Home / Edisional / Ade Rostina Sitompul; Madam Klandestin

Ade Rostina Sitompul; Madam Klandestin

 

oleh: I Gusti Agung Ayu Ratih *

 

Catatan sejarah ‘resmi’ tentang aktivisme dan perlawanan terhadap kekuasaan Soeharto sejauh ini dipenuhi dengan dua jenis kisah. Pertama, cerita berkisar pada aksi-aksi bermassa yang berlangsung di wilayah publik dengan tokoh-tokoh pergerakan yang dengan gagah berani menantang aparat negara. Biasanya peristiwa pertama yang menjadi sorotan adalah Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari) dan ujungnya adalah demonstrasi mahasiswa besar-besaran pada Mei 1998. Di antara ke dua peristiwa tersebut deretan aksi perlawanan melahirkan sekian generasi aktivis dengan beragam organisasi dan penyebutan angkatan-angkatan berdasarkan tahun keterlibatan.[1] Kedua, laporan tentang kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan proses pembelaan hukum terhadap aktivis yang kemudian ditangkap dan diadili karena ‘mengganggu ketertiban umum’, ‘menghina kepala negara’ atau ‘mengadakan kegiatan-kegiatan subversif’. Perhatian utama dalam kisah-kisah serupa ini adalah korban, pelaku, dan pembela HAM.

Di antara kedua jenis kisah ini ada cerita-cerita yang jarang terekam dalam catatan-catatan yang sudah disebarkan ke publik, apakah itu dalam bentuk buku, memoar, atau tulisan-tulisan lepas di jaringan internet. Misalnya, cerita tentang bagaimana seorang aktivis tergerak untuk terlibat dalam sebuah aksi dan bersama yang lain merancang aksi secara sembunyi-sembunyi. Setelah aksi terjadi dan aparat negara bereaksi dengan berbagai tindakan represif, ada banyak cerita menarik tentang pengalaman mereka yang ditahan dan diinterogasi, atau yang melarikan diri dan bersembunyi sementara di ‘bunker’. Cerita-cerita serupa ini biasanya hanya muncul dalam perbincangan di antara aktivis yang sedang reuni dan bernostalgia. Padahal selain memuat anekdot-anekdot yang seringkali jenaka, sebenarnya cerita-cerita ini menggambarkan perubahan budaya politik setiap generasi aktivis yang sedikit banyak dipengaruhi oleh cara-cara pemerintah Orde Baru mengatasi krisis demi krisis di dalam tubuh negara.

Masih dalam lingkaran cerita para korban dan aktivis, yang juga sering luput dari perhatian adalah pengalaman mereka yang dalam situasi kritis berani mengambil resiko untuk menyelamatkan korban kekerasan negara, aktivis atau pejuang gerakan pembebasan. Tindakan penyelamatan seringkali tidak berhenti dengan memberi suaka atau bantuan darurat pertama, tapi berlanjut dengan memastikan kesejahteraan korban dan aktivis atau keluarganya, apalagi jika sang aktivis dipenjarakan. Mereka biasanya tidak disebut atau menyebut dirinya aktivis dan kebanyakan aktivis juga tidak menganggap mereka aktivis. Mereka tidak muncul di depan publik untuk menyampaikan orasi atau memberi keterangan pers. Mereka sadar akan radar pengawasan aparat Negara dan kadang-kadang bersinggungan dengannya tapi dengan cerdik mereka dapat berkelit dari kecurigaan dan kemungkinan penangkapan. Banyak dari mereka perempuan. Dan, yang tidak kalah menarik, beberapa di antara mereka menyaksikan dan mengamati dengan seksama perkembangan aktivis dan gerakan yang dihidupinya dari masa ke masa. Cerita mereka adalah catatan sejarah sosial tentang dunia aktivisme.

Ade Rostina Sitompul, yang sering dipanggil Bu Ade atau Madam, adalah salah satu sosok tak biasa di kalangan aktivis yang memiliki kekayaan pengalaman dalam kerja-kerja kemanusiaan di masa Orde Baru dan sesudahnya, sekaligus kejelian pengamatan terhadap kalangan pergerakan di Indonesia dan Timor-Leste. Selama 46 tahun ia bekerja untuk mengusahakan jaring pengaman bagi berbagai individu dan kelompok di Indonesia dan Timor-Leste, Bu Ade memiliki kemampuan langka untuk bergerak di bawah radar pengawasan militer dan menceritakan kisah-kisah luar biasa tentang perjalanan hidupnya. Karena ia selalu tampak lebih sebagai ibu-ibu pejabat setengah baya, ia berhasil mengelabui baik petugas pemerintahan maupun aktivis. Ia tidak terlalu kesulitan menyelundupkan surat masuk dan keluar penjara, juga obat-obatan bagi tahanan politik karena sipir-sipir penjara melihat dia semata-mata sebagai figur ibu yang tidak berbahaya bagi negara. Ironisnya, di tahun-tahun belakangan, saat ia sudah semakin tua, aktivis-aktivis yang lebih muda seringkali mengabaikan Bu Ade karena mereka berpikir ia tak punya cukup pengetahuan politik untuk disumbangkan ke gerakan.

Bu Ade mulai bekerja sebagai pekerja kemanusiaan di masa kelam sejarah Indonesia ―akhir 1965 hingga awal 1966― saat sejumlah besar rakyat Indonesia mengalami penganiayaan tak terperi. Mereka dihilangkan secara paksa, dipenjarakan dan dibuang ke pulau-pulau terpencil, atau terlalu takut untuk melakukan apapun lebih dari bertahan hidup. Sementara itu, sebagian besar lainnya sedang merayakan kemenangan atas Partai Komunis Indonesia (PKI), Soekarno serta pendukung-pendukung setianya, dan menyambut gembira datangnya zaman baru, zaman yang konon lebih teratur, di bawah pimpinan para jenderal Angkatan Darat: Orde Baru. Kecuali untuk waktu yang singkat Bu Ade boleh dikatakan tidak pernah terlibat organisasi politik apa pun. Namun itu tidak berarti ia tidak tahu apa-apa tentang organisasi politik. Ia bersahabat dengan beberapa aktivis perempuan yang bergabung dalam Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), karena ia kagum dengan militansi mereka. Lewat suami dan abangnya ia juga berkenalan dan bersahabat dengan aktivis-aktivis mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). Keterlibatannya dalam politik boleh dikatakan kecelakaan dan hampir tanpa persiapan terlalu matang.

Kekacauan yang diciptakan oleh Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) segera setelah Gerakan 30 September (G30S) dipatahkan sudah memaksa Bu Ade meninggalkan hidupnya yang cukup nyaman sebagai ibu rumah tangga. Abangnya, Djoni Hendra Sitompul, ditangkap pada awal 1966 lalu dipenjarakan tanpa pengadilan selama 14 tahun berikutnya. Ia adalah Pemimpin Redaksi surat kabar nasional terbesar di masa itu, Warta Bhakti, Sekretaris Umum Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yang berafiliasi dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Jakarta. Penangkapan ini mengejutkan Bu Ade karena sepanjang pengetahuannya Djoni tidak pernah suka terhadap PKI dan organisasi-organisasi massa yang sehaluan dengan partai itu walaupun Djoni adalah pendukung Soekarno yang setia. Ia juga menyaksikan bagaimana kawan-kawan baiknya di Gerwani dan CGMI terpaksa menjadi buron dan harus bersembunyi di berbagai tempat. Ia lalu merasa ia harus memanfaatkan posisinya yang cukup aman untuk membantu Djoni dan semua kawan-kawannya yang terancam bahaya.

Tekad dan keyakinan Bu Ade ini mencengangkan. Di satu masa ketika orang memilih tiarap dan menghindar dari siapa pun yang dituduh ‘PKI’ atau ‘Komunis’ ia justru mengambil resiko tanpa dukungan institusional maupun organisasional apa pun. Sepanjang 1965−67 hampir tak ada tentangan yang berarti terhadap kenaikan Soeharto dan kelompoknya. Upaya Soekarno untuk mencegah perang saudara ternyata berujung pada pertumpahan darah sepihak. Perlawanan bersenjata yang dilancarkan PKI di Blitar Selatan gagal mengkonsolidasi kader-kader partai yang tersisa dan dengan segera ditumpas pada 1968. Teriakan pedih Soe Hok Gie tentang pembantaian besar-besaran di Bali dan kritik pedasnya terhadap pencoleng-pencoleng politik di kalangan aktivis Angkatan 1966 yang berlomba-lomba mencari kuasa tenggelam di tengah euforia kelahiran Orde Baru. Bu Ade membantu menyelamatkan kader-kader nasionalis kerakyatan. Ia selalu mengatakan bahwa hidupnya berubah secara radikal karena 1965. Yang tak pernah ia sadari adalah ia juga mengubah hidup orang dan gerakan.

 

 

Siapakah Ade Rostina Sitompul?

Ade dilahirkan pada 12 Desember 1938 di Sukabumi, Jawa Barat sebagai putri bungsu seorang administratur perkebunan teh skala menengah. Ayahnya berasal dari suku Batak dan ibunya dari suku Manado yang lahir besar di Sukabumi. Perkebunan tempat ia tinggal adalah milik kakek dari pihak ibunya. Ia tumbuh dewasa di tengah pergolakan Revolusi Indonesia. Tetapi dia juga menikmati fasilitas istimewa sebagai anak pejabat perkebunan, seperti rumah yang leluasa, layanan dari pembantu, sopir dan tukang kebun, serta sekolah yang cukup teratur. Pengalaman tak biasa di masa kanak-kanaknya adalah keterlibatan ayahnya di dalam gerakan bawah tanah untuk kemerdekaan Indonesia. Ia sering mengingat bagaimana ayahnya menyelipkan di bawah roknya surat yang berisi pesan-pesan penting untuk para gerilyawan ketika ia masih berusia 4−5 tahun. Ia juga secara sembunyi-sembunyi membagikan makanan ke kuli-kuli yang ditahan di sel-sel darurat di perkebunan karena ia tak tahan melihat mereka kelaparan.

Ayahnya berpengaruh besar pada perkembangan dirinya. Ia seorang Kristen yang taat dan mencoba menerapkan ajaran-ajaran Kristiani dalam kehidupannya sehari-hari. Namun dia belajar sejak kecil bahwa ajaran-ajaran yang ditekankan ayahnya adalah yang menuntut kerja-kerja kemanusiaan, bukan sekedar yang menghafal ayat-ayat Alkitab belaka. Ade juga mewarisi pandangan nasionalis ayahnya dan memiliki kenangan manis tentang persahabatan ayahnya dengan pejuang nasionalis legendaris, Amir Sjarifoeddin, saat ia menjadi lebih terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Kedua keluarga ini tinggal di daerah yang sama di pusat kota Jakarta selama masa pendudukan Jepang dan sebentar sesudah Proklamasi.

Seperti kebanyakan gadis dari kalangan terpandang saat itu, Ade tidak melanjutkan sekolahnya setelah ia tamat SMA. Ia menikah dengan seorang perwira Angkatan Laut (AL), Sujanto, waktu dia berusia 21 tahun. Antara 1961 dan 1964 ketika mengikuti suaminya bertugas di Surabaya ia bekerja sebagai wartawan surat kabar nasionalis milik Partai Indonesia (Partindo). Ia aktif di organisasi perempuan partai ini, Wanita Partindo, juga di Gabungan Organisasi-organisasi Wanita Surabaya (GOWS). Ia tidak pernah menjadi anggota organisasi yang ada hubungannya dengan PKI tetapi melalui kerja-kerja bersama di GOWS ia menjadi sangat dekat dengan dua aktivis muda Gerwani, Sulami dan Sudjinah. Ia mengagumi ketekunan mereka bekerja dan kesetiaan mereka yang tulus kepada rakyat.

Ketika kekerasan massal mulai terjadi pada akhir 1965 ia sedang sibuk-sibuknya mengurus ketiga anaknya yang masih kecil. Suaminya sudah pindah bekerja sebagai salah satu pengelola perusahaan negara yang memproduksi pesawat terbang di bawah arahan Angkatan Udara. Keluarga ini hidup berkecukupan saat malapetaka meledak. Setelah abangnya ditangkap di Jakarta, ia mulai mengurus Djoni dan kawan-kawannya di penjara ― mengirim makanan dan obat-obatan, dan menjadi kurir yang menghubungkan para tahanan politik (tapol) dengan keluarga mereka. Beberapa tahun kemudian suaminya mendapat pekerjaan yang lebih baik di sebuah perusahaan perkayuan yang ia duga terkait dengan Operasi Khusus arahan salah satu jenderal kepercayaan Soeharto, Ali Moertopo.

Ade menyelamatkan sahabat-sahabatnya yang dianggap buron ‘PKI’ dan memulai gerakan suaka sendiri. Kadang-kadang ia mengajak mereka tinggal di rumahnya, kali lain ia berfungsi lebih sebagai kurir yang menyampaikan berita-berita mutakhir tentang operasi-operasi penumpasan oleh AD. Untuk melancarkan gerakan ini ia menggunakan fasilitas apa saja yang tersedia, termasuk yang berasal dari kantor suaminya. Ia merancang berbagai rencana untuk memastikan keselamatan kawan-kawannya. Salah satu pengalaman yang sering sekali ia ceritakan adalah bagaimana ia mengatur kursus merajut di salon langganannya agar ia dapat bertemu dan bertukar informasi dengan dua aktivis Gerwani sahabatnya yang sedang menyembunyikan diri.

Setelah Sulami dan Sudjinah pun ditangkap pada 1967, ia menjadi lebih hati-hati. Kunjungan-kunjungan ke penjara untuk menengok abangnya membuatnya melihat bahwa banyak keluarga yang terpengaruh oleh pemenjaraan massal oleh AD. Keluarga para tapol tampak bebas tetapi gerak mereka demikian dibatasi sehingga mereka kesulitan memperoleh pekerjaan dan tempat tinggal. Ia mulai mendekati keluarga-keluarga yang kesulitan tersebut dengan resiko disebut PKI, bahkan oleh keluarga besarnya sendiri. Pihak militer berulangkali memanggilnya untuk diinterogasi karena ia pernah memberikan suaka bagi sahabat abangnya, Karim DP, seorang wartawan ternama dan pemimpin PWI pusat. Tetapi, anehnya ia selalu selamat! Siapalah yang akan menduga seorang nyonya-nyonya kelas atas, ‘Madam’, istri seseorang yang bekerja untuk Opsus, akan membantu kaum pariah di masa itu? Demikianlah Ade menggunakan status kelas atasnya untuk memperoleh akses dan memperkuat posisi tawar dalam berhadapan dengan petugas-petugas pemerintah.

Melalui pekerjaannya di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang ia berkenalan dengan tapol-tapol pertama Timor-Leste. Mendengar cerita mereka, ia mulai memahami dan bersimpati terhadap perjuangan rakyat Timor. Ia sering membandingkan perjuangan rakyat Timor dengan pengalaman masa kecilnya menyaksikan kelahiran Republik ini melalui perjuangan hidup dan mati pembela kemerdekaan. Posisi ini boleh dikatakan tidak lazim, bahkan di kalangan aktivis-aktivis nasionalis garis kiri dari generasinya. Yang terakhir ini biasanya cenderung melihat bahwa gerakan perlawanan Timor-Leste adalah bagian dari skema ‘Nekolim’ untuk memecah belah kesatuan Republik Indonesia, seperti Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perdjuangan Rakjat Semesta (PRRI/Permesta) pada akhir 1950-an.

Ia mulai bekerja sangat dekat dengan aktivis-aktivis Timor-Leste setelah pembantaian Santa Cruz pada 12 November 1991. Bersama dengan sejumlah pengacara dan aktivis HAM ia mendirikan Komite Bersama untuk Pembelaan Timor-Leste atau sering disebut Joint Committee. Ia berhasil menghubungkan pengacara-pengacara Indonesia dengan mereka yang ditangkap setelah pembantaian Santa Cruz. Melalui jalur inilah ia menjadi kenal baik dengan para keluarga tapol dan orang-orang Timor-Leste lainnya dengan latarbelakang dan afiliasi politik yang berbeda-beda. Ia juga membantu mendirikan organisasi HAM pertama di Timor-Leste, Yayasan HAK, yang memainkan peran penting dalam mengeluarkan laporan-laporan pelanggaran HAM yang dilakukan militer Indonesia pada tahun-tahun terakhir pendudukan militer di Timor-Leste.

Setelah Kay Rala Xanana Gusmão ditangkap dan dijebloskan ke LP Cipinang pada 1993, dengan berbagai cara Ade berhasil mengenal Xanana dan berkomunikasi secara teratur dengannya. Ade menjadi salah satu orang kepercayaan Xanana: ia menyelundupkan surat-surat dari Xanana Gusmão untuk organisasi-organisasi internasional, menyampaikan pesan Xanana ke mahasiswa-mahasiswa Timor-Leste, dan mengusahakan agar ia dapat keluar sesekali untuk beristirahat di rumah sakit. Ia juga membantu Xanana memperoleh perlengkapan medis untuk para gerilyawan dan membantu mempersiapkan berbagai aksi non-kekerasan di Jakarta, seperti ketika pemuda-pemuda Timor-Leste berhasil melompati pagar kedutaan dan meminta suaka pada 1995.

Ia menyambut kemerdekaan Timor-Leste dengan teramat bahagia dan berencana menghabiskan sisa hidupnya di negeri hangat itu. Tetapi ia sedang kebingungan dengan apa yang terjadi di Timor-Leste segera setelah kemerdekaan. Ia terutama terganggu oleh putusnya persahabatan di kalangan aktivis dan gerilyawan karena ia bekerjasama dengan baik dengan mereka semua selama masa pendudukan Indonesia. Sampai ajal menjelang Ade tidak pernah berhenti berpikir tentang kemungkinan untuk tinggal di Timor-Leste.

Pada 2009 Presiden José Manuel Ramos-Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmão menganugerahkan penghargaan khusus dari negara untuk menghormati dedikasi Ade Rostina Sitompul dalam menjunjung nilai-nilai kemanusiaan saat perjuangan pembebasan Timor-Leste.[2]

 

Pembela HAM? Aktivis Pro-Demokrasi? Feminis?

Ketika saya pertama kali bertemu Bu Ade di kantor layanan penjara Kelompok Kerja Pelayanan Lembaga Pemasyarakatan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (Pokja PLP PGI) pada 1994, saya mengira ia adalah salah satu ibu-ibu gereja yang penuh dedikasi mengupayakan bantuan derma bagi para narapidana.[3] Penampilannya tidak istimewa; ia selalu berpakaian rapih dan apik, ia bersikap ramah, tetapi ia tidak berbicara dengan gaya welas asih seperti ibu-ibu gereja yang aku kenal. Ia memperlakukan saya sebagai teman sederajat, bukan anak muda yang harus dimanja atau digurui. Ia selalu terlihat berpikir tentang sesuatu, menyusun strategi ini itu. Sikapnya hati-hati saat membuat komentar-komentar politik atau berbagi informasi tentang tapol-tapol tertentu ― berbicara dengan suara rendah hampir berbisik sembari melayangkan pandangan awas ke sekeliling ruangan, atau bermain-main dengan perhiasan-perhiasan warna-warni yang ia kenakan untuk mengalihkan perhatian orang. Dengan sendirinya saya jadi menduga-duga siapa sebenarnya ibu ini. Dua hal yang membuat saya menyadari betapa pentingnya Bu Ade. Pertama, ia sangat dekat dengan para tapol yang bekerja di kantor tersebut, terutama Hardoyo, mantan pimpinan CGMI. Kedua, ketika pemerintah Soeharto pada 1995 berniat mengeksekusi dua tapol 1965 dengan pidana mati Bu Ade marah besar dan diam-diam berkampanye untuk menggagalkan rencana tersebut.[4]

Jelas Bu Ade melakukan pendekatan yang berbeda terhadap para narapidana dibandingkan dengan pekerja-pekerja sosial gereja yang saya kenal saat saya menjalankan riset saya. Ia memberi perhatian khusus terhadap kesejahteraan para tapol dan tidak melihat pekerjaannya sebagai bagian dari kerja misionaris walaupun ia bekerja melalui jalur gereja. Seperti yang ia ungkapkan di memoarnya ia tidak ingin mewartakan gagasan-gagasan Kristen di penjara karena tindakan itu merupakan pelecehan terhadap kepercayaan orang lain.[5]

Semakin sering saya perhatikan bagaimana ia menata langkah-langkahnya dan kegiatan-kegiatannya, semakin saya percaya bahwa pekerjaan Bu Ade harus dirayakan. Kesempatan itu datang ketika kantor tempat saya bekerja; Yayasan Pusat Studi HAM (Yapusham), berencana menyelenggarakan acara tahunan pemberian Anugerah Yap Thiam Hien untuk menghormati pembela HAM.[6] Saya segera mengusulkan agar kami memberikan anugerah tersebut kepada Bu Ade. Saya yakin bahwa tidak akan ada orang yang menentang gagasan tersebut. Saya salah. Beberapa anggota juri beranggapan bahwa Bu Ade tidak terlalu pantas memperoleh anugerah tersebut karena apa yang ia lakukan tidak cukup heroik, tidak signifikan! Belakangan baru saya tahu bahwa mereka tidak setuju dengan gagasan saya lebih karena anugerah itu akan diberikan kepada seseorang yang diasosiasikan dengan PKI dan gerakan kiri di masa pemerintahan Soekarno.

Bu Ade memperoleh dukungan terbesar dari aktivis-aktivis perempuan. Mereka sangat senang karena akhirnya seorang perempuan yang melakukan kegiatan-kegiatan yang selama ini dianggap kerja ‘perempuan’ belaka memperoleh pengakuan sebagai aktivis HAM. Memang, kami mengemas anugerah ini dalam alur berpikir kurang lebih sama: yang selama ini dianggap kegiatan-kegiatan pembelaan HAM sangat dihubungkan dengan kerja-kerja di garis depan dan aktivisme gagah-berani untuk bersitegang dengan penguasa. Kami berharap melampaui pandangan usang bahwa kerja-kerja yang dilakukan Bu Ade adalah semata-mata ‘kerja sosial’ atau ‘kerja Palang Merah’ dan tidak ada nilai politisnya sama sekali.

Mengorganisir anugerah ini bagi Bu Ade memungkinkan saya untuk menelisik lebih jauh kehidupannya. Dengan cerdas ia menampilkan kerja-kerja yang ia lakukan sebagai ‘kerja kemanusiaan’ yang biasanya dilakukan oleh siapa saja yang peduli kepada nasib kaum papa dan menderita. Pada saat itu, ia tidak menyebutkan sepatah kata pun tentang Tragedi 1965 di hadapan publik. Ia memberi kesan seakan-akan ia menolong semua narapidana yang ia temui di berbagai penjara di seluruh Indonesia.

 

***

 

Dalam sejarah ada banyak cerita tentang perempuan yang menjadi mata-mata, pembawa berita, kurir yang menyelundupkan senjata dan amunisi untuk membela negeri mereka. Novel pendek Pramoedya Ananta Toer, Larasati, konon ditulis berdasarkan pengalaman Dahlia, bintang film ternama pada 1950-an yang menjadi kurir selama perang kemerdekaan 1945−49. Perempuan-perempuan yang digambarkan di film Battle of Algiers menyelundupkan bom dari perkampungan rakyat Aljazair ke pemukiman orang Perancis dan meledakkannya di beberapa tempat publik sebagai bagian dari gerakan pembebasan nasional di negeri tersebut. Jaringan klandestin Timor-Leste mengenal Maria Goretti yang selama bertahun-tahun menyampaikan informasi ke pasukan gerilya sementara ia bekerja untuk militer Indonesia. Perempuan-perempuan ini dapat melaksanakan pekerjaan-pekerjaan ini karena asumsi kuno patriarkal bahwa perempuan tidak akan berani melakukan hal-hal yang demikian berbahaya: mereka tidak tahu apa-apa tentang politik, atau mereka tidak akan mungkin mengorbankan dirinya bagi kepentingan negerinya. Aparat pemerintahan pun acap kali terkecoh persis karena kesalahan mereka memandang perempuan dan perempuan (juga laki-laki) memahami sepenuhnya bagaimana otak laki-laki bekerja, terutama mereka yang berseragam.

Toh ada perbedaan antara Ade dan perempuan-perempuan yang bekerja dalam organisasi-organisasi dengan struktur yang ketat. Ade menjalankan aksi-aksinya tanpa mengikuti jalur komando tertentu atau perintah khusus dari institusi apa pun. Dalam beberapa hal ia menjadi institusi itu sendiri, mengembangkan strateginya sendiri, mempersiapkan logistiknya sendiri, dan bertanggung-jawab sendiri atas tindakan-tindakannya. Masalah yang sering ia hadapi bukan justru bukan dengan penguasa tetapi dengan kolega-koleganya yang tidak terlalu paham cara dia bekerja, menuduhnya tidak profesional dan mengacaukan organisasi. Masalah lain yang juga tidak sekali dua ia hadapi adalah penipuan oleh kawan-kawan atau kenalannya sendiri karena ia tidak pernah berpikir dua kali saat dimintai bantuan. Ia memberikan apapun yang ia miliki bahkan jika itu akan menimbulkan persoalan pembukuan.

Ada kemiripan antara politik Ade dengan ‘maternal politics’ (politik keibuan) yang mendorong ibu-ibu dan nenek-nenek dari orang hilang di Argentina yang kemudian beraksi di Plaza de Mayo untuk menantang pemerintahan junta militer di negeri itu.[7] Ade mencoba menjanjikan kehidupan, keberlanjutan, dan pembangunan kembali di tengah-tengah kekerasan yang brutal dan penghancuran yang memilukan. Itulah sebabnya begitu banyak orang Timor-Leste yang menganggap Ade sebagai ‘ibu’ mereka.[8] Ia juga mewarisi tradisi aktivisme gerakan perempuan 1960-an dengan politik ‘ibu bangsa’ yang sangat didorong oleh Soekarno dan negara ― kesejahteraan rakyat yang diurus oleh perempuan-perempuan progresif lebih penting daripada soal-soal khusus yang berkenaan dengan jender.[9]

 

Keberangkatan Klandestin

Tanpa ia sadari Ade telah menjadi semacam sumbu kehidupan ketika kekuatan-kekuatan lain hanya mampu melakukan hal-hal terbatas untuk mempertahankan gerakan nasionalis kiri. Ia membantu memperpanjang hidup para aktivis gerakan kiri dan keluarga mereka. Kegairahannya bekerja untuk kesejahteraan sosial dan rekonstruksi, apakah itu di Maumere, Pidie, atau Dili, secara kolektif mencerminkan kepercayaannya akan semangat ‘gotong royong’ dan ‘berdikari’ dari tradisi kaum nasionalis 1960-an. Melalui cerita-ceritanya yang semarak ia memperkenalkan suasana kultural di masa Soekarno kepada aktivis-aktivis yang lebih muda. Kisah-kisah ini sudah membuat ‘Orde Lama’ menjadi tidak terlalu menakutkan dan lebih menyenangkan, tetapi dia tidak pernah memuja-muja gerakan kiri secara membabi-buta. Sosok-sosok yang ia bicarakan hadir lebih seperti kawan-kawan lama dengan segala sisi yang menarik pun menyebalkan. Ia membantu aktivis-aktivis muda untuk memanusiakan mereka yang dianggap setan-setan ‘Komunis’ oleh negara.

Demikian pula, kecintaannya terhadap Timor-Leste dan rakyatnya sudah mendorong aktivis-aktivis Indonesia untuk mencari tahu lebih banyak tentang negeri tersebut, membangun persahabatan dengan aktivis-aktivis Timor-Leste, dan bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan negeri itu. Ia menampilkan kerja solidaritas dengan Timor-Leste sebagai konsekuensi alamiah dari seorang nasionalis Indonesia tulen.[10] Ade percaya bahwa seorang nasionalis yang baik berarti bahwa kita harus memperlakukan bangsa-bangsa lain dengan hormat.

Kontradiksi yang ia saksikan dan alami adalah antara kampanye Orde Baru tentang nilai-nilai luhur keluarga dan kebijakan-kebijakan represif negara yang sudah menyebabkan sekian ribu, bahkan mungkin juta, keluarga tercerai-berai setelah Oktober 1965. Keluarga tetap menjadi perhatian khususnya hingga ia meninggal dunia. Ia tidak sanggup meninggalkan keluarganya, terutama putra sulungnya, yang menderita skizofrenia setelah ia berpisah dari suaminya walaupun ia ingin sekali tinggal di Timor-Leste.

Kepedulian Ade tidak terbatas pada tapol 1965−66 dan Timor-Leste. Ia memperhatikan semua tapol dari berbagai kasus dan generasi hingga Soeharto digulingkan pada 1998. Di masa Reformasi ia bekerja dengan kelompok-kelompok mahasiswa, LSM, korban penggusuran dan terlibat dalam berbagai kelompok ad hoc untuk menanggapi berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Kecepatan pertumbuhan hand phone dan komunikasi internet semakin membuatnya lebih asyik dalam kerja-kerja aktivis bahkan saat kesehatannya mulai menurun pada akhir 2000. Ia mengirim SMS di tengah malam atau subuh untuk mengajak para aktivis melakukan sesuatu yang mendesak. Kadang-kadang kepeduliannya mengejutkan banyak aktivis. Ia merasa terganggu ketika pasukan anti-teroris dari kepolisian meng-gerebeg rumah-rumah tersangka teroris dan membawa istri-istri mereka sebagai sandera. “Ini seperti 1965!” ia mengeluh sedih.

Mirip dengan Yap Thiam Hien, figur yang sangat Ade kagumi dan perhitungkan sebagai mentor, ia sedikit banyak dipengaruhi ajaran-ajaran Kristen. Putri bungsunya, Meicky, suatu hari memintanya untuk menghentikan apa yang ia lakukan. Ade mengatakan bahwa ia harus tetap menjalankan pekerjaan-pekerjaannya karena itu adalah kehendak Tuhan. Meicky dengan tepat merangkum pandangan ibunya, “Ia tidak mewartakan Injil. Ia menghidupinya.” Bagi Ade motivasi politis dan keagamaan di balik tindakan-tindakannya tidak terpisahkan. Ia tidak menanggapi ‘personal sins’ (dosa-dosa personal) tetapi ‘structural sins’ (dosa-dosa struktural).[11]

Ade meninggalkan dunia ini dengan cara yang sesuai dengan gaya hidupnya yang tidak mementingkan diri sendiri: tanpa memberi tahu siapa pun, ia menyelinap. Ia dirawat di ruangan Kelas III di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengan menggunakan surat miskin. Ini bukan karena ia tidak memperoleh dukungan dana dari kawan-kawan dan keluarganya. Aktivis-aktivis dari Indonesia dan Timor-Leste menggalang dana dari segala penjuru untuk membiayai perawatan kesehatannya. Tetapi ia berhasil menyumbangkan dana yang ia peroleh ke kawan-kawan lain yang ia anggap lebih memerlukan bantuan daripada dirinya! [ ]

 

29 Oktober 2013

 

Tulisan Penulis pada UCLA Indonesian Studies Conference ‘Critical Histories of Activism: Indonesia’s New Order and Its Legacies’, Los Angeles, USA, 14 April 2013.

 

* Direktur Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI)

 

Sumber Foto: Yayasan Yap Thiem Hien


B  I  B  L  I  O  G  R  A  F  I

— Agosín, Marjorie. Tapestries of Hope, Threads of Love: The Arpillera Movement in Chile, 1974-1994. Lanham, MD: Rowman & Littlefield, 2008.
— Arditti, Rita. Searching for Life: The Grandmothers of the Plaza de Mayo and the Disappeared Children of Argentina. Berkeley: University of California Press, 1999.
— Bouvard, Marguerite Guzman. Revolutionizing Motherhood: The Mothers of the Plaza de Mayo. Wilmington: Scholarly Resources Inc., 1994.
— Espinosa, Gastón, Virgilio P. Elizondo, Jesse Miranda. Latino Religions and Civic Activism in the US. New York: Oxford University Press, 2006.
— Santoso, Aboeprijadi. “In Memoriam: Ade Rostina Sitompul: A Relentless Fighter”, The Jakarta Post, 21 July 2011.
— Scott, Joan Wallach. Gender and the Politics of History. New York: Columbia University Press, 1988.
— Ratih, Agung Ayu, Hilmar Farid, Th. J. Erlijna, M. Fauzi (peny.). Kukuh di Jalan Kemanusiaan: Memoar Ade Rostina Sitompul, Jilid 1. Jakarta: Elsam dan ISSI, 2012.
— Ratih, Agung Ayu. Memperjuangkan Tanah Loro Sa’e: Memoar Ade Rostina Sitompul, Jilid 2. (akan diterbitkan, 2014)
— Walker, Kristen. “Chilean Women’s Resistance in The Arpillera Movement.”  19 June 2008 http://www.coha.org/chilean-women%E2%80%99s-resistance-in-the-arpillera-movement
Urgent Action Release by TAPOL organization “Call for General Amnesty”. http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1995/08/23/0015.html


C  A  T  A  T  A  N

[1] Di kalangan aktivis lazim untuk menyebut tahun atau dekade sebagai atribut penanda keterlibatan seseorang dalam gerakan, seperti aktivis '74, '78, atau '80-an. Selain itu sering juga 
___.digunakan nama-nama kasus yang dibela oleh para aktivis ini seperti Malari, Taman Mini, 5 Agustus, Yogya Berdarah, Blangguan, 27 Juli, dst. Tradisi ini berubah sekitar 1990-an ketika
__._aktivis mahasiswa/pemuda mendirikan organisasi-organisasi yang lebih permanen daripada komite-komite ad hoc untuk kepentingan melancarkan aksi, seperti Pijar dan Solidaritas
__._Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Baru di masa mahasiswa bergolak kembali antara 1997−1998, tahun kembali dijadikan penanda.
[2]
http://www.bbc.co.uk/indonesia/forum/2009/11/091120_aderostina.shtml
[3]
Saya sedang menjalankan riset tentang kondisi penjara-penjara di Indonesia untuk Yapusham. Satu-satunya cara untuk memperoleh jalan masuk ke penjara saat itu adalah melalui
_.__kelompok-kelompok keagamaan, terutama Protestan dan Katolik, yang menyediakan layanan rohani dan kesejahteraan bagi para narapidana di seluruh negeri ini.
[4]
Untuk informasi lebih lanjut tentang kasus ini, lihat selebaran aksi mendesak dari organisasi HAM TAPOL: “Call for General Amnesty” di http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1995/08/23/0015.html
[5]
Agung Ayu Ratih, et.al. (eds.), Memperjuangkan Tanah Loro Sa’e: Memoar Ade Rostina Sitompul, Jilid 2, (akan diterbitkan, 2014)
[6]
Yap Thiam Hien adalah pengacara kawakan yang dikenal luas karena keteguhannya membela HAM. Ia adalah anggota kelompok yang memperjuangkan hak-hak asasi kaum Tionghoa
_.__sejak republik ini didirikan pada 1945. Ia membela tokoh-tokoh PKI di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub). Sahabat karibnya, Daniel S. Lev, menulis biografi yang sangat baik
_.__tentang tokoh ini No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien, Indonesian Human Rights Lawyer (Seattle: University of Washington Press, 2011)
[7]
Perempuan-perempuan Cili yang anak-anaknya hilang atau dibunuh setelah Jenderal Augusto Pinochet merebut kekuasaan dari Presiden Salvador Allende juga mengorganisir
__._diri dan menggunakan strategi ‘perempuan’ untuk menyelundupkan pesan-pesan tentang kekerasan negara lewat kerajinan tradisional kain perca (quilt) yang disebut arpillera.
__._Untuk cerita lebih lanjut tentang ibu-ibu dan nenek-nenek di Argentina, lihat Marguerite Guzman Bouvard, Revolutionizing Motherhood: The Mothers of the Plaza de Mayo dan Rita Arditti,
_.__Searching for Life
: The Grandmothers of the Plaza de Mayo and the Disappeared Children of Argentina. Untuk cerita-cerita tentang para perempuan dalam gerakan arpillera, lihat Marjorie
__._Agosin, Tapestries of Hope, Threads of Love: The Arpillera Movement in Chile, 1974−1994.
[8]
Kepala parlemen Timor-Leste, Fernando de Araujo, menyatakan, “Timor-Leste lakon Inan diak ida.” [Timor-Leste kehilangan seorang ibu yang baik.] dalam salah satu obituari
__._yang diedarkan di Timor-Leste. Fernando menghabiskan beberapa tahun di LP Cipinang dan menjadi sangat dekat dengan Bu Ade. Suara Timor Loro Sa’e, 11 Juli 2011
__._dan http://forum-haksesuk.blogspot.ca/2011/07/in-memoriam-ibu-ade-rostina-sitompul.html
[9]
Soekarno menerbitkan sebuah buku tebal untuk menjabarkan pikiran-pikirannya tentang perempuan Indoenesia yang ideal; Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik
__._Indonesia
. Artikel-artikel di dalam buku tersebut kemudian ia gunakan dalam ‘kursus wanita’ yang ia selenggarakan saat ia tinggal di Istana Yogyakarta antara 1948−49.
[10]
Ade dihujat sebagai pengkhianat oleh seorang jenderal Kopassus ketika ia tahu bahwa Ade bekerja di Timor-Leste dan mendukung gerakan kemerdekaannya.  
[11]
Istilah-istilah ‘personal sins’ dan ‘structural sins’ digunakan oleh aktivis-aktivis dari organisasi-organisasi gereja di AS yang terlibat dalam gerakan suaka untuk menolong korban-korban
_.__._kekerasan di Amerika Tengah. Lihat Espinosa, Gastón, Virgilio P. Elizondo, Jesse Miranda. Latino Religions and Civic Activism in the US, untuk informasi lebih lanjut.

 

 


[ Edisi Etnohistori Genealogi Gerakan & Studi Perempuan Indonesia ]

 

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

2 Tanggapan

  • Hello, guest