ETNOHISTORI

Etnografi Ekspatriat [Bule] di Yogyakarta (1)

oleh: Anne-Meike Fechter *

 

Alice Dewey di Norobangun―Yogyakarta**

Alice Dewey di Norobangun―Yogyakarta**

 

Dalam tulisan ini saya membahas tentang ekspatriat non-perusahaan yang hidup di kota Yogyakarta, atau yang biasa disebut ‘Yogya’. Banyak orang asing datang ke kota ini sebagian besar orang-orang tidak karena dikirim oleh perusahaan, melainkan mereka datang lebih karena inisiatif sendiri. Usia orang asing mulai dari usia antara 20 hingga 60 tahun. Keputusan mereka untuk tinggal di Yogya, berbeda dengan ekspatriat perusahaan di Jakarta. Banyak ‘ekspatriat independen’ di Yogyakarta yang memiliki minat lebih terhadap orang dan perusahaan dalam negeri. Mereka cukup mampu dalam memahami budaya lokal dan berbahasa Indonesia, dan banyak yang bertekad untuk membangun hubungan kerja yang erat dengan Indonesia, kadang-kadang bahkan dengan tujuan untuk menyatu dengan komunitas lokal. Ini berbeda dengan para ekspatriat di Jakarta yang seolah-olah tinggal dalam ‘gelembung’ dan menghindar dari orang pribumi. Dalam pengakuan terhadap fakta bahwa mereka cenderung untuk memisahkan diri dari konsep ‘ekspatriat’. Dalam tulisan untuk Etnohistori ini, saya memperkenalkan dua informan saya; Sven dan Lily.

Sven, adalah seorang Belgia berusia awal tiga puluhan. Ia punya gelar dalam studi lingkungan dan selalu menikmati perjalanan ke luar negeri. Setelah menyelesaikan gelarnya, ia mulai bekerja kadang-kadang sebagai pemandu perjalanan wisata terkemuka di pegunungan Himalaya, di India dan Asia Tenggara. Dalam perjalanan karirnya, ia sudah mengunjungi Indonesia beberapa kali karena ia diminta untuk terlibat dalam mendirikan sebuah kafe pelancong di Yogyakarta. Setelah periode awalnya yang sukses, ia mulai memikirkan untuk tetap tinggal lebih permanen. Kesempatan tersebut muncul dengan sendirinya ketika ia mendirikan sebuah usaha kecil furnitur dengan fokus pada sektor ekspor. Selama beberapa tahun, perusahaannya tumbuh. Sven mulai menekankan pada manufaktur furnitur bergaya Jawa dengan spesifikasi pelanggan orang Eropa dan Amerika Serikat. Sven mampu berbicara bahasa Indonesia dengan sangat lancar, tinggal di sebuah rumah yang nyaman di pusat Yogya, mempekerjakan pembantu rumah tangga dan menghabiskan beberapa minggu setiap tahun di Eropa.

Sven menghabiskan waktu luangnya terutama dengan orang asing lainnya yang berada dalam posisi yang sama seperti dirinya, yang ia telah kenal selama bertahun-tahun. Mereka tinggal semi-permanen di Yogyakarta. Mereka makan di restoran lokal, kadang-kadang mengunjungi bioskop, dan menghabiskan malam dengan minum bir Indonesia di sebuah bar terbuka. Sven mengatakan bahwa ia kadang-kadang merindukan duduk di alun-alun pasar di sebuah kota tua di Belgia pada Minggu pagi, sarapan dengan teman-teman, atau minum kopi dengan kualitas terbaik dan hanya membaca koran, tetapi tampaknya kebahagiaan itu sedikit tertunda, karena setidaknya untuk saat ini ia berfokus pada pekerjaannya di Yogya.

Sven mengakui bahwa tidak akan mungkin untuk membangun bisnis seperti ini di Belgia, dan ingin memanfaatkan kesempatan dan peluang yang ada, walaupun sesekali mengalami kemunduran dan hubungan profesional terkadang sulit untuk dibangun. Secara pribadi, bagaimanapun, dia membenci mantan rekannya yang menuduhnya telah menjadi seorang ‘kapitalis’, dan dengan demikian mengkhianati nilai-nilai di antara sesama mereka ketika masih bersama-sama di waktu awal mereka menjadi tour guiding (pemandu wisata). Sven marah terhadap kritik seperti itu, dengan menunjukkan hasil rekan kerjanya terhadap keluarga besarnya. Sven juga memberikan mata pencaharian kepada lebih dari seratus orang di Yogya, sehingga memberikan kontribusi yang besar untuk masyarakat Indonesia.

Sedangkan Lily, adalah seorang artis Amerika di usianya pertengahan lima puluhan, ia telah tinggal di Indonesia, dengan jeda panjang, sejak awal 1990-an. Dia pertama kali datang ke Indonesia dalam rangka berhubungan dengan seni rupa pada akhir tahun 1970. Ia belajar secara otodidak batik (teknik penenunan kain Indonesia), dan menjual batik t-shirt di Venice Beach di Los Angeles, Amerika Serikat. Lily pertama kali datang ke Indonesia pada awal 1980-an untuk mengeksplorasi apa yang dilihatnya sebagai ‘jantungnya batik’. Dia mengingat pertemuan perdananya dengan suka cita:

“Entah bagaimana, semuanya tampak menjadi mungkin. Kami adalah kelompok perempuan Barat muda, dan kami diperkenalkan kepada semua seniman dan juragan batik di sini. Ada suasana kolegalitas yang besar di sana. Beberapa dari kami mulai menjalin hubungan dengan orang Indonesia, beberapa menikah dan kemudian bercerai (dia menambahkan dengan tertawa).”

Meskipun ia menghabiskan sebagian besar waktunya di Yogyakarta, ia diperkenalkan dengan ‘gambaran ekspatriat’ di Jakarta oleh kakaknya, yang kebetulan waktu itu bekerja di sana. Lily mengingat: “Bagiku, yang aneh dari apa yang aku lihat di Yogya, mereka berusaha dengan sangat hati-hati menjaga dunia kecil mereka, itu tampak di waktu kami makan malam dan banyak yang senang ketika pesta makan malam tersebut. Aku pergi pesta orang-orang pribumi pertama kali di sana, dengan para pelayan dan segalanya tersedia”.

Meskipun dia telah jatuh cinta dengan Indonesia, ketika kembali ke Los Angeles, Lily menemukan bahwa ia tidak bisa dengan mudah masuk ke dunia seni di sana, dan ia ‘merasa asing’: “Aku memiliki serangkaian keterasingan, dan tidak benar-benar mendapatkan inspirasi terhadap karya seniku, dan aku tidak benar-benar terlibat kerja dengan siapapun“. Setelah satu dekade tinggal di California, Lily akhirnya kembali ke Yogyakarta, memulai hubungan dengan orang Indonesia, dan menetapkan dirinya sebagai seorang seniman di sana: “Ketika aku kembali ke Yogya, aku shock melihat apa yang terjadi dalam sepuluh tahun. Sebuah kota kecil yang bernadi pelan telah mengalami kehidupan borjuisasi yang sibuk. Tampaknya aku telah meromantisir tempat ini, sebagai bagian dari kehidupan seniku, semua omong kosong sebagian benar dan sebagian lagi tidak … tetapi di sini, aku tidak punya alasan lagi. Aku tidak didorong, tetapi di sini aku harus fokus pada pekerjaan seniku”. Meskipun hubungannya berakhir beberapa tahun yang lalu, Lily terus tinggal di sebuah rumah mencolok di lingkungan orang Indonesia, dan biaya hidup yang relatif rendah memungkinkan dia mampu melecut karya seninya sendiri tanpa harus menghadapi lingkungan kompetitif serta finansial yang berat seperti kehidupan di Los Angeles.

Lily kadang-kadang melakukan perjalanan ke AS atau Australia untuk memamerkan lokakarya batik, dan memiliki jaringan teman perempuan Barat di Yogyakarta. Dia menikmati hubungan dekatnya dengan beberapa anak muda Indonesia di lingkungannya, yang sering mengunjungi rumahnya. Saat itu ia menjelaskan, “Aku bermain game pendidikan dengan mereka, makan di sini, dan aku benar-benar menjadi seorang tante bagi mereka … jadi kami semua mendapatkan banyak hal dari hubungan ini”.

Cerita dari Sven dan Lily, meskipun jelas tidak representatif, menunjukkan wajah orang-orang asing di Yogyakarta, termasuk keadaan kedatangan mereka, cara mereka mencari nafkah, dan sikap mereka terhadap orang Indonesia. Orang asing ini adalah kelompok heterogen dan terlibat dalam berbagai kegiatan, beberapa dari mereka menghasilkan pendapatan, sedangkan yang lain tidak. Mereka termasuk pengusaha kecil yang memproduksi dan mengekspor kerajinan atau perabot, atau yang mempunyai wisma, restoran, bar atau kafe internet. Ada guru bahasa, orang-orang yang bekerja untuk LSM dan lembaga budaya, seniman, mahasiswa bahasa Indonesia atau seni, akademisi, peneliti, dan lain-lain yang hanya tinggal selama liburan dan memperpanjang durasinya selama beberapa bulan. Sejumlah besar tidak terlibat dalam pekerjaan yang dibayar, tetapi mengejar proyek sendiri, baik itu untuk seni atau amal, dan telah membentuk gaya hidup yang dengan waktu dan ruang yang dipunyainya untuk mengembangkan minat masing-masing. [Selanjutnya..]

 

25 Maret 2012


* Dosen senior Antropologi, Universitas Sussex―Inggris

** Sumber foto

Tulisan terkait: Menelisik Masyarakat Kulit Putih di Indonesia

 

[ C a t a t a n ]

 

0 Tanggapan

    • Hello, guest

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org