Etnohistori.org

Empat Musim di Oude Markt, Leuven

oleh: Bosman Batubara*

Saya pertama kali menginjak Oude Markt, Leuven pada akhir tahun lalu. Adalah Priya, buddy saya, yang mengenalkan Oude Markt ketika itu. Oh ya, buddy adalah semacam “kakak angkat” dalam menyambut mahasiswa internasional yang diorganisir oleh Katholieke Universiteit Leuven (KUL). Calon mahasiswa, seperti saya ketika itu, mendapatkan informasi tentang buddy program ini melalui internet. Intinya, orang yang menjadi buddy kita akan memudahkan masa adaptasi kita di Leuven. Macam-macam yang dilakukan buddy, ada yang menjemput di airport di Brussel, ada yang sekedar ngobrol, dan juga menjadi teman ke pesta.

Aku tahu tempat yang bagus di Oude Markt, kata Priya ketika itu. Dan di awal tiba di Leuven itulah saya pertama kali menginjakkan kaki di Oude Markt sekaligus untuk pertama kali pula menyicipi bir Belgia. Tentang bir ini, saya punya cerita khusus. Tampaknya bir-lah, bukan coklat, yang sebenarnya menjadi kebanggaan bagi warga Belgia. Setiap ngobrol dengan anak muda Belgia, sudah hampir pasti dalam perbincangan topik mengenai bir akan disinggung. Melalui salah satu perbincangan, saya jadi tahu bahwa Belgia memiliki sekitar 730 jenis bir. Setiap bir biasanya memiliki gelas tersendiri. Mulai dari yang hanya bertuliskan nama bir dan perusahaan pembuatnya, sampai gelas bir seperti Kwak yang dilengkapi dengan kayu penyangga untuk pegangan ketika kita meminumnya.

Bahkan warga di beberapa negara tetangga Belgia pun menyukai bir Belgia. Saya sempat terkejut ketika main ke Amsterdam dan Paris, saya menemukan bir Belgia dengan mudah di toko-toko yang buka sampai malam di kedua kota itu.

Oude Markt yang berarti Old Square, di Leuven sebenarnya tidak terlalu luas. Tetapi letaknya memang persis di tengah kota, berdekatan dengan Grote Markt dan beberapa bangunan tua yang sekarang digunakan menjadi bagian dari KUL seperti Registrar Office dan International Office. Yang khas dari Oude Markt Leuven adalah bar-nya. Sebanyak 34 buah bar berjejer mengelilingi lapangan yang berbentuk persegi panjang ini. Kata beberapa orang, deretan bar di Oude Markt Leuven ini adalah yang terpanjang di seluruh Eropa.

Oude Markt, Leuven. (dokumentasi: Bosman Batubara)

Oude Markt, Leuven. (dokumentasi: Bosman Batubara)

Ketika saya datang pada awal tahun ajaran September lalu, sisa-sisa musim panas masih sempat saya rasakan. Kursi-kursi masih diletakkan berjejer di luar memenuhi hampir setengah lapangan Oude Markt. Kalau anda mau bersantai di sana, tinggal datang, duduk, dan tak lama kemudian bartender akan datang menghampiri anda untuk menanyakan pesanan. Dan sambil tersenyum ketika mengantarkan minuman, dia menyilakan anda, enjoy your drink!

Tetapi semuanya berubah ketika musim gugur dan musim dingin datang. Kursi-kursi yang tadinya berjejer di halaman-halaman bar, langsung ditumpuk. Beberapa kursi malah dirantai dan ditutupi dengan terpal. Oude Markt seperti menjadi mati pada siang hari, karena yang ada hanya salju dan beberapa orang yang kebetulan lewat.

Meski begitu, di malam hari ia tetap hidup. Musim dingin di akhir tahun adalah masa awal tahun ajaran baru. Artinya semua mahasiswa sedang berada di Leuven, dan dengan sendirinya Oude Markt tidak pernah mati pada malam hari. Karena kehidupan mahasiswa di Leuven, mengutip seorang teman perempuan dari Polandia, hanya berkisar pada books, parties and boys. Ke bar mana pun anda pergi di Oude Markt, dipastikan ia akan ramai pada malam di musim dingin.

Karenanya, Oude Markt-pun tidak pernah tidur di malam hari musim dingin. Dari mulai gelap, sampai menjelang ia terang lagi, bar-bar dipenuhi anak-anak muda yang berpesta. Hal ini sangat mudah dimaklumi karena memang hampir separuh penduduk Leuven adalah mahasiswa. Menurut buku Living in Leuven 2010-2011 yang saya terima dari Universitas, dari sekitar 95.000 penduduk Leuven, 43.000 di antaranya adalah mahasiswa.

Jadi jangan heran kalau ritme kotapun kemudian malah mengikuti ritme mahasiswa. Gemuruh siang dan malam pada awal tahun ajaran, dan menjadi relatif lebih tenang menjelang ujian, dan puncaknya pada saat ujian, facebook-pun terasa menjadi sepi karena orang-orang pada belajar. Di musim libur Leuven menjadi lebih tenang, mirip dengan Yogyakarta pada saat lebaran, ketika para mahasiswa pergi meninggalkan kota.

Anda bisa menjajal satu-persatu bar yang ada di Oude Markt. Kalau anda senang musik-musik rock, maka silahkan mampir di Rock Cafe, di sana anda bisa meminta lagu yang anda senangi untuk diputar. Carol, sang bartender, akan mencarikannya untuk anda. Bosan dengan musik rock dan ingin berdansa, anda bisa pindah ke De Rector untuk bergoyang. Kalau punya skill DJ dan nyali, bahkan anda bisa mempraktikkannya di sana. Atau sekedar ngobrol di bar Metropole. Kalau anda merasa lapar, tinggal bergerak sedikit ke arah Grote Markt, maka di lorong antara ini anda akan menemukan restoran cepat saji McDonald atau toko makanan Turki. Dan masih banyak lagi.

Oude Markt, Leuven-Belgium. (dokumentasi: Bosman Batubara)

Oude Markt, Leuven-Belgium. (dokumentasi: Bosman Batubara)

Pemerintah kota juga benar-benar memfasilitasi warganya untuk menikmati Oude Markt. Saya bisa sebut begitu, karena pada saat pergantian tahun, pemerintah kota menyediakan pertunjukan musik langsung di Oude Markt. Lapangan dipenuhi anak-anak muda yang bergoyang dengan bir di salah satu tangan masing-masing. Semua larut dalam keramaian dan menghitung mundur keras-keras mengikuti layar besar yang memperlihatkan timer yang menuju angka penanda pergantian tahun. Keesokan paginya, ketika saya lewat di Oude Markt, saya masih sempat melihat para petugas kebersihan yang menyapu lapangan yang dipenuhi sampah berupa pecahan botol dan kaleng bir.

Pada awal April tahun 2011 ini, musim semi kembali datang. Matahari bersinar terang, hangat, dan lebih lama. Kursi-kursi di Oude Markt yang tadinya dirantai sudah dilepas dan ditata berjejer di halaman-halaman bar di Oude Markt. Orang-orang berdatangan, sekadar minum bir sambil menikmati hangatnya sinar matahari yang menjadi barang mahal pada musim dingin, berbincang-bincang dengan teman, keluarga, atau juga rekan bisnis.

Kadang-kadang lewat beberapa orang pelancong yang sibuk mengabadikan suasana Oude Markt dengan kameranya. Atau para pasangan yang mendorong anak mereka di kereta bayi. Beberapa orang anak berkejar-kejaran di lapangan, sementara orang tua-orang tua mereka asyik ngobrol dan minum bir di kursi-kursi yang berjejer. Semua orang tampaknya keluar dari rumah masing-masing.

Di tepi sana, berjejer pohon-pohon yang kembali tumbuh menghijau setelah meranggas pada musim gugur yang lalu. Orang-orangnya sendiri-pun kelihatan lebih bahagia. Mereka menjadi sangat ramah dan suka tersenyum. Kontras dengan musim dingin dimana orang-orang juga kelihatan menjadi dingin dan tertekan. Kata seorang teman memang begitu. Musim semi membawa kebahagiaan pada setiap orang.

Saya sendiri juga merasakannya. Ada perasaan yang sangat enak ketika pertama kali, setelah berbulan-bulan, kulit kita kembali tersentuh hangat sinar matahari. Di musim dingin, rasanya sangat kerepotan. Setiap keluar ruangan, empat atau kadang-kadang bahkan lima lapis baju melekat di badan. Ketika masuk ruangan, buka jaket dan sweater, letakkan di cantolan atau sandaran kursi. Ketika akan keluar ruangan ambil dan pakai lagi. Pakai, buka pakai, buka, begitulah rutinitas di musim dingin.

Tetapi di musim panas, semuanya menjadi hilang. Dengan enteng kita bisa nongkrong di Oude Markt tanpa harus memakai jaket. Dan, adalah satu kesenangan tersendiri duduk di Oude Markt, ngobrol tak tentu arah, sambil sekali dua meneguk bir Belgia, dengan hanya selembar kaos oblong melekat di badan. (© Bosman Batubara, Mei 2011)


*Penulis adalah mahasiswa Inter-university Programme in Water Resources Engineering, Katholieke Universiteit Leuven dan Vrije Universiteit Brussel.

Sabtu, 21 Mei 2011

 

2011—2012 • Etnohistori.org • Some Rights Reserved Kembali ke atas