Home / Edisional / Edisi Media Baru

Edisi Media Baru

Media Baru (New Media) di Zaman Neoliberal. Bagaimana Memahami dan Menanggapi Akibat-Akibat dari Perubahan Teknologi Mutakhir? Sebuah Ajakan Partisipasi.

Editor: FARABI FAKIH

 

Ledakan Musim Semi Arab (Arab Spring) telah menyebabkan tumbangnya diktator dan tumbuhnya bentuk-bentuk hubungan warga-negara dengan penguasa selama beberapa tahun terakhir. Ia telah menyebabkan munculnya demokrasi pada satu sisi dan Perang Sipil di sisi lain. Kerusuhan yang menerjang kota London pada tahun 2013 menyergap aparat kota dengan kecerdasan massa yang menghindari upaya kontrol tradisional. Proses kemunculan dukungan publik dalam kasus-kasus macam Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lawan Polisi atau Koin untuk Prita Mulyasari, mem-bypass media tradisional dan mampu menggerakkan anggota masyarakat untuk bertindak di luar naungan organisasi, ideologi atau gerakan yang tradisional. Apa yang kita saksikan di atas adalah kemunculan bentuk-bentuk baru persehubungan antar–individu yang diakibatkan oleh kemunculan teknologi New Media(Media Baru). Ia membawa kesempatan sekaligus ancaman yang mendalam terhadap berbagai macam bentuk-bentuk persehubungan tradisional abad ke-20.

Etnohistori ingin mengusung tema-tema yang berkaitan dengan New Media. Etnohistori ingin juga mengangkat tema ini guna diperbincangkan dan guna mendapat beragam sudut pandang dan ide dari forum digital kita. Pertama-tama, saya akan berusaha menempatkan perkembangan teknologi mutakhir ini sebagai bagian dari sejarah modern yang berakar pada zaman liberalisme klasik di abad ke-19. Lalu saya akan menawarkan pendapat akan efek-efek perubahan itu pada beragam ranah politik, sosial dan kebudayaan.

 

Sudut Pandang Longue Durée

Kita berada dalam periode transisi yang sangat penting. Pergeseran-pergeseran teknologi memiliki potensi untuk mengubah sebegitu banyak dari bentuk-bentuk persehubungan tradisional yang kita miliki. Di akhir transisi tersebut, dunia ini akan menjadi sesuatu yang sangat sukar dipahami oleh orang-orang yang tumbuh dalam alam kelembagaan tradisional abad ke-20. Jika ingin memahami seberapa dahsyat perubahan yang diakibatkan oleh teknologi, ada baiknya kita lihat balik dan berusaha memahami perubahan-perubahan teknologi di dua periode besar yang muncul sebelum zaman kita. Ada dua periode transisi yang menarik untuk dibahas: kehancuran liberalisme akhir abad ke-19 dan kemunculan teknologi negara semenjak berakhirnya Perang Dunia Kedua.

Di abad ke19, kemunculan liberalisme sebagai gerakan sosial dan politik oleh kaum borjuis didorong oleh kemunculan teknologi media cetak baru. Kemunculan opini publik lewat koran dan pamflet awalnya digunakan oleh golongan liberal secara efektif guna menyebarkan nilai-nilai propasar dan antinegara, sekaligus ide-ide kemanusiaan mereka seperti gerakan anti−perbudakan ataupun gerakan pelebaran hak pilih. Sejak Revolusi Perancis, massa dapat digerakkan oleh intelektual untuk mendukung nilai-nilai progresif liberal yang berdasar pada kesetaraan individu. Tetapi seiring dengan ekspansi hak pilih dan melebarnya kelas pekerja, muncul politisi-politisi dan ideologi-ideologi yang menggunakan perasaan-perasaan identitas macam kelas, ras, etnisitas, agama dan kebangsaan mengakibatkan perubahan dahsyat. Penggunaan sentimen-sentimen primordial berakibat pada peningkatan nasionalisme di akhir abad ke19 mendorong ekspansi penjajahan besar-besaran serta mengakibatkan Perang Dunia Pertama. Kehancuran dunia liberal oleh sejarawan sering disepakati pada Perang Dunia Pertama dan tahun-tahun 1920-an. Berbagai lembaga liberal lama: standar emas yang menaungi perdagangan dunia, demokrasi liberal berdasarkan partai, nilai-nilai kemanusiaan yang berdasarkan penghargaan atas individu dan rasa takut dan tidak–percaya mendalam akan kekuasaan negara diganti dengan ekonomi nasionalis dan analisisanalisis Keynesian, kemunculan pemimpin-pemimpin kharismatik yang kuat, penobatan kehebatan ras ataupun bangsa sebagai pengganti terhadap individualisme dan korporatisme ekonomi dan rakyat yang total dengan negara. Fasisme dan Komunisme menggantikan demokrasi liberal di berbagai negara di dunia, pada saat yang bersamaan, kemunculan nasionalisme berdasarkan imajinasiimajinasi kebangsaan bermunculan di seantero dunia kolonial.

Apa yang terjadi adalah kekuatan yang diakibatkan oleh media dalam menggerakkan massa. Rakyat berubah menjadi bagian dari gerakan-gerakan loyal dalam organisasi-organisasi yang berdasarkan atas identitas. Kaum liberal yang menekankan individualisme universal tidak punya identitas primordial yang bisa digunakan untuk mendorong partisipasi rakyat. Media menghasilkan bentuk-bentuk kelembagaan baru; partai politik yang dipimpin oleh politikus profesional, organisasi buruh dan masyarakat serta korporatisme dengan negara. Bentuk-bentuk kelembagaan masyarakat baru ini dibedakan dengan bentuk tradisionalnya yang seringkali berdasarkan asosiasi kinship atau agama yang menggunakan kedekatan-kedekatan kekeluargaan. Bentuk organisatoris ini menciptakan peluang kontrol yang sangat tinggi. Organisasi bersifat hierarkis, pengikutnya berkecendrungan untuk setia terhadap pemimpin mereka. Ancaman-ancaman yang diakibatkan oleh ekspansi hak pilih ini dapat diatasi oleh elit baru dengan organisasi-organisasi baru ini. Gerakan sosial di struktur dalam bentuk-bentuk hierarkis.

Potensi kontrol ini diperkuat oleh negara sejak pecahnya Perang Dunia Kedua dengan menciptakan bentuk kenegaraan baru yang punya beragam nama: Welfare State, Developmental State, Managerial State, Soviet dan lain-lain. Partisipasi masyarakat yang meluber sejak akhir abad ke19 telah menghancurkan elit liberal abad ke19. Tetapi elit baru abad ke20, yang terdiri atas elit politik, militer dan manajer/teknokrat menciptakan serangkaian teknik-teknik kontrol baru yang beragam; mulai dari penempatan militer pada tingkat lokal secara terus-menerus (dwi-fungsi dalam kasus Indonesia), penyediaan public goods yang makin besar oleh negara dengan argumentasi bahwa hanya negara yang punya economies of scale guna menyediakan sarana dan prasarana publik, pengkooptasian organisasi masyarakat (ormas) dan partai politik dalam ritualisasi nasionalisme yang mengikat bagi semua orang serta penggunaan teknik-teknik dan jargon-jargon Keynesian dalam melihat ekonomi; seperti munculnya Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai penentu keberhasilan ekonomi serta inflasi yang merupakan tolak-ukur yang berdasarkan atas skala nasional.

Kontrol abad ke20 juga berdasarkan pada perkembangan teknologi, tetapi berbeda dengan teknologi abad ke19 yang meng-empower individu, teknologi pertengahan abad ke20 mendepower individu dan menjadikannya cogin−a−machine. Scientific management dan teknik-teknik Taylorist yang sudah mulai berkembang di awal abad ke-20 meledak penggunaannya pasca Perang Dunia Kedua. Kemunculan komputer dan teknologi komunikasi pada awalnya begitu mahal dan besar sehingga penggunaannya hanya terjadi pada organisasi korporasi bisnis ataupun negara. Birokrasi baik di korporasi multinasional maupun dalam administrasi negara yang membengkak di seantero dunia mengakibatkan hilangnya inisiatif individu. Pada saat yang bersamaan pengontrolan media massa oleh elit baru mengkerucutkan selera dan konsumsi. Televisi, radio, majalah dan bentuk-bentuk media teknologi abad ke20 memperkuat kontrol elit, karena bentuknya yang top−down. Elit budaya dan intelektual menentukan masyarakat apa yang baik dikonsumsi dan menghindari apa yang tidak baik. Kemunculan negara-negara kuat juga mengakibatkan kemunculan dari diktator-diktator terburuk dalam sejarah manusia; pembunuhan berjuta-juta manusia di bawah pemimpin politik macam Mao TseTung, Joseph Stalin, Pol Pot ataupun Suharto dimungkinkan sebagai akibat dari pergeseran teknologis yang memperkuat negara. Dalam banyak negara, penentuan konsumsi seni, budaya dan identitas ditentukan oleh serangkaian ilmuan sosial yang juga merupakan bagian dari elit manajerial negara.

Setiap pergeseran teknologi; baik media cetak abad ke19 maupun teknologi manajerial abad ke20 membawa kesempatan sekaligus ancaman. Kenaikan asosiasi primordial merupakan akar-akar dari gerakan nasionalisme dunia kolonial, sekaligus rasisme dan nasionalisme dari kaum Fasis. Kemunculan Welfare State telah menciptakan kesejahteraan yang paling tinggi dialami oleh Barat pada puncaknya di dekade 1950-an dan 1960-an, tetapi pada saat yang bersamaan menciptakan kediktatoran–militer dunia ketiga yang dalam kebanyakan kasus gagal dalam menciptakan pembangunan dan mensejahterakan rakyat. Transisi juga seringkali bersifat sangat berdarah. Transisi abad19 ke abad20 menghasilkan dua perang dunia dan korban puluhan juta orang. Pertanyaan sekarang adalah apa kesempatan dan ancaman yang ada di masa transisi sekarang ini?

 

New Media dan Transisi

Jika kita harus menentukan kapan transisi ke abad ke21, maka akhir tahun 1970-an adalah periode awal. Beberapa perubahan penting telah terjadi yang mengakibatkan hancurnya kontrol elit negara. Transisi menuju abad ke21 ini belum selesai. Transisi pergeseran dari dunia liberal ke dunia manajerial terjadi kira-kira antara 1870-an sampai 1945 dan waktu pergeseran kini juga akan memakan waktu lama. Kita belum tahu apa bentuk definitif yang akan kita jumpai di akhir transisi, tetapi kita bisa membahas perubahan-perubahan apa yang terjadi sejak tahun 1970-an dan mengekstrapolasi guna menebak apa bentuk-bentuk masa depan. Salah satu pergeseran penting adalah jatuhnya ekonomi Keynesian dari pedestal kekuasaan, diganti dengan neoliberalisme sekolah Austria dengan pendorong terbesarnya Milton Friedman dari Chicago. Ide propasar kembali menggantikan kontrol negara yang terlihat tidak mampu menanggulangi stagflasi ataupun krisis minyak awal 1970-an. Ideologi tradisional abad ke-20 perlahan hilang ketertarikannya pada tahun 1970-an dan inilah yang ditangisi/dirayakan oleh postmodernisme. Kemunculan ekstrim agama di Amerika Serikat ataupun dunia Islam, serta naiknya politisi macam Ronald Wilson Reagan dan Margaret Hilda Thatcher yang anti terhadap Welfare State menandakan pula pergeseran ketertarikan-ketertarikan ideologis. Kemunculan dari gerakan-gerakan antipembangunan juga merupakan bagian dari pergeseran tersebut. Pada awal 1990-an dengan hancurnya Uni Soviet serta teriakan Yoshihiro Francis Fukuyama akan berakhirnya sejarah, kita lihat pergeseran baru menjauhi negara.

Reaksi terhadap kekuasaan negara adalah leitmotif dari masa kini dan berlangsung pada hampir semua spektrum politik. Pada ujung kanan muncul paham libertarianisme yang menolak peranan negara kecuali dalam bentuk-bentuk paling terbatas, sementara di ujung kiri penguatan dari paham anarkisme yang terejawantahkan dalam gerakan-gerakan Occupy semenjak krisis ekonomi dunia 2008. Perbedaan terbesar antara kedua spektrum adalah pendapat mereka akan pasar dan posisi kapitalisme. Walaupun kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang, kita mungkin bisa mengatakan dengan agak hati-hati bahwa di masa depan, kita bisa melihat hilangnya negara sebagai bentuk dominan perhubungan manusia. Kemunculan ide-ide nonnegara ini juga diakibatkan oleh perkembangan teknologi komunikasi yang bergeser kembali guna meng-empower individu. Kita harus memahami perubahan teknologi dan akibat-akibatnya sebagai bagian dari pergeseran besar semenjak akhir abad ke20. Makin murahnya transistor mengakibatkan akses terhadap teknologi komunikasi makin besar tiap tahunnya, ekspansi internet menjembatani hubungan antar manusia yang dahulunya dimediasi oleh organisasi ataupun elit media/politik/budaya/sosial. Kita akan mengeksplorasi beberapa tema yang merupakan bagian dari transisi ini.

 

Fuzzy Logic dan Keusangan Organisasi?

Teknologi memberikan akses terhadap individu untuk berpartisipasi. Media baru menghilangkan intermediasi sama sekali dan proses interaksi dapat terjadi secara realtime. Struktur organisasi merupakan alat yang diciptakan guna mengatur kegiatan manusia dalam bentuk organis. Manusia adalah sel dalam satu organisme atau gigi dalam mesin dengan tujuan yang ditentukan oleh manajemen. Tetapi sekarang proses integrasi itu mulai runtuh. Dalam bisnis, banyak bagian itu sudah tercerabut dari organisasinya lewat penggunaan proses-proses yang dioutsource. Daripada struktur rapi dengan organ-organ yang jelas, yang terjadi adalah kompetisi dari berbagai organ-organ yang bersifat free agent. Dalam lingkungan swarm besar, proses organisasi bergeser dari bentuk organis menjadi evolusioner. Saat ini proses terbesar terjadi pada outsourcing jasa bisnis (tetapi swarm free agent belum terjadi sepenuhnya). Tetapi seiring dengan makin canggihnya teknologi, proses outsourcing ini akan menginfeksi bentuk-bentuk kegiatan peradaban lainnya. Proses manufakturing bisa terhempas ketika printer tiga dimensi dapat menggantikan pabrik tradisional.

Mengikuti logika ini, proses outsourcing ini akan mengganti alih sebagian dari administrasi negara dan mungkin kita akan melihat pergeseran dari semua bentuk kelembagaan yang selama ini dinaungi oleh kedaulatan negara. Sebagai contoh, bentuk-bentuk arbitrasi nonpengadilan yang kompetitif dapat saja menggantikan pengadilan yang hilang legitimasi. Uniknya, arbitrasi nonnegara adalah satu-satunya bentuk efektif dalam perdagangan internasional sejak zaman dahulu. Perdagangan internasional seringkali lebih efisien daripada perdagangan nasional, walaupun secara tradisional sulit bagi orang untuk menerima peranan swasta sebagai pengganti penentu ‘keadilan.’ Hilangnya peran dan organisasi negara merupakan sesuatu yang amat unik karena terakhir kali negara tidak memiliki peran penting dalam masyarakat ada pada zaman pramodern.

Studi akan struktur-struktur non-negara; bagaimana social, political dan economic order dapat tercipta tanpa naungan kedaulatan negara dan rule of law-nya akan bermanfaat dalam memahami kemungkinan bentuk-bentuk perhubungan masa depan. Hal ini sudah mulai dilakukan oleh golongan anarkis ataupun libertarian. Yang satu melihat komunitas sebagai jawaban sementara yang lainnya melihat kekuatan selforganisasi pasar sebagai jawaban alternatifnya. Buat orang yang lahir di abad ke20 di mana negara begitu dominan dalam kehidupan kita semua, sulit untuk membayangkan dunia tanpa negara atau dengan negara yang memiliki peranan sangat terbatas. Bagi orang yang begitu terbiasa dalam struktur hierarkis organisasi abad ke20, menghadapi perubahan yang akan terjadi serasa sulit untuk dibayangkan, baik karena keterbatasan imajinasi ataupun rasa takut akan kenyamanan kontrol dari atas.

Lebih lanjut, negara dan korporasi adalah dua sisi dalam koin yang sama. Korporasi sebagai organisasi besar membutuhkan kepastian hukum personhood yang dapat melindungi hak miliknya sebagai person. Tanpa negara, legitimasi personhood-nya tergantung murni dengan pasar. Lagipula, mengikuti trend outsourcing di atas, korporasi seharusnya tergerus menuju konstituen-konstituen kecil yang harus bersaing dalam pasar free agent yang besar. Apa yang dulu korporasi akan berubah menjadi bentuk-bentuk satuan ekonomi kecil pada tingkat yang setara dengan individu. Hilangnya negara akan otomatis menghilangkan korporasi. Hilangnya dua organisasi ini akan mengancam keberadaan dari elit manajerial yang selama ini menjadi penguasa.

Pada tingkatan lain, kemunculan teknologi baru macam 3D printing ataupun bitcoin masih belum bisa kita takar secara sempurna. Apakah 3D printing dapat mendesentralisir proses manufakturing dan apa artinya bagi negaranegara yang mengandalkan pertumbuhan ekonominya lewat ekspor manufakturing lewat tenaga kompetitif murah macam Indonesia? Apakah bit−coin yang merupakan eksperimentasi dalam penciptaan mata uang yang terdesentralisir dan di luar kontrol negara mengancam negara dalam menjalankan kebijakan moneter? Bagaimana negara menganggapi serangan-serangan akan kedaulatannya macam ini? Bukankah penciptaan teknologi analisis Big Data yang pengejawatahan paling menakutkannya terbentuk dalam lembaga spionase Amerika Serikat National Security Agency (NSA) itu adalah cara-cara tertentu di mana negara melawan balik dan berusaha menjamin kontrolnya atas individu digital?

 

Partisipasi Anonim, Delegitimasi Elit dan Ancaman Individu?

Proses usangnya organisasi menghantam pada legitimasi elit yang paling dalam. Elit abad ke20 menggantungkan legitimasinya pada kemampuan manajerialnya guna memimpin organisasi. Pada saat yang bersamaan, kepemimpinan dibangun lewat kharisma yang ditunjang oleh kuasanya atas media massa satu arah. Tanpa akses terhadap reaksi masyarakat, imaji bisa ditentukan dari atas. Tapi elit zaman sekarang harus berpartisipasi dalam media sosial di mana partisipasi terjadi pada dua arah dengan filter yang terbatas. Pengikut dari elit yang dahulu terinsulasi dari media satu arah sekarang menerima opini publik pada waktu real−time. Akibatnya terjadi demistifikasi dari pemimpin. Pada saat yang bersamaan, dengan perubahan-perubahan terhadap bentuk organisasi yang mungkin terjadi, elit akan secara otomatis usang. Dalam suatu populasi free agent, partisipasi tidak ditentukan oleh elit, melainkan oleh pasar. Di masa mendatang, seharusnya kita akan melihat pelemahan lebih lanjut daripada bentuk-bentuk legitimasi kepemimpinan. Elit tidak akan memiliki posisi tetap dalam masyarakat baru. Ia digantikan oleh pasar isu.

Melemahnya kemampuan membentuk citra kepemimpinan kemungkinan mengubah bentuk-bentuk isu dari bentuk ideologis menuju bentuk instan pada tataran realtime. Kematian ideologi dan penggantian isu tataran Twitter juga menggeser cara kerja politik baik di tingkat luas maupun lokal. Jika bentuk kerja politik abad ke20 adalah melalui partai politik yang berdasarkan ideologi guna menciptakan sebuah ide masyarakat dan negara yang ideal, bentuk diskursus politik abad 21 merupakan pasar isu yang muncul dan mati dalam gelombang-gelombang ketenaran sesaat. Contoh konkrit yang sudah terlihat di awal abad adalah kasus-kasus seperti Koin untuk Prita Mulyasari maupun KPK lawan Polisi, di mana tidak ada elit maupun ideologi, melainkan respon sesaat terhadap isu tertentu. Jika mengikuti logika ini, partai politik juga akan mengikuti nasib negara dan digantikan oleh bentuk pasar isu di mana setiap individu bisa berpartisipasi dengan melemparkan isu dan hal tersebut ditanggapi oleh pasar politik yang dengan realtime bisa memberi jawaban dan sehingga menentukan opini publik (seperti pasar publik) yang dapat menggerakkan terjadinya perubahan di satu bidang atau bidang lainnya.

Terlihat bahwa perkembangan teknologi yang memberi kekuasaan terhadap individu menghilangkan bukan hanya bentuk organisasi negara melainkan juga dapat mengancam individu sebagai pencipta. Kemunculan bentuk-bentuk kebudayaan partisipatif merupakan fenomena yang mulai menggeser ide-ide authorship. Mirip dengan permasalahan elit dan kepemimpinan, bentuk-bentuk media baru menekankan aspek generatif dari partisipasi yang seringkali bersifat anonim. Apakah reward dalam partisipasi berkurang seiring dengan menguatnya anonimitas? Selama ini organisasi dan negara memberikan kita kepastian pendapatan. Bagaimanakah akibat-akibat dari hilangnya authorship ini akan berpengaruh terhadap seni dan budaya? Isu lebih besar terdapat pada ide akan perlindungan individual. Selama ini, proses penciptaan perlindungan individu terjadi lewat legislasi parlementer di bawah naungan negara dan proses hukum yang bisa diberikannya. Apakah pasar dapat menggantikan proses-proses tersebut? Contoh terpenting: salah satu public goods yang paling lumrah disediakan negara adalah keamanan. Dapatkan free agent penyedia keamanan yang dijual dalam pasar jasa keamanan berfungsi secara efektif dan efisien guna menyediakan kemanan buat semua orang?

 

Efektifkah Gerakan Sosial dalam Alam Partisipatif?

Gerakan Sosial selama ini bertujuan untuk mengubah negara. Tujuan utama adalah memenangkan pengaruh elit negara guna menciptakan perubahan-perubahan yang bisa dipertahankan oleh negara. Jika kita mengikuti logika paparan di atas, maka proses ini akan jadi redundant. Yang dihadapi bukanlah negara, melainkan pasar. Permasalahan itu sudah dibahasakan di atas: efisiensi dan efektivitas. Negara Manajerial menjual dirinya lewat imaji akan efisiensi dan efektivitas. Tetapi kehancuran negara ini sejak 1970-an disebabkan karena kegagalannya dalam menjawab permasalahan ekonomi yang terjadi di masa itu. Kemunculan neoliberalisme mengangkat kembali pandangan liberal tradisional di mana pasar adalah penentu yang lebih efisien jika dibandingkan oleh negara.

Jika gerakan sosial tidak bisa dinaungi oleh ideologi, melainkan oleh pasar isu, bagaimana cara isu dapat dijual secara efektif. Isu ini dijual bukan kepada negara, tujuan utama bukan perubahan hukum, melainkan mengubah opini publik. Mungkin pula apa yang dikatakan oleh kaum anarkis ada baiknya. Proses penjualan isu itu mungkin harus dilakukan oleh komunitas individual yang peduli dan bukan organisasi resmi. Toh salah satu perkembangan paling pesat di abad 20 bukanlah organisasi-organisasi sosial melainkan forum-forum internet yang menjual tema-tema tertentu; baik dari tema pertahanan, pencakar langit, keadilan sosial maupun seni. Komunitas dapat muncul secara spontan dalam pasar di mana isu atau tema tertentu adalah titik jualnya. Di sini letak individual partisipasi yang bersifat anonim dapat membantu. Komunitas isu dapat mengangkat tema tertentu yang dijual dengan menggunakan media yang crossover. Melalui penjualan poin-poin yang beragam, dari pendekatan intelektual, kesenian, maupun penyediaan teknologi partisipatif, isu dapat dijadikan gerakan yang bersifat komunal. Gerakan tersebut mungkin tidak bisa dipatrikan dalam ideologi, tetapi mungkin ideologi sudah terlalu tua bahkan buat generasi kita.

Seiring dengan melemahnya negara dan makin menjayanya pasar, maka hal yang paling baik untuk diketahui orang-orang yang aktif di bidang pergerakan justru adalah pemahaman akan cara kerja pasar. Daripada mengikuti nasib orang-orang liberal abad ke19 yang tidak acuh terhadap perubahan zaman karena kepercayaan terlalu tinggi bahwa dunia yang dipercayainya akan terus-menerus berlanjut, ada baiknya kita mempelajari perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi dan menerima hal-hal yang pada saat ini akan sulit kita terima. Permasalahannya adalah bagaimana kita bisa mereformulasi nilai-nilai inti dari pergerakan yang bisa dijual di pasar. Dari situ bagaimana kita bisa menciptakan komunitas nonorganisasional yang bersifat terbuka untuk partisipasi dan tidak memiliki elit pengontrol di luar administrator dengan wewenang terbatas. Kompetisi antar penyedia isu akan ditentukan oleh pembeli. Seharusnya, bentuk komunitas yang muncul akan menjadi yang paling efektif karena sudah melalui proses seleksi.

 

Undangan Pendapat dan Ide

Kita ingin mengetahui berbagai pengaruh pada ranah yang beragam akan akibat dari teknologi New Media. Sifatnya yang partisipatif memancing Etnohistori guna mencoba menggunakan format yang sama dengan cara mengajak anggota komunitas kita untuk memberi sumbangsih pikirannya akan ide-ide di atas. Kalau tertarik, silahkan kirim ulasan atau tulisan singkat 500–1000 kata ke redaksi Etnohistori yang mengeksplorasi atau mengkritik ide-ide di atas. Apakah benar kita berada dalam ambang batas yang mempunyai efek mendalam akan hal seperti negara, korporasi, organisasi ataupun authorship? Bagaimana manifestasinya? Ataukah hal ini hanyalah ilusi dan mungkin menyembunyikan bentuk-bentuk penguatan negara, korporasi atau bentuk-bentuk organisasi sentralistis lainnya? Bukankah negara selama ini berusaha untuk melawan kembali, sebagai contoh dengan menggunakan teknologi supercomputer yang dapat menganalisis Big Data macam NSA?

Beberapa dari tulisan yang terpilih akan kita pasang di website Etnohistori dan (mungkin) akan dipasang di pameran Festival Film Dokumenter (FFD) 9−14 Desember 2013 sebagai contoh dari cara kerja partisipatif serta terdesentralisir yang menandai perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh New Media. Media macam Etnohistori adalah tempat yang cocok untuk mengangkat ide-ide yang lantang dan di luar mainstream atau pakem akademia. Sifat bebas dan partisipatif dari Etnohistori menjadikannya ranah yang paling subur untuk perbincangan macam ini. [FF, 2013]

ETNOHISTORI, 6 Desember 2013

Editor: FARABI FAKIH (redaksi[at]etnohistori.org / farabi.fakih[at]gmail.com / farabi.fakih[at]etnohistori.org)


Tulisan:

Media Baru & Negara Weberian: Menimbang Kembali Musim Semi Arab. oleh Gde Dwitya Arief Metera

Art Prek: Antara Seni dan Perlawanan. oleh Khotim Ubaidillah

Meninjau Ruang: Masyarakat, Jejaring dan Gerakan dalam Ruang Urban Digital. oleh Merlyna Lim

Publik Islam dari Cetak Kertas hingga Ruang Digital: Kontinuitas & Transformasi Narasi Islam, Negara, & Kebangsaan di Indonesia. oleh Imam Ardhianto

 

 

 

 

 

0 Tanggapan

  • Hello, guest