. Kedua, relasi kemanusiaan yang utuh. Dalam kaitannya dengan BM, relasi antar−tokoh yang dibangun oleh PAT menjadi hal utama yang perlu ditelisik. Pertemuan itu melalui tokoh-tokoh yang dititahkan oleh PAT sebagai berikut:

 

Nyai Ontosoroh: Wanita Pribumi yang Terpelajar

Sanikem itu adalah namanya sebelum ia diserahkan oleh Bapaknya, Sasrotomo, kepada Robert Mellema. Yang pada akhirnya nama ‘Nyai’ melekat pada dirinya. Ia tidak mau menolak untuk dipanggil Mevrouw karena memang ia “bukan seorang Mevrouw” sewaktu Magda Peters mengunjunginya. Magda Peters terus mendesak untuk memanggil dengan sebutan kehormatan. Nyai tetap menolak dengan argumen “tidak ada jeleknya, juga bukan penghinaan. Hanya agak menyalahi kenyataan, juga tidak sejalan dengan hukum” (BM, hal. 340). Sebutan ‘Nyai’ dan ‘gundik’ menjadi tidak terpisahkan dalam perkawinan orang Eropa dengan pribumi. Penelitian yang tuntas dilakukan oleh Reggi Bay (2009) ‘Nyai dan Pergundikan di Hindia−Belanda’. Kekaguman Minke terhadap sosok Nyai Ontosoroh tercermin melalui perkataannya berikut:

Aku masih terpesona melihat seorang wanita pribumi bukan saja bicara Belanda, begitu baik, lebih karena tidak mempunyai kompleks terhadap tamu pria. Di mana lagi bisa ditemukan wanita semacam dia? Apa sekolahnya dulu? dan mengapa hanya seorang nyai, seorang gundik? Siapa pula yang telah mendidiknya jadi begitu bebas seperti wanita Eropa? (BM, hal. 34)

Keterpukauan terhadap Nyai Ontosoroh mendesaknya untuk menulis artikel tentangnya Een Buitengewoon Gewoone Nyai die ik ken ‘Seorang Nyai Biasa yang luar biasa yang Aku Kenal’ (BM, hal. 162). Nyai Ontosoroh mengajarkan keteguhan dan “kekerasan hati” (BM, hal. 303) pada Minke. Hal ini menjadi modal utama baginya untuk berani menapaki langkah selanjutnya, yaitu berani menghadapi ‘kenyataan hidup di luar bangku sekolah’. Minke menganggap Nyai sebagai gurunya (BM, hal. 336), tetapi guru formalnya H.B.S. menyangsikan Minke bahwa Nyai patut untuk menjadi gurunya. Setelah Magda Peters mengunjungi Nyai dan ketemu langsung hingga terjadi percakapan yang intensif di antara keduanya. Setelah itu, pengakuan yang tulus datang dari Magda Peters dan kekaguman yang mendalam terhadap sosok Nyai: “Jiwanya yang majemuk sudah mendekati Eropa dari bagian yang maju dan cerah. Memang banyak, terlalu banyak yang diketahuinya sebagai pribumi, malah wanita pribumi. Memang betul dia patut jadi gurumu” (BM, hal. 346).

Nyai menanamkan pada Minke bahwa ilmu pengetahuan harus membangun dan membangkitkan kesadaran kritis. Hal ini sejalan dengan konsep Paulo Freire (1984) bahwa pendidikan sebagai praktik kebebasan melalui dialektika dan dialog. Nyai menggugah kesadaran Minke bahwa fungsi pendidikan yang sejatinya mengemban misi membentuk manusia bebas bukan menjadi ‘manusia yang terkondisi’. Minke dengan tegas mengatakan pada ibunya bahwa ia menolak menjadi Bupati sebagaimana jamaknya anak Bupati setelah lulus dari School voor Inlandsche Bestuursambtenaren (SIBA) atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)-nya zaman Hindia−Belanda. Ia menjadi manusia yang terkondisi dan mewarisi kenyamanan yang turun temurun. “Sahaya hanya ingin menjadi manusia bebas, tidak diperintah, tidak memerintah, Bunda” (BM, hal. 190) jawaban Minke kepada ibunya. Tatkala Minke memilih menjadi manusia bebas dengan menghadapi tantangan hidup yang pelik, maka Nyai menegaskan “Kau akan lulus dengan ijasah yang bernama kemashuran” (BM, hal. 417).

 

Magda Peters: Guru Radikal−Liberal yang Inspiratif

Magda Peters adalah guru bahasa dan sastra Belanda di H.B.S. Ia adalah guru yang radikal dalam artian guru yang mengajarkan dari ‘akar kesadaran’ bukan dari ranting atau dahannya, tetapi menukik tajam ke kalbu kesadaran muridnya. Ia sosok guru yang mencurahkan segalanya untuk kemajuan murid-muridnya, tanpa takut risiko yang ia pertaruhkan. Ia yang mematrikan pada Minke untuk mencintai sastra. Baginya “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai derajat gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai” (BM, hal. 313). Ia aktif membuka diskusi di luar pelajaran sekolah. Saban Sabtu sore dibukalah topik-topik diskusi dari pelbagai persoalan secara bebas dan merdeka. Di situ, Magda Peters mengelolanya dengan “senanghati dan juga bersemangat”. Selain itu, ia berani melawan keeropaan dan menghargai pribumi. Memang ia dari kelompok “liberal−fanatik” yang memikirkan “Hindia untuk Hindia” (BM, hal. 437−438). Sikap itu ditunjukkannya pada Minke tatkala ia didesak dan dipojokkan oleh teman-temannya di sekolah dengan lantang Ibu Guru itu berpihak pada Minke: “Aku bangga punya murid seperti dia” (BM, hal. 320).

Magda Peters berperan penting dalam pertumbuhan kesadaran Minke khususnya dalam hal menumbukan benih perlawanan. Ia menyadari bahwa dalam tubuh orang Eropa sendiri ada banyak faksi dan friksi (BM, hal. 439). Secara implisit, Minke tergugah bahwa melawan kolonialisme adalah jalan yang ia tempuh, awalnya melalui tulisan dan nantinya melalui pergerakan. Magda Peters menyadarkan proses ‘politik kolonial’. Menurutnya “stelsel atau tatakuasa untuk mengukuhi kekuasaan atas negeri dan bangsa-bangsa jajahan. Seorang yang menyetujui stelsel adalah kolonial. Bukan saja menyetujui, juga membenarkan, melaksanakan dan membelanya.” (BM, hal. 315).

 

Keluarga De La Croix: Sahabat Pena yang Menggugah

Sarah dan Miriam de la Croix adalah putri dari Asisten Resisten B. Perjumpaannya terjadi setalah Minke melaksanakan tugas penerjemah sumpah jabatan atas ayahnya yang sedang dilantik menjadi Bupati B. Perjumpaan kali pertama tidak terjalin hangat dan nyaman, malahan Minke berpraduga bahwa keduanya mengundang untuk mempermalukannya di hadapan mereka. Ternyata anggapan itu patah setelah Miriam mengirimkan surat yang ditujukan kepada Minke. Dalam surat tersebut, ia memaparkan tentang sikap ayahnya dan keluarganya terhadap Minke serta ia menaruh perhatian besar untuk kelangsungan nasib pribumi. Hal itu karena mereka beranggapan bahwa Minke adalah “orang Jawa dari jenis lain, terbuat dari bahan lain, seorang pemula dan pembaru sekaligus” (BM, hal. 283). Mereka mengharapkan Minke dapat menjadi mesias bagi masyarakatnya dengan metafora gamelan Jawa yang menanti “gaung gung” dalam setiap rancak nada musiknya. Hal penting yang menggugah kesadaran Minke, yaitu mendesaknya perubahan di Hindia−Belanda. Kalau tidak bermula dari kesadaran Minke, maka “itulah tanda bangsa ini masih tetap tak mendapatkan Messias-nya” (BM, hal. 288).

Mesias itu adalah Minke. Sudah jamak lumrah diketahui dalam suasana batin masyarakat Jawa khususnya Jawa yang kalah dan lemah selalu mengharapkan pertolongan turunnya Mesias atau ‘rasul khusus ad−hoc’. Apa yang diungkapkan oleh De La Croix pastilah bersumber dari mulut orang Jawa waktu itu yang telah mencapai penderitaan yang sempurna. Ia memosisikan diri sebagai penyambung lidah rakyat Jawa kemudian menyampaikan warta tersebut kepada Minke.

 

Jean Marais: Karib yang Berpikiran Jernih

Jean Marais adalah orang Perancis yang difabel akibat dari Perang Aceh. Ia berperan sebagai karib yang menampung keluh kesah Minke agar senantiasa jernih melihat pokok persoalan. Melukis adalah pekerjaannya yang ditekuninya setelah ia menjadi veteran Perang Aceh. Pahit getirnya perang telah mengantarkannya mencapai kebijaksanaan hidup. Petuah yang selalu dikenang oleh Minke adalah “Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu” (BM, hal. 77). Petuah ini membekas dalam diri Minke dan ia aplikasikan untuk melihat fenomena apapun yang datang di kehidupan Minke. Selain itu, ia berperan sebagai penjernih masalah dalam kekalutan dan kegamangan yang dihadapi Minke.

 

Ibu Minke: Perempuan Jawa yang Ngugemi Tradisi

Sosok internal keluarga yang berpengaruh dalam diri kepribadian Minke satu-satunya yang tersisa adalah ibunya. Ia mengingatkan pada Minke bahwa “Kau keturunan darah para satria Jawa… pendiri dan pemunah kerajaan-kerajaan… Kau sendiri berdarah satria. Kau satria..” (BM, hal. 463). PAT memang banyak berpihak pada perempuan-perempuan dalam BM daripada laki-laki (Harry Aveling, 2002: 142; Ignatius Heryanto, 2005: 49). Meskipun tokoh perempuan terlilit penderitaan yang akut, ia tetap bisa tegar. Perempuanlah yang mendidik Minke menjadi nasionalis tulen (Aveling, 2002: 143). Sosok ibunya yang serba−pribumi dan seorang Jawa yang tulen menganjurkan pada Minke memenuhi syarat-syarat kesatria Jawa, yaitu wisma (rumah), wanita, turangga (kuda), kukila (burung), curiga (keris) (BM, hal. 463−464).

 

Minke: Bangkitnya Kesadaran Kelas Priyayi Jawa

Proses pendidikan yang penuh dialektik menyadarkan pada kesadaran kelas priyayi Jawa. Hal ini menjadi penting bahwa pergerakan kebangsaan Indonesia bermula dari kelas Priyayi. Clifford James Geertz (1984: 317) mengatakan bahwa kaum priyayilah yang mendapat keuntungan dari pendidikan yang disediakan Belanda untuk orang Jawa. Dari sini muncullah model yang didasarkan atas pendidikan “ambtenaar” Barat yang menitikberatkan pada bahasa Belanda, sejarah, kesusastraan dan sopan santun serta nilai-nilai Belanda (Geertz, 1984: 317). Secara ringkas kelompok priyayi Jawa memperoleh keinsyafan budi terlebih dahulu lalu diikuti kelas sosial di bawahnya. Hal ini menjadi ciri penting bahwa pola patronase menjadi ciri khas bagi masa pergerakan kebangsaan sampai dengan sekarang. Kelompok priyayi juga yang membidani organisasi pribumi modern, yaitu Budi Utomo (1908) dan Syarikat Priyayi (1906).

Perbedaan mencolok di antara keduanya, yaitu perihal watak perjuangan. Budi Utomo lebih sebagai perantara kepentingan kolonial daripada mengutamakan kepentingan kaum pribumi yang terjajah. Akan tetapi, Syarikat Priyayi mempunyai watak perjuangan yang jelas dari segi wawasan dan semangat. Keanggotaannya tidak hanya terbatas pada suku Jawa dan Madura saja, tetapi juga terbuka untuk suku yang lain. Dalam hal ini, Minke merupakan tokoh pergerakan nasional yang memihak rakyat pribumi (Hun, 2011: 94−95). Minke merepresentasikan kelas priyayi Jawa yang tercerahkan. Minke dengan tegas mengatakan bahwa “Kepriyayian bukan duniaku. Peduli apa iblis diangkat mantri cacar atau diberhentikan tanpa hormat karena kecurangan? Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya.” (BM, hal. 186).

 

Perlawanan Feodalisme Jawa dan Kolonialisme

Koh Young Hun (2011: 133) menandaskan bahwa citra pemberontakan PAT diinisiasi oleh gerakan Surontiko Samin. Gerakan kultural itu akhirnya menggurita menjadi perlawanan terhadap sistem kolonial. Selain itu, Hun (2011) berargumentasi dengan menelisik akar kultural Samin itu dekat sekali dengan tempat kelahiran PAT, yaitu Blora. Menurut pengamatan saya perlawanan tersebut lebih disebabkan pada proses dialektika yang melahirkan kesadaran kelas. Kesadaran kelas yang lahir mengakibatkan keberanian untuk melawan feodalisme Jawa dan kolonialisme. Berikut akan dipaparkan secara rinci:

Perlawanan yang dilakukan Minke terhadap feodalisme Jawa kelihatan tatkala Ia diculik oleh utusan ayahandanya. Protokoler kebupatian yang mewajibkan ia menyembah dan “pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri” (BM, hal. 182). Feodalisme Jawa inilah yang sengaja dihadirkan dan dikukuhkan untuk bersemainya penjajahan oleh penguasa Jawa. Sudah jamak lumrah diketahui bahwa elite-elite Jawa lah yang pertama kali digunakan oleh Belanda untuk mengikat pada komitmen-komitmen yang pada akhirnya melahirkan penindasan dan lahirnya ‘mental inlader’. Elite Jawa mempunyai kontribusi terhadap pelanggengan tata-nilai feodalistik yang berkembang.

Feodalistik beroperasi pada penjajahan mentalistik, tetapi kolonialisme bekerja pada lajur penguasaan sumberdaya alam dan politik. Praktik kolonialisme yang sewenang-sewenang dalam penguasaan sumber daya alam dan manusia melalui hukum yang rapi, menimbulkan perlawanan. Hal itu terlihat jelas melalui perlawanan Nyai Ontosoroh “Ya, Nak, Nyo, memang kita harus melawan” (BM, hal. 499). Perlawanan itu disulut oleh perampasan dan ketidakadilan terhadap pribumi yang telah menderita: Berikut alasan dan seruan Nyai bergaung;

“Sepanjang hidupnya pribumi ini menderitakan apa yang kita deritakan sekarang ini. Tak ada suara, Nak, Nyo—membisu seperti batu-batu kali dan gunung, biarpun dibelah-belah jadi apa saja. Betapa akan ramainya kalau semua mereka bicara seperti kita. Sampai-sampai langit pun akan roboh kebisingan.”

Perlawanan dengan penuh kemartabatan, meskipun dia mengetahui akan kalah. Bukan pada tujuan menang atapun kalah, tetapi pada perlawanan untuk membela harga diri dan martabat. “Dengan melawan kita takkan sepenuh kalah” (BM, hal. 499). Ketika kekalahan telah benar-benar di hadapan mata, Nyai tetap mengimbau pentingnya perlawanan yang penuh martabat dan kehormatan “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya” (BM, hal. 535). Kalimat inilah yang menjadi penutup novel BM ini.

Andries Teeuw (1997: 256) membenarkan bahwa “resistance against the colonial system becomes an essential element of Pramoedya’s nationalistic ideology. No compromise is possible, colonialism must be destroyed”. Ideologi perlawanan terhadap sistem kolonial telah menjadi gung utama dalam karya PAT. Perlawanan tersebut dipicu oleh kelompok elite Priyayi Jawa. Dari merekalah cikal–bakal nasionalisme itu muncul. Nasionalisme sebagai gerakan perlawanan muncul 85 % disebabkan dan bertujuan melawan sistem kolonial dan feodalistik yang absolut (Anderson, 1999: 2).

 

Kelahiran Nasionalis Kiri

Ernest Renan (dalam Ignatius Heryanto 2005: 54) memaparkan tentang pengertian bangsa sebagai berikut:

Nation is a soul, a spiritual principle. Two things, which are really only one, go to make up this soul or spiritual principle.One of these things lies in the past, the other in the present. The one is the possession in common of rich heritage of memories; and the other is actual agreement, the desire to live together, and the will to continue to make the most of the joint inheritance. Man, gentleman, cannot be improvised. The nation, like the individual, is the fruit of long past spent in toil, sacrifice, since our ancestors have made us what we are.

Apa yang dipaparkan Renan di atas bahwa bangsa sebagai ruh ; jiwa ; prinsip spiritual keingin-hendakan bersama untuk menciptakan mimpi besar. Selayaknya pribadi bangsa juga memiliki keluhuran dan tata−nilai yang diserap dari leluhurnya. Minke dalam hal ini mewakili sebuah bangsa dengan segala pergolakan batin yang diembannya. Ia memiliki cita-cita, masa lalu, dan juga masa depan. Ia mewakili cikal bakal nasion yang kelak bernama Indonesia.

Kemunculan nasionalisme sebagaimana diterangkan oleh Ben Anderson (1999: 3) sebagai berikut:

Nationalism arises when, in a certain physical territory, the inhabitants begin to feel that they share a common destiny, a common future. Or, as I once wrote, they feel bound by a deep horizontal comradeship. Typically, it arises quickly and suddenly in one generation, a clear sign of its novelty. One can see how much nationalism is tied to visions and hopes for the future if one looks at the names of the early organizations that joined the independence movement in the beginning of our century: Jong Java (Young Java), Indonesia Muda (Young Indonesia), Jong Islamientenbond (League of Young Muslims), Jong Minahasa (Young Minahasa), and so on.

Bangsa sebagai ‘teritorial psikologis’ yang penduduknya merasakan kehendak untuk bertujuan yang terikat oleh ‘horizon persahabatan’ yang mendalam. Pergolakan psikologis yang dialami Minke sejak dari H.B.S. mengantarkannya bahwa ilmu pengetahuan membuka mata bathinnya bahwa bangsanya mengalami kungkungan sistem kolonial yang mengikat. Yang pada akhirnya membawanya ke gerbang pintu perlawanan.

Apa yang dipaparkan di atas, mengindikasikan bahwa penulis yang berpegangan pada estetika Marxis bukan dilandasi atas keberpihakannya atas ideologi dan partai yang berhaluan sosialis, tetapi pada kerangka pikir yang melandasi pengarang tersebut menyusun logos pikirnya yang Marxian. Marxian, yaitu pola berpikir dari tradisi Hegelian yang melihat realitas sebagai dinamika-dialektika kesejarahan yang terus-menerus. Historis material sebagai metode berpikir (denk method) menentukan pelaku kesadaran masyarakatnya. Minke, sebagai tokoh historis dalam novel BM, merupakan sosok nasionalis yang lahir dari kesadaran kelas  akibat penindasan sistem kolonial. PAT selaku sumber rawi konkret sadar betul akan keterpengaruhannya dalam tradisi Marxian, ia senantiasa mengidam-idamkan jabang bayi Nasion Indonesia melalui sang Nasionalis kiri, yaitu Minke. [ ]

27 Desember 2013

 

* Penulis adalah Staf Pengajar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya dan dapat dihubungi di: wahyu_widodo@ub.ac.id

 

Ucapan terima kasih saya sampaikan pada kawan-kawan “Jamaah Semaan Bumi Manusia” atau lebih akrab ‘Jamaah Kemisan’. Mereka kelompok kecil yang mempunyai impian besar. Mencoba bertahan dengan menumpang di warung-warung saban malam jumat demi melestarikan satu mimpi ideal di tengah masyarakat yang dikepung pragmatisme akut. Keteguhan dan keistiqamahan mereka patut ditiru: Muhammad Fatonirahman (Inot) Sang Penggagas, David Ardyanta Sang Peretas Jalan Indonesia Sastra, Dany Ardhian, Nanang Bustanul Fauzi, dan semua kawan-kawan yang mengisi bumi manusia dengan pergolakan intelektual dan mesu budi. Juga ucapan terima kasih kepada rekan-rekan di Etnohistori yang menerbitkan tulisan ini untuk perluasan pendidikan dan pengetahuan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

―Anderson, Benedict Richard O'Gorman. 1999. “Indonesian Nationalism Today and The Future” on Indonesia, Vol. 67, (Apr., 1999), p. 1-11.
―Arvon, Henri. 1973. Marxist Esthetics. Ithaca: Cornell University Press.
―Aveling, Harry. 2002. “Wanita yang Sengsara dalam Bumi Manusia” dalam Rumah Sastra Indonesia. Hal. 142-154. Magelang: Indonesiatera.
―Freire, Paulo. 1984. Pendidikan Kaum Tertindas (Penerjemah Mansoer Fakih, dkk.). Jakarta: LP3ES.
―Geertz, Clifford James. 1984. Abangan, Santri, dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa. (Penerjemah Aswab Mahasin). Jakarta: Pustaka Jaya.
―Graft, Arndt. 2007. ‘Cyberpram’: Perceptions of Pramoedya Ananta Toer on Internet” dalam Indonesia and The Malay World Vol. 35, No. 103
..........November 2007. p. 293-312. London: Routledge.
―Heryanto, Ignatius. 2005. “Pramoedya Ananta Toer: Perempuan-Perempuan Pemberontak” dalam Basis: Sastra Melawan Kepasrahan
..........(No. 03-04, Tahun ke 54, Maret−April 2005). Hal 49-55.
―Hun, Koh Young. 2011. Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
―Kadarisman, A. Effendi. 1999. Wedding Narratives as Verbal  Art Performance: Explorations in Javanese Poetics. Ph. D. Dissertation (Unpublished).
..........University of Hawaii at Manoa, Honolulu, Hawaii, USA.
―Malaka, Tan. 1999. Madilog. Jakarta: Pusat Data Indikator.
―Maier, Henk. 2008. “Suara Gagap dan Pintu yang Berderit: Tulisan Pramoedya Ananta Toer dalam Bahasa Melayu” dalam Sastra Indonesia Modern:
..........Kritik Postkolonial (Clearing Space). (Ed. Keith Foulcer dan Tony Day). Hal. 75-104. Jakarta: KITLV dan YOI.
―Saidi, Acep Iwan. 2000. “Pramoedya Ananta Toer: Wacana Sejarah dan Kekuasaan dalam Ideologi Realisme Sosialis” dalam Sastra: Ideologi, Politik,
..........& Kekuasaan (Ed. Soediro Satoto dan Zainudin Fananie). Hal. 285-308. Surakarta: Muhammadiyah University Press dan HISKI Komisariat Surakarta.
―Scherer, Savitri Prastiti. 2012. Pramoedya Ananta Toer: Luruh dalam Ideologi. Jakarta: Komunitas Bambu.
―Teeuw, Andries. 1994. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya.
―Teeuw, Andries. 1997. “The Ideology of Nationalism in Pramoedya Ananta Toer’s Fiction” dalam Indonesia and The Malay World No. 73. p. 252-269.
..........London: Routledge.

 

 

 

[ E S A I ]

 

 

Baca Juga

tugu-jogja

Bagaimana Rasanya Takut?

Prima Sulistya Wardhani* 21 AGUSTUS 2014. Kami sedang mengobrol di teras asrama mahasiswa Halmahera Tengah ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest