Home / Edisional / Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (Bagian 2)

Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (Bagian 2)

oleh: Hatib Abdul Kadir *

 

[Sambungan Bagian 1] Siwa lima adalah persekutuan adat dan persekutuan kelompok. Secara harfiah Siwa lima terbentuk oleh dua kata, yaitu Siwa dan Lima. Siwa berarti sembilan (9), lima berarti (5). Kedua terminologi ini menunjukkan pemisahan atau pembagian masyarakat atas dua kelompok sosial yang berbeda, yakni kelompok sembilan dan kelompok lima. Indikator dari beberapa aspek pembeda budaya dalam siwa dan lima dapat dilihat melalui arsitektur, upacara daur hidup, penanda pada tubuh dan pakaian. Ikatan kesatuan dan pertalian antara kedua kelompok ini juga berbeda dalam hal bahasa, sistem kepercayaan, tentang proses terjadinya pemisahan yang masih menimbulkan banyak perdebatan, penafsiran dan klaim. Namun demikian, siwa dan lima tidak berbeda dalam melihat mitologi asal-usul mereka, yakni sama-sama berasal dari Seram.

Dalam kosmologi masyarakat Maluku, kedua angka 9 dan 5 ini penting dan memiliki makna mendalam. Angka lima memperlihatkan sebuah gagasan tunggal yang bermakna totalitas dan sembilan menunjukkan sebuah gagasan jamak atau ganda yang juga bermakna totalitas. Sebagai misal adalah seorang manusia memiliki dua tangan, dua kaki dan satu kepala, total berjumlah lima, namun memiliki gagasan tunggal sebagai tubuh manusia. Di lain pihak, dua orang (laki-laki dan perempuan) yang memiliki empat tangan dan empat kaki serta memiliki satu kepala memperlihatkan sebuah gagasan tunggal dalam perspektif jamak yaitu memperlihatkan perbedaan dalam hal gerakan tangan dan kaki, namun memiliki satu kepala sebagai representasi kebersamaan, kesepakatan, seia-sekata dalam kehidupan harmoni dari dua orang yang menjadi satu. Dengan demikian, total yang dapat dihitung dari jumlah keseluruhan di atas adalah 2+2+1=5=1 dan 4+4+1=9=1 Sehingga dari esensi dari kejamakan lima dan sembilan di atas adalah satu (satu). Berangkat dari analogi tubuh ini orang Ambon percaya bahwa meski tubuh (tangan dan kaki) mereka berbeda (baca: Islam–Kristen) namun mempunyai kepala yang sama atau tunggal.

Pertanyaannya kemudian adalah mengapa angka 9 dan 5 yang dipilih, mengapa bukan satu, atau tiga, atau tujuh, atau angka lainnya? Logika yang digunakan adalah menggunakan lingkungan yang paling dekat dan menjadi pelaku serta bagian dalam pengalaman kehidupan sehari-hari, tidak lain dan tidak bukan adalah tubuh manusia. Logika yang dibangun kemudian seperti yang telah saya gambarkan di atas, dimana jumlah total lima dapat berarti kepala, tangan dan kaki atau jumlah jari pada satu lengan. Sedangkan logika total dari angka sembilan bisa kepala, dua pasang tangan dan dua pasang kaki atau jari dari kedua lengan dimana ibu jari berhimpitan menjadi satu. Selain tubuh, lingkungan alam terdekat menjadi bagian dari ajaran filosofis-nya, seperti gunung, laut, dan biota di dalamnya.

Dalam tataran praktis dan ritual, angka 9 dan 5 menjadi penting, dalam upacara adat, hal yang mengacu pada 9 mempunyai peranan penting, misalnya pada upacara perkawinan dimana pengantin harus berjalan mengelilingi rumah 9 kali atau mengucapkan mantera 9 kali. Demikian pula bagi mereka yang melanggar adat diharuskan membayar harta lengkap sebagai denda perang dalam bentuk 9 buah bendera, 9 buah mangkuk (kom) dan pinggan-pinggan besar, 90 buah piring-piring tua, 500 piring kecil dan 5 buah gong. Sedangkan bagi masyarakat Pata lima, bagi mereka yang melanggar adat dikenakan denda masing-masing 5 buah kom, 50 buah piring tua, 500 piring kecil dan 5 buah gong. Angka-angka ini dijaga dengan penuh kepatuhan mengingat dianggap mengadung nilai-nilai yang sakral. Tari tradisional Gaba-Gaba juga merupakan salah satu tarian yang mengesankan unsur Siwa Lima. Tari ini dilakukan oleh satu penari dengan empat penari memegang galah dan sembilan penari Cakalele. Iringannya adalah Tifa (instrumental tradisional). Tari ini menggambarkan sikap pertahanan dari serangan musuh. Di Jazirah Hitu terdapat pula siwa dan lima. Secara historis, dua persekutuan adat ini menentang pendudukan Belanda. Namun demikian, pada saat ini semagant siwa lima sudah tidak digunakan lagi dalam upacara-upacara adat. Bahkan sebuah catatan sejarah Rijali melaporkan bahwa siwa–lima ini menjadi ritus peribadatan paling kuno orang-orang Hitu (Sifar ar Rijal, Hikayat Tanah Hitu). Sedangkan disebut dengan negeri lima di Hitu, sebenarnya mengacu pada batas antara siwa dan lima. Namun demikian, masyarakat Hitu sekarang lebih mengenal istilah negeri lima, dibanding siwa lima. Modernitas yang diwakili oleh datangnya agama Islam menyebabkan masyarakat menggerus tradisi lama siwa lima ini dan lebih menempatkan siwa identik dengan agama Kristen dan lima identik dengan agama Islam. Kedatangan Islam dan Kristen yang kemudian menyebabkan orang-orang Hitu lebih memilih untuk meneruskan tradisi ulilima saja dibanding ulisiwa.

 

Me-Modernkan PatasiwaSiwalima

Dalam bentuk material modern, semangat siwa lima tampak pada bentuk rumah Baileo yang terletak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dengan mengusung semangat siwa lima yang melambangkan representasi persatuan atau persekutuan antara dua klen besar di Maluku yaitu Pata siwa dan Pata lima (di Seram). Dalam rumah adat Baileo terdapat tiang bailen di depan dan belakang berjumlah 9 sedangkan sisi kiri dan dan kanan berjumlah 5. Pemerintah Orde Baru menganggap otentik bangunan tradisional ini karena Taman Mini Indonesia Indah mengusung otentisitas dan simplifikasi dari berbagai budaya pilihan seluruh Nusantara yang dianggap paling terkemuka dan mewakili masing-masing wilayah etnis di Indonesia. Pada masa Orde Baru, pemerintah melihat bahwa siwa lima adalah representasi yang cukup bagus dalam mewakili budaya Indonesia.

 

Penulis di Museum Siwalima
Penulis di Museum Siwalima

 

Dengan tiang-tiangnya yang berjumlah 9 dan 5 diharapkan rumah tradisional ini mampu menjadi pelindung yang kokoh dan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan pertemuan rakyat dengan dewan rakyat seperti Saniri Negeri, dewan adat dan para tetua adat. Sedangkan di Ambon sendiri, untuk menegaskan kosmologi lokal nan arif ini, dibangun museum, warta lokal, perkantoran, hingga simbol pemerintahan provinsi yang meminjam nama “siwa lima“.

Orientasi siwa–lima dalam rumah adat Baileo juga ditentukan pada posisi batu pamali (batu keramat) yang diletakkan. Jika posisi batu pamali terletak antara Baileo dengan pantai, maka itu pata lima, sedangkan jika batu pamali terletak di antara Baileo dengan gunung, maka masyarakatnya berpegangan pada pata siwa. Dengan demikian kosmologi orang Ambon adalah gunung (identik dengan pata siwa dan Kristen) dan pantai (identik dengan pata lima dan Islam), ini berbeda dengan kosmologi masyarakat Jawa yang mengacu pada arah utara dan selatan atau kosmologi masyarakat Bali yang mengacu pada kaja–kelod (gunung–laut) sekaligus depan–belakang. Meski acuan demikian, acuan gunung–laut ini tidak bisa benar-benar menjadi jaminan mutlak dalam melihat kosmologi orang Ambon, mengingat telah banyak perubahan dalam kosmologi siwa lima itu sendiri. Mengingat pula, Ambon dan Kepulauan Lease adalah wilayah yang paling banyak mendapatkan campur tangan koloni Belanda dalam mengubah kosmologi siwa lima tersebut. [ ]

 

31 Januari 2012

 

Edisional: Studi Indonesia Timur yang Terlupakan

 

* Pengajar di Antropologi Budaya―Universitas Brawijaya

 

 

 

Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

Tanggapan

  • Hello, guest