ETNOHISTORI

Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (Bagian 1)

 

oleh: Saipul Hamdi *

 

Nahdlatul Wathan (NW) merupakan sebuah organisasi sosial keagamaan lokal yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan dakwah. Organisasi NW didirikan oleh TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau yang lebih dikenal dengan Maulana Syaikh pada tanggal 1 Maret 1953 di desa Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kata Nahdlatul Wathan berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata nahdlah dan wathan. Nahdlah berarti kebangkitan, pergerakan atau pembangunan, sedangkan wathan berarti tanah air atau negara. Maka secara bahasa nahdlatul wathan berarti kebangkitan tanah air, pembangunan negara atau membangun negara. Kata NW untuk nama organisasi ini diambil dari penggalan nama madrasah yang didirikan oleh Syaikh tahun 1937 yaitu Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah.

Menurut kajian literatur Islam di Indonesia, istilah nahdlatul wathan pertama kali muncul bukan berasal dari Syaikh, istilah ini telah muncul di kalangan tokoh-tokoh pejuang Islam di Surabaya pada tahun 1916. Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Mansur adalah orang pertama yang menggunakan istilah NW sebagai nama organisasi pergerakan untuk melawan penjajah Belanda pada tahun 1916. Selain itu mereka juga membentuk Nahdlatul Tujjar (kebangkitan kaum pedagang) dan Nahdlatul Fikri (kebangkitan pemikiran) pada tahun 1918 di Surabaya. Fakta sejarah ini melahirkan sebuah tanda tanya apakah terdapat kaitan atau hubungan antara organisasi NW yang lahir di Surabaya tahun 1916 dengan organisasi NW yang didirikan oleh Syaikh di Lombok Timur tahun 1953. Menurut Muhammad Noor secara organisatoris tidak ada hubungan antara kedua organisasi NW versi KH. Hasbullah dengan versi Maulana Syaikh karena jarak waktu yang cukup jauh. Meskipun Syaikh pernah diangkat sebagai konsulat NU pada tahun 1950 perwakilan dari pulau Sunda Kecil, tetapi tidak ada data empiris sebagai dasar untuk melihat adanya hubungan kedua organisasi ini.

Dilihat dari segi usia organisasi NW lahir lebih muda dibandingkan dengan organisasi sosial keagamaan yang lain di Indonesia seperti organisasi Muhammadiyah 1912, Persatuan Islam (Persis) 1923, dan Nahdlatul Ulama 1926. Meskipun lahir lebih muda, namun pada praktiknya organisasi NW telah beroperasi sejak tahun 1934. Cikal bakal organisasi NW adalah sebuah pesantren yang didirikan oleh Syaikh tahun 1934 ketika kembali dari Makkah yaitu Pondok Pesantren Al-Mujahidin. Pondok Pesantren Al-Mujahidin berjalan selama tiga tahun, kemudian diganti dengan lembaga madrasah yaitu Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang dibangun tahun 1937 dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang didirikan tahun 1943. Perkembangan yang pesat kedua madrasah NWDI dan NBDI dan lahirnya lembaga-lembaga pendidikan cabang di berbagai daerah inilah yang ikut memotivasi Syaikh membangun organisasi NW sebagai payung besar untuk menaungi lembaga-lembaga pendidikan tersebut.

Sebagaimana organisasi-organisasi sosial keagamaan yang lain yang memiliki fokus pembangunan, pembangunan di dalam organisasi NW terfokus pada tiga bidang pembangunan yaitu bidang pendidikan, sosial dan dakwah. Di bidang pendidikan NW secara berkelanjutan mendirikan lembaga pendidikan anak cabang di berbagai darah di Lombok mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dari sejak tahun 1934–2010 NW telah berhasil membangun 1500 cabang lembaga pendidikan yang tersebar di dalam dan luar daerah Indonesia. Sementara di bidang sosial NW telah mendirikan beberapa panti asuhan untuk anak yatim dan anak-anak terlantar. Mereka ditampung di panti asuhan NW dan disekolahkan secara gratis dan diberi beasiswa oleh Yayasan NW. Di bidang dakwah NW aktif membangun dan menghidupkan majlis dakwah dan majlis ta’lim melalui para tuan guru NW yang terdapat di desa masing-masing. NW juga memiliki program pengajian keliling desa yang bersifat harian, mingguan, bulanan dan tahunan secara bergantian. Masih terkait dengan dakwah NW juga menciptakan tradisi ritual seperti hiziban, tarekat hizib NW, wirid dan zikiran, berzanji, dan membaca wasiat Syaikh yang terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh jamaah NW.

Konsep ideologi NW lebih dekat ke NU daripada Muhammadiyah atau Persis yaitu menganut paham Ahlussunnah wa Al-Jamaah dengan menerapkan mazhab Syafi’i sebagai mazhab tunggal organisasi. Organisasi NW juga mengembangkan tarekat hizib NW dan mempraktikkan ajaran sufi yang menakankan loyalitas dan ketaatan kepada guru. Syaikh adalah guru yang paling tinggi posisinya dalam hirarki masyarakat NW. Sedangkan asas organisasi NW adalah Pancasila sesuai dengan undang-udang nomor 8 tahun 1985. Tujuan organisasi NW adalah li i’ila ikalimatillah wa izzal-Islam wa al-Muslimin (menegakkan kalimat Allah dan kejayaan Islam dan kaum Muslimin). NW dalam khittah-nya menjelaskan bahwa ia tidak berafiliasi kepada salah satu organisasi politik dan organisasi sosial kemasyarakatan manapun. Khittah NW untuk tidak berafiliasi dengan organisasi politik manapun dalam sangat berbeda di dalam praktik sosialnya karena NW dari sejak berdiri tahun 1953 pada masa Orde Lama tidak bisa dipisahkan dari kegiatan politik praktis baik di tingkat lokal maupun nasional. Pada masa Orde Lama Syaikh dan elit-elit NW terlibat dalam kepengurusan dan aktivitas Partai Masyumi. Bahkan elit-elit NW termasuk Syaikh tetap memilih bertahan di Masyumi ketika tokoh-tokoh Islam lainnya dari NU menyatakan keluar dari partai Islam tersebut. Setelah Partai Masyumi dibubarkan tahun 1960, NW berafiliasi dengan Partai Parmusi dan beralih ke Partai Golkar ketika Orde Baru mulai berkuasa. Pada Pemilu tahun 1982, NW keluar dari Partai Golkar dan secara diam-diam beralih ke PPP. Tradisi NW yang aktif di dunia politik praktis semakin kuat di era Reformasi karena tingginya posisi tawar politik NW di tengah perubahan sistem politik di Indonesia. Kesuksesan terbesar NW dalam politik praktis ketika berhasil mendudukkan kadernya untuk pertama kali sebagai gubernur NTB dan bupati Lombok Timur pada Pilkada 2008. Kader-kader NW yang lain juga berhasil memenangkan Pilkada bupati di Lombok Barat 2009, bupati di Lombok Utara 2010 dan walikota Mataram di Mataram 2010. Untuk lebih detail tentang keterlibatan NW dalam politik praktis akan dibahas pada bagian selanjutnya.

Simbol organsiasi NW adalah bulan bintang bersinar lima. Warna gambar simbol NW adalah putih dan warna dasar hijau. Makna filosofis dari simbol ini adalah bulan melambangkan Islam, bintang melambangkan iman dan taqwa, sinar lima melambangkan rukun Islam. Sedangkan warna gambar putih melambangkan ikhlas dan istikomah dan warna dasar hijau melambangkan selamat bahagia dunia-akhirat. Menurut data di lapangan bahwa simbol atau lambang organisasi NW mirip dengan lambang Partai Masyumi. Gambar lambang Partai Masyumi adalah bulan bintang dengan warna dasar hitam tanpa ada sinar di dalamnya. Kemungkinan besar pembuatan gambar lambang NW diinspirasi oleh lambang Partai Masyumi karena Syaikh selaku pendiri NW adalah aktivis Partai Masyumi. Berikut adalah gambar lambang organisasi NW;

 

Struktur pengurus organisasi NW terdiri dari dua bagian yaitu pertama, dewan pembina organisasi NW terdiri dari Dewan Mustasyar untuk tingkat pengurus besar, Dewan Penasehat untuk pengurus wilayah dan daerah dan Penasehat untuk pengurus cabang, anak cabang dan ranting. Kedua, dewan pelaksana kegiatan organisasi NW terdiri dari Pengurus Besar untuk tingkat pusat, Pengurus Wilayah pada tingkat provinsi, Pengurus Cabang untuk tingkat kecamatan, Pengurus Anak cabang pada tingkat desa dan Pengurus Ranting untuk tingkat dusun dan Pengurus Perwakilan di tempat-tempat yang dipandang perlu (Lihat: Anggaran Dasar Organisasi NW, 1999). Di bawah organisasi NW terdapat badan otonom dan non otonom. Badan-badan otonom terdiri dari kelompok Muslimat NW, Pemuda NW, Ikatan Pelajar NW (IPNW), Himpunan Mahasiswa NW (Himmah NW), Persatuan Guru NW (PGNW) dan Ikatan Sarjana NW (ISNW). Sementara badan non otonom terdiri dari Badan Kajian, Penerangan dan Pengembangan Masyarakat NW (BP3MNW), Jam’iyatul Qurra’ wal Huffaz NW, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIHNW) (Lihat: Anggaran Dasar Organisasi NW, 1999).

Keanggotaan NW dibagi menjadi dua yaitu anggota biasa dan anggota kehormatan. Anggota biasa adalah setiap orang Islam yang se-azas dan se-tujuan dengan organisasi NW serta bersedia memenuhi kewajiban organisasi. Sementara anggota kehormatan NW adalah setiap orang yang menyokong serta bekerja sama dengan organsiasi NW. Keanggotaan NW seringkali menjadi persoalan karena hingga sekarang belum ada mekanisme dan prosedur yang jelas sebagai sarat menjadi anggota NW. Pada masa awal berdiri NW orang-orang yang ingin menjadi anggota NW biasanya masuk sebagai siswa di lembaga pendidikan NW dan sebagian dilakukan secara lisan yakni orang tua menyerahkan anak-anaknya kepada Syaikh untuk dididik dan ikut berjuang di NW. Selain itu Syaikh melakukan pembai’atan kepada siswa-siswa di sekolah NW dan para jamaah NW yang berisi sumpah setia kepada NW secara turun temurun sampai ke generasi berikutnya termasuk anak dan cucu dan seterusnya. Hingga sekarang belum terdapat mekanisme dalam bentuk tulisan sebagai bukti keanggotaan NW misalnya, kartu anggota NW. Konsekuensinya sulit mengetahui secara pasti data yang akurat mengenai jumlah jamaah NW yang sebenarnya meskipun muncul klaim sebagai kelompok majoritas Muslim di NTB.

Sebelum mengalami konflik dan perpecahan internal tahun 1998 NW hanya memiliki satu kepengurusan pusat yang berkantor di Kelurahan Pancor, Selong, NTB. Namun terjadi perubahan setelah NW mengalami konflik dan perpecahan pasca Muktamar NW ke 10 di Praya Lombok Tengah tahun 1998. Setelah Muktamar Praya NW menganut dualisme kepemimpinan yaitu NW Pancor dan NW Anjani. NW Anjani merupakan kelompok yang mendukung hasil Muktamar Praya, sedangkan NW Pancor adalah penentang hasil Muktamar tersebut. Kelompok pendukung Muktamar Praya pindah dari Pancor ke desa Anjani karena tekanan dan aksi kekerasan pendukung kontra muktamar yang menyerang kelompok mereka. Kelompok ini menjadikan Anjani sebagai pusat organisasi NW yang baru sehingga mereka dikenal dengan sebutan NW Anjani. Sementara kelompok penentang Muktamar membentuk kepengurusan lain yang dikenal dengan NW Reformasi yang tetap berpusat di Kelurahan Pancor.

Dualisme kepengurusan di NW secara praktis juga berdampak pada konflik dan perpecahan seluruh jamaah NW dan lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan organisasi NW baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang. Di tingkat pusat hampir semua lembaga pendidikan terpecah dua kecuali perguruan tinggi Sekolah Tinggi Keguruan & Ilmu Pendidikan (STKIP) Hamzanwadi karena di bawah Kopertis Wilayah VIII Denpasar. Selain STKIP seluruh lembaga pendidikan terbagi dua mulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan dua perguruan tinggi yaitu Institut Agama Islam Hamzanwadi dan Ma’had Darul Qur’an wa Al-Hadits. NW Anjani harus mulai membangun dari awal karena mereka tidak mempunyai gedung sama sekali di desa yang baru. Perlahan-lahan mereka berhasil membebaskan tanah seluas 36 hektar (Profil Ponpes Syaikh Zainuddin NW Anjani, 2008: 12-13). Sementara NW Pancor merehab pembangunan yang sudah ada dan juga membangun gedung-gedung baru untuk kebutuhan karena setiap tahun siswa dan mahasiswa yang masuk belajar terus bertambah di Pancor.

Konflik NW tidak hanya berdampak negatif, tetapi juga berdampak positif. Kedua pecahan organisasi NW baik NW Anjani maupun NW Pancor terus berlomba-lomba membangun dan mengembangkan aset-aset organisasi NW baik di bidang pendidikan, sosial dan dakwah. Konflik telah memotivasi mereka untuk fastabiqul khairot di semua bidang termasuk di bidang politik praktis. Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa kedua kubu NW ini seringkali saling meniru jenis kegiatan dan pembangunan. Ketika NW Anjani membangun stasiun Radio Dewi Anjani, NW Pancor juga ikut membangun stasiun Radio yang dikenal dengan Radio Hamzanwadi. Mereka juga sama-sama membentuk kelompok Pam Swakarsa untuk membela dan mempertahankan aset masing-masing dari serangan salah satu pihak. NW Anjani membentuk kelompok Pam Swakarsa Barisan Hizbulloh, sedangkan NW Pancor membentuk Satgas Hamzanwadi. Anggota dari kedua Pam Swakarsa ini seringkali terjebak dalam aksi kekerasan untuk membela kubu masing-masing. [Selanjutnya..]

 

7 Februari 2012

 

Edisional: Studi Indonesia Timur yang Terlupakan

 

* Peneliti ARINUS 2009 dan lulus Doktoral ICRSUGM 2010

 

 

3 Tanggapan

    • Hello, guest

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org