ETNOHISTORI

Studi Indonesia Timur yang Terlupakan

Pengantar Edisional Etnohistori

 

Studi Indonesia Timur pada periode kolonial biasanya bersifat etnologi, dimana laporan dan catatan melingkupi semua kehidupan, mulai dari sistem kepercayaan, kekerabatan, teknologi hingga relasi perdagangan. Hasilnya, hampir semua catatan lapangan ini mirip sebuah ensiklopedia dibanding semua laporan detail yang menggugah dan kritis. Catatan lapangan etnologis ini juga “memprimitifkan” masyarakat Indonesia Timur karena detailnya laporan menyebabkan lalainya penulis menghubungkan kehidupan mereka dengan dunia global yang lebih kompleks dan luas. Studi Indonesia Timur juga rentan terhadap kritik sebagaimana yang dikatakan Edward Said, “strategic formation” dimana para peneliti mempunyai formasi penelitian yang strategis karena posisi administrasi dengan wilayah kolonial. Sebagai misal adalah G. A. Wilken (1885-1891), pendiri etnologi perbandingan dan seorang yang ahli teori evolusi Belanda yang mengawali karir sebagai seorang pegawai kolonial di Maluku dan Sulawesi. Ia memberikan catatatan-catatan tentang manusia Indonesia Timur tak lepas dari posisi strategisnya sebagai misionaris dan administratur. Demikian juga dengan laporan Victor Korn mengenai hukum adat Bali (1924, 1932). Berkat posisinya di administrasi Korn menghasilkan sebuah studi integrasi tradisionalitas Hindu Bali yang unik antara hubungan irigasi dan kasta. Sedangkan di Papua, antropologi juga menjadi elemen wajib dalam pelatihan untuk para administratur Belanda, sehingga menghasilkan antropolog seperti J. Van Baal yang mempublikasikan studi etnologinya pada akhir tahun 1940-an tak lepas dari posisi administrasinya dalam pemerintahan.

“Puncak” dari kajian literatur mengenai Indonesia Timur digawangi dalam buku bunga rampai yang diedit oleh James Fox, The Flow of Life: Essays on Eastern Indonesia (1980) yang secara cantik mengurai berbagai benang strukturalisme Eropa. Buku ini didedikasikan untuk mengenang jasa-jasa J. P. B. de Josselin de Jong dan F. A. E. van Wouden dalam menggawangi studi masyarakat Indonesia Timur. Di dalamnya, buku ini berisi tulisan-tulisan dari para sarjanawan Belanda seperti Rodney Needham dan para antropolog Perancis. Buku ini merelasikan kembali ke dalam tradisi Durkheimian dan karya-karya Levi-Strauss dan fokus pada sejumlah kategori-kategori krusial yang dilihat dalam berbagai masyarakat Indonesia Timur. Dalam kesimpulan buku ini, Fox mengajukan keragaman masyarakat Indonesia Timur, disamping liku-liku pola-pola aliansi ekonomi dan politiknya, hal ini juga tampak untuk membagi beberapa ide umum mengenai sifat kehidupan, masyarakat dan personalitas manusia (1980: 14).

Namun demikian, perkembangan studi sejarah dan antropologi di Indonesia Timur meredup semenjak tergeser pada tahun 1950-an. Dominasi pengaruh Weberian dan studi tafsir kebudayaan Jawa, secara pesat mulai dikembangkan secara teoritik oleh Clifford Geertz. Dan cukup berpengaruh terhadap lingkaran perkembangan teori, metodologi dan kontribusinya terhadap peta pembangunan di Jawa. Karena itu, diadakannya edisi khusus “Studi Indonesia Timur yang Terlupakan” ini bukan hanya bertujuan untuk mengingatkan kita akan “hilangnya“ tradisi studi di wilayah ini, tapi juga sekaligus melihat pola perubahan yang terjadi setelah absen selama lebih dari 50 tahun. Perubahan itu antara lain dilihat dari segi ekonomi, politik, sistem kepercayaan dan identitas orang-orang Indonesia Timur yang tentunya telah jauh berubah dari gambaran laporan dan catatan kolonial sebelumnya. Karena itu, kami berharap bahwa edisi khusus ini secara strategis dapat menggugah munculnya paradigma baru tentang identitas orang “Indonesia Timur” dan juga strategis pula untuk batu loncatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakatnya.

Konsep tentang Indonesia Timur, kami kembangkan dengan mengacu pada wilayah geografis Jawa Bagian Timur, sehingga memasukkan laporan etnografis dan historiografis kawasan Bali, Lombok, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua. Karena itu kami mengundang beberapa penulis yang akan mengisi edisi ini untuk meramaikan kembali studi tentang Indonesia Timur. Berbeda dengan studi etnografi dan historiografi Indonesia Timur yang pernah marak sebelumnya, tulisan-tulisan di Etnohistori kali ini akan mengamati bagaimana pola kehidupan, ekonomi, keterlibatan dalam politik dan identitas orang-orang Indonesia pasca Orde Baru. Konteks yang berubah di era kontemporer saat ini akan turut mempengaruhi perubahan yang terjadi di kawasan Indonesia Timur. Otonomi Daerah dan desentralisasi pasca rezim Orde Baru merupakan satu konteks perubahan konstelasi politik lokal di satu sisi yang memberi kesempatan birokrasi mempermudah mendekatkan dirinya pada rakyat, namun di sisi lain desentralisasi juga dapat menjadi kekuatan imperatif memudahkan berbagai kekuatan ekonomi-politik menerobos daerah-daerah dan melakukan akumulasi kapitalnya. Globalisasi dan (neo)-liberalisme perlu mendapat konteks pembacaan dalam menulis Etnohistori Indonesia Timur saat ini. (akhir Oktober 2011)

EDITOR: Ahmad Nashih Luthfi (e-mail: anasluthfi@etnohistori.org & redaksi@etnohistori.org)

 

***

Tulisan:

―Kisah Lontar: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (1) oleh Afif Futaqi

―Kisah Lontar: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (2) oleh Afif Futaqi

―Menjadi Modern: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (3−habis) oleh Afif Futaqi

―Jiwa yang Patah: Ingatan Kekerasan dan Penderitaan di Tanah Papua oleh I Ngurah Suryawan

―Dari Debat Geertz versus Hooykaas tentang Bali: Untuk Para Etnografer & Historian oleh Gde Dwitya Arief

―Geliat Aristokrasi dalam Politik Lokal Sumbawa oleh Yogi Setya Permana

―“Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (1) oleh Gerry van Klinken

―“Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (2−selesai) oleh Gerry van Klinken

―Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (bagian 1) oleh Hatib Abdul Kadir

―Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (bagian 2) oleh Hatib Abdul Kadir

―Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (bagian 1) oleh Saipul Hamdi

―Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (bagian 2): Kharisma Maulana Syaikh oleh Saipul Hamdi

―Tanah Air (yang masih versi) Beta: “Membayangkan” Indonesia Timur dalam Film oleh Laraswati Ariadne Anwar

—Pala, Otsus dan Kerentanan Identitas di Kaimana oleh Ahmad Nashih Luthfi

. . .

_

Esai Foto:

―Esai foto Flores oleh Maria Ingrid Nabu Bhoga

: :
Penulisan Sejarah Indonesia: Menuju “The New History”         Uang & Hutang dalam Pembentukan Peradaban Manusia         Pertanyaan tentang Metodologi Ilmu Sosial Indonesia         Pala, Otsus dan Kerentanan Identitas di Kaimana         Luruh dalam Kekuasaan. Lenyapnya Ilmuwan Sosial dalam Telaah Ilmu Sosial di Indonesia         Keterputusan Pemikiran Sosiologi di Indonesia         Melacak Perkembangan Antropologi Modern di Asia Tenggara         Yap Thiam Hien; Sang Warganegara         Mencari Jejak Koh I Noor         “Kamu India Asli atau India Palsu?”: Potret Tiga Perempuan dalam Keluarga Etnis India di Yogyakarta         Ah, India         Politik Identitas Mayoritas-Minoritas di India. Wawancara dengan Ram Kakarala         Fatwa Menentang Yoga: Mengurai Konflik Melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 2)         Fatwa menentang Yoga: Mengurai Konflik melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 1)         Perjalanan Panjang Mengenal Hindu di Yogyakarta         Praktek Rentenir masa Kolonial: Kehidupan orang Chetti di Medan akhir Abad ke-19―Awal Abad ke-20         Nasionalisme Jarak Jauh: Praktik Kultural Sebuah Keluarga India         Tanah Air (yang masih versi) Beta: “Membayangkan” Indonesia Timur dalam Film         Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (bagian 2): Kharisma Maulana Syaikh         Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (bagian 1)         Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (bagian 2)         Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (bagian 1)         “Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (2−selesai)         “Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (1)         Geliat Aristokrasi Dalam Politik Lokal Sumbawa         Dari Debat Geertz versus Hooykaas tentang Bali: Untuk Para Etnografer & Historian         Jiwa yang Patah: Ingatan Kekerasan dan Penderitaan di Tanah Papua         Menjadi Modern: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (3-Habis)         Kisah Lontar: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (2)         Kisah Lontar: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (1)         Lawan Abadi Tawuran Pelajar Kota Blitar (STMK vs STMI)         Jago dan Maskulinitas dalam Mitologi Pewayangan Jawa         Jawara dan Beragam Pemberontakan di Banten (2)         Jawara dan Beragam Pemberontakan di Banten (1)         Jagoan Jakarta Dalam Sejarah         Pecalangan dan Jagoan di Bali (3-Habis): “Dari Polisi Adat hingga Penyebar Teror”         Pecalangan dan Jagoan di Bali (2): I Wayan Doblag dan Mimpinya Menjadi Jagoan         Pecalangan dan Jagoan di Bali: Catatan Etnografis (1)         GPK: Dari Hobi Bacok, Menuju Parlemen Lokal         Saksikan Sendiri: Samson Jagoan Betawi Asli!         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (3-habis)         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (2)         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (1)         Si Pitung dalam Sinema         Geng dan Negara Orde Baru (2-habis)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (3)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (2)         Geng dan Negara Orde Baru (1)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (1)         Satu Tungku Tiga Batu: Hubungan Tiga Agama di Teluk Patipi, Fakfak         Papua, Mau Dibawa Kemana?         Freeport: Akar Separatisme Negara         Karena Terabaikan; “Menjadi Seniman Patung Bayangan”         Pemberdayaan Radio Komunitas bagi penguatan Identitas lokal di Tanah Papua         Politik Pemekaran Daerah dan Siasat Elit Lokal di Papua         Generasi Pertama Orang Dani Pemeluk Islam (3-Habis)         Sejarah Masuknya Islam ke Masyarakat Wamena-Papua (2)         Sejarah Masuknya Islam ke Papua (1)         Ukulele Mambesak: Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970-1980-an         Mencari Bentuk Film Indonesia (3-Habis): Lesunya Bioskop & Gagalnya Kebangkitan Film Indonesia         Mencari Bentuk Perfilman Indonesia (2): Genealogi Munculnya Film Seks, Kekerasan & Koboi         Mencari Bentuk Perfilman Indonesia (1): Revolusi & Nasionalisasi Film di Jaman Soekarno         Baku Hantam yang Keblinger dalam Merantau         Membioskopkan Santri & Pesantrennya         From Sex to Syahadat: The Market & Resurgence of Religion in Indonesian Cinema 1997-2011         Thank You, India (Movie)        

2011—2013 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762