Home / Edisional / Misionaris Perempuan di Awal Abad XX: Karya Suster-Suster SSpS di Flores, NTT

Misionaris Perempuan di Awal Abad XX: Karya Suster-Suster SSpS di Flores, NTT

 

oleh: Maria Ingrid Nabubhoga *

 

Kami, suster-suster SSpS (Suster Abdi Roh Kudus) adalah sebuah komunitas misionaris perempuan dari Kongregasi internasional, yang terpanggil untuk berbagi dalam misi universal Tuhan di dalam Yesus, dalam dinamisme Roh Kudus. Moto kami adalah: “Semoga Allah Tritunggal tinggal di hati kami dan di hati semua orang”, yang terkandung dalam Spiritualitas dan Karisma kami. Misi adalah sumber dan tujuan kongregasi kami. Mengingat karakter universalnya, para suster dari  berbagai belahan dunia terpanggil untuk menjadi saksi Persekutuan Allah Tritunggal dalam keragaman budaya dan kebangsaan. Dan sebagai misionaris, kami terpanggil untuk merangkul semua masyarakat lintas budaya dan tradisi kepercayaan. Dengan universalisme misi kami, semangat internationalitas adalah hal yang esensial dalam kehidupan komunitas kami.[1]

 

 

Sejarah perkembangan masyarakat di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tidak dapat dilepaskan dari peran para misionaris Katolik yang datang sejak abad enam belas. Misionaris Portugis adalah yang pertama tiba di Flores meskipun pada awalnya perkembangan agama Katolik hanya terpusat di bagian kecil di Flores timur dan pulau Solor. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, khususnya sejak tahun 1859, misionaris Jesuit memulai karya misi mereka di Flores sejak tahun 1859 dan dilanjutkan oleh misionaris SVD (Societas Verbi Divini) sejak tahun 1913. SVD tidak hanya melakukan penyebaran agama Katolik dalam karya misinya, namun juga mendirikan sekolah-sekolah, pos-pos kesehatan, pertukangan, penerbit dan percetakan serta membuka lahan pertanian dan perkebunan. Karya misi SVD tersebar dari Flores timur hingga ke Flores barat. Dalam karya misinya, para romo dan bruder SVD didukung oleh para suster SSpS (Servae Spiritus Sancti), yang datang ke Flores sejak tahun 1917. Suster-suster SSpS mengambil alih karya misi suster-suster Fransiscan Heythuizen yang telah berkarya di Flores sejak tahun 1879 dan suster-suster Cinta Kasih Tilburg sejak tahun 1890.

Tulisan ini mencoba menelusuri jejak awal karya suster-suster SSpS di Flores sejak kedatangannya serta sejauh mana peran dan kontribusi para suster dalam perkembangan masyarakat, khususnya perempuan di Flores, dalam hubungannya dengan karya misionaris SVD pada awal abad ke dua puluh. Studi tentang misionaris perempuan di Indonesia, khususnya di luar Jawa, masih sangat sedikit. Informasi mengenai karya SSpS di Flores dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan para romo dan bruder SVD (Piskaty, 1974; Laan tanpa tahun; Cornelissen, 1978) serta suster SSpS (Stegmaier, 1974; Praksedes & Silina, 2008). Karel Steenbrink, khususnya dalam volume kedua bukunya Catholics in Indonesia 18081942 (2007) juga secara khusus menyinggung mengenai pendirian kongregasi SSpS Flores dan kontribusi suster-suster SSpS dalam pendirian kongregasi suster lokal, Suster Pengikut Yesus (Conggregatio Imitationis Jesu, CIJ). Di luar Indonesia, studi mengenai SSpS telah dilakukan oleh Nancy C. Lutkehaus dan Mary Taylor Huber, yang terbit dalam buku kumpulan esai Gendered Missions Women and Men in Missionary Discourse and Practice (1999). Keduanya menulis esai mengenai SSpS di Papua Nugini.

 

Pendirian SSpS

Kongregasi Suster Abdi Roh Kudus (SSpS) didirikan pada tanggal 8 Desember 1889 di Steyl, Belanda oleh Arnold Janssen, yang juga adalah pendiri Kongregasi Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini, SVD)[2], bersama-sama dengan dua suster berkebangsaan Jerman, Maria Helena Stollenwerk dan Josepha Hendrina Stenmanns. Pada awalnya, SSpS didirikan untuk mendukung dan melayani karya misi Katolik SVD di luar negeri. Dalam pembagian kerjanya, para romo menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan para bruder dan suster. Semua kantor administratif dan pengawasan disediakan bagi para romo, sedangkan para bruder adalah para pekerja yang mendukung tugas-tugas pelayanan spiritual para romo. Peran suster, seperti halnya bruder, sangatlah penting dalam tugas pendirian gereja, meski mereka lebih berperan sebagai fasilitator dari kegiatan-kegiatan para romo, seperti yang jelas tertera dalam rencana pendirian kongregasinya: “suster-suster misi diperlukan untuk melengkapi karya para misionaris”[3].

Tahun 1889, ketika Arnold Janssen mengirimkan para romo SVD-nya ke Argentina, adalah tahun awal para perempuan muda yang tengah menunggu untuk menjadi suster-suster misionaris. Proses pengaturan struktur kongregasi SSpS, persetujuan keuskupan dan persiapan para suster untuk menjadi misionaris memakan waktu hampir enam tahun sampai akhirnya para suster dapat dikirim ke wilayah misi. Dalam kurun waktu tersebut, telah terdapat enam romo SVD di sejumlah wilayah misi dan semuanya memerlukan suster-suster untuk mendukung karya misi mereka[4]. Dua ko-pendiri SSpS, Suster Maria Helena Stollenwerk dan Suster Josepha Hendrina Stenmanns dipercaya untuk memegang tanggung jawab kepemimpinan, memperkenalkan anggota baru ke dalam kehidupan relijius serta mengurus pekerjaan-pekerjaan praktis. Mereka juga mengembangkan kongregasi muda ini secara spiritual dan mengisinya dengan antusiasme misi kerasulan serta semangat komitmen tanpa syarat.

Pada awalnya, Helena dan Josepha bekerja sebagai pegawai di dapur rumah misi SVD. Sebelumnya, Helena telah menyampaikan keinginannya kepada Arnold Janssen untuk menjadi misionaris, namun Arnold Janssen mengatakan: “Sejauh ini tidak ada biara bagi misionaris perempuan di wilayah kami”. Dan ia menambahkan “Bukannya tidak mungkin bahwa suatu saat nanti saya akan mendirikannya, namun saya perlu tahu dengan jelas kehendak Tuhan terlebih dahulu”[5]. Sementara itu pula, semakin banyak perempuan muda yang bergabung dan bekerja sebagai sebagai pegawai di dapur dan baru tujuh tahun kemudian Arnold Janssen akhirnya mendirikan biara bagi suster-suster misionaris. Tugas utama para suster adalah: 1) Devosi (penyerahan diri secara menyeluruh) khusus kepada Roh Kudus; 2) Partisipasi dalam Kerja Misi melalui doa dan karya, khususnya karya misi romo SVD; dan 3) Secara khusus, doa bagi para romo dan bagi kemuliaan penerimaan Sakramen Kudus[6].

Di samping kongregasi SSpS, Arnold Janssen juga mendirikan sebuah cabang kongregasi yang bersifat kontemplatif yakni Suster Abdi Roh Kudus Penyembah Abadi atau SSpS.Ap (Congregatio Servarum Spiritus Sancti de Adoratione Perpetua) pada tanggal 8 September 1896. Kongregasi SSpS.AP bertujuan untuk melakukan doa dan kontemplasi, sedangkan kongregasi SSpS, ditujukan untuk suster-suster yang aktif baik berdoa maupun melakukan “pekerjaan yang sesuai dengan jenis kelamin mereka” (work appropriate to their sex) dalam berbagai bidang di masyarakat[7]. Pada sejarah awal pendirian kongregasi SSpS ini dapat kita lihat relasi sub-ordinasi rohaniwan perempuan oleh laki-laki dalam Katolik. Perempuan tidak mempunyai otoritas untuk mendirikan kongregasi bagi diri mereka sendiri dan tergantung pada Arnold Janssen. Hal ini juga menunjukkan adanya ranah yang terpisah namun saling melengkapi antara laki-laki dan perempuan dalam kongregasi  SVD dan SSpS.

Pada bulan September 1895, kelompok suster yang pertama melakukan perjalanan ke Argentina. Berkenaan dengan kejadian penting dalam sejarah kongregasi ini, suster Mulberge menulis “Para suster melakukan karya kerasulan di kalangan perempuan, jadi sebuah prioritas karya telah ditentukan dan tetap menjadi salah satu prioritas kami sampai hari ini: mempromosikan keberdayaan perempuan”[8]. Gagasan tentang “promosi keberdayaan perempuan” dapat dipahami sebagai promosi perempuan sebagai suster misionaris dan promosi perempuan di wilayah misi di mana para suster melakukan pekerjaan kerasulan mereka. Dalam konteks perempuan di abad sembilan belas, suster Mulberge menulis:

Sulit untuk memahami peran perempuan di era generasi pendiri kita. Di satu sisi posisi mereka sangatlah bergantung pada laki-laki, pendidikan tidak dianggap perlu untuk anak perempuan dan kebajikan terbesar mereka terletak pada bagaimana menjadi anak, istri dan ibu yang berbakti. Di sisi lain, jika kita melihat lebih dekat pada kehidupan dan keluarga suster-suster misi awal, terungkap bahwa banyak perempuan memiliki pikiran-pikiran mereka sendiri yang istimewa[9].

Pada akhir abad sembilan belas dan awal abad dua puluh adalah tidak biasa bagi perempuan untuk tidak menikah dan lebih tidak biasa lagi bagi perempuan untuk menjadi biarawati, apalagi seorang suster misionaris[10]. Namun menjadi seorang biarawati dan melakukan kerja misionaris berarti memberi kesempatan bagi perempuan untuk bekerja, melakukan perjalanan dan memiliki kebebasan yang tidak mereka dapatkan jika hanya menetap di rumah.

Lantas apa peranan suster di ranah misionaris? Sumbangan para suster dianggap sangat berharga khususnya dalam ranah yang tidak dapat dimasuki oleh romo dan bruder (setidaknya pandangan pada masa itu) yakni evangelisasi perempuan. Fischer (1925) menulis: biaya dan risiko pengiriman suster untuk bekerja di luar negeri dijustifikasi oleh tugas-tugas profesional yang harus mereka lakukan seperti: mendirikan sekolah untuk anak perempuan, panti asuhan, rumah sakit, dan klinik, serta mengajarkan katekisme kepada perempuan serta mengunjungi rumah-rumah orang “yang belum beragama”[11]. Mengenai keterlibatan para suster dalam misi, Arnold Janssen menulis:

Dibandingkan para romo, para suster akan memiliki akses yang jauh lebih mudah serta pengaruh yang lebih besar terhadap penduduk perempuan yang belum beragama, dan oleh karena itu, dalam tingkat yang lebih agung, mereka bisa membantu dalam mengubah perempuan “belum beragama” menjadi ibu-ibu kristiani. Dan tanpa ibu-ibu kristiani ini, keluarga Kristen sejati tidak mungkin tercapai. Sekali lagi, tanpa banyaknya keluarga Kristen, tidak akan ada klerus (romo/rohaniwan) lokal, dan tanpa klerus lokal, tidak ada pendirian Iman Kristen yang permanen di negara-negara yang belum beragama[12].

Para suster misi diseleksi berdasarkan kecerdasan dan kesehatan, dan yang lebih berbakat di antara mereka menerima kursus pelatihan guru selama tiga tahun sehingga layak menjalankan tugas mereka di ranah misi.

Tahun-tahun setelah 1895 adalah tahun ekspansi dan pengembangan. Banyak perempuan muda mendaftar untuk bergabung sebagai suster misionaris. Rumah-rumah misi dibuka di Jerman, Inggris, Belanda, Italia, Austria, Polandia, Swiss, Spanyol, Ceko, Amerika Serikat, Argentina, Brasil, Chili, Cina, Formosa, India, Indonesia, Jepang, Filipina, Australia, Papua Nugini dan Afrika. Banyak yayasan SSpS yang tersebar di seluruh dunia memiliki pusat pelatihan sendiri untuk menyiapkan suster-suster misionaris. Sampai saat ini Biara Hati Kudus (Sacred Heart Convent) di Steyl, Belanda masih tetap menjadi “rumah induk” (Motherhouse) SSpS, meskipun rumah pusat administrasi (Generalate), telah bertempat di Roma sejak 1937.

 

SSpS di Flores

Kedatangan enam suster pertama ke Flores pada tahun 1917 merupakan permintaan Petrus Noyen SVD, Prefek Apostolik Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara) yang menulis kepada Superior General SVD: “Kami sangat memerlukan mereka, jika tidak, hidup akan menjadi terlalu mahal”[13]. Para suster datang untuk mendukung pekerjaan misionaris SVD. Sejak awal kedatangan mereka, para suster bekerja di tiga bidang: pendidikan, kesehatan, dan, karya pastoral. Di bidang pendidikan, seperti halnya karya suster-suster kongregasi lain di Hindia Belanda dan sebagai salah satu prioritas kongregasi mereka, fokus SSpS adalah pendidikan perempuan.

Sebelum kedatangan suster-suster SSpS ke Flores, para suster Heythuizen dan para suster Tilburg telah terlebih dahulu mengabdi di Flores sejak akhir abad sembilan belas. Mereka mendirikan sekolah perempuan pertama serta rumah sakit dan klinik. Ketika susters-suster SSpS pertama tiba, sudah ada dua sekolah asrama di kota Larantuka dan Lela. Terdapat juga sebuah rumah sakit kecil di Larantuka dan sebuah klinik kecil di Lela. Para suster Tilburg meninggalkan wilayah misi mereka beserta 230 siswi di Lela pada bulan Januari 1917, sepuluh hari setelah kedatangan para suster SSpS. Selama masa keberangkatan para suster Tilburg dan kedatangan para suster SSpS, tugas utama di sekolah dan asrama diambil-alih oleh para perempuan Sikka yang sudah berpengalaman. Mereka kemungkinan adalah perempuan pertama yang bekerja di daerah ini sebagai guru. Untuk pelajaran bahasa Melayu, mereka mendatangkan dua perempuan dari sekolah di Larantuka[14]. Sayangnya, tidak ada catatan lebih lanjut mengenai guru perempuan lokal di masa-masa awal ini. Namun demikian, selama pendirian karya SSpS di Ndona, Laan menulis bahwa pada tahun 1930, anak perempuan dari Flores dan Timor datang ke Ndona ke sekolah pelatihan guru di daerah tersebut[15].

Meskipun tampak sulit pada awalnya, para suster SSpS menyesuaikan diri dengan baik dalam pekerjaan mereka. Pada tahun 1918, suster Lugarda, yang memiliki ijazah guru, meminta izin kepada Pemerintah untuk membuka sekolah standar bagi anak perempuan. Permintaan ini dikabulkan pada tahun 1919. Pendidikan untuk perempuan yang dilakukan oleh para suster SSpS mulai diperluas dari Lela, ke Ndona pada tahun 1920 dan pada tahun 1924 ke daerah Jopu. Pada tahun 1925, para suster mengambil alih sekolah putri yang didirikan dan dikelola oleh suster-suster Heythuizen di Larantuka[16]. Tentang gambaran sekolah putri di Larantuka dan keberhasilan karya pendidikan yang awalnya dilakukan oleh para suster Heythuizen, suster Maria Eliana menulis:

Gadis-gadis yang dilatih di sekolah dasar lanjutan (vervolgschool) atau sekolah suster, telah menyebar ke berbagai wilayah Kepulauan Sunda Kecil dan membentuk kelompok-kelompok kerasulan kecil. Para siswi berada di sekolah pada siang hari dan pulang ke rumah saat petang. Mereka yang berasal dari tempat yang jauh tinggal di asrama dan pulang ke rumah pada hari Minggu. Para gadis dibagi menjadi tiga kelompok (siswi sekolah dasar, siswi sekolah dasar lanjutan, dan siswi sekolah keputrian (sekolah rumah tangga) karena mereka masuk dari usia 6–7 tahun dan biasanya belajar sampai mereka siap menikah. Penyesuaian diri adalah hal yang paling berat khususnya bagi siswi yang masih kecil, karena di rumah mereka bisa menikmati kebebasan, namun seringkali juga sulit bagi gadis-gadis yang sudah bertunangan dan belajar di sekolah keputrian. Gaya hidup dan pakaian dari para siswi sangatlah sederhana sesuai pada masa itu[17].

Meskipun sekolah untuk anak perempuan telah ada sejak tahun 1879, persepsi umum yang berlaku adalah bahwa pendidikan bagi perempuan masih dianggap tidak perlu. Banyak orang tua, terutama di desa-desa terpencil, tidak merasa penting untuk menyekolahkan anak perempuannya. Menurut pemahaman mereka, ‘perempuan merawat rumah tangga dan mengurus kebun dan ternak. Apa gunanya membaca dan menulis?”[18]. Dalam menghadapi hal ini, para suster berkunjung ke desa-desa dan berbicara dengan kepala desa, sebelum kemudian mengunjungi rumah-rumah penduduk untuk berbicara dengan para orang tua untuk mendapatkan izin agar dapat mendidik anak-anak perempuan mereka[19].

 

Suster SSpS mengajar di Lela, Flores 1928 (foto: S. P. Laan, SVD.)

 

Di sekolah keputrian (sekolah rumah tangga), para siswi ditempatkan di asrama dan diberi pelatihan selama tiga bulan. Ada tiga tingkat pelatihan di sekolah ini: pelatihan mencuci (pakaian dan peralatan dapur), menyetrika, dan berkebun; pelatihan rumah tangga (membersihkan rumah dan memasak); dan, pelatihan keterampilan (bordir, menjahit, dan menenun). Di antara kegiatan pelatihan mereka, para siswi juga menerima pendidikan agama Katolik[20]. Diharapkan bahwa setelah menerima pelatihan ini, para siswi yang kembali ke rumah akan mengajarkan hal yang sama ke gadis-gadis yang lain. Jenis sekolah ini dimaksudkan untuk mempersiapkan anak-anak perempuan menjadi ibu rumah tangga Kristen yang baik. Kebanyakan para siswi tinggal di asrama suster sampai saat calon suami mereka datang menjemput. Para calon suami ini biasanya adalah mereka yang juga telah dididik di sekolah misionaris dan siap untuk menjadi guru atau katekis dalam karya misi. Mereka mendirikan keluarga-keluarga Katolik yang baik, yang berjanji untuk tetap setia dalam iman mereka bahkan ketika mereka dikirim ke pulau-pulau terpencil di Nusa Tenggara[21].  

Para gadis yang belajar di sekolah susteran dan kemudian menikah serta menjalani hidup sebagai keluarga Kristen, tidak hanya memenuhi tujuan misi SSpS dalam mengubah perempuan “yang belum beragama” menjadi  istri dan ibu Kristen yang taat, namun mereka juga menjadi katekis di rumah mereka sendiri seperti yang ditulis oleh P. Hermann Hellinge pada tahun 1927:

Para siswi merupakan ‘penarik tali’ (seilzieher) yang sesungguhnya. Banyak dari mereka yang kemudian mengajar orangtua mereka sendiri di rumah, kadang-kadang mereka juga memanggil perempuan-perempuan yang lebih tua untuk bergabung, karena para orang tua ini malu untuk belajar (pelajaran agama umum) bersama dengan anak-anak muda[22].

Melalui sekolah dan pelatihan rumah tangga gadis-gadis lokal mendapatkan pendidikan dasar seperti membaca, menulis, matematika, ilmu alam dasar, bahasa Melayu serta kerajinan tangan, tenun, bordir, memasak dan membersihkan rumah. Dalam pendidikan agama, mereka belajar tentang cerita-cerita Alkitab, katekisme dan menyanyikan himne. Mirip dengan yang terjadi pada sekolah misi untuk anak laki-laki, pada awalnya, kebanyakan gadis yang pergi ke sekolah suster adalah anak-anak perempuan dari para elit lokal (seperti putri kepala desa atau raja). Salah satu dari berbagai alasan untuk menempatkan anak perempuan kaum elit ini di asrama sekolah suster adalah untuk menjaga mereka sampai waktu pernikahannya tiba[23].

Peran para suster dalam mendirikan sekolah perempuan dan sebagai guru sangatlah signifikan baik bagi misionaris (SVD dan SSpS) dan masyarakat sendiri. Para suster menjangkau elemen masyarakat yang tidak tersentuh oleh pemerintah kolonial dan misi SVD. Di sini, para suster memainkan peran ganda baik sebagai elemen pendukung misi SVD maupun pemerintah kolonial. Bagi misi SVD, para suster membantu “menyelamatkan jiwa” dengan menciptakan perempuan Kristen, dan lebih jauh lagi, ibu Kristen, melalui pendidikan dan kegiatan katekisme. Bagi pemerintah kolonial, para suster memberikan kontribusi terhadap perkembangan masyarakat di daerah terpencil, tidak hanya di sektor pendidikan, tetapi juga di sektor kesehatan.

Pada tahun 1927 para suster mengambil alih rumah sakit pemerintah di Larantuka dan pada tahun 1930 di Ende. Mereka juga pergi ke desa-desa untuk mengurus orang sakit. Pada tahun 1928 dokter misionaris yang pertama, dr. Tietze, ditempatkan di Lela. Sejak tahun 1930 Vikariat membangun sebuah rumah sakit di Lela yang diakui oleh pemerintah pada tahun 1935. Para suster mengurusi manajemen rumah sakit dan secara bertahap rumah sakit tersebut tumbuh lebih luas dengan lebih banyak bangunan dan departemen-departemen beserta para perawat. Pada tahun 1952, rumah sakit ini membuka kursus pelatihan bagi perawat, yang kemudian berkembang menjadi sebuah sekolah perawat pada tahun 1965[24].

Pada tahun 1925 jumlah para suster misi yang bekerja di Flores berjumlah 36 orang. Para suster yang baru datang adalah suster dengan kualifikasi khusus, yakni mereka yang telah menerima pendidikan khusus seperti guru atau keperawatan. Sebuah catatan menarik dari Steenbrink menyebutkan bahwa salah satu suster, suster M. Smiggels, yang tiba pada tahun 1925 di Larantuka, dianggap melebihi standar (overqualified) karena ia lulus sebagai guru senior untuk sekolah dasar, dan dianggap layak menjadi direktur sekolah berbahasa Belanda. Para romo selaku pengawas sekolah memberikan sertifikat kepada siapa saja yang terbukti mampu mengelola kelas dalam bahasa Melayu dan menganggap pengetahuan bahasa Eropa tidak diperlukan. Suster Smiggels kemudian dipindahkan ke Jawa (Malang) pada tahun 1928[25]. Catatan menarik lain adalah seorang dokter gigi, suster Eustochia, yang selama pendudukan Jepang diminta untuk menambal gigi beberapa tentara Jepang. Atas inisiatifnya sendiri, suster Eustochia meminta agar Romo J. Koemeester, rektor novisiat dan seminari Ledalero, dikeluarkan dari penjara. Berkat hubungan baiknya dengan komandan Jepang, permintaannya dikabulkan[26].

Para suster SSpS memperluas karya misionaris mereka ke Manggarai (Flores Barat) sejak 1942. Mirip dengan apa yang telah mereka lakukan di Flores Timur, mereka juga mendirikan sekolah-sekolah, klinik dan rumah sakit. Pada tahun 1965 mereka mendirikan Pelayanan Medis dan Rehabilitasi penderita kusta dan difabel di Cancar (Flores Barat).

Meski tampak mandiri di lapangan, para suster selalu berkonsultasi dan memerlukan dukungan dari para romo. Pada saat yang sama, para suster juga melayani para romo dan gereja. Ketika para suster pertama kali datang ke Lela, selain mengambil alih pengelolaan sekolah dan rumah sakit, mereka juga mengurus pos misi SVD. Mereka mensuplai pos-pos misi dengan roti, daging, dan mengurus cucian serta membersihkan gereja[27]. Pada tahun 1930 lima suster pindah ke Todabelu (Mataloko, Flores Barat), di mana terdapat seminari menengah pertama. Di sini, para suster mendirikan sekolah perempuan dan sekolah rumah tangga tetapi juga mengurus dapur dan cucian seminari[28].

Serupa dengan studi Lutkehaus (1999), pengetahuan dan keterampilan baru yang dimiliki para perempuan lokal memberi mereka pandangan dunia yang baru, serta kesempatan untuk arah kehidupan baru di samping peran tradisional mereka sebagai istri dan ibu. Perempuan yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan mereka setelah sekolah dasar dapat meniti karir sebagai perawat atau guru. Selain itu, kehadiran para suster dan kegiatan mereka juga telah menjadi inspirasi bagi perempuan lokal untuk menjadi biarawati dan menjalani hidup selibat.

Selama satu dekade setelah dibukanya seminari menengah di Todabelu pada tahun 1928, semua siswa seminari langsung masuk ke dalam kongregasi SVD untuk mendapatkan pendidikan lanjutan guna menjadi romo SVD. Ini sedikit berbeda dengan perempuan Flores yang ingin menjadi suster. Pada awalnya, baik para suster SSpS maupun romo SVD cenderung tidak menerima perempuan Flores untuk masuk ke dalam kongregasi SSpS. Hal ini juga dikarenakan mereka sendiri tidak memiliki strategi yang jelas mengenai pendidikan perempuan untuk menjadi suster. Pada tahun 1923, telah ada sekelompok kecil perempuan yang mendaftar untuk menjadi anggota kongregasi suster-suster di Lela, namun mereka ditolak karena dianggap belum matang. Baru pada tahun 1930 dibuka sebuah program khusus bagi para perempuan yang ingin menjadi suster, namun demikian program ini dihentikan pada tahun 1932 setelah kematian Uskup Vestraelen. Pada bulan Mei 1933, program ini dibuka kembali dan tiga perempuan pertama secara resmi diterima sebagai novisiat pada bulan Maret 1935[29].

Meskipun dibimbing oleh para suster SSpS, para gadis lokal ini tidak menjadi anggota kongregasi SSpS, melainkan ke dalam kongregasi baru yang didirikan oleh Uskup Leven, yakni kongregasi Suster Pengikut Yesus (Conggregatio Imitationis Jesu, CIJ) pada bulan Mei 1935 di Jopu. Pada tahun 1937 lima suster pertama mengucapkan kaul pertama mereka. Pada tahun 1940 kongregasi muda ini telah memiliki 16 anggota, di mana sebagian besar dari mereka masih calon dalam pelatihan. Mereka tinggal di Jopu, rumah utama mereka, di mana mereka memiliki sekolah berasrama untuk anak perempuan dan rumah retret. Selama pendudukan Jepang, para suster lokal ini bekerja sebagai guru dan mendapatkan ijin untuk membagikan komuni kudus yang telah diberkati oleh para romo. Setelah kemerdekaan Indonesia para suster CIJ mulai membuka komunitasnya di Jawa dan berbagai provinsi di Indonesia Timur[30]. Sejak berdirinya sampai tahun 1965, Rumah Novisiat suster CIJ berada di bawah kepemimpinan suster-suster SSpS (Sr. Xaver, SSpS dan Sr. Reyneldis, SSpS).

Aspek penting dari dimensi gender dalam kegiatan misionaris dapat dilihat dari prioritas mereka untuk pendidikan para romo dan suster. Steenbrink berpendapat bahwa alasan utama mengapa para klerus tidak memberikan prioritas pada pendidikan dan pembinaan suster lokal barangkali dikarenakan bahwa masyarakat kolonial, pejabat pemerintah, dan personil misi berpegang pada budaya patriarki di mana posisi perempuan lebih rendah dari laki-laki. Para suster mendirikan sekolah dan memiliki banyak siswi seperti halnya para romo mendirikan sekolah dan memiliki banyak siswa. Namun demikian, perbincangan tentang subsidi pemerintah yang menjadi sokongan utama keuangan untuk sekolah-sekolah hanya dilakukan di antara pejabat kolonial tingkat atas dan para romo. Para suster tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan hanya bisa mengikuti perkembangannya saja. Alasan lain adalah keuangan. Vatikan memiliki dana khusus untuk pelatihan anak laki-laki untuk dididik menjadi romo. Pembangunan seminari menengah di Todabelu dan kemudian seminari tinggi di Ledalero dibiayai oleh dana khusus ini. Tidak ada dana internasional serupa untuk biaya pendidikan bagi suster lokal[31].

Dalam konteks kongregasi SVD dan SSpS, para suster secara finansial tergantung pada SVD. Oleh karena itu, keputusan tentang masalah keuangan dilakukan oleh para romo. Hal ini mengingatkan kembali ke latar belakang pendirian kongregasi SSpS, bahwa suster-suster dibutuhkan untuk melengkapi pekerjaan misionaris SVD. Meskipun kontribusi para suster tetap dianggap sangat bernilai dan sangat dihargai, posisi mereka tetap sub-ordinat.

SSpS secara resmi membuka cabang Indonesia di Flores dan mulai menerima perempuan lokal ke dalam kongregasinya pada tahun 1958 di Hokeng. Inisiatif pendirian ini berasal dari suster Gunthild Anna Gompelmann, yang menjabat sebagai SSpS Regional pada tahun 1952–1961. Hal ini bukannya tanpa kesulitan. Proposalnya pertama kali ditolak oleh keuskupan dan para klerus karena alasan keuangan. Suster Gunthild kemudian meminta Uskup A. Thijsen untuk mengirim gaji para suster yang melakukan kerja pastoral di paroki-paroki ke biara SSpS di Lela. Ia juga menerima sumbangan dari Jakarta dan dari Propaganda Fide[32].

Empat kandidat suster pertama (tiga dari Flores dan satu dari Sumba Barat) memulai pendidikan mereka pada tanggal 1 Agustus 1954 di Lela. Empat belas hari kemudian, delapan perempuan lagi datang. Jumlah para murid meningkat pesat sehingga mereka harus pindah ke Hokeng dari rumah novisat mereka di Lela pada tahun 1958 dengan izin dari Uskup Larantuka, Mgr. Gabriel Manek, SVD. Pada tanggal 16 Juli 1964, tiga suster Flores mengucapkan kaul mereka sebagai suster SSpS di Rumah Regio Sanctissima Trinitas Hokeng[33].

 

Suster-suster SSpS di Hokeng, Flores (foto: koleksi milik Biara SSpS, Uden, Negeri Belanda)

 

Pada bulan Agustus tahun 1958, para suster membuka Sekolah Menengah Pertama (SMP) perempuan, SMP Sanctissima Trinitas Hokeng dan pada tahun 1960 membuka Sekolah Pendidikan Guru, (SPG) dan sebuah klinik bersalin. Pada tahun 1972, para suster memiliki bengkel sendiri untuk kayu, besi dan sepatu, serta pertanian dan ternak. Mereka juga menawarkan berbagai program pelatihan bagi para perempuan di wilayah setempat. Para suster terus memperluas aktivitas mereka dengan mendirikan sekolah rumah tangga, sekolah dasar, dan taman kanak-kanak. Para suster tidak hanya melakukan aktivitas mereka di Hokeng. Pada tahun 1961 mereka membangun sekolah dasar, sekolah menengah, sebuah rumah sakit kecil dan poliklinik di Adonara[34]. Cabang SSpS Indonesia ini tetap menjadi bagian resmi dari kongregasi SSpS. Pada tahun 1987 dua belas suster SSpS yang berasal dari Flores dikirim untuk melakukan karya misionaris di Timor-Timur, Afrika, dan Brasil[35].

Kontribusi lain dari kongregasi SSpS terhadap kongregasi lokal di Flores adalah pendirian kongregasi Tarekat Puteri Reinha Rosari (PRR) yang pertama kali dibentuk di Lebao-Tengah (Flores Timur) pada tahun 1958 oleh Uskup Gabriel Manek. Suster Anfrida SSpS, diangkat menjadi pemimpin kongregasi suster lokal kedua di Flores ini. Para suster PRR ini memulai karya misionaris pertama mereka dengan mendirikan sekolah menengah untuk anak perempuan, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Reinha Rosari pada tahun yang sama.

Selama paruh kedua abad ke-dua puluh, berbagai pilihan terbuka bagi perempuan Flores. Lebih banyak sekolah dibuka untuk tingkat yang lebih tinggi (SMP, SMA, sekolah pendidikan guru, dan sekolah perawat), tidak hanya oleh para misionaris tetapi juga oleh pemerintah Indonesia. Namun demikian, mobilitas sosial bagi perempuan Flores yang dididik oleh SSpS masih saja terbatas pada ruang domestik, berbeda dengan laki-laki Flores yang dididik oleh SVD, yang memiliki lebih banyak peluang. Hal ini tampak lebih eksplisit dalam perkembangan sejarah Flores selanjutnya, karena banyak laki-laki yang dididik di sekolah-sekolah SVD menjadi tokoh yang menonjol baik di tingkat lokal maupun nasional, sedangkan kita tidak menemukan tokoh perempuan Flores yang dididik oleh suster-suster SSpS yang muncul sebagai tokoh yang menonjol di luar batasan regional Flores, kecuali para suster.

Keberhasilan karya misionaris SSpS dan SVD di Flores dalam penyebaran agama Katolik secara signifikan sangat terkait dengan kesamaan gagasan patriarki antara Gereja Katolik dan struktur sosial masyarakat lokal Flores. Baik dalam struktur sosial masyarakat Flores maupun dalam bentuk hierarki sosial baru yang dibawa oleh para misionaris, posisi perempuan tetap lebih rendah dari laki-laki. Dengan demikian, karena misionaris tidak mengubah struktur patriarki yang ada, kegiatan-kegiatan mereka dapat diterima oleh masyarakat lokal. Seperti yang ditulis oleh Huber (1999) dan Lutkehaus (1999), pembagian gender antara SVD dan SSpS masih mengikuti model peran gender abad sembilan belas. Dikotomi gender ini juga mereplikasi sub-ordinasi peran perempuan dalam hierarki gereja Katolik[36].

SSpS telah memperkenalkan pandangan dunia baru kepada perempuan Flores melalui pendidikan, kesehatan, serta nilai-nilai Kristen. Melalui proses konversi ke agama Katolik serta penerimaan pendidikan Barat, perempuan Flores menjalani sebuah transisi menjadi perempuan Kristen yang terdidik. Dapat dikatakan bahwa misionaris Katolik membawa modernitas kepada masyarakat setempat. Meskipun demikian, pertanyaan yang muncul adalah seberapa jauh para perempuan ini menjadi ‘modern’? Jika SSpS telah berhasil mengubah perempuan lokal yang “belum beragama“ menjadi istri dan ibu Kristen yang baik, atau menjadi suster, dapatkah hal tersebut kita sebut sebagai ‘modern‘? Kita harus membedakan pengertian umum tentang modernitas ketika melihat konteks Flores dalam kaitannya dengan berbagai kegiatan misionaris, atau dengan kata lain, secara khusus perlu dilakukan pengkajian yang lebih mendalam mengenai konsep dominan modernitas ketika berbicara tentang pandangan dunia baru yang dialami oleh perempuan Flores. [ ]

 

17 November 2013

 

* Mahasiswi Master Ilmu Sejarah, Universitas Leiden, Negeri Belanda.

 

 


L  I  T  E  R  A  T  U  R

—Cornelissen, Frans, P. SVD. 1978. 50 Tahun Pendidikan Imam di Flores, Timor dan Bali. Ende–Flores. Percetakan Offset Arnoldus.
—Fischer, Hermann SVD. 1936. Leven van Pater Arn. Janssen Stichter der Missie-Congregatie van het “Goddelijk Woord” en van de Missiezusters “Dienaressen van den Heiligen Geest”.
______Uden. Missiehuis St. Willibrordus.
—Huber, Mary Taylor. 1999. The Dangers of Immorality: Dignity and Disorder in Gender Relations in a Northern New Guinea Diocese. Dalam: Gendered Missions: Women and Men in
______Missionary Discourse and Practice
, Mary Taylor Huber and Nancy C. Lutkehaus (Eds.). Ann Arbor. The University of Michigan Press: 179–206.
—Huber, Mary Taylor and Nancy C. Lutkehaus. 1999. Introduction: Gendered Missions at Home and Abroad. Dalam: Gendered Missions: Women and Men in Missionary Discourse and
______Practice
, Mary Taylor Huber and Nancy C. Lutkehaus (Eds.). Ann Arbor. The University of Michigan Press: 1–38.
—Laan, S. P. Sejarah Gereja Katolik di Wilayah Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Agung Larantuka. (Tanpa tahun & penerbit).
—Lutkehaus, Nancy C. 1999. Missionary Materialism: Gendered Images of the Holy Spirit Sisters in Colonial New Guinea. Dalam: Gendered Missions: Women and Men in Missionary
______Discourse and Practice
, Mary Taylor Huber and Nancy C. Lutkehaus (Eds.). Ann Arbor. The University of Michigan Press: 207–235.
—Mulberge SSpS, Jacqueline. 2010. 120 Years Growth and Development of the Mission Congregation of the Servants of the Holy Spirit 1889–2009. The Vision that Became Reality.
—Mulberge SSpS, Jacqueline. 1996. Another World. The Home of Our Founder Generation. Steyl.
—Piskaty, Kurt. 1964. Die Katholische Missionsschule in Nusa Tenggara (Südost–Indonesien)—ihre geschichtliche Entfaltung und ihre Bedeutung für die Missionsarbeit. Studia
______Instituti Missiologici Societatis Verbi Divini St. Agustin/Siegburg – Washington – Buenos Aires Nr. 5. Steyler Verlag.
—Praksedes, SSpS & Silina, SSpS (Ed.) 2008. Tapak-tapak Meraih Emas 50 Tahun Biara SSpS dan SMP Sanctissima Trinitas Hokeng 1958–2008. Yogyakarta. Penerbit Lamalera.
—Steenbrink, Karel. 2007. Catholics in Indonesia 1808–1942. A Documented History Vol. 2. The Spectacular Growth of A Self-Confident Minority, 19031942. Leiden. KITLV Press.
—Stegmaier, Ortrud. 1974. Der missionarische Einsatz der Schwestern auf den Inseln Flores und Timor (Südost–Indonesien). Studia Instituti Missiologici Societatis Verbi Divini St.
______Agustin/Siegburg – Washington – Buenos Aires Nr. 5. Steyler Verlag.

 

 


C  A  T  A  T  A  N

[1] http://www.worldssps.org/our_identity.html 
[2] SVD didirikan di Steyl oleh Arnold Janssen pada tanggal 8 September 1874. Kurang dari empat tahun setelah pendiriannya, Janssen mengirimkan dua misionaris pertamanya ke Cina
.....dan sejak saat itu misionaris SVD berkembang pesat dan tersebar di berbagai negara.

[3] Mary Taylor Huber “The Dangers of Immorality: Dignity and Disorder in Gender Relations in a Northern New Guinea Diocese.” Dalam: Gendered Missions Women and Men in Missionary
.....Discourse and Practice
, Mary Taylor Huber and Nancy C. Lutkehaus (Eds.) (Ann Arbor: The University Michigan Press, 1999): 183.
[4] Jacqueline Mulberge, SSpS, 120 Years Growth and Development of the Mission Congregation of the Servants of the Holy Spirit 18892009. The Vision that Became Reality. (2010): 8.
[5] Hermann Fischer, SVD, Leven van Pater Arn. Janssen Stichter der Missie-Congregatie van het “Goddelijk Woord” en van de Missiezusters “Dienaressen van den Heiligen Geest” (Uden:
.....Missiehuis St. Willibrordus, 1936): 99.
[6] Teks asli dalam bahasa Belanda: “1) bizondere vereering van den H. Geest; 2) deelname aan ’t missiewerk, door gebed en arbeid, vooral in de missies van de Paters van ’t Goddelijk
.....Woord; 3) in ’t bizonder, gebed voor de priesters en voor ’t waardig ontvangen der H. Sacramenten”. Ibid.
[7] Huber, “The Dangers of Immorality”: 183.
[8] Mulberge, 120 Years Growth: 8.
[9] Jacqueline Mulberge SSpS, Another World. The Home of Our Founder Generation. (Steyl, 1996): 16.
[10] Nancy C. Lutkehaus, “Missionary Materialism: Gendered Images of the Holy Spirit Sisters in Colonial New Guinea”. Dalam: Gendered Missions Women and Men in Missionary Discourse
.......and Practice
, Mary Taylor Huber and Nancy C. Lutkehaus (Eds.) (Ann Arbor: The University of Michigan Press, 1999): 215.
[11] Huber, “The Dangers of Immorality”: 183.
[12] Ibid., 184.
[13] Dikutip oleh Laan, dari surat tertanggal 14/07/1913. Dalam: Ortrud Steigmaier, SSpS, Der missionarische Einsatz der Schwestern auf den Inseln Flores und Timor. (Südost–Indonesien)
.......Studia Instituti Missiologici Societatis Verbi Divini St. Agustin/Siegburg – Washington – Buenos Aires Nr. 5. (St. Agustin: Steyler Verlag, 1974): 45.
[14] Karel Steenbrink, Catholics in Indonesia 1808–1942. A Documented History Vol. 2. The Spectacular Growth of A Self-Confident Minority, 19031942. (Leiden: KITLV Press, 2007): 127.
[15] S. P. Laan, Sejarah Gereja Katolik di Wilayah Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Agung Larantuka. (Tanpa tahun & penerbit): 1195.
[16] Kurt Piskaty, Die katholische Missionsschule in Nusa Tenggara (Südost–Indonesien)—ihre geschichtliche Entfaltung und ihre Bedeutung für die Missionsarbeit (St. Agustin/Siegburg –
.......Washington – Buenos Aires Nr. 5: Steyler Verlag, 1964): 139.
[17] Ibid., 140.
[18] Ibid., 138.
[19] Wawancara dengan Sr. Odetta Peters, SSpS, 15 Mei 2013.
[20] Wawancara dengan Sr. Odetta Peters, SSpS, 15 Mei 2013.
[21] Piskaty, Die katholische Missionsschule: 141.
[22] Teks asli dalam bahasa Jerman: “Die Schulmädchen sind die eigentlichen 'Seilzieher'. Viele unterrichten ihre eigenen Eltern im Hause, rufen auch bisweilen andere alte Frauen hinzu.
.......Denn die Alten schämen sich zuerst (beim öffentlichen Katechismusunterricht), mit dem jüngeren Volk zu lernen“. Ibid., 244.
[23] Steenbrink, Catholics in Indonesia Vol. 2: 136.
[24] Steigmaier, Der missionarische: 49.
[25] Steenbrink, Catholics in Indonesia Vol. 2: 137.
[26] Frans Cornelissen, SVD, 50 Tahun Pendidikan Imam di Flores, Timor dan Bali (Ende–Flores: Percetakan Offset Arnoldus, 1978): 69.
[27] Steigmaier, Der missionarische: 46.
[28] Laan, Sejarah Gereja: 1183–1184; Steigmaier, Der missionarische: 48.
[29] Steenbrink, Catholics in Indonesia Vol. 2: 133–134.
[30] Ibid., 135.
[31] Ibid.
[32] Praksedes, SSpS & Silina, SSpS, Tapak-tapak Meraih Emas 50 Tahun Biara SSpS dan SMP Sanctissima Trinitas Hokeng 19582008. (Yogyakarta: Penerbit Lamalera, 2008): 18.
[33] Ibid., 20.
[34] Laan, Sejarah Gereja: 1153.
[35] Praksedes & Silina, Tapak-tapak: 24.
[36] Lutkehaus, “Missionary Materialism”: 227.

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest