Home / Edisional / Genealogi Gerakan dan Studi Perempuan Indonesia

Genealogi Gerakan dan Studi Perempuan Indonesia

 

Pengantar Edisi ETNOHISTORI Genealogi Gerakan dan Studi Perempuan Indonesia

 

Dalam ranah studi perempuan, terutama sejarah dan gerakan perempuan, perbincangan terkait peran wanita, perjuangan aksesibilitas pendidikan terhadap perempuan, serta mempersoalkan keterwakilan dalam dunia politik, telah mendapat porsi perhatian yang cukup dari para peneliti. Namun, perhatian atas kajian perempuan, yang  mulai booming sejak era tahun 1980-an itu, tidak serta-merta dibarengi pula dengan kualitas kajian (Mansour Fakih, 1997). Terutama kualitas kajian yang menekankan bagaimana analisa gender sebagai salah satu alat analisis sosial. Ketidakdilan gender masih dirasakan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, terutama bagi perempuan. Kuantitas kajian mengenai perempuan baik sebagai subjek perubahan sosial, peranan perempuan, dan lainnya masih menghasilkan kajian yang parsial, terpisah-pisah. Tidak jarang pula kajian yang ada adalah mengulang-ulang hal yang sama: menempatkan perempuan sebagai korban tak berdaya, yang seakan terus menerus harus dikasihani, tanpa ada penajaman perspektif serta analisis. Cara pandang semacam ini, pada akhirnya merupakan salah satu faktor penghambat dari arti pentingnya pengarus-utamaan gender dalam seluruh aspek kehidupan. Kadangkala persoalan yang lepas dari konteks yang lebih luas adalah buntut dari ketidakpahaman atas ketidakadilan gender tersebut.

Persoalan pengarus-utamaan gender dalam beragam ranah, kadangkala dianggap final oleh semua kalangan. Padahal yang terjadi, soal tersebut seringkali masih disalahfahami baik dikalangan para aktivisnya, para akademisi, hingga pemangku kebijakan. Sehingga pada akhirnya perjalanan feminisme dalam ranah kajian ilmu sosial mengalami pasang surut yang berarti, tanpa adanya pelembagaan kajian maupun pelembagaan konseptual yang teruji mampu membuat perubahan bagi nasib perempuan di Indonesia. Beragam kekerasan yang dirasakan kaum perempuan, yang sampai detik ini masih terjadi merupakan satu bukti dari belum berjalannya “mesin” dari pengarus-utamaan gender tersebut. Kekerasan publik atas kaum perempuan, bahkan hampir dipertontonkan setiap hari dalam beragam bentuk. Mulai dari kekerasan politik atas tubuh perempuan, penyingkiran dan pemarjinalan perempuan dalam pengelolaan sumber daya, hingga kekerasan domestik, masih dialami oleh sebagian besar kaum perempuan hingga hari ini.

Faktor terbesar dari kondisi tersebut, adalah akibat dari matinya perdebatan ideologis dalam gerakan perempuan. Pergerakan perempuan pada rentang historisnya, berbarengan dengan munculnya pergerakan nasional. Munculnya sumpah pemuda sebagai tonggak puncak pergerakan nasional tahun 1928 pada bulan Oktober, pada dasarnya tidak membedakan pergerakan perempuan maupun laki-laki—peserta kongres tesebut adalah pemuda dan pemudi. Bahkan tidak lama berselang, bulan Desember 1928 di Yogyakarta disusul pula Congres Perempoean Indonesia (CPI) sebagai bentuk persatuan aktivisme pergerakan perempuan yang aktif. Nafas CPI adalah mendobrak kolonialisme dan sekaligus feodalisme. Namun, perjuangan gerakan perempuan Indonesia terhenti pasca tahun 1965 akibat peristiwa politik yang menyingkirkan perempuan dalam arena publik (Saskia Eleonora Wieringa, 2000). Pembunuhan gerakan perempuan ini telah menyingkirkan perjuangan perempuan yang telah dibangun jauh hari oleh para feminis awal abad ke-20. Dalam konteks pembahasan yang lebih luas, pergerakan perempuan Indonesia kemudian mengalami pasang surut yang berarti, namun dirasa masih bergerak di tempat yang sama. Perjuangan yang tiba-tiba berhenti, mengakibatkan “mesin” pelembagaan pemikiran hingga pengarus-utamaan gender semakin sulit untuk dipraktikkan, termasuk dalam perkembangan gerakan perempuan itu sendiri. Tidak hanya itu, memetakan posisi gerakan perempuan saat ini dalam ranah gerakan sosial saat ini tentunya  memerlukan satu usaha yang tidak sedikit pula.

Etnohistori mencoba melakukan penelusuran genealogi gerakan perempuan Indonesia, dan studi perempuan Indonesia. Mencoba memetakan sampai sejauh-manakah perjalanan gerakan perempuan Indonesia semenjak awal abad 20 hingga memasuki abad 21 ini? Apa saja perjuangan yang telah dilakukan oleh para perempuan baik di kalangan aktivis, akademisi maupun masyarakat? Selain itu, Etnohistori akan mengulas pula beragam karya akademis yang telah dihasilkan dan berkontribusi dalam pengembangan gerakan feminisme, metodologi feminis, historiografi studi perempuan hingga kebijakan publik bagi perempuan.

Edisional kali ini membuka secara terbuka dan sukarela bagi para peneliti maupun umum yang tertarik untuk bergabung dalam “Lingkar Diskusi” dan penelitian bersama kolektif Etnohistori, yang dari kegiatan tersebut, akan menghasilkan seri pemikiran tokoh perempuan, isu gerakan, serta tokoh-tokoh perempuan yang akan ditampilkan dalam satu rentang lini waktu/ timeline dalam website Etnohistori. Selain itu akan dihasilkan pula film dokumenter, maupun buku. Secara khusus edisional kali ini juga tetap menyajikan tulisan-tulisan bernas mengenai gagasan, gerakan, hingga teoritisasi studi perempuan Indonesia yang telah masuk ke dapur redaksi. Salam hangat, dan selamat menikmati!!!

 

ETNOHISTORI, 25 Juni 2013.

Editor: Anna Mariana anna@etnohistori.org & redaksi@etnohistori.org ]

 

***

 

Tulisan

Salah dan Berdosakah Kami? Esai oleh Wisnu Adihartono Reksodirdjo.

Perempuan di Wilayah Tambang: Melawan Neo-Kolonialisme Baru (Bagian 1). Esai oleh Siti Maimunah.

Perempuan di Wilayah Tambang: Tantangan Perubahan Iklim (Bagian 2). Esai oleh Siti Maimunah.

Gender & Perempuan di Asia Tenggara. Esai oleh Victor T. King.

Buruh Batik Tulis Perempuan dalam Pusaran Kapitalisme. Esai oleh Karina Rima Melati.

Ranah Tubuh dalam Pemetaan Gerakan Perempuan. Esai oleh Rachmi Diyah Larasati.

Ade Rostina Sitompul; Madam Klandestin. Esai oleh I Gusti Agung Ayu Ratih.

Stories of Two Female Indonesian Workers (1): Tika‘s Story. Esai oleh Laraswati Ariadne Anwar.

Stories of Two Female Indonesian Workers (2): KR‘s Story. Esai oleh Laraswati Ariadne Anwar.

Misionaris Perempuan di Awal Abad XX: Karya Suster-Suster SSpS (Servae Spiritus Sancti) di Flores, NTT. Esai oleh Maria Ingrid Nabubhoga.

 

. . .

 

Kegiatan

Kuliah Umum Buku The Dance That Makes You Vanish. Cultural Reconstruction in Post−Genocide Indonesia; karya Rachmi Diyah Larasati.

 

 . . .

 

Timeline