ETNOHISTORI

Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (Bagian 1)

oleh: Hatib Abdul Kadir *

 

Pada suatu waktu hiduplah tiga bersaudara yang tinggal di bawah sebuah pohon beringin di Gunung Nunusaku. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari datangnya banjir bandang. Setelah banjir mereda, mereka berpisah dan pergi dengan mengikuti arah cabang pohon yang ditunggangi di saat banjir. Tiga saudara laki-laki ini dipercaya sebagai nenek moyang awal di Pulau Seram. Ulisiwa adalah kakak yang paling tua, Ulilima adalah kakak kedua dan Uliassa adalah yang bungsu. Keturunan dari si bungsu Uliassa hingga kini menempati beberapa wilayah di Kepulauan Ambon, Haruku–Saparua dan Nusalaut. Sedangkan Ulilima dan Ulisiwa tetap tinggal di Seram, kemudian dari anak pinak mereka inilah dinamakan Pata siwa dan Pata lima, yang di masing-masing desa pasti memiliki perserikatan ini. Keduanya hidup dalam kerjasama sosial dan ekonomi. Hingga pada akhirnya Pata siwa lebih mengaliansikan kelompoknya pada Portugis dan masuk ke dalam sebuah agama baru bernama Kristen. Sedangkan “si adik”, kelompok Pata lima memeluk agama Islam.

 

Patasiwa–Siwalima di Maluku Utara dan Tengah

Dalam kosmologi Komposisi Pata siwa sebagai Kristen dan Pata lima sebagai Islam ini sebenarnya agak rancu di Maluku Tengah. Karena sistem invasi kerajaan Ternate di Maluku Tengah mengubah masyarakat asli untuk masuk Islam, sedangkan Tidore cenderung membiarkan masyarakat adat untuk tetap memeluk kepercayaan adat dan agama suku bangsa mereka. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa bahwa pata siwa dan pata lima bukanlah kearifan lokal yang berasal dari Seram, melainkan berasal dari Kesultanan Tidore dan Ternate. Pata siwa mempunyai pertaliannya dengan Ternate dan Pata lima dengan Tidore. Alasan munculnya pembagian pata siwa dan pata lima adalah adalah untuk memecah belah orang Seram agar lebih mudah ditaklukan. Berbagai catatan sejarah memperlihatkan bahwa orang Ternate dan Tidore terus bersaing paling tidak sejak tahun 1450.

Pada masa pemerintah kolonial Belanda berperang dengan Ternate, sehingga terjadi perubahan komposisi pranata sosial di Maluku Tengah. Beberapa kampung Islam Pata lima banyak yang masuk Kristen dan menjadi Pata siwa. Sebagai misal kampung Profesor Mus Huliselan (mantan rektor Universitas Pattimura), Molot di Maluku Tengah, adalah Pata lima, namun jika dicermati semua adat yang diterapkan dan orientasi Baileo (rumah adat-nya) adalah Pata siwa. Hal ini karena Molot dahulu adalah kampung Islam yang masuk Kristen dan mengubah menjadi Pata siwa. Catatan sejarah lainnya dari Rumphius misalnya, melaporkan bahwa imam-imam di kampung Molot pada 1600-an mulai mengganti kepercayaan mereka. Demikian pula pada kampung Hulaliu di Pulau Pelaw, Maluku Tengah, yang masuk Kristen dan mengubah menjadi Pata siwa ke Pata lima. Di periode yang sama, terjadi pemindahan demografi secara besar-besaran. Salah satunya adalah pemindahan masyarakat dari Seram ke Pulau Ambon, demikian juga orang-orang dari Hitu dipindah ke Ruhu, sehingga segregasi Pata siwa dan Pata lima menjadi demikian kocar-kacir. Kontestasi politik ini berbeda dengan model siwa lima di Aru dan di Maluku Tenggara, dimana unsur agama tidak begitu mempengaruhi orientasi siwa dan lima. Dengan demikian sulit sekali menelusuri secara tepat genealogi siwa lima dengan narasi penafsiran yang tunggal.

Narasi di atas adalah salah satu dari puluhan, mungkin ratusan versi munculnya pata siwa dan pata lima. Namun demikian, terdapat kesepakatan umum bahwa tradisi Pata siwa dan Pata lima di Seram ini dianggap sebagai sentrum dari tradisi tertua lainnya. Nenek moyang orang Seram dipercaya sebagai pusatnya kehidupan di bumi. Terdapat kepercayaan bahwa masyarakat kuno Seram mempunyai agama Nunusaku, sebagai agama tertua di Maluku, ada bersamaan dengan munculnya pulau Ibu dari dasar laut. Berangkat dari sinilah muncul manusia pertama yang menyebar dan berkembang biak di seluruh pulau Seram dan Maluku. Persebaran menyebabkan semakin kompleksnya kebudayaan masyarakat yang semakin terklasifikasi dalam kluster-kluster berdasarkan marga, sistem mata pencaharian, organisasi sosial dan agama.

 

Patasiwa–Siwalima di Maluku Tenggara

Siwa lima merupakan konsep masyarakat Maluku yang berfalsafah dalam menghadapi perbedaan dan keragaman kebudayaan masyarakatnya. Konsep ini banyak dijumpai tidak hanya di Seram dengan Pata siwa dan Pata lima nya dan Uli Siwa serta Uli Lima, namun juga di wilayah Maluku Tenggara dengan konsepnya Lorsiw–Lorlim bagi masyarakat Kei dan Ursiw–Urlima bagi masyarakat Aru. Siwa lima di daerah Maluku Tenggara mencakup Maluku Tenggara Barat, berbagai pulau di Aru, dan wilayah Maluku Barat Daya. Siwa lima di Maluku Tenggara ini mempunyai semangat yang sama dengan di Maluku Tengah dan Ambon, yakni dua orang bersaudara layaknya kakak adik yang mempunyai karakter berbeda, namun tetap satu darah dan satu semangat.

Ursiw mengacu pada angka sembilan, dengan unsur kerbau, hiu martil, daratan langit dan gunung. Sedangkan Urlima mengacu pada paus, lautan, bumi dan pantai. Sedangkan shared culture dari dua hal yang berbeda ini adalah larwul ngabal, yakni hukum adat Kei yang di dalamnya terdapat pasal antara lain: Uud entauk na atvunad (Kepala kita berada di atas leher); Lelad ain fo mahiling (Leher kita dihormati); Uil nit enwil rumud (Kulit bumi menutupi badan kita); Lar nakmot na rumud (Darah terkurung dalam badan kita); Rek fo kilmutan (Perkawinan harus terjadi di tempat yang suci dan keramat); Morjain fo mahiling (Tempat wanita dihormati); Hira I ni fo I ni, it do fo it did (Milik seseorang adalah miliknya, milik kami adalah punya kami).

 

Strategi Kebangkitan Patasiwa–Siwalima

Secara praktis falsafah ini kemudian menjadi semacam persekutuan adat dan politik. Pandangan siwa lima berangkat dari pandangan bahwa dalam kebudayaan yang bersifat monodualistik dan penuh dengan perbedaan, keadilan, kerjasama, dan pemerataan harus diterapkan sesuai dengan adat, demi mencapai keharmonisan. Jika menegasikan satu identitas, maka eksistensi kebudayaan atau adat yang lain sesungguhnya tidak ada. Karena itu masing-masing individu dalam adat, musti mengenal dan saling bekerja sama satu dengan yang lainnya. Di tingkatan struktural, siwa lima ini menghasilkan sebuah ikatan emosional antar warga yang disebut dengan pela–gandong. Pranata sosial pela–gandong ini merupakan puncak produk pemikiran dari pata siwa–pata lima. Berbeda dengan siwa lima, sebagian besar dari sistem pela–gandong dibuat ketika pendudukan Belanda, khususnya ketika Seram dan Ambon mengalami kekacauan luar biasa akibat sistem politik perdagangan monopoli Hongi–Tochten (Ekspedisi Kapal Hongi) terhadap harga cengkeh.

Meningkatnya konflik, menyebabkan orang-orang pata siwa merefleksikan posisi mereka untuk berdamai dengan pata lima dan kemudian menciptakan pranata sosial pela–gandong dengan mengacu pada satu nenek moyang sebagai asal-usul mereka yakni agama Nunusaku di Pulau Seram. Di sisi lain, pemerintah Maluku juga memperkenalkan pranata sosial tradisional lainnya seperti maren, masohi, swen, sasi, hawear yang meskipun tidak “setenar” konsep pela-gandong namun semuannya merupakan modal kearifan masyarakat yang tak kalah signifikan untuk menjadi modal sosial dalam menjalin keharmonisan antar manusia dan lingkungan. Munculnya semua pranata sosial ini lebih merupakan strategi untuk menjaga keharmonisan setelah menghadapi konflik yang berkepanjangan, sebagai misal, hubungan antar pela daerah A dengan daerah B, berasal dari adanya memori terhadap bantuan perang yang pernah diberikan daerah A terhadap B.

Pada perkembangan selanjutnya, di balik falsafah siwa lima, sesungguhnya terdapat dua atau bahkan lebih kelompok yang hidup dalam keadaan bertentangan satu sama lainnya, sebagai misal antara masyarakat Islam–Kristen, dua agama ini mempunyai pandangan mikrokosmos berbeda, namun disatukan dalam sebuah nilai-nilai bersama (common values) atau shared culture (kebudayaan yang terbagikan) sebagai mediasi dari dua pertentangan tersebut. Mediasi ini merupakan proses keseimbangan dalam mencari keharmonisan hidup, stabilitas dan inklusivitas terhadap orang lain. Karena itu siwa lima mempunyai prinsip monodualistik, yakni terdapat makna kesatuan di dalam dua perbedaan yang ada, antara pata siwa dan pata lima. Meskipun sembilan, totalitasnya satu, meskipun lima totalitasnya pun tetap satu. Jadi tidak bisa dianggap 9 dengan totalitas sembilan, dan 5 dengan totalitas lima. [berikutnya..]

 

27 Januari 2012

 

Edisional: Studi Indonesia Timur yang Terlupakan

 

* Pengajar di Antropologi Budaya―Universitas Brawijaya

 

 

5 Tanggapan

    • Hello, guest

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

    2014 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762

          Kontak Edisi Sekarang
     
    Terima kasih, Pesan Anda telah terkirim ke redaksi@etnohistori.org