Home / Edisional / Mencari Jejak Koh I Noor

Mencari Jejak Koh I Noor

 

oleh: Anna Mariana *

 

“.. eksis karena tradisi. Nilai-nilai yang diberikan oleh orangtua itulah yang membuat kita eksis. Usaha sih usaha biasa.”

(Wawancara dengan Ashok Dhanani, 17 Desember 2011)

 

SUATU hari yang terik pertengahan bulan Desember 2011, tak menyurutkan langkah para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta hilir mudik di sepanjang Malioboro. Ya, Malioboro seolah telah menjadi “jantung” pariwisata Yogyakarta yang wajib dikunjungi. Beragam toko yang berderet di jalan ini menjadi saksi bagaimana Malioboro tumbuh dan dikunjungi oleh para wisatawan dari masa ke masa. Salah satunya adalah toko Koh I Noor yang terletak di ujung timur Jalan Malioboro yang usianya hampir 100 tahun. Bagi anda yang saat ini berkunjung, tentunya tidak dapat membayangkan bagaimana suasana Malioboro tahun 1920 pada saat seorang Chimandas Dhanani mendirikan sebuah toko tekstil di Yogyakarta.

Chimandas adalah seorang  warga Sindh, India, menjadi pionir bagi komunitas India di Yogyakarta pada hari ini. Lelaki ini telah mengembara dari sejak usia belia. Ia lalu mengadu nasib ke Javadwipa, yaitu Jawa, yang sudah tidak asing lagi dikenal sebagai, konon, negeri yang subur, negeri yang makmur. Chimandas yang awalnya ingin mengimpor rempah-rempah ternyata membalikkan arahnya usaha membuka toko kain, karena ternyata Yogyakarta bukanlah pusat dari rempah-rempah sebagaimana yang ia maksud. Namun, ia pun tak patah arang, ia  mempunyai insting lain, yang berakar pada akar dan ‘bakat bawaan’ etnisitasnya, yakni sebagai pedagang—tekstil khususnya.

Toko ini kemudian ia namakan Kohinoor, dalam bahasa Persia yang memiliki arti ‘gunung bercahaya’, atau Gunung Permata. Nama ini diambil seperti nama batu permata yang diperebutkan oleh para Shah dan Raja, dan terakhir ini dibawa oleh kolonial Inggris dan menjadi koleksi perhiasan Kerajaan Britania Raya sejak zaman Ratu Victoria. Toko yang ia bangun lalu semakin berkembang pada tahun 1930-an. Rumah tokonya kemudian tingkatkan, dan ia pun mulai menarik sanak-saudara “kampung-nya” untuk ikut berusaha di toko ini. Nampak rumah toko yang dibangun tahun 1930-an itu masih berdiri hingga saat ini.

Sampai menjelang akhir hayatnya, pada tahun 1942, Chimandas mengelola toko Kohinoor secara langsung dan dibantu pula oleh istrinya Gianibai, namun mereka tidak memiliki keturunan. Selain dibantu istrinya, Chimandas pun dibantu oleh beberapa kerabatnya dari India, salah satunya Kirpalani. Kirpalani kemudian menikah dengan Takuri, adik Gianibai, istri Chimandas. Dalam keluarga India kebersamaan dan ikatan kekeluargaan begitu erat, dan tinggal bersama dalam keluarga besar. Setelah kematian Chimandas, pengelola toko kemudian diambil alih oleh Kirpalani. Perkawinan Kirpalani dan Takuri memiliki keturunan delapan orang anak.

 

Chimandas Dhanani & Istri, pendiri toko Koh I Noor (dokumentasi: Anna Mariana)

 Chimandas Dhanani & Istri; pendiri toko Koh I Noor (dokumentasi: Anna Mariana)

 

Pada masa Perang Dunia itu, selain kematian Chimandas sang pionir, situasi politik yang rentan mengalami kekerasan karena di bawah kekuasaan fasisme Jepang, toko Koh I Noor sempat mengalami krisis. Perampokan besar-besaran yang dilakukan oleh tentara Jepang di toko itu, membuat keuangan keluarga ini oleng. Semua kain yang terlihat dipajang di toko untuk dijual langsung saja akan dirampas untuk dibawa ke markas tentara. Para tentara itu memerlukan kain sebagai kebutuhan sandang prajurit, yang sangat sulit pada masa perang itu. Akhirnya, toko mengalami kevakuman, dalam arti tidak dibuka sebagai toko penyedia tekstil. Bahkan, ibu Chimandas, harus berpura-pura menjual permen di depan toko mereka untuk mengelabui para tentara Jepang, bahwa mereka tidak menjual kain. Pada masa ini, Koh I Noor tidak berjualan kain secara terang-terangan—bila tidak dikatakan vakum sama sekali—untuk menghindari kerugian lebih lanjut.

Pasca Perang Dunia, kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah para kolonialis mulai terwujud. Indonesia adalah salah satu negara yang memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945. Disusul kemudian Malaysia, India, dan Pakistan pada tahun 1940-an. Kemerdekaan India dibarengi pula dengan pemisahan negeri itu menjadi dua oleh kolonial Inggris, yakni India dan Pakistan. Keluarga Chimandas dan juga Kirpalani, turut pula menyaksikan perubahan besar yang terjadi di negeri ini maupun di negeri asal mereka. Akibat pemisahan itu, terjadi gelombang imigrasi terbesar India pertama di abad ke-20 ke berbagai negara, seperti ke Malaysia, Vietnam, Singapura, termasuk pula ke Indonesia. Hal ini kemudian mendorong Kirpalani untuk “membawa” keluarga di sana. Dalam ingatan Ashok, keturunan ke-3 dalam keluarga ini, pernah ada sekitar 40 orang tinggal dalam rumah toko Koh I Noor ini.

 

Materi iklan Koh I Noor tahun 1950 di Kedaulatan Rakyat, yang dijadikan display pameran sejarah komunitas India di Yogyakarta (dokumentasi: Anna Mariana)

Materi iklan Koh I Noor tahun 1950 di Kedaulatan Rakyat, yang dijadikan display pameran sejarah komunitas India di Yogyakarta (dokumentasi: Anna Mariana)

 

Memasuki tahun 1950-an, kondisi ekonomi toko Koh I Noor mulai stabil kembali, sesuai dengan situasi politik Indonesia yang mulai stabil pasca perang fisik atas agresi militer Belanda tahun 1949. Pada tahun-tahun ini, Koh I Noor semakin terkenal, terlihat dari jejak toko ini dalam ber-iklan di surat kabar. Pada era 19501960-an pengusaha tekstil di Malioboro baru bisa dihitung dengan jari, sehingga pendapatan toko ini begitu besar. Kepemilikan mobil keluarga tahun 1956, menunjukkan tingkat kemakmuran toko ini. Ingatan warga Yogyakarta turut mengukuhkan: jika ingin membeli kain, ya ke toko Koh I Noor, di Malioboro.  

Toko Koh I Noor dirawat dan dikelola secara baik oleh keluarga Kirpalani, beserta Ibu Gianibai. Meski perkawinan Chimandas dan Gianibai tidak menghasilkan keturunan, kasih sayang Ibu Chimandas, biasa mereka memanggil, sangat besar, termasuk kemudian salah satu anak Kirpalani diangkat menjadi anak. Nama anak lelaki yang mereka angkat adalah Ashok, ia pula yang kelak mewarisi Kohinoor di masa kini. Anak-anak Kirpalani lainnya pun turut mendapatkan “ajaran” berbisnis toko kain ini, sampai Kirpalani meninggal pada tahun 1998.

Sepeninggal Kirpalani, toko mengalami kevakuman pengelolaan dari tahun 19982002, karena Ashok, sebagai pewaris, memilih tinggal di Jakarta karena memulai bisnis yang lain, serta menemani anaknya bersekolah di sana. Kevakuman ini, tidak berarti membuat toko ini berhenti. Toko ini kemudian berganti-ganti penyewa, namun tidak menggunakan nama Koh I Noor. Mulai tahun 20022011, toko kemudian dikelola oleh sanak famili pewaris Koh I Noor dan berganti menjadi nama Warna-Warni Tekstil, namun menjual pakaian jadi. Hal ini dilakukan sebagai strategi penyewa toko, karena di Malioboro yang berdatangan adalah wisatawan yang mencari pakaian jadi, seperti batik, dan baju-baju souvenir khas Yogyakarta lainnya dan bukan mencari tekstil. Adapun kunjungan pembeli yang memerlukan kain, telah memiliki “pusat kain” yang lain, yaitu jalan Solo, yang ramai mulai tahun 1990-an awal, saat dimana keturunan anak-anak Kirpalani membuka toko-toko usaha tekstil di sana. Selain Ashok, tiga saudara kandungnya meneruskan upaya Kirpalani mengembangkan tekstil dengan membuka tokonya masing-masing, dan saat ini telah mulai dikelola pula oleh anak-anak mereka, atau cucu-cucu Kirpalani.

Riwayat Koh I Noor tidak semata riwayat mengenai dirinya belaka, namun juga berbincang mengenai akar sebuah tradisi komunitas India di Yogyakarta. Dalam perjalanan pencarian identitas dan tradisi itulah toko Koh I Noor senantiasa menjadi “payung” komunitas India. [ ]

 

Plang Toko Koh I Noor yang sempat “dibuka” pada akhir Desember 2011 (dokumentasi: Anna Mariana)

Plang Toko Koh I Noor yang sempat “dibuka” pada akhir Desember 2011 (dokumentasi: Anna Mariana)

 

 

(Narasi ini menjadi salah satu bagian dari display “Riwayat Koh I Noor“ pada “Des Indes Orientales: Pameran Sejarah Komunitas India di Yogyakarta“ di galeri Indonesia Contemporary Art Network (iCAN), 310 Januari 2012, ©Anna M.)

 

 

9 September 2012

 

* Editor ETNOHISTORI

 

Edisi Etnohistori India di Indonesia

 

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

2 Tanggapan

  • Hello, guest
  • Howdy just wanted to give you a brief heads up and let you know a few of the images aren’t loading properly. I’m not sure why but I think its a linking issue. I’ve tried it in two different internet browsers and both show the same results.|