ETNOHISTORI

Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (Bagian 2): Kharisma Maulana Syaikh

 

oleh: Saipul Hamdi *

 

[Lambungan Bagian 1] Selama masa kepemimpinan Maulana Syaikh (19431997), kebesaran Nahdlatul Wathan (NW) tidak hanya diukur dari segi kuantitas jamaah yang dimilikinya sebagai kelompok majoritas di Lombok, tetapi juga keberhasilan NW di berbagai bidang seperti pendidikan, sosial dan dakwah. Di bidang pendidikan Syaikh adalah tokoh pertama yang mengembangkan sistem pendidikan agama yang modern di Lombok melalui pendirian lembaga pendidikan madrasah. Di NW hanya terdapat satu lembaga pendidikan yang menggunakan sistem pesantren yaitu Ma’had Darul Qur’an was Al-Hadist. Lembaga ini sengaja dibangun oleh Syaikh sebagai pendukung output lembaga pendidikan yang lain.

 

 

Sejak masa berdiri NW hingga kematian Syaikh pada tahun 1997, dia telah berhasil membangun ratusan cabang madrasah di hampir seluruh daerah di Lombok. Terdapat 800 buah lembaga pendidikan yang dibangun oleh Syaikh dan murid-muridnya sejak tahun 19431997 dengan jenjang pendidikan yang berbeda-beda mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Kemajuan lain yang dicapai oleh NW pada masa Syaikh adalah keberhasilan pada bidang sosial dengan mendirikan 23 panti asuhan yang tersebar di beberapa pengurus cabang NW. Panti asuhan ini mengadopsi anak-anak yatim dan anak yang tidak mampu. Syaikh juga mampu membawa NW bekerja sama dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk menekan tingkat populasi di NTB. Sosialisasi program KB yang dilakukan oleh organisasi NW sangat efektif karena menggunakan pendekatan agama. Pengurus organisasi NW termasuk para tuan guru ikut mensosialisasikan progran KB melalui pengajian-pengajian. Selain itu NW pada masa Syaikh juga tercatat sebagai organisasi yang sangat kooperatif dengan pemerintah baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru. Hampir tidak ada konflik besar antara tokoh-tokoh NW dengan pihak pemerintah.

Prestasi lain yang dicapai NW pada masa Syaikh adalah pengembangan dakwah islamiyah di Lombok. Syaikh telah berhasil melakukan dakwah di Lombok termasuk ke komunitas Wetu Telu[1]. Komunitas Wetu Telu hampir punah karena kuatnya arus konversi ke Islam Waktu Lima hanya sebagian kecil komunitas yang masih mempraktikkan ajaran Wetu Telu. Keberhasilan dakwah ini karena Syaikh menggunakan pendekatan kultural dalam menyebarkan ajaran Islam seperti yang dilakukan oleh Wali Songo di Jawa. Dia sangat akomodatif dan respek dengan budaya lokal serta mampu menggunakan simbol-simbol budaya lokal untuk kepentingan dakwah keagamaan.

Masuknya gerakan dakwah oleh tokoh-tokoh NW dan tokoh Islam lainnya telah menarik simpati sebagian warga Islam Wetu Telu. Mereka bersedia menyekolahkan putra-putra mereka di madrasah NW di Pancor. Sebagian juga belajar di pesantren TGH. Mutawalli dari Jero Waru, Lombok Timur. Setelah selesai masa pendidikan, mereka kembali ke kampung dan melakukan kegiatan dakwah dan mendirikan madrasah. Banyak di antara mereka yang berprofesi sebagai tuan guru atau guru agama di sekolah mereka. Daerah-aerah yang menjadi basis komunitas Islam Wetu Telu seperti di desa Sukarara dan Sakra di Lombok Timur, desa Bleka dan Mujur di Lombok Tengah, desa Lembuak, Narmada di Lombok Barat dan desa Bayan di Lombok Utara telah bergeser komposisinya. Sebelumnya, jumlah pengikut Islam Wetu Telu di daerah tersebut sekitar 60% dan sisanya adalah penganut Islam Waktu Lima, sekarang justru terbalik 40% Islam Wetu Telu dan 60% Islam Waktu Lima.

Adapun kelemahan NW selama kepemimpinan Syaikh adalah pada aspek manajemen konflik. Syaikh tidak menyadari adanya ancaman besar akan terjadi konflik dan perpecahan di kalangan keluarga dan elit-elit NW akibat kontestasi kekuasaan dan dominasi sumber-sumber modal di dalam maupun di luar NW. Selain itu Syaikh seringkali mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang kontra-produktif di tengah-tengah jamaah NW sehingga menimbulkan multi interpretasi bahkan kesalahpahaman terhadap pemaknaan ungkapan Syaikh tersebut. Dia juga cenderung mendengar elit-elit NW yang dekat dengan dirinya tanpa melakukan crosscheck kebenaran atas data atau informasi itu. Munculnya kasus pemecatan yang kontraversial terhadap elit-elit NW adalah salah satu bukti lemahnya managemen konflik dan kontrol informasi yang masuk kepadanya. Selama masa hidupnya telah terjadi berbagai peristiwa konflik dan perpecahan internal elit-elit NW seperti kasus tahun 1977 dan 1982.

NW kembali dilanda konflik dan perpecahan pada tahun 1982 karena persoalan politik dengan Partai Golkar. Kasus tahun 1982 pada awalnya merupakan konflik eksternal dengan pengurus partai Golkar, kemudian merembet menjadi konflik internal elit-elit NW karena perbedaan kepentingan. Pada Pemilu legislatif tahun 1982 organisasi NW mengisyaratkan diri untuk keluar dari partai Golkar karena kecewa dengan sikap partai ini yang tidak pernah merealisasikan sebagian janji-janji politiknya. Pada waktu itu NW melakukan gerakan tutup mulut (GTM) tidak memberi pernyataan secara jelas akan mendukung salah satu partai, tetapi ada kecenderungan elit-elit NW mendukung PPP. Elit-elit NW yang menjadi anggota dewan dari Partai Golkar dihadapkan pada pilihan yang sulit, apakah tetap di Golkar atau keluar dari partai Golkar dengan melepas jabatan mereka sebagai anggota dewan. Sementara jika tetap di Golkar sama artinya meninggalkan atau berkhianat kepada guru ‘Syaikh’ dengan konsekuensi harus rela keluar dari NW. Sebagian elit-elit NW memilih tetap di Golkar seperti TGH. Najamudin dari Praya dan TGH. Zainal Abidin dari Sakra. Mereka tetap aktif di partai Golkar karena kepentingan politik pribadi dan keluarga. Selain itu, mereka menilai bahwa Syaikh tidak menggunakan bahasa yang tegas dengan keputusan GTM tersebut yang akhirnya menimbulkan multi tafsir di kalangan elit-elit NW, sebagian elit memaknai boleh tetap di Golkar dan sebagian mengartikan harus keluar dari Golkar.

 

NW Pasca Maulana Syaikh

Wafatnya Syaikh tahun 1997 tidak hanya meninggalkan duka yang mendalam bagi jamaah NW, tetapi juga meninggalkan berbagai persoalan politik di internal organisasi NW yang belum terselesaikan. NW pasca Syaikh merupakan era baru bagi jamaah NW karena selama ini dia merupakan tokoh sentral di NW selama hampir satu abad. Di era pasca Syaikh merupakan era transisi dari kepemimpinan Syaikh ke generasi NW berikutnya. Pada saat yang bersamaan, setahun setelah dia wafat, bangsa Indonesia sedang dalam proses transisi dari era Orde Baru ke era Reformasi. Sejalan dengan agenda reformasi di tingkat nasional, NW juga mengalami reformasi di setiap bidang baik di bidang pendidikan, politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Membandingkan era Syaikh dengan era setelahnya bukanlah sesuatu yang gampang karena harus melihat berbagai aspek. Selain itu, membandingkan dua era ini sulit berlaku objektif karena perbedaan kondisi sosial-politik yang mempengaruhi perkembangan NW. Saya berpendapat bahwa pada bidang-bidang tertentu NW pasca Syaikh mengalami kemajuan yang lebih besar daripada NW pada masa Syaikh. Meskipun NW dari sejak awal ditinggal oleh Syaikh setelah wafat terjebak dalam konflik dan perang saudara yang berepanjangan, namun mereka sangat berhasil di bidang politik dan pembangunan. Misalnya, NW mencapai prestasi puncak ketika mampu mengantarkan kadernya sebagai gubernur NTB dan bupati Lombok Timur priode 20082013.

Seperti yang penulis kemukakan sebelumnya, bahwa telah muncul konflik dan perpecahan secara terbuka di tubuh organisasi NW setelah Syaikh wafat. Ketika dia masih hidup konflik dan perpecahan bersifat sembunyi-sembunyi di balik layar, tetapi setelah dia wafat konflik dan perpecahan mulai terbuka di publik. Selama satu dekade, konflik dan perpecahan NW telah menjadi konsumsi publik dan komoditas politik baik bagi masyarakat Lombok dan jamaah NW khususnya. Muktamar NW ke 10 tahun 1998 di Praya adalah puncak konflik NW pasca wafatnya Syaikh. Pada Muktamar itu terdapat dua kubu yang bersaing sebagai orang nomor satu di NW yaitu kubu Rauhun (R1) dan kubu Raihanun (R2). Pemimpin kedua kubu ini adalah putri Syaikh, mereka bersaing memperebutkan posisi sebagai pemimpin NW yang baru. Hasil Muktamar di Praya yang menunjukkan terpilihnya Raihanun dari kubu R2 sebagai pemimpin NW yang baru mendapat tantangan dan penolakan dari kubu R1. Kubu R1 melihat ada pelanggaran aturan organisasi pada Muktamar Praya karena pencalonan Raihanun sebagai pemimpin NW. Pro dan kontra hasil Muktamar ini melahirkan konflik dan perpecahan selama satu dekade lebih sejak tahun 19982009.

Peristiwa konflik merupakan salah satu yang paling menonjol dalam sejarah perkembangan NW pasca Syaikh. Yang menarik adalah meskipun NW di tengah perpecahan dan konflik komunal tetapi NW tetap eksis, bahkan terus menunjukkan grafik perkembangan yang lebih jika dibandingkan dengan masa Syaikh. Konflik dan perpecahan tidak menghambat elit-elit NW untuk terus mengembangkan sayap-sayap organisasi. Pasca Muktamar Praya NW secara organisatoris terbagi ke dalam dua kubu yakni kubu R1 dan kubu R2. Dalam perkembangannya, kedua kubu ini juga dikenal dengan sebutan NW Pancor untuk kubu R1 dan NW Anjani untuk kubu R2. Munculnya nama Pancor dan Anjani mengacu pada tempat masing-masing kedua kubu menjalankan roda organisasi.

Selama konflik dan perpecahan kedua kubu bersaing dan berkompetisi menunjukkan kubu siapa yang lebih baik di dalam mengelola NW. Kubu R2 atau dikenal dengan NW Anjani bersama pendukungnya melanjutkan perjuangan NW dengan membangun lembaga-lembaga pendidikan yang baru. Perkembangan NW Anjani tergolong cepat meskipun mereka mulai dari nol. Mereka membebaskan tanah sambil membangun institusi-institusi pendidikan, stasiun Radio Dewi Anjani dan lain-lain. Hal yang sama juga dilakukan oleh kubu R1 atau NW Pancor, mereka terus meningkatkan pengembangan kualitas output lembaga pendidikan yang telah ada. Mereka juga merehab gedung-gedung sekolah yang sudah tua atau tidak layak pakai dengan membangun gedung-gedung baru. Mereka berhasil merampungkan bangunan perpustakaan Birrul wa Lidain dan membangun stasiun Radio Hamzanwadi. Keberhasilan kedua kubu NW dengan membangun stasiun radio adalah pencapaian yang tidak pernah dicapai pada masa Syaikh. Begitu juga dengan keberhasilan NW menyelesaikan bangunan gedung Birrul wa Lidain adalah sebuah prestasi tersendiri karena bangunan ini merupakan projek besar yang menghabiskan dana miliaran. Bangunan perpustakaan ini telah mulai dibangun sejak Syaikh masih hidup dan belum selesai selama bertahun-tahun sampai dia wafat.

Sebagai konsekuensi dari perpecahan NW, seluruh kebijakan tergantung pada kubu masing-masing. Seringkali kebijakan organisasi antara kedua kubu saling berbenturan. Nuansa persaingan antara keduanya telah masuk pada ranah di luar organisasi seperti ranah politik. Kedua kubu mengubah arah kebijakan politik mereka dengan berafiliasi ke partai-partai politik yang baru. Pada Pemilu tahun 1999, kubu Anjani berafiliasi ke partai Golkar pimpinan Akbar Tanjung, sementara itu kubu Pancor berafiliasi ke Partai Daulat Rakyat (PDR) pimpinan Adi Sasono. Perubahan kebijakan politik kedua organisasi NW juga terjadi pada Pemilu 2004, kubu Pancor berafiliasi ke Partai Bulan Bintang (PBB), sedangkan kubu Anjani berafiliasi ke Partai Bintang Reformasi (PBR). Kedua partai politik afiliasi NW ini selalu memperoleh suara yang signifikan di NTB masuk 5 besar.

Tahun 2008 merupakan tahun bersejarah bagi kedua kubu NW karena mereka terlibat langsung di dalam pertarungan politik praktis di NTB. Kedua kubu terlibat di dalam persaingan pada Pilkada tahun 2008 untuk posisi gubernur di NTB dan bupati di Lombok Timur. Dalam pandangan penulis bahwa inilah puncak kejayaan NW karena mampu memenangkan Pilkada di NTB meskipun di tengah konflik internal. NW berhasil memenangkan dua jabatan publik yaitu sebagai gubernur NTB dan bupati Lombok Timur periode 20082013. Pada Pilkada tersebut TGB. Muhammad Zainul Majdi (pemimpin NW Pancor) terpilih sebagai gubernur NTB dan Sukiman Azami yang berpasangan dengan Samsul Lutfi (pengurus NW Pancor) sebagai bupati dan wakil bupati Lombok Timur. Kemenangan ini merupakan sejarah baru bagi NW karena selama kepemimpinan Syaikh belum pernah kader NW berhasil memegang kedua jabatan publik terebut. Kemenangan ini juga menarik karena NW dalam kondisi konflik dan perpecahan, apalagi kubu NW Anjani tidak mendukung calon dari kubu NW Pancor. Mereka justru mendukung calon lain di luar NW.

Prestasi lain adalah kader-kader NW pasca Syaikh semakin terbuka dan kritis. Pola-pola kepemimpinan yang mengutamakan sikap fanatik yang berlebihan perlahan-lahan mulai tereduksi walaupun masih eksis. Dari kedua kubu NW terdapat perbedaan pendekatan yang digunakan dalam mengembangkan NW, kubu R2 lebih cenderung mempertahankan pola kepemimpinan Syaikh yang mengedepankan ideologi sufistik yang menekankan ketaatan total kepada guru dan pemimpin organisasi. Tidak diperbolehkan seorang kader menentang atau mengkritisi kebijakan organisasi. Berbeda dengan kubu R1 yang lebih menekankan sikap rasional dengan mewacanakan paradigma baru tentang perubahan di NW. TGB. Muhammad Zainul Majdi berhasil membangun wacana baru di NW seperti wacana pluralisme, multikulturalisme dan kebebasan berpendapat. Dia juga membangun kembali hubungan dengan tokoh-tokoh dari luar NW seperti tokoh Muhammadiyah dan tokoh Nahdlatul Ulama dengan mengundang mereka hadir di acara-acara hari besar NW. Yang lebih menarik lagi adalah kubu NW Pancor di awal kepemimpinan TGB. Majdi melibatkan tokoh-tokoh di luar NW masuk ke jajaran pengurus NW untuk membantu pengembangan organisasi ini. Dia juga merekrut dan merangkul tokoh-tokoh yang pernah dipecat atau dibuang oleh Syaikh untuk ikut berjuang kembali di NW seperti TGH. Afifuddin Adnan.

Berbeda dengan kubu NW Anjani yang masih alergi dengan tokoh-tokoh di luar NW. Mereka hanya mengundang tokoh-tokoh di luar NW jika terdapat agenda dan kesepakatan politik yang melibatkan mereka. Misalnya ketika masa Pilpres, mereka mengundang Amin Rais yang menjadi calon presiden pada Pemilu 2004. Masih sangat taboo bagi kubu NW Anjani untuk membangun komunikasi dan bekerja sama dengan organisasi-organisasi di luar NW. Dengan demikian NW Anjani terkesan ekslusif secara kelembagaan. [ ]




[1] Wetu Telu merupakan salah satu varian agama Islam yang berkembang di Lombok. Ajaran Islam Wetu Telu diklaim sebagai ajaran sinkritisme 
.....yang memadukan ajaran Islam dengan Hindu dan agama lokal masyarakat Lombok yaitu Boda (lihat Budiwanti, 2000).

 

9 Februari 2012

 

Edisional Studi Indonesia Timur yang Terlupakan

 

* Peneliti ARI−NUS 2009 dan lulus Doktoral ICRS−UGM 2010

 

 

3 Tanggapan

    • Hello, guest
    • Ulasan yang objektif meski ada bbrapa point yang perlu dikupas lebih dalam spt alasan penolakan Ummi Raihanun pada Muktamar tersbut. Untuk Bajang Sasak Praya, kami minta ulasannya yang sesuai realita sesungguhnya sebagai tambhan informasi bagi kami. bukankah menyembunyikan ilmu adalah tindakan yang kurang baik? kwajiban anda untuk mengungkapkannya.

    • analisis yg cukup bagus saya kira, tapi apakah analisis ini menggambarkan realitas yg sebenarnya atau bagian dari konstruksi anda melaui narasi yang anda tulis untuk menggambarkan realitas? Sehingga melahirkan anlisis dan hasil yang obyektif , terima kasih

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org