Home / Topik / Ulasan Film / Hubungan Akbar & Dominasi yang begitu Akbar: Membaca Film Bermula dari “A”

Hubungan Akbar & Dominasi yang begitu Akbar: Membaca Film Bermula dari “A”

 

Review film oleh: Slamet Thohari *

 

Bermula Dari A adalah sebuah film pendek yang telah menghadirkan gambaran dan letupan-letupan ‘pembongkaran’ oleh apa yang oleh PaulMichel Foucault disebut sebagai tubuh-tubuh yang tertundukkan (subjugated body) oleh “kuasa normalisme”. Film ini bercerita soal hubungan manusia yang secara kebetulan tuna netra dan dan tuna rungu. Bisa Anda bayangkan seorang tuna rungu, umumnya juga tuna wicara, berkomunikasi dengan tuna netra. Jika tuna netra berbicara, tuna rungu tidak mendengar, jika tuna rungu berbahasa isyarat sang tuna netra tidak melihat, lalu bagaimana mereka berkomunikasi? tentu rumit sekali. Film ini menghadirkan gambaran hubungan komunikasi yang oleh “orang normal” tak terbayangkan dan terpikirkan sebelumnya.

Dalam film ini simbol-simbol sangat kuat hadir di dalamnya, adegan-adegannya penuh dengan ungkapan kritik simbolis yang lembut, namun jelas. Alur ceritanya dimulai dengan Akbar, sang tuna rungu, yang berhubungan dengan gadis tuna netra. Bermula dari hubungan sederhana, sang tuna netra sepertinya menginginkan Akbar menjadi imam dalam solat maupun dalam hidupnya, sebab seorang perempuan menjadi imam, adalah larangan dalam Islam. Sedangkan di sisi lain, untuk menjadi Imam, Akbar setidaknya mesti bisa melafalkan Allahu Akbar dengan fasih sebagaimana “orang-orang normal”, padahal Akbar adalah seorang tuna rungu yang tak pernah mengenal suara, dan tentu sulit untuk melafalkan kata keagungan Tuhan tersebut.

Film ini, menurut pribadi saya, layak disandingkan dengan film Marzieh Meshkini (2000), The Day I Become A Woman, film Iran yang menggambarkan bagaimana dominasi maskulinitas yang dibungkus dalam agama dan kebudayaan dalam masyarakat Iran. Sebagaimana film Marzieh, film BW Purba Negara mempunyai alur cerita yang mudah untuk dimengerti, penuh dengan adegan-adegan yang mempunyai pesan kuat. Film ini memberikan gugahan perihal hal-hal yang nampaknya aneh oleh manusia awam namun lumrah bagi mereka. Meski mudah untuk dimengerti, film ini dengan tajam menebarkan misi dekonstruktif dan pesan sosiologis perihal dominasi dalam masyarakat bagi difabel (different abilities). Tidak sebagaimana dengan film-film yang mempunyai misi advokasi yang sering mengumbar “khotbah” perihal kemanusiaan dan keadilan namun mengabaikan nilai estetis dan riset, film ini sangat berhati-hati untuk tidak menanggalkan film sebagai sebuah karya seni. Adegan-adegan yang mengagetkan, dialog yang lumrah dan tak penuh agitasi, sinematografi yang menyihir, dan suasana sunyi dalam film menjadikan penonton terhipnotis terbawa dalam dunia kehidupan difabel.

***

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita pungut dari film yang dibuat lulusan Filsafat UGM 2001 ini. Pertama menampilkan satu bentuk komunikasi yang dianggap tidak wajar oleh orang banyak, namun komunikasi tersebut berjalan dengan baik, biasa dan tak ada masalah besar sebagaimana komunikasi-komunikasi yang dilakukan oleh spesies jenis manusia yang lainnya. Purbanegara menggelitik dan menjungkirbalikkan nalar penonton perihal apa bagaimana hubungan yang disebut normal. Bahwa, apa yang ada dalam masyarakat adalah perihal kebiasaan, keanehan hanya terjadi ketika sulit dijumpai atau ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi, jika keanehan-keanehan tersebut tidak dihadirkan maka semua akan tampak seragam dan sama. Toh, apa yang dianggap aneh dan “menyimpang” dari yang umum dalam masyarakat terbukti berjalan dengan biasa dan tak ada hal yang menjadi masalah besar di sana. Jika antara tuna netra dan tuna rungu mampu berjalan dan berkomunikasi dengan baik lantas apa yang perlu dipersoalkan dengan mereka? Bukankah itu hanya bagian dari keragamana manusia untuk bersiasat dalam berinteraksi? Lantas kenapa mesti ada kategori “normal” dan “tidak normal”, demikian film berdurasi 20 menit ini menggambarkan.

Dalam realitas sosial, komunikasi difabel seringkali menjadi alasan untuk menolak, membatasi dan melakukan tindakan/kebijakan diskriminatif lainnya. Banyak kampus, misalnya, tidak menerima tuna netra atau tuna rungu sebagai  mahasiswa karena alasan komunikasi dan fasilitas yang tidak mereka punyai. Tentu pandangan ini adalah pandangan sepihak dari “kaum normalist” yang menilai bahwa difabel tidak punya siasat, strategi improvisasi, untuk beradaptasi dengan hal baru yang mereka hadapi. Tuna rungu kerapkali duduk di depan untuk membaca bibir dosen karena kampus yang tak menyediakan penerjemah bahasa isyarat, tuna daksa seringkali bersiasat datang lebih awal untuk naik tangga, agar tidak telat untuk kampus yang tak punya elevators. Alasan ini pula tak jarang orang-orang menempatkan kaum difabel di Sekolah Luar Biasa (SLB), bukan sekolah umum, “bagaimana mereka akan berkomunikasi dengan teman-temanya, sedang tuna rungu tidak mendengar?”. Film ini menghadirkan sepungut kisah bahwa komunikasi yang ada dalam bayangan “orang awas” dan “mendengar” adalah rumit bisa terjadi, dan itu mengalir biasa, bagian dari keragaman yang mesti dirayakan. Meminjam istilah Pierre Bourdieu, improvisasi setiap individu selalu mempunyai “regulated improvisation system dalam keseharian kehidupan seseorang/agensi (Bourdieu, 1977: 78), yang kemudian diinternalisasi dan dieksternalisasi hingga menjadi bagian dari kedirian, atau habitus sang individu dalam menyikapi field. Jika komunikasi Akbar dan Perempuan tuna netra saja bisa berjalan dengan baik tentu alasan komunikasi untuk memisahkan difabel atau menolak mereka adalah alasan yang lemah. Demikian film ini menggugat.

Kedua, dekontruksi maskulinitas juga merupakan bagian kecil yang muncul dari film tersebut. Film dipantik dengan perempuan tuna netra yang menjadi imam untuk lelaki tuna rungu, sehingga orang akan mengira bahwa film ini adalah film bernada feminis. Kerumitan agama dan sistem sosial pun dihadirkan oleh Popo, panggilan akrab sang sutradara muda, dalam iklim dominasi maskulinitas kaum difabel bukan hanya didominasi oleh manliness akan tetapi juga normalisme. Lantas bagaimana dengan perempuan difabel dalam perbincangan kajian sosial, bagaimana pula agama menyikapi situasi jika sang lelaki adalah seorang tuna rungu yang tak bisa mendengar dan berbicara? Haruskah dia masih mewajibkan seorang imam adalah lelaki? Film ini seperti hendak menghadirkan bagaimana njlimet-nya kebudayaan, maskulintas yang mengukung budaya dan agama. Selain itu film ini juga menyuguhkan satu topik yang perlu diperhatikan bagi gerakan perempuan yaitu perihal difabelitas dan maskulinitas.

Ketiga, secara tidak terduga Popo dengan sangat ciamik hendak menabuh genderang yang membisingi “orang-orang normal” perihal dominasi normalisme. Pyaaar, kaca jam tembok yang dipecah oleh perempuan tuna netra. Pecahan kaca tersebut sepertinya adalah inti dari film ini, sebagai stunning message, sekaligus nada gregeten sang difabel atas akutnya kuasa normalisme. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali hal-hal yang kita duga itu wajar akan tetapi sangat bias akan normalisme, sepeda, duit yang tak ber-braille, trotoar yang tak ber-guide block dan seterusnya. Demikian pula dengan jam yang dibungkus kaca, tuna netra bisa mengetahui waktu. Lalu kaca atau dominasi normalisme mesti dipecah dan dibongkar, agar jarum jam dapat dipegang, dan waktu bisa dibaca dengan jari-jari sang difabel. Pesan kuat, tidak berniat memberi khotbah, namun sangat tajam setajam pecahan kaca.

Keempat, agama dan normalisme menjadi topik utama. Agama lahir dari sebuah sistem masyarakat, jika masyarakatnya digenangi dengan kuasa normalisme, maka demikian pula dengan agama, tampil menyelimuti difabel. Tuhan yang maha tahu dan maha mengerti dan mendengar dibajak oleh orang normal hingga seseorang kudu bisa melafalkan dengan fasih huruf ro’ atau Rrrrr. Jika Sang penguasa Antares mengerti semuanya, kenapa kata Rrrrr menjadi begitu penting? Film ini menyuguhkan bagaimana kuasa normalisme dalam agama yang memberikan efek marjinalisasi bagi kaum difabel.

Ini dapat dibenarkan mengingat Islam, sebagaimana agama lain, adalah agama yang terikat dengan masa lalu. Karena itu, seringkali masa lalu menyelinap hadir membentuk nilai-nilai Islam. Masyarakat Arab tempat hadirnya Islam mempunyai idealisasi dan utopianisme tertentu. Idealisasi tentang cantik, tampan, kesopanan, dan seterusnya. Jelaslah, Islam hadir di negeri Arab, dan ikut terikat pula oleh apa yang disebut al-Jabiri sebagai “imaji-imaji sosial” (al-mikhyâlul ijtimâ‘i) masyarakat Arab. Kuasa normalisme hadir pula dalam bagaimana dalam membaca dan melafalkan Al Qur’an. Dalam pemahaman Islam yang populer, membaca Al Qur’an dengan suara indah merupakan kebanggaan. Bahkan terdapat ilmu tajwid, agar membaca Al Qur’an sesuai dengan spelling dan bunyi orang Arab bicara. Bahkan, bunyi itu kemudian diseragamkan menjadi style bacaan orang Quraisy. Lantas, bagaimana dengan tuna rungu yang jika otomatis tak bisa mendengar, juga kesulitan untuk bicara? Dalam konteks masyarakat Indonesia yang amat jelas, kita dapat melihat bagaimana kuasa normalisme menyelimuti agama tampak pada doktrin-doktrin Islam yang terkait dengan negara. Kitab al-Mawardi, al-ahkamu as-syultiniyah wa Auliyatut Diniyah, merupakan contoh yang menekankan bahwa pemimpin yang baik dalam Islam adalah laki-laki yang tidak mengidap ketunaan atau kecacatan (al-hawas). Oleh banyak kalangan “fundamentalis” yang merasa eksepsionalis, alasan ini pernah menjadikan alasan kenapa Gus Dur tidak layak menjadi presiden atau calon presiden.

Kelima, sisi manusiawi difabel juga menjadi sorotan film ini. Dalam keseharian, seringkali difabel direprodusir bahwa difabel adalah orang lemah atau sebaliknya, difabel adalah orang yang luar biasa dan hebat. Berbagai tayangan di televisi dan cerita-cerita soal kehebatan difabel telah menjadi semacam konsumsi popular dalam masyarakat, seperti: difabel bisa mendaki gunung, difabel sukses menjadi pengusaha dan seterusnya, seolah-olah memberikan gambaran bahwa difabel adalah mahluk istimewa yang kuat dan perkasa bahkan lebih hebat dari orang yang bukan difabel. Nah dalam film ini, Popo menghadirkan kehidupan sehari-hari difabel, kehidupan seksualitas, cinta, membuat minuman, dan hubungan dengan orang lain. Film ini seperti hendak menyerukan bahwa difabel adalah mahluk biasa dan memang mahluk biasa yang menjalani kehidupan sebagaimana manusia yang lain.

***

Walau bagaimanapun Popo, sang sutradara film ini, bukanlah difabel. Ia hanyalah orang yang menyelami kehidupan difabel dan merekamnya dalam gambar hidup. Sehingga dia tidak mengerti bahwa tuna netra sangat peka, dia tidak akan mungkin memakai kaca mata sebelah sebagaimana dilukiskan dalam filmnya. Sang tuna rungu juga tak akan membiarkan perempuan itu memegang alat kelaminnya dalam salah satu adegan, sebab difabel, terutama difabel yang taat beragama yang diutarakan dalam film tersebut, akan risih ketika ada lawan jenis hendak pegang-pegang bagian tubuh tertentu. Kritik lainnya, Popo sepertinya tak cukup kuat mendalami bahasa isyarat, sehingga gerak bahasa isyarat yang ditampilkan tak benar-benar mewakili bahasa isyarat yang digunakan oleh tuna rungu, mungkin mereka akan paham, namun dalam hatinya, saya yakin seorang tuna rungu akan bilang, “Ah, itu bukan bahasaku”. Mungkin. Lebih tepatnya itu bahasa normal yang didesain menjadi bahasa isyarat.

Selebihnya, film ini hebat dan luar biasa. Pantas jika mendapatkan banyak penghargaan.

 

9 Maret 2012

 

Sumber poster

 

* Direktur The Semar Institute, Malang−Jawa Timur.

 

 

 

Baca Juga

India Edisional Etnohistori

Ah, India

  oleh: Laraswati Ariadne Anwar *   MEMBICARAKAN pengaruh budaya India di Indonesia tentunya akan ...

Tanggapan

  • Hello, guest