Home / Edisional / Uang & Hutang dalam Pembentukan Peradaban Manusia

Uang & Hutang dalam Pembentukan Peradaban Manusia

 

oleh: Farabi Fakih *

 

DAVID GRAEBER adalah seorang antropolog, aktivis politik, penganut anarkisme dan sejarawan. Ia banyak menulis tentang uang, hutang, kapitalisme dan peradaban. Bukunya; Debt: The First 5,000 Years, adalah bukti keberagaman pengetahuan-nya, tawaran mendiskusikan peradaban baru guna membahas masa depan, karya anti–industri keuangan yang anti–negara dan penggunaan pendekatan antropologi sebagai pintu masuk dalam menulis sejarah. Seperti Jared Diamond dalam karyanya Guns, Germs and Steel: The Fates of Human Societies, Graeber datang tanpa malu dengan pesan politik. Sebagai salah seorang pencetus dan pendukung gerakan Occupy yang marak beberapa tahun lalu, Graeber ingin mengkontekskan peristiwa-peristiwa ekonomi, politik dan sosial dunia sejak beberapa tahun ini sebagai pergeseran epos dalam perjalanan peradaban manusia. Jika Diamond menggunakan geografi dan biologi sebagai artikulasi anti–rasisme, Graeber ingin menggambarkan sebuah dunia yang sedang dalam ambang perubahan. Arah dari perubahan tersebut adalah praksis dari bukunya tersebut. Pilihannya ada di tangan pembaca. Argumen-argumennya hanya bisa diterima jika kita mampu keluar dari kekangan-kekangan mitos peradaban kita sekarang.

 

 

Mitos tersebut diganti dengan gambaran baru akan serangkaian cara-kerja yang berbeda dalam mengatur hubungan antar–manusia. Efek dari perbedaan cara kerja tersebut menjadi dasar guna melihat sejarah peradaban manusia. Penggambaran cara-kerja ini terbagi dalam dua model umum yang ditandai dengan cara manusia melakukan pertukaran dengan sesama: dengan uang (koin) atau dengan hutang (kredit). Olehnya, sejarah peradaban digambarkan sebagai osilasi di antara dua kutub ini. Periodisasi-nya diliputi dengan zaman purba (kredit) —— zaman aksial (uang – 800 SM — 600 M) —— masa abad pertengahan (kredit – 600 M — 1450 M) —— masa kerajaan-kerajaan kapitalisme —— capitalist empires (uang – 1450 M — 1971 M) —— dan masa mutakhir (kredit – 1971 M —  sekarang). Graeber memberi nilai pada setiap periode sebagai argumen politiknya; masa uang adalah masa-masa buruk, masa-masa kredit adalah masa baik. Penggunaan pendekatan longue duree ini amat menarik karena ia efektif dalam mempertanyakan dogma-dogma paling kuat yang telah menjadi common sense bagi sebagian umat. Jika Anda kembali ke waktu yang cukup tua, Anda akan menemukan asal-muasal dari apapun dan dengan pemahaman itu, Anda bisa bertanya ulang. Melebihi sejarawan, antropolog berhadapan dengan masa lalu sebagai akibat dari posisinya sebagai pengamat masyarakat-masyarakat dengan bentuk kebudayaan yang paling tua. Dengan melakukan pendekatan awal dari mereka, Graeber masuk ke dalam sejarah menuju masa kini.

Saya akan berusaha menjabarkan karyanya dengan pemahaman bahwa bukunya jauh lebih kaya dengan konteks yang jauh lebih rumit dan menarik dibandingkan dengan review yang Anda baca ini. Setelah itu saya bisa menyimpulkan ide-ide utama dia dan pada akhirnya melihat karyanya sebagai cara pendekatan yang bisa dilakukan baik dalam sejarah, maupun khususnya dalam sejarah Indonesia. Delapan bab pertama adalah pembahasan teori, filsafat dan antropologi dari uang dan hutang. Empat bab terakhir adalah bab-bab sejarah-nya. Review saya juga dibagi jadi dua, antara teori mengenai kapitalisme dan sejarah akan uang dan hutang.

 

Mitos Kapitalisme

Ada empat mitos yang menjadi dasar dari kapitalisme modern; Pertama, ekonomi pada dasarnya adalah sistem barter. Kedua, hutang (dan rente) adalah sesuatu yang negatif. Ketiga, pasar adalah sesuatu yang nyata independen yang ada di luar sana. Dan yang terakhir adalah bahwa ada sesuatu yang disebut sebagai ekonomi dan hal tersebut terpisah dalam satu kompartemen sendiri yang berbeda dengan kompartemen-kompartemen lainnya, seperti politik, kebudayaan, hubungan sosial dan moralitas. Akar-akar penggambaran ini dicetuskan oleh serangkaian filsuf materialis zaman kerajaan-kerajaan kapitalisme seperti Thomas Hobbes, John Locke dan, tentunya; Adam Smith, yang ingin mengembangkan sistem hubungan antar-manusia yang dapat melegitimasi hubungan-hubungan ekonomi-sosial-politik yang baru secara materialis, logis, rasional dan tanpa “kekotoran” hubungan asli masyarakat yang dipengaruhi oleh perasaan-perasaan manusia (cinta, benci, setia, kehormatan, rasa iri dan sebagainya).

Hal penting pertama yang dikemukakan Graeber adalah bahwa bentuk hubungan barter, di mana seorang penggembala menukarkan satu kambing-nya untuk tiga sak beras milik seorang petani, tidak pernah ditemukan oleh satu orang antropolog-pun di masyarakat manapun di dunia. Hubungan ekonomi manusia tidak dimulai dengan barter dan ia bahkan tidak dimulai dengan uang; melainkan ia dimulai dengan hutang. Hubungan yang bersifat barter hanya bisa terjadi pada hubungan antara orang tak dikenal, stranger, yang oleh karenanya adalah hubungan impersonal yang non-sosial. Di luar itu, hubungan pertukaran sebagian besar didominasi oleh orang-orang yang saling mengenal dalam sebuah masyarakat. Hubungan selalu adalah hubungan kemanusiaan. Pertukaran bukan transaksi antara orang tak-dikenal, melainkan, dalam spirit Marcel Mauss, hadiah antara orang-orang yang saling mengenal. Sebelum ada uang, orang punya hutang; ketika seorang penggembala membantu dengan memberi seekor kambing guna merayakan pernikahan anak petani, akan dicatat pemberian itu sebagai hutang yang akan dilunasinya nanti; demikian juga ketika penggembala membutuhkan beras atau mungkin hal lain yang dimiliki oleh petani itu.

Hubungan pertukaran manusia yang didasarkan hutang itu adalah hubungan moral yang dilihat bukan hanya sebagai hubungan ekonomis, tetapi awalnya lebih diutamakan sebagai hubungan agamis. Ia setuju dengan Michel Aglietta dan André Orléan, dua di antara serangkaian ilmuan sosial, filsuf dan sejarawan Eropa yang, ketika berhadapan dengan munculnya mata uang Euro, melancarkan serangkaian penelitian dan pertanyaan akan sifat, asal muasal dan legitimasi dari uang. Mereka berargumen bahwa asal-muasal dari uang ada pada perasaan hutang primordial terhadap Tuhan, yaitu hutang dasar manusia kepada masyarakat-nya, atau pada kelanjutannya, kepada raja-nya. Rasa berhutang kepada masyarakat adalah dorongan yang diperlukan guna menciptakan masyarakat itu sendiri. Ia mendorong individu untuk menjadi bagian dan memberi sumbangsih terhadapnya. Debt is the essence of society, oleh karenanya hutang itu sendiri bukanlah hal yang pada intinya negatif, melainkan merupakan bentuk perekatan yang menciptakan perasaan bersosial. Manusia dan masyarakat membutuhkannya. Akar moral ini akan digunakan oleh raja guna menciptakan bentuk hubungan hirarkis yang menjadi pondasi dari negara.

Dari Raja sebagai Tuhan, legitimasi ini akan dipindahkan kepada ilmu pengetahuan, dan berakhir kepada dogma yang didasarkan atas ide common sense. Hal yang pada awalnya dilaksanakan oleh gereja/kuil diambil alih oleh raja sebagai pengejawentahan negara. Agama dan raja menjadi satu. Ini adalah legitimasi dari uang dan, berkaitan dengan itu, legitimasi daripada pajak. Pajak, berbeda dengan pandangan modern, tidak ditarik agar negara bisa menyediakan public goods, ia ditarik untuk menciptakan pasar dan oleh karenanya, memperkuat dan melebarkan militer negara. Ketika raja mengeluarkan uang, dia juga memaksa rakyatnya untuk mengembalikan uang yang dikeluarkannya dalam bentuk pajak. Karena raja menggaji tentara-nya dengan uang yang dikeluarkannya, pajak memaksa rakyat untuk menyediakan barang atau jasa guna memenuhi kebutuhan tentara, agar mereka mendapat uang itu untuk bisa dibayar balik kepada negara. Pasar tercipta sebagai paksaan negara untuk memenuhi kebutuhan tentara. Bentuk sirkuler dari uang–pajak–uang adalah jerat guna memaksa orang untuk mengambil bagian dalam pasar yang tercipta. Berbeda dengan pertukaran sosial, pasar ini mengubah hubungan masyarakat menjadi hubungan antar stranger, hubungan-hubungan ekonomi modern mulai tercipta sebagai bagian erat dari ciptaan negara, bukan sebagai ciptaan hubungan antar-manusia.

Pada saat yang bersamaan adalah cara mendapatkan koin, yaitu emas atau perak: melalui perbudakan. Ekspansi dari negara, i.e., ekspansi dari pasar, membutuhkan bukan hanya ekspansi dari pengguna uang tetapi juga penciptaan dari uang. Hal ini dilakukan melalui pertambangan-pertambangan milik negara yang dijalankan oleh budak-budak. David Graeber menyebut ini sebagai kompleks koin–militer–budak (coin–military–slave complex), sebuah sistem yang didorong oleh negara guna memperkuat dan melebarkan kuasa-nya. Sistem ini berdasar pada asumsi akan pertumbuhan. Ini berarti makin banyak rakyat yang hutang-nya makin besar sehingga tidak mampu lagi membayar prinsipal ataupun bunga sekalipun. Ketika manusia meninggalkan hubungan sosial dan memasuki hubungan pasar, kemungkinan besar pada suatu saat ia akan terjerat dalam hutang yang tidak terbayarkan. Ketika jumlah mereka cukup, akan ada ledakan protes sosial. Hampir semua protes sosial didorong atas keinginan untuk menghapus hutang. Protes sosial seringkali menciptakan kondisi yang sangat merugikan negara, seringkali bahkan menghancurkan legitimasi-nya. Oleh karenanya, raja beserta masyarakat selalu menciptakan mekanisme-mekanisme tertentu guna memenuhi keinginan protes sosial: yaitu menge-nol-kan hutang. Pada zaman dahulu, bentuk-bentuk macam ini dilembagakan sebagai bagian dari kebijakan sosial negara.

Proses pemaafan hutang adalah ide yang tidak mudah diterima pada zaman sekarang. Hutang adalah kewajiban moral si–pengutang dan ia harus membayarnya. Hal ini juga berakar dari ide kita mengenai pasar yang independen. Tapi paparan Graeber mengenai hal ini menunjukkan bahwa pasar dan negara saling bertautan. Mereka saling membutuhkan dan oleh karenanya, hukum pasar seharusnya bukanlah hukum yang terpisah dan benar, tetapi benar dalam hubungannya dengan negara. Pembabaran guna menjelaskan saling-sengkarutnya hubungan ekonomi dengan moralitas, sosial dengan politik, negara dengan pasar dan individu dengan masyarakat adalah sebuah gambaran yang menantang kesahihan pandangan-pandangan pencerahan akan sistem kemasyarakatan yang didasarkan atas rasio dan matematika. Graeber selanjutnya menjelaskan proses perubahan-perubahan ini melalui sebuah penjabaran periodisasi sejarah yang ia gunakan guna menggambarkan proses munculnya kapitalisme modern.

 

Sejarah Uang dan Hutang

Dalam periodisasi ini, Graeber menunjukkan hubungan intelektual dan kekuasaan antara manusia dengan uang/hutang. Periode ini adalah tentang sejarah ide selain sebagai sejarah institusional peradaban kita. Yang dimaksud dengan peradaban kita di sini adalah peradaban-peradaban yang menjadi inti dari peradaban dunia lama: Cina, India, Islam dan Eropa. Dalam hal ini, Indonesia masuk, kadang sebagai bagian dari India, kadang bagian dari Islam, dan akhirnya bagian dari Eropa. Setiap pergeseran hubungan manusia dari koin menuju kredit dan sebaliknya menciptakan perubahan-perubahan yang dahsyat dari cara kerja peradaban tersebut. Walaupun tiap peradaban memiliki konteks lokal yang menjadikan perkembangannya unik, secara garis besar mereka menjadi bagian dari periodisasi tersebut karena sifat penggunaan koin/kredit mereka sama di setiap peradaban. Setiap pergeseran tersebut memaksa manusia-manusia yang tinggal dalam peradaban itu untuk memahami perubahan tersebut. Gelombang perubahan ide-ide spiritual dan filsafat mengenai masyarakat dan moralitas, akar-akar dari semua filsafat dan agama kita ada pada pergeseran makna terhadap uang/hutang dalam setiap gelombang periodisasi yang terjadi.

 

——Masa Aksial (800 SM – 600 M)——

Masa aksial adalah sebuah periode dalam sejarah manusia ketika, pertama di Timur Tengah lalu di berbagai peradaban lainnya seperti India dan Cina, pasar muncul sebagai akibat dari adanya administrasi pemerintahan yang mula-mula di kuil lalu di negara yang didukung oleh tentara. Negara menghilangkan bentuk-bentuk kredit kecuali satu: yaitu koin emas/perak di mana ia mampu menguasai dan me-monopoli. Hal ini menyebabkan munculnya kompleks militer–koin–perbudakan, yang secara langsung menciptakan kondisi naiknya filsafat materialisme. Ketika manusia-manusia tercerabut dari hubungan sosial/manusia mereka dan masuk ke dalam hubungan pasar yang impersonal, perasaan keter-isolasi-an tersebut mendorong usaha memahaminya lewat ide-ide baru. Materialisme dalam hal ini adalah pandangan akan dunia yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan material dan bukan kekuatan supra-natural serta dalam kemunculan ide bahwa tujuan manusia adalah mengumpulkan kekayaan materiil. Pada saat yang sama, muncul reaksi filsafat yang bertentangan dengan ide-ide ini dengan mengeksplorasi ide-ide kemanusiaan dan jiwa dalam usaha mereka menciptakan fondasi etika dan moralitas yang baru. Filsuf-filsuf ini seringkali bergabung dengan gerakan-gerakan perubahan sosial. Pertama kali dalam sejarah manusia, gerakan sosial terintegrasi dalam sebuah gerakan intelektual.

Pada awalnya, terdapat gerakan intelektual untuk menciptakan sistem moralitas berdasarkan pada pasar impersonal, tetapi gerakan ini cepat bankrut karena ide bahwa manusia itu pada dasarnya selalu dalam kondisi berhutang, tidaklah menarik. Manusia membutuhkan ide bahwa pada suatu saat mendatang, hutang tersebut akan dihapuskan. Pada awalnya negara menentang gerakan-gerakan filsafat ini, tetapi lalu mereka mengadopsinya. Kristiani di Roma pada abad ke 4, Buddhisme di India pada masa Raja Asoka, penerapan Konghucu oleh Kaisar Wu Ti pada abad ke 2 Masehi di Cina. Akibat dari gerakan-gerakan ini ada pada pemisahan dua aktivitas manusia yang dahulu dilihat secara lumrah sebagai satu; pasar di satu sisi dan agama di sisi lain. Ekonomi membutuhkan satu set moralitas yang berbeda dengan agama.

 

——Masa Abad Pertengahan (600 M – 1450 M)——

Jika Masa Aksial adalah zaman materialisme, Abad Pertengahan adalah zaman transendental. Imperial overreach(1) serta kejadian-kejadian lain menyebabkan runtuhnya sebagian besar dari negara-negara zaman aksial. Roma runtuh, kerajaan Asoka di India pun pecah menjadi beragam kerajaan kecil. Cina, karena tradisi birokrasi-nya yang kuat, mampu menciptakan sebuah negara yang lemah. Hanya di Timur Tengah, dengan kemunculan Islam terdapat negara kuat. Mundurnya negara menghilangkan kompleks tentara-uang-perbudakan serta pajak. Alat pertukaran beralih dari uang keluaran raja menjadi keluaran beragam bentuk dan institusi masyarakat ataupun agama yang bersifat lokal. Kuil dan gereja muncul sebagai institusi ekonomi; menjadi tempat deposito uang dan bank-bank baru. Di dunia Islam, sebuah sistem perekonomian baru tercipta melalui serangkaian alat-alat finansial virtual baru; cek, letters of credit, uang kertas dan lain-lain muncul. Ini semua menciptakan sebuah sistem perdagangan baru yang menghubungkan Timur Tengah, India, Afrika Timur, Asia Tenggara dan Cina dalam perdagangan Lautan Hindia.

Yang amat menakjubkan dari sistem perdagangan ini adalah ketiadaan dari peranan negara. Pedagang-pedagang Islam bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin agama, telah menciptakan sebuah sistem perekonomian yang terpisah dari negara. Sistem tersebut dapat berjalan lewat adanya perasaan saling percaya yang kuat di antara pedagang-pedagang lautan Hindia. Dalam sistem ini, uang tidak lagi digunakan. Serangkaian peralatan-peralatan finansial baru itu mengalihkan perekonomian kembali menggunakan sistem kredit. Di Eropa, hubungan feodal serf-manor menggantikan hubungan impersonal uang, dengan hubungan moral antara tuan dengan para serf atau vasalnya. Gereja di Eropa dan Kuil di Cina menjadi institusi bank, di mana deposito masyarakat dihimpun dan dipinjamkan lagi tanpa bunga. Industri-industri muncul di sekeliling gereja dan kuil. Kredit pula menjadi sistem dominan dan dia dapat dikeluarkan dalam bentuk apapun dan oleh siapapun tanpa monopoli oleh negara.

 

——Masa Kerajaan Kapitalisme (1450 M – 1971 M)——

Pergeseran menuju masa ini ditandai oleh dua hal; pertama pergeseran kembali ke Masa Aksial ketika uang hanya boleh beredar dalam bentuk koin emas/perak, serta munculnya kembali negara dengan sistem militer–koin–perbudakannya. Berkaitan dengan itu pula adalah kembalinya bentuk-bentuk filsafat materialisme oleh, seperti yang telah disebut di atas, orang-orang seperti Thomas Hobbes, John Locke dan Adam Smith, tetapi juga oleh Karl Heinrich Marx dan pemikir-pemikir kiri lainnya. Zaman Aksial menunjukkan kelemahan sistem tersebut ketika rakyat memberontak kekuatan negara ketika perbudakan atau hutang kepada negara menjadi begitu berat untuk dipikul. Masa ini memiliki perbedaan yang penting; Eropa telah meng-kolonisasi Amerika sehingga sistem militer–koin–perbudakan dapat diekspor di luar masyarakat Eropa tersebut. Ekspansi pasar didorong oleh negara Eropa ke seantero dunia bukan lewat perdagangan melainkan lewat tentara dan senjata. Pondasi dasar dari perekonomian tersebut adalah bentuk kapitalisme keuangan baru yang, walaupun swasta, didukung oleh kekuatan senjata negara.

Negara tidak menghancurkan hubungan-hubungan ekonomis lama, melainkan menggantikan hubungan manusia menjadi hubungan ekonomi yang impersonal. Apa itu kapitalisme? Menurut Graeber: “…A gigantic financial appartus of credit and debt that operates – in practical effect – to pump more and more labor out of just about everyone with whom it comes into contact and as a result produces an endlessly expanding volume of material goods.” Sebuah sistem keuangan yang mengintegrasikan dan menghisap manusia ke dalamnya dengan memaksanya menyumbangkan lebih banyak tenaga agar terpenuhi kebutuhan sistemisnya akan pertumbuhan. Ironisnya, sistem tersebut hanya dapat berjalan jika manusia yang menjalankannya tidak menganggap sistem itu akan jalan terus. Pandangan tersebut selalu menyebabkan keserakahan, ketiadaan pengawasan dan keteledoran pemakaian sumber daya yang menyebabkan krisis, seperti krisis terakhir tahun 2008. Kapitalisme hanya bisa berjalan dengan ide bahwa ia selalu ada dalam ambang kehancuran. Hal tersebut memaklumkan pengorbanan yang dilakukan oleh orang kebanyakan dalam melanggengkan ketidak–seimbangan penguasaan sumber daya yang dimiliki oleh orang-orang kaya.

Memahami sejarah kolonial Indonesia dalam kacamata di atas menyingkap pertanyaan-pertanyaan menarik. Sebagai contoh, apakah hubungan feodal yang diperkuat oleh negara kolonial lewat penggunaan aristokrat lokal itu memperkuat hubungan impersonal atau sebaliknya? Jika begitu, apakah negara kolonial itu pada dasarnya modern atau konservatif?

 

——Masa Sekarang (Neoliberalisme?) (1971 M – sekarang)——

Masa di mana David Graeber menyelesaikan bukunya adalah masa sekarang. Masa ini adalah masa transisional di mana bentuk sistem yang tercipta masih belum terlihat dengan jelas. Penghilangan standar emas pada tahun 1971 menandakan permulaan dari masa tersebut, ketika dollar diambangkan dan uang kertas hanya didukung oleh janji negara tanpa emas di baliknya. Jika melihat kembali pada Abad Pertengahan, masa ini seharusnya juga melihat menurunnya peranan negara, peningkatan bentuk pertukaran kredit yang berdasarkan kepercayaan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Krisis 2008 menunjukkan bahwa negara tetap lembaga sentral dalam menyelesaikan masalah perekonomian. Pelumas utama sistem keuangan tetap didasarkan atas senjata negara dan bukan kepercayaan.

Tapi ia melihat harapan akan pergeseran akan cara kerja peradaban kita, khususnya dengan adanya gerakan-gerakan populis yang menentang aransemen lembaga keuangan dan negara. Hanya waktu tentunya yang bisa menjawab. Internet dengan ruang-ruang common meniadakan bentuk-bentuk hirarkis dan menciptakan bentuk-bentuk partisipatif yang lolos dari pengawasan negara. Gerakan-gerakan politik awal abad 21 mulai dari gerakan anti–WTO/IMF, politik Tea Party, gerakan terorisme Islam-radikal dan gerakan Occupy, sebagai contoh, menunjuk pada pergeseran-pergeseran menuju masa “kredit” dan bentuk-bentuk baru dari model persehubungan politik-ekonomi-sosial-kebudayaan yang baru pula.

 

Ide dan Kritik

Ringkasan di atas tentu tidak sepenuhnya menangkap kekayaan pembahasan ide-ide yang muncul di dalam buku Graeber setebal 391 halaman (di luar catatan kaki). Tujuan utama buku ini tentunya adalah guna mengubah cara pembaca memahami perekonomian setelah sekian lama didominasi oleh satu macam ide akan cara kerja pertukaran sehingga menjadi common sensical. Tujuan dalam jangka dekatnya adalah meyakinkan pemerintah Amerika guna memaafkan hutang rakyat yang terjerat dalam krisis finansial 2008. Untuk hal pertama, buku tersebut mencapai tujuannya. Untuk hal kedua, ia gagal. Ada beberapa catatan yang berhasil saya catat mengenai ide utama buku tersebut;

1. Perekonomian adalah bagian dari hubungan antar-manusia, dan bentuk-bentuk 
__impersonal dari kapitalisme ada baiknya diubah.
2. Negara dan pasar adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
3. Ekspansi kapitalisme adalah ekspansi bentuk-bentuk impersonal yang dipaksakan
__oleh negara dan didorong oleh logika sistem keuangan kapitalis.
4. Kita membutuhkan filsafat perekonomian baru yang mengundang kembali hubungan
__manusia dan tidak terfokus pada mantra pembangunan terus-menerus.

 

Sebagai seorang anarkis, Graeber tentunya mendukung sebuah masa depan di mana peranan negara dikurangi. Sebagai praksis, buku ini terbatas karena sifat dari pembahasannya yang terfokus pada sejarah ide dan filsafat tentang hutang. Ada beberapa asumsi yang menurut saya melemahkan buku ini. Pertama, pembahasan Abad Pertengahan cenderung meromantisir pedagang sebagai kelompok damai dan feudalisme sebagai bentuk hubungan manusia. Zaman Aksial, walaupun menjadi fondasi bagi semua dasar filsafat serta pengetahuan kita sampai sekarang, digambarkan bagaikan zaman Jahiliyah. Jika pun benar, tentunya ada jasa yang harus diakui mengenai masa-masa yang begitu aktif menghasilkan filsafat, ide dan peradaban.

Kedua, ia menggambarkan sejarah zaman modern hanya dalam hubungan kapitalisme dan kolonialisme-nya, hampir sepenuhnya melupakan perkembangan-perkembangan menakjubkan zaman modern yang positif, seperti perkembangan eksponensial ilmu pengetahuan, melebarnya nilai-nilai hak asasi manusia dan sigapnya teknologi dalam menjawab tantangan mengenai kebutuhan energi dan makanan manusia yang tumbuh pesat. Ia tidak mempertanyakan apakah ledakan ilmu dan kebudayaan itu akan terjadi tanpa munculnya kapitalisme modern. Paradoks modernitas dengan kemunculan welfare state dan Keynesianism di Barat menunjukkan bahwa kritik utamanya terfokus pada waktu setelah periodisasi kerajaan kapitalisnya. Bukankah neoliberalisme produk dari transisi menuju dunia baru?

Kritik terakhir adalah kritikan yang dapat dilontarkan kepada banyak golongan kritikus kapitalisme; apa tawaran sistem yang bisa diajukan selain kapitalisme? Ini berkaitan dengan praksis buku tersebut. Tentunya, buku ini ada disclaimer efektif dengan menyatakan bahwa tujuannya hanyalah untuk mendorong agar orang mulai berbicara mengenai alternatif masa depan yang non-kapitalis. Tetapi tentunya telah ada beberapa usaha menawarkan alternatif. Saya teringat langsung pada hal-hal seperti gerakan zero–growth, zeitgeist movement atau proposal-proposal alternatif dari gerakan lingkungan. Kalau begitu, limitasi antropologi dan sejarah terletak pada kemampuannya hanya untuk menunjukkan masalah. Tetapi itu, menurut saya, sudah cukup. Bagaimanapun, “aktor jahat”  yang telah ditandai oleh buku tersebut adalah negara dan sistem keuangan dunia. Usaha Graeber untuk meyakinkan pandangan anti–kapitalisme keuangan adalah usaha yang berat, dan walaupun pada akhirnya ia tidak menawarkan gambaran model masa depan, ia mungkin berhasil untuk mendorong adanya diskusi akan masa depan yang tidak dibelenggu oleh hanya pandangan-pandangan dogmatis tertentu. Bukankah kita berada pada ambang masa ketika seorang anarkis dapat diundang pada acara finansial MSNBC sebagai narasumber?

 

Sejarah dan Sejarah Indonesia

Dalam buku awalnya berjudul Fragments of an Anarchist Anthropology, Graeber bertanya mengapa tidak ada antropolog anarkis ataupun sosiolog anarkis, padahal anarkisme, sebagai sebuah gerakan, sedang meledak. Pertanyaan itu juga bisa diajukan kepada sejarawan; mengapa tidak ada sejarah anarkis? Bukan sejarah daripada gerakan anarkis melainkan anarkisme sebagai pendekatan dalam memahami masa lalu. Ini tentu berarti, seperti buku ini, adanya kecurigaan terhadap pemerintahan dan negara; adanya re-jukstaposisi dari institusi-institusi dan zaman-zaman yang sudah lumrah ini. Masa Abad Pertengahan sebagai zaman yang tercerahkan dan manusiawi? Feodalisme sebagai hubungan personal? Pekerjaan modern sebagai bentuk lain dari “indentured labor”? Ini juga berarti melupakan konvensi umum sejarah; bahwa sejarawan adalah netral secara politis, bahwa buku sejarah bukanlah manifesto terhadap imajinasi politik tertentu. Tentunya, jika ada sejarawan anarkis, adapula sejarawan konservatif, yang pro–negara dan pro–pasar. Buku Graeber tidak menjadikan saya seorang anarkis, tetapi ia menunjukkan betapa pentingnya dialog khususnya ketika kita menghadapi, apa yang ia kira kita alami sekarang; pergeseran paradigmatik peradaban. Dalam hal ini sejarah bukan saja berguna untuk memahami masa lalu, tetapi seharusnya berperan aktif dalam membentuk dan mengimajinasikan masa depan.

Sifat peran aktif dalam wacana negara inilah yang terasa sangat kurang dalam sejarah Indonesia. Hal ini mungkin disebabkan karena sejarah Indonesia dari awal dirancang sebagai sejarah negara–bangsa, i.e. sejarah bangsa dengan sakralitas-nya, sehingga pikiran mempertanyakan hal ini tampak tidak masuk akal dalam pendekatan kita. Negara tidak memiliki sejarahnya sendiri, sehingga hubungan antara negara dan bangsa menjadi rancu. Sejarah “bangsa Indonesia” digambarkan sebagai sejarah melawan negara (yang nantinya bernama) Indonesia. Jarang sejarawan Indonesia mempertanyakan, sebagai contoh, bagaimana menyatukan ide negara kolonial yang predatori dengan negara pasca–kolonial yang notabene sahih, didukung rakyat dan demokratis, padahal kedua institusi itu pada dasarnya adalah negara yang sama. Memahami adanya perbedaan antara sejarah negara, sejarah bangsa dan sejarah negara–bangsa mungkin akan membawa sejarah pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam soal permasalahan-permasalahan Indonesia masa kini. Memahami pula hubungan negara, ekonomi, sosial dan kebudayaan sebagai saling berkaitan melebarkan nuansa pemahaman perkembangan Indonesia. Permasalahan teknis utama yang saya lihat adalah keterbatasan pemahaman kita akan sejarah Indonesia longue duree. Tanpa pengetahuan masa lalu jauh yang bagus, kita akan selalu terperangkap dalam miopia common sense modern kita. Sehingga pertanyaan-pertanyaan penting ini tampak dihindari, bukan malah ditantang. Usaha-usaha untuk mengembangkan sejarah non–negara, seperti sejarah lokal ataupun sejarah budaya seringkali terjebak dalam bentuk-bentuk anakronisme dan isolatif karena ia tidak dihubungkan dalam sebuah pertanyaan mengenai negara (atau isu lain yang besar) secara lebih mendalam. Jika sejarah Indonesia memaksakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sopan terhadap institusi-institusi negara ataupun lembaga tradisional lainnya (tradisi, budaya, agama, lembaga pendidikan, ekonomi, dst.), maka mungkin inilah celah agar kita mampu mulai memperbaikinya dan sejarah mulai berperan dalam perbincangan masa depan masyarakat kita. [ ]

 

5 Januari 2013

 

* Farabi Fakih; tim redaksi Etnohistori, pengajar di Ilmu Sejarah–Universitas Gadjah Mada, 
__.kandidat Ph. D. Ilmu Sejarah di Universitas Leiden.

 

Catatan Editor:

(1) Imperial overreach atau imperial overstretch adalah hipotesis yang menyatakan 
__._bahwa sebuah kerajaan dapat berkembang sendiri melampaui kapasitasnya di
__._dalam mengelola atau memperluas kemampuan militer dan ekonomi-nya.
__._Istilah ini dipopulerkan oleh sejarawan dari Yale University; Paul Kennedy.

 

 



Edisi Seri Pemikiran Ilmu Sosial Indonesia

 

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

Tanggapan

  • Hello, guest