Home / Topik / Teori & Metodologi / Isu dan Pemikiran Kontemporer dalam Antropologi Ekonomi (2)

Isu dan Pemikiran Kontemporer dalam Antropologi Ekonomi (2)

oleh: Hatib Abdul Kadir *

[[ Lanjutan Bagian 1 ]]

Berbagai studi antropologi ekonomi yang paling mengemuka pada saat ini mengajukan dua asumsi. Pertama, pembangunan dan neoliberalisme adalah proyek yang tidak terbantahkan. Ia sudah diterima sebagai kenyataan sosial oleh masyarakat. Kedua, masyarakat mempunyai kendali pada dirinya sendiri dalam menegosiasi berbagai ekspansi neoliberalisme dan keterbukaan ekonomi pasar.

Berangkat dari dua hipotesis di atas, muncul pertanyaan seperti bagaimana masyarakat menavigasi dirinya terhadap dua hal di atas. Jane Guyer di Marginal Gains (2004), menawarkan konsep “self multiple realization” berdasarkan studinya tentang masyarakat Nigeria yang mengalami inflasi hebat. Harga minyak yang naik justru diikuti dengan nilai tukar mata uang Naira yang melemah karena tingginya ketergantungan pada impor barang[1]. Guyer melihat efek dari inflasi dan pertukaran global yang asimetris alias tidak imbang (antara minyak/petrol dan dollar), menyebabkan masyarakat di tingkatan lokal melakukan arbitrase, alias menukar nilai barang di lebih dari satu tempat yang mempunyai nilai lebih tinggi. Arbitrase dilakukan hingga ke Negara-negara tetangga di sekitar Nigeria. Orang Yoruba misalnya, membeli tekstil di tempat A, kemudian menukarnya dengan gelang kuningan di tempat B, dan menukarnya dengan hewan ternak di tempat C dan seterusnya. Pertukaran terjadi hingga menembus batas teritori etnis hingga di tiga puluh tempat yang berbeda.

Bagi Guyer, liberalisme pasar menghadirkan kesadaran masyarakat untuk mengkomposisikan dan me-ranking barang dan manusia. Contoh yang paling jelas adalah ketika krisis minyak di Nigeria 1998, pemilik pom bensin melakukan registrasi antrian berdasarkan ranking etnik dan kebangsawanan. Pedagang mengelaborasi antara ekonomi sebagai aktivitas kalkulasi dan ekonomi sebagai aktivitas relasi sosial dengan cara melakukan urutan antri dalam mendapatkan minyak. Di tengah ke-chaos-an semua semua golongan mendapatkan minyak dan tidak terjadi amuk massa. Krisis tidak menimbulkan perlawanan melainkan resiliensi masyarakat dalam bentuk seperti narasi di atas. Pada kasus Indonesia, inflasi yang menyebabkan tingginya biaya hidup disiasati dengan berbagai macam hal seperti meningkatnya transaksi “bawah tangan”, manipulasi nota transaksi, suap kecil-kecilan di tingkatan birokrasi, mark-up pengadaan barang pada proyek-proyek infrastruktur. Contoh-contoh transaksi “bawah tangan” atau ilegal ini berhubungan erat dengan tingginya biaya hidup yang tidak diimbangi dengan transparansi sistem kerja dan jumlah pemasukkan atau upah yang mengimbangi inflasi.

Para antropolog ekonom terbaru seperti Pujo Semedi, Jane Guyer, David Graeber, Keith Hart, Tania Murray Li, Stephen Gudeman, Michel Callon hingga Elizabeth Povinelli menggunakan konsep-konsep seperti monetisasi, temporalitas, volatilitas, vulnerabilitas, intimacy, precarity, sovereignty[2], belonging. Namun demikian, beberapa pemikiran terbaru tidak secara eksplisit mengkritik konsep “resistensi” dan “resiprositas”, melainkan studi-studi antropologi ekonomi terbaru ini menawarkan elaborasi dan alternatif dalam melihat respon masyarakat yang sangat beragam ketika menghadapi persoalan ekonomi yang sebenarnya sama atau mirip dengan sebelumnya, seperti reaksi terhadap neoliberalisme, krisis ekonomi, inflasi, hingga cara-cara mengembangkan jaringan ekonomi dan manajemen ekonomi rumah tangga. Tulisan ini akan menjadi berkepanjangan jika semua konsep saya bahas di sini. Namun intinya, konsep-konsep di atas menggambarkan beragam reaksi terhadap proyek neoliberalisme yang terkesan sangat hitam putih jika hanya dilihat dari kacamata “resistensi” a la James Scottian.

 

Nilai Komoditas: Antara Produksi dan Pertukaran

Sub-judul ini merepresentasi ketegangan antara pandangan Marxisme, Sosialis maupun para pandangan para Anarko. Bagi Karl Heinrich Marx, nilai sebuah barang ditentukan oleh sistem mode produksi. Konsep terpenting Marx dalam Das Kapital jilid pertama adalah SNLT (Socially Necessary Labor Time) yang artinya sebuah nilai komoditas ditentukan oleh keseluruhan proses waktu kerja yang dihabiskan oleh buruh. Dengan kata lain, lama kerja buruh menentukan sebuah nilai komoditas. Berbeda dengan pendapat Marx, beberapa antropolog seperti David Graeber yang melihat nilai sebuah barang ditentukan pada sistem distribusi dan pertukaran. Nilai komoditas sangat erat kaitannya dengan manipulasi dan akumulasi modal yang justru diciptakan pada tingkatan pertukaran, bukan di produksi. Bahkan, nilai komoditas yang berubah di tingkatan pertukaran juga mampu merugikan sistem produksi.

Manipulasi nilai produksi di tingkatan pertukaran dan distribusi inilah yang justru sering membuat angka produktivitas menurun. Menurunnya angka produktivitas petani misalnya, bukan hanya karena jumlah tanah garapan yang berkurang, namun juga karena penekanan harga di tingkatan pertukaran. Saya ambil contoh kasus gandum sebagai komoditas paling penting pada akhir abad 19. Gandum sangat berperan mendukung perkembangan ekonomi industri di Amerika Serikat. Gandum berkembang karena adanya bantuan infrastruktur berupa rel kereta api, warehouse dan elevator, semacam gudang bertingkat untuk menyimpan gandum dalam jumlah besar. Gandum membantu menciptakan pertumbuhan ekonomi perkotaan di Amerika Serikat, semacam Chicago dan Michigan. Munculnya rel kereta api memungkinkan distribusi produksi gandum dalam jumlah besar ke gudang-gudang penyimpanan. Produksi gandum secara berlebihan bukan hanya memunculkan ranking dan klasifikasi kualitas pada barang, namun juga produksi pertanian mulai dijual secara fiktif. Daripada membawa gandum dalam jumlah besar, pedagang dan spekulator mulai menggunakan nota jumlah komoditas sebagai representasi barang yang sesungguhnya.

Distributor tidak membawa barang fisik, namun membawa contoh barang produksi pertanian dalam bentuk sample. Di sinilah mulai muncul pasar derivative di mana nilai produksi pertanian dijual secara fiktif. Menurunnya produktivitas pertanian bukan semata karena kurangnya lahan garapan, tapi juga naiknya harga produksi dikarenakan spekulator yang berjudi terhadap harga-harga pasar (future price). Spekulator mengambil resiko dengan membeli barang jauh sebelum barang itu sendiri ada dan siap panen. Akibat berbagi resiko ini, harga gandum ditekan dengan rendah. Sektor-sektor spekulasi di bagian pertukaran ini yang luput dari pandangan kaum Marxis yang memilih melihat dari sisi produksi, akumulasi produksi dan kinerja buruh. Ketimpangan sektor produksi dan sektor pertukaran ini yang secara perlahan menyebabkan hengkangnya para petani untuk tidak lagi berurusan dengan mata pencaharian mereka dan menyebabkan krisis pangan pada skala yang lebih luas. Memang benar, di beberapa studi mengatakan bahwa sektor menengah ini penting karena petani menjaga kestabilan pasar (yang didasarkan trust credit & debt) dengan menjual tanaman komersial mereka kepada middlemen atau spekulator, tapi sektor menengah inilah yang menyebabkan rendahnya harga produksi karena sistem future market bersifat membeli “harga tanaman” bukan pada membeli “tanaman” itu sendiri (baca: fictitious commodity). Di kasus pertanian Indonesia, harga tanaman yang belum panen ditekan sebelum panen tiba karena petani perlu uang untuk berbagai kebutuhan mendesak dan tak terduga. Bagi hasil dengan menekan harga di ranah produksi ini tidak selalu merugikan petani karena pada dasarnya sistem ini bersifat “berbagi resiko”. James C. Scott percaya bahwa sistem petani dan peladang kecil bahkan sampai pedagang skala kecil di Asia Tenggara, dan Indonesia khususnya, lebih mementingkan mengamankan resiko daripada mengambil untung sebanyak-banyaknya. Pembagian resiko inilah yang membuat produksi tidak meningkat karena harga yang ditekan rendah di tingkatan pasar pertukaran.

Panjar Alert

[Sumber Foto: Land′s End: Capitalist Relations on an Indigenous Frontier, Tania Murray Li, 2014]

Studi David Graeber dan Arjun Appadurai misalnya tidak melihat buruh dan kapitalis sebagai penentu nilai. Bagi David Graeber dalam Toward Anthropology of Value (2001), nilai sebuah barang tidak hanya ditentukan oleh kualitas objek tersebut, tapi juga pada orang yang mengkonsepsikan barang tersebut melalui aksi verbal, seperti bahasa dan tutur kata, dalam upacara dan ritual yang semuanya tidak dilakukan oleh buruh, melainkan orang-orang yang berada di ranah pertukaran. Sedangkan Arjun Appadurai, dalam satu artikel tebalnya, Social Life of Things (1986) menggunakan konsep tournament of value. Nilai sebuah komoditas dapat berubah bukan karena ditentukan oleh faktor produksi, melainkan pada faktor sejarah pertukarannya. Mengacu pada pandangan Jean Baudrillard mengenai budaya lelang barang, Appadurai percaya bahwa nilai komoditas ditentukan oleh ramainya penawaran, ucapan yang disematkan pada barang, hingga tergantung siapa pemilik barang tersebut dan bagaimana barang tersebut dinarasikan.

 

Pentingnya kajian Middlemen

Belajar dari studi David Graeber hingga Arjun Appadurai di atas, antropologi ekonomi kontemporer lebih melihat ranah pertukaran sebagai proses penentu nilai komoditas. Terlepas dari kinerja buruh, maka kita perlu melihat peran-peran middlemen, spekulator, peminjam uang (money lender) dalam pertukaran. Peran mereka bukan hanya menentukan harga barang pasca-produksi, namun juga menghubungkan antara komoditas dari luar yang bersifat impor dan merepresentasi perekonomian global, seperti gula, kulkas, televisi hingga sepeda motor, dengan komoditas daerah lokal seperti hasil produksi pertanian, kelautan dan hutan. Dalam studi antropologi ekonomi, mulai dari Michael T. Taussig di Colombia (1980) hingga Heinzpeter Znoj tentang perilaku alokasi uang pada masyarakat penambang emas di Sumatera Barat (1998) menunjukkan bahwa setiap masyarakat yang mengalami booming komoditas, entah itu emas, ikan, cengkeh, hingga kelapa sawit, para middlemen selalu muncul untuk mensuplai barang-barang modern yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat.

Ada dua hal yang menarik dari kajian middlemen. Pertama, hampir semua middlemen ini selalu orang luar atau etnis lain seperti Cina, Arab, India, karena mereka mempunyai modal dalam bentuk uang yang disuplai ke masyarakat yang tengah mengalami booming komoditas. Anne Booth dalam komparasi kapitalisme antara Asia Tenggara dan Asia Timur Colonial legacies economic and social development in East and Southeast Asia (2007) menunjukkan bahwa berbeda dengan kapitalisme di Jepang, Korea dan Taiwan di mana modal dan buruh tumbuh dari dalam daerah itu sendiri, sedangkan di Asia Tenggara, modal dan buruh sering didatangkan dari orang luar untuk masyarakat lokal. Di titik inilah studi ekonomi dan relasi etnisitas menjadi penting dalam kajian antropologi ekonomi. Kedua, tingginya suplai barang modern ke masyarakat lokal justru membuat mereka hampir tidak dapat melihat uang dalam bentuk fisik. Para middlemen menciptakan hutang dengan cara mensuplai barang terlebih dahulu kepada masyarakat lokal (future trading). Hasil produksi komoditas alam yang mengalami booming harga selalu tertutupi dengan hutang yang harus dibayar kepada middlemen yang telah lebih dahulu mensuplai barang modern dengan derasnya. Ketiga, efek dari nomor dua di atas adalah, di setiap masa transisi, middlemen selalu menjadi objek kebencian masyarakat lokal. Posisi middlemen sangat ironi. Pada satu sisi ia diperlukan karena memasok barang modern ke daerah pedalaman, tapi pada sisi lain ia dibenci karena menciptakan hutang yang tak berkesudahan. Tak heran jika orang Cina di Indonesia, orang India di Burma hingga orang Mali di Kongo menjadi objek kebencian di saat masa transisi politik. Ketika Negara tidak mempunyai kontrol penuh terhadap kebencian masyarakat lokal yang membuncah, para middlemen sering menjadi sasaran kekerasan, karena mereka diidentikkan dengan perusak harga produksi, pemberi hutang, dan pemilik uang dengan cara yang rakus dan licik. [Bersambung]

* hakadir@ucsc.edu


[1] Guyer menunjukkan bahwa pada tahun 1981, pendapatan 125 Naira/bulan sama dengan 200 US dollar, orang dapat membeli 625 liter. Namun pada tahun 2001, dengan 500 Naira per-bulan, yang sama dengan 75 US dollar per-bulan, sama dengan kemampuan membeli minyak sebanyak 187 liter. Pada tahun 2008, nilai tukar Naira melemah, 500 Naira sama dengan 50 US dollar yang mana sama dengan 115 liter. Hal ini menunjukkan bahwa orang dengan uang lebih justru mengalami kelemahan daya beli terhadap minyak.

[2] Sebagai misal, konsep alternatif dari resistensi adalah kedaulatan atau “sovereignty“ yang ditawarkan oleh Jessica Catellino dalam High Stakes (2008). Komunitas Indian/Seminole yang hidup di bawah sistem pemerintah liberal demokratik Amerika Serikat, tidak melakukan resistensi secara massif atau kecil-kecil, melainkan memilih membangun kedaulatan mereka sendiri melalui mesin-mesin judi dan kasino yang mereka bangun. Judi bukan hanya menguntungkan namun menjadi alat politik pengakuan untuk mendapatkan kedaulatan. Uang menjadi kata kunci penting bagi masyarakat Indian, karena uang bersifat fungible, alias ia dapat dipertukarkan pada semua relasi sosial. Keuntungan dari hasil kasino didistribusikan untuk menciptakan perumahan dan sistem kamar mandi yang layak. Uang juga digunakan untuk menciptakan narasi-narasi melalui museum-museum yang dibangun oleh masyarakat Indian. Studi Catellino menunjukkan bahwa uang tidak digunakan untuk melakukan resiprositas atau resistensi, melainkan uang menjadi alat membangun otonomi ekonomi politik pada suatu komunitas. Pandangan David Graeber dan Jessica Catellino menawarkan solusi baru terhadap dominasi konsep “resistensi“ yang memenuhi rak-rak skripsi dan tesis antropologi di Indonesia.

T E O R I & M E T O D O L O G I

Baca Juga

Antropologi Isu Kontemporer

Isu dan Pemikiran Kontemporer dalam Antropologi Ekonomi (1)

oleh: Hatib Abdul Kadir *   Bagian 1: Kritik terhadap konsep “Resistensi” dan “Resiprositas”   ...

2 Tanggapan

  • Hello, guest
  • My husband and i were very happy when Louis managed to complete his research out of the precious recommendations he made through your site. It is now and again perplexing to just always be making a gift of tips which most people could have been trying to sell. And we also discover we now have the website owner to be grateful to for this. All of the explanations you’ve made, the easy blog navigation, the friendships you will make it possible to engender – it’s got all unbelievable, and it’s really making our son and us consider that this subject matter is awesome, which is highly important. Many thanks for everything!

  • Terimakasih pak postingannya. Sangat membantu saya yang sedang galau untuk mempelajari mengenai relasi ekonomi. Kalau saya boleh usul boleh gk postingan berikutnya bapak bercerita mengenai relasi kekuasaan dalam kegiatan ekonomi, lebih spesifik ke middelmen dan pemilik usaha pak.usul sekaligus request pak. Terimakasih.