ETNOHISTORI

Geng dan Negara Orde Baru (2-habis)

Preman Pembela Orde Baru

oleh: Loren Ryter*

Tien Soeharto (www.kepustakaan-presiden.pnri.go.id)

Tien Soeharto (www.kepustakaan-presiden.pnri.go.id)

Ketika Ibu Tien Soeharto hendak mendirikan TMII (Taman Mini Indonesia Indah), di akhir tahun 1971, mendapatkan perlawanan keras dari para Mahasiswa. Untuk menentang kritik ini Ibu Tien berkata: “Terus terang, saya akan menantang mereka yang mengkritik, tidak perduli siapa mereka, siapapun yang menolak harus paham dengan mengerti peringatan ini, saya akan menantang mereka!”

Ancaman Ibu Tien ini disambut baik oleh para anggota geng Berlan. Pada tanggal 23 Desember 1971, sekelompk anak muda berambut gondrong menyerang para demonstran yang menentang proyek pembangunan TMII. Dalam keributan ini dua orang demonstran tertikam dan satu tertembak dipahanya dengan pistol kaliber 45. “Pada waktu itu kami juga berambut gondrong” kenang Asmara Nababan, salah satu demonstrator, namun ia menambahkan bahwa perbedaan fisik antara demonstrator dan penyerang sangatlah berbeda. Saksi mata mengungkapkan bahwa para penyerang tampak terlatih dan rambut panjang mereka tampak seperti wig. Geng Berlan Boys yang kemudian dipanggil ke pengadilan berdalih bahwa mereka menganggap bahwa para demonstrator tersebut tidak lain adalah geng lawan-lawan mereka seperti Sarana, Casanova, dan Siliwangi. Dengan demikian, anak-anak nakal tentara ini punya klaim yang kuat bahwa yang mereka serang adalah geng dari anak tentara di barak lainnya.

Mengingat banyak anak tentara yang menggunakan hak istimewa ayahnya, pada tanggal 15 Januari 1972, Panglima Komando Keamanan dan Ketertiban, Soemitro memerintahkan “bubarkan mereka”. Soemitro mengisukan dan menginstruksikan untuk membubarkan kelompok geng dan anak muda dengan pertimbangan resmi berikut:

1) Belakangan ini khususnya di kota-kota besar telah muncul sekelompok anak muda yang menyebut dirinya seperti Berenlaan Gang, Gang Icstraat, Gang Sartana, dan seterusnya yang cenderung memiliki aktivitas seperti berkelahi/saling menyerang/membunuh/memperkosa/menyiksa/menggunakan narkotika dan perampokan serta tindakan tidak tepat lainnya.

2) Di samping itu, telah terbukti bahwa geng-geng ini digunakan oleh anti pembangunan “TMII” untuk menghasut kerusuhan yang menyebabkan banyak orang terluka dalam perkelahian antar geng kemudian para korbannya digunakan sebagai martir dalam mengisukan anti TMII demi menghasut emosi gerakan massa yang lebih luas.

Meski Ibu Tien telah memobilisasi geng Berlan untuk menyerang para penentangnya, dan dari kasus ini para geng mulai belajar untuk menjadi penyusup dan berbalik menjadi agitator di kalangan demonstran. Pada bulan Februari 1972, dalam sebuah seremoni di Dewan Provinsi Jakarta, 2 ribu pemuda menyerahkan logo-logo geng mereka dan berbagai peralatan lainnya kepada Kapolda DKI Jakarta, Widodo. Dalam pidato perwakilan, salah satu ketua geng waktu itu menyalahkan orang tua mereka; “Kita seperti seorang bayi yang baru lahir dan langsung terluka karena orang tua kami tidak memberi kami susu, melainkan mereka memberikan ‘pekerjaan’ lain”. Pada bulan Mei 1973, BAKIN, Badan Koordinasi Intelijen, menggembleng para mantan gangster ini dengan berbagai keahlian yang positif seperti perbengkelan. Kemudian mereka dihubungkan dengan para komando tentara, salah satunya adalah Prabowo Subianto yang pada tahun 1990-an mendirikan sebuah dealer motor di Timor Timur sebagai sebuah sumber mata pencaharian jaringan informannya.

Mengambil isyarat dari Soemitro, para komando lokal di daerah mulai untuk mengembangkan akses pula terhadap para mantan anggota geng dengan terlibat di berbagai kegiatan olahraga remaja. Di Ujung Pandang, komando daerah Kopkamtib menggabungkan sejumlah geng lokal ke kegiatan pecinta alam, balap motor, dan publikasi newsletter/laporan berkala yang waktu itu dinamai Semangat Baru, dan kemudian juga memberikan sumber modal dana kepada generasi muda ini. Di Jakarta, periode ini juga disebut dengan konsolidasi dan ekspansi TEKAB (Tim Khusus Ahli Bandit) langsung di bawah naungan Kapolda DKI Jakarta yang merekrut beberapa anggota geng termasuk Sartana dan Legos. Sedangkan kegiatan di kompleks geng Berlan adalah melakukan kegiatan bola voli dan berbagai acara tarian. [ ]

*Pengajar dan Peneliti di Centre for Southeast Asian Studies, Universitas Michigan

25 Juni 2011

dalam: Etnohistori Edisional Jago, Preman & Negara, Juni-Juli 2011

Komentar:
  1. Annisa al Muchsinun

    Izin share :)

  2. Catatan cukup menarik. Catatan ini sedikitnya memberikan gambaran terkait posisi Ibu Tien, Geng yang pernah ada dan peran intelijen.

    Sayangnya, hari ini justru–ketika geng2 yang disebut dalam tulisan ini bubar–geng dengan bendera agama seperti dibiarkan. Belakangan saya malah menemukan selentingan yang menyebut bahwa geng-geng yang ada sekarang merupakan alat untuk kekuasaan kalangan tertentu.

    • Hatib AK

      Halo Bang Zulfikar

      Geng, preman, jago dan bandit tidak akan hilang dalam dalam kehidupan sosial dan perpolitkkan kita karena pemerintah tetap membutuhkan keberadaan mereka untuk menakut2 i rakyatnya agar sepakat dengan semua kebijakan pemerintah.
      Salam

  3. asyik juga bahasanya, bisa dipahami orang awam seperti saya :)

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

: :
Penulisan Sejarah Indonesia: Menuju “The New History”         Uang & Hutang dalam Pembentukan Peradaban Manusia         Pertanyaan tentang Metodologi Ilmu Sosial Indonesia         Pala, Otsus dan Kerentanan Identitas di Kaimana         Luruh dalam Kekuasaan. Lenyapnya Ilmuwan Sosial dalam Telaah Ilmu Sosial di Indonesia         Keterputusan Pemikiran Sosiologi di Indonesia         Melacak Perkembangan Antropologi Modern di Asia Tenggara         Yap Thiam Hien; Sang Warganegara         Mencari Jejak Koh I Noor         “Kamu India Asli atau India Palsu?”: Potret Tiga Perempuan dalam Keluarga Etnis India di Yogyakarta         Ah, India         Politik Identitas Mayoritas-Minoritas di India. Wawancara dengan Ram Kakarala         Fatwa Menentang Yoga: Mengurai Konflik Melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 2)         Fatwa menentang Yoga: Mengurai Konflik melawan Fundamentalisme di Indonesia (bagian 1)         Perjalanan Panjang Mengenal Hindu di Yogyakarta         Praktek Rentenir masa Kolonial: Kehidupan orang Chetti di Medan akhir Abad ke-19―Awal Abad ke-20         Nasionalisme Jarak Jauh: Praktik Kultural Sebuah Keluarga India         Tanah Air (yang masih versi) Beta: “Membayangkan” Indonesia Timur dalam Film         Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (bagian 2): Kharisma Maulana Syaikh         Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok (bagian 1)         Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (bagian 2)         Filsafat Lokal Patasiwa dan Siwalima dalam Masyarakat Maluku (bagian 1)         “Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (2−selesai)         “Ale Rasa Beta Rasa”: Menyusun Sejarah Bersama di Ambon (1)         Geliat Aristokrasi Dalam Politik Lokal Sumbawa         Dari Debat Geertz versus Hooykaas tentang Bali: Untuk Para Etnografer & Historian         Jiwa yang Patah: Ingatan Kekerasan dan Penderitaan di Tanah Papua         Menjadi Modern: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (3-Habis)         Kisah Lontar: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (2)         Kisah Lontar: Etnografi orang-orang Rote dan Sawu (1)         Lawan Abadi Tawuran Pelajar Kota Blitar (STMK vs STMI)         Jago dan Maskulinitas dalam Mitologi Pewayangan Jawa         Jawara dan Beragam Pemberontakan di Banten (2)         Jawara dan Beragam Pemberontakan di Banten (1)         Jagoan Jakarta Dalam Sejarah         Pecalangan dan Jagoan di Bali (3-Habis): “Dari Polisi Adat hingga Penyebar Teror”         Pecalangan dan Jagoan di Bali (2): I Wayan Doblag dan Mimpinya Menjadi Jagoan         Pecalangan dan Jagoan di Bali: Catatan Etnografis (1)         GPK: Dari Hobi Bacok, Menuju Parlemen Lokal         Saksikan Sendiri: Samson Jagoan Betawi Asli!         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (3-habis)         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (2)         Biografi Preman-Preman Yogyakarta (1)         Si Pitung dalam Sinema         Geng dan Negara Orde Baru (2-habis)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (3)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (2)         Geng dan Negara Orde Baru (1)         Jago dan Kriminalitas Pedesaan (1)         Satu Tungku Tiga Batu: Hubungan Tiga Agama di Teluk Patipi, Fakfak         Papua, Mau Dibawa Kemana?         Freeport: Akar Separatisme Negara         Karena Terabaikan; “Menjadi Seniman Patung Bayangan”         Pemberdayaan Radio Komunitas bagi penguatan Identitas lokal di Tanah Papua         Politik Pemekaran Daerah dan Siasat Elit Lokal di Papua         Generasi Pertama Orang Dani Pemeluk Islam (3-Habis)         Sejarah Masuknya Islam ke Masyarakat Wamena-Papua (2)         Sejarah Masuknya Islam ke Papua (1)         Ukulele Mambesak: Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970-1980-an         Mencari Bentuk Film Indonesia (3-Habis): Lesunya Bioskop & Gagalnya Kebangkitan Film Indonesia         Mencari Bentuk Perfilman Indonesia (2): Genealogi Munculnya Film Seks, Kekerasan & Koboi         Mencari Bentuk Perfilman Indonesia (1): Revolusi & Nasionalisasi Film di Jaman Soekarno         Baku Hantam yang Keblinger dalam Merantau         Membioskopkan Santri & Pesantrennya         From Sex to Syahadat: The Market & Resurgence of Religion in Indonesian Cinema 1997-2011         Thank You, India (Movie)        

2011—2013 • ETNOHISTORI • ISSN: 2303-3762