Home / Edisional / Gender & Perempuan di Asia Tenggara: Perempuan di Wilayah Pabrik (Bagian 3)

Gender & Perempuan di Asia Tenggara: Perempuan di Wilayah Pabrik (Bagian 3)

 

oleh: Victor T. King *

 

[ Lanjutan Bagian 2 ]

 

Globalisasi ekonomi di Asia Tenggara menjadi sangat bermakna bagi banyak orang yang bekerja di pabrik khususnya dalam membuat komponen-komponen baik dalam bentuk garmen, bagan-bagan elektronik, atau bahan konsumsi makanan kaleng. Industri yang paling ringan memerlukan sejumlah tenaga kerja lokal yang setengah berkeahlian, dibanding robot atau mesin produksi yang sangat otomatis. Pekerja lokal ini telah berkembang sejak awal tahun 1970-an di Malaysia Barat, Jawa, Thailand, Filipina, dan Singapura, serta yang paling terbaru adalah di Vietnam, dan bahkan Kamboja. Perubahan mode pekerjaan ini adalah hasil dari respon ekonomi terhadap kompetisi harga dalam dunia berkembang di negara-negara Asia Tenggara yang memerlukan tenaga-tenaga kerja murah (Brunei, Laos, Malaysia Timur, Burma yang belum masuk ke dalam gambaran industrialisasi). 

Dalam hal lain, tenaga kerja pedesaan—Melayu, Jawa, Thai, dan Filipina—telah dibiasakan dengan lingkungan baru, terhadap produksi teknologi yang masif. Hal ini didapat melalui pengalaman mereka dalam mengelola uang dan pasar sebagai dasarnya. Namun, pengetahuan tersebut tidak berarti, memuluskan pengalaman mereka di dunia baru tentang produksi dan pekerjaan yang berkaitan dengan dunia global. Kecepatan transisi dari bidang pertanian ke pabrik membuat studi-studi antropologis merespon perubahan dari studi komunitas petani ke bentuk-bentuk baru pekerjaan dan pemasukan baru, atau dalam istilah Diane Lauren Wolf, respon terhadap serbuan ‘industri proletarisasi kapitalis awal di wilayah pedesaan‘ (1992). Gambaran industri pabrik di kawasan pedesaan secara mengejutkan dapat ditemukan dalam kutipan Diane Lauren Wolf berikut:

“Dalam wilayah ini (di Jawa Tengah) sepuluh pabrik skala besar, yang didukung oleh mesin-mesin dan teknologi dari Barat, mengorganisir dan menjalankan kecepatan, langkah efisiensi, dan lompatan dari tanah pertanian di desa-desa di Jawa yang masih tidak listrik dan dimana kebanyakan teknologi didorong oleh pekerja atau kekuatan hewan. Beberapa dari kantung pabrik-pabrik di kawasan pertanian, merusak kerapian barisan sawah dengan pagar baja dan para penjaganya.” (Wolf, 1992: 109)

 

Selain itu, analisis paling mendalam dan yang bersifat paling feminis dilakukan oleh Aihwa Ong (1987) dan Diane Lauren Wolf (1992). Mereka mencapai kesimpulan secara luas mengenai pekerja perempuan muda pada tahun 1980-an dan tahap awal masuknya Asia globalisasi ekonomi dalam bentuk manufaktur ke Asia Tenggara. Dari salah satu sudut pandang mengenai derasnya ekspansi modernisasi di Malaysia, Thailand dan Negara-Negara lainnya, munculnya upah buruh industri dan pendidikan tinggi secara kultural telah memberikan pilihan bagi anak muda (orang-orang yang berkisar antara 18–30 tahun). Kelompok pemuda ini merawat perkebunan yang telah ada dan yang telah diwariskan kepada masyarakat pribumi di zaman kolonial.

Tesis Aihwa Ong mengenai pendatang baru yang menempati peranan spesial dalam membangkitkan kemakmuran ekonomi Malaysia. Mereka khususnya pekerja pabrik perempuan yang belum menikah dalam Zona Perdagangan Bebas Malaysia (Malaysia Free Trade Zone), secara resmi merepresentasikan sebagai generasi pertama pekerja upahan. Namun secara stereotipe, perempuan juga dilihat merusak kebudayaan nasional. Ong mempertanyakan ‘haruskah jenis kelamin dan gender menjadi sebuah kunci citra/ konstruksi dalam transisi orang Melayu ke dalam kapitalisme industri?’ (1987: 4). 

Ia lalu melihat citra popular dalam tabloid mengenai pekerja upahan perempuan muda dari perspektif jenis kelamin secara sensasional (meskipun dalam pandangan konservatif Malaysia terdapat sedikit studi mengenai aktivitas berdasarkan seks). Pekerja perempuan Melayu oleh publik Malaysia dianggap berlawanan dengan konstruksi kultural dari masyarakat yang cukup ambivalen dengan konsekuensi-konsekuensi perkembangan industri. Dalam pendekatan terhadap hipotesis ini, karya Ong, Spirits of Resistance and Capitalist Discipline: Factory Women in Malaysia melihat dua aspek kerja perempuan di bidang industri: pertama adalah ‘disiplin kapitalis’ dari tempat kerja dan efeknya terhadap para pekerja Malaysia. Ong juga mengkaji citra publik, yang dilihat oleh orang lain, dimana pandangan ini lepas dari perspektif klas sosial.  

Ong melihat perubahan-perubahan yang terjadi beberapa tahun dalam pemukiman semi rural Melayu di pantai barat Semenanjung Malaysia. Karakterisasi yang ditemukan adalah pekerja perempuan desa pertama kali bergaji rendah dalam pabrik yang dimiliki oleh orang asing (dan biasanya orang Jepang). Mereka juga mengelola toko secara bersamaan. Perpindahan dari sawah ke pabrik biasanya hanya beberapa mil secara geografis, mereka dulunya adalah petani proletar. Terdapat kosmologi perpindahan “perhitungan waktu di pedesaan“ ke waktu yang ditentukan oleh jam, perubahan ekonomi subsisten ke uang kontan, terjadi kesetaraan ke ketidaksetaraan, perubahan identtias (dalam adat istiadat) ke identitas diri (dunia upah) dan keamanan seksual (di desa) ke bahayanya seksual (pabrik).

Dalam pengamatan intensifnya mengenai orang desa yang memasok tenaga kerja murah ke pabrik-pabrik Zona Perdagangan Bebas Malaysia, Ong mengungkap fakta bahwa masyarakat pedesaan Jawa telah mengalami penurunan secara tetap terhadap kepemilikan tanah mereka sepanjang abad 21 ini. Ketika Ong melakukan studinya pada tahun 1979, hanya ada 15 persen rumah tangga pedesaan yang tergantung seluruhnya pada pertanian (Ong, 1987: 83) dan ia melihat bahwa keluarga-keluarga lebih tergantung pada pemasukan uang kas yang diperoleh bukan hanya dari gabungan usaha produksi pada tanah namun juga pada pekerjaan buruh dari masing-masing anggota individu (ibid: 107). Bukan hanya pemasukan namun juga relasi-relasi keluarga juga terpengaruhi. Efek statusnya, anak perempuan yang bekerja di pabrik mempunyai kelonggaran terhadap kontrol dari ayah dan saudara laki-lakinya, dan anak perempuan justru lebih terhubungkan dengan kekuatan laki-laki yang terinstitusionalkan dalam sistem-sistem birokrasi di luar keluarga (ibid: 108).

Terdapat dua bentuk perubahan yang sifatnya mencolok. Pertama, di wilayah pabrik yang dimiliki dan dimanajeri oleh orang Jepang atau orang asing lainnya, dan kedua, kerugian tiada henti dari tanah pertanian tradisional terhadap kemakmuran orang luar Melayu, adalah konsekuensi-konsekuensi dari ‘disiplin kapitalis‘. Para orang tua Melayu di pedesaan dan anak-anak perempuan mereka yang telah bekerja, keluar dari kekuatan yang merusak dan tidak aman yang diproduksi oleh dua kekuatan di atas ini. Dengan hilangnya tatanan kekuatan keluarga dan pedesaan menjadi ancaman bagi adat Melayu yang berasal dari meningkatnya pengaruh dua hal ini.

Bagi anak perempuan pedesaan, bekerja di pabrik berasal dari ‘aspirasi personalnya‘ yang lebih merupakan perkembangan psikokultural. Menurut Ong:

“Persepsi perempuan muda terhadap diri, dan laki-laki semakin terbias melalui sudut pandang pemasukan. Anak-anak perempuan dari keluarga kaya juga semakin cerdas dalam kepentingan emosi dan personalnya ketika menikah semakin menjadi kunci mobilitas sosial. Anak-anak perempuan dari keluarga miskin juga menunjukkan dengan jelas kemampuan mereka dalam menangani relasi dengan orang tua mereka, kekasih dan suami.” (ibid: 135; Aihwa Ong)

 

Perubahan citra diri perempuan dan perilakunya diuraikan oleh Aihwa Ong, dan dalam cara yang serupa juga dilakukan oleh Diane Wolf, untuk kasus Malaysia dan Jawa, yang dipasangkan dengan beberapa kasus industrialisasi Asia Tenggara khususnya berkaitan dengan lingkaran kehidupan tradisional. Pabrik menawarkan keterlibatan dengan dunia uang dan pasar dunia kerja, sehingga pernikahan menjadi tertunda, meski menikah masih menjadi tujuan kunci bagi perempuan dan juga laki-laki. Sedangkan fungsi agrikultural dalam kontrak tanah pedesaan dan ‘masyarakat pedesaaan menjadi lebih terikat secara kuat dalam lingkaran produksi modal, dan tanah kebun di kampung menjadi berkurang karena munculnya perumahan yang semakin banyak dibangun oleh para angkatan pekerja migran yang bekerja di luar negeri (Aihwa Ong: 218). ‘Desentralisasi masyarakat pedesaan Melayu ini termanifestasikan pada penekanan kepentingan individual dan akuisisi modal simbolik oleh anak muda dalam melakukan negosiasi terhadap konsep pernikahan. Strategi-strategi pernikahan semakin terkondisikan oleh kapasitas pemasukan dari pasangan, kebutuhan selera dan lingkaran penundaan pernikahan pada rekan-rekan kerja. Apa yang dinegosiasikan bukanlah hanya relasi-relasi di antara orang-orang desa namun juga relasi sosial dalam ranah yang lebih luas seperti di dunia pabrik (Aihwa Ong: 219).

Sebagai penutup, meski banyak karakter peranan laki-laki dan perempuan secara jelas telah bergeser dalam konteks migrasi, urbanisasi, komodifikasi dan sebagainya, namun kita masih dapat menggambarkannya ke dalam garis besar sistem gender dan studi perempuan yang akan semakin kompleks, dan tidak sesederhana perempuan melawan laki-laki dengan pandangan hitam putih. [ ]

 

18 September 2013

 

Terjemahan oleh: Hatib Abdul Kadir

 

* Profesor Emeritus di South-East Asian Studies, University of Leeds, UK.

 

 

[ Edisi Etnohistori Genealogi Gerakan & Studi Perempuan Indonesia ]

 

 

 

 

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

2 Tanggapan

  • Hello, guest
  • Saya, sbg peminat Antropologi, sangat menghargai usaha-usaha untuk mengalihbahasakan tulisan-tulisan hasil kajian Antropologi dari bahasa asing ke Bahasa Indonesia. Usaha ini sangat berharga dalam hal mengatasi kendala bahasa bagi pembaca yang memang memiliki keterbatasan membaca tulisan berbahasa asing. Namun, saat membaca “terjemahan” tulisan ini, saya merasa kurang “sreg” dengan cara penggunaan Bahasa Indonesia di dalamnya yang menyebabkan pembaca (seperti saya) justru sulit memahami isi tulisan. Jujur saja, jika tulisan ini alih bahasa dari Bahasa Inggris, saya 100% lebih memilih membaca karya aslinya dalam bahasa tersebut.

    Saya tidak tahu sejauh mana ini membantu, tapi menurut paragraf pertama misalnya, dapat diterjemahkan sbb:

    Bagi para pekerja pabrik, terutama pabrik pembuat komponen (misal: garmen, elektronik, dan makanan kaleng), situasi ekonomi global di wilayah Asia Tenggara sangatlah bermakna. Sebab, tenaga kerja lokal setengah ahli seperti mereka tetap diperlukan dalam industri paling ringan pun, meski sudah ada robot dan mesin otomotis, Para pekerja lokal seperti ini telah muncul dan berkembang sejak 70-an di beberapa tempat seperti di Malaysia Barat, Jawa, Thailand, Filipina, dan Singapura, serta baru-baru ini, Vietnam dan Kamboja. DST. ….

    Anyway…terima kasih dan salut atas usaha yang sudah dilakukan utk mengalihbahasakan kajian-kajian Antropologi berbahasa asing dalam bahasa Indonesia.

    Cheers
    Erna