Home / Topik / Ulasan Buku / Indonesia Tertawa, Semua Tentang Srimulat

Indonesia Tertawa, Semua Tentang Srimulat

 

Ulasan Buku oleh: Fandy Hutari *

 

Dalam perjalanan sejarah dunia panggung lawak, sudah banyak grup atau kelompok lawak yang tumbang ditelan zaman. Dulu publik mengenal Jayakarta Group (berdiri tahun 1975/1976) yang digawangi oleh pelawak-pelawak kondang seperti Jojon, Cahyono, Uu, dan Joice. Lalu publik pasti tak asing mendengar nama Warkop DKI dengan personelnya trio Dono, Kasino, dan Indro yang laris manis pada tahun 1980-an dan 1990-an. Setelah itu, nama kelompok ini meredup tersisih zaman, dan akibat beberapa personelnya meninggal dunia.

Namun, grup atau kelompok lawak yang satu ini masih berkibar di tengah pentas seni pertunjukan lawak, terseok-seok dalam berbagai problema dan persaingan antar-kelompok lawak, selama 60 tahun lebih. Adalah Srimulat, kelompok lawak yang didirikan oleh Teguh Slamet Rahardjo di Solo pada 1950. Kelompok ini begitu melegenda, sehingga kalau kita membicarakan seni lawak, pasti nama Srimulat tak pernah absen dalam perbincangan.

Sepanjang sejarah berdirinya kelompok lawak Indonesia, Srimulat merupakan kelompok yang memiliki paling banyak anggota. Kelompok ini terkenal mencetak pelawak-pelawak andal, seperti Asmuni, Timbul, Gepeng, Bambang Gentolet, Basuki, Tarzan, Polo, Nunung, Mamiek, dan Gogon. Nama Srimulat sendiri diambil dari nama istri Teguh Slamet Rahardjo, yakni R. A. Srimulat. Awalnya, kelompok ini bernama Gema Malam Srimulat. Pertunjukannya dahulu dilakukan secara keliling dari satu kota ke kota lain, mementaskan seni tari dan nyanyi. Unsur lawakan sendiri baru ada pada 30 Agustus 1951. Sebuah tulisan yang memikat dan mungkin menjadi “buku babon” soal Srimulat ditulis oleh Anwari, penulis dan peneliti LP3ES terbit pada 1999.

 

Kultur Humor Jawa

Beberapa tokoh terkemuka memberikan pengantar untuk buku ini, seperti Agum Gumelar (pembina Srimulat), Djokosantoso Moeljono (mantan direktur utama Bank Rakyat Indonesia [BRI]), dan James Danandjaja (Profesor Antropologi di Universitas Indonesia). Buku setebal 438 halaman ini terbagi menjadi dua belas bab, yakni Pendahuluan (Bab 1); Srimulat dan Perjalanan Sejarahnya (Bab 2); Genre di Blantika Lawak Nasional (Bab 3); Kekhasan Kelompok Srimulat (Bab 4); Srimulat, Seni dan Kebudayaan Jawa (Bab 5); Kepemimpinan dan Otoritas Internal (Bab 6); Kreativitas Ide dan Manajemen Panggung (Bab 7); Regenerasi dan Sumber Daya Manusia (Bab 8); Harapan Menyongsong Masa Depan (Bab 9); Kritik dan Komentar Terhadap Srimulat (Bab 10); Pengakuan Orang-orang Srimulat (Bab 11); dan Penutup (Bab 12).

 

Judul: Indonesia Tertawa, Srimulat Sebagai Sebuah Subkultur
Penulis: Anwari
Penerbit: LP3ES
ISBN: 979-8391-85-3
Tebal: xvi+438 hlm
Tahun terbit: 1999

 

Dilihat dari pertunjukannya, Srimulat kental dengan aroma budaya Jawa. Lalu, sebenarnya Srimulat itu bentuk teater rakyat atau teater pop? Teater rakyat adalah teater bagian dari folklor, sedangkan teater pop adalah bagian dari pop culture. James Danandjaja menyebutkan, Srimulat merupakan bentuk teater pop yang masih kental dengan sifat teater rakyat. James menerangkan, sifat teater popnya terlihat pada pemilihan lakon yang kontemporer, semisal “Roh Cleopatra”, “Relax in Love”, dan “Drakula Sakit Gigi.” Sejak berdirinya, sambung James Danandjaja, Srimulat sudah tergolong teater pop, karena termasuk terater tradisi dengan manajemen panggung yang modern.

Srimulat sangat lekat dengan kosmologi kebudayaan Jawa. Srimulat sebagai sebuah subkultur dan Jawa sebagai kultur, bisa dianalogikan dengan hubungan antara sistem sosial dalam masyarakat dengan sub-sistemnya yang kompleks. Anwari menerangkan, keberadaan Srimulat berkaitan erat dengan seni tradisi yang ada lebih dahulu di tanah Jawa, seperti wayang wong, ketoprak, dan ludruk. Nah, bentuk humor yang disajikan oleh Srimulat pun tak bisa dilepaskan dari sosiologisme humor masyarakat Jawa itu sendiri.

Menurut Anwari, di dalam kebudayaan Jawa tumbuh subur apa yang disebut pasemon, plesetan, dan guyonan yang isinya kritik keras untuk merespons ketidakadilan sistem sosial dan ekonomi yang hampir terus-menerus diwariskan dalam perjalanan sejarah tatanan kekuasaan tradisional Jawa. Humor merupakan manifestasi kenyataan pahit atas ketidakadilan yang dalam banyak kasus justru sangat berbobot, kata Anwari. Kemudian, tradisi plesetan ini diwariskan oleh seni tradisi, seperti ketoprak dan ludruk.

Srimulat yang memang hidup dalam kosmologi kebudayaan Jawa yang kaya akan humor ini, tidak heran punya banyak referensi. Srimulat merupakan pewaris plesetan humor Jawa, dengan tingkah-polah pemainnya, bahkan diidentifikasi penonton sebagai sebuah wujud kebodohan orang Jawa yang ada dalam status sosial bawah di struktur sosial masyarakat. Genre lawakan Srimulat juga bukan termasuk genre lawakan kritis maupun alternatif. Semboyan Srimulat, “lucu adalah aneh, aneh adalah lucu.”

Mereka melawak dengan mengalir dan tidak terpatok pada naskah literer. Genre lawakan Srimulat dibentuk dari subkultur kebudayaan Jawa. Srimulat bisa dibilang merupakan kelanjutan dari lawak dalam dagelan Mataram, ketoprak, atau ludruk. Ditambahkan James Danandjaja, sesungguhnya lawakan Srimulat itu bersifat slap stick, yakni lawakan yang dibumbui gerak isyarat dan bahasa tubuh kocak atau “kasar”, seperti keplak-keplakan atau pukul-pukulan.

 

Eksis di Layar Kaca

Di bagian akhir buku ini, Anwari menarik beberapa kesimpulan yang ia dapatkan setelah mem-belejeti “tetek-bengek” Srimulat, mulai dari sejarahnya, genre humornya, sampai para pemainnya. Dari hasil penelitiannya, Anwari mengemukakan, Srimulat sebagai sebuah kelompok lawak, memiliki modal dasar yang tidak tanggung-tanggung, yakni kebudayaan Jawa dan antropologisme masyarakat Jawa yang diadopsi dan secara bertahap ditransformasikan untuk menghasilkan berbagai variasi lawakan yang unik, tanpa menghujat. Anwari juga melihat bahwa orang-orang Srimulat tidak menyadari kalau mereka sesungguhnya merupakan sebuah subkultur, dalam hal ini kebudayaan Jawa.

Anwari menganalogikan subkultur itu sebagai oksigen yang diproduksi alam semesta kebudayaan Jawa. Para personel Srimulat tinggal mengirup oksigen itu, untuk diwujudkan ke dalam ide lawakan, manajemen panggung, regenerasi, sumber daya manusia, harapan, dan otokritik terhadap Srimulat. Anwari juga menyimpulkan, berdasarkan pengakuan personel Srimulat, mereka ternyata punya satu visi yang sama. Mereka merupakan para seniman lawak yang berusaha menemukan tempat berpijak yang kokoh di panggung lawak, dan menemukan Srimulat sebagai “rumah bersama.”

Kini, para personel Srimulat banyak yang eksis sendiri-sendiri di layar kaca, misalnya Nunung di Opera van Java di Trans 7. Sewaktu televisi masih dipegang satu kendali, Televisi Republik Indonesia (TVRI), Srimulat sudah muncul di layar kaca. Hal ini terjadi pada awal tahun 1980-an. Direktur TVRI ketika itu, Subrata, mengatakan, “Srimulat merupakan salah satu contoh subkultur dengan corak bottom-up approach […] Artinya, ia lahir dari bawah dan memberikan feedback ke atas. Justru karena datang dari bawah itulah, bisa dimengerti jika muncul sinisme yang macam-macam terhadap Srimulat saat pertama kali saya menampilkan Srimulat di TVRI” (hlm. 100).

Pada 1989, Teguh membubarkan Srimulat. Saat itu, Srimulat kalah pamor dibandingkan hiburan lain yang lebih beragam di layar kaca, dengan menggeliatnya stasiun televisi swasta yang baru muncul. Satu persatu personelnya rontok. Dua tahun sebelumnya, Srimulat di TVRI sempat dihentikan. Kemudian, pasca pembubaran itu, personelnya masing-masing membentuk acara lawak sendiri, contohnya Basuki, Tessy, dan Kadir membentuk Batik.

Pada 1995, Gogon mengusulkan reuni Srimulat. Dan, sukses dengan penayangan Srimulat di Indosiar selama beberapa tahun. Sekarang, Srimulat jarang tampil bersama di televisi dan panggung. Para personelnya sibuk dengan urusan job masing-masing di berbagai program televsi. Mereka menjadi semacam selebritas yang punya kekhasan, dan tentunya publik pasti ngeh kalau di belakang mereka melekat nama besar kelompok lawak legendaris: Srimulat. Baru-baru ini, beberapa personel Srimulat, seperti Mamiek, Gogong, dan Juju, pada 11 April 2013 malahan “reuni” dalam film berjudul Finding Srimulat yang didasarkan dari buku berjudul sama karya Hilman Hariwijaya.

Saya rasa, orang akan terus terngiang dengan lawakan khas anggota Srimulat, seperti almarhum Timbul yang terkenal dengan kalimat “hil yang mustahal”-nya, Asmuni dengan kalimat “akan tetapi”-nya, Tessy dengan dandanan ala “bencong” dan tingkah centil-nya, Tarzan dengan dandanan dan badan tegap a la militernya, sampai Gogon dengan rambut mohawk dan duduk yang selalu melorotnya. Boleh dibilang, buku Indonesia Tertawa karya Anwari ini merupakan referensi penting menyoal sejarah keberadaan Srimulat, yang sudah kenyang dengan segala persoalan dan pola regenerasi pemain.

Di bagian cover belakang buku ini, Anwari dengan cerdas menulis sebuah ilustrasi dialog antara anak dan bapak, tentang Srimulat. Si anak berkata, “Untuk apa nonton Srimulat? Dapat apa saya? Hanya menghabiskan waktu saja”. Lalu, dengan bijak si bapak menjawab, “Kita ini Nak, sudah sedemikian lama tak jadi manusia, lama pula menjadi bangsa yang laknat, bahkan kita tak habis-habis berperang melawan keinginan sempit kita sendiri. Kita sudah lama tak menjadi manusia Nak, sudah lama!”, “Marilah kita mulai proses menjadi manusia itu dengan tertawa. Kita butuh Srimulat, kita butuh Srimulat yang membuat tawa kita kembali menjadikan kita sebagai manusia. Kita butuh Srimulat, Nak! Agar Indonesia ini bisa tertawa.”

Indonesia yang makin karut-marut dengan segala problem, seperti korupsi akut, kebiadaban aparat dan aksi premanisme, parodi dukun dan artis yang merasa diperdaya, degradasi moral, keadilan yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, perilaku anggota dewan terhormat yang jauh dari kata “hormat”, krisis kepemimpinan, saya rasa perlu tertawa sejenak. Kebutuhan akan lawak menjadi sangat penting bagi bangsa ini, setidaknya untuk mencairkan raut muka yang tegang. Ya, kini saatnya Indonesia tertawa hahaha… [ ]

 

7 November 2013

 

* Sejarawan, penulis, editor, & periset lepas. Berminat pada kajian sejarah, seni, & budaya. Esai & cerpennya termuat di berbagai media massa, baik cetak maupun online. 
....Bukunya yang sudah terbit, antara lain: Sandiwara dan Perang; Politisasi terhadap Aktivitas Sandiwara Modern Masa Jepang di Jakarta, 1942-1945 (2009),
....Ingatan Dodol; Sebuah Catatan Konyol (2010), Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal; Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia (2011), dan
....Manusia dalam Gelas Plastik; Kumpulan Cerpen (2012). Tinggal di Jakarta.

 

 

 

U l a s a n   B u k u

 

 

 

Baca Juga

Etnografi Formasi Negara di Kawasan Perbatasan

Haryo Kunto*         Judul Buku: At The Edge of States: Dynamics of ...

5 Tanggapan

  • Hello, guest