Home / Topik / Esai / Etnografi Sejarah Koran Kuning (2) Pos Kota: Sang Pemula

Etnografi Sejarah Koran Kuning (2) Pos Kota: Sang Pemula

 

oleh: Lukman Solihin *

Nama Pos Kota tak bisa dipisahkan dari sosok Harmoko, pendiri sekaligus mantan Menteri Penerangan di zaman Soeharto. Harmoko memang bukan penggagas tunggal. Masih ada sosok lain seperti Yachya Suryawinata (wartawan), Tahar S. Abiyasa (wartawan), S. Harsono (pengusaha), dan Pansa Tampubolon (pengusaha). Namun, peran Harmoko, yang kelak menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Pos Kota, baik dari segi ide maupun racikan isi berita sangatlah besar. Dari kepala Harmoko-lah muncul ide tentang koran populer, pemberian nama Pos Kota, serta kombinasi isi koran yang khas.

Harmoko memperoleh ide koran populer ketika menghadiri sebuah konferensi bertajuk “Asia Assembly” pada April tahun 1970 di Manila, Filipina yang diselenggarakan oleh Press Foundation of Asia (PFA). Pada konferensi yang dihadiri wartawan, penerbit, teknokrat, serta para sarjana ini dibahas mengenai perkembangan media massa cetak di Asia. Para pembicara dalam forum itu bersepakat bahwa media cetak memiliki peran besar terhadap perkembangan suatu negara. Karena itu, penerbitan surat kabar diharapkan memusatkan perhatian pada berita-berita yang memiliki arti nasional baik dalam bisnis, pemerintahan, soal luar negeri, maupun kebudayaan. Dengan kata lain, perkembangan surat kabar di Asia diperkirakan akan mengarah pada quality newspaper atau koran bermutu.

Para peserta konferensi boleh setuju dengan perkiraan tersebut. Tetapi Harmoko lebih tertarik dengan kenyataan lain di luar ruang konferensi, yaitu menjamurnya koran-koran populer yang dijual murah di emperan jalan di Kota Manila. Pengalamannya di Manila merupakan modal ide yang cukup untuk membangun sebuah terbitan baru yang khas di tanah air, yaitu koran populer (Rosihan Anwar, dalam Pos Kota 30 Tahun Melayani Pembaca, 2000).

Setahun sebelumnya, tahun 1969, Harmoko dan kawan-kawan sebetulnya telah memiliki niat untuk menerbitkan koran harian. Hanya saja, koran baru itu harus berbeda dengan koran yang sudah ada. Umumnya koran harian saat itu berorientasi pada politik dan terkesan serius. Apabila membuat koran yang sama tentu akan susah untuk laku. Oleh karena itu, perlu ide brilian untuk mencari corak lain yang bisa merebut perhatian khalayak. Ide yang diboyong Harmoko dari Manila kemudian menjadi pembuka kemungkinan bagi terbitnya koran populer pertama di Indonesia.

Pilihan menerbitkan koran populer dapat dikatakan ide yang “luar biasa” saat itu. Rosihan Anwar memberi dua catatan kenapa koran populer merupakan sesuatu yang hampir mustahil bagi para pengelola penerbitan pada tahun 1970-an. Pertama, sejak awal para wartawan yang terlibat aktif dalam pergerakan nasional adalah orang-orang yang serius mengemban misi perjuangan. Demi gengsi, mereka enggan menerbitkan koran populer. Kedua, jika para wartawan ini berani menerbitkan koran populer, mereka akan berhadapan dengan kenyataan bahwa masyarakat kelas bawah belum memiliki daya beli yang cukup untuk berlangganan koran.

Tetapi, realitas ini ternyata dapat disiasati. Sebagai orang yang dipercaya membidani masalah isi, Harmoko mengadakan survei kecil-kecilan. Ia mendatangi beberapa tempat di Jakarta seperti Tanjung Priok, Jatinegara, Tanah Abang, dan Senen. Harmoko menanyakan minat bacaan orang-orang yang ditemuinya, misalnya: baca koran apa? Kepinginnya kalau baca koran yang kayak apa? Dari survei ini Harmoko merumuskan kekhasan isi berita yang akan disajikan dalam koran barunya, yaitu berita-berita yang menyangkut persoalan riil masyarakat bawah. Di samping itu, untuk menjangkau segmen pembacanya, manajemen Pos Kota mematok harga eceran Rp 10,00 ketika pertama kali terbit (harga tersebut sama dengan ongkos satu kali naik bus kota di Jakarta kala itu).

Usulan nama Pos Kota sebagai brand image juga merupakan kreasi Harmoko. Suatu waktu, ketika bertemu dengan rekan wartawan dari Malaysia bernama Melan Abdullah, Harmoko menceritakan rencananya untuk mendirikan harian baru yang diperuntukkan bagi khalayak kota Jakarta. Melan kemudian mengusulkan nama Kota Pos, yang agaknya merupakan alih bahasa dari City Post. Usulan ini lalu dimodifikasi menjadi Pos Kota yang memiliki maksud sebagai pengantar berita bagi masyarakat kota Jakarta.

Pada 15 April 1970, Pos Kota terbit dengan oplah 3.500 eksemplar. Pada terbitan perdananya Pos Kota menampilkan sambutan Bang Ali (Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta ketika itu). Menurut Bang Ali, sesuai dengan namanya Pos Kota diharapkan menjadi media massa yang menarik dan dipercaya bagi mereka yang ingin mengikuti perkembangan sehari-hari Kota Jakarta. Harapan Bang Ali lambat laun jadi kenyataan. Meski belum genap berusia setahun, harian ini mulai menarik perhatian khalayak Ibu Kota. Tiras Pos Kota makin melejit mencapai 21.000 eksemplar setelah secara bersambung menerbitkan cerita bayi ajaib Cut Zahara Fona dan berita kematian mantan Presiden Soekarno. Berkat animo masyarakat Ibu Kota yang cukup besar, pada bulan-bulan berikutnya oplah Pos Kota mampu mencapai 30.00060.000 eksemplar per hari.

Sebagai koran lokal yang terbit di Jakarta dengan konsumen yang berasal dari kalangan bawah, Pos Kota pernah mengungguli Kompas yang persebarannya hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Majalah Cakram edisi MeiJuni 2005, pernah menerbitkan hasil survei Nielsen Media Research yang menempatkan Pos Kota sebagai terbitan paling laris di Indonesia dengan tiras 600.000 eksemplar dan 2.551 pembaca, sementara Kompas “hanya” berada pada peringkat kedua.

Data ini memberi kesan bahwa surat kabar populer yang mengangkat masalah kriminalitas, kekerasan, dan seksualitas, merupakan cerminan keinginan para pembacanya. Menurut Jacob Oetama (2001), media populer ini menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan informasi mengenai hal-hal yang sifatnya tetek-bengek tetapi dengan aroma sensasional, sama halnya dengan perasaan ingin tahu tentang gosip tetangga maupun rekan kerja. Dengan demikian, trilogi informasi: kriminalitas, kekerasan, dan seksualitas, dianggap sebagai “kebutuhan” di samping kebutuhan informasi yang sifatnya lebih penting.

Lalu bagaimana Pos Kota dapat diterima oleh kalangan pembaca yang umumnya kelas bawah? Ashadi Siregar (dalam Pos Kota 30 Tahun Melayani Pembaca, 2000) menjawab pertanyaan ini dengan mencoba menyelami dunia sosial pembacanya. Menurut Ashadi, Pos Kota telah menggantikan media sosial lama yang hilang selama berada di Jakarta. Kaum urban kelas bawah yang merupakan pendatang telah kehilangan ruang-ruang komunikasi sehari-hari untuk membicarakan persoalan mereka. Kaum pendatang ini memerlukan media untuk saling bertukar informasi layaknya kebiasaan mereka dalam bergosip. Ketika di kampung, mereka dapat berkumpul dengan tetangga, mengobrol di pos ronda, atau di warung kopi. Topik obrolannya adalah masalah seputar mereka, tentang kejadian sehari-hari seperti Si Polan yang kemalingan, anak Pak Soma yang hilang, mbakyu Anu ketangkap basah, Si Sono bunuh diri, atau harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Media sosial seperti inilah yang hilang dan lalu diisi oleh Pos Kota.

Ciri khas Pos Kota dengan mudah dapat dilihat dari tampilan dan isi berita yang disajikan. Pada segi tampilan, koran ini dicirikan oleh tata-letak yang, meminjam perkataan Rosihan Anwar, amburadul. Dalam koran ini misalnya, judul dan tubuh berita ditata saling berdempetan tak karuan, beberapa di antaranya diwarnai secara menyolok.

Dari segi isi, mulanya harian ini berkonsentrasi memuat isu-isu seputar kriminalitas, hukum, seksualitas, pelanggaran susila, serta olahraga. Namun, kini Pos Kota juga banyak menampilkan headline berita-berita politik serta menyediakan berlembar-lembar halaman iklan baris. Meski demikian, koran ini masih menempatkan isu kriminal sebagai isu utama dengan sumber berita umumnya dari kalangan penegak hukum. Pretensi berita yang dimunculkan adalah untuk menunjukkan ada dan telah terjadi peristiwa kriminal dan hukum sebagaimana adanya. Sikap ini berbeda dengan koran harian lainnya yang cukup analitis dan investigatif dalam mengolah isu-isu tertentu utamanya isu seputar dugaan pelanggaran hukum.

Keberhasilan Pos Kota menjadi surat kabar yang cukup diminati kemudian menginspirasi para pengusaha media lainnya untuk turut terjun ke dalam segmen yang sama menggarap koran populer. Di Jakarta, muncul harian Lampu Merah yang kemudian berganti menjadi Lampu Hijau dengan konsep yang lebih provokatif. Lampu Merah merupakan sayap terbitan koran populer milik Grup Jawa Pos yang khusus menyasar wilayah Jabodetabek. Sementara di Surabaya, Grup Jawa Pos menerbitkan Rek Ayo Rek. Judul-judul berita seperti dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu “Paman Kasihan Liat Ponakan Ayan, Denger Saran Orang: Supaya Sembuh Dicelup Burung, Paman Nyelup ½ Burung, Ayan Sembuh Dikit, Ponakan Bunting Banyak”? (Lampu Merah, edisi 7 Maret 2007), dan “Bersenjata Silet Majeki Uwong, Raine Belok Kiri”? (Rek Ayo Rek, edisi 6 Maret 2007) adalah gaya penulisan berita milik dua koran tersebut. Dengan gaya pemberitaan yang provokatif dan sensasional, dua terbitan Grup Jawa Pos ini rupanya mengundang keprihatinan banyak kalangan.

Andreas Harsono, misalnya, pengamat media dan pendiri Jurnal Pantau, pernah menuliskan keprihatinannya di blog http://andreasharsono.blogspot.com. Bagi Andreas, demokrasi memang memerlukan kebebasan pers sebagai sarana kontrol sosial. Namun sayangnya, kebebasan pers ini juga dimanfaatkan oleh “para penumpang gelap”. Koran-koran kuning seperti Lampu Merah (kini Lampu Hijau) merupakan salah satu penumpang gelap itu. Ironisnya lagi, dua koran terbitan Jawa Pos tersebut dibiayai dari saham yang salah satu pemiliknya adalah Goenawan Mohammad, pendiri majalah Tempo yang dikenal amat memerhatikan kualitas penulisan berita.

Di Yogyakarta, pengikut langgam Pos Kota adalah Koran Merapi. Sebagai koran populer, Koran Merapi menampilkan isu-isu seperti kriminalitas, dangdut dan supranatural untuk menggaet para pembacanya. Kendati mengikuti langgam koran populer, berbeda dengan Pos Kota dan Lampu Hijau, Koran Merapi cenderung lebih “santun”. Hal ini misalnya dapat dilihat dari kepala berita yang masih menggunakan tata bahasa Indonesia standar. Lebih jauh mengenai Koran Merapi dapat dibaca pada tulisan selanjutnya: “Koran Populer ala Yogyakarta”.

Minggu, 14 Agustus 2011

* Alumnus Antropologi UGM

 

 

 

Baca Juga

tugu-jogja

Bagaimana Rasanya Takut?

Prima Sulistya Wardhani* 21 AGUSTUS 2014. Kami sedang mengobrol di teras asrama mahasiswa Halmahera Tengah ...

4 Tanggapan

  • Hello, guest
  • I want to express appreciation to you just for rescuing me from this type of crisis. After surfing around through the the net and finding notions which were not pleasant, I thought my entire life was well over. Being alive without the presence of approaches to the problems you’ve fixed as a result of your good guide is a crucial case, as well as the kind that could have in a negative way damaged my career if I hadn’t noticed the website. Your primary expertise and kindness in dealing with almost everything was useful. I don’t know what I would’ve done if I had not encountered such a step like this. I am able to at this time look forward to my future. Thank you so much for your professional and amazing guide. I will not hesitate to endorse your blog to any person who wants and needs care about this area.

  • Its like you read my mind! You seem to know so much about this, like you wrote the book in it or something. I think that you can do with a few pics to drive the message home a bit, but other than that, this is great blog. An excellent read. I will certainly be back.|

  • Terima kasih telah memberi cerita yang menarik tentang koran kuning. Saya menunggu cerita lebih jauh. Sayang sekali suara pembaca sendiri hilang, malah digantikan duga-kira para cerdik. Bukankah etnografi berniat memerikan dunia dari sudut pandang pelaku, bukan pengamat?