ETNOHISTORI

Praktek Rentenir Masa Kolonial: Kehidupan Orang Chetti di Medan Akhir Abad 19―Awal Abad 20

 

oleh: Apriani Harahap *

 

MEDAN adalah kota ketiga terbesar setelah Jakarta dan Surabaya. Berdasarkan latar belakang historisnya, ketiga kota tersebut merupakan hasil dari simbol modernisasi kolonial pada abad ke-20. Sampai sekarang simbol kolonial yakni gedung-gedung peninggalan kolonial nan megah pada masanya dapat dinikmati dan dilihat di sekitar pusat kota dari ketiga kota tersebut. Meskipun banyak gedung telah dimakan zaman dan telah dihancurkan oleh kekejaman kekuatan ekonomi sekarang. Dari ketiga kota tersebut, Kota Medan yang mempunyai keunikan dan karakteristik tersendiri dibanding kota Jakarta dan Surabaya.

Keunikan Kota Medan terletak dari hasil perkebunan tembakau pada akhir abad ke-19, sehingga tidak berlebihan bila Peter J. M. Nas menyebut kota ini sebagai “Plantation City”. Sebelumnya, Kota Medan bernama Deli yang menjadi wilayah kekuasaan Sultan Melayu Deli. Namun seiring dengan kedatangan kolonial Belanda, maka kekuasaan yang selama ini dipegang oleh Kesultanan secara tidak langsung jatuh ke tangan Belanda. Akhirnya para investor Eropa datang silih berganti demi keuntungan ekonomi negara induknya dan alhasil dengan ketamakan uang para elite penguasa Melayu, banyak tanah-tanah dijual kepada penjajah dan membuat daerah ini menjadi daerah perkebunan.

 

Paleis van de Sultan van Deli te Medan / Istana Maimun (sumber foto: kitlv.pictura-dp.nl)

Paleis van de Sultan van Deli te Medan / Istana Maimun (sumber foto: kitlv.pictura-dp.nl)

 

Salah satunya adalah pionir yang bernama Jacobus Neinhuys, dialah orang yang pertama kali membuka perkebunan tembakau yang kerjasama dengan Sultan Deli pada tahun 1863 (Sinar, 2008: 9). Menjelang pertengahan abad ke-19, ketika dibukanya industri perkebunan-perkebunan, dan pada tahun-tahun berikutnya, mendatangkan hasil yang begitu luar biasa bagi pengusaha perkebunan. Maka, untuk memenuhi target produksi, dibutuhkan tenaga kuli perkebunan dalam jumlah yang besar. Tenaga kuli perkebunan banyak didatangkan oleh pihak kolonial dari Cina, India Arab dan Jawa. Hingga kemudian, hasil dari daun tembakau itu diistilahkan sebagai pohon berdaun emas dan tersohor hingga ke suluruh Eropa. Kota Medan menjadi tempat yang dapat mengundang para investor untuk menanam dan membuka perkebunan di daerah ini, sehingga Kota Medan dijuluki pula sebagai Paris van Sumatera dan het dollar land (tanah penghasil dollar).

Semakin lama, semakin banyak uang yang dihasilkan dari pohon uang yang berdaun emas tersebut dan semakin tersohorlah negeri het dollar land (Medan) di dunia, sehingga berbagai pedagang, investor, imigran dan pengusaha mencoba peruntungan ekonomi di Medan pada awal abad ke-20. Banyak orang-orang India didatangkan oleh pengusaha perkebunan dalam jumlah besar untuk dipekerjakan sebagai kuli perkebunan. Sejak dibukanya perkebunan yang pertama, hanya beberapa ratus orang Kling atau Tamil (dari pesisir Koromandel di India−Inggris)[1] yang dipekerjakan sebagai kuli perkebunan. Sejalan dengan perkembangan industri perkebunan di Sumatera Timur, jumlah kuli India yang dipekerjakan sebagai kuli semakin bertambah. Di tahun 1874 jumlah kuli India baru berkisar 459 orang[2], tahun 1881 populasi mereka meningkat mencapai 1.071 orang, tahun 1890 berjumlah 2.461 orang dan tahun 1990 sudah mencapai angka 3.295 orang.[3]

Di perkebunan, orang Tamil dipekerjakan untuk pembangunan jalan dan saluran air, sais kereta lembu dan perawat hewan dengan pengawasnya sendiri (tandil Kling).[4] Selain orang Tamil, pengusaha perkebunan juga mempekerjakan orang Bengali sebagai penjaga keamanan perkebunan. Seorang kuli Tamil pada masa itu berpenghasilan 96 dollar dan kuli Bengali 115 dollar per-tahun. Gaji mereka itu lebih tinggi dari gaji kuli biasa, tetapi lebih rendah jika dibandingkan dengan gaji yang diterima kuli lapangan.[5] Selain datang sebagai kuli perkebunan, ada pula orang Chetti yang berperan sebagai pemodal uang dan pelengkap kepentingan ekonomi kolonial. Mereka datang sendiri maupun didatangkan secara silih berganti bersamaan dengan kedatangan orang India lainnya.

 

Orang Chetti di Medan

Keberadaan orang-orang India di Medan, dapat dilacak dalam sebuah prasasti yang berbahasa Tamil berangka tahun 1010 Saka atau 1088 Masehi yang ditemukan di Lobu Tua Barus. Isinya menjelaskan mengenai adanya perkumpulan pedagang-pedagang Tamil di wilayah ini pada abad ke-11. Selain prasasti, di wilayah ini juga ditemukan pecahan-pecahan tembikar yang teknik pembuatannya berasal dari Asia Selatan.[6] Setidaknya, peninggalan-peninggalan arkeologis itu menunjukkan bahwa orang-orang India telah tinggal di Sumatera Utara secara permanen atau semi permanen sejak abad ke-11.

Dalam bahasa melayu, orang Chetti dipanggil Tjeti dengan diucapkan konsonan desis di awal. Mereka berasal dari India Selatan yang salah satu keahliannya sebagai pedagang uang dengan sistem kredit, aset investasi serta mengelola deposito uang. Hal senada yang dikatakan Mani (2011: 58) dan Sinar (2008: 11) yang menyatakan bahwa orang Chetti berpartisipasi dalam sektor jasa sebagai rentenir, pedagang, dan pengusaha kecil.

Menurut catatan pemerintah kolonial Belanda, orang Chetti yang pertama datang ke Sumatera Timur yakni Moenawian Chetti[7], pada tahun 1879 di Laboehan Deli (sekarang termasuk wilayah Medan), yang kemudian melakukan investasi uang dan juga sebagai pedagang kain. Selanjutnya pada awal abad ke-20 ada sekitar 70 orang Chetti yang telah menetap di Medan. Pada umumnya kedatangan orang Chetti secara bebas (non-kontrak) datang ke Medan, tidak seperti orang Kling dan Bengali yang dipekerjakan sebagai kuli perkebunan tembakau. Mereka umumnya menaiki kapal dari Madras dan Calcutta ke Deli lalu melewati Penang dan Singapura sebelum akhirnya sampai di Medan.

Pada awal abad ke-20, Kota Medan telah menjadi sebuah kota modern kolonial yang lengkap dengan fasilitas dan pra-sarana lainnya. Berbagai perusahaan tembakau, salah satunya bernama Deli Maatschappij (perusahaan Deli) telah didirikan. Kehidupan kota telah berkembang pesat seiring pertumbuhan penduduk di kota ini. Demikian juga dengan orang Chetti, mereka memainkan peran ekonomi sebagai bisnis peminjam uang Kota Medan atau bisa dikatakan sebagai rentenir atau lintah darat. Pekerjaan mereka yang memberikan pinjaman bahkan dianggap seperti penghisap darah masyarakat kota oleh para penduduk khususnya bagi penduduk elite etnis melayu. Mereka lebih banyak mengambil peran di berbagai sektor ekonomi Kota Medan.

Para Chetti mengemudi bisnis mereka untuk kepentingan sendiri, tetapi mereka tidak terlepas di bawah naungan (lindungan) para bos mereka, yang berkedudukan di negara asal mereka. Mereka memiliki pola kerja seperti ini: dikirim dan memiliki tugas mengirim uang untuk jangka waktu tiga tahun, pada kontrak tertulis yang dituliskan di daun palem. Selama bertahun-tahun, mereka menerima gaji tetap untuk memperoleh perumahan, makanan dan pakaian mereka di kota ini. Mereka sangat pandai membuat akun keuangan dan mencatat segala pengeluaran dan pemasukan setiap transaksi serta membuat catatan buku utama untuk mereka. Sesuai aturan, mereka mendapat biaya direksi sebesar 10 % dari keuntungan yang didapatkan, setara dengan dua sampai lima ribu dollar pada waktu itu, tetapi kadang-kadang jumlahnya jauh lebih besar.

Selama tinggal di Medan, mereka banyak menikahi perempuan pribumi atau melakukan pergundikan dengan perempuan asli Medan. Ini juga merupakan bentuk interaksi sosial dan adaptasi mereka untuk bertahan di Kota Medan. Selain itu, mereka juga mengambil seorang anak pribumi untuk membantu pekerjaan mereka sebagai pembantu mereka dengan imbalan gaji yang kecil. Orang Chetti terkenal pandai berhitung (aritmatika) sehingga kepandaian berhitung menghubungi mereka ke pergaulan bisnis orang Arab dan Cina yang pada saat itu juga memegang posisi ekonomi yang kuat di Medan.

Orang Chetti meminjamkan uang dengan bunga 1,5 % sampai 2 % per-bulan, tetapi sebenarnya jauh lebih tinggi, seperti utang yang sepulah bulan dibayar selama satu tahun. Jika hutang yang mempunyai tenggang waktu telah berlalu (tidak dapat membayar) maka seluruh utang sekaligus dibayarkan, ditambah bunga 2 % untuk membayar tunggakan tersebut. Sistem ini membuat Chetti mempunyai keuntungan yang besar, tetapi dengan keuntungan itu mereka dijuluki sebagai lintah penghisap darah terburuk dari nusantara.

Seperti disebutkan di atas, pinjaman baik dalam skala kecil dan besar bunganya tetap tinggi. Umumnya yang suka meminjam uang adalah penguasa Melayu, orang Cina, Jawa atau hampir semua adalah orang imigran yang datang ke Medan, jarang sekali kaum peranakan meminjam uang kepada mereka. Mereka hanya mau dibantu oleh sebangsa India yang sudah tinggal lebih lama di daerah Medan ini. Kemudian selama bermukim di Medan mereka juga mempelajari bahasa dan adat istiadat penduduk. Lalu mereka cepat berinteraksi dengan warga kampoengs. Mereka memasuki wilayah perkampungan dengan menggunakan sepeda yang di belakangnya terdapat karpet, kain katun dan jenis kain lainnya, kemudian mereka mencoba untuk menjual secara kredit kepada orang kampung. Dengan cara ini mereka mengikat hubungan dengan penduduk kampung, dan segera mendapat peluang yang menguntungkan demi mendapatkan uang secara tunai. Pinjaman uang tersebut tidak mempunyai ikatan, syarat dan melalui sistem sederhana. Dengan kegigihan bekerja, tidak salah mereka mendapat keuntungan yang begitu besar. Setiap hari mereka mendatangi wilayah perkampungan dengan sepeda antik. Dengan harapan jualan kain atau karpet laris manis terjual dan banyak yang hutang (kredit) didapatkan dari warga kampung Kota Medan. Mereka juga disamakan dengan pedagang Arab yang menjual barang yang mahal daripada rekan-rekan Cina.

Tetapi mereka juga dikenal sebagai orang yang jujur, baik dan mempunyai solidaritas bersama yang tinggi. Orang Chetti berpakaian mengikuti kebiasaan mereka di kampung halamannya (India); kepala mereka dicukur dengan sebutan Nattukottai, tidak ada tutup kepala yang dikenakan. Lainnya memakai rambut yang disanggul kecil dan menghiasi diri mereka dengan anting-anting kecil. Lulofs juga menyatakan orang Chetti dalam novel Berpacu Nasib di Kebun Karet (1985: 40-41) yakni “Menyelinap melalui hiruk-pikuk itu adalah orang Chetti, kalangan pelepas uang India: gemuk dan makmur, berkulit hitam berkilat dan berminyak, kepalanya gundul, mengenakan kain yang putih sekali, ringan dan santai pada badannya yang berat”.

Keberadaan mereka di Kota Medan juga dijelaskan Louis Couperus (1924) dalam Anthony Reid (2010: 357) yakni: berbagai etnis ada di Medan seperti orang Jepang, Cina, Sri Lanka, serta berbagai etnis di Sumatera di antaranya orang Batak dan beberapa orang Minangkabau sangat mudah dikenali. Orang Jepang dan Cina membentuk kelas pedagang kecil. Sementara di antara orang Hinduyang dijuluki orang ‘Keling’ anda akan mengenali khususnya para lintah darat, orang-orang yang meminjamkan uangnya, orang Chetti yang perhimpunannya jika saya diizinkan menggunakan istilah ini sama tuanya dengan waktu itu sendiri (karena Claudius Ptolemaeus sempat menyebutkan bangsa Chetti dalam tulisan-tulisannya). Mereka adalah pedagang-pedagang pra-India yang datang dengan kapal perang untuk berbisnis dan meminjamkan uang kepada para pemimpin Melayu. Orang Chetti atau lintah darat ini menghormati tradisi mereka dan agama Hindu kuno. Di Medan, mereka memiliki candi terpisah di antara tiga atau empat candi lain yang ada di sana.

 

Kuil Sri Mariaman & Hari Raya Deevapali umat Hindu Tamil di Medan, 2012. (sumber foto: www.antarasumut.com & www.medanku.com)

Kuil Sri Mariaman & Hari Raya Deevapali umat Hindu Tamil di Medan, 2012. (sumber foto: www.antarasumut.com & www.medanku.com)

 

Keberadaan mereka telah menambah struktur sosial Kota Medan yang membuat semakin kompleksnya kehidupan sosial kota tersebut pada abad ke-20. Meskipun tahun 1928 pemerintahan menetralisir bisnis peminjaman uang Chetti dengan jalan membuka sebuah bank pemerintah (volkbank) untuk membantu rakyat dari ancaman lintah darat orang Chetti. Keberadaan orang Chetti benar-benar diperhitungkan oleh pemerintahan Kota Medan karena mereka banyak meraup keuntungan dari masyarakat dan juga banyak kasus yang terjadi di pengadilan. Seperti masyarakat banyak yang menjual tanah mereka demi membayar utang kepada rentenir Chetti dan akhirnya lama kelamaan lenyaplah segala tanah-tanah kepunyaan Bumiputera ke tangan bangsa asing.[8]

Pada masa sekarang mereka juga masih bertahan di Kota Medan, walaupun jumlah orang Chetti yang mempunyai profesi sebagai rentenir tinggal sedikit jumlahnya, tidak menjamur ketika pada masa perkebunan tembakau. Secara administratif, mereka bertempat tinggal di kampung Madras (kampung Kling) di Jalan Zainul Arifin, Kota Medan. Di sana kita juga masih dapat dilihat kantor peminjam uang orang Chetti.

***

Etnik minoritas India baik Tamil (Kling), Bengali, Punjab, Bombay, Telegu, maupun Chetti adalah etnik minoritas yang telah mengisi ruang Kota Medan sejak abad ke-19. Mereka sengaja datang dan didatangkan oleh pihak kolonial demi mengadu nasib atau mencoba peruntungan di negeri orang. Selain menambah struktur sosial, mereka juga mengisi kegiatan ekonomi Kota Medan. Salah satunya adalah orang Chetti yang berasal dari India Selatan ikut mengisi kekosongan sebagai rentenir atau peminjam uang dan pedagang kain serta karpet. Keberadaan mereka sampai sekarang masih ada yakni berada di kampung Madras di Kota Medan. [ ]

 

12 April 2012

 

* Mahasiswa Program Pasca Sarjana Sejarah−UGM. Sedang menulis tesis mengenai 'Sejarah Kehidupan Sehari-hari Komunitas India 
....di Medan awal abad 20―tahun 1950-an'. Saat ini menjadi staf asisten pengajar di Universitas Negeri Medan.

Daftar Pustaka

− Andalas No. 126 Kemis 1 November 1928.
− Breman, Jan. 1997. Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial, Tuan Kebun dan Kuli di Sumatera Timur pada Awal Abad ke-20. Jakarta: PT. Pustaka Grafiti bekerjasama dengan KITLV Jakarta.
− Lulofs, M.H. Szekely. 1985. Berpacu Nasib di Kebun Karet. Jakarta: Grafiti Press.
Mani, A. 2011. Indians in North Sumatra. ISEAS: Singapore.
Nijhoff, Martinus. 1927. Encyclopedie van Nederlandsch−Indie (ENI). Leiden.
− Perret, Daniel. 2010. Kolonialisme dan Etnisitas: Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan The École française d'Extrême−Orient
.........(EFEO), Forum Jakarta−Paris dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
− Reid, Anthony (ed.). 2010. Sumatera Tempo Doeloe: Dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Jakarta: Komunitas Bambu.
− Said, Mohammad. 1997. Koeli Kontrak Tempo Doeloe, dengan Derita dan Kemarahannya. Medan: Waspada.
− Sinar, Tengku Luckman. 2008. Orang India di Sumatera Utara. Sumut: Forkala.
− Sinar, Tengku Luckman. 2005. Sejarah Medan Tempo Doeloe. Medan: Perwira.

 


Footnotes

[1] Jan Breman, Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial, Tuan Kebun dan Kuli di Sumatera Timur pada Awal Abad ke-20, (Jakarta: PT. Pustaka Grafiti bekerjasama dengan KITLV Jakarta, 1997), hlm. 26.
[2] Tengku Luckman Sinar, Sejarah Medan Tempo Doeloe (Medan: Perwira, 2005), hlm. 58.

[3] Jan Breman, op. cit., hlm. 65.

[4] Ibid, hlm. 98 dan 105.

[5] Seorang tandil Tionghoa mendapat gaji 319 dollar setahun, seorang kuli lapangan 135 dollar, seorang kuli di kongsi 72 dollar, Mandor besar Jawa mendapat 258 dollar setahun, mandor biasa 135
.....dollar
dan untuk kuli biasa 85 dollar. Lebih lanjut lihat Mohammad Said, Koeli Kontrak Tempo Doeloe Dengan Derita dan Kemarahannya, (Medan: Waspada, 1977), hlm. 80.

[6] Daniel Perret, Kolonialisme dan Etnisitas: Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut. (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan The École française d'Extrême−Orient,
.....Forum Jakarta−Paris dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, 2010), hlm. 89.

[7] Encyclopedie van Nederlandsch−Indie (ENI), 1927: 128.
[8] Andalas No. 126, Kemis 1 November 1928.

3 Tanggapan

    • Hello, guest
    • Salam,

      Saya ingin sedikit mengkritisi pada akhir tulisan anda menuliskan tentang Chetti yang berdiam di Kampung Madras (Kampung Kling), dalam terminologi linguistik harian masyarakat setempat, istilah tersebut tidak bermankna. Terminologi yang melekat pada masyarakat Kampung Madras adalah Keling (terlepas dari konflik, prejudice dan stigma). Kata Keling berdasar pada istilah Holing yang kemudian tereduksi menjadi koling dan kemudian mencair di kehidupan menjadi keling.

      Masyarakat Chettiar memiliki kantor dan kuil yang terpisah, hal ini dibuktikan dengan adanya Kuil Chettiar di Kota Medan. Masukan ini setidaknya untuk membuktikan bahwa Chettiar berdiri sendiri dengan kelengkapan perilaku dan sistem sosial, budaya.

      Salam

      • terimah kasih banyak atas masukan yang bapak berikan kepada tulisan saya ini, tulisan ini merupakan langkah awal dalam penulisan tesis saya, jadi banyak yang harus dikritisi dan masukkan. benar apa yang bapak bilang mengenai masyarakat Chettiar pada umumnya memiliki kantor dan kuil yang terpisah begitu juga dengan kapiten (pemimpin) chettiar, begitu juga perilaku dan sistem sosial dan budaya. saya sudah mendapatkan data di koran-koran lama mengenai orang Chetty dll. smoga saya bia menulis lagi dan menambah tulisan ini. oh ya pak bapak tinggalnya dimana?? saya boleh minta alamat email agar supaya bisa mencari informai lebih dalam mengenai hal ini. thanks

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org