Home / Edisional / Melacak Perkembangan Antropologi Modern di Asia Tenggara

Melacak Perkembangan Antropologi Modern di Asia Tenggara

oleh: Hatib Abdul Kadir *

 

Pada tahun 2009, dalam rangka memperingati hari ulang tahun yang ke 40, jurnal terkemuka ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies), SOJOURN membeberkan 15 buku ilmu sosial paling berpengaruh (baca: terbaik) sepanjang masa; khusus yang membahas tentang masyarakat di Asia Tenggara[1]. Meski bersifat kontroversial dan ‘menggegerkan’, lima belas buku paling berpengaruh tersebut dipilih berdasarkan pada beberapa pertimbangan, seperti telah mempengaruhi formasi teori dan persepsi empirik yang beredar di kalangan sarjanawan Asia Tenggara; sering menjadi poros referensi bagi para sarjanawan dan peneliti dan mampu melampaui periode yang lama terhitung semenjak buku tersebut diterbitkan. Buku-buku tersebut paling banyak didominasi oleh kajian sejarah dan antropologi. Saya merasa yakin bahwa penilaian SOJOURN ini kurang lebih juga mengacu pada buku Victor T. King dan William D. Wilder yang terbit dua tahun lebih awal dari pengumuman buku paling berpengaruh ini. Dari daftar nama-nama ‘pemenang’ seperti mulai dari John Sydenham Furnivall, J. C. van Leur, Julius Herman Boeke, Clifford Geertz, Anthony Reid, Benedict Richard O’Gorman Anderson hingga James C. Scott diuraikan dengan menarik dalam buku The Modern Anthropology of SouthEast Asia: An Introduction.

 

The Modern Anthropology of South-East Asia: An Introduction, 2003. (Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia; Antropologi Modern Asia Tenggara: Sebuah Pengantar, 2012)
The Modern Anthropology of South-East Asia: An Introduction, 2003. (Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia; Antropologi Modern Asia Tenggara: Sebuah Pengantar, 2012)

 

Mempelajari Asia Tenggara sangatlah penting, karena dari sinilah para sarjanawan dan peneliti mampu menciptakan konsep-konsep terkenal yang kemudian mendunia dan dipinjam untuk melihat bentuk masyarakat lainnya. Mulai dari konsep masyarakat sosial periode kolonial-nya Boeke mengenai dualisme ekonomi, dan konsep masyarakat plural-nya Furnivall, hingga konsep-konsep yang muncul pasca Perang Dunia II, seperti konsep shared poverty dan metode thick description yang didapati oleh Clifford Geertz ketika melihat masyarakat Jawa. Demikian pula konsep imagined community Ben Anderson ketika melihat masyarakat Indonesia. Konsep galactic society-nya Stanley Jeyaraja Tambiah ketika melihat masyarakat Thailand. Hampir semua konsep dan teori ini menunjukkan bahwa masyarakat di kawasan Asia Tenggara mengalami perubahan yang sangat kompleks dan cepat setelah kemerdekaan Negara-Negara Asia Tenggara selama kurun 1945—1960-an. Secara antropologis, masyarakat Asia Tenggara mengalami perubahan seperti masuknya birokrasi Negara, runtuhnya kesultanan-kesultanan dan kerajaan-kerajaan, semakin komersial-nya para petani, semakin menyempitnya tanah, cepatnya arus urbanisasi, perubahan gender, rusaknya lingkungan serta deforestasi besar-besaran dan lain sebagainya. 

Konsep ‘Asia Tenggara‘ adalah penciptaan Amerika khususnya pasca Perang Dunia II untuk membedakan antara orang-orang Asia Timur dan Asia Selatan, sekaligus membedakan orang-orang Asia secara keseluruhan dengan masyarakat Barat. Inilah yang ditekankan oleh King dan Wilder di bab pertama-nya. Reproduksi imajinasi Asia Tenggara ini bukan hanya dihasilkan dari para sarjanawan Barat, namun juga diamini oleh negara-negara pasca-kolonial dengan membentuk kerjasama geopolitik seperti The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) misalnya.

Beberapa pemikir awal seperti Wolters dan Burling melihat Asia Tenggara pasca-kolonial mempunyai persamaan-persamaan dalam hal kultural, material kultural dan bahasa. Khususnya melalui pendekatan difusionisme yang melihat pada migrasi dan kebudayaan material adalah bentuk paling konkrit dibandingkan pendekatan evolusionisme dalam melihat masyarakat Asia Tenggara, yang cenderung meraba-raba dan menerka tentang persebaran dan perkembangan kebudayaan. Namun, persamaan tersebut menjadi semakin kompleks dan beragam pada periode pasca-kolonial. Mengingat masyarakat Indonesia terbangun dari bentukan pertemuan yang lama dari administratur kolonial Belanda. Sedangkan Burma dan Malaysia dari Inggris, Vietnam dan Kamboja dari Perancis, dan Filipina dari Spanyol serta Amerika Serikat belakangan ini. Perbedaan berdasarkan pada karakter masyarakat kolonial ini kemudian membuat ilmu antropologi ‘dituduh sebagai ilmu-nya para kolonialis‘. King dan Wilder menjelaskan sekaligus menyanggahnya di bab dua. Jika kita amati, para etnografer dan laporan-laporan mengenai kebudayaan masyarakat di Burma, dan juga di Indonesia pada periode kolonial belum mendefinisikan dirinya sebagai ‘antropolog‘ meski pada akhirnya kelak laporan-laporan mereka dianggap bersifat antropologis, baik dalam hal metode dan sistem pelaporannya. Sebagai misal di Hindia-Belanda, hampir dipastikan belum ada antropolog di pertengahan abad 19, kecuali para ahli etnologi, geografi, naturalis, misionaris/teolog hingga administratur Belanda yang suka mencatat dan disekolahkan cara menarasikan kebudayaan lain dan belajar bahasa masyarakat lainnya, sehingga terlahirlah orang-orang seperti Christiaan Snouck Hurgronje yang selama ini dianggap masyarakat awam sebagai kaki tangan Belanda yang sekaligus membawa ‘dosa-dosa‘ antropologi Indonesia.

Demikian pula dengan kawasan jajahan Perancis di Vietnam, Laos dan Kamboja, penggambaran tentang masyarakat jajahan dilakukan oleh para administratur kolonial yang telah disekolahkan sebelumnya. Hal penting yang dilakukan adalah mengkategorisasikan antara orang-orang Indo-Cina yang tinggal di kawasan dataran tinggi dan kawasan dataran rendah, selain itu peran para etnolog sangat penting untuk mengetahui bentuk masyarakat Indo-Cina sekaligus sebagai alat untuk pemudahan kontrol dan penaklukkan. Dari ketiga pendekatan kolonialisme ini dapat kita lihat bahwa para etnolog Inggris sangat terpengaruh dengan pendekatan fungsionalisme Malinowski, sedangkan etnolog Hindia-Belanda lebih menekankan pada warisan pendekatan strukturalisme Durkheimian, dan etnolog Perancis di Indo-Cina lebih menekankan pendekatan sejarah, perubahan kebudayaan dan konflik. Namun demikian hanya Filipina-lah yang mempunyai perkembangan etnologi kolonial terlemah, meski jurusan antropologi University of The Philippines (1914) adalah yang tertua di Asia Tenggara, hal ini karena Spanyol, sebagai negara yang menjajah, tidak mempunyai tradisi administrasi dan pencatatan yang kuat dan rapi seperti Perancis, Inggris dan Belanda. Laporan etnologis awal pada masa kolonial yang rata-rata ditulis oleh para misionaris atapun naturalis yang juga memasukkan catatan-catatan mengenai suku bangsa masyarakat di Kalimantan, Burma, Semenanjung Malaya dan berbagai wilayah lainnya bersifat apa adanya, tanpa analisis yang rumit, jujur dan penuh dengan stereotipe dengan kacamata Barat sebagai si pencatat dan masyarakat Timur yang dilihat dan dicatat. Penelitian etnologi awal pada masa kolonial membedakan antara Barat sebagai kacamata yang melihat dan Timur sebagai orang yang dilihat, sehingga pada akhirnya muncullah teori seperti ‘dual ekonomi‘ dari Boeke yang memperlihatkan Barat yang rasional, disiplin, dan masyarakat jajahan yang terbelakang dan tidak responsif. Selain itu pendekatan evolusionistik juga menunjukkan “keyakinan Barat“ bahwa masyarakat yang bukan Eropa suatu saat akan melewati tahap-tahap perkembangan peradaban yang telah dilewati oleh masyarakat Eropa. Teori dan kandungan laporan-laporan seperti inilah yang nantinya menjadi kritikan empuk bagi para teoretikus poskolonial.

Di bab tiga dan empat merupakan perbandingan antara tradisi antropolog Eropa dan Amerika, meski sepenuhnya pada saat ini tidak ada antropolog yang benar-benar terkotakkan berdasarkan tradisi Amerika semata atau Eropa semata, karena keduanya telah bersifat campuran dan saling mempengaruhi. Namun demikian tradisi ini dimulai ketika pasca Perang Dunia II dimana tradisi Amerika seperti Melford Spiro di Burma, Lauriston Sharp dan Lucien Hanks di Thailand, Clifford Geertz dan para geng dari Chicago University, Harvard University dan University of Massachusetts datang ke Indonesia, Thailand, dan Filipina serta mengkritisi tradisi pendekatan etnolog Eropa yang juga telah ada di sana. Secara garis besarnya, kajian tradisi antropologi selalu melakukan penelitian dari satu wilayah lokal dan kemudian menghubungkannya dengan situasi beserta sistem politik dan ekonomi yang lebih luas, nasionalisme, modernisasi dan globalisasi, seperti karya-karya para antropolog Amerika yang dijelaskan di bab lima. Pendekatan Amerika sekaligus mengkritik para etnolog Belanda, misalnya, dan para etnolog dari tradisi Eropa yang dianggap menggambarkan suatu budaya seolah-olah terisolasi dari pengaruh sistem yang lebih luas seperti negara bangsa dan ideologi politik global. Pendekatan dalam tradisi Amerika ini sekaligus merupakan warisan dari teori Robert Redfield[2] tentang “tradisi besar“ yang lebih merupakan peradaban global atau setidaknya sinkron dengan kacamata Barat, dan “tradisi kecil“ yang ditemukan di lapangan. Lagi-lagi pendekatan ini mendapatkan kritikan dari sarjanawan poskolonial kelak.

Namun demikian, pasca Perang Dunia II dan terjadinya dekolonisasi negara-negara jajahan di Asia Tenggara, dunia kajian antropologi semakin profesional karena mulai dibentuk di universitas-universitas dan dianggap mulai lepas dari kepentingan administratur. Perubahan lainnya, adalah hilangnya narasi-narasi antropologi di Burma seiring dengan diberlakukannya Junta militer, sehingga mengharuskan para antropolog Amerika dan asing lainnya angkat kaki dari negeri ini, sehingga beberapa antropolog terkemuka seperti Manning Nash pada waktu itu harus memindahkan subjek penelitiannya ke Malaysia. Di Indonesia dan Filipina, kaderisasi para antropolog didikan Amerika mulai terjadi pada tahun 1950-an. Di Indonesia kita dapat lihat seiring dengan munculnya Koentjaraningrat, Harsya W. Bachtiar hingga generasi junior seperti Parsudi Suparlan, M. Junus Melalatoa, yang menggeser para etnolog Eropa ‘konservatif‘ yang tengah duduk nyaman di jurusan etnologi Universitas Indonesia. Sedangkan di Filipina ada generasi Marcelo Tangco, yang belajar di Harvard dan Berkeley pada tahun 1921—1925 dan ia sukses menjadi sebagai ketua jurusan di Universitas Filipina pada tahun 1964.

Sedangkan tradisi antropologi Eropa di Asia Tenggara sangat dipengaruhi dua dedengkot ilmuwan sosial strukturalis, David Émile Durkheim pada periode kolonial dan Claude Lévi-Strauss pada periode dekolonisasi. Pengaruh ini dibawa oleh antropolog seperti Sir Edmund Ronald Leach yang meneliti masyarakat Burma, Stanley Jeyaraja Tambiah di Thailand dan P. E. de Josselin de Jong, Rodney Needham yang meneliti masyarakat Indonesia bagian Timur. Di Indonesia, menariknya hampir semua antropolog awal yang menganut tradisi Eropa (khususnya Mazhab Sosiologi Perancis) ini tidak menekankan penelitian mereka di Pulau Jawa, melainkan di pulau luar Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan perairan sekitarnya dan yang diteliti-pun bukan berkenaan dengan ide-ide besar mengenai nasionalisme, modernitas, melainkan kekerabatan, pernikahan, ‘tata-bahasa kebudayaan‘ dan sistem simbolik lainnya yang bersifat lokal. (Dengan demikian, dapat saya katakan bahwa munculnya etnografi dengan pendekatan antropologi paradigmatik mengenai masyarakat Jawa adalah fenomena baru pada tahun 1950-an). Pada umumnya pengusung tradisi strukturalis Durkheimian adalah para antropolog dan etnolog dari Universitas Leiden seperti F. A. E. van Wouden; H. G. Schulte Nordholt yang meneliti masyarakat Atoni Timor dan juga P. E. de Josselin de Jong yang meneliti masyarakat Minangkabau. Namun, kesan saya membaca buku-buku etnografi awal para antropolog didikan Eropa ini cenderung mengabaikan teori ‘yang kompleks‘ namun lebih pada penekanan penggambaran masyarakat secara jujur apa adanya, dan klasifikasi-klasifikasi struktural dan oposisi biner yang diciptakan berdasarkan elemen kebudayaan (seperti kekerabatan, agama, upacara kelahiran, perkawinan dan kematian) dengan mengandalkan pada kekayaan literatur yang dimiliki oleh masyarakat lokal.

Antropolog juga patut berterima kasih dengan munculnya para ilmuwan politik yang banyak mempengaruhi (dan dipengaruhi) warna pendekatan antropologi, yang paling mencolok adalah Benedict Anderson dan James C. Scott. Di bab lima tampak sekali peran James C. Scott dalam memberi warna analisa tentang kehidupan dan resistensi kaum tani di daratan Asia Tenggara, sedangkan konsepsi Ben Anderson di bab enam mengenai “imagined community“ menjadi analisa ampuh dalam melihat identitas masyarakat dan negara bangsa pasca-kolonial di Asia Tenggara. Selain itu, antropologi patut berterima kasih kepada Furnivall. Terlepas dari kelemahan Furnivall yang seolah-olah memandang “kejumudan“ dalam masyarakat plural dan gambaran masyarakat etnis yang terlalu menyederhanakan, studi Furnivall tokh mampu mengungkapkan bahwa multi-etnisitas dan pluralisme merupakan penciptaan yang diadakan bersama secara politik oleh negara kolonial dalam keperluannya untuk menciptakan kemakmuran yang terkontrol dan harmonis meski terpisah-pisah. Analisis Furnivall adalah wajah kita semua, wajah orang-orang Singapura, Malaysia (India, Cina, Melayu), Burma (India–proletar Burma) dan Indonesia (Eropa, Cina, Pribumi) yang terpisah dan teridentifikasi dan terpolarisasi berdasarkan ras, etnisitas dan klas. Masyarakat plural bukanlah sebuah kebetulan, ia ada dan diciptakan, meski sifatnya rapuh dan tidak stabil.  

Pasca Perang Dunia II, kalangan antropolog Amerika melihat bahwa musuh harus dipahami, segala sesuatu yang bernada asing harus dianalisa secara cepat. Dan untuk pertama kalinya dalam ilmu sosial Amerika mulai mengembangkan “eksotisme”. Antropologi Amerika segera menemukan kajian yang hendak digeluti lebih lanjut, yakni “program kawasan/regional”. Objek yang dituju dalam program tersebut adalah wilayah yang dianggap mempunyai nilai-nilai tradisionalitas tinggi. Terdapat pandangan bahwa desa dan kota adalah dua entitas kebudayaan yang terpisah. Kajian Antropologi lebih didekatkan ke wilayah desa yang dipandang masih memiliki kekuatan ikatan tradisional. Desa bukan dianggap sebagai sebuah keterbelakangan, melainkan secara difutif menjadi sumber kebudayaan yang pada akhirnya memucat tatkala melimpahnya masyarakat menuju ke wilayah kota.

Di bab sembilan mengenai perkotaan dapat kita lihat bahwa gelombang pertama tradisi Antropologi Amerika yang memandang desa sebagai objek, lebih dikembangkan di wilayah Amerika Latin dan Asia. Clifford Geertz adalah salah satu dedengkot pengembang kajian ini. Geertz melihat bahwa desa justeru bukan sebagai unit yang terikat dan tertutup dengan wilayah lain, namun ada hubungan holistik dengan bagian-bagian wilayah sekitarnya, khususnya wilayah kota. Desa juga mempunyai hubungan dengan berbagai sistem yang jauh lebih besar seperti pemerintahan negara, nasionalisme bahkan dengan ekonomi dunia. Holistik-nya bentuk sistem desa ini dapat kita lihat pada kajian Geertz di Mojokuto; Tabanan Bali dan Fez di Maroko. Antropologi Amerika berhasil menggeser dominasi mode kajian struktural fungsional dan teori aktor atau agensi sebagai pusat sebuah tindakan sosial. Yang lebih mengembang adalah tradisi kajian Max Weber yang memposisikan variasi cara dari eksistensi sebuah sistem berdasarkan struktur-struktur dan simbol yang mendominasi serta membentuk individu. Simbol dilihat sebagai seperangkat makna yang menandai pada berbagai kebudayaan[3].

Di bab terakhir King dan Wilder menyimpulkan dengan mengakui kuatnya pengaruh antropologi Amerika, khususnya dari “duta besar“ antropologi abad 20, Clifford Geertz dan Max Weber, yang demikian menjadi panutan bagi para sarjanawan lokal di kawasan ini. King juga mencermati hilangnya pendekatan Marxian di kawasan Asia Tenggara dalam melihat perubahan masyarakat dari tradisionalisme ke modernitas, industrialisasi dan ketimpangan. Ini terkait erat dengan kekuatan ekonomi politik dari Amerika Serikat dan kebijakan-kebijakan negara pasca-kolonial Asia Tenggara di tahun 1970-an hingga kini yang memang ‘anti‘ pendekatan Marxian. Selain itu, seperti diakui oleh penulis, buku ini tidak mengkaji perkembangan agama di Asia Tenggara dari kacamata antropologis. Meski agama penting dalam elemen kebudayaan dan kajian agama juga penting dalam mengamati perkembangan munculnya relijiusitas (fundamentalisme agama di Indonesia, ortodoksi Islam di Malaysia dan ortodoksi Katolik di Filipina, dan separatisme Islam di Thailand dan Filipina Selatan) belakangan di Asia Tenggara namun penulis juga beranggapan bahwa kajian agama cukup membutuhkan porsi energi yang besar, sehingga hanyalah akan menambah ketebalan buku ini.

Victor T. King adalah seorang yang antropolog senior kelahiran Inggris. Ketertarikan penelitiannya adalah pada perkembangan ekonomis sosial dan antropologi terapan khususnya pada masyarakat Malaysia, Brunei dan Indonesia. Ia juga sempat menerbitkan buku tentang perkembangan sosiologi di Asia Tenggara. Seperti pada bab-bab kajian di buku ini, belakangan King juga tertarik dengan perkembangan pariwisata, perubahan lingkungan identitas etnis dan politik serta perbandingan masyarakat Asia Tenggara dan Timur Tengah. King telah lama mengajar tema antropologi dan sosiologi Asia Tenggara sejak tahun 1970-an. Jadi buku ini adalah semacam karya masterpiece dari kumpulan bacaan dan pemikiran kritis yang telah dibangunnya selama kurang lebih tiga puluh tahun. King lulus dari sekolah master-nya di School of Oriental and African Studies (SOAS)—The University of London, dan kemudian ia melakukan studi lapangan antropologis-nya di Kalimantan, Indonesia untuk disertasi doktoral-nya di University of Hull. Kebanyakan karirnya dihabiskan di Centre for South-East Asian Studies and the Department of Sociology and Social Anthropology di University of Hull. Dan ia menjadi professor pada tahun 1988 dengan keahlian khusus-nya pada kajian Asia Tenggara. Terakhir King bekerja di Leeds Metropolitan University dan Chichester University, yang bekerja sama dengan The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) khusus-nya kajian Asia Tenggara. Sedangkan William D. Wilder adalah seorang profesor di Durham University yang telah melakukan penelitian lapangan di Semenanjung Malaya dan beberapa daratan lainnya di Asia Tenggara. Buku ini mengkaji berbagai kekayaan literatur yang ada mengenai Asia Tenggara. Dua penulisnya adalah kampiun di bidang antropologi dengan konsentrasi kajian yang berbeda wilayah. Victor T. King meneliti kawasan Kalimantan, sedangkan Wilder adalah ahli pada masyarakat Semenanjung Malaya. Keduanya sudah berusia cukup sepuh di 60 tahun, sehingga tulisan ini merupakan refleksi literatur dari dua begawan antropolog terhadap literatur-literatur etnografis yang telah beredar di Asia Tenggara pasca Perang Dunia II. Buku ini bukan hanya sangat penting dan berarti bagi para siswa yang tengah duduk di bangku sarjana antropologi, sosiologi dan sejarah, namun juga berguna bagi para mahasiswa pasca sarjana, pengajar, peneliti, tenaga profesional dan masyarakat awam yang ingin mengetahui budaya orang lain dan bercermin pada budaya-nya sendiri. [ ]

 

23 November 2012

 

Edisi Seri Pemikiran Ilmu Sosial Indonesia

 

* Mahasiswa Doktoral Cultural Anthropology, University of California—Santa Cruz, USA.

 


[1] Urutan buku tersebut antara lain (1) J. S. Furnivall, Colonial Policy and Practice: A Comparative Study of Burma and Netherlands India (2) Anthony Reid, 
__._Southeast Asia in the Age of Commerce
(3) James C. Scott, The Moral Economy of the Peasant: Rebellion and Subsistence in Southeast Asia (4) Benedict
__._Anderson, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (5) Clifford Geertz, Agricultural Involution: The Process of
__._Ecological Change in Indonesia
(6) Reynaldo Clemena Ileto, Pasyon and Revolution: Popular Movements in the Philippines, 18401910 (7) Edmund
__._Leach, Political Systems of Highland Burma: A Study of Kachin Social Structure. (8) James C. Scott, Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant
__._Resistance
(9) Clifford Geertz, The Religion of Java (10) George M. T. Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia (11) William Roff, The Origins of
__._Malay Nationalism
. (12) Van Leur,  Indonesian Trade and Society: Essays in Asian Social and Economic History. Periksa selanjutnya SOJOURN: Journal
__._of Social Issues in Southeast Asia
Vol. 24/1 (April 2009). Special Focus on "The Most Influential Books of Southeast Asia".
[2] Robert Redfield adalah antropolog yang melakukan penelitian pada masyarakat desa Meksiko di Tepoztlan pada tahun 1926. Teorinya “tradisi besar” 
__._dan “tradisi kecil” merupakan sebuah upaya serius mengkaji bangsa modern dengan mengaplikasikan metode-metode dan konsep-konsepnya yang
__._tengah dikembangkan dalam riset pada masyarakat primitif. Redfield adalah produk dari gabungan departemen sosiologi dan antropologi di
__._Universitas Chicago, yang merupakan tempat mazhab urban ekologi ilmu kelompok sosiologi yang dipimpin oleh Robert Park, ayah mertuanya sendiri.
[3] Periksa Bernard S. Cohn. An Anthropologist among the Historians and Other Essays. 26-8: 1990. Oxford: Oxford University Press.

 

 

 

Tulisan Terkait:

Meretas Jalan dari “Kolonisasi” ke “Indigenisasi” Antropologi Indonesia

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest