Home / Edisional / Fatwa Menentang Yoga: Mengurai Konflik Melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 2)

Fatwa Menentang Yoga: Mengurai Konflik Melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 2)

 

oleh: Martin Ramstedt *

 

BIF dan Praktik Yoga di Indonesia

[Lanjutan bagian 1] Somvir, pendiri Bali−India Foundation (BIF), pertama kali datang ke Indonesia pada awal tahun 1990-an, dan menggambarkan bahwa Negara ini sebagai warisan dari India kuno. Somvir melakukan studi tentang tradisi narasi epik Ramayana India. Setelah mendapatkan gelar doktoralnya dari Universitas New Delhi, ia diminta mengajar Sanskrit, Hindi, dan Studi Hindu di Universitas Udayana, Denpasar. Sebagai seorang komunikator ulung, ia mampu menjalin faksi-faksi Hindu kontemporer dengan para intelektual Muslim dan juga para cendekiawan Budha dan Hindu. Karena kemampuannya itu ia dipercaya menjadi ketua pertama Indian Cultural Centre (ICC) Bali, yang dibuka pada tahun 2004. Seperti pusat kebudayaan India lainnya, ICC merepresentasi kebudayaan India seluruh dunia, dengan cara menawarkan kursus musik dan tarian India, kelas yoga dan pertunjukkan seni dan kebudayaan lainnya.

Setelah beberapa tahun, Somvir pensiun dari ICC demi menjaga mencapai keinginannya untuk mendirikan kelas yoga ashram dimana orang Indonesia dapat belajar yoga ayurwedic sebagai terapi kesehatan, dan keuntungan yang lainnya, seperti ketenangan hidup. Berasal dari keluarga petani di perdesaan Hariyana, Somvir memasuki salah satu asrama Arya Samaj (gurukul). Sebagai seorang anak muda, dimana ia mendapatkan sebuah pelajaran dasar yang baik tentang gaya hidup yoga. Ia berhasil melewati masa studinya dengan hasil luar biasa dan kemudian memasuki sebuah universitas terkenal Gurukul Kangri University yang didirikan pada tahun 1902 oleh Swami Shraddhananda, seorang anggota Arya Samaj, di kota ziarah, Haridwar.

Setelah mendapatkan pendidikan master, Somvir pindah ke Universitas Delhi tempat ia memulai gaya hidup yang lebih akademik dan berorientasi pada kegiatan yang tak begitu relijius. Namun demikian, ia masih menjalin hubungan dengan dengan Swami Agnivesh yang dianggap sebagai pemimpin berpengaruh dari Arya Samaj pada saat ini. Agnivesh mempunyai reputasi internasional karena ia menentang pekerja yang terikat, buruh di bawah usia, aborsi dan alkoholisme, yang kemudian membuatnya ia mendapatkan jabatan di  UN Voluntary Trust Fund on Contemporary Forms of Slavery. Ketika saya mengunjungi  Agnivesh bersama dengan Somvir pada tahun 2000, ia juga terlibat dalam kegiatan hubungan antar agama yang diinspirasi oleh  Hans Küng. Terinspirasi oleh keterlibatan Agnivesh dalam kegiatan sosial, Somvir menempatkan perhatian utamanya pada anak muda Bali dan India yang dipengaruhi oleh modernitas. Ia menggunakan BIF untuk mengingatkan masyarakat akan warisan spiritual dan menawarkan kehidupan yang sehat dengan biaya rendah.

Sebagaimana yang dapat dilihat dalam website BIF, disamping yoga, BIF juga mempromosikan seni dan kebudayaan masyarakat Bali dan India sebagai cara untuk menanamkan pertukaran harmonis dan perdamaian di antara batas-batas klas, kasta, nasionalitas dan agama. Seperti guru yoga lainnya yang mendapatkan model guru spiritualnya setelah magang di Divine Life Society, yang markasnya terletak di Rishikesh, sebuah kota kecil 24 kilometer dari Haridwar, Somvir juga menghadirkan yoga bersamaan dengan eksposisi Swami Vivekananda. Ia kemudian menggunakan konsep derelijiusisasi, dengan menggunakan retorika spiritual yang digabungkan dengan metafora-metafora saintifik untuk mempromosikan yoga sebagai sebuah praktik rasional dan universal demi mencapai kesehatan, keseimbangan dan  hidup yang penuh dengan kedamaian.

Seperti para promoter yoga yang sukses memperkenalkan aktivitas ini sebagai terapi tubuh dan jiwa, Somvir dengan penuh keahlian juga menggunakan media massa lokal. Untuk beberapa tahun, ia telah menjalankan program yoga di televisi Bali setiap hari minggu pagi. Lebih-lebih, ia mempublikasikan sebuah majalah dua bulanan, yang tersedia di berbagai toko buku di Indonesia. Ia selanjutnya melakukan kerjasama dengan para penari dan aktor Indonesia. Karena popularitasnya, ia sering diundang untuk mengajar kelas yoga di berbagai tempat seperti di Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan.

Terlepas dari kelas yoga yang ia tawarkan, apakah kurang bersifat relijius atau bahkan keluar dari aturan keagamaan, seperti BIF atau Gandhi Ashram yang berkembang di Bali dan Jawa semakin berkembang, dan banyak resort wisatawan dan pusat fitnes juga menawarkan kelas yoga kepada klien-klien mereka yang kosmpolitan. Gaya yoga yang ditawarkan juga berdasarkan guru-guru yang dipekerjakan, yang bisa jadi merupakan orang Barat atau masyarakat lokal dengan keahlian berbahasa Inggris yang luar biasa. Namun demikian, klas secara sepenuhnya bersifat sekular dalam artian tidak ada jebakan keagamaan yang diperkenalkan kepada klien. Kebanyakan guru belajar memperkenalkan latihan bernafas dan meditas di kelas mereka. Sedangkan materi berbeda datang dalam Bali Spirit Festival yang mengkombinasikan workshop yoga, tarian dan musik. Acara ini diadakan oleh seorang ekspatriat tinggal di Ubud, Bali sejak tahun 2008.

 

 

Mitigasi Konflik

Fatwa menentang yoga efeknya menghasilkan kesatuan dari berbagai faksi Hindu di Bali, baik para tradisionalis, yang terepresentasikan dalam kelompok-kelompok yoga pendeta Brahmin, seperti  pendeta Ida Padanda Made Gunung dari Kemenuh, dan kaum modernis yang direpresentasikan misalnya oleh kasta rendah di Ubud, seperti seorang guru yoga Ketut Suambara, yang mengikuti festival dengan para pengikutnya yang jumlahnya tak sedikit. Dengan mencatat seperti apa yang dikatakan oleh Farish Ahmad Noor sebelumnya, Harun Salman, dosen Tarbiyah dan seorang profesor dari Universitas Islam Negeri Jakarta mengatakan bahwa yoga mempunyai kekuatan untuk menghasilkan keuntungan trans-kultural dan trans–relijius. Harun kemudian menolak anggapan adanya kontradiksi antara Islam dan yoga, jika dibandingkan dengan gerakan fisik dalam shalat dan gerakan doa Islam lainnya. Ia bahkan pada postur shalat sebagai sebuah gerakan sederhanya yoga. Harun membandingkan dengan Dhyana, atau meditasi dengan tafakur atau kontemplasi atau zikir (mengingat Tuhan) dalam sufisme. Dalam seminarnya tentang hubungan Islam dan Yoga yang diikuti oleh 30 guru yoga, kebanyakan dari mereka adalah berlatar belakang muslim. Pada umumnya mereka menanyakan detil lebih lanjut tentang hubungan antara sufisme dan yoga. Salah satu partisipan menambahkan bahwa sebuah hadis bahkan menyebutkan kualitas obat-obatan dari tetumbuhan dan madu. Dengan demikian, Islam dapat dibandingkan dengan model pengobatan ayurvedic.

Seminar ini berakhir dengan penekanan kontemplatif kesamaan antar tradisi dibanding perbedaannya, sesuai dengan keberadaan masyarakat Indonesia yang multikultural dan multi agama. Setelah itu, diskusi roundtable dengan Dr. H. Hutang Ranuwijaya, Badan riset Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengungkapkan hasil riset komisi MUI, membagi kursus yoga ke dalam tiga klasifikasi. Pertama, kursus yang benar-benar memasukkan ajaran ritual Hindu di dalamnya. Kedua, kursus yoga yang melibatkan meditasi, nyanyian mantra dan penegasan nilai-nilai spiritual universal. Ketiga, kursus yang menghadirkan yoga sebagai semacam kegiatan gymnastic semata yang bermaksud menghasilkan kesehatan fisik. Sedangkan kategori pertama dilarang oleh Muslim, dan kategori kedua diijinkan, selama laki-laki dan perempuan dipisah kelasnya dan perempuan patut mengenakan pakaian yang sopan. Jikapun pemisahan kelas tidak memungkinkan, maka laki-laki harus berada di baris depan dan perempuan di baris belakang. Tujuan dari bayak praktik yoga adalah untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan dalam meditasi, demikian ungkap Ranuwijaya. Jika meditasi yoga yang sekuler, maka kaum Muslim harus melakukan zikir sebagai penggantinya. Ranuwijaya kemudian mengumumkan bahwa praktik penghormatan terhadap matahari dan bunga lotus adalah tindakan yang tidak sesuai dengan umat Muslim.

Di akhir pembahasan, ia menyimpulkan dengan menasehati para penasehat Muslim, beberapa di antaranya mengenakan jilbab dan olahraga untuk memilih yoga yang pada kategori ketiga. Mengingat fakta bahwa kelas-kelas yoga di BIF biasanya memasukkan meditasi singkat yang berakhir dengan nyanyian yang bersifat mantra, yang jelas-jelas ini dianggap oleh MUI tidak sesuai dengan Islam. Namun demikian, Somvir, mencoba untuk menengahi perselisihan dengan MUI, dengan secara terbuka menerima prasayarat Ranuwijaya yang berkaitan dengan bentuk yoga diijinkan bagi umat Islam, dengan menyatakan bahwa untuk selanjutnya tidak akan ada pelantunan mantra, dan bahwa peserta muslim akan disarankan oleh semua guru yang baru didirikan Asosiasi Yoga Indonesia untuk berlatih zikir selama periode meditasi. Zomvir lebih jauh menyarankan bahwa BIF dan MUI harus menjaga komunikasi tentang masalah ini. [ ]

 

* Antropolog pemerhati Komunitas Agama Hindu & Budha di Asia Tenggara. Senior Research Fellow pada Max Planck Institute for Social Anthropology in Halle/Saale, Germany.

** Sumber foto

20 Juli 2012

 

Edisi Etnohistori India di Indonesia

 

 

 


Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

Tanggapan

  • Hello, guest