ETNOHISTORI

Tanah Papua di Garis Depan Global

Siasat Politik Kebudayaan, Bahasa dan Sastra, Ekonomi dan Lingkungan.

 

Pengantar Edisi Papua

Heterogenitas etnik yang tinggi serta kemiskinan dan keterbelakangan di tanah Papua memiliki sejarah yang kompleks dan penuh dengan ketegangan dan konflik. Terdapat lebih dari 253 etnik dengan bahasa, struktur sosial, tradisi, sistem kepercayaan/agama, dan kondisi geografis yang berbeda-beda. Dengan keberagaman yang tinggi tersebut, studi ini merefleksikan implikasinya terhadap proses pembentukan identitas budaya Papua. Kesadaran menjadi etnik Papua terjadi seiring dengan peralihan kekuasaan-kekuasaan (politik) terhadap tanah Papua. Salah satu momen penting pentas kekuasaan terhadap tanah Papua terjadi pada tahun 1940-an hingga 1960-an. Saat itu terjadi Perang Dunia II yang berimpikasi kepada proses penyerahan kedaulatan Belanda atas Indonesia termasuk di dalamnya Papua. Proses peralihan kekuasaan di Papua berujung kepada Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Juli-Agustus 1969 yang menyatakan Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun demikian, sejarah Papua setelah 1969 menunjukkan bahwa hasil Pepera itu justru menjadi salah satu akar konflik yang berkepenjangan.

Sepanjang pemerintahan Orde Baru sejak tahun 1969, Papua menjadi salah satu objek pembangunan tanpa rekognisi yang memadai pada kompleksitas sejarah dan budaya Papua. Salah satu di antaranya dalam bentuk eksploitasi sumber daya alam oleh perusahaan komersial tanpa memperhatikan proteksi dan hak-hak dasar orang Papua. Pemaksaan-pemaksaan nilai terjadi melalui pendidikan, birokrasi bahkan melalui lembaga-lembaga keagamaan. Catatan pelanggaran hak asasi manusia di Papua dikenal secara internasional dalam intensitas yang tinggi. Berita mengenai Papua sarat dengan kisah-kisah mengenai gerakan-gerakan perlawanan untuk merdeka dan protes pelanggaran hak asasi manusia.

Pasca reformasi, pemberlakuan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi Papua serta Inpres Nomor 1 Tahun 2003 tentang pemekaran daerah semakin mewarnai pergolakan kekuasaan terhadap tanah Papua. Penetrasi agama, birokrasi, pendidikan, dan investasi modal melalui perusahaan multinasional juga menjadi faktor penting pembentukan identitas budaya Papua. Dalam dinamika sejarah tersebut, identitas budaya Papua pun terus menerus mengalami transformasi. Provinsi Papua Barat lahir di tengah kompleksitas persoalan yang menghimpit Tanah Papua.

Penetrasi langsung modal bersama kuasa politik (globalisasi) di garis depan pembangunan di Tanah Papua telah mendorong terputusnya relasi (historis) antara rakyat dengan tanah. Di mana-mana komunitas tempatan yang memiliki sejarah panjang dengan tanah setempat cenderung tergusur oleh operasi perusahaan kehutanan, perkebunan, gas, pertambangan, bahkan proyek transmigrasi. Di tempat-tempat itu kemudian hadir komunitas baru yang tidak memiliki klaim sejarah atas tanah di mana mereka berada. Banyak konflik yang terjadi karena benturan fusi dari komunitas lama dan baru itu. Komunitas lama menuntut rekognisi atas tanahnya, sementara perusahaan-perusahaan dan komunitas baru mendaku tanah nyaris tanpa modal sejarah kecuali dukungan kuasa politik yang nebeng kuasa modal global. Dengan demikian komunitas tidak dengan mudah lagi dilokalisir atau dilokalisasikan.

Masyarakat tempatan di tanah Papua dapat dikatakan berada di garis depan (frontier) pertemuan kekuatan-kekuatan global dalam memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia di Tanah Papua. Pada ruang inilah siasat masyarakat tempatan di Papua berjuang membangun identitas budayanya. Di dalamnya terdapat fragmen-fragmen ketika masyarakat tempatan di tanah Papua bersiasat/memanfaatkan peluang—yang sering disebut dengan friksi—di tengah perjumpaan globalisasi yang mengeksploitasi tanah mereka. Dalam fragmen-fragmen tersebut secara terus menerus identitas dan kebudayaan lokal dan kebudayaan apa saja direproduksi menjadi sesuatu yang sulit sekali diduga ujung pangkalnya.

Edisi khusus “Tanah Papua” dari Etnohistori ini berusaha memberikan ruang pada narasi dan pengalaman-pengalaman rakyat tempatan untuk menegakkan identitasnya di tengah himpitan global. Fokus menjadi buku ini adalah mengapresiasi tema-tema yang terkait dengan “bagaimana rakyat Papua mengekspresikan identitas diri mereka, budaya, bahasa, cerita rakyat, dan kearifan serta inisiatif lokal yang mereka miliki”. Sedapat mungkin tema-tema tersebut direlasikan dengan konteks kekinian yang terjadi di Tanah Papua. (INS)

Etnohistori edisi Papua, Mei 2011.

Editor: I Ngurah Suryawan (e-mail: ngurahsuryawan@gmail.com dan ngurahsuryawan@etnohistori.org)


Tulisan:

Sejarah Masuknya Islam ke Papua (1) (Ade Yamin)

Sejarah Masuknya Islam ke Masyarakat Wamena Papua (2) (Ade Yamin)

Generasi Pertama Orang Dani Pemeluk Islam (3-habis) (Ade Yamin)

Politik Pemekaran Daerah dan Siasat Elit Lokal di Papua (I Ngurah Suryawan)

Nasionalisme Bintang Kejora: Subaltern & Gerakan Sosial Orang Papua (I Ngurah Suryawan)

Ukulele Mambesak: Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970-1980-an (I Ngurah Suryawan)

Pemberdayaan Radio Komunitas bagi penguatan Identitas lokal di Tanah Papua (Iskandar P. Nugraha)

Karena Terabaikan; “Menjadi Seniman Patung Bayangan” (Ellya Alexander Tebay)

Freeport: Akar Separatisme Negara (Arkilaus Arnesius Baho)

Papua, Mau Dibawa Kemana? (Arkilaus Arnesius Baho)

Satu Tungku Tiga Batu: Hubungan Tiga Agama di Teluk Patipi, Fakfak (Adam Iribaram)


Esai Foto:

Seni Papua

Pulau Mansinam

Papua Not for Sale

Manokwari yang Berubah

Pendidikan Kemanusiaan di Papua

 

: :
Penulisan Sejarah Indonesia: Menuju “The New History”         Uang & Hutang dalam Pembentukan Peradaban Manusia         Pertanyaan tentang Metodologi Ilmu Sosial Indonesia         Pala, Otsus dan Kerentanan Identitas di Kaimana         Luruh dalam Kekuasaan. Lenyapnya Ilmuwan Sosial dalam Telaah Ilmu Sosial di Indonesia         Keterputusan Pemikiran Sosiologi di Indonesia         Melacak Perkembangan Antropologi Modern di Asia Tenggara         Yap Thiam Hien; Sang Warganegara         Mencari Jejak Koh I Noor         “Kamu India Asli atau India Palsu?”: Potret Tiga Perempuan dalam Keluarga Etnis India di Yogyakarta         Ah, India         Politik Identitas Mayoritas-Minoritas di India. Wawancara dengan Ram Kakarala         Fatwa Menentang Yoga: Mengurai Konflik Melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 2)         Fatwa menentang Yoga: Mengurai Konflik melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 1)         Perjalanan Panjang Mengenal Hindu di Yogyakarta         Praktek Rentenir masa Kolonial: Kehidupan orang Chetti di Medan akhir Abad ke-19―Awal Abad ke-20         Nasionalisme Jarak Jauh: Praktik Kultural Sebuah Keluarga India         Tanah Air (yang masih versi) Beta: “Membayangkan” Indonesia Timur dalam Film         Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (bagian 2): Kharisma Maulana Syaikh         Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (bagian 1)         Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (bagian 2)         Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (bagian 1)         “Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (2−selesai)         “Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (1)         Geliat Aristokrasi Dalam Politik Lokal Sumbawa         Dari Debat Geertz versus Hooykaas tentang Bali: Untuk Para Etnografer & Historian         Jiwa yang Patah: Ingatan Kekerasan dan Penderitaan di Tanah Papua         Menjadi Modern: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (3-Habis)         Kisah Lontar: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (2)         Kisah Lontar: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (1)         Lawan Abadi Tawuran Pelajar Kota Blitar (STMK vs STMI)         Jago dan Maskulinitas dalam Mitologi Pewayangan Jawa         Jawara dan Beragam Pemberontakan di Banten (2)         Jawara dan Beragam Pemberontakan di Banten (1)         Jagoan Jakarta Dalam Sejarah         Pecalangan dan Jagoan di Bali (3-Habis): “Dari Polisi Adat hingga Penyebar Teror”         Pecalangan dan Jagoan di Bali (2): I Wayan Doblag dan Mimpinya Menjadi Jagoan         Pecalangan dan Jagoan di Bali: Catatan Etnografis (1)         GPK: Dari Hobi Bacok, Menuju Parlemen Lokal         Saksikan Sendiri: Samson Jagoan Betawi Asli!         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (3-habis)         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (2)         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (1)         Si Pitung dalam Sinema         Geng dan Negara Orde Baru (2-habis)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (3)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (2)         Geng dan Negara Orde Baru (1)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (1)         Satu Tungku Tiga Batu: Hubungan Tiga Agama di Teluk Patipi, Fakfak         Papua, Mau Dibawa Kemana?         Freeport: Akar Separatisme Negara         Karena Terabaikan; “Menjadi Seniman Patung Bayangan”         Pemberdayaan Radio Komunitas bagi penguatan Identitas lokal di Tanah Papua         Politik Pemekaran Daerah dan Siasat Elit Lokal di Papua         Generasi Pertama Orang Dani Pemeluk Islam (3-Habis)         Sejarah Masuknya Islam ke Masyarakat Wamena-Papua (2)         Sejarah Masuknya Islam ke Papua (1)         Ukulele Mambesak: Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970-1980-an         Mencari Bentuk Film Indonesia (3-Habis): Lesunya Bioskop & Gagalnya Kebangkitan Film Indonesia         Mencari Bentuk Perfilman Indonesia (2): Genealogi Munculnya Film Seks, Kekerasan & Koboi         Mencari Bentuk Perfilman Indonesia (1): Revolusi & Nasionalisasi Film di Jaman Soekarno         Baku Hantam yang Keblinger dalam Merantau         Membioskopkan Santri & Pesantrennya         From Sex to Syahadat: The Market & Resurgence of Religion in Indonesian Cinema 1997-2011         Thank You, India (Movie)        

2011—2013 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762