Home / Topik / Teori & Metodologi / Interogasi terhadap Antroposentrisme dan Rasionalisme

Interogasi terhadap Antroposentrisme dan Rasionalisme

oleh: Ulil Amri *

Dalam salah satu ceramahnya di The Collège de France Paul-Michel Foucault mengatakan bahwa ada pengetahuan lain yang tersubjugasi. Pengetahuan itu disubjugasi dengan cara didiskualifikasi dan didiskriminasi dari gelanggang pengetahuan dominan: ilmu pengetahuan rasional. Saya ingin menggiring pemikiran Foucault ini pada potensi radikalnya dengan mengatakan bahwa tidak hanya pengetahuan lain, tapi subjek lain juga tersubjugasi karena dianggap tidak berpengetahuan, tidak rasional, atau bahkan tidak eksis sama sekali karena penampakannya yang pasif dan statis. Subjek apa saja yang tersubjugasi? Darimana asal mula subjugasi ini? Dan bagaimana subjugasi itu berlangsung?

Sejauh penelusuran saya, asal mula subjugasi ada pada masa-masa awal perkembangan filsafat, persisnya pada masa pra Sokrates[1]. Saat itu terjadi perdebatan sengit antara Homer yang mengusung antroposentrisme dan Xenophanes yang membantahnya (saya menduga Xenophanes adalah polisentris). Homer dalam Iliad menjelaskan bahwa tuhan itu seperti manusia. Bentuk fisik (berbadan, berkepala, dan berkaki) dan karakter psikisnya (bisa marah, takut, dan memiliki kebijaksanaan) sama. Beberapa nama tuhan dalam versi Homer yang kokoh hingga masa Socrates, Plato dan Aristoteles antara lain Zeus, Hera, dan Ares. Meskipun Socrates, Plato, dan Aristoteles mengkritik konsep ketuhanan a la Homer, mereka tidak menolak keberadaannya bahkan cenderung mengikutinya.

Di sini inti subjugasi itu. Dengan dimunculkannya konsep tuhan yang menyerupai manusia, maka subjek lain seperti hewan, tumbuhan, dan benda-benda mulai diabaikan atau bahkan direndahkan derajatnya. Di sini pula awal mula antroposentrisme yang secara perlahan-lahan menghinggapi isi pikiran manusia hingga saat ini. Horkheimer dan Adorno misalnya mengakui hal ini. Mereka melacak pemikiran Homer yang antroposentris melalui Odyssey. Bagi mereka Ulises\Odisseus—tokoh sentral dalam epik Odyssey—adalah representasi dari kehebatan manusia yang menaklukkan subjek lain. Menurut Horkheimer dan Adorno, ketokohan Ulises ini kemudian menjadi inspirasi bagi gerakan Pencerahan di dunia Barat modern di mana manusia dianggap sebagai subjek yang berbeda diantara yang lain karena dia memiliki keunikan, keunggulan, derajat lebih tinggi, dan berkemampuan menaklukkan subjek-subjek lain.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, pemikiran Homer ini sebenarnya sudah ditolak oleh Xenophanes. Xenophanes bahkan mengejek ‘tuhan’ versi Homer ini. Menurut Xenophanes, jika konsep tuhan disamakan dengan manusia maka hanya akan menghasilkan kebenaran yang sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman manusia, dan tidak akan mencapai kebenaran yang sesungguhnya. Yang menarik dari Xenophanes adalah argumennya yang mengatakan bahwa seandainya sapi, kuda, dan singa memiliki tangan, maka tuhannya kuda akan seperti kuda, tuhannya sapi akan seperti sapi, dan mereka akan membuat model tuhan yang sama persis dengan diri mereka. Apa yang penting dari pemikiran Xenophanes ini adalah kritiknya pada antroposentrisme. Dia mengoreksi bahaya dari antroposentrisme yang diyakininya akan membawa konsekuensi besar di masa mendatang: subjugasi manusia atas subjek lain. Menurut hemat saya Xenophanes secara implisit ingin mengingatkan kita semua bahwa manusia tidaklah lebih unggul atas entitas lainnya. Manusia, binatang, tumbuhan, benda-benda, dan subjek non-manusia lainnya adalah setara: semuanya memiliki kapasitas yang unik. Oleh karena itu menempatkan satu entitas pada derajat yang lebih tinggi daripada yang lainnya—apalagi sampai menaklukkan—adalah suatu kecongkakan.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, meski sudah dikritik oleh Xenophanes, mengapa antroposentrisme masih tetap kuat di masa itu? Bahkan Sokrates, Plato, dan Aristoteles pun mengamininya? Mengapa pula antroposentrisme langgeng sampai saat ini? Apa saja argumen-argumen pembenarnya? Apa saja yang menyebabkan antroposentrisme begitu kokoh dalam pikiran kita hingga saat ini? Kita tidak bisa memperoleh banyak informasi dari Homer karena karya-karyanya hanyalah berupa epik dan lebih merupakan provokasi bagi filsuf sesudahnya. Informasi penting dan argumentatif tampaknya dapat dilacak dari Aristoteles.

Aristoteles mengemukakan bahwa manusia adalah makhluk politik (bios politikos) karena dia memiliki kemampuan berbahasa yang memungkinkannya hidup secara sosial dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kolektif. Konsep Aristoteles ini menekankan adanya perbedaan antara zoe (kehidupan binatang yang murni biologis) dan bio (kehidupan politik yang murni rasional), dua istilah dalam bahasa Yunani yang merujuk pada satu kata: kehidupan (life). Lebih jauh, konsep ini pula yang memisahkan secara tegas antara manusia dan non-manusia di mana yang pertama adalah rasional dan yang berikutnya tidak rasional (irrational). Manusia disebut rasional karena kemampuan berbahasa yang dimilikinya. Sementara non-manusia tidak dianggap tidak memiliki rasionalitas karena mereka tidak berbahasa[2].

Sebenarnya, Homer dalam Odyssey juga sudah secara implisit menunjukkan bahwa Ulises bisa menaklukkan alam karena kecerdasannya atau rasionya. Namun demikian, Aristoteles lah yang melakukan sub-ordinasi secara terang benderang terhadap subjek non-manusia dengan mengatakan bahwa kemampuan berbahasa manusia merupakan pembeda utama dengan non-manusia. Karena bahasa lah manusia disebut rasional. Demikian pula sebaliknya, karena ketiadaan bahasa lah non-manusia tidak rasional. Pada titik ini, antroposentrisme mulai bersinggungan erat dengan rasionalisme. Dengan hadirnya rasionalisme maka posisi antroposentrisme semakin kokoh dan langgeng hingga sekarang.

Menurut saya dimulai sejak masa Aristoteles ini manusia perlahan-lahan memisahkan diri dari rekan-rekannya non-manusia yang lain. Pemisahan di sini tidak diartikan sebagai asal mula terpisahnya spesies manusia dan spesies lain, tapi dimaksudkan sebagai hilangnya atau terputusnya respek manusia terhadap subjek non-manusia. Pada saat yang sama, subjek non-manusia ini mulai dianggap pasif, statis, dan semata-mata objek. Lebih jauh, pemisahan diri ini turut dilatari oleh munculnya kesadaran dalam diri manusia akan keunggulan yang dimilikinya. Munculnya kesadaran ini persis seperti yang digambarkan oleh Hegel ketika menjelaskan proses dialektika. Hegel memberi ilustrasi menarik ketika menjelaskan fenomena tuan dan budak (lordship and bondage). Munculnya kesadaran diri (self consciousness) si tuan itu karena adanya dialektika dengan si budak. Dalam dialektika ini si tuan kemudian menempati posisi yang tinggi dan si budak menempati posisi yang rendah setelah si tuan merasa dirinya lebih segala-galanya atas si budak. Dalam konteks manusia dan non-manusia, kesadaran akan keunggulan manusia ini muncul karena si manusia menilai bahwa dirinya aktif, dinamis, dan kreatif dibandingkan dengan non-manusia yang terlihat pasif dan statis.

Senada dengan Hegel, Miller juga menunjukkan bagaimana proses objektifikasi kesadaran manusia tercipta ketika dirinya berhasil menciptakan sesuatu. Dengan ciptaan itu dia kemudian merasa dirinya jenius, paling hebat, setelah melihat kenyataan bahwa tidak ada entitas lain selain dirinya yang bisa melakukan proses penciptaan semacam itu[3]. Proses objektifikasi ini juga disebutnya sebagai proses pencerminan diri di mana ciptaan menunjukkan siapa penciptanya (materiality mirroring humanity), persis seperti dialektika Hegel di atas.

Selain konsepnya mengenai bios politikos, Aristoteles juga mengemukakan konsep lain yang tak kalah diskriminatifnya terhadap subjek non-manusia yakni hylomorphism. Konsep ini menjelaskan bahwa sesuatu menjadi bernilai atau berarti bilamana dia memiliki dua unsur yakni materi (hyle) dan bentuk (morphe). Maksudnya, semua benda pada dasarnya tidak memiliki nilai\arti. Batu, pasir, dan tanah misalnya hanya akan menjadi bernilai\berarti setelah unsur materi dan bentuk menyatu pada dirinya di mana batu kemudian menjadi arca, pasir menjadi tembok, dan tanah menjadi gerabah. Demikian halnya dengan manusia, binatang, dan tumbuhan. Mereka menjadi bernilai\berarti setelah unsur tubuh (materi) dan jiwa (bentuk) menyatu padanya. Berbeda dengan manusia, binatang, dan tumbuhan yang pada dasarnya sudah memiliki dua unsur tersebut tanpa adanya campur tangan entitas lain, pada benda-benda seperti batu, pasir dan tanah harus mendapatkan sentuhan entitas lain untuk membuatnya menjadi bernilai\berarti. Entitas yang dimaksudkan di sini tentu saja adalah manusia; satu-satunya entitas yang dianggap memiliki kemampuan mendesain benda-benda. Kemampuan mendesain ini lahir dari rasio atau pengetahuan yang dimiliki manusia. Menurut Timothy Ingold, pada titik ini konsep hylomorphic Aristoteles mendiskriminasikan materi, dan menganggapnya pasif, statis, dan mati[4]. Adapun yang hidup hanyalah manusia atau agen yang memberikan bentuk pada materi (the form bestowing agency). Konsep semacam ini, lanjut Tim Ingold, secara terus-menerus memberi pengaruh pada filsafat Barat hingga hari ini.

Lahirnya konsepsi-konsepsi antroposentrik yang berlanjut pada subjugasi terhadap subjek non-manusia ini kemudian dilembagakan melalui apa yang disebut oleh Judith Butler sebagai performativity. Pandangan yang menempatkan manusia sebagai entitas yang paling unggul karena rasionalitasnya secara terus-menerus di(re)produksi melalui berbagai macam pertunjukan (performance) mulai dari yang abstrak hingga yang konkrit. Ada banyak contoh mengenai pertunjukan yang abstrak ini sebagaimana ditampilkan oleh agama-agama, baik agama Ibrahim maupun non-Ibrahim. Konsep mengenai manusia sebagai wakil tuhan, wujud tuhan dalam diri manusia—avatarisme—sampai reinkarnasi[5] adalah beberapa contohnya. Konsep-konsep semacam ini diajarkan secara turun-temurun baik di tempat ibadah, sekolah, universitas, maupun di lembaga-lembaga sosial lainnya sehingga kemudian memunculkan kesadaran kolektif yang kuat di kalangan manusia secara turun-temurun bahwa mereka memang paling unggul diantara makhluk lainnya. Adapun pertunjukan konkrit antroposentrisme dapat dilihat dari pemosisian manusia sebagai titik sentral atas entitas-entitas lainnya. Manusia diposisikan sebagai satu-satunya atom kosmik yang memiliki daya magnetik terhadap entitas-entitas lain. Apa saja yang tersentuh atau tercipta dari tangan manusia dianggap sebagai sesuatu yang bernilai\berarti. Belakangan muncul wacana bahwa era kehidupan sudah memasuki apa yang disebut sebagai Anthropocene: sebuah era di mana manusia merupakan satu-satunya penentu utama perjalanan kehidupan di bumi. Stoermer dan Crutzen adalah dua orang ilmuwan yang dianggap mempelopori wacana ini. Menariknya, Latour dan Descola—sosiolog dan antropolog yang paling banyak dirujuk oleh sarjana di bidangnya saat ini—ikut meramaikan wacana tersebut dengan turut menggunakan istilah Anthropocene dalam ceramah-ceramahnya. Menurut saya pemberian nama era kehidupan kita saat ini sebagai Anthropocene adalah sebuah pertunjukan nyata bahwa manusia benar-benar dianggap sebagai entitas super.

Pada titik ini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa seluruh umat manusia antroposentris. Kenyataannya, ada banyak kelompok manusia yang kehidupannya jauh dari pandangan antroponsentris—bisa jadi polisentris. Di kalangan suku-suku asli Amerika Utara misalnya, ada kepercayaan bahwa binatang-binatang tertentu merepresentasikan jiwa kolektif suku-suku di sana. Beberapa diantaranya adalah elang yang menyimbolkan kehormatan, kerbau mewakili kebaikan, serta rusa yang mewakili kebebasan. Elang misalnya menjadi simbol suku Chippewa, Zuni, Kwakiutl, dan Tlingit. Kerbau menjadi simbol suku Caddo dan Osage. Sementara itu rusa menyimbolkan semangat suku Menominee dan Ottawa. Oleh karena itu, para anggota suku-suku tersebut menganggap suci keberadaan binatang-binatang ini. Bahkan, nama-nama individu anggota suku-suku asli Amerika ini pun seringkali dilekatkan dengan nama binatang guna memperoleh kekuatannya. Sebagai contoh, nama Arre Catte Waho dari suku Omaha memiliki arti rusa besar (large elk) dan Atsadi dari suku Cherokee berarti ikan (fish). Kendatipun bentuk fisik binatang ini berbeda dari manusia, mereka tidak direndahkan posisinya, tapi justru diposisikan sebagai kerabat (relative) yang punya posisi setara dengan manusia. Menariknya lagi, tanah dan beberapa benda lainnya juga diperlakukan sebagai kerabat oleh suku asli Amerika ini.

Sementara itu, di kalangan suku asli Australia binatang merepresentasikan ruh para leluhur. Oleh karenanya, para anggota suku asli Australia menaruh hormat begitu tinggi pada binatang yang dianggap sebagai leluhurnya itu. Tidak jarang dijumpai seseorang mengidentifikasikan dirinya sebagai kangguru (Gugu Yimidhirr), iguana (Wardapi), dan buaya (Loondaroo) karena menganggap leluhurnya adalah binatang-binatang tersebut. Binatang-binatang ini merupakan simbol sosial dan keagamaan suku-suku asli yang kemudian dikenal sebagai totem. Suku-suku asli Australia percaya bahwa dunia manusia dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang berasal dari leluhur mereka—binatang-binatang ini.

Di Indonesia, kita seringkali mendengar adanya istilah dinamisme dan animisme yang sudah kita pelajari sejak bangku sekolah menengah atas. Sekadar mengingatkan kembali, istilah pertama merujuk kepercayaan pada benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan super dan istilah berikutnya merujuk pada kepercayaan terhadap ruh. Di Jawa khususnya Keraton Yogyakarta dan Surakarta, ada ratusan bahkan ribuan macam benda yang dikeramatkan. Saat benda-benda keramat ini terkena hujan abu Gunung Kelud beberapa waktu lalu, para abdi dalem Keraton sibuk menyiapkan prosesi pembersihan benda-benda tersebut dengan acara ‘dimandikan’. Untuk memandikan benda-benda ini dibutuhkan keahlian khusus dari orang yang khusus melalui ritual yang juga khusus. Di Sulawesi, tempat asal saya, kepercayaan animis masih kental. Para nelayan yang sedang berada di lautan pada umumnya bekerjasama dengan kekuatan non-manusia untuk mendapatkan tangkapan ikan yang banyak terutama pada masa terang bulan. Mereka juga meminta bantuan subjek non-manusia ini untuk menjamin keselamatan mereka selama di lautan[6].

Kendati begitu, persoalan menjadi kompleks ketika praktik-praktik yang cenderung polisentris ini secara nir-sadar berbaur dengan antroposentrisme. Di Sulawesi, ritual meminta bantuan pada para penghuni laut digambarkan seperti aksi suap pada birokrasi pemerintah. Para nelayan misalnya menyodorkan nasi, buah, dan rokok pada penghuni laut dengan harapan agar dilancarkan usahanya selama berada di lautan. Percampuran antara praktik antroposentrisme dan polisentrisme ini dapat juga dilihat pada peristiwa di mana segelintir orang memainkan peran ganda dalam satu komunitas adat. Di satu sisi mereka mempraktikkan polisentrisme seperti hidup berdampingan dengan hutan dan binatang-binatang yang ada di dalamnya—di mana mereka menaruh respek yang tinggi pada subjek-subjek itu—namun di sisi lain mereka memperlakukan subjek-subjek tersebut sebagai properti yang dapat dikomodifikasi demi kepentingannya guna mengakumulasi kapital[7]. Praktik percampuran semacam ini menurut dugaan saya juga eksis di tempat-tempat lain, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di area reservasi suku asli Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, hingga suku-suku asli di Australia dan Pasifik. Dengan adanya percampurbauran ini maka tampaknya akan cukup sulit menemukan praktik polisentrisme yang benar-benar murni saat ini.

25 April 2014



* Penulis adalah Peneliti di Pusat Penelitian Sumber Daya RegionalLembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Menyelesaikan Master of Applied Anthropology dari 
....The Australian National University; saat ini sedang menempuh program Ph. D. in SocioCultural Anthropology di University of Washington, USA.

Sumber Bacaan:

— Paul-Michel Foucault (Society Must Be Defended: Lectures at The Collège de France, 1975−1976)
— Homer (The Iliad)
— Max Horkheimer & Theodor Adorno (Dialectic of Enlightenment: Philosophical Fragments)
— Xenophanes (Fragments)
— Aristotle (Politics)
— William Clement McGrew (Chimpanzee Material Culture: Implications for Human Evolution)
— David Mulroy (Early Greek Lyric Poetry)
— Hegel (The Phenomenology of Mind)
— Daniel Miller (Materiality: An Introduction)
— Timothy Ingold (Bringing Things to Life: Creative Entanglements in A World of Materials)
— Judith Butler (Excitable Speech: A Politics of The Performative)
— Crutzen & Stoermer (The Anthropocene)
— Anonim (http://www.native-languages.org)
— Adrian Franklin (Animal Nation: The True Story of Animals and Australia)
— Charles Zerner (Culture and The Question of Rights: Forests, Coasts, and Seas in Southeast Asia)
— Michael R. Dove (The Banana Tree at The Gate: A History of Marginal Peoples and Global Markets in Borneo)

Footnotes:

[1] Investigasi saya tidak berhenti di sini. Saya akan terus melacak peristiwa subjugasi sebelum masa ini sepanjang tersedianya literatur yang relevan.
[2] Studi-studi Biologi kontemporer menunjukkan bahwa binatang juga memiliki sistem bahasanya sendiri. Bahkan ada yang ekstrim mengatakan bahwa binatang
.....juga memiliki budaya. Salah satunya dibahas secara menarik oleh Bill McGrew dalam bukunya Chimpanzee Material Culture (1992).
[3] Pada titik ini saya melihat manusia menempatkan dirinya serupa tuhan. Di sini saya melakukan penafsiran minor terhadap karya Homer: manusia tidak saja
.....menuhankan sesuatu yang serupa dirinya, melainkan juga mengangkat dirinya sebagai tuhan itu sendiri.
[4] Konsep hylomorphic ini dikritik secara keras oleh Ingold dengan mengatakan bahwa tanpa bentuk pun materi sudah memiliki nilai (ada tambahan penekanan dari saya).
.....Secara ekstrim bahkan Tim Ingold mengatakan bahwa materi ini sesungguhnya hidup, tidak statis, dan pasif sebagaimana diyakini oleh banyak orang.
[5] Manusia dianggap sebagai makhluk yang tertinggi dalam hirarki reinkarnasi. Binatang dan tumbuhan adalah yang terendah dalam hirarki tersebut.
[6] Tulisan mengenai ini diulas secara mengesankan oleh Charles Zerner dalam bukunya Culture and the Question of Rights.
[7] Dalam beberapa kesempatan mengunjungi komunitas adat di Indonesia saya menangkap peristiwa di mana individu-individu tertentu dalam komunitas itu
.....mempraktikkan polisentrisme dan antroposentrisme ini (observasi saya ini bisa saja tidak tepat karena tidak didasarkan pada pendekatan etnografi yang mendalam).
.....Di satu sisi mereka hidup bersama alam, namun di sisi lain mereka turut mengeksploitasinya secara kontinyu dan akumulatif, bukan lagi semata-mata untuk kepentingan
.....subsisten. Meskipun demikian, saya berpendapat bahwa praktik semacam ini pada dasarnya dipengaruhi oleh invasi ekonomi uang yang datang dari berbagai penjuru dan
.....cenderung semakin menggila dalam beberapa abad terakhir. Buku Michael R. Dove yang berjudul The Banana Tree at the Gate (2011) menunjukkan bagaimana komunitas-
.....komunitas adat di Kalimantan sudah melibatkan diri dalam globalisasi sejak beberapa beberapa abad yang lalu melalui bisnis lada. Mereka ikut serta dalam bisnis ini
.....bersama otoritas lokal maupun kolonial.
Tulisan Terkait: Polisentrisme: Sebuah Upaya Menggugat Antroposentrisme & Rasionalisme dalam Antropologi

T E O R I & M E T O D O L O G I

Baca Juga

Panjar

Isu dan Pemikiran Kontemporer dalam Antropologi Ekonomi (2)

oleh: Hatib Abdul Kadir * [[ Lanjutan Bagian 1 ]] Berbagai studi antropologi ekonomi yang ...

3 Tanggapan

  • Hello, guest
  • Bagus Mas, sedikit menyinggung beberapa hal yg bisa jadi di luar konteks.Pertama banyak yg meyakini bahwa proses evolusi dan perkembangan kebudayaan manusia adalah hunter dan gatherer. Jika itu di-link-kan dengan theory out of Africa. Utk belahan bumi di luar Afrika, binatang hutan umumnya memang “takut”(menghindari) manusia. Tapi di Afrika binatang buasnya cenderung tidak takut pada manusia justru manusia yg menghindari. Artinya ada proses membangun hubungan antara manusia dengan alam yg berbeda merujuk pada siapa yg duluan ada di lingkungan tertentu. (Jurnal ilmiahnya belum nemu, itu dari kuliah yg disampaikan dosen yg mendalami recovery after disaster dari primata)… Kedua dan ketiganya nanti Mas. Mau ke rumah Pak Pomo, biasa kumpul guyub Kagama Canberra.