Home / Edisional / Jago, Preman dan Negara

Jago, Preman dan Negara

Pengantar Edisional Etnohistori

Meski secara definitif kata jago dan preman seringkali bertumpang tindih dan berpotensi untuk diperdebatkan, keberadaan jago dan preman di Indonesia telah ada semenjak negara ini belum terbentuk. Pesatnya pertumbuhan para jago, preman dan gangster pada dekade terakhir ini sesungguhnya bukan fenomena baru, karena semenjak Orde Baru telah banyak jago, preman dan gangster yang berbasis di kampung, sekolah, gedung-gedung bioskop, terminal, stasiun dan wilayah publik lainnya. Mereka bergerak secara transparan hingga secara sembunyi-sembunyi serta mempunyai dunia “bawah tanah sendiri” yang lepas dari tatanan dan stabilitas yang dioperasikan oleh negara. Pada jaman Hindia Belanda, misalnya, keberadaan jago telah tampak dalam ulasan-ulasan Henk Schulte Nordholt tentang adanya jago di Kediri. Gerakan jago ini berada di bawah bayang-bayang negara kolonial, dan tidak sepenuhnya benar-benar seperti dalam imajinasi kita sebagai “pahlawan bagi rakyat kecil” alias Robin Hood. Demikian juga dengan narasi Si Pitung yang digambarkan oleh Margreet van Till dalam resistensi terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Sedangkan pada jaman Orde Lama, kisah tentang hubungan Bang Pei dan Soekarno juga mewarnai hubungan antara jago dan negara, demikian pula dalam narasi Joshua Barker tentang preman borjuis di Bandung dan Loren Ryter tentang para preman yang berada di bawah ketiak tentara dan lindungan Cendana. Narasi tentang jago pasca Orde Baru juga digambarkan oleh Hatib Abdul Kadir, Kelly Swazey, Ngurah Suryawan dan Ulil Amri, dan semuanya mempunyai hubungan yang erat dengan aktor-aktor pemerintahan.

Hingga kini jago dan preman bersifat ubiquitos, meminjam istilah Foucault, ia ada di mana-mana, mengintai serta mengontrol setiap kegiatan masyarakat. Secara kontekstual, isu premanisme kembali ramai ketika kasus Melinda Dee pembobol rekening nasabah Citibank N.A., dan terseretnya para debt collector Citibank yang kesemuanya adalah preman-preman tukang tagih. Di sisi lain, pada sektor kehidupan keberagamaan, banyak tengara pula bahwa hampir semua pegiat aliran Islam garis keras seperti FPI (Front Pembela Islam) juga digawangi oleh para “preman tobat” yang membajak agama untuk mencari makan dan mengklaim berbagai kebenaran menurut Islam, yang diketahuinya ala kadarnya. Berbasis otot dan pengalaman kekerasan masa lalu, para preman anggota FPI ini melakukan gerakan anarkis mulai dari penggerebekan terhadap berbagai tempat hiburan malam, aktivitas sosial, hingga gerakan Ahmadiyah yang diharamkannya. Kekuatan jago bukan hanya didapat secara fisik, melainkan juga karena perlindungan dari orang kuat di sistem pemerintahan negara atau becking dalam istilah Joshua Barker. Lebih belakangan ini, isu premanisme kembali mencuat ketika ulang tahun Jakarta ke-484. Maraknya aksi premanisme masih menjadi masalah yang tidak bisa dilepaskan dari hingar-bingar ibukota Jakarta. Di usianya yang ke-484, pemerintah bersama kepolisian diminta membenahi sistem keamanan dan ketertiban di Jakarta dan tidak memberi peluang sedikit pun untuk aksi premanisme. Preman dan orang jago sudah ada dimana-mana ia ada di Jakarta, di Tanjung Priok, Tanah Abang, Blok M, Pulogadung, belum lagi yang bercokol di gedung bertingkat, di Senayan dan seputarannya hingga makelar-makelar di pedesaan.

Jago dan preman mempunyai hubungan yang ambigu dengan pemerintah; mereka mempunyai kemampuan untuk menjaga atau merusakkan tatanan sosial masyarakat, sadar akan potensi ini, Negara dan partai-partai politik menggunakan kekuatan mereka untuk mendukung berbagai kebijakan pemerintahan dan medioker guna mengerahkan massa. Karena itu, Negara mencoba keras untuk tidak menghapuskannya, namun menaklukkan keberadaannya, dan tetap menjaga mereka untuk selalu berada di bawah kontrol pemerintah. (HAK, 25 Juni 2011)

 

Editor: Hatib Abdul Kadir (e-mail: hatib@etnohistori.org)

 

_______

Tulisan:

Jago dan Kriminalitas Pedesaan (1) Studi Kasus Kediri dan Sekitarnya di Tahun 1870-an (Henk Schulte Nordholt & Margreet van Till)

Jago dan Kriminalitas Pedesaan (2) Gerakan di Bawah Bayang-Bayang Kolonial (Henk Schulte Nordholt & Margreet van Till)

Jago dan Kriminalitas Pedesaan (3−habis) Politik Bupati Blitar Menggenggam Penjahat (Henk Schulte Nordholt & Margreet van Till)

Geng dan Negara Orde Baru (1) Preman dari Markas Tentara (Loren Ryter)

Geng dan Negara Orde Baru (2−habis) Preman Pembela Orde Baru (Loren Ryter)

Si Pitung dalam Sinema (Margreet van Till)

Biografi Preman-Preman Yogyakarta (1) Mas Joko: Pemberani Badran yang Terkenal (Ulil Amri)

Biografi Preman-Preman Yogyakarta (2) Mas Kris: Preman Terban Berbasis Judi (Ulil Amri)

Biografi Preman-Preman Yogyakarta (3−habis) Mas Yono: Sosok Sang Preman Jalanan (Ulil Amri)

Saksikan Sendiri: Samson Jagoan Betawi Asli! (Laraswati Ariadne Anwar)

GPK: Dari Hobi Bacok, Menuju Parlemen Lokal (Hatib Abdul Kadir)

Pecalangan dan Jagoan di Bali: Catatan Etnografis (1) I Ketut Kapler dan Mimpinya Menjadi Pecalang Metaksu (I Ngurah Suryawan)

Pecalangan dan Jagoan di Bali (2): I Wayan Doblag dan Mimpinya Menjadi Jagoan (I Ngurah Suryawan)

Pecalangan dan Jagoan di Bali (3−habis): “Dari Polisi Adat hingga Penyebar Teror” (I Ngurah Suryawan)

Jagoan Jakarta dalam Sejarah (M. Fauzi)

Jawara dan Beragam Pemberontakan di Banten 1 (Yanwar Pribadi)

Jawara dan Beragam Pemberontakan di Banten 2 (Yanwar Pribadi)

Jago dan Maskulinitas dalam Mitologi Pewayangan Jawa (Hatib Abdul Kadir)

Lawan Abadi Tawuran Pelajar Kota Blitar (Arif Agus Setiawan)

 


***

 

 


0 Tanggapan

  • Hello, guest