Home / Edisional / Fatwa menentang Yoga: Mengurai Konflik melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 1)

Fatwa menentang Yoga: Mengurai Konflik melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 1)

 

oleh: Martin Ramstedt *

 

Artikel untuk Etnohistori ini berfokus pada upaya-upaya untuk mengurangi konflik yang terjadi antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Bali−India Foundation (BIF) berkaitan dengan isu fatwa menentang yoga pada bulan Januari 2009. Tulisan ini mengeksplor latar belakang sejarah konteks lokal dari fatwa untuk melihat konflik yang terjadi.

 

Sejarah Sekulerisasi Yoga

Mengapa orang Islam, atau bahkan Kristen, Yahudi mulai melirik Yoga? Dari pandangan Sarah Strauss dalam judul tulisannya Positioning of Yoga: Balancing Acts Across Cultures, dapat diketahui bahwa yoga telah mentransformasi dirinya dari sebuah aktivitas keagamaan yang pada awalnya hanya berorientasi pada laki-laki menjadi sebuah ritual global dan sekuler yang dipraktikkan oleh perempuan dan laki-laki klas menengah yang hendak mencari kesehatan fisik, keseimbangan psikologis, dan kemerdekaan spiritual. Strauss menceritakan tentang permulaan metamorfosis Swami Vivekananda, yang pada akhir abad 19 adalah orang pertama yang menjelaskan cara latihan yoga sebagai gaya hidup bertapa yang tertanam dalam tradisi Hindu dan Buddha, kemudian dipindahkan ke dalam kehidupan dunia sekuler. Vivekananda mengemas ulang yoga sebagai metode ilmiah untuk mencapai kesehatan dan kebebasan. Ia sangat dipengaruhi ajaran guru India modern yang melakukan universalisasi pesan spiritual yoga. Salah satunya adalah Swami Sivananda pendiri the Divine Life Society, yang mengubah yoga ke produk modern baik untuk para peserta diaspora India maupun orang non India.

Setelah berhasil ditanamkan di Barat dari tahun 1950, yoga secara bertahap menarik beragam pengikut yang mencari jenis spiritualitas alternatif untuk kebugaran dan pengurangan stres. Bersamaan dengan semakin luas diterimanya gaya yoga, mulai beragam bentuk Yoga spiritual atau Yoga Kundalini hingga ke Yoga sekuler seperti Yoga Power. Bentuk campuran yoga yang paling mutakhir dalam tren kesehatan global terlihat dari berbagai bentuk terapi yoga untuk spa dan pusat kebugaran kontemporer di Asia. Kecenderungan ini bahkan telah digunakan oleh masyarakat Muslim. Pada tahun 2006, badan wisata Mesir, T.E.N. Tours menyelenggerakan Festival Yoga Internasional di El Gouna, Laut Merah. Secara resmi dibuka oleh India Duta Besar RI untuk Mesir. Festival ini berlangsung satu minggu dan mendatangkan lebih dari 200 praktisi yoga praktisi dan guru dari seluruh dunia, menawarkan meditasi di pantai, hatha yoga, Tai Chi, dan kelas macrobiotics. Keberhasilan festival ini berturut-turut berulang di festival selanjutnya dengan mengusung ide yang sama, termasuk memunculkan nyanyian mantra “universal” Hindu di puncak pertunjukan oleh musisi rohani internasional. Festival keempat dalam seri yang sama kemudian diselenggarakan pada tahun 2009 di Hotel Marriot di Laut Merah di Yordania.

 

International Yoga Festival in Rishi Kesh (miripiriacademy.org)

International Yoga Festival in Rishi Kesh (miripiriacademy.org

 

Asal-usul festival ini kembali pada tahun 1992, ketika Mesir dan India memulai hubungan program bilateral pertukaran budaya yakni dengan membentuk sebuah Pusat Kebudayaan India (ICC) di Kedutaan Besar India di Kairo. Pusat kebudayaan ini menawarkan kursus bahasa, program seni dan kelas yoga untuk warga Negara Mesir. Dr. Prabhakar Madhikar, seorang guru yoga karismatik dari Hyderabad, dibawa untuk mengajar kelas-kelas yoga. Dengan pendekatan ilmiah ia mampu menarik perhatian dokter lokal, wartawan, akademisi, dan profesional lainnya. Akhirnya, ia membuka praktek rehabilitasi yoga sendiri di Kairo. Madhikar yang sukses mengenalkan yoga pada warga urban klas menengah Mesir didukung oleh produksi serial TV yoga yang disiarkan pada saluran olahraga internasional di seluruh Dunia Arab.

Perkembangan ini, bagaimanapun, membangkitkan kecurigaan dari cendekiawan Muslim Mesir, dan pada tahun 2004, Mufti Besar Mesir, Ali Gomaa, mengeluarkan fatwa terhadap yoga yang dianggap sebagai ajaran Hindu. Fatwa Mufti Agung adalah kebetulan bukan pendapat pertama dari hukum Islam terhadap yoga. Jika kembali pada tahun 1984, Dewan Agama Islam Singapura mengeluarkan fatwa, yang merupakan fatwa pertama dalam melarang umat Islam untuk berlatih yoga yang mengandung unsur-unsur ritual Hindu seperti nyanyian mantra, namun tidak dilarang jika hanya dipraktikkan dengan alasan-alasan kesehatan. Dengan partisipasi para praktisi Hindu dan Lama dalam T.E.N. Tours’ Yoga Festivals, sangatlah jelas bahwa prasayarat ini tidak terpenuhi di Mesir.

Oleh karena itu tidak mengherankan jika festival ini menghadapi gerakan anti yoga dari pihak pemimpin agama Mesir. Empat tahun setelah larangan yoga bagi umat Islam di Mesir, Fatwa Nasional Dewan Malaysia, yang diselenggarakan di Kota Baru 22―24 Oktober 2008, juga secara resmi menyatakan praktek yoga adalah haram dan karenanya dilarang bagi umat Islam. Sementara kelas yoga di seluruh Malaysia umumnya diisi dengan warga keturunan India dan Cina, telah menjadi semakin umum bagi perempuan Muslim yang juga bergabung di dalamnya. Bahkan pria Muslim Malaysia telah mulai mengeksplorasi yoga.

Menurut laporan BBC, beberapa umat Islam mengakui adanya efek menenangkan dari yoga karena yoga bahkan dikombinasikan dengan doa-doa sehari-hari. Dapat dimengerti jika kemudian akan membangkitkan perhatian dari Dewan Fatwa Malaysia. Pada sebuah konferensi pers resmi pada tanggal 22 November 2008, Ketua Dewan Fatwa Malaysia, Datuk Dr. Abdul Shukor Husin menekankan bahwa yoga terdiri dari tiga unsur: gerakan fisik, pemujaan, dan nyanyian. Gerakan fisik dari yoga tidak mungkin dapat disalahkan, karena menyembah dalam bentuk meditasi diarahkan untuk menyatukan diri dengan Tuhan. Sedangkan nyanyian mantra pasti akan “menghancurkan” aqidah masyarakat Melayu, atas dasar keyakinan Islam, oleh karenanya bertentangan dengan syariat. Karena satu hal biasanya akan mengarah ke yang lain, latihan yoga tidak mungkin berhenti pada gerakan fisik belaka. Dengan demikian, Muslim seharusnya tidak terlibat di dalamnya sama sekali.

Fatwa ini menimbulkan kritik yang kuat bahkan dari kalangan umat Islam Malaysia. Misalnya, sarjana Muslim terkenal Malaysia, Farish Ahmad Noor menolak fatwa atas praktik yoga dengan tiga alasan (Noor, 2008): (1) Jutaan orang Eropa telah berlatih yoga tanpa mengubahnya ke agama Hindu; (2) praktik Yoga termasuk sebagai gerakan pemijatan merupakan bentuk kebudayaan asli telah menjadi bagian dari budaya Asia Tenggara selama empat ribu tahun. Baik di Malaysia dan Indonesia Muslim secara teratur masih mempraktekkan titik tekanan pijat pra-Islam-, jadi mengapa meributkan soal yoga; (3) Fatwa ini menutup lagi ruang sipil yang netral dimana masyarakat Malaysia sesungguhnya dapat bertemu dan berinteraksi di luar ikatan kelompok keagamaan, etnis, dan politik.

Fatwa Malaysia memang disahkan pada saat sejumlah besar non-Muslim Malaysia, misalnya Hindu, Budha dan Kristen keturunan India dan Cina, memprotes peningkatan islamisasi yang disponsori pemerintah. Fatwa terhadap yoga di Indonesia yang segera diikuti Malaysia ini dikeluarkan sangat mirip dalam iklim sosial-politik. Tiga hari setelah Dewan Fatwa Malaysia, konferensi pers resmi pada tanggal 25 November 2008, Dewan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan pertemuan tertutup tentang masalah yoga. Ma’ruf Amin, Ketua Departemen Fatwa MUI, menyatakan kepada pers bahwa dalam dua minggu berikutnya, Dewan akan memeriksa beberapa pusat yoga di Jakarta, Bandung, dan Bali, seperti pusat Sai Baba, pusat Hare Krishna pusat, dan Bali-India Foundation (BIF), untuk mengumpulkan pendapat hukum apakah program yoga yang ditawarkan mengandung unsur ritual Hindu atau tidak. Amin mendesak Komunitas Muslim yang berlatih yoga untuk berhenti saat penyelidikan sedang berlangsung.

Dalam konvensi tahunan Ulama Muslim di Padang Panjang, Sumatera Barat, dari 24―26 Januari 2009, MUI akhirnya mengeluarkan fatwa terhadap yoga bersama-sama dengan fatwa lainnya. Tentu saja, fatwa terhadap yoga merupakan topik utama pada Festival Yoga Internasional yang diselenggarakan oleh BIF, yang menjadi salah satu pusat yoga yang diselidiki oleh MUI. Mengambil tempat di Denpasar 3―10 Maret 2009, festival ini menarik sekitar 1.200 peserta. Mayoritas orang Indonesia, yaitu Hindu Bali, Budha Cina, Muslim Jawa dan Muslim Sunda, praktisi yoga, dan guru yang mewakili siswa yoga se―Jawa dan Bali sekitar 5.000 orang. Dr. Acharya Laxmi Narayan, Direktur Yoga Research Institute di Rishikesh dan Kepala Departemen Ilmu Yoga di SJRS College di Rishikesh, India, bersama dengan Apitha asistennya, Master Sains Yoga, Dr. Somvir Yadav, pendiri naturalisasi India dan direktur BIF, menganjurkan bentuk universal dan ilmu dengan orientasi yoga. Sementara sejumlah pemimpin Masyarakat Hindu Bali serta mahasiswa Bali dari sekte India diwakili Ananda Marga. Hadir pula seorang guru yoga, dan juga peneliti etno-musikologi, seorang Muslim Belanda dan tim film belanda yang mendokumentasikan festival adalah para tamu dari luar negeri.

Seperti festival yoga internasional di Mesir, festival BIF memiliki sejumlah kegiatan yang berbeda, seperti kompetisi yoga, pameran rohani lukisan karya Bali, Jawa dan seniman Barat, tari yoga, klas yoga dan ayurveda serta kursus pelatihan guru yoga. Keberhasilan festival ditandai munculnya jaringan yoga nasional pertama dengan basis Asosiasi Yoga Indonesia yang mempunyai 30 pusat yoga di Bali, Jawa, dan Lombok. Namun, fatwa terhadap yoga merupakan perhatian utama terutama bagi Muslim dan para guru yang menghadiri festival yoga ini. Mengingat kekerasan berulang dalam Islam Indonesia, fatwa ini tidak hanya mengancam mereka tetapi juga BIF sebagai lembaga yang mengumpulkan umat Islam untuk latihan yoga.

Untuk menyangkal tuduhan semacam itu, Somvir mengundang Dr. H. Salman Harun, Profesor Tarbiyah Universitas Islam Negeri Jakarta, untuk memberikan pidato utama dan seminar tentang hubungan antara Islam dan yoga yang dijadwalkan pada hari ketiga festival. Somvir juga mengundang Dr. H. Utang Ranuwijaya, Kepala Departemen Penelitian MUI memimpin pembahasan mengenai yoga, di seminar pada hari ketujuh festival. Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketegangan yang ada antara BIF dan MUI. Saat saya menjadi moderator hari kedua seminar ini, dan berdiskusi dengan Harun dan Ranuwijaya, saya berada di sebuah posisi istimewa untuk mengikuti penalaran dan penyelesaian akhir sengketa dari sudut pandang yang berbeda.

Selanjutnya..

 

* Antropolog pemerhati Komunitas Agama Hindu & Budha di Asia Tenggara. Senior Research Fellow pada Max Planck Institute for Social Anthropology in Halle/Saale, Germany.

 

26 Mei 2012

 

Edisi Etnohistori India di Indonesia

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

Tanggapan

  • Hello, guest