Home / Topik / Ulasan Buku / Dinamika Klas dalam Perubahan Agraria

Dinamika Klas dalam Perubahan Agraria

Ulasan Buku Oleh: Dicky Putra Ermandara

Judul Buku: Class Dynamics of Agrarian Change

Penulis: Henry Bernstein

Penerbit: Fernwood Publishing (2010)

Tebal: xii + 142

 

 

I

Di bagian pendahuluan, buku ini menyatakan diri sebagai sebuah buku kajian agraria dengan pendekatan ekonomi-politik marxis (hal 1 – 9). Ini adalah jenis buku langka kalau kita menengok rak pustaka kajian agraria di Indonesia. Dalam tradisi kajian kita, paradigma dominan untuk tema agraria sejak masa akhir kolonial (1920–1940an) hingga era reformasi adalah paradigma pembangunanisme dan berbagai varian populisme yang cenderung melukiskan latar masyarakat agraris (terutama di Jawa) tersusun atas komunitas ‘kaum tani kecil’ yang egaliter dan homogen (White, 2006: 120 & 137). Belakangan, konsekuensi cara pandang demikian kadang berjalan ke arah berlainan; dengan mengandaikan masyarakat agraris sebagai jenis masyarakat yang secara asali tentrem-aman-sentosa, masalah-masalah agraria kerap dikerdilkan menjadi sekadar isu penyerobotan dan perampasan lahan yang sumber masalahnya eksternal.[i] Semakin sedikit kajian agraria lokal yang bertanya soal struktur masyarakat desa Indonesia setelah reformulasi liberalisasi ekonomi nasional pasca 1998, tak banyak yang menyoroti pengaruh kemandekan relatif perkembangan teknologi produksi dengan penciptaan buruh-tani, amat jarang pula kita temukan elaborasi soal pentingnya proses diferensiasi sosial serta problem kepemilikan lahan yang menyertainya. Singkatnya meski sering dibungkus dengan retorika kritis, kajian-kajian agraria yang tidak memeriksa terlebih dahulu problem struktural internal perdesaaan sesungguhnya masih mewarisi visi romantik yang kerap antipati terhadap segala perubahan.

 

Buku ini menarik, karena tidak berangkat dari cakrawala konservatif seperti di atas. Penulisnya adalah Henry Bernstein yang sudah puluhan tahun menjadi editor tetap dua jurnal ilmiah spesialis kajian agraria, Journal of Peasant Studies (19852000), dan yang terbaru, Journal of Agrarian Change (2001-). Alih-alih memberikan putusan normatif bahwa petani harus seperti ini atau perdesaan harus seperti itu, yang ia lakukan adalah berupaya memahami apa dan bagaimana perubahan agraria terjadi. Untuk melakukan hal itu, menurutnya tak ada jalan lain kecuali menggunakan pendekatan ekonomi-politik marxis. Menggunakan pendekatan ekonomi-politik marxis, berarti tidak memulai kajian dengan berangkat dari kategori seperti ‘agraria’, ‘petani’, atau ‘perdesaan’. Tidak pula mengandaikan bahwa kategori-kategori tersebut dapat dikaji sendiri-sendiri, diisolasi dari konteks historis-spesifik yang justru menaungi segala kategori tadi. Menggunakan pendekatan marxis untuk kajian agraria berarti menaruh segala kategori konseptual tersebut dalam latar kapitalisme (hal. 1).

 

Dengan titik tolak seperti ini, kajian agraria marxis menurut Bernstein mau tidak mau harus melakukan serangkaian pembaharuan kategori konseptual. Istilah ‘petani’ misalnya, menurut Bernstein akan punya daya analitik lebih luas apabila dikaji lewat kategori produsen komoditi kecil-kecilan (petty commodity producers) yang dicirikan oleh dwiposisi kelas antara pemilikan kapital (dalam bentuk lahan dan segenap kekuatan produksi lain) sekaligus pekerja bagi dirinya sendiri (hal.103). Konsep ini pertama-tama dapat membantu kita melihat masalah pembagian kerja dalam rumahtangga petani yang utamanya diatur oleh pola-pola kekerabatan mencakup aturan pewarisan lahan dan perkawinan, serta aturan tempat tinggal yang berkenaan dengan alokasi tenaga kerja. Jenis pola kekerabatan tertentu (misalnya, patrilineal dan patrilokal)[ii] akan mengkondisikan kekuasaan laki-laki dalam soal pembagian kerja tentang siapa yang akan menjadi pekerja di masa tanam atau panen. Dalam konteks rendahnya tingkat perkembangan kekuatan-kekuatan produksi (forces of production) seperti halnya di produksi pertanian Indonesia, relasi produksi tidak bisa didefinisikan sekadar merujuk ke soal penguasaan kekuatan produksi, seperti yang dengan mudah bisa diterapkan dalam analisis terhadap bentuk kapitalisme industrial. Dalam kasus seperti ini, penguasaan sarana-sarana produksi (means of production) berupa tenaga-kerja manusia kerap jadi lebih penting sebab pekerja-pekerja inilah yang justru berperan sebagai kekuatan utama proses produksi. Pada pola patrilineal/patrilokal, suami akan memiliki kuasa lebih besar dibanding istri karena ia akan langsung menjadi pemilik lahan lewat aturan waris serta tempat tinggal, belum lagi suami memiliki kontrol terhadap istri yang merupakan pekerja lahan, pekerja domestik, sekaligus sumber reproduksi pekerja tambahan. Pemeriksaan atas pola pembagian kerja dalam rumahtangga petani lewat konsep produsen komoditi kecil-kecilan inilah yang bisa membuka ruang analisis gender yang penting dalam kajian-kajian agraria.

 

Kedua, dengan menempatkan petani sebagai produsen komoditi kecil-kecilan dalam konteks kapitalisme, Bernstein berusaha menggoyahkan mitos petani subsisten atau desa swasembada warisan paradigma populis (hal. 92 & 105). Ilustrasinya begini. Satu unit rumah tangga petani bisa saja memiliki 1-2 hektar tanah yang dapat memenuhi kebutuhan beras rumahtangga hingga beberapa bulan ke depan. Akan tetapi untuk memulai proses produksi beras ini, rumah tangga petani mau tidak mau di satu sisi harus membeli bibit, pupuk, dan ragam sarana-sarana produksi, sementara di sisi lain harus memenuhi kebutuhan sehari-harinya yang semuanya hanya bisa diperoleh melalui pasar yang mensyaratkan sejumlah uang. Proses produksi dan reproduksi komoditi kecil-kecilan tidak bisa terjadi di luar pertukaran pasar, dan karena itu, mendesak rumahtangga petani untuk terus mendapatkan uang tunai entah lewat menanam tanaman komoditas, menjadi pekerja-upahan/buruh-tani, atau meminjam uang dari bank. Inilah proses yang disebut Bernstein sebagai komodifikasi subsistensi (commodification of subsistence) (hal.102). Dalam proses ini, produksi pertanian memang belum bisa dikategorikan sepenuhnya sebagai relasi produksi kapitalis, namun reproduksi relasi-relasi ini hanya bisa terjadi lewat pranata-pranata kapitalistik. Dengan kata lain, buku ini berupaya membantu kita memahami benar bahwa di perdesaan seringkali kapitalisme memang belum muncul, tapi kapital telah hadir di mana-mana.

 

Dalam kajian ekonomi-politik marxian klasik, penetrasi kapital ke dalam latar penghidupan perdesaan ini yang biasa dijadikan sebab terpilahnya petani-petani perdesaan ke dalam kelas-kelas baru seperti petani kaya dan petani miskin (lih. Lenin 1964). Kaum tani yang mampu memperluas reproduksi kapitalnya dan bisa mempekerjakan pekerja-upahan cenderung bertransformasi menjadi petani kaya, sedang mereka yang kesulitan mereproduksi kapitalnya dan sesekali harus jadi pekerja-upahan disebut sebagai petani miskin. Petani menengah, yang biasa dapat mereproduksi kapital dan tenaga-kerjanya dalam skala ajek, seringkali diandaikan sebagai ‘penghuni sesungguhnya’ wilayah perdesaan. Bernstein menampik ini dengan memaparkan bahwa sang petani menengah ini pun merupakan hasil dari proses diferensiasi kelas petani (hal. 105-106). Dengan meningkatnya ongkos reproduksi kapital dan kebutuhan sehari-hari, petani menengah alias produsen komoditi kecil-kecilan, hanya dapat bertahan berkat terciptanya pasar tenaga-kerja perdesaan yang diisi oleh tetangga-tetangga mereka yang telah kehilangan lahan dan sepenuhnya menjadi buruh-tani, serta lewat kerja-kerja non-pertanian (off-farm) semisal menjadi pedagang kecil di sektor kerja informal perkotaan. Sampai di sini, melalui kritik atas ketagori ‘petani’ dan mengajukan produsen komoditi kecil-kecilan sebagai salah satu pisau analisis konseptual ini saja, kita sudah bisa banyak menimba ilmu dan menemukan cara pandang baru melihat masalah-masalah agraria terkini. Di sini barangkali terletak salah satu keutamaan buku ini.

 

Secara umum, walau cukup ketat secara teoritis dan dibanjiri istilah-istilah teknis disepanjang alurnya, buku ini menarik karena mengenalkan istilah-istilah tersebut lewat perjalanan ‘sejarah agraria di dunia modern’ yang meski beragam dan rumpil, dijahit dalam satu garis perkembangan kapitalisme dunia. Jelas bahwa kerangka yang ditawarkan bersifat historis—artinya, kerangka yang dipakai didasarkan pada bagaimana lahir dan berkembangnya kapitalisme dapat digunakan untuk menyelidiki masalah-masalah agraria mutakhir. Kita dibawa dari kolonialisme sampai neoliberalisme, mulai akumulasi primitif hingga rezim pangan global, hingga dapat menarik kesimpulan sendiri soal betapa ganjilnya studi agraria yang melepaskan objek studinya dari sistem ekonomi-politik kapitalisme. Pada akhirnya, cara pandang baru soal masalah-masalah agraria mau tidak mau harus memperbaharui pula cara pandang gerakan-gerakan yang mengakomodasi kepentingan petani. Keseluruhan argumen dan analisis kelas agraris ini pada akhir buku digunakan Bernstein untuk mendiskusikan beberapa gerakan petani lintas-negara seperti La Via Campesina yang menurutnya masih terjebak dalam cara pandang populis soal siapakah penghuni sesungguhnya wilayah perdesaan (hal. 119-121). Bernstein bahkan mengajukan daftar lima pertanyaan yang harus dijawab oleh gerakan-gerakan petani sejenis (hal. 122). Pada lembar-lembar penghabisan, buku ini memperlihatkan bahwa masalah-masalah teoritis yang sering diperdebatkan oleh para peneliti/ilmuwan punya kaitan yang sangat erat dengan masalah-masalah empiris yang acap ditemui para aktivis. Konseptualisasi teoritis menentukan cara kita memandang realitas—dan akhirnya memandang arah gerakan—sedang medan empiris adalah ruang ‘verifikasi’ segala konseptualisasi teoritis tersebut. Yang satu mengandaikan, dan hanya bisa berfungsi dengan yang lain, persis karena pada akhirnya tak akan ada gerakan politik yang konkret tanpa pembacaan atas realitas yang konkret.

 

II

Di luar segala kebaruan dan keutamaan yang ditawarkan oleh buku Bernstein di atas, saya hendak membuka sedikit diskusi ihwal metode ekonomi-politik, karena tentu, setiap sains dimulai lewat metode, bukan dari kesimpulan. Hal ini hemat saya sangat penting dalam konteks iklim akademis di Indonesia karena ‘marxisme’ di negeri ini lebih dikenal sebagai ‘ideologi’ dan tak pernah dikenal sebagai ilmu pengetahuan an sich. Karya ilmiah Marx, Kapital, baru diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebelas tahun lalu. Belum banyak karya mandiri bercorak teoritis atau empiris yang bersumber langsung dari karya primer Marx. Tradisi akademis kita tidak mengajarkannya dengan baik di ruang-ruang kelas karena tidak banyak pengajar-pengajar seperti Bernstein yang benar-benar menguasai pendekatan ini dan dengan leluasa mengembangkannya dalam ragam penelitian. Singkatnya, marxisme sebagai ilmu di Indonesia memang belum ada. Oleh karena itu, membaca karya Bernstein ini tanpa kehati-hatian dan memahami kespesifikan metode marxian menurut saya rawan menjebak kita dalam reproduksi jargon-jargon konseptual yang kurang berfaedah.

Dalam buku ini—barangkali karena aspirasi seri buku yang hendak jadi “little books on big ideas”—sedikit sekali ruang diberikan untuk pembahasan soal kespesifikan metode ekonomi-politik marxian dan perbedaannya dari metode penyelidikan pendekatan lain. Bernstein sendiri sejak awal sudah menyadari masalah metodologis ini yang terlihat dari komentarnya soal jurang antara sistem teoritis Marx dengan usaha-usaha untuk mengaplikasikannya ke dalam ilmu-ilmu sosial empiris. Usaha ini menurutnya “selalu penuh dengan debat, dan beberapa pembaca pasti akan menyadari bahwa buku ini juga mengambil posisi tertentu dalam tafsirannya untuk mengaplikasikan teori Marx ke dalam penelitian empiris” (hal. 10-11).

 

Posisi tertentu yang Bernstein maksud disini tak lain adalah pendekatan sejarahnya soal asal-usul kapitalisme yang dinamakan pendekatan ‘kapitalisme komersial’ (hal. 32). Kekhasan dalam pendekatan ini adalah penekanannya terhadap siklus akumulasi finansial dan formasi negara untuk memberi batasan sejak kapankah kapitalisme bermula, atau bila kita tarik lebih jauh, untuk mendefinisikan apakah kapitalisme itu sesungguhnya. Dalam historiografi marxis, pendekatan ini bukan satu-satunya penjelasan sejarah yang biasa dipakai. Ada pendekatan ‘kapitalisme industri’, yang melihat pembeda spesifik cara produksi kapitalis dengan cara produksi lain terletak bentuk relasi sosial produksi antara kapital dan kerja. Ini adalah pendekatan yang secara umum diajukan oleh Marx dalam Kapital; kapitalisme haruslah kapitalisme dalam produksi, bukan sirkulasi. Perbedaan keduanya karena itu bisa terlihat jelas dalam penetapan kapan kapitalisme bermula. Sementara pendekatan ‘kapitalisme komersial’ yang diikuti Bernstein memulai sejak abad-15, pendekatan ‘kapitalisme industri’ mengawali pembabakan kapitalisme sejak abad ke 17-18.

 

Apa arti penting perbedaan ini? Pertama, kita harus jeli membedakan antara hadirnya relasi produksi kapitalis, dengan keberadaan kapital. Bila mengikuti pendekatan ‘kapitalisme komersial’, ketidakhati-hatian akan rawan membawa kita mengelirukan kapitalisme dengan perdagangan. Sebagai contoh, kalau benar kapitalisme dicirikan oleh akumulasi finansial dan perubahan formasi negara, maka penelusuran sejarah bisa menarik sampai terbentuknya berbagai negara-kota di Italia masa Rennaisance yang memungkinkan aktivitas perbankan dan perluasan investasi dagang VOC. Padahal, relasi produksi zaman itu jauh didominasi oleh hubungan perhambaan khas feodal dan absennya relasi kerja-upahan. Artinya, kita akan cukup kesulitan mendefinisikan kapitalisme dari sudut pandang marxian yang menurut Bernstein sendiri bersandar pada konsep cara produksi (mode of production) yang harus memasukkan faktor relasi-relasi produksi (relations of production) dalam analisisnya (hal. 1 & 25). Sebaliknya, apabila kita berkeras bahwa pendekatan ‘kapitalisme industrial’ dengan penekanan pada perubahan relasi-relasi produksinya sebagai ciri pokok pembeda kapitalisme dengan cara produksi lain, maka bagaimana kita bisa menjelaskan perubahan agraria di negara-negara yang tidak melakukan industrialisasi besar-besaran? Perbedaan antara kedua pendekatan inilah yang disebut Bernstein sebagai ‘kerumitan antara teori dan sejarah’ (hal. 35), antara bersetia pada konsistensi bangunan teoritis Marx, atau lebih peka pada keragaman sosio-historis dari masyarakat yang dianalisis.

 

Jembatan antara dua pertentangan ini menurut saya mungkin terletak pada konsep produsen komoditi kecil-kecilan yang sejak awal diajukan oleh Bernstein. Walaupun kapital-komersial tidak bisa dijadikan penanda hadirnya kapitalisme sebagai cara produksi spesifik, kapital jenis ini adalah prasyarat lahirnya cara produksi kapitalistik sebab ia akan mendorong produsen untuk melakukan produksi untuk perdagangan dibanding produksi demi subsistensi. Pada suatu cara produksi yang didominasi oleh kelas pekerja-pemilik seperti produsen komoditi kecil-kecilan, kapital-komersial amat dibutuhkan demi memperluas reproduksi kondisi produksi karena hasil dari sektor produksi semata hanya cukup untuk melakukan reproduksi sederhana yang sifatnya daur-ulang. Kalau menilik kasus-kasus empiris kontemporer, penetrasi kredit-mikro ke daerah-daerah perdesaan punya peran besar dalam hal ini[iii]. Kapital-komersial karena itu adalah pembuka jalan bagi hadirnya bentuk kekayaan yang tak berbasis kepemilikan lahan, pembuka jalan bagi peralihan produksi untuk subsistensi menuju produksi demi laba. Dengan begini, maka kapital yang tadinya masuk lewat jalur sirkulasi, pelan-pelan merembes ke aras produksi—ini celah utama pemisahan produsen dengan sarana produksinya sebagai syarat utama kelahiran cara produksi kapitalis.

 

Selain persoalan metodologis yang bersumber dari dua tradisi dalam historiografi marxis itu sendiri, tawaran buku Bernstein ini juga tak bisa sekenanya langsung diterapkan bagi ilmu-ilmu sosial lain. Ilmu antropologi misal, yang dekat dengan penelitian bercorak etnografis akan merasakan hal ini. Dengan metode layaknya sebuah ‘potret’ yang terikat pada satu ruang dan waktu tertentu, bagaimana para antropolog dapat mendapatkan manfaat dari buku Bernstein ini sebelum mereka bisa membangun alur historis penetrasi kapital di Indonesia terlebih dahulu?[iv] Tentu kita bisa mengajukan jawaban bahwa di sinilah letak pentingnya pendekatan multidisipliner. Mengusulkan kolaborasi antara ilmu antropologi dan ilmu sejarah sehingga hasil penelitian akan lebih komprehensif. Tetapi, selain merepotkan, memakan waktu, dan berbiaya tinggi, menurut saya ada jalan lain bagi para antropolog; pendekatan struktural. Dengan pendekatan ini, para antropolog menurut saya akan amat terbantu karena mereka tidak perlu repot-repot terlebih dahulu menelusuri sejarah perkembangan kapitalisme di Indonesia yang memang belum pernah dibuat oleh siapapun juga. Layaknya sebuah kajian marxian, pendekatan struktural juga berangkat dari konsep cara produksi. Perbedaan paling mencolok hanyalah bahwa pendekatan ini bermula lewat analisis atas sistem tertutup (closed system)[v],—yang sesungguhnya sudah inheren dalam penelitian bercorak etnografis—melakukan abstraksi, lalu berusaha menemukan mekanisme-mekanisme pokok yang membuat masyarakat berjalan. Lewat cara ini, laku abstraksi akan berguna layaknya mikroskop bagi para ilmuwan alam yang akan mengisolasi fenomena untuk mengetahui dulu unsur-unsur, serta bangunan terdasar dari fenomena. Dalam pendekatan ini, hanya setelah kita mengetahui mekanisme terdasar dari fenomena, barulah kita bisa menyusun penjelasan historis atasnya. Meskipun menurut beberapa komentator pendekatan ini yang paling dekat dengan metode Marx sendiri (lih. Althusser 1965 dan Harvey 2012), kesukaran yang barangkali muncul adalah bahwa pendekatan ini memaksa kita, pelajar ilmu-ilmu sosial, untuk sejenak menanggalkan penalaran empiris terhadap fenomena dan pandai-pandai mengkonstruksi abstraksi teoritis. Hal ini jadi sukar karena seperti yang telah diamati oleh White, tradisi kajian agraria kita amat canggung berdialog melalui konsep-konsep teoritis (2006: 125). Dari dua warisan kajian agraria kolonial, hanya tradisi pengamatan empiris yang cepat berakar di berbagai universitas di Indonesia. Tradisi lain, tradisi perdebatan teoritis dan kajian kritis tentang struktur perubahan agraria, tidak berkembang. Buku Bernstein ini sudah sedikit membuka ruang kembalinya tradisi yang hilang tersebut. Oleh karenanya pikir saya, untuk menyeimbangkan hasil belajar dari gunungan penelitian agraria lokal yang tak pernah kekurangan data itu, ada baiknya memulai pembacaan atas karya-karya yang sepenuhnya teoritis demi memperdalam pemahaman kita tentang analisis konseptual dan metodologi penelitian. Inilah ‘ruang kosong’ yang menurut Gunawan Wiradi, menjadi tugas generasi peneliti agraria kontemporer (Wiradi, 2010: 4).

 

Yogyakarta, Mei 2015

 

 

 

____________________________________

Refrensi tambahan;

 

Harvey, David.

  1. “History versus Theory: A Commentaryon Marx’s Method in Capital“, dalam Historical Materialism 20.2 (2012) 3-38.

White, Ben.

  1. “Di antara Apologia Diskursus Kritis: Transisi Agraria dan Pelibatan Dunia Ilmiah di Indonesia”, dalam V.R. Hadiz & D. Dakhidae (ed.) Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia. Jakarta: Equinox Publishing Indonesia, h. 187—217.

Wiradi, Gunawan.

  1. Metodologi Studi Agraria. Bogor: Sajogyo Institut.

 

[i] Lihat misalnya kasus-kasus konflik tanah di Rumpin, Ciremai, Rembang, Mamuju, atau Urutsewu.

[ii] Patrilineal adalah penarikan garis keturunan dari sisi laki-laki, sedang patrilokal merujuk pada pola tempat tinggal dalam hubungan kekerabatan yang mengikuti suami. Keduanya seringkali berkaitan meski beberapa hubungan patrilineal tidak mensyaratkan pola patrilokal.

[iii] Lihat Robinson, Marguerite S. The Microfinance Revolution. Vol 2: Lessons from Indonesia (World Bank, 2002) untuk kasus-kasus keberhasilan serta kegagalan berkembangnya lembaga kredit di perdesaan Indonesia dari BPR sampai Bank Bali.

[iv] Salah satu karya pengkaji luar yang melakukan penelusuran historis ini misalnya Claver, Alexander. Commerce and capital in colonial Java: Trade and commercial relations between Europeans and Chinese, 1820s-1942. Leiden university, KITLV. Disertasi tidak diterbitkan.

[v] Sistem yang tertutup (closed system) ialah kondisi ketika ‘konjungsi konstan’ di antara peristiwa terjadi, ketika sebuah peristiwa dapat diturunkan dari sebuah sebab elementer secara niscaya dengan mengandaikan faktor-faktor di luar fenomena berlaku ceteris paribus. Dalam cara ini, yang sesungguhnya dilakukan adalah mengklasifikasikan totalitas kenyataan berdasarkan atas kriteria tertentu.

U L A S A N   B U K U

Baca Juga

Etnografi Formasi Negara di Kawasan Perbatasan

Haryo Kunto*         Judul Buku: At The Edge of States: Dynamics of ...

Tanggapan

  • Hello, guest