ETNOHISTORI

Perjalanan Panjang Mengenal Hindu di Yogyakarta

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Long Journey to Understand Hinduism in Yogyakarta

 

Text by: Jean Pascal Elbaz, Abmi Handayani and Astrid Reza.

 

So the story starts like this…

It’s a beautiful sunny day in the Himalayas and the air is fresh and crisp. The scene is on the shore of the vast Manasarovar lake, at a close distance from the majestic peak of the Kailash Mountain, the favorite meditation spot of the Lord Shiva. But today Lord Shiva is not meditating; he is awake and nicely smiling.

It is a family scene. Because Hindu Gods have families like we have, common humans. But of course it is not a totally normal family, since it is Shiva, God of renunciation, of creation and destruction. His wife, Parvati or Devi, is sitting on his lap, close to his heart and their two children are next to them.

A real family shot!

But of course two kids are a bit particular, Ganesh the God who can remove obstacles have an elephant head and his favorite vehicle is a rat, while the other one looks like a 6 years old boy but have strength enough to fight any demon. He rides a peacock and his name is Kartikeyan…

So now the picture of the family is complete and the story can start…

One day a sage called Narad, a great trouble maker by the way, is walking alone by the lake. He sees the sweet family from far away and come to them to pay a visit and get their blessings. He comes with a present to offer of course and it is a single, juicy, fragrant and beautiful Indian mango (and I can swear to you that Indian mangos are the best in the world!). The two children are looking at the superb fruit with envy and mouth watering… And the sage Narad says to Shiva: “I have a mango for your better son”.

“How can I decide which one is better?” ask wisely Shiva to his wife Parvati.

“Let them go for a race, said Parvati, the first to go around the world three times shall get the mango”

“Let it be so”, said Shiva.

And so the race starts, Kartikeyan immediately ride his peacock and fly high to the sky, determined to be the first to win the race and eat the mango. Ganesha, however, did not move. He continued to sit quietly beside his parents, playing with his rat. Kartikeya went around the world once… then twice… wondering what Ganesha was doing. But Ganesha was still not moving at all.

As Kartikeya was about to complete his third and final round, Ganesha got up, and quickly ran around his parents three times and declared, “I have won!”

“What do you mean, you won?”, asked Kartikeya. “It was me who went around the world three times. You just went around our parents…”

“That’s not true. You went around the world. I went around my world. Tell me, which world matters more?”

The world is objective; my world is purely subjective. The world is rational and scientific; my world is intuitive and emotional. The world is global; my world is local. Both are truths but, as Ganesha asks, what matters more?

Every culture views the world through different lenses. For some, the divine is one and formless; for others, the divine has many forms. Who is right? For some, there is only one life and no rebirth; for others, this is just one of many lives. Who is right? Answers to these questions are never universal. They are cultural. They involve beliefs. From beliefs comes behavior that can make us either less tolerant or more accommodating. That is why my world does matter.

Myth is a concept made in my world and mythology is a set of stories like this one but also symbols and rituals that helps to communicate a myth. Stories, symbols and rituals may seem absurd to the outsider, but will make perfect sense to the believer. Each image of Hindu pantheon makes sense to Hindus, both in form and in content. They do not attempt to make sense to those who are not Hindus. They speak a language that is indifferent to rationality. And so Shiva’s son has an elephant head and ride a rat… Subjects like these must be approached with empathy and a genuine spirit of curiosity, realizing that these stories and different images of Gods are windows to a culture’s soul.

But empathy has become rare nowadays. Everything is judged, or “liked”. Everything is measured. All thoughts are expected to be proved through facts and evidence and mathematics and science. But many things in life cannot be explained with logic, especially when one talks about death and God. What happens after death? Who knows? Different cultures have different answers. Each is subjective truth. Each is a myth, a story, a belief.

During the exploration of the Indian community in Yogyakarta we have been visiting different places, sometime foreigner to most of the participants. Lord Shiva, the sweet couple of Krishna and Radha, the majestic Vishnu, the funny Ganesha but also well loved gurus as Sai Baba (the first and the second) have appeared to us in many places with different forms. In our local world, Yogyakarta, we have discovered another world, India. And when it comes to beliefs, as it is the theme of the Biennale Jogja XI, we have discovered the soul of a different culture. The presentation at iCAN will be an approach both artistic and didactic to the fascinating world of Indian beliefs. Open your eyes and open your ears, let yourself flow into images and stories of the spiritual world of Hindus…

 

Text inspired by: 7 Secrets from Hindu Calendar Art, Devdutt Pattanaik, Westland India, 2009.

 

 ****

 

Agama Hindu merupakan agama tertua di dunia dan rentang sejarahnya yang panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham ketuhanan yang pernah ada di dunia.[1]

 

Perjalanan adalah takdir yang membawa kami menapaki tanah Jawa. Menemui simpul-simpul dari kisah-kisah ribuan tahun yang kian menua bersama lumut. Sementara kehidupan berlalu lalang, dalam kebisuan mereka menanti kisah-kisah kembali diceritakan pada dunia oleh para pengembara. Menemukan Hindu seperti menemukan kembali jejak diri. Menemukan Hindu seperti menelusuri kembali nilai-nilai luhur yang diyakini oleh para leluhur kami. Kami adalah orang-orang yang dibesarkan di Jawadwipa. Dalam teks-teks kami mengenal agama Hindu yang dibawa dari Jambudwipa (India). Dalam candi-candi yang tersisa tersebar di Jawa, kami menemukan sosoknya dalam berbagai pahatan dan patung-patung yang hilang kepala. Kemanakah para dewa pergi dari tanah kami? Kami masih meraba-raba sisa peradaban yang ditinggalkan. Kami masih menyusun peta kota-kota tua yang hilang ditelan abu gunung yang meletus di tanah kami, ratusan dan ribuan tahun yang lalu. Kami membuka lontar-lontar, mencoba membaca huruf-huruf Sansekerta dan kami masih serba meraba-raba.

Kami tidak mengerti harus mulai dari mana. Candi-candi tidak menunjukkan arah kemana kami harus berjalan. Namun kami tetap harus melangkahkan kaki, menuliskan kembali perjalanan-perjalanan kami hingga kami tumbuh untuk lebih mengerti apa yang disebut Hindu atau “Sanatama Dharma” atau “Kebenaran Abadi”. Ini adalah awal dari banyak perjalanan.

Pura Jagatnatha, 2007.

 

Trisandhya

Om suddha mam svaha.

Om ati suddha mam svaha.

Om bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat

Om Narayana evedwam sarvam
yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano
nirvikalpo nirakhyatah
suddho deva eko
narayana na dvitiyo
asti kascit

Om tvam siwah tvam mahadevah
Iswarah paramesvarah
brahma visnusca rudrasca
purusah parikirtitah

Om papo’ham papakarmaham
papatma papasambhavah
trahi mam pundarikaksa
sabahyabhyantarah sucih

Om ksamasva mam mahadeva
sarvaprani hitankara
mam moca sarva papebhyah
palayasva sada siva

Om ksantavyah kayiko dosah
ksantavyo. vaciko mama
ksantavyo manaso dosah
tat pramadat ksamasva mam

Om Shanti, Shanti, Shanti Om.

- – -

Om adalah alam fisik, alam tengah, surgaloka
Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Sanghyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita

Om Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua

Om Engkau dipanggil Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra, dan Purusa

Om hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sanghyang Widhi, sucikanlan jiwa dan raga hamba

Om ampunilah hamba Sanghyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang Widhi

Om ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.

Om. damai. damai, damai, Om.

 

Dalam gelap purnama, mantra Tri Sandhya dilantunkan. Wangi bunga. Wangi dupa. Sosok pelinggih yang tinggi, tegap dan gelap. Betapa besarnya semesta dalam satu malam. Betapa bersihnya langit dan gemintang yang terserak. Betapa bersihnya hati. Betapa besarnya jiwa. Betapa panjangnya perjalanan ruh.

Mereka menyebut dirinya penganut agama Hindu Dharma atau agama Tirta (Air Suci). Setelah melantunkan mantra, mereka mempersembahkan bunga dan memanjatkan doa. Tiga kali. Kepada leluhur, dewa-dewa dan semesta. Terkadang mereka bermeditasi di bawah siraman sinar bulan purnama. Baru mengambil air suci di altar pura, membasuh kepala, diri dan meminumnya. Menghias titik di ujung kepala, di antara mata dan titik tepat di bawah leher dengan sejumput beras serta memakannya sedikit. Sebagian berpakaian khas adat Bali dan sebagian berpakaian khas Jawa.

Malam purnama yang pertama di pura. Brahman. Atman. Karmapala. Purnabhawa. Moksa. Lima tahapan kepercayaan. Tuhan. Jiwa/ruh. Sebab-akibat. Reinkarnasi. Moksa. Lima pemahaman. Tujuan akhir adalah kebahagiaan sejati, terlepas dari ikatan dunia dan lingkaran reinkarnasi.

Kain ikat kuning pinjaman dari pura masih tersampir di pinggang kami. Udara seolah berhenti. Bertiga kami bergantian mengucap syukur di hadapan pelinggih pada semesta, pada pencipta, pada perjalanan. Tak lama kemudian kami beranjak, kelak di kemudian hari, Jagatnatha menjadi salah satu simpul dalam perjalanan menemui diri. Sebagaimana Jagatnatha pernah membisikkan pesan; menata jagat, tatalah jagat kecilmu−dirimu. Bulan melambat di antara awan kehitaman. Sang pemangku melantunkan mantra menutup malam, samar, lirih.

 

Gayatri

Om bhur bhuvah svaha

Tat savitur varenyam

Bhargo devastya dhimahi

Dhi yo yo nah pracodayat

 

Dalam sunyi Gayatri menggema. Mengalirkan kedamaian dalam kekalutan. Saat hidup terasa jemu, Gayatri yang dilagukan oleh Ravi Shankar seringkali menjadi teman dan kepada Tuhan yang menciptakan tiga dunia, seringkali kami berbisik; dari-Mu bersumber segala cahaya. Wahai asal segala kehidupan, pancarkanlah cahaya-Mu pada akal budi dan nuraniku. Karena keesokan harinya, kami mesti melanjutkan perjalanan yang rupa-rupanya membawa kami mengunjungi candi-candi yang tersebar di sekujur tanah Jawa dan membuat kami seringkali berenung lama-lama di sana. Memikirkan alam yang mengitari dan masa lalu yang tertera dalam setiap milimeter bangunan candi, juga sosok-sosok yang terpahat.

Episode perjalanan ini membawa kami sampai ke pucuk gunung untuk menyaksikan komplek Candi Arjuna di Dieng atau mengagumi lanskap Gunung Perahu dari Candi Dwarawati—yang mungkin dulu, sempat didiami oleh Kresna. Di plato ini, Hindu meninggalkan pengetahuan yang tetap menjadi rahasia. Seolah-olah zaman yang berkembang di area ini menolak kenyataan bahwa dulu, entah berapa ribu tahun yang lalu, pernah ada kehidupan di tanah mereka. Kehidupan yang menjadi cikal bakal kekinian yang mereka hadapi dan bukannya tak mungkin, cikal bakal generasi.

Saat perjalanan berlanjut ke timur mendekati Parakan, tidak sengaja kami melihat plang kecil yang menunjuk ke arah Candi Pringapus. Kami menyusuri jalan kecil yang masuk ke perkampungan penduduk, sampai akhirnya tiba di candi yang terletak di tengah-tengah ladang dan pemukiman. Pringapus, kata penduduk setempat, tidak sendirian. Masih ada satu candi lagi yang sayangnya telah hancur, yaitu Candi Talangair. Terus sampai ke timur, menyeberangi sungai-sungai besar yang melintasi Jawa Tengah dan Yogyakarta, semakin banyak candi yang kami temui. Prambanan dan Ratu Boko hanya dua di antaranya. Masih ada Goa Seplawan, Candi Abang, Candi Ijo, Candi Sambisari, Candi Kedulan, Arca Gupolo, Candi Menggung, dan sebuah arca Durga yang telah bersatu dengan pohon tak jauh dari jalan raya Tawangmangu. Kesemua yang disebutkan ini barulan candi-candi yang ditemukan di Yogyakarta dan Jawa Tengah, belum lagi menghitung tinggalan-tinggalan Hindu yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Timur. Dalam episode ini, kami menjumpai dan mengenal Agastya, Durga, dan Saraswati.

Dua di antaranya dikenal sebagai aspek Siwa yang pemujaannya sempat marak di Pulau Jawa pada periode Jawa Kuno, mulai dari Mataram Hindu yang membujur dari barat ke timur pulau Jawa sampai era Singasari kemudian Majapahit. Memang sempat ada persinggungan dengan Buddha dan Hindu aliran Wisnu yang diwakili oleh Airlangga, namum aspek-aspek Siwa tetap menjadi bagian terbanyak dalam penemuan kami sepanjang perjalanan.

 

Agastya

Siwa Mahaguru, kami menemukanmu dimana-mana. Di sebuah hutan, di dalam candi-candi, di jejeran relief pada tanah-tanah yang baru tergali. Entah berapa tahun sosokmu telah lama terdiam, tersimpan di sana. Oh, Sang Hyang Batara Guru, sebagaimana kami menyebutmu di Jawadwipa. Dikabarkan adalah dirimu dalam sosok Resi Agastya yang datang dari Jambudwipa dan membawa ajaran Hindu ke wilayah Nusantara. Para leluhur kami memujamu, mendirikan candi-candi besar sejak 682 Saka untukmu. Dirimu adalah perwujudan dari Siwa Mahaguru, simbol kebijaksanaan sejati. Kau yang mengendarai Lembu Nandini. Kau, sang penyuci air.

Durga

Kau adalah simbol kemenangan, dewi pendamping Siwa. Sang Sakti. Dewi utama. Kau dikenal dalam banyak nama, seringkali disebut Uma atau Parwati. Ibu dari segala dewi. Ibu dari Dewa Ganesha dan Dewa Kumara. Bertangan banyak dalam posisi mudra dan memegang banyak senjata. Kau mengendarai harimau saat kau mengalahkan Mahisasura. Dewa-dewa menghadiahimu senjata-senjata mereka dan menghormatimu sebagai Durgamahisasuramardhini, ia yang telah memenangkan perang kebaikan terhadap kejahatan. Candi Hindu terbesar, Prambanan, dibangun pada 850 M untuk dihaturkan kepadamu.

Saraswati

Kau adalah dewi pengetahuan, kesenian, kebijaksanaan dan inspirasi. Dengan menguasai ilmu pengetahuan dan seni adalah jalan menuju moksa. Istri dari Dewa Brahma. Kau adalah yang mengalir. Kau adalah Dewi Sungai. Sungai-sungai suci dimana para penganut Hindu membasuh dirinya. Gangga, Yamuna, Susoma. Kau yang mengendarai angsa. Membawa lontar, tasbih, kecapi dan kendang kecil. Berpakaian serba putih dan berdiri di atas teratai putih. Kami masih memujamu di hari-hari tertentu hingga kini. Patung dan sosokmu menjadi simbol dimana-mana.

***

 

Menelusuri Hindu di Jawa membawa kami bersinggungan dengan sejarah kerajaan-kerajaan kuno penganut Hindu yang tersebar di Nusantara dan di Jawa, khususnya. Perjalanan ini membawa kami membaca teks-teks sejarah mengenai Mataram Kuno yang berawal di dataran tinggi Dieng dan berakhir di Watan. Kemudian Kahuripan, Kediri, Singasari, dan Majapahit; yang menjadi benteng terakhir bagi Hindu di Jawa. Perjalanan ini juga yang menuntun perjumpaan kami dengan janji dan ramalan milik Sabdopalon Nayagenggong, Jayabaya, Ronggowarsito, dan kembalinya agama Budhi.

Dalam salah perjalanan di Tawangmangu, kami menemukan sebuah situs yang sampai saat ini belum diketahui berasal dari periode mana. Ia dikenal sebagai Situs Menggung, dimana Durgamahisasuramardhini berdiri, di bawah pohon yang menjulang tinggi dan besar, didampingi oleh arca yang dikenal masyarakat setempat sebagai arca Butalacaya. Di sinilah, kami menemukan cerita tentang sumpah Sabdopalon Nayagenggong pada Brawijaya, yang memiliki keterkaitan dengan cerita asal mula desa-desa yang ada di lereng barat Gunung Lawu.

Dalam cerita rakyat di wilayah Tawangmangu, dikisahkan bahwa Brawijaya meninggalkan Majapahit saat Demak yang membawa panji-panji Islam menyerang kotaraja. Bersama dua abdinya, Sabdopalon dan Nayagenggong, Brawijaya menyingkir ke barat dan menapaki Gunung Lawu. Tiba di sebuah daerah bernama Blumbang, Brawijaya mengatakan pada dua abdinya bahwa ia akan memeluk agama Islam; sesuatu yang tak bisa diterima oleh Sabdopalon Nayagenggong dan membuat mereka mengucapkan sumpah, bahwa agama Budhi akan hadir kembali setelah lima ratus tahun, saat Merapi menggelegar dan laharnya mengalir ke barat daya. Saat sungai akan banjir besar dan banyak orang akan tiada. Saat beragam bencana terjadi di tanah Jawa, saat para priyayi banyak yang susah hatinya, saat hasil bumi makin berkurang dan hama menyerang. Saat manusia bingung, kelaparan, dan negara tak lagi peduli pada rakyatnya. Saat musim datang di waktu yang salah dan angin kencang menerpa, merubuhkan pepohonan. Saat gunung-gunung besar bergetar, gempa terjadi tujuh kali dalam sehari, dan di sana-sini manusia mengaduh.

Sabdopalon Nayagenggong lantas mengingatkan kami pada Jayabaya dan Ronggowarsito. Dua pujangga legendaris Jawa, yang berabad-abad lalu telah memaparkan zaman yang kini tengah kami hadapi. Zaman dimana segalanya terbalik dan kekacauan merajalela. Negara semakin menutup mata pada kenyataan rakyat dan tanah di negeri ini. Kebaikan dan kebenaran semakin ditutup-tutupi untuk alasan yang tak jelas. Keangkuhan dan perebutan kuasa terjadi dimana-mana. Keserakahan menyerang manusia, segala cara dihalalkan untuk memenuhi kebutuhan, bahkan jika itu berarti kau mesti membunuh sesamamu. Nilai-nilai dasar kemanusiaan luluh lantak, menyisakan kebingungan yang enggan dibongkar dan dipahami akarnya oleh manusia. Cinta kasih dan pengertian terhadap sesama nyaris sirna, menyisakan kecemasan dan ketakutan. Kalut. Kami tengah bergulat dengan dunia yang kalut. Sementara semesta terus-menerus menghadapkan kami pada perjalanan-perjalanan menemu pengetahuan-pengetahuan yang hilang dan dilupakan.

Ronggowarsito memang pernah berkata;

“amenangi zaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu ngédan nora tahan, yén tan mélu anglakoni, boya keduman mélik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling klawan waspada.”

Tapi sesungguhnya kami tak ingin menjadi gila. Kami ingin menjadi pribadi yang teguh dan bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan terdekat. Tapi kenyataannya, membangun diri dan tetap berpikir serta bersikap positif sangatlah susah di zaman seperti ini. Dan kami juga tak sanggup jika mesti menunggu datangnya Satrio Piningit atau sang juru selamat.

 

Yogyakarta, 2011.

Kami berada di jejeran toko kain India sepanjang jalan Malioboro dan jalan Solo. Ini adalah abad kedua puluh satu. Jawadwipa adalah Pulau Jawa. Jambudwipa adalah India. Nusantara adalah Indonesia pada peta dunia modern. Kami menemui orang-orang India di Jogja. Kami mencoba memaknai lagi apakah arti dari Hindu. Kami melacak kembali jejak perjalanan. Bau dupa. Bunga dan nyala dipa (pelita). Patung para dewa di pojok toko-toko kain India dan rumah-rumah orang-orang India yang kami temui. Orang-orang India membangun tempat-tempat atau ruang puja di rumah-rumah mereka. Segalanya masih sama. Dari Jambudwipa. Dari India.

 

Interpretasi Penelitian Kuil-kuil India di Yogyakarta untuk pameran des Indes Orientales

 Interpretasi Penelitian Kuil-kuil India di Yogyakarta untuk pameran des Indes Orientales

 

Agama Hindu di Indonesia mengalami proses sinkretisasi yang luar biasa. Perkembangan terakhirnya adalah agama Hindu Dharma seperti yang dipraktikkan di Bali. Ritualnya sama sekali berbeda. Kami menemukan berbagai versi dengan ragam India yang kental. Dewa-dewa utama yang selalu kami temui adalah Dewa Ganesha dan Dewi Laksmi. Kami menemukan foto orang suci seperti Saibaba di dinding toko dan rumah-rumah.

Ganesha

Kau yang memindahkan semua halangan. Kau adalah dewa yang paling dipuja di semua kalangan Hindu dan bahkan di luar itu. Dewa intelektual dan kebijaksanaan. Putra dari Dewa Siwa dan Durga. Berkepala gajah dan bertangan empat. Kau datang mengendarai seekor tikus. Kau terkadang duduk di atas bunga lotus. Kau ditempatkan dimana-mana, di tempat puja, di dinding-dinding dan rumah-rumah. Sosokmu pun menghiasi hampir semua candi Hindu di Jawa.

Laksmi

Kau adalah dewi kemakmuran. Kau selalu berada di samping Wisnu. Ibu dari alam semesta. Kau pun selalu mendampingi avatar-avatar Wisnu (Rama – Sita, Kresna – Rukmini) yang terlahir kembali. Kau yang menjadi simbol keberuntungan dan keindahan. Kau merupakan bunga lotus simbol kebijaksanaan. Kau selalu ditempatkan bersama Ganesha, ditemukan di setiap toko dan rumah-rumah orang India.

Saibaba

Guru suci dari India Selatan. Adalah reinkarnasi seorang mistik sufi di awal abad ke-20, Sai Baba dari Sirdhi. Ia mengajarkan kasih universal. Menggabungkan makna dari Bhakti dalam ajaran Hindu dengan Sufisme. Ajarannya diikuti berbagai kalangan di seluruh dunia.

 

“Hanya ada satu Tuhan, Ia yang berada dimana-mana

Hanya ada satu Agama, Agama Cinta Kasih

Hanya ada satu Kasta, Kasta Kemanusiaan

Hanya ada satu Bahasa, Bahasa Hati”

 (Sathya Sai Baba)

 

Hare Krisna, Maguwo, 2011.

Di atas atap rumah itu terdapat simbol Cakra. Kami menemukan sebuah kuil di tengah rumah. Ashram di bagian belakang rumah. Bagian depan rumah tak ubahnya seperti ruang tamu biasa. Di tengah-tengah joglo terdapat ruang puja/altar Krisna. Seorang pemuda asal Kalimantan namun berdarah Bali menyambut kami. Ia menjelaskan dengan rinci kepada kami mengenai kepercayaannya kepada Krisna. Kami diperkenankan mengikuti salah satu ritual puja mereka.

 

atap Kuil Hare Krisna di Maguwo

atap Kuil Hare Krisna di Maguwo 

 

Bunga-bunga telah dipersiapkan. Mereka berganti baju khas India, baik yang laki-laki dan baik yang perempuan. Gendang ditabuh, nyanyian puja dilantunkan. Kami hanyut dalam irama yang terus menerus. Ritual yang sedang berjalan di hadapan kami. Bhagavad Gita yang dibuka dan dibacakan. Devosi dan bakti para penganut Krisna yang mengagumkan kami. Kami menemukan semua ini di pinggiran ring road Timur Yogyakarta. Kami seperti masuk ke alam yang lain.

 

Altar Hare Krisna

Altar Hare Krisna

 

Kuil itu berdiri semenjak 2003. Semua atribut Krisna begitu lengkap dan memukau memanjakan pandangan mata. Segala warna. Wangi dupa. Nyala api. Kipas bulu merak. Krisna yang meniup suling. Gemerlap cahaya yang disucikan datang dari altar. Nyanyian merdu yang bergema sampai ke relung hati. Keilahian selalu menemukan tempatnya dimana pun.

 

Saibaba Center, Bumijo, 2011.

Mungkin tak ada orang percaya dimana kami menemukan tempat ini. Di atas sebuah ruko toko besi. Kami berada di lantai tiga. Satu ruangan dipersembahkan untuk tempat pemujaan Sai Ba Ba. Berbagai macam orang berada di sana. Orang India, Cina dan Jawa. Begitu beragamnya. Mereka semua melantunkan berbagai nyanyian sebagai bentuk bakti.

Di bingkai salah satu jendela, seorang pengurusnya memperlihatkan kepada kami sepucuk ranting yang tumbuh tiba-tiba. Seperti sepucuk tangkai beringin. Ajaib. Memang. Ruangan ini terasa begitu ajaib. Dimensi dimana kami berada terasa lain. Bunyi lonceng, gendang dan suara yang bertalu-talu. Tak terasa hari sudah semakin larut. Kami turut mengobrol dan makan malam bersama. Suasana begitu hangat dan orang-orangnya terasa begitu sederhana dan penuh kasih.

Sathya (Kebenaran), Dharma (Tindakan yang Benar), Shanti (Kedamaian), Prema (Cinta Kasih), dan Ahimsa (Tanpa Kekerasan). Menurut Sai Ba Ba, kelima hal ini adalah nilai-nilai universal yang harus ditegakkan dalam kehidupan manusia tidak peduli apapun agama seseorang.

Dalam alunan mantra-mantra yang kami temui di kedua tempat ini, sekali lagi kami diantarkan pada kedamaian. Sekali lagi ingatan tentang perjalanan yang telah kami lalui tersentuh dan sekali lagi kami mendapatkan penegasan bahwa di dunia yang brutal ini, kebaikan akan selalu ada. Seperti sabda Krishna dalam Bhagavad Gita, 4. 7-8;

 

Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata abhyutthānam

adharmasya tadātmanam srjāmy aham paritrānāya sādhūnām

vināśāya ca duskrtām dharma samsthāpanarthāya

sambavāmi yuge yuge

 

manakala kebenaran merosot dan kejahatan merajalela,

pada saat itulah Aku akan turun menjelma ke dunia, wahai keturunan Bharata (Arjuna).

Untuk menyelamatkan orang-orang saleh dan membinasakan orang jahat

dan menegakkan kembali kebenaran.

Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman).

Bhagavad Gita 4.7-

 

Refleksi Perjalanan

Perjalanan mengenal Hindu yang telah terjadi dalam kehidupan kami selama lima tahun terakhir, bukanlah pengalaman yang mudah untuk dituliskan. Tapi, kami percaya, bahwa segala perjalanan dan pertemuan yang terjadi, bukanlah kebetulan. Jika ada sesuatu di luar diri kami yang mengatur, maka Dia yang menciptakan semesta inilah yang telah mengaturnya. Maka kesempatan untuk bergabung dengan tim penelitian Komunitas India di Jogja telah memberi kesempatan pada kami untuk memanggil kembali ingatan-ingatan dan merangkumnya menjadi sebuah tulisan.

Apa yang kami telah kami temui sepanjang tahun-tahun terakhir, barulah sebagian kecil dari jejak-jejak Hindu di tanah ini. Sementara kami belum lagi sanggup mengumpulkan dan memahami apa yang terjadi di periode-periode lampau, zaman ini pun berjalan, membentuk sejarahnya. Cinta kasih, tragedi, dan perang meliuk dalam satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Menjadi benang merah yang samar dan nyaris tak tersentuh. Untuk itu kami berharap, bahwa penelitian akan komunitas India ini adalah awal bagi kesadaran terhadap sejarah. Terhadap hubungan antara India dengan Nusantara. Yang tanpa disadari, telah membuat negeri ini memiliki kekayaan budaya dan nilai-nilai luhur dari leluhur yang diasingkan dalam ingatan.

Kami berharap semua ini adalah awal yang lahir baru. Sebuah jalan untuk siklus yang baru di tengah kekacauan dunia yang mulai terlalu. Kami percaya akan lahirnya cahaya, apapun namanya dalam berbagai bahasa dan berbagai lidah yang melafalnya. Yang ilahi adalah satu. Berbagai kepercayaan pada akhirnya layaknya anak tangga menuju tujuan yang sama. Proses mengenali, saling memahami dan kemauan untuk saling mempelajari adalah modal awal untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Dunia yang dimulai dari hati. Dunia yang diterangi cahaya abadi.

 

Om. Shanti Shanti Shanti. Om.

Semoga segala mahkluk berbahagia. Semoga segala kehidupan terberkati.

 

 26 April 2012

 


Footnote

[1
]
Ngakan Made Madrasuta, "Saya beragama Hindu". Penerbit: T.U. Warta Hindu Dharma, Denpasar.

 

 

Edisi Etnohistori India di Indonesia

 

 

 

 

Tanggapan

    • Hello, guest
    • artikelnya bagus, menambah dan membuka mata hati untuk semakin cinta sama agama yang selalu mengajarkan kebenaran, toleransi, saya bangga dapat lahir darinya, astungkara

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org