Home / Edisional / GPK: Dari Hobi Bacok, Menuju Parlemen Lokal

GPK: Dari Hobi Bacok, Menuju Parlemen Lokal

 

oleh: Hatib Abdul Kadir *

 

SELAMA tahun 2000−2002, GPK (Gerakan Pemuda Ka’bah) adalah milisi sipil terbesar di Yogyakarta. GPK juga merupakan gerakan underbouw pemuda pendukung PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Seorang pemuda ketua cabang GPK di Yogya mengaku bahwa GPK di provinsi Yogyakarta adalah yang terbesar dibanding cabang lainnya, karena terdapat 3000 anggota formal GPK di wilayah ini. Sedangkan milisi sipil lainnya hanya mempunyai sekitar 50−700 anggota. Kebanyakan dari para anggota GPK tinggal di empat kampung Islam yang lebih dikenal dengan julukan 4K, Kauman, Karangkajen, Kotagede dan Kuncen, ditambah satu kampung Islam lainnya, yakni Notoprajan.

Di mata masyarakat awam, GPK mempunyai citra buruk sebagai kelompok anak muda brutal, bengis radikal dan raja konvoi jalanan. Seorang anggota DPW GPK DIY, Totok Yuwono, sadar akan citra ini dan mengatakan munculnya citra ini karena salah aturan dari para komponen pengurus GPK selama periode of 1999−2004. Dalam kenyataannya, imej buruk ini sebenarnya dibangun oleh oknum di GPK. Namun demikian semua pelaku kekerasan dan orang yang dianggap “oknum” tersebut tidak dikeluarkan atau terkena sanksi resmi dari partai induknya, PPP. Citra buruk ini pada akhirnya mengurangi asupan suara untuk PPP secara deras pada Pemilu tahun 2004. Namun bagaimana kabar GPK belakangan ini?

Itulah mengapa belakangan ini GPK mencoba untuk mengubah citra mereka sebagai organisasi yang lebih sopan. Totok juga mengatakan bahwa pengubahan citra dari brutal GPK memang memakan waktu yang tak singkat. Karena itu, di samping melakukan nahyi munkar (menjauhkan dari hal buruk), GPK juga mencoba untuk melakukan amar ma’ruf (menjalankan hal yang baik). Prinsip kedua ini dibangun untuk menetralisir nama buruk mereka yang telah terlanjur menyebar di benak masyarakat.

Sesungguhnya, sejak pendirian pertamanya tahun 2001, GPK telah mencoba untuk memperkuat amar ma’ruf, seperti melakukan kegiatan dengan mengunjungi penjara Yogyakarta, Wirogunan. Mereka memberikan sumbangsih dalam bentuk hiburan musik tradisional campur sari dan menyumbangkan sekitar 600 paket mie, sabun, rokok serta beras. Dalam beberapa kegiatan, skuad pemuda ini juga memberikan bantuan untuk para survivor banjir di Kulonprogo pada tahun 2000. Namun amar ma’ruf mereka ini masih belumlah sejajar dengan prinsip nahyi munkar seperti melakukan penyerangan ke tempat-tempat yang dianggap maksiat, seperti tempat judi, penjual minuman beralkohol, pameran seni yang dianggap porno, membakar buku kiri dan membacok para aktivis kiri, serta menyerang pertemuan aktivis gay dan lesbian.

Untuk lebih menekankan pada amar ma’ruf, GPK tidak lagi bergerak sebagai politik jalanan, namun lebih memilih jalan yang lebih diplomatis. Pada bulan Desember, 2007, Taufan, pemimpin Gerakan Pemuda Ka’bah Masyarakat Cantik Takwa dan Militan GPK Macan Tamil (Nama ini diinspirasikan dari gerakan militan Liberation Tigers of Tamil Eelam [LTTE]), atau Kelompok Pembebasan Macan Tamil, sebuah gerakan separatis di Timur Laut, Sri Lanka) mendukung pencalonan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paku Alam IX sebagai gubernur dan wakil gubernur untuk masa jabatan yang kedua kalinya. Taufan mengatakan bahwa jika Undang-undang Keistimewaan (UUK) DIY menyatakan bahwa gubernur dan wakil gubernur dipilih secara langsung oleh masyarakat, maka GPK Macan Tamil akan mendukung bupati Bantul, Drs. H. M. Idham Samawi dan mantan wakil walikota Yogyakarta pada waktu itu, H. M. Syukri Fadholi, SH. sebagai wakil gubernur dan gubernur. GPK−Macam Tamil dalam hal ini lebih bermain pada ranah politik praktis dibanding track record sebelumnya.

Dalam masa kampanye presiden tahun 2009, GPK secara resmi mendukung duo Megawati & Prabowo. Pemimpin GPK Macan Tamil−Taufan mengatakan bahwa ia dan institusinya siap untuk menerima segala resiko dan hukuman dari PPP, karena dukungan mereka terhadap Megawati. Gerakan politik Taufan menunjukkan bahwa GPK belakangan ini mempunyai hubungan yang longgar dengan PPP, di mana mereka dapat lebih menjatuhkan politik dengan lebih bebas dari sebelumnya. Hubungan antara partai politik dan paramiliter sekarang lebih cari, karena paramiliter dapat menentukan kebijakan mereka untuk bekerjasama dengan sebuah sebuah partai politik yang mempunyai latar belakang ideologi berbeda sekalipun.

Untuk anggota yang mendukung kampanye PPP, 2009, mereka melakukan “kampanye simpatik” untuk menunjukkan tingkah laku di jalanan yang santun. Dalam beberapa kampanye politik, mereka menyediakan pertunjukkan campuran antara agama dan seni tradisional, seperti kesenian shalawat; hadrah; dan penampilan musisi kelompok musisi lokal “Kanjeng Anom”. Seorang anggota GPK Bantul mengatakan:

“Kami ingin mengangkat citra PPP dan GPK. Putaran pertama pemilu ini, massa kami sudah lebih dewasa dan lebih baik dari Pemilu 2004. Hal ini terbukti dari pelanggaran yang ada, kecil sekali. Bahkan partai kami juga mengadakan lomba laskar simpatik yang diikuti 67 laskar. Kami melakukan konvoi dari Lapangan Jambidan, Banguntapan, hingga di Lapangan Tamantirto-Kasihan, Bantul. Kami tetap berangggapan bahwa jika lasykar datang dengan positif maka kami pulang akan membawa kesan dan kelak kami akan dirindukan. Ini juga sekaligus memberikan kesan bahwa GPK yang dulu serem kini sudah kalem (Maruli, 17-8-2009)

Tujuan politik GPK sekarang juga berubah. Sesuai dengan pernyataan di atas, seorang ketua GPK cabang kota Yogyakarta, Untung, mengatakan:

“Pada waktu pertama kali berdiri, partai ini lebih menekankan pada politik jalanan. Atau yang disebut Nahyi Munkar daripada Amar Ma’ruf, namun kami ingin memberikan imej baru PPP, karena partai ini mempunyai anak muda yang potensial untuk loyal. Agar tidak ditinggalkan oleh audiens kami, kami mencoba untuk menjadi contoh gerakan yang akhlakul kharimah (tingkah laku yang baik), karena itu, di masa yang akan datang, saya berharap bahwa PPP bukan semata pandai dalam memberikan maidzoh khasanah (nasehat yang baik), namun juga uswah khasanah (contoh yang baik)”

Kini GPK mulai memikirkan bagaimana meningkatkan jumlah pengikut, jumlah pemilih pada partai yang didukungnya dan juga memperbaiki citra mereka sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Untung Supriyanto, seorang komandan GPK−DIY di mana ia kini hidup bersama dengan masyarakat dan mengubah citra eksklusifnya yang dianggap tidak sesuai dengan tuntutan jaman. Oleh Karena itu, kini GPK diatur seperti sebuah badan organisasi yang secara legal diakui oleh hukum. Untung juga mengatakan bahwa GPK hanya ada di tingkat propinsi dan mempunyai cabang di tingkat daerah kecamatan, seperti GPK−DIY, GPK Sleman, GPK Bantul, GPK Kulonprogo dan GPK Gunungkidul. Karena itu, baginya jika ada nama GPK yang menggunakan embel-embel lainnya seperti GPK−Izro’il atau GPK lainnya, Untung mengatakan bahwa mereka ini hanyalah laskar biasa, dan bukan secara resmi diakui oleh organisasi GPK yang legal. Untung mengklaim bahwa semua anggota di tingkat kota dan kecamatan harus berada dalam satu sistem komando, khususnya untuk menghadapi Pemilihan Umum tahun 2009.

 

* Pengurus Etnohistori

7 Juli 2011

 

Etnohistori Edisional Jago, Preman & Negara


 


Baca Juga

Mediasosial

Publik Islam dalam Ruang Digital: Kontinuitas dan Transformasi Narasi Islam, Negara dan Kebangsaan di Indonesia

oleh: Imam Ardhianto* Artikel ini akan memaparkan sejarah internet di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan ...

Tanggapan

  • Hello, guest
  • transformasi GPK menjadi lebih santun tak sepenuhnya mendapat respon positif di kampung saya. kekerasan yang mereka pamerkan beberapa tahun lalu masih membekas dalam ingatan warga kampung. membaca tulisan ini membuat saya ingin tahu biografi Gun Jack, mantan gangster asal Badran…mungkin ada yang pernah menulis? sekali lagi salut kak Negro untuk tulisannya….