Home / Data / Audio–Visual / Etnohistori dalam Penelitian Empiris Pedalaman: Kuliah Umum Pujo Semedi Hargo Yuwono

Etnohistori dalam Penelitian Empiris Pedalaman: Kuliah Umum Pujo Semedi Hargo Yuwono

Auditorium Fakultas Ilmu Budaya−Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 27 Juli 2012.

Video I

Baik, Etnohistori. Apa yang saya masih belum begitu, apa namanya, mengerti dengan maksud editor untuk menulis tajuk atau judul organisasi mereka sebagai Etnohistori. Tetapi kalau dirunut dari pengalaman saya sendiri, yang saya lakukan memang saya melakukan suatu riset yang mengkombinasi antara etnografi dan history, atau sejarah. Pendekatan yang saya pakai, yang saya kembangkan selama ini, saya jalani, istilah umumnya adalah historical ethnography: etnografi yang menyejarah. Kalau ‘etnohistori’ sebagai suatu istilah, itu setara dengan etno−botani, etno−metodologi, etno opo meneh? dan etno-etno yang lain. Yaitu satu pendekatan dalam antropologi yang berdasarkan pada prinsip bahwa kebudayaan itu bisa dilihat dari, minimum dari dua sisi, yaitu sisi pengamat/ peneliti/ akademisi. Kedua, sisi subyek-subyek ‘pemilik−pelaku kebudayaan’.

Kalau kita melihat dari sisi pemilik kebudayaan, semua masyarakat mempunyai sistem pengetahuan. Entah pengetahuan tentang sejarah mereka, tentang tata lingkungan mereka, tentang apa namanya, klasifikasi tumbuhan. Nah. Studi yang mempelajari pengalaman kebudayaan dari sisi pemilik kebudayaan, inilah yang disebut studi etnografi baru, new−ethnography yang kemudian dikembangkan menjadi etno−botani, etno−linguistik, dan sebagainya. Nah, kalau namanya ‘etnohistori’ dalam perspektif sejarah ini seperti yang diuraikan, dipahami sebagai pemilik pelaku kebudayaan itu sendiri. Tetapi saya kira, maksud yang hendak dicapai dari jejuluk Etnohistori ini, saya kira jauh lebih besar lagi. Bukan hanya melihat dari sudut pandang si subyek, pelaku dan pemilik kebudayaaan, tetapi saya kira jauh lebih besar lagi.

Kalau praktek etnografi yang saya kembangkan selama ini; nama umumnya historical ethnography, etnografi yang menyejarah. Sebelum saya menunjukkan, atau aplikasi dalam pendekatan studi masyarakat di pedesaan, saya ingin menguraikan, ya, menunjukkan akar sejarah-nya, asal muasal-nya. Asal yang pertama adalah dari sejarah antropologi itu sendiri. Dulu, waktu masih jaman edan dulu, jaman kuno jaman edan itu, para ahli antropologi klasik, seperti Radcliffe-Brown itu mengatakan antropologi itu tidak bisa menjadi sejarah. Antropologi dan sejarah itu dua hal yang berbeda. Ethnography, anthropology is not history, anthropology is science. Argumen Radcliffe-Brown mengapa antropologi tidak bisa diterima atau diperlakukan sebagai sejarah, sebagai suatu studi humaniora, tetapi harus diterima sebagai studi saintifik; argumen yang pertama terlalu naif sebenarnya. Sejarah itu mempelajari masyarakat, berdasarkan sumber-sumber tertulis yang ada, by definition. Sementara antropologi klasik, antropologi kolonial 1920, 1930 itu mempelajari bangsa-bangsa “primitif” dan by definition, primitive society adalah  masyarakat yang belum baca tulis, sehingga tidak mungkin menerapkan studi historis: sejarah dalam antropologi. Karena subyek antropologi adalah bangsa primitif yang tidak mengenal baca tulis.

Antropologi adalah alat berfikir orang Eropa yang dikembangkan untuk mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa. Dan bagaimana pandangan bangsa Eropa terhadap dunia di luar mereka, sangat sempit dan sangat Chauvinistik. Di luar Eropa tidak ada peradaban. Paralel dengan pandangan para pendeta jaman klasik, di luar Gereja tidak ada keselamatan. Jadi ada paralel-paralel pemikiran seperti itu, di luar Eropa tidak ada peradaban, tidak ada tulisan. Oleh karena itu kalau kita mengembangkan sebuah disiplin ilmu pengetahuan yang dipakai untuk mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa yang tidak punya peradaban, tidak mengenal baca tulis, maka studi itu tidak bisa studi historis. Radcliffe-Brown keliru. Jauh sebelum bangsa Eropa belum bisa katok’an (pakai celana, ed.), sampai sekarang ‘kan orang Skotlandia, Irlandia ‘kan ngga’ pernah pakai celana, pakai rok saja? Coba saja lihat film Braveheart kalau rok-nya dibuka ‘kan tidak ada apa-apanya? yang ada cuma burung ‘kan? Jauh sebelum orang Eropa bisa pakai celana, orang Asia, orang Afrika Utara itu sudah bisa baca tulis. Tetapi, kekuasaan politis dan dorongan-dorongan untuk terus berkuasa secara politis di Eropa pada masa kolonial, membuat orang-orang Eropa mengabaikan fakta ini. Sebelum orang Belanda datang ke Indonesia, orang Indonesia sudah bisa baca tulis lha wong kita punya prasasti sejak abad ke-4 Masehi. Tetapi fakta-fakta ini hilang tertutup oleh kesombongan kolonialisme, seolah-olah di luar Eropa, di luar bangsa yang tidak mengalami pencerahan renaissance itu tidak ada cahaya, masih menjadi terra incognita.

Respon terhadap pandangan Brown ini, secara eksplisit sebagai counter theory, muncul tahun 1950-an. Evans Pritchard satu garis keturunan pengetahuan dengan Radcliffe-Brown, tapi dia berpikiran lain. Tidak, antropologi itu sama dengan sejarah. Semuanya mempelajari masa lalu. Mana ada etnografi antropologi yang tidak memahami masa lalu? Sekalipun sumber data-nya bukan catatan tertulis, tetapi partisipasi observasi, secara faktual itu adalah peristiwa masa lalu. Bedanya apa? Bedanya adalah kalau para ahli sejarah membangun analisis mereka berdasarkan catatan masa lalu yang dibuat orang lain, orang sejarah tidak membuat arsip sendiri, mereka tinggal memakai arsip yang dibuat orang lain, sementara antropolog membuat data-nya sendiri. Ketika para antropolog turun lapangan untuk partisipasi−observasi, wawancara, yang mereka lakukan bukanlah pengumpulan data, yang mereka lakukan adalah intinya adalah pengumpulan informasi. Informasi ini kemudian ditulis secara sistematis menjadi field note, dan kemudian dikenal oleh para antropolog sebagai data.

 

Video II

Antropologi yang sejarah, semuanya mempelajari masa lalu, dan juga tesis Radcliffe-Brown bangsa primitif tidak punya catatan, secara faktual dibantah. Subyek-subyek antropologi sudah mengenal catatan, bahkan subyek antropologi sudah mengenal catatan, jauh sebelum kakek moyang si antropolog itu sendiri mengenal catatan. (Pur, tulung Pur AC sing kene pateni). Nah, bagi saya AC ini adalah bukti dari cara berfikir kita yang blunder. Ini negeri tropis, ya otomatis anget, panas, dan cara untuk mendinginkannya ngga’ usah pakai AC, buang energi, kalau mau bikin gedung, bikin plafon-nya yang tinggi, buka jendela lebar-lebar, angin masuk, adem ora mbayar, duitnya bisa dipakai untuk biaya riset para mahasiswa daripada untuk membayar listrik. (hadirin tepuk tangan). Masalah rasional saja, ngapain duit dihabiskan hanya untuk mendinginkan pantat kalian! (hadirin tertawa). Lebih baik duit itu dipakai untuk membuat kalian makin pinter, berangkat ke lapangan, untuk biaya hidup, daripada beli untuk AC dan mendinginkan ruangan, masuk angin tok, malah kentut. (Hadirin tertawa).

Dari segi antropologi, sudut pandang antropologi, tesis bahwa antropologi berbeda dengan sejarah ditolak oleh Evans Pritchard, dan saya setuju dengan Pritchard, bahwa antropologi itu historis, humaniora. Antropologi tidak bekerja membangun hukum-hukum saintifik yang berlaku general, di sepanjang waktu segala tempat, tetapi, lebih merupakan kerja kemanusiaan, untuk memahami, untuk membangun understanding, verstehen pada peristiwa-peristiwa yang historis, yang menyejarah, yang khas, tidak pernah berulang di lain tempat dan di lain waktu. Tetapi ada pola-nya, kehidupan sosial ada polanya, yang namanya sejarah sebagai suatu peristiwa yang khas. Sepanjang sejarah hanya akan ada satu Luthfi, tidak akan berulang lagi. Besok ya keluar anaknya, dulu ada bapaknya, tapi dia bukan Luthfi. Kalau nanti jadi profesor, hanya akan ada satu profesor, yaitu Profesor Luthfi. Yang akan muncul berikutnya adalah murid-muridnya Profesor Luthfi. Tidak akan terulang. Dan apa yang akan dilakukan Luthfi tidak akan terulang. Apa yang dilakukan Luthfi hari ini ya sudah, selesai, besok melakukan hal yang lain lagi. Peristiwa-peristiwa sosial sebagai sebuah peristiwa sejarah, itu sifatnya khas, tidak terreplikasi. Oleh karena itu, yang dibangun di sini bukan membangun generalisasi, tetapi pemahaman. Mengapa peristiwa khas semacam itu bisa terjadi? Apa konteks sosial, politik, budaya-nya, ekonomi-nya?

Saya juga sepakat dengan pandangan Evans Pritchard bahwa etnografi (adalah, ed.) antropologi−sejarah. Karena saya kemudian mengetahui, mengenal subyek-subyek dalam etnografi ini kebanyakan punya catatan, punya arsip. Sangat membantu kerja saya untuk membangun pemahaman mengenai masyarakat tersebut. Di sisi lain, di luar garis antropologi Inggris, tesis bahwa antropologi ini tidak sama dengan sejarah, sebenarnya sudah ditolak oleh para ahli sosiologi dan Indologi dari Belanda. Atau orang-orang yang belajar, sosiologi ekonomi di negeri-negeri jajahan, khususnya India, dan Hindia-Belanda. Schrieke, misalnya, dia mempelajari sejarah sosiologi Indonesia, sejarah sosial Indonesia, sejarah sosial ekonomi Indonesia. Ia mulai melihat, ia menunjukkan dengan jelas, bahwa bangsa yang selama ini dianggap oleh para antropolog tidak memiliki catatan, ternyata punya catatan. Demikian juga dengan para ahli prasasti para arkeolog, para filolog, jadi para arkeolog dan filolog. Merekalah yang mulai membaca teks-teks Indonesia yang Jawa, Melayu, Makassar, mereka semuanya baca. Dan dari situ mereka tahu. Mereka punya sejarah yang panjang. Tanpa banyak berteori membantah Radcliffe-Brown, para ahli purbakala dan filolog dan juga sosiologi Belanda menunjukkan, mau tidak mau, studi kebudayaan itu menyejarah. Ini satu kali. Dan praktek seperti ini dikembangkan oleh para antropolog di Belanda. Beruntung saya dapat kesempatan belajar dari para ahli antropologi Belanda, saya belajar kepada Frans Hüsken almarhum. Frans Hüsken belajar dari Wertheim, dan Wertheim dulu pernah menjadi jaksa di Indonesia pada masa kolonial. Jadi saya mempelajari tradisi. Saya sempat belajar tradisi antropologi Belanda di mana tradisi antropologi yang dikembangkan terutama antropologi di Amsterdam, adalah antropologi yang menyejarah. Memang ada Antropologi Belanda yang tidak menyejarah, di Leiden, alirannya Prof. De Jong, antropologi struktural. Tetapi di luar itu ada mazhab antropologi yang menyejarah. Kredo kami di The Amsterdam School for Social Science Research−Universitas Amsterdam adalah social historical comparative. Jadi riset kami adalah sosial, bukan tentang spekulasi filsafati, historis, dan komparatif, perbandingan antar waktu.

Akar yang lain, di Jogja ada Profesor Sartono. Pendekatan yang dipakai dikembangkan Prof. Sartono adalah studi sejarah yang mau menggunakan teori-teori ilmu sosial untuk menerangkan masa lalu. Pada satu jaman, waktu studi sejarah ini diterima orang hanya sebagai narasi kronologis, asal sudah diurutkan dari era ke era, dari jaman ke jaman, ya sudah jadi studi sejarah. Menurut Prof. Sartono tidak. Setiap waktu atau setiap era kondisi sosial-nya harus diterangkan, dan disiplin yang punya alat untuk menerangkan struktur sosial sebagai jalan untuk memahami suatu  jaman adalah sosiologi dan antropologi. Sehingga Prof. Sartono banyak menggunakan pendekatan-pendekatan, teori-teori antropologi dan sosiologi untuk membangun studinya. Tema-nya memang pemberontakan petani Banten pada akhir abad ke-18, peristiwa-nya peristiwa masa lalu, historis jelas. Tetapi cara ia menguraikan bagaimana pemberontakan itu bisa berlangsung, mengungkap struktur sosial bagaimana pemberontakan itu berlangsung dan bisa segera dipadamkan sangat antropologis dengan menggunakan pendekatan-pendekatan antropologis yaitu dengan mencari relasi-relasi sosial yang berlaku pada suatu masyarakat. Itu pendekatan yang dikembangkan oleh Prof. Sartono, yang saya kira, kemudian diikuti dan berkembang di Jurusan Ilmu Sejarah UGM, yaitu menjelaskan masa lalu dengan bantuan teori-teori sosial. Peristiwanya masa lalu, sumber informasi-nya, arsip tetapi dengan menggunakan teori-teori ilmu sosial untuk melihat relasi-relasi sosial, struktur sosial, struktur masyarakat, diharapkan muncul pengertian-pengertian baru mengapa suatu peristiwa yang khas di suatu tempat dapat terjadi.

Lantas kalau dilihat dari perspektif antropologi-nya bagaimana? Prof. Sartono mengembangkan sejarah yang meng-antropologi, sejarah yang meng-ilmu sosial, pendekatan ilmu sosial dalam studi sejarah. Kalau dari perspektif antropologi-nya adalah antropologi yang menyejarah, bagaimana mulanya? Secara umum, kerja ahli antropologi itu ditunjukkan pada hari ini, pada masa-masa kontemporer. Partisipasi-observasi, metode utama para antropolog dengan sendirinya hanya bisa melihat fakta-fakta yang saat itu sedang berlangsung. Dibatasi oleh metode-nya, maka sasaran kerja para ahli antropologi adalah keadaan saat ini, kontemporer. Metode kerja yang dipakai oleh para antropolog adalah, selama ini, mencoba membangun pemahaman mengenai keadaan hari ini berdasarkan pada fakta-fakta hari ini. Jadi ketika para antropolog bekerja di lapangan mereka mengumpulkan informasi, membangun data keadaan hari ini untuk menerangkan keadaan hari ini, dan selanjutnya. Bagus. Kebanyakan studi etnografi antropologi seperti ini. Kalau kalian membaca, kalian melihat, antropologi mempelajari kondisi kontemporer dengan menggunakan fakta-fakta kontemporer sebagai elemen penjelasnya.

Saya bahagia dengan pendekatan seperti itu, sampai pada suatu waktu, saya punya keinginan, cerita-nya nih, untuk mempelajari keadaan masyarakat nelayan di pantai utara Jawa. Indonesia pada masa akhir Orde Baru, ee masa Orde Baru, saat itu saya belum tahu bahwa Orde Baru akan berakhir, tahun 1996. Jadi saya bercita-cita untuk membangun studi keadaan nelayan, masyarakat nelayan pada masa Orde Baru yang diwarnai, yang bercirikan, kegiatan pembangunan, campur tangan pemerintah yang sangat kuat di dalam bisnis penangkapan ikan. Saya ingin tahu apa efeknya, terhadap kehidupan masyarakat nelayan di tingkat lokal, dan bagaimana dialektika antara dinamika lokal dengan dinamika tingkat nasional pada masa Orde Baru. Nah, saya menulis rencana riset proposal, seneng banget selesai, proposalnya selesai. Bagus, Frans Hüsken bilang bagus tapi bagusnya Frans Hüsken waktu dia bilang bagus, saya lihat itu senyumnya itu saya lihat tidak ikhlas (hahaha). Jadi dia itu tidak pernah melarang kepada saya, kalau saya menyerahkan, ia hanya “Iya.. iya.. kamu betul, bagus”, sambil tersenyum, dan kemudian saya lama-lama senyumnya itu berbunyi, lihatlah betapa tololnya kamu (hahaha) tanpa pernah mengatakan bahwa kamu ia bodoh. Tapi senyum dia itu, “Lihatlah betapa tololnya kamu”. Bagus, kamu baca lagi.

Setelah rencana riset untuk mempelajari masyarakat nelayan Orde Baru ini selesai, yang ditandai oleh intervensi pemerintah, saya disuruh untuk baca lagi dan baca lagi. Coba kamu baca pada jaman-nya Soekarno, terus mundur-mundur. Kemudian saya melihat, bahwa pembangunan sebagai intervensi pemerintah terhadap kegiatan masyarakat nelayan itu ternyata, bahkan untuk sektor penangkapan ikan laut, tidak hanya dilakukan Orde Baru, namun Orde Bung Karno juga ternyata melakukan pembangunan dalam sektor penangkapan ikan. Bahkan ketika saya didesak oleh Peter Boomgaard membaca arsip dan sebagainya, saya menemukan pada jaman Jepang, pemerintah pendudukan Jepang mereka juga memiliki kebijakan untuk mengatur para nelayan. Mundur lagi, tahun 1930, kredit motor, perahu motor pertama itu dimunculkan oleh Dinas Perikanan Laut, tahun 1930. Perahu motor yang pertama. Mundur lagi, koperasi mino-koperasi mino, koperasi perikanan laut yang sekarang ada di Indonesia itu ternyata berdiri pertama kali, pada tahun 1913. Didirikan oleh pemerintah dalam rangka untuk membantu para nelayan untuk mengatasi persoalan sosial ekonomi masyarakat. Terus mundur-mundur. Di situ saya jadi sadar bahwa apapun yang terjadi pada masyarakat nelayan pada masa Orde Baru, faktor-faktor penyebabnya tidak bisa semata-mata diambil dari masa Orde Baru. Karena kalau kita berpandangan bahwa porgram pembangunan ini banyak berpengaruh terhadap kehidupan para nelayan, dari pembacaan historis saya, saya melihat yang melakukan pembangunan ternyata bukan hanya pada Orde Baru, orde-orde sebelumnya juga melakukan pembangunan.

Di situ saya melihat bahwa fakta-fakta sosial, kehidupan sosial itu semua punya akar sejarah, punya akar masa lalu. Dan kalau kita ingin membangun pemahaman yang bagus tentang masyarakat, jangan melihat hari ini saja, tapi lihat akar masa lalunya. Sejauh mana? Ya ideal-nya sejauh-jauhnya gitu ya, tapi ya sejauh masa yang relevan. Itulah pendekatan yang saya pakai, saya kembangkan. Saya mencoba melakukan studi etnografi untuk memahami keadaan suatu masyarakat kontemporer dengan memberikan perhatian pada akar masa lalunya. Sehingga ketika saya melakukan riset secara praksis, metode yang saya pakai, saya tidak hanya melakukan metode partisipasi, observasi, tetapi saya masuk ke gedung arsip, catatan masa lalu. Dan di situ saya mendapatkan banyak sekali. Apa yang saya anggap barang baru, ternyata barang kuno. Di situ saya makin paham, bahwa apa yang kita miliki hari ini, apa yang ada pada kita saat ini, semuanya dibangun dalam proses sejarah yang panjang. Jadi kalau kita abai pada proses sejarah seperti ini, saya tidak yakin pemahaman-penjelasan yang kita bangun ini akan cukup memuaskan.

Jadi kalau saya kembalikan lagi, apa bedanya saya dengan sejarawan? Prof. Sartono dan murid-muridnya melakukan studi sejarah dengan memanfaatkan teori-teori sosial sebagai alat penjelas, saya melalukan studi ilmu sosial dengan menggunakan fakta-fakta historis, sebagai akar masa lalu. Sama saja, cuma beda jalan masuknya. Sebagai etnografer saya bekerja dengan menggunakan metode observasi, partisipasi dan wawancara, tetapi saya juga sangat memperihatikan catatan masa lalu. Dari saya blusuk’an ke kantor arsip inilah saya memperluas jangkauan. Saya mendapatkan temuan-temuan baru, bagi diri saya sendiri, bahwa apa yang diindikasikan oleh Evans Pritchard benar adanya, bahwa masyarakat punya catatan. Arsip itu ternyata bukan hanya di gedung arsip adanya. Kalau kita pergi ke balai desa pun, di sana banyak sekali arsip. Arsip-arsip desa itu banyak sekali, dan tidak ada yang memanfaatkan. Arsip-arsip perusahaan itu banyak sekali dan tidak ada yang dimanfaatkan. Kalau kita datang ke sebuah perusahaan dan minta catatan hari ini, mereka akan bilang: “Rahasia perusahaan… rahasia perusahaan.”, tapi kalau kita bilang: “Pak, kita minta catatan masa lalu, arsip Pak”, “oh ya.. ya.. disimpan di sini”, dikasih semua. Di setiap desa ada gudang arsip. Di setiap keluarga masih punya arsip. Saya mendapatkan, mau disebut arsip boleh, paspor orang petani di Jawa tengah, yang pergi haji tahun 1927. Jadi, masih ada paspor-nya, masih dipelihara oleh cucunya. Ini membuka mata saya, arsip tidak hanya di gedung arsip saja, di keluarga juga ada arsip. Dan karena pergaulan saya dengan warga Pekalongan, ada banyak arsip keluarga Tionghoa yang belum pernah disentuh oleh peneliti. masih numpuk di gudang. Cuma satu, kalau kalian mau baca arsip kalian harus pandai bahasa budaya yang kalian pelajari. Itu kelemahan diri kita.

Kalau kalian ingin menjadi antropolog, kalian harus mengerti bahasa masyarakat yang kalian pelajari. Saya meneliti Dayak, kalau tidak bisa bahasa Dayak nanti ngga’ sambung, ya harus belajar bahasa Dayak, au bang, misalnya. Ada arsip-arsip milik keluarga Tionghoa yang belum disentuh sama sekali. Dan kita tahu struktur ekonomi Indonesia itu tulang-punggungnya adalah orang Tionghoa, namun arsipnya belum pernah kita sentuh. Bukan karena mereka melarang tidak boleh arsipnya disentuh, siapa sih sejarawan yang bisa ngomong Cina? Siapa yang bisa nulis cang ceng cong? Ngga’ ada. Mas Margana bisa bahasa Jawa, tulisan Jawa, bisa tulisan VOC, Belanda VOC, tetapi siapa ahli sejarah kita bisa tulisan Cina, yang bisa bahasa Cina, yang bisa bahasa Jepang? Siapa yang bisa baca Kanji? Ini hubungannya dengan disiplin ilmu yang tersekat-sekat itu. Siapa ahli antropologi kita yang bisa bahasa Jerman? Yang bisa bahasa Perancis? Yang bisa bahasa Belanda? Ini tuntutan, apa namanya, disiplin pengetahuan yang sering kita abaikan. Dari blusuk’an saya mencari arsip inilah, ternyata arsip ada di mana-mana. Kita belajar bahwa ternyata kehidupan manusia itu bukan “macan mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama baik”. Tidak. “Manusia itu meninggalkan arsip!”. Nek manusia meninggalkan akeh belang, iyo, nek ora yo ngga‘. (hahaha). Nek meninggalkan nama baik, yo iya yang memiliki nama baik, nek punya nama bejat macam saya? (hehehe). Tapi sing ceto, manusia itu meninggalkan arsip. Biarpun kalian ataupun saya tidak membuat arsipnya, tetapi arsipnya itu ada. Akhirnya saya praktik, diri saya, rumah ibu saya bongkar, saya menemukan arsip saya. Pujo ada akte kelahirannya, ijazah SD-nya, rapor-nya ada, riwayat sekolah-nya ada, KTP-nya ada, riwayat sakit-nya ada, semuanya tercatat. Nah, semakin modern kita saat ini, arsip-nya semakin banyak. Cuma tidak diurus oleh ANRI, Arsip Nasional Republik Indonesia. (hehehe). Arsip-arsip macam itu berguna memberitahu kita, dan bisa diakses kalau kita tahu caranya, ngomong baik-baik. Oleh karena itu, setiap kali saya riset sekarang di samping partisipasi, observasi, ngomong, wawancara, saya selalu menanyakan kepada kepala desa, kepada informan-informan saya: “Apa punya catatan, Pak?”

Sekarang mari kita ke Kalimantan. Kurang lebih-nya bisa dibayangkan. Bayangan umum-nya ‘kan, Kalimantan adalah negeri para peladang, dalam istilah antropologi-nya adalah trashman, masyarakat tribal, yang hidup di pedalaman, bikin ladang, berburu, meramu, dan sebagainya. Tidak pernah kalian bayangkan, bahwa mereka juga punya catatan. Tetapi waktu saya sampai di Kalimantan, saya melihat, bahwa para tauke, para juragan toko di sana, yang membeli karet dari petani, dijual ke pasar, dan membeli barang dari pasar dan dijual kepada para petani, ternyata punya catatan yang sangat banyak. Yang bagi antropolog macam saya ini tambang emas, karena dalam catatan tauke ini, saya tahu nyaris persis keluarga A, konsumsi-nya berapa, produksi-nya berapa, keluarga B, terus, karena mereka jual belinya dengan tauke. Dan apa yang dijual dan dibeli dari para tauke ini, dicatat oleh para tauke ini. Punya catatan mereka. Tidak pernah terbayangkan di kampung Dayak, kita bisa temukan catatan, dan banyak. Semua tauke punya catatan. Dan kita saya bilang, “Bang, boleh saya pinjam?”, “Boleh.. boleh.., silahkan dibawa saja ke Jogja, karena sudah tidak dipakai lagi”, katanya. “Yang dipakai adalah catatan hari ini. Kalau ini jangan”, katanya. “Kalau ini boleh, satu kotak”. Ahli sejarah kalau dapat arsip satu kotak sudah kaya nemu emas satu ton kata-nya. Catatan ada di mana-mana, dan semuanya adalah sumber informasi. Kalau para antropolog hanya memperhatikan masa kini saja dan mengabaikan catatan masa lalu, bagi saya itu rugi besar. Karena kita mempunyai kesempatan untuk melakukan penjelasan yang lebih komprehensif tetapi tidak kita lakukan karena hanya kita percaya satu dogma lama, bahwa antropologi bukan sejarah. Tetapi kalau kita mau mengakui bahwa antropologi itu sejarah, menyejarah, pekerjaan kita bisa lebih bagus lagi, bisa lebih produktif lagi. (Sebentar saya haus, tapi tidak boleh minum, karang lagi poso, ngomong terus ini, haus. Sepuluh menit lagi).

Nah, bagaimana kami meng-aplikasi-kannya? Saya meng-aplikasi-kan riset antropologi yang menyejarah dalam studi pedalaman riset saya di Kalimantan. Riset saya yang mutakhir, bukan yang mutakhir, riset antropologi−sejarah saya di Kalimantan, kalau riset yang terakhir yang sedang saya gabungkan adalah di Comal. Riset Comal ini lebih gila-gila lagi bagi saya, karena ini riset pengulangan. Riwayat-nya tahun 1904 dulu ada ahli sosial Belanda, S. Jacob dan Van Mol yang melakukan survey rumah-tangga petani di Kawedanan Comal, Pekalongan untuk mempelajari keadaan struktur keadaan ekonomi rumah-tangga petani di sekitar wilayah pabrik Comal. Data-nya masih ada. Hasil survey-nya masih ada. Tahun 1990, almarhum Frans Hüsken, mbah Djoko Suryo, Prof. Hiroyoshi Kano melakukan riset ulang, di wilayah yang sama, desa yang sama, mengajukan pertanyaan yang kurang lebih sama untuk melihat apa yang terjadi, perubahan yang terjadi antara tahun 1904-1990, lalu buku-nya keluar, Di Bawah Asap Pabrik Gula. Menurut temuan salah satu peneliti-nya, Prof. Kosuke Mizuno, dia mengatakan dalam 90 perjalanan sejarah petani di Comal, ada satu kategori sosial yang hilang yaitu royot. Royot adalah satu kelompok petani pada tahun 1904, yang tidak punya tanah, proletar pedesaan, yang untuk bikin rumah pun harus numpang di pekarangan orang lain. Dari survey pada tahun 1990, mereka menemukan royot sudah tidak ada lagi, semua orang sudah punya pekarangan. Bagus. Tidak tahu ketempelan setan dari mana mereka itu, tahun lalu itu, 2011, Prof. Mizuno dan Prof. Kano, meng-email saya, “Pujo, mari kita melakukan pekerjaan Frans Hüsken dulu, kita lihat lagi, distrik itu di tahun 2012 ini, sehingga kita bisa punya satu catatan perubahan sosial selama satu abad penuh.” Saya itu mau bilang, tidak terima kasih saya sensei, saya sibuk, tidak sampai hati. Prof. Kano itu guru saya, moral saya mengatakan, saya diperintah guru saya, kok bilang tidak. Ketika guru saya mengatakan, “Pujo, kerjakan ini!”. Saya selalu mengatakan, “Ya Pak, saya kerjakan”. Tapi terus terang ya, beban saya sudah terlalu banyak. Mau saya jalani berat, tidak saya jalani, ide-nya juga menarik. Melihat satu dinamika sosial selama satu abad dengan catatan yang secara empirik ada. Ini bagi saya adalah tantangan yang tidak bisa ditinggalkan, di samping kewajiban moral terhadap guru saya.

Tantangan yang tidak bisa saya tinggalkan, ya saya akan berangkat, saya ingin tahu apa bener sih temuan-nya Prof. Mizuno itu bahwa royot itu hilang? Kalau hilang, hilang-nya ke mana? Itu yang saya kerjakan. Kemarin, kemarin, saya masih di tepi laut di tambak, dengan seorang petani. Jadi di Comal itu ada satu fenomena alam yang luar biasa, karena ini di muara sungai, yaitu munculnya tanah timbul, perluasan tanah. Erosi tanah yang disebabkan oleh para petani kentang di pegunungan Dieng, dan disesali oleh Departemen Kehutanan, Departemen Tani sebagai bahaya lingkungan, dan sebagainya. Bagi para petani Comal itu berkah, halleluyah, puji Tuhan, banjir lagi, bawa lumpur yang banyak, ada tanah lagi, alhamdulillah mas tanahe tambah. Coba bagaimana kita akan membaca dinamika ekologi, bencana di satu tampat, tidak jauh-jauh, 60 kilometer, telah menjadi rata. Tanah timbul ini kemudian oleh para petani dijadikan tambak. Saya duduk dengan seorang petani ompong, “Jenengan asmane sinten De?/ Kulo Darwo./ Griyane pundi?/ Pesantren./ Pundine Pak Nur Yahman?/ Wingkinge/ Pundine Ngasrudin?/ Sebelahe, lha kok ngerti Ngasrudin njenengan?/ Nggih, kulo kancane Ngasrudin. Tambake jenengan pundi?“. Dia langsung  tunjukkan tambak yang persis di tepi laut. De, njenengan gadah sawah nopo mboten? Kamu punya sawah tidak? Mboten. Bapake sampeyan mbiyen nduwe sawah mboten?/ Mboten./ Simbahe sampean tasih kelingan nduwe mboten?/ Mboten./ Buyute?/ Mboten?/. Dia keturunan proletar di sana. Dan saya tahu siapa buyut-nya karena ada dalam catatan Van Mol. Bagaimana seorang proletar, menurunkan proletar, mencucukan proletar, mencicitkan orang yang bisa tidak jadi proletar, gara-gara petani kentang di Dieng rajin mencangkul tanah, menimbulkan erosi, lalu menimbulkan tanah timbul di muara sungai. Hilangnya kelas proletar di Comal ini, antara lain, karena terserap oleh tanah timbul, oleh lahan baru. Ya kalian jangan coba cepat-cepat menarik kesimpulan, kemudian malakukan extrapolasi: nah kalau begitu bagaimana kalau pulau Jawa kita ratakan saja, agar tanah-nya biar tambah, agar bisa land reform. Kalian kan ide-nya land reform−land reform terus. Land reform itu ya bagus, tapi elitis, itu idenya orang Jakarta. Bagi Daliyo, petani itu, land reform itu bahaya mas, PKI itu, kulo bisa kecekel. Tapi dengan diam-diam dia bisa dapat tanah sendiri. Iya toh? Hahaha. Luwih pinter, siapa bilang petani itu bodoh? Jadi jangan coba sekali, kalian, kalau begitu mari erosi di pegunungan kita tingkatkan supaya tanah semakin luas, semakin rata. Nanti malah tenggelam. Tapi itu menunjukkan proses sosial, transformasi, dari generasi ke generasi dan perubahannya disebabkan oleh faktor ekologis.

 

Video III

Kembali lagi ke Kalimantan. Di Kalimantan, saya melakukan suatu riset untuk mempelajari tentang budidaya kelapa sawit. Introduksi kelapa sawit di Kalimantan de facto tidak bisa ditolak, telah meningkatkan gross domestic products di sana. Jadi penghasilan agregat wilayah itu meningkat pesat,  pendapatan, duitnya banyak. Berapa banyak? Satu ton  kelapa sawit itu harganya 1,5 juta-an rupiah. Dan di Kalimantan Barat setiap hari orang menghasilkan kelapa sawit, apa namanya setiap bulannya menghasilkan di sana ada 800.000 hektar sampai satu juta hektar. Setiap hektar menghasilkan satu setengah ton setiap bulan. Berarti ada satu setengah juta ton kelapa sawit yang dihasilkan di Kalimantan Barat setiap bulan. Harganya satu ton adalah 1,5 juta rupiah. Kalian ingin tahu, kalian bayangkan, triliun duit baru itu. Dan kelapa sawit ini jauh lebih produktif dari usaha-usaha yang lain di Kalimantan Barat. Dulu usahanya adalah dari HPH, logging. Logging ini sekali tebang habis, baru dapat ditebang lagi 40 tahun, itu pun kalau ditanam. Tambang emas  sekali tambang habis. Akan keluar lagi besok 5 milyar tahun yang akan datang. Kelapa sawit tidak, sustainable, dari bulan ke bulan, keluar duit triliunan rupiah. Namun secara teoritik kita juga tahu, ketika gross domestic pruducts suatu wilayah itu meningkat, peningkatan ini selalu dibarengi dengan makin lebar-nya disparitas sosial antara yang kaya dan yang miskin. Jadi ada sekelompok orang yang semakin makmur, bertambah kemakmurannya dan ada orang yang masuk dalam kelompok miskin. Jejuluk riset kami adalah: “Production of Wealth and Poverty in New Indonesian Rural Economics“, produksi penciptaan kemakmuran dan kemiskinan di sistem ekonomi pedesaan di Indonesia Baru. Kami berangkat dari tesis bahwa kemakmuran suatu masyarakat bukanlah rejeki yang turun dari langit, sabda-nya gusti Allah. Zamzam jadi sugih, jadi kaya, misalnya. Kekayaan adalah konstruksi sosial, kekayaan dibangun oleh proses-proses sosial, demikian pula kemiskinan. Kemiskinan bukanlah kutukan, kemiskinan adalah konstruksi sosial. Orang  jadi miskin itu karena secara sosial menghadapi proses-proses dan konstruksi sosial yang membuat dia miskin. Bukan karena lahir dari perut ibu-nya adalah miskin, maka Hatib jadi miskin, miskin terus seumur hidupnya, tidak. Semuanya konstruksi sosial. Dan kami ingin tahu, bagaimana introduksi sawit di Kalimantan Barat, mengkonstruksi siapa yang bisa jadi kaya, dan siapa yang menjadi miskin, dan apa konsekuensi-nya bagi masyarakat.

Dari studi historis lagi saya, kami menemukan bahwa wilayah Kalimantan Barat adalah wilayah frontier, wilayah di mana orang datang dengan satu gagasan: ini wilayah baru yang masih bisa diekspansi terus menerus. Kesempatan yang baru. Wilayah garis depan. Sekarang jadi frontier sawit. Jadi kalau hanya dilihat hari ini saja, kita melihat bahwa Kalimantan Barat menjadi wilayah frontier sawit. Garis depan untuk menanam sawit, cita-citanya katanya, besok seluruh Kalimantan akan dibikin sawit, jadi setan sawit nih. That’s fine with me. Ide bahwa Kalimantan Barat menjadi sawit. Tetapi ketika saya melihat pada catatan sejarah Kalimantan Barat, saya melihat, ternyata Kalimantan Barat menjadi frontier di sepanjang jaman. Pada masa tahun, pada abad ke-4 M, abad 6 M menjadi frontier bagi pedagang produk-produk hutan eksotis untuk diekspor ke Cina. Orang masuk ke hutan untuk mengambil damar, gaharu, burung-burung, burung betulan, bukan burung cucak rowo ya, kemenyan, diekspor ke sana. Ketika ekonomi Kalimantan makin mapan, berkembanglah Kesultanan-kesultanan Melayu di sepanjang sungai yang membangun ekonomi mereka dengan cara mengontrol perdagangan. Menjadi frontier lagi bagi kerajaan Melayu, membangun wilayah baru. Tahun 1870, 1860, 1850 tambang emas dibuka. Frontier baru untuk usaha tambang. Kuli-kuli tambang dari Cina daratan dibawa ke Kalimantan. Tambang-nya habis, bekas-bekas kuli ini masuk ke sungai dan bekerja menjadi pedagang, membangun struktur mata rantai dan piramida perdagangan yang difasilitasi oleh para tauke-tauke di kota, frontier lagi. Tahun 1910 M pemerintah kolonial meng-introduksi memproduksi karet, frontier, tanam baru lagi. 1920 pemerintah kolonial mengijinkan perusahaan besar untuk masuk ke Kalimantan membuka perkebunan besar, menjadi frontier perkebunan baru lagi. Selesai kemerdekaan, pemerintah Republik mengirim transmigran ke Kalimantan, frontier lagi. Tahun 1970 Pak Harto mendapat dana pembangunan mengirimkan para jenderal-nya dan para kroni-nya untuk menebang hutan, frontier lagi. HPH akhirnya habis. Ganti sawit mulai dari tepi yang paling dekat dengan kota hingga masuk ke pedalaman, frontier lagi. Jadi Kalimantan ini jadi frontier nyaris sepanjang jaman. Bukan hanya pada hari ini menjadi frontier sawit.

So, what’s the problem? Apa masalahnya? Secara etnografis kita tahu bahwa setiap frontier itu selalu memunculkan kebudayaan frontier-isme. Suatu sikap mental, suatu sikap berfikir, yang membayangkan seolah-olah dunia itu tidak ada batas-nya, bisa diekspansi terus menerus. Bahasa Jawa-nya: entek golek, entek golek, mentalitas bahwa seolah-olah sumber dalam kondisi melimpah-ruah. Satu itu secara ekonomis. Frontier-isme, ekonomi frontier berdasarkan asumsi sumber daya masih melimpah. Masa frontier selalu diwarnai dengan tatanan sosial nyaris hukum rimba, siapa yang kuat, siapa yang menang, Wild West. Semua orang jadi raja, semua orang jadi pelindung, semua orang jadi bos. Tidak ada struktur kekuasaan yang tegas. Frontier-isme, masyarakat frontier menimbulkan satu dinamika sosial yang alirannya sangat cepat, orang pindah tempat sangat cepat. Ketercerabutan sosial sangat tinggi. Kalian tidak mengalami film cowboy, saya mengalami. Hero kami waktu muda dulu adalah para cowboy, jagoan-jagoan untuk membela kebenaran, dan sebagainya. Tetapi setelah saya jadi tua, saya membaca analisis novel Wild West Amerika, para cowboy inilah, cerita cowboy inilah cermin dari masyarakat yang mengalami ketercerabutan sosial, tidak jelas kampung halaman-nya mana, ngalor-ngidul, nunggang bedil. Main kekerasan, main pukul, main tembak. Menciptakan suatu kondisi yang nyaris lowest, tidak ada aturan hukum yang jelas. Satu jaman frontier saja bisa menciptakan masyarakat seperti itu, yang efeknya panjang. Sampai hari ini, budaya Wild West Amerika, budaya ekonomi Wild West ini budaya ekonomi cowboy ini masih menempel praktek ekonomi orang Amerika, mereka suka menguras sumber daya ke mana-mana. Padahal mereka mengalami masa frontier hanya satu kali, pembukaan wilayah pantai barat. Apa jadinya dengan masyarakat Kalimantan, ketika mereka mengalami masa frontier berulang-ulang dari sejak abad 19 hingga hari ini dan tidak pernah selesai? Apa jadinya bagi kebudayaan mereka, bagi struktur sosial mereka, bagi struktur border mereka?

Gross domestic products mereka bisa meningkat dengan ekonomi-ekonomi frontier. Tetapi biaya sosial yang harus dibayar masyarakat untuk pertumbuhan ekonomi bisa sangat berat. Tetapi kalau kita melihat data historis, kita dapat melihat bahwa masyarakat yang ketika dilihat dalam satu snapshot, secara stabil, (ketika dilihat, ed.) secara historis, bisa tampak inilah masyarakat yang selalu terus-menerus dalam kondisi turbulence. Sama-sama bagian dari Republik Indonesia, infrastruktur jalan raya di Jawa bagus, Kalimantan tidak bagus. Apa gara-gara tanah di Kalimantan, rawa-rawa, jadi gampang penyok? Lempar ahli teknologi goblok-goblok’an, “Wah iya, karena tanah Kalimantan itu, gambut, gampang penyok.” Mari kita menyeberang, keluar dari batas Entikong. Siapa kemarin yang ke Brunei? Mereka melihat begitu masuk wilayah Serawak, dari Entikong sampai Brunei Darussalam, jalannya baik. Jadi ngga’ ada urusan ini, tanah di Kalimantan itu, plenyok-plenyok karena tanah-nya. Ini lebih karena orde sosial. Secara historis kita tahu, Jawa secara struktur sosial-nya mapan, dimapankan, dipaksa mapan, tidak ada frontier−frontier-an, RT, RW, desa, semua dimapankan punya aturan jelas. Mau main pukul tidak bisa, main kuasa tidak bisa. Tetapi situasi seperti itu belum pernah tercapai di Kalimantan. Setiap orang masih mau main bermain frontier, yang punya modal, repot beli tanah ke mana-mana. Yang ketua adat repot menjadi calo tanah ke mana-mana. Yang punya senapan, repot untuk menjadi pengawal para pengusaha, dan sebagainya − dan sebagainya. Sehingga kepentingan publik secara umum terbengkalai.

Buktinya? Gampang. Saya naik kapal sungai. Kapal sungai pengangkut barang, ada penumpang melambai, kapal-nya menepi. Dan melambainya itu ternyata si penumpang itu melambai menghentikan kapal di lanting, lanting itu dermaga milik perusahaan sawit di sana. Begitu kapal nempel, ada seorang anggota Brimob yang masih menggunakan seragam-nya dan langsung suit-suit, suruh minggir kapal-nya, ngga’ boleh, karena ini milik perusahaan. Bagaimana si anggota Brimob dengan setia menjaga kepentingan perusahaan-nya, orang lain minggir bang. Di sisi lain pergilah ke Pontianak, ke Jalan Mahakam, Kapuas, kalian akan melihat ada jalan yang ada tanda  P P P yang dicoret, maksudnya jangan pilih Pujo, hahaha. ora entuk parkir (dilarang parkir, ed.), ada aturan-nya. Tapi kalian lihat di situ, mobil parkir sampai bahu jalan, penuh hingga jalan, dan tidak ada satu orang polisi pun yang menertibkan keadaan ini. Ini apa kalau bukan frontier−isme? Absen-nya kekuasaan. Kekuasaan yang dibangun untuk kepentingan publik, akhirnya hanya menjadi kekuasaan yang sendiri-sendiri. Wild West, dan bila kondisi ini bertahan dari jaman ke jaman apa efeknya? Hal ini dapat kita ketahui kalau kita mau membaca sejarah.

Oleh karena itu saya mau menutup pertemuan kali ini, kalau kalian ingin menjadi etnografer yang bagus, kombinasikanlah dengan riset sejarah. Jangan hanya menerangkan kondisi hari kini, dengan fakta masa hari saja, tetapi lihat pula akar masa lalu. Insya Allah, kita akan mampu membangun pemahaman-pemahaman baru yang lebih appropriate. Saya kira itu yang bisa saya sampaikan selama satu setengah jam, saya rasa lebih dari cukup. Mudah-mudahan ada manfaatnya terutama bagi saya sendiri, dan juga untuk kalian semua.

Terima kasih. Selamat siang.

Transkrip oleh: Anna Mariana, 7 September 2012

© Video: Tim ETNOHISTORI

Etnohistori Edisi Seri Pemikiran Ilmu Sosial Indonesia

3 Tanggapan

  • Hello, guest