Home / Tokoh / Hidup di Luar Tempurung

Hidup di Luar Tempurung

Oleh: Shah Priyanka Aziz

 

beyondBen Anderson, lahir di Tiongkok, sekolah di Eropa, diundang mengajar di Amerika, bertemu dan mengakrabi banyak orang dari berbagai bangsa dan kebudayaan berlainan. Melakukan studi lapangan di Indonesia, lantas didepak dari Indonesia, kemudian terpaksa mengalihkan studinya ke Siam (Thailand) dan Filipina. Mengalami gegar budaya berkali-kali, meresapi obrolan kampungan ala pasar ikan, berbaring hingga subuh di puncak Borobudur, wawancara elite hingga para intelijen. Dengan pengalaman sekaya itu, saya pikir tak heran ia jadi orang besar. Sama seperti tak heran, maklum, sekaligus irinya saya dengan gaya bertutur cantik Antoine de Saint-Exupery karena pengalamannya sebagai pilot-pilot gila generasi pertama yang terbang melintasi gurun, gemunung, sela tebing, padang rumput, selat, dan laut. Melihatnya hanya seperti karpet kuning, hijau, dan biru. Meski masih dengan teknologi komunikasi, radar, dan penerbangan yang seadanya. Dibuka dengan tuturan latar belakang diri, keluarga, serta cerita masa awal sekolah yang dengan halus ia selipi penjelasan konteks konflik dan episode kesejarahan yang mengiringinya (Perang Dunia, Perang Dingin, dll); bab awal sudah terasa seperti kuliah pembuka yang ciamik.

Ben mempunyai pengalaman yang sangat kosmpolit. Itu kesimpulan saya begitu sampai di bab 3 buku ini. Kesimpulan yang kemudian ditegaskan kembali oleh penulis sendiri di bagian penutup. Ia menjelaskan bagaimana kebetulan, kecelakaan, juga keberuntungan sebenarnya turut mempengaruhi karir dan warna karya intelektualnya. Perihal sama—seputar kebetulan-kecelakaan-keberuntungan—yang saya pelajari dari Malcolm Gladwell dalam Outliers-nya.

Bagi saya, membaca tulisan-tulisan Ben Anderson kerap bikin gentar untuk menulis lagi, sekaligus—anehnya—terdorong pula untuk terus melakoninya. Penelusurannya yang tak kenal lelah dan tak tahu malu pada unsur dan elemen kebahasaan, kaitannya dengan perubahan sosial juga politik, membenamkan dalam-dalam kesadaran bahwa begitu banyak yang belum terungkap.

Lepas bab pertama, Ben mulai berkisah seputar pertemuannya dengan mereka yang di kemudian hari jadi guru sekaligus rekan sesama peneliti, sebut saja George Kahin, Claire Holt, Harry Benda, Ruth McVey, Herbert Feith, Dan Lev, dll. Ben bersama nama-nama beken tersebut masing-masing bergerilya menghidupi Kajian Wilayah—terutama kawasan Asia Tenggara—yang baru menarik perhatian AS setelah Perang Dunia II kelar. Kajian mengenai Asia Tenggara memang belum menarik perhatian dunia di era sebelum Perang Dunia. Kalaupun ada, ia hanyalah hasil tulisan dari birokrat-birokrat kolonial yang sempat menetap di sana. Oleh sebab keterikatannya pada kepentingan rezim kolonial, hasil-hasil penelitiannya tak lepas dari beberapa kekurangan, semisal tak menyeluruhnya kajian yang mencakupi sekian wilayah koloni yang ada, juga kurang mendalamnya kajian seputar politik dan ekonomi. Jadilah para peneliti yang tertarik meneliti kawasan tersebut bertahun-tahun setelahnya, mesti membacanya dalam teks-teks asli bangsa kolonial tersebut, misal Belanda atau Perancis.

Di masa Perang Dunia, praktis fokus AS habis di soal-soal perang belaka. Di ranah politik misalnya, manuver mereka kebanyakan hanya berkisar di pengamanan halaman belakang: kawasan Amerika Tengah dan Selatan. Soal kerja-kerja intelektual, energi sebagian besar difokuskan mengkaji Uni Sovyet dan Jepang sebagai lawan ideologis dan saingan militer.

Kelarnya Perang Dunia menjadi titik balik bagi paradigma keilmuan di AS. Sebagai pemenang Perang mereka dikutuk menjadi jemawa. Walau begitu, sikap tersebut kemudian mengantar mereka menginsyafi bahwa tak banyak yang mereka ketahui di belahan Bumi lainnya. Sejak itu, dimulailah geliat Kajian Wilayah yang lebih serius. Elemen-elemen penting penentu kebijakan luar negeri mereka semisal CIA dan Pentagon mulai bergerak. Badan-badan swasta pemilik modal besar, sebut saja Rockefeller dan Ford, bersedia pula berinvestasi di ranah tersebut.

Beberapa Universitas pun dilimpahi dana-dana penelitian yang tak sedikit. Cornell, sebagai salah satu Universitas yang turut dimodali, bergerak cepat dengan merekrut sosok-sosok penting untuk mendukung kerja-kerja mereka di Asia Tenggara. Ialah George Kahin, salah satu rekrutan terpenting Cornell yang kemudian secara meyakinkan menghidupi kajian-kajian Asia Tenggara. Kepada Kahinlah Ben berutang banyak. Progresivitas, keberanian, dan keberpihakan Kahin banyak menginspirasinya. Kahin pulalah yang turut merekomendasikan fokus disertasi Ben, yang kemudian mengantarnya menyelami Indonesia.

Bab 3 adalah tentang Kerja Lapangan. Saya pikir akan jadi bab favorit bagi banyak pembaca buku ini. Selain peran esensial Kerja Lapangan bagi peneliti, beberapa kekagetan dan kecanggungan Ben begitu tiba di Indonesia, Siam, dan Filipina, bisa jadi cerita unik tersendiri yang sedikit mengintimkan kita sebagai pembaca dengan si penulis memoar. Di bab ini pula Ben paparkan bagaimana interaksinya bersama Ben Abel, Benny dan Yudi (anak angkatnya), juga Pipit dan Komang. Nama-nama yang disebut ini berhasil menjaga keterikatannya dengan Indonesia selama masa pencekalannya oleh Orde Baru Soeharto. Ceritanya bersama Pipit di Jerman bisa bikin Anda ngakak sekaligus ngeri dan salut.

Tentu buku ini tak hanya jadi sebatas memoar yang berisi romantisme dan paparan-paparan nostalgik belaka. Sesudah memaparkan periode-periode awal ketertarikannya menekuni antropologi dan Kajian Wilayah, Ben akhirnya mengajak kita lebih menyelami sisi kehidupan intelektual beserta renungan juga kritik-koreksinya. Bab Kerangka Perbandingan dan Interdisipliner secara berturut-turut akan sedikit membebani otak pembaca sekaligus merentangkannya secara bersamaan. Membebani, karena memaksa Anda mencerna bagaimana seharusnya Kajian Wilayah digeluti, lengkap dengan kerangka ilmiahnya, beserta pentingnya studi komparasi yang dihidupi bersama keasingan dan ketidakhadiran. Merentangkan, dalam artian juga turut membebaskan, karena membuka wawasan pembaca betapa paradigma pendidikan semestinya dikelola dalam kerangka interdisipliner yang mapan guna mewujudkan kebermanfaatan dan kejernihan hasil yang sebenar-benarnya.

Dan akhirnya Ben menutup buku ini dengan cerita paska pensiun yang dihabiskan dengan menyelesaikan mimpi-mimpinya yang belum kesampaian selama disibukkan dengan rutinitas mengajar dan meneliti. Di antaranya adalah kegandrungannya pada buku-buku yang kemudian mengantarnya bertemu Tjamboek Berdoeri dan Eka Kurniawan. Kegandrungannya akan buku dan sastra itulah yang kemudian mengilhaminya untuk menulis buku Under Three Flags (Di Bawah Tiga Bendera)—yang juga diterbitkan di Indonesia lewat penerbit yang sama: Marjin Kiri. Buku ini memakai judul-judul bab/subbab yang unik juga narasi-deskripsi yang lebih mirip lanturan tak ilmiah. Tak lupa pula ia pesankan seputar urgensi penerjemahan yang serius atas teks-teks penting, bahaya nasionalisme sempit yang meninggalkan tautan pentingnya pada internasionalisme, juga kritik seriusnya untuk generasi muda kini yang riskan terjebak pada praktisisme dan pragmatisme Google.

Terlepas dari isi buku, saya juga mencatat beberapa hal menarik terkait penerjemahan buku ini yang dilakukan langsung oleh Ronny Agustinus, pimred Marjin Kiri. Terlihat misalnya di Bab 1 bagaimana sebutan normal Ayah-Ibu diganti menjadi bokap-nyokap. Sebagai pembaca yang juga cukup suka dengan otak-atik bahasa, saya menaksir ini pasti berkaitan dengan kebiasaan Ben sendiri yang memang sangat tergila-gila dengan orisinalitas dan atraksi dalam penggunaan kata dan bahasa. Ini mengingatkan saya pada Eka Kurniawan yang pernah bilang, ”Saya tak mau membunuh kata-kata.” Oleh karena itu, kata-kata yang kerap dianggap tabu semisal lonte dan ngaceng itu dengan mudah kita temukan dalam prosa Eka. Atau coba baca tulisan pendek Pipit Rochijat (Tabik Oom Kol.. Cup.. Cup!) yang ditulisnya selepas kematian Ben untuk contoh yang lebih nyeleneh.

Dan terakhir, tak ada pesan yang lebih bisa bikin ereksi selain kombinasi Walt Kelly-Karl Marx ala Ben itu:

“Katak-katak dalam perjuangan mereka untuk emansipasi hanya akan kalah dengan mendekam dalam tempurungnya yang suram. Katak sedunia, bersatulah!”

 

Shah Priyanka Aziz, Mahasiswa Tingkat Akhir teknik pengembangan wilayah dan Kota, Universitas Hasanuddin

Baca Juga

Etnografi Formasi Negara di Kawasan Perbatasan

Haryo Kunto*         Judul Buku: At The Edge of States: Dynamics of ...

0 Tanggapan

  • Hello, guest