Home / Edisional / Ah, India

Ah, India

 

oleh: Laraswati Ariadne Anwar *

 

MEMBICARAKAN pengaruh budaya India di Indonesia tentunya akan menghabiskan berlembar-lembar kertas. Mulai dari Bahasa Indonesia yang memiliki banyak kata serapan dari Bahasa Sansekerta, pengaruh Hindu-Buddha yang begitu kental di budaya kita, nama-nama orang Indonesia yang kental akan unsur pewayangan meskipun orang tersebut tak memeluk agama Hindu, musik dangdut, serta sinetron. Akan tetapi tak dapat disangkal lagi bahwa pengaruh budaya India terkuat yang dirasakan oleh bangsa Indonesia adalah film Bollywood.

Sudah waktunya kita mengesampingkan gengsi dan mulai membahas tentang film India. Bagi sebagian orang memang asyik membahas film India, namun bagi sebagian lainnya pembahasan tentang film India harus didahului dengan kalimat-kalimat penyangkalan seperti “Ih, males banget” atau “Ih, norak deh”. Memangnya ada apa dengan film India? Kenapa pamornya bisa membuat kita mengalami emosi yang rumit? Cinta tetapi benci, benci tetapi cinta. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita berhenti sejenak, tarik nafas, lalu putar kepala untuk menengok ke belakang.

Sebagai anggota generasi yang lahir di tahun 1980-an, tentunya saya termasuk ke dalam barisan yang mengalami masa kecil hingga remaja menonton film India. Baik disengaja atau tidak. Terserah mau bilang apa, pada kenyataannya film India tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia. Di tahun 1990-an Indonesia dibanjiri oleh film-film. Aktor yang paling terkenal siapa lagi kalau bukan Amitabh Bachchan. Film-filmnya seperti Saudagar, Khuda Gawah, Zanzeer, Coolie, dan sebagainya. Selain Amitabh Bachchan, adapula aktor-aktor lainnya seperti Govinda, Jacky Shroff, dan Sanjay Dhutt yang rutin menghiasi layar kaca kita mulai dari jam sembilan pagi hingga lewat tengah malam. Stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pun berubah makna menjadi “Terminal Pilem India”. Bagi orang-orang kota kelas menengah seperti saya, ada dilema untuk mengakui kesukaan menonton film India yang notabene dianggap sebagai tontonan kelas pekerja atau masyarakat pedesaan. Namanya juga gengsi.

Memasuki akhir tahun 1990-an, terjadi kekosongan sejenak dalam dunia film India di Nusantara. Namun demikian kekosongan tersebut tidaklah berlangsung lama dengan meledaknya Kuch Kuch Hota Hai di pasaran Indonesia. Bayangkan, film India pertama yang diputar di bioskop-bioskop 21! Bioskop 21 biasanya dikenal sebagai tempat elit yang hanya memutar film-film Hollywood. Fakta bahwa 21 memutar Kuch Kuch Hota Hai membuat para ABG dan mahasiswa kelas menengah atas tidak gengsi untuk menonton film India. “Ini kan bukan film India kebanyakan, nontonnya aja di 21”, begitulah alasan yang lazim didengar pada saat itu. Kuch Kuch Hota Hai tidak hanya mengembalikan angin film India di Tanah Air, bersama dengannya datanglah bombardir bintang-bintang baru seperti Shah Rukh Khan, Amir Khan, Salman Khan (mereka bertiga tidak bersaudara), Arjun Rampal, Hrtihrik Roshan, Abishek Bachchan, dan lainnya. Dari segi aktris muncullah si mantan Miss World Aishwarya Rai, Rani Mukherjee, Preity Zintha, Madhuri Dixit, Mahima Choudhury, serta banyak lagi. Bintang-bintang baru Bollywood ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih cantik dan tampan, bertubuh aduhai, trendi, dan lebih gaul. Tiba-tiba kita dihujani film-film seperti Devdas, Ashoka, Dostana, Kabhi Kushi Kabhi Gham, Dhoom, dan banyak lagi. Lokasi syutingnya pun tak hanya di India, dalam satu adegan menyanyi, penonton bisa dibawa ke pantai Hawaii hingga pegunungan Swiss. Intinya menonton film India kini tak hanya disertai canda tawa dan uraian air mata, tetapi juga promosi wisata keliling dunia. Jadi tak hanya para penonton yang terhibur, aktor dan kru film bisa jalan-jalan, tetapi banyak negara di dunia yang berhutang promosi wisata-nya pada film India.

 

(www.monthly.se)

 

Sekarang waktunya kita berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, mencari alasan kenapa kita benci sekaligus cinta kepada film India. Jika bisa diwakilkan dengan satu kata, film India itu mirip dengan musik dangdut, yaitu norak. Norak. Buruk secara selera, namun menyenangkan untuk dinikmati. Tentunya tak adil menganggap semua film India seperti itu. India juga memiliki sutradara-sutradara piawai seperti Shekhar Kapur, Mira Nair, Deepa Mehta, Rituparno Ghosh, dan Prakash Jha sebagai beberapa contohnya. Film-film mereka sungguh dalam dan menggetarkan, tak hanya itu, tetapi juga berseni tinggi. Akan tetapi hanya segelintir orang baik India dan Indonesia yang pernah menonton film-film seperti Mother India, The Bandit Queen, Earth, atau The Last Lear. Berapa banyak orang yang menyadari bahwa India adalah rumah bagi Rabindranath Tagore, Arundhati Roy, dan Jhumpa Lahiri? Kenapa bisa demikian? Kasarnya bisa disimpulkan dari persamaan antara India dan Indonesia.

India negara yang besar dengan penduduk berjumlah lebih dari 1 miliar. Konflik yang melibatkan suku bangsa lazim terjadi dengan penanganan yang payah dari aparat. Ini adalah kasus-kasus yang familiar bagi telinga orang Indonesia bukan? Sama seperti Indonesia, hanya sekitar 30% dari penduduk India yang mengecap pendidikan formal. Jadi wajar saja selera pasar tidak sesuai dengan film-film bule yang seringnya dibanjiri kejar-kejaran mobil, teroris bersenjata biologi, dan intrik-intrik politik. Sebernarnya film India mirip dengan masa-masa keemasan Hollywood, yaitu tahun 1930-an hingga 1950-an. Pada masa itu dunia barat baru saja pulih dari Perang Dunia. Perekonomian, sarana, dan prasarana hancur lebur sehingga masyarakat harus mulai dari awal kembali. Untuk mengangkat moral masyarakat, dunia perfilman Hollywood membuat film-film yang bersifat menghibur. Genre film musikal merupakan pilihan yang terbaik. Jalan ceritanya begitu mudah dipahami, di tengah-tengah cerita disisipi adegan menyanyi dan menari sehingga film menjadi semakin menghibur. Simak saja film-film yang dibintangi Fred Astaire, Ginger Rogers, Cyd Charisse, atau bahkan artis cilik Shirley Temple. Di pertengahan tahun 1950-an perekonomian barat semakin membaik dan muncullah gerakan-gerakan posmodernisme, feminisme, dan segala sesuatu yang diakhiri –isme lainnya. Film menjadi media untuk menyampaikan ide-ide yang bersifat politis. Film kini tidak mesti bersifat menghibur, bahkan banyak film yang sengaja dibuat untuk membuat para penontonnya tertekan, sedih, atau berpikir keras.

India belum mengalami hal seperti itu. Kebanyakan penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak bersekolah. Mereka tak akan paham akan ide-ide yang dijejerkan oleh Hollywood, singkatnya buat apa menonton film tentang penderitaan di saat kita sendiri mengalami hidup yang menderita? Tentunya ketika menderita kita ingin dialihkan perhatiannya dengan hal-hal yang indah, wajah-wajah yang cantik, serta kisah cinta yang berakhir bahagia. Perlu diperhatikan bahwa India menghasilkan ribuan film per-tahun. Dari mana datang ide-idenya? Dari film-film Hollywood ternyata. Film-film India banyak meniru cerita film-film Hollywood secara blak-blakan, bedanya ceritanya dimudahkan dan ditambahi adegan menyanyi dan menari. Untuk kelas menengah atas Indonesia tentunya banyak yang tak suka dengan plagiarisme, tapi tetap saja diam-diam kita menontonnya. Selain itu merunut teori teman sekelas saya semasa SMA, Gina, daya tarik film India terletak pada komitmennya – alasan saya menggunakan teman SMA saya adalah karena dia bagaikan Wikipedia khusus film India yang mengetahui nyaris seluruh bintang dan judul film India yang diurut secara abjad. Film India berkomitmen penuh kepada luapan emosi yang ditampilkan. Mereka tidak berusaha tampil cerdas dan dalam seperti film-film barat, namun mereka tidak tanggung-tanggung mengumbar emosi mulai dari susah, senang, marah, hingga cinta. Lihat saja jagoan-jagoan pada film India, adegan pertama di kala mereka muncul bisa saja menghabiskan waktu sampai 5 menit. Segalanya disorot mulai dari kibaran rambut, kerlingan mata, senyuman menggoda, perut rata, hingga berjalan dengan gerakan lambat. Terjadi pengumbaran seksual secara terselubung. Budaya perfilman Indonesia dan India tidaklah se-liberal budaya perfilman barat. Aishwarya Rai pernah menjelaskan ketika diwawancara dalam acara Oprah bahwa dalam film India haram dilihatkan adegan berciuman atau bercinta, oleh karena itu adegan-adegan intim diganti adegan menyanyi. Jika diperhatikan pada adegan menyanyi ketika sepasang kekasih bergerak mendekat seolah-olah akan berciuman, si wanita segera tersenyum genit dan melarikan diri, menggoda si pria untuk mengejarnya. Siapa tak suka adegan seperti itu? Pasti sekali-kalinya dalam khayalan kita terbersit keinginan untuk berlari bersama di pantai, diiringi angin sepoi-sepoi, dan berlatar matahari terbenam. Ayo, jangan mangkir! Hal yang sama juga terjadi pada film-film Indonesia klasik, hingga PT Virgo Putra Perkasa muncul dan “menghadiahi” kita dengan berbagai macam film semi-porno.

Dari banyaknya film India yang kita tonton semenjak tahun 1990-an hingga kini, buah cinta yang paling terkenal apalagi kalau bukan sinetron. Layar televisi Indonesia mulai dibanjiri sinetron di awal tahun 1990-an. Pada saat itu stasiun televisi swasta kita barulah Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), dan salah satu acara hits-nya adalah telenovela Meksiko yang berjudul Rosa Salvaje atau Wild Rose. Meledaknya Wild Rose mengakibatkan Multivision Plus mulai memproduksi berbagai serial televisi yang disebut sinema elektronik alias sinetron. Awalnya sinetron hanya berjumlah beberapa episode, namun menyadari betapa banyak keuntungan yang bisa didapat, maka jumlah episode sinteron kian bertambah. Jika diperhatikan memang sebenarnya sinetron lebih kental pengaruh Amerika Latin-nya dibandingkan pengaruh Indianya, akan tetapi sinetron juga mengikuti rumus yang sama dengan film India, yaitu: jagoan harus mengalahkan minimal 4 orang penjahat, karakter ibu haruslah selalu menderita hingga episode terakhir ketika ia dipertemukan kembali dengan putranya, kisah cinta muda-mudi dari dunia yang berbeda, dan para pemeran utama yang luar biasa cantik sehingga terlihat menonjol di antara para pemeran figuran. Wow, luar biasa sekali drama yang dialami dalam kisah sinetron. Uniknya lagi, biarpun cerita sinetron dan film India selalu bersimbah air mata, tetap saja kita rasakan menghibur. Menonton sinetron dan film India tidaklah perlu memutar otak memikirkan makna-makna tersembunyi yang ingin disampaikan si sutradara, film dapat dinikmati sesuai apa adanya.

Moralitas juga merupakan unsur penting di dalam film India, kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan. Semuanya akan selalu berakhir bahagia biarpun cobaan berat menghalangi. Tentunya bagi orang Indonesia yang selalu menjunjung tinggi moralitas berbangsa dan bernegara hal-hal seperti amat diminati. Pengaruh moralitas hitam dan putih terasa kental dalam sinetron-sinetron kita. Kita semua selalu menginginkan akhir yang bahagia setelah segala cobaan hidup seperti kuliah yang tak kunjung selesai, pekerjaan yang berat, bos yang cerewet, kantong yang selalu kosong, harga bensin naik, kecopetan, semuanya berakhir bahagia komplit dengan jodoh ganteng. Singkatnya memang film India mengajarkan kita akan Kabhi Kushi kabhi Gham: Kadang Sedih, Kadang Bahagia. Di balik awan mendung selalu ada pantai indah dengan matahari terbenam dan angin sepoi-sepoinya menanti kita. [ ]

 

4 Agustus 2012

* Mahasiswi Master di National Chung Hsing University―Taiwan

 

Edisi Etnohistori India di Indonesia

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

4 Tanggapan

  • Hello, guest
  • hi!,I really like your writing very much! percentage we keep in touch more about your post on AOL? I need a specialist on this area to resolve my problem. May be that’s you! Having a look ahead to peer you.

  • I think this is among the most vital info for me. And i am glad reading your article. But should remark on few general things, The website style is wonderful, the articles is really nice : D. Good job, cheers|

  • iya, dulu adegan ciuman dan bercinta haram ditayangkan, tetapi sekarang film Bollywood yang baru banyak juga yang menampilkan adegan ciuman. Aishwara Rai sendiri melakukan adegan ciuman yang model barat gt bersama Hritik Roshan di film Doom2, film Jism2 yang tayang 2012 juga menampilkan banyak adegan ranjang yang dilakukan di ranjang maupun tidak di ranjang..hehee. tp aku suka konsistensi film india unik ngasi lagu & tarian. mereka juga rela nyewa penari latar sekompleks lengkap dgn pembekalan koreografi yg wahh bgt. kan gak gampang mengatur orang sebanyak itu.

  • ada juga mbak karakter film yang paling sering kita lihat dan ditunggu-tunggu yakni adegan akhir polisi yang selalu datang belakangan dan terlambat di setiap ada peristiwa happyending…he…he..